Ketika tawa dan sedih pun dikorupsi, apalagi sebenarnya makna kebaikan bagi koruptor?
Agus Noor, cerpenis terkemuka dalam sastra Indonesia kontemporer, kali ini hadir dengan kumpulan cerpen terbarunya. Mengangkat realitas korupsi di negeri ini, dengan gaya penceritaan yang “tak biasa”: bilabiasanya Agus Noor gemar mengembangkan kisah-kisah sadis-romantis-magis, di buku ini dia banyak bercanda dengan lelucon-lelucon yang sangat kocak, sekaligus surreal-komikal.
Disertai dengan gambar-gambar komik yang kocak, juga muram, plus mencekam, pembaca takkan hanya mendapatkan cerita-cerita para koruptor dalam ragam polahnya, tetapi sekaligus “pembolak-balikan akal sehat”, yang disebutnya sebagai cara menolak menjadi tolol dan munafik secara berjamaah.
Perihal gaya bercerita dan cita rasa sastrawi, Agus Noor ahlinya. Siapkan posisi duduk Anda, baca buku ini, lalu tertawalah—meski mungkin Anda merasa tersundut kemudian.
Agus Noor, menulis banyak prosa, cerpen, naskah lakon (monolog dan teater) juga skenario sinetron. Beberapa buku yang telah ditulisnya antara lain, Memorabilia, Bapak Presiden yang Terhormat, Selingkuh Itu Indah, Rendezvous (Kisah Cinta yang Tak Setia), Matinya Toekang Kritik, Potongan Cerita di Kartu Pos.
Karya-karya Agus Noor yang berupa cerpen juga banyak terhimpun dalam beberapa buku, antara lain: Jl. Asmaradana (Cerpen Pilihan Kompas, 2005), Ripin (Cerpen Kompas Pilihan, 2007), Kitab Cerpen Horison Sastra Indonesia, (Majalah Horison dan The Ford Foundation, 2002), Pembisik (Cerpen-cerpen terbaik Republika), 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 (Pena Kencana), dll.
Menerima penghargaan sebagai cerpenis terbaik pada Festival Kesenian Yogyakarta 1992. Mendapatkan sertifikat Anugerah Cerpen Indonesia dari Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1992 untuk tiga cerpennya: “Keluarga Bahagia”, “Dzikir Sebutir Peluru” dan “Tak Ada Mawar di Jalan Raya”. Sedang cerpen “Pemburu” oleh majalah sastra Horison, dinyatakan sebagai salah satu karya terbaik yang pernah terbit di majalah itu selama kurun waktu 1990-2000. Dan cerpen “Piknik” masuk dalam Anugerah Kebudayaan 2006 Departemen Seni dan Budaya untuk kategori cerpen.
Tiga ciri khas yang terasa sekali dalam kumcer ini : rasa faktual yang kuat, tak jauh-jauh dari fenomena viral di sosial media atau headline di koran-koran. Yang kedua adalah semua tokohnya itu ya hampir sama semua. Dan semua ceritanya terasa monoton
Masih seperti ciri khas cerpen-cerpen terdahulunya. Tokoh-tokohnya kalau tidak kotor, ya konyol sekalian. Ada gairah menyuarakan nasib wong cilik dari peristiwa yang memang sangat memuakan di jagat berita. Tapi di saat yang sama suara penulisnya pun terasa menonjol. Di sisi teks ada kesan slapstik yang menghibur. Tapi lagi-lagi teks selalu memunculkan gerak dan semesta pemikiran/ pikiran tokohnya mirip-mirip sehingga menjelma dalam teks seperti satu narasi monolog yang panjang.
Satu kelebihan buku ini adalah contoh untuk para (calon) penulis (muda/ pemula) yang ingin memperjuangkan diri agar cerpennya dimuat sebagai cerpen koran. Cerpen-cerpen Agus Noor sudah sangat teruji di semua koran (termasuk koran ibu kota yang paling ternama, bahkan koran lokal). Kumpulan cerpen ini adalah salah satu gambaran selera redaktur cerpen / budaya koran masa kini.
Tidak senikmat membaca Cerita buat Para Kekasih. Kumcer ini cenderung membosankan dengan topik yang mirip; yaitu tentang koruptor. Saya hanya menikmati 2 judul dari 11 judulnya. Menariknya dari kumcer ini adalah adanya komik strip di setiap judul cerpen. Cuma pelengkap saja sih. Saya pun tidak membacanya.
Koruptor. Apa yang terbesit di pikiran anda ketika mendengar istilah "bejat" utk para pejabat itu? Dalam "Koruptor Kita Tercinta", Gus Noor memutarbalikan realita bahwa koruptor ada juga yang dengan senang hati membongkar aktivitas korupsinya utk kepentingan pemberantasan korupsi. Koruptor yang profesional katanya. Alhasil, tidak lagi diolok-olok, sang koruptor malah melejit dan disukai masyarakat. Berkah jadi Justice Colaborator kali ya. Haha
Tidak hanya tentang kehidupan para koruptor. Gus Noor menceritakan banyak tentang Kemiskinan, Kemanusiaan, Ketimpangan kelas, persoalan Hukum yang tak pernah ada ujungnya dan sebagainya. Seperti pada "Mati Sunyi Seorang Penyair", tiba-tiba Sang Penyair mati karena berhari-berhari begadang mencari sebuah kata utk puisinya. Terkendala ekonomi, sang istri tak mampu mengurusi mayatnya dan hanya mendiamkan diatas tempat tidur. Melihat itu, Roh sang penyair bangkit dan membantu keluarganya sehari-hari dan ngeronda bareng warga. Tak seperti ketika ia masih hidup.
Tak saya sangka, Anjing, hewan yang dicap haram itu mengambil peran penting di beberapa cerpen Gus Noor. Seperti pada kisah "Tiga Anjing", "Desas-desus tentang Politisi yang selalu Mengenakan Kacamata Hitam" dan "Saksi Mata". Saya terbahak-bahak melihat tingkah si Anjing yang lugu, suka malas-malasan, dan sewaktu-waktu bijak melihat keadaan. Haha, Alhasil derajat si Anjing didongkrak sama Gus Noor tak kalah dengan koruptor.
Pada cerpen utamanya "Lelucon Para Koruptor", Gus Noor agak vulgar menyebut beberapa nama para koruptor yang sekarang lagi nyantai di hotel prodeo. Keseharian para koruptor diselingi cerita-cerita humor sarat sindiran trhdap hidup mereka sendiri. Sungguh menggelikan. Haha
Akhirnya, saya pikir adanya kekurangan dalam cerpen Gus Noor adalah wajar namun saya terlalu subyektif utk menyebutkan. Akhirnya (lagi), kedepan berburu buku cerpen ala Gus Noor atau yang sejenis seperti punya cak nun adalah kewajiban.
Ini kali kedua saya membaca buku Agus Noor selepas Cinta Tak Pernah Sia-Sia. Seperti yang di jangka, naskah ini secara terang menulis kritikan-kritikan berkait soal korupsi. Beliau dengan mudah membangun jalan cerita yang realis sesuai dengan keadaan semasa.
Ada ketika saya juga tertawa membaca cerpen demi cerpennya. Sacarsm beliau terdengar sangat logik. Tulisan yang membawa isu korupsi sebagai teraju utama diolah dengan humor-sacarsm yang menjadi kan pengembangan cerpen menjadi mudah diterima pembaca.
'Korupsi tidak apa-apa, asalkan tidak berlebihan. Ibaratnya, berhenti lah korupsi sebelum kenyang.'
Membaca ini seawal lembar sudah membuatkan saya mengerti, Agus Noor sedang menghadirkan cerita-cerita mirip yang penuh satira.
Ada pun yang sedikit mengecewakan saya, dalam 13 himpunan cerpen beliau terdapat beberapa cerpen yang telah saya baca di buku beliau yang lain. Contohnya perihal Anjing yang Mati Bunuh diri juga dimuatkan di dalam buku Tanah Air, Cerpen Pilihan KOMPAS 2016. Cerpen Lelucon Para Koruptor juga diselitkan dalam bukunya Cinta Tak Pernah Sia-Sia.
Seolahnya, saya seakan kerugian 2 cerpen ketika membaca buku ini. Seandainya dimuatkan cerpen yang berbeza pada setiap buku, pasti pembaca lebih berpuasa hati menikmat karya Agus.
Aku tidak begitu familier dengan tulisan-tulisan Agus Noor sebelumnya, kecuali Matinya Seorang Demonstran. Namun, buku ini, dia punya kesan tersendiri buatku. Membuat tercengang dengan absurdisme yang kental. Benar-benar menguji akal sehat, sampai aku mempertanyakan "Ini sebenarnya yang gila siapa?".
Bahasa Agus Noor bukanlah yang berdiksi macam-macam. Kalimatnya pun sederhana, karena memang fokusnya ada pada konten cerita yang beragam (mostly tentang sosial dan politik). Setiap cerita membuatku merenung kembali, sudahkah selama ini aku benar-benar menjalani hidup sebagai manusia? Atau aku "pura-pura" menjadi manusia?
Buku ini sempat aku jadikan bahan penelitian dengan topik irasionalitas dan imoralitas. Ternyata, data-data yang ditemukan semakin membuatku tercengang. Seketika aku ingin berdoa, agar semua manusia yang hidup di masa ini dan masa ke depannya, semoga tetap diberikan kewarasan. Setidaknya tetap waras untuk menjadi manusia berakal sehat.
Agus Noor, kenal cerpennya dari awal 2000an, dan masih tetap menyenangkan untuk dinikmati sekarang. Beberapa cerpen di dalam buku ini berhasil membuat saya tersenyum-senyum sendiri...
Sebagai pembaca setia tulisan Agus Noor, saya menyimpan banyak ekspektasi terhadap buku ini karena Agus Noor sedang mengeksplorasi gaya baru dalam menulis: humor politik. Ternyata isi buku ini hanya terdiri dari 13 cerpen dengan lebih dari 6 cerpen sudah pernah dimuat di media cetak/online (sebelum buku ini terbit, saya pun sudah baca mungkin 4 atau 5 di antaranya). Kalau tidak salah ada juga dua cerpen (lupa, saya baca buku ini sebulan yang lalu) yang ditulis ulang dari buku lama. Jadi, sayang sekali tidak banyak cerpen baru dalam buku ini.
Agus Noor mengklaim diri sebagai Pangeran Kunang-Kunang karena sejak dulu banyak cerpennya yang melibatkan kunang-kunang. Kali ini, ia melibatkan anjing dalam 6 dari 13 cerpen. Saya ingat-ingat di buku-bukunya yang lama ternyata juga lumayan banyak cerpennya yang melibatkan anjing. Jadi, ada apa sih antara Agus Noor dengan anjing?
Alangkah hebat penulis meracik ihwal permasalahan klasik berupa korupsi dari berbagi dimensi. Korupsi bukan lagi tindak-tanduk kejahatan yang harus segera dibasmi, melainkan semacam kultur mendarah daging yang dapat dieksploitasi, ditertawakan, dan dijadikan lelucon sehina mungkin. Aku terhanyut dengan gaya bahasa Agus Noor, buat nagih untuk terus baca dan baca lagi hingga tamat. Cerita semakin menarik karena penulis 'meminang' teman saya, Faisal Hidayat sebagai ilustrator yang karyanya patut diacungi jempol. Imajinasi liar kian memblukar. Waw!