Sekali lagi, saya merasa perlu memberikan pembelaan bahwa arti satu bintang di Goodreads adalah ‘didn’t like it’, dan bukan ‘this book is nightmare. Okay, karena penilaian di Goodreads ini sangat subjektif, mungkin memang ‘this book is nightmare’....... ‘...buat saya.’. Demikan. Pada awalnya.
Saya membaca ini hanya dalam waktu semalam. Entah karena saya gatal sekali pengen buru-buru berkomentar sok tahu dan sok pintar soal buku ini, atau karena saya membacanya dengan sistem skipping dan skimming. Sungguh saya merasa kotor ketika memasukkan buku ini ke dalam daftar buku ‘read’, mengingat saya membacanya kayak orang dikejar Bleki (anjing item badag anjis kepunyaan ibu kos saya yang galaknya kayak belum makan sedekade). Benarkah saya layak masukin buku ini ke daftar ‘read’? Apakah saya sungguh-sungguh membacanya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui benak saya. Sungguh benak yang kurang kerjaan dan luang. Dan sungguh preambul yang panjang sekali dari saya. Membosankan.
Ini kisah tentang janda kembang sempurna yang menolak melanjutkan hidup dengan bahagia. Alexandra, 29 tahun, sudah bercerai dengan suaminya yang juga sempurna, Beno. Namun Alexandra tidak bisa lepas dari Beno. Dia tetap menjadikan Beno dokter pribadinya, menjadikan Beno dokter Mamanya, menyimpan tatto nama Beno di dada kirinya, membandingkan semua laki-laki yang mendekatinya dengan Beno, mengulang semua kenangan di mana saja dengan Beno.
WHAT THE HELL ARE YOU THINKING, PERFECT WOMAN!! You have a perfect currently world, and you choose to not to be happy??!! Maksudnya begini, kalau memang masih cinta, untuk apa dulu cerai? Kalau sudah enggak cinta, kenapa nggak melanjutkan hidup? Maumu apa siiihh?? Hidupmu tuh udah enak toh. Kamu punya segalanya, tapi kamu memilih membuat rumit hidup kamu dengan drama aku-ingin-cerai-tapi-aku-masih-cinta ini. Lalu ketika ada lelaki lain yang nggak kalah sempurnanya, dan jelas-jelas mau berjuang buat kamu, kamu milih melepas dia begitu saja? Buat apa? Buat sesuatu yang disebut cinta? Apa iya cinta sebodoh itu? Setidak-rasional itu? Cerita ini mau dibawa kemana sebenarnyaaaaaa???
Okay, katakanlah dulu bercerai memang keputusan bodoh. Katakanlah masih cinta, hambok ya diperjuangkan, jangan diajak berantem melulu, jangan sok jaga harga diri ketinggian bilang nggak cinta. Atau katakanlah sudah nggak cinta, hambok ya dilepas aja, get your own life, gitu. Mungkin katakanlah masih bingung dengan perasaan sendiri (yang sepertinya memang begitu), aduuuuuhhh apa yang baru saja saya baca siiihh???
Dan selain ceritanya yang bikin saya depresi akut, apa lagi yang membuat saya tidak nyaman dengan buku ini?
Banjiiiiiiiiirrrrrrr bandang tsunami badai Katrina nama brand barang-barang mahal. Satu halaman adaaaa aja merk barang mahalnya. Gengges banget. Bikin pengen lemparin itu barang-barang mahal lalu bilang, “Kuburmu cuma 1x2 meter luasnya. Manalah cukup menampung semuanya.”
Saya bahkan enggak sanggup menuliskannya di sini. Gini deh, adegan si Alex mau jalan aja, misal, penulis merasa perlu menuliskan merk bajunya, merk celananya, merk pakaian dalamnya, merk mobilnya, mau jalan ke resto mahal atau hotel mahal apa, teman si Alex pake baju apa, celana apa, naik mobil apa, pesan kopi apa di toko kopi terkenal-dan-mahal apa, blablablablabla....
Hal lain yang mengganggu adalah penggunaan bahasa inggris yang cukup bertebaran di buku ini. Bukan saya mengeluhkan soal saya nggak ngerrti, tapi rasanya hadeehh sekali gitu. Seakan ingin menunjukkan “hai, saya wanita kelas menengah loh. Jadi saya jago banget bahasa inggris. Jadi saya ya ngomongnya pake bahasa inggris karena saya berpendidikan dan berkelas.”, semacam itu.
Kemudian saya berbincang dengan salah satu teman saya, katanya dia memang wajar jika orang-orang kelas menengah (terutama ibu kota) menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar. Dia bilang juga wajar jika kelas menengah memang seperti gantungan brand berjalan. Dia bilang hotel dan resto dan cafe yang disebutkan di bukunya juga wajar didatangi kelas menengah. Dia tahu, karena dia juga kelas menengah. Ketika dibaca oleh dia, buku ini terlihat wajar karena mungkin suasana ceritanya dirasa dekat (atau minimal tahu) dengan kehidupan dia. Tapi ketika buku ini dibaca saya yang notabene adalah kelas buruh astagfirullah, bawaannya jadi jengkel dan iri. Situ mau pamer? Situ mau nunjukkin kalo hidup situ sempurna? Situ mau bangga sama semua hal duniawi yang situ punya?
Ya, positif. Saya memang iri.
Tapi sejujurnya saya jadi bertanya, siapa sih pasar pembaca yang Ika Natassa tuju? Hanya kelas menengah atas? Hanya mereka yang tak akan dirundung nyeri huntu ketika membaca ini? Atau memang aturan tak tertulis metropop adalah tokoh ceritanya dan pembacanya harus kelas menengah alhamdulillah? Atau minimal yang nggak gampang dengki kayak saya lah ya.
Mengenai isi cerita, komentar pertama saya mungkin; jika bahagia adalah pilihan, mengapa kamu memilih menderita? Jika bahagia bisa diciptakan, mengapa kamu memilih tidak mencipta? Atau mungkin, Alexandra, kamu hanya tidak tahu caranya?
Alexandra ini, entahlah. Terlalu sempurna sebagai wanita. Dia cantik, cerdas, mapan, fashionable, lucu, mandiri, sopan, segalanya. Dan mantan suaminya juga tak kalah sempurna. Beno itu tampan, cerdas, mapan, berasal dari keluarga yang baik, “dokter bedah terbaik di rumah sakit ternama di jakarta”. Itu menjelaskan semua, saya rasa.
Di bab pertama pun saya sudah sakit gigi. Membaca deskripsi tokoh-tokoh sesempurna itu, membaca merk-merk mahal dan ternama setiap beberapa kalimat. Okay, sakit gigi memang tidak berhubungan dengan buku itu, tapi karena cuaca dingin yang tidak bersahabat ini. Tapi tetap saja, segala yang berlebihan di buku ini membuat saya yang sedang sakit gigi tambah sakit kepala. Coba, siapa yang engga jengkel?
Buku ini membuat depresi, terus terang saja. Buku yang mengajak hidup dengan gaya hedonis, buku yang mengajak menolak melanjutkan hidup, dan pesan moralnya adalah; “berkubanglah dalam kenangan.”
Sungguh, saya tak perlu ini. Saya butuhnya buku yang menguatkan saya bahwasannya sebaiknya saya bahagia saja dalam kesederhanaan, dan tidak perlu menunggu ketidakpastian. Yang membuat saya melihat ke sekeliling saya, lalu membuat saya bersyukur dengan menu nasi liwet dan lauk peda beureum sebagai makan siang, yang membuat saya menyadari ada orang lain yang lebih menyayangi saya.
Begitulah, kalo ngereview buku yang bikin jengkel, saya memang jadi cerewet sekali.. -___-