Tanyakan hatimu bila kau bimbang. Mengapa sang cinta pertama, sosok yang kau kenal dekat, tak mampu kau raih? Lalu, apakah hati ini siap untuk pilihan cinta yang lain?
Bagi Gwen, jatuh hati kepada Aidan terasa mudah. Hatinya selalu tertuju kepada dirinya. Namun, hati Aidan sulit dijangkau olehnya.
Lalu, Edgar hadir menawarkan rasa yang sehangat lagu cinta. Bersamanya, yang Gwen tahu adalah ia tak terlalu merasa sakit--karena hati Edgar selalu terbuka untuk dirinya.
Namun, cobalah tanya hati sekali lagi. Benarkah Edgar adalah sosok pilihan kedua terbaiknya? Atau... diam-diam Aidan masih ia rindukan?
Buku ini sangat indah, dan sangat personal. Pernah dengar ungkapan, Write what you love? Di The Second Best, Morra Quatro menuliskan tentang kecintaannya terhadap musik, yang ditunjukkan dengan beberapa nama band, lagu, dan album mereka. Mungkin di antaranya adalah favorit penulis.
Here's the thing about Morra Quatro; she wrote things that inspire me to write. She wrote about feelings that are raw and honest and make us readers can relate to most of them. You can read a line from this book and I'd bet you have someone crossing your mind as you silently grow to understand the words.
Terima kasih sudah menulis buku ini dengan begitu indah, Mbak Morra. Terima kasih sudah menulis buku-buku tersebut untuk menemani aku tumbuh, dari gadis remaja menjadi wanita muda.
Ifa, cinta tak pernah datang tanpa rasa sakit. (catatan kecil di halaman pertama buku, di atas tanda tangan, oleh Kak Morra Quatro)
Saya senang mendapat hadiah kecil itu. Saya senang kover pilihan saya terpilih. Saya juga senang bisa menemukan novel new adult lokal yang memuat berbagai emosi mentah dan rasa manis-pahit.
Bagi yang sudah membaca buku penulis sebelumnya, mungkin bisa langsung menyadari kekuatan diksinya. Keahlian merangkai kata untuk membingkai sebuah perasaan sepertinya sudah jadi ciri khas yang dikuasai penulis. Saya terheran-heran dan beberapa kali membaca ulang kalimat yang bisa begitu indahnya menggambarkan kesedihan, kesenduan, rasa sakit, dan cinta sekaligus secara bersamaan. Seperti cuplikan yang satu ini:
"Semuanya berdentam-dentam di dalam kepalaku dalam menit-menit itu, sampai membuatku khawatir akan terdengar dari luar sebab denyut jantungku sendiri bahkan sampai ke telinga. Aku tahu itu tak mungkin, tapi aku bahkan sempat terpikir untuk keluar saja dari barisan ini sejenak, hingga segalanya mengendap, sebelum Aidan tiba-tiba berdiri dan aku nyaris terlonjak dibuatnya."
Dan itu hanya bagian kecil dari semua emosi yang tumpah ruah di sini.
Saya sangat menikmati bagian melankolisnya jatuh cinta Gwen pada Aidan, juga rasa sayangnya yang perlahan muncul pada Edgar di masa-masa terburuknya. Indah, sekaligus pedih. Beberapa adegan sangat teringat oleh saya seperti daun cermai yang jatuh di bahu Aidan dan gelas hangat kosong di atas Jeep. Setidaknya untuk saya, mengingatkan pada kenangan-kenangan pribadi.
Cerita ini tampaknya juga cukup personal, seperti buku-buku penulis sebelumnya meski saya baru baca novel pertamanya. Ada Britpop yang tampaknya menjadi favorit penulis, dan sepanjang membaca saya teringat melodi Coldplay, Radiohead, dan Oasis yang mendayu namun tajam dan penuh pesan patah hati. Ada lingkungan kampus yang kurang lebih seperti sinetron di Net yang tentang musik itu. Ada pula mimpi-mimpi, ketenaran versus idealisme, dan kompleksnya kepribadian tokoh-tokohnya dalam meraih itu semua.
Ada satu bagian yang patut diapresiasi karena eksekusinya yang sempurna. Karakter Gwen di sini dari luar tampak harmless, tapi ternyata di akhir kita bisa melihat perspektif lain dari tindakannya. Ini adalah contoh bagus dalam menggambarkan peran 'orang ketiga' dalam sudut pandang yang lain. Selama ini, banyak cerita yang menghakimi orang ketiga sebagai penghancur sebuah hubungan, dan kalaupun ada cerita yang mencoba membuat orang ketiga itu sebagai korban, belum terasa mulus oleh saya. Di sini, flawless. Meskipun pada akhirnya cerita ini memang bukan tentang orang ketiga, tapi saya suka dengan bagian itu.
Berhubung saya jarang sekali membaca new adult, dan biasanya memang hampir selalu tak sesuai selera, jujur saya tak mengantisipasi adanya adegan cukup grafis di sini (kalau belum menikah, mungkin saya akan risih. Di bagian itu saya membacanya dengan suami dan dia malah tergelak). Kemudian minimnya informasi tentang ibu Gwen dan soal Gwen yang 'bisa bicara dengan daun.' Menurut saya itu menarik, tapi bisa jadi karena fokusnya lebih ke hubungan Gwen dan anggota bandnya, jadi keluarganya tidak terlalu digali (ketahuan bacaannya YA). Satu yang membuat saya bertanya, di kampus Gwen ada fakultas agrikultur. Apakah agrikultur bisa diganti dengan pertanian atau memang berbeda? Kampusnya juga terasa seperti bukan di Jakarta. Begitu pun lingkungan Gwen dan bandnya, percakapan-percakapan mereka terkadang terdengar patah di saya dan saya jadi kurang 'nyambung' mereka sedang bicara apa. Ini mungkin yang membuat saya kurang masuk dan memahami karakternya. Atau memang saya saja yang merasa begitu.
Karena pergaulan tokoh-tokohnya yang terasa asing bagi saya, jadi saya juga kurang bisa mendapatkan ikatan Edgar dan Aidan. Padahal saya suka sekali bromance! Saya sempat kesal sendiri mencari-cari bagian interaksi kedua pemuda itu karena yang saya temukan hanya sedikit. Saya mau lebih, beneran. Akhirnya yang sendu pasti akan lebih nonjok jika Aidan dan Edgar juga ditonjolkan dalam percakapan yang lebih banyak. Untuk non-percakapan, sebetulnya sudah lumayan terasa.
Yah, mungkin pada akhirnya ini akan jadi AidanxGwen, bukan EdgarxAidan (kelihatannya sih Edgar itu seme DFWM dan Aidan ukenya) (ini bromance atau yaoi jadinya, Fa?)
Awalnya saya kira cerita novel ini adalah tentang tokoh utama yang jadian dengan Second Best karena orang yang disukainya tak pernah melihatnya. Sejak menikah, saya jadi kurang percaya jika ceweknya suka, atau malah terlalu suka duluan, akan jadian dengan cowok idamannya. Padahal cowok yang menyukai duluan bisa jadi yang akan kita sayangi nantinya (dengan catatan jika cowok itu nggak douche kayak Edgar).
Buku ini terasa diperuntukkan bagi yang mencari cerita sendu penuh kalimat indah, tokoh-tokoh menyenangkan, dan tak malu jika air matanya dikuras habis oleh perasaan sakit mencintai seseorang. Untuk yang ingin mengenang masa-masa jatuh cinta yang tak semanis kedengarannya, membaca buku ini juga bisa menjadi pilihan bagus. Dan tentunya, untuk yang sedang getol menulis, cobalah belajar dari buku ini. Akan ada banyak ilmu yang bisa diambil darinya, saya yakin.
"Because the second best is the first loser." (h. 200)
Edgar dan Aidan. Gwen mengenal keduanya lewat kegiatan PSM. Musik membuat mereka dekat, sayangnya musik tak selamanya merekatkan mereka.
Yg saya suka dari novel ini
1. Covernya cantik 💕
2. Aidan. Suka kemisteriusan dia dan cuma bs bersedih atas sikapnya yg kelewat setia kawan.
3. Pilihan yg diambil Gwen. Mbak Morra selalu menyediakan kisah yg sangat realistis. Sebab bahagia selama-lamanya memang hanya ada dlm dongeng. Akhirnya lagi-lagi bikin saya tersiksa sekaligus lega :"
Yg saya tidak suka dari novel ini
1. Gaya berceritanya. Ditulis dari sudut pertama Gwen, The Second Best jadi kehilangan banyak deskripsi penting. Hal-hal yg seharusnya menyatukan cerita.
2. Selain itu, karakternya juga tidak berhasil saya kenali. Bahkan Gwen sendiri. Sangat jarang ada kalimat yg lugas yg membuat saya paham dg perasaannya. Padahal ditulis dr sudut pertama. Kalau si 'aku' saja tidak bisa saya pahami, apalagi yg lain?
3. Chemistry yg tidak ada. Entahlah, segala perasaan yg tumbuh antara mereka terlalu tiba-tiba. Di paruh awal yg seharusnya berusaha memperkenalkan keakraban dan benih-benih perasaan, saya justru merasakan teriris-iris dg cerita 'aku' Gwen. Nantilah di review panjangan saya jelaskan.
4. Adegan cukup dewasa. Tanpa ada label dewasa. 😢
Kesimpulan: Masih khas novel Mbak Morra, yg realistis, menghancurkan hati, tapi anehnya menyisakan perasaan puas.
“Dont’t judge a book by its cover” namun itu tidak selalu berlaku dalam dunia perbukuan. Terkadang memang cover sebuah bukulah yang menarik minat untuk membaca. Termasuk novel satu ini, covernya yang manis, judulnya yang menarik, sinopsisnya yang ciamik, serta review-review yang cukup baik membuat saya memutuskan untuk membaca dan membeli buku ini.
Saya menyukai novel ini mengulas tentang musik, walaupun sebenarnya bisa lebih di gali lagi dan lebih indah lagi.
Saya memberikan apresiasi untuk Morra Quatro atas kecintaannya terhadap musik dan diksinya yang cukup indah di dalam novel ini.
Tetapi jika saya boleh menyampaikan pendapat pribadi saya maka izinkan saya menyampaikan beberapa kekurangannya juga. Keseluruhan isi ceritanya tidak seperti ekspektasi saya saat membaca sinopsisnya, banyak narasi yang membuat saya kebosanan membacanya. Selain itu, tokoh dan penokohannya tidak terlalu saya sukai, terutama perubahan karakter Edgar yang menurut saya terkesan agak dipaksakan, serta chemistry antar tokoh yang kurang terbangun. Settingnya lumayan. Untuk dialog-dialognya ya sebagian cukup oke.
Salah satu dialog yang cukup menghibur dan membuatku terkikik yaitu saat Nilam melakukan dubbing ketika ia melihat dari kejauhan gerakan Aidan dan Edgar di bawah pohon cermai (hal. 66)
Well, 2.5 bintang untuk isi novelnya dan digenapkan 3 bintang untuk cover dan pembatas bukunya yang manis. :)
Ini buku pertama penulis yang aku baca. Buku ini punya kesan kuat soal kehidupan remaja akhir yang kehidupannya serba nggak pasti dan nggak punya cukup buku petunjuk buat keluar dari satu masalah (or simply one of our negative thought).
The Second Best mengarah pada Gwen yang memilik Aidan sebagai orang yang dia kagumi, sukai, bahkan cintai. Lewat PSM, mereka dipertemukan dan lewat situ pula, kedekatan mereka menyeret Edgar. Primadona dalam unit kegiatan kampus yang pelan-pelan ikut menghanyutkan perhatian Gwen.
Keteguhan hatinya untuk Aidan perlahan mengikis berkat eksistensi Edgar dan perlahan berhasil mengalihkan fokus Gwen dari Aidan. Lagi pula, Aidan sudah punya "pawang". Jadi, Gwen tidak punya banyak pilihan selain tetap memperjuangkan dan dianggap sebagai cewek-nggak-tahu-diri-yang-merebut-cowok-orang atau leave him.
Masa lalu Edgar mulai memperlihatkan apa yang selama ini tidak pernah Gwen lihat. Meskipun selama ini sudah merasa saling mengenali diri masing-masing, Edgar lebih "gelap" dari yang Gwen duga. Edgar menjelma menjadi sosok yang jauh dari bayangan, bahkan realita Gwen.
Buku ini punya premis yang simpel sebenarnya, tapi narasi penulis sukses bikin vibe-nya jadi lain. Bagi yang lagi cari novel romance estetik dan sendu, bisa coba buku ini.
Btw, aku suka ending-nya. Rasanya ngepas aja sama alur ceritanya.
The Second Best, buku ke-5 Morra yang saya punya dan saya baca. Hhhh, lemme take a deep breath for a while. Endingnya membuat mata saya berair. Selalu. Dammit, Mbak.😢 . Saya selalu menyukai cara Mbak Morra bertutur. Kuat, indah dan emosional. Kali ini melalui sudut pandang Gwen, perempuan yang percaya bahwa ada dua jenis pekerja di dunia ini, yang mengeluarkan ekspresi dan hanya memberi impresi. Gwen mengisahkan mengenai sulitnya mempertahankan idealisme dalam bermusik terlebih jika independen, kisah dirinya yang tetap ingin menulis, juga kisah emosional mengenai dirinya dengan Aidan dan Edgar. . Funny thing about music, though, always brings people together but sometimes, music brings people apart. (Nilam & Jay)
The Second Best, menjadi karya kelima Mbak Morra yang kubaca setelah Believe, Forgiven, Notasi, dan What If. Dan saya masih menemukan diri saya masih menikmati cerita anak muda usia dua puluhan dengan segala dunia perkuliahan, passion, dan mimpi.
Yah, walaupun kali ini, saya tak jatuh cinta pada siapa pun. Baik Aidan atau Edgar. Malah saya teramat simpati dengan Gwen. Ah, Gwen dan masalah jatuh cintanya yang terlalu dalam.
Mbak Morra masih dengan gaya bahasanya yang saya sukai. Banyak hal penting yang saya tandai, namun tak cukup dituliskan di review ini. Yang jelas, walau Notasi masih jadi favorit saya, tetapi The Second Best cukup memenuhi rasa rindu saya akan karya Morra Quatro. 3,5 ⭐ untuk The Second Best. Semoga sukses untuk karya selanjutnya.
Akhirnya bikin review juga setelah membaca untuk kali kedua.
Sejak Forgiven yang saya baca di tahun 2013 (iya, telat banget), saya merasa buku-buku Kak Morra ikut menandai momen-momen cukup penting dalam hidup saya. Forgiven saat saya memutuskan untuk menulis dengan serius; Believe saat saya skripsi; Notasi saat saya lulus S1 dan memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke Jogja (tapi waktu itu gagal); What if saat saya sedang terpuruk dan tepat sebelum saya memutuskan untuk merampungkan Persona sebagai remedy; lalu... ini.
The Second Best hadir saat saya sedang merasa takut kehilangan yang terbaik.
Ketika mulai membaca, saya merasa melihat diri saya sendiri pada Gwen, pada mimpi-mimpi, keinginan dan semangatnya. Pada bola hamsternya yang terentang jauh itu. Saya bahkan menggumam sendiri saat membaca bagian Gwen menyatakan tidak ingin second best, bahwa dia inginnya yang ini, dan betapa miripnya kami ketika memilih untuk mencintai hingga merasakan sakit daripada tidak merasakan apa-apa. Karena memang begitu kan, Kak Morra? Seperti yang kakak tulis itu, kita cuma bisa memilih mencintai untuk diri kita atau orang lain, tak bisa dua-duanya. Saya senang membaca Gwen berusaha melakukannya untuk Edgar, meski kesal kenapa dia tidak bicara pada Aidan sejak awal. Tapi mungkin karena bola hamster itu, yang telah terbangun sejak lama dan hanya Edgar yang waktu itu berani menggeseknya.
Dua kali membaca dan dua kali itu pula saya menemukan part favorit saya; bagian di mana Aidan telah jujur tapi tetap tidak ada yang berubah mengenai kepergian Gwen. Kenapa saya suka? Because we girls need to do that, too. Pengingat buat saya yang cenderung melepaskan mimpi ketika mencintai orang lain. Bahwa seharusnya hidup harus tetap berjalan, no matter what happened, dan saya semakin menyukai tulisan Kak Morra dengan kekuatan-kekuatan yang diselipkan pada karakter-karakternya.
Seperti biasa, Morra Quatro menyuguhkan tulisan yang amat sangat indah dan emosional. The Second Best adalah tipe buku yang mungkin hampir di seluruh halamannya bisa diambil kutipan-kutipan yang menohok hati. Bercerita tentang Gwen yang memiliki dua passion, di musik dan jurnalistik, ia adalah tipe orang yang idealis. Ia menyukai Aidan, namun merasa Aidan tidak akan bisa didapatkan. Maka Edgar-lah, yang ia pilih sebagai "yang terbaik kedua". Apa sosok Edgar bisa menggantikan Aidan yang sangat Gwen kagumi? . Jujur sebenarnya saat membaca buku ini, aku tidak bisa menikmatinya sebaik buku-buku Morra Quatro yang sebelumnya, terutama Notasi. Aku cepat menyadari bahwa aku kurang bisa menikmati karena musik menjadi "daya tarik" utama dari buku ini, sementara aku memang menyukai musik tapi nggak mendalami. Jadilah setengah halaman lebih kurang aku agak merasa bosan karena banyaknya trivia-trivia mengenai musik, musisi maupun lagunya. Di Notasi, ketika yang diangkat masalah reformasi 98 aku sangat menaruh minat. Tetapi yang patut diapresiasi adalah, Morra Quatro menulis yang ia sukai, maka dapat dilihat pula bahwa hasilnya sangat serius dan total. Tetapi lagi-lagi setelah selesai kubaca pun aku belum bisa "ikut masuk" ke dalam cerita bersama Gwen-Aidan-Edgar. But it’s not bad. Namun bagian yang kusuka dimulai ketika pembaca akhirnya dibiarkan mengetahui permasalahan yang dialami oleh Edgar, konflik mulai berupaya untuk mencapai klimaksnya, diikuti dengan ending yang jika kalian pembaca Morra Quatro, kalian pasti sudah akan bisa menebak akhir apa yang dipilihnya sebagai penutup kisah hidup para tokoh. :) Bintang 3 akan kuberikan kepada buku ini.
Entah kenapa aku selalu jatuh cinta ama tulisanya ka Morra. Mood yang di dapet itu selalu sendu. Entah kenapa. Begitupun dengan novel ini. Menceritakan Gwen, Edgar, dan Aidan yang tergabung ke grup PSM (Paduan Suara Mahasiswa)
Gak tahu harus bilang apa, tapi ku bersyukur awal tahun dibuka dengan novel yang punya narasi seindah ini. Narasinya ngalir banget dan banyak hal-hal tersirat di narasinya. Walopun kadang aku harus baca dua kali buat paham maksudnya apa. Kadang ku ngerasain transisi yang gak smooth juga sih, jadi kayak ada yang loncat gitu di beberpa adegan.
Cerita disampaikan oleh sudut pandang Gwen. Sekalipun oleh Gwen, tapi aku pribadi kayak bisa ngerasain apa yng dirasain Edgar dan Aidan. Feelnya tuh dapet banget gitu. Aku paling suka persahabatan Edgar dan Aidan. Mereka tuh friendship goals banhet menurutku. Siapapun yang punya Aidan dalam hidupnya, kayaknya beruntung banget, gitu.
Sebenernya ceritanya klise, sih. Cinta terpendam, ku juga udah bisa nebak cerita ini bakalan gimana akhirnya. Tapi karena narasinya yanh juara, tetep bikin novel ini kerasa beda ama yang lain. 4 bintang untuk novel awal tahun ini. Yuhuuu.
Setelah sekolah yang sangat sibuk, saya baru mendapat update kalau kak morra ngeluarin novel baru. Dan baru sekarang sempat baca. Ini novel pertama yang saya baca setelah hiatus berbulan-bulan tidak baca novel. Alasan yang mendorong saya membaca novel ini adalah karena ini novelnya kak Morra. Penulis favorit saya tentunya adalah kak Morra.
Jadi novel ini bercerita tentang Gwen, Aidan, dan Edgar. Gwen adalah seorang penulis, musisi, mahasiswi, dan seorang pendiam yang idealis. Edgar adalah seorang musisi yang melakukan apapun agar selalu bisa bermain musik. Aidan, anak hukum, sahabat Edgar, yang selalu melakukan semua hal demi Edgar.
Gwen mencintai Aidan dari awal mereka bertemu. Tetapi Gwen tau Aidan tidak pernah ada untuknya. Lalu hadir Edgar yang menawarkan cinta kepada Gwen. Gwen pun memilih Edgar sebagai pilihan kedua terbaik. Semua berjalan baik-baik saja, tetapi Edgar dan Gwen bertengkar. Dan Edgar mengalami masalah, Gwen dan Aidan berusaha untuk membantu Edgar keluar dari masalah itu.
Hal pertama yang selalu saya suka dari novelnya Kak Morra adalah cara Kak Morra menggambarkan sosok laki-laki disetiap novelnya. Novel ini menarik untuk dibaca, teruntuk pembaca yang tertarik dengan sesuatu tentang musik. Banyak kejutan-kejutan dan jujur alur novel ini tidak tertebak. Dari judulnya, prolog, dan pengakuan Kak Morra di halaman awal membawa saya pada kesimpulan ending yang berbeda dari kenyataannya.
Saya suka dengan endingnya kak. Saya suka juga dengan kalimat yang kakak tulis, "akan ada satu nama yang tertulis di hati kita, tapi tidak bisa tertulis di buku nikah".
Yang kurang dari novel ini, menurut saya adalah cara Gwen menunjukkan bagaimana bisa ia mencintai Aidan dari awal. Novel ini lebih menonjolkan hubungan Gwen dengan Edgar. Padahal di prolognya saya menangkap novel ini akan banyak menceritakan antara Gwen dan Aidan.
Overall saya sangat suka dengan novel ini. Mungkin garis besar ceritanya klise, tetapi ada hal-hal yang membuat the second best terasa berbeda ❤ Ditunggu novel selanjutnya kak!
12/17/23 baca buku ini sakit banget ya dadaku T__T aku ga nangis sih, tapi rasa nya sesak aja, sedih juga :/
morra kalo bikin buku emang selalu bikin sakit dan hampa gini ya, realistis emang but i just wish for maybe a happier ending (?) though it's kinda happy i guess (?) aku padahal berharap banget sama edgar, i was so sad and disappointed... he's my favorite character after all! :(( dan aku juga sebenernya berharap alasan kenapa dia ngelakuin itu dijelasin sih... i'm very curious.
06/22/25 "Tidak mengetahui apa-apa itu memang selalu lebih mudah. Menutup mata, mematikan rasa, dan terus berjalan tanpa tanggung jawab."
selamanya, untuk aku "yellow" by coldplay akan identik dan melekat dengan buku ini >__<
setelah baca buku ini untuk kedua kalinya, aku baru sadar banyak hal yang aku lewatkan pada saat pertama kali membaca buku ini. the first time i read this book, i thought it was a simple love triangle between gwen-aidan-edgar. a simple story about gwen falling for aidan but never really expressed her feelings, and edgar-the second best-came into her life. but it was more than that. the dynamic between gwen-aiden, gwen-edgar, and aiden-edgar's friendship were far more complex. now that i read it for the second time, i'm aware of lot of details that i failed to noticed before-karena terlalu fokus sama gwen-edgar sebelumnya.
satu hal yang selalu aku rasain setelah selesai baca buku morra-baik forgiven dan the second best-adalah ngerasa kurang saat bukunya berakhir, bukan karena jelek tapi karena aku ngerasa ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawabkan bahkan hingga di akhir buku tersebut. tapi setelah baca kedua kalinya dengan attention yang tertuju seluruhnya untuk menganalisa setidaknya aku punya beberapa hipotesis atas beberapa pertanyaanku.
aku pernah dibuat bingung dengan perasaan aidan ke gwen itu sebenernya gimana, setelah baca kedua kali aku hanya bisa menyimpulkan bahwa aidan memang suka sama gwen bahkan sejak awal mereka bertemu-hari pertama mereka dikumpulkan oleh coach amy, saat dimana paduan suara bertemu dengan band independen fakultas hukum. tapi aiden ga berani atau mungkin memang gamau ambil langkah lebih karena dia tau sahabatnya, edgar, suka sama gwen. mungkin karena alasan persahabatan dia dengan edgar, atau mungkin juga karena memang pada dasarnya dia ga berani untuk memulai sesuatu dengan gwen. tapi aku rasa alasan yang pertama lebih seperti aidan: selalu mementingkan sahabatnya, selfless, mengalah, menyimpan semua untuk dirinya sendiri dalam diam (☆▽☆)
lalu, aku juga selalu ngerasa ada perasaan aneh kalo udah sampe di scene maya-aidan-gwen. entah karena ini diceritakan dari sudut pandang gwen yang posisinya kita tau suka sama aidan, tapi yang bikin ada perasaan aneh itu karena maya dan gwen cuma punya sedikit interaksi dan lebih banyak lewat tatapan. tapi gwen selalu mentioned soal tatapannya maya. kalo dijelaskan oleh gwen, dia ngerasa maya selalu seperti ingin menyampaikan sesuatu dari tatapannya itu. setelah baca untuk kedua kalinya, aku beranggapan ini karena maya sadar bahwa sebenernya gwen suka aidan, itu cara dia untuk memperingatkan gwen to back off i guess? dan mungkin dia juga sadar bahwa aidan suka gwen. it's a wild presumption, i know. but i can't came up with other reasons ಥ_ಥ
banyak hal yang missed-padahal bisa jadi highlight penting dari buku ini sebagai elaboration-karena diambil dari sudut pandang gwen yang serba terbatas. makannya banyak juga hal yang ga terjawab, bahkan pertanyaan yang menghantui gwen sendiri. such as: aidan ngapain di jeep edgar waktu nemenin gwen ketemu edgar? dan masi ada edgar dan rianna, tidak ada penjelasan sama sekali. jadi, aku hanya bisa membuat asumsi saja untuk semua itu.
keren, edgar bisa sadar sama perasaan aidan entah karena mereka sama sama cowo yang udah temenan semasa hidupnya atau karena mereka sama sama into gwen. dan maya sadar sama perasaan gwen, juga entah karena mereka sama sama cewe atau karena mereka sama sama into aidan :D. lagi lagi, hanya morra quatro yang tau.
tapi ada dua kesamaan waktu baca pertama dan kedua kali, sama sama mau tau sudut pandang edgar. aku rasa kita jatuhnya lebih mengenal aidan dibandingkan edgar, edgar ini rasanya asing banget-sedikit informasi yang kita tau tentang dia-barangkali karena dia pilihan kedua jadi gwen memang fokusnya ke aidan. favoritism nya kental ya gwen T___T, tapi aku juga paham kenapa gwen bisa suka aidan soalnya sekarang juga suka sama dia :). semua yang baik baik ada di aidan (◍•ᴗ•◍), apa gwen's song itu lagu yang aidan ciptakan untuk gwen? atau itu adalah lagu aidan yang ditulis oleh gwen tapi ga tuntas karena hubungan aidan-maya? sepertinya itu lagu yang ditulis aidan untuk gwen ya… setelah mereka pisah karena gwen tetap pergi, jadi berbeda dengan lagu aidan yang ditulis gwen untuk aidan. semoga benar, amin!
overall, i would reread this book over and over again. the feelings i get as i read it would never fail to make me feel comfortable. selain itu, juga mengajarkan bahwa kita gaakan selalu memiliki apa yang kita inginkan. kita diajarkan untuk realistis dan menerima kenyataan bahwa hidup ga selalu tentang apa yang kita mau, dan hanya karena kita ga dapet apa yang kita mau berarti it's the end of the world. salah satu alasan aku suka character gwen! karena dia tetap pergi, melanjutkan apa yang sudah dia perjuangkan selama 8 semseter, terlepas dari pengakuan aidan dan moment singkat mereka. walaupun kesannya secara garis besar gwen ini seperti selfish character atas argumentasi dia dan maya, atas apa yang dia lakukan ke edgar. tapi aku suka bahwa dia tidak digambarkan flawless, it makes her more realistic :)
a big thanks to morra quatro for writing this beautiful, heart wrecking, but somehow also comforting book!
The Second Best secara keseluruhan mengisahkan tentang Gwen yang menjatuhkan pilihan pada pilihan kedua, namun sejatinya ia masih memendam rasa terhadap pilihan pertama.
Menggunakan alur maju dan sudut pandang dari tokoh Gwen, aku di ajak untuk lebih mendalami bagaimana perasaan tokoh tersebut, dan itu berhasil membuatku ikut larut dalam kehidupan melankolis sosok Gwen dan itu cukup mengaduk-aduk emosiku.
Konflik yang disajikan realistis dan terbilang cukup rumit. Selain permasalahan cinta, dan juga masa depan; menjalankan studi atau fokus bermain musik, ada sesuatu yang lebih kompleks dan terkesan kelam.
Tokoh-tokoh yang ada terkesplor dengan baik, bahkan tokoh sampingan pun diperkenalkan dengan detail. Tak susah bagiku membayangkan para anggota PSM dengan keunikan mereka masing-masing. Namun, entah kenapa Chemistry Aidan - Gwen - Edgar buatku kurang terasa.
Ini pertama kalinya aku membaca karya Kak Morra dan sudah dibuat jatuh cinta, gaya bertuturnya yang khas dan sarat akan emosi, membuat aku betah dan rasanya tidak mau cepat berpisah dengan Gwen, Edgar dan Aidan. Aku jadi ingin membaca karya Kak Morra yang lain, terutama Notasi & Forgiven.
Jika kamu menyukai musik, buku ini pilihan tepat buatmu. Sesuai Covernya, buku ini tak hanya menawarkan kisah roman dan juga bromance antara Edgar dan Aidan, buku ini juga dikemas dengan nuansa musik yang sangat kental. Menampilkan band-band Brit-pop serta kutipan lirik-lirik lagu yang membuatmu terbawa arus saat membacanya.
Ada beberapa adegan yang cukup vulgar untuk remaja dibawah usia 15 tahun. Jadi buku ini cocok dibaca 15++
setiap kali membaca novel-novel kak morra, aku selalu mendapat banyak sekali catatan perenungan, tentang cinta, perempuan laki-laki, keluarga, semesta, bahkan tuhan. terima kasih sudah memantik semua itu di dalam diriku. di dalam kisah yang ini, aku tak menemukan harapan, meski itu sempat disebut beberapa kali oleh narator. bagiku, auranya terasa sendu sejak awal sampai akhir. mungkin ini yang akhirnya kutangkap dari nuansa karya beliau.
namun, yang paling membekas setiap kali dalam tulisan kak morra adalah bagaimana cara para perempuannya mencintai. itu mengingatkan akan caraku mencintai di masa lalu. ketika cinta berarti melakukan, mengejar, memperjuangkan. hati perempuan seperti itu biasanya berlabuh pada laki-laki yang lebih kalem, resting in love. seolah gender-nya terbalik. perempuan dengan pikiran yang begitu penuh, mampu memikirkan segalanya, semua orang.
berkali-kali aku ingin bilang pada gwen: yang seharusnya kamu jaga adalah dirimu, yang perlu kamu utamakan dirimu, sadarkah kamu kalau cinta sebesar itu kamu beri pada diri, kamu tak akan terus kecewa? sadarkah kamu, kamulah yang paling luput dari semua perhatianmu?
tapi memang, sebesar itu keinginan perempuan seperti gwen untuk menyelamatkan orang lain.
lagi-lagi gwen yang datang, ingin ikut dalam dunia orang lain, ingin diakui, divalidasi, dilihat.
dan di sini, aku tetap membaca sampai akhir, sambil mencari novel kak morra yang lain. dengan hati bertanya-tanya, akankah kak morra, akhirnya menulis yang berbeda? yang percaya bahwa cinta tak selalu tentang luka. yang percaya luka adalah jembatan, bukannya akhir.
Aku tak mengerti bagaimana orang orang bisa begitu mudahnya menemukan orang lain, orang yang beda jenis kelamin dengan mereka, untuk kemudian diikutkan ke dalam orbit hidup sehari hari. Bagaimana orang orang bisa benar benar membagi diri mereka seperti itu? Aku sering merasa sulit saling mengerti. Kedekatan hanya akan membuatku risih. Memangnya orang orang yang lain tidak merasa begitu? page 69
bukunya interesting banget walaupun awalnya aku kira ini buku terjemahan karena gaya penulisannya agak susah dipahami. isi bukunya juga ngga membahas secara penuh kisah cinta gwen-aidan-edgra tapi juga kisah pertemanan aidan-egra dan permasalahan lainnya yang bikin buku ini cukup complicated.
sekali lagi, bukunya BAGUS. kalo aja gaya penulisannya lebih santai mungkin aku bakal lebih paham sama isinya tapi karena engga, jadi ada beberapa part yang buatku membingungkan dan banyak juga plot hole lainnya.
sedikit plot twist diujung cerita juga bikin aku inhale exhale ;) suka sebenernya sama penggambaran karakter aidan tapi hubungan dia sama maya itu kurang dijelasin karena isi pake sudut pandangnya gwen padahal aku mau tau gimana awalnya mereka.
aku suka bagian awal buku yang banyak membahas tentang musik dan banyak menyebutkan band band kesukaanku!!
Musik memang selalu membawa orang orang ke tempat tempat tak terdugapage 76
”funny thing about music, though. Always brings people together. Here's a funnier thing : it brings them apart, too.”page 88
Second Best : Pilihan kedua, sebab pilihan pertama tak mampu kita miliki.
Gwen dengan segala kesibukannya mempersiapkan diri mengikuti lomba jurnalistik, menerima tawaran untuk bergabung (lagi) di PSM kampus. Di sanalah dia bertemu dengan Aidan dan Edgar. Aidan yang langsung mencuri perhatian Gwen pertama kalinya. Namun Edgar yang melakukan pendekatan terlebih dahulu. Meski awalnya Gwen berpendapat bahwa sebuah band akan bubar karena ada anggota di dalamnya yang berpasangan, akhirnya dia memberi ruang bagi Edgar. Terlebih saat dia tahu Aidan memilih Maya. Aidan adalah pilihan pertamanya, dan Edgar adalah second best
Ketika PSM kampus mendapatkan masalah, Edgar, Aidan, Isaac, Nilam dan Gwen memilih untuk mengamen mendapatkan dana. Tapi setelah penampilan perdana mereka di sebuah cafe, tawaran untuk manggung mulai terbuka, dilanjutkan dengan rekaman dari label major. Gwen satu-satunya yang menolak tawaran rekaman itu, dan membuatnya semakin dijauhi oleh Edgar.
The Second Best ini adalah kisah cinta segitiga, tapi cinta dalam diam. Tema musik yang diangkat membuat novel ini menarik pehatian saya, plus sampulnya yang keren itu. Tapi alurnya kadang membuat saya bingung. Beberapa kali Gwen "melakukan lompatan waktu" saat menceritakan kisahnya. Yang kedua, saya merasa Edgar tidak benar-benar hadir begitupun dengan Aidan. Mungkin karena mereka berdua harus berbagi porsi dalam hidupnya Gwen.
Buku ketiga karya Morra yang saya baca ㅡ setelah Notasi dan Forgiven hehe. Masih khas Morra, dimana konflik ceritanya selalu mengagumkan dan tidak umum untuk ditemukan, serta gaya penulisannya yang membuat pembaca bisa larut dalam emosi yang dibawakan oleh penulis. Oh ya! Masih khas Morra dimana endingnya tidak bisa kita duga hehe.
Sungguh, saya sangat menikmati dan menyukai novel ini, tetapi entah mengapa saya tidak merasa ikut memiliki kisah ini, dan juga (entah sayanya yang skip atau apa) latarnya kadang tidak terlalu jelas, sehingga terasa loncatan besar dari satu momen ke momen lain, tetapi tetap masih menyambung.
Sebagian momen terasa kurang jelas bagi saya dan saya masih menuntut jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul selama membaca novel tersebut hahaha. Namun, selebihnya saya tetap suka. Tokoh Aidan menjadi favorit saya karena pembawaan dia yang selalu tenang dan menyayangi sahabatnya hehe.
1 hari pasca membaca novel ini, entah mengapa rasanya saya ingin marah pada tokoh-tokoh yang ada di dalam novel tersebut (mungkin ini efek terlalu melibatkan emosi selama membaca? hahaha). Bagi saya, cerita di novel ini hanya baru bagian kulitnya saja, belum terlalu dalam hingga rasa penasaran saya belum terpuaskan hehe. But still, Morra's novels are amazing! I totally appreciate this novel
Sebetulnya premis ceritanya bagus sih. Seperti kayak, selalu ada rasa utk org yg gak akan bisa jadi milik kita dan bersama org lain adalah pilihan terbaik yg bisa diambil. Makanya judulnya the second best.
Tp jujur aja sih.. Sifatnya Gwen ini agak maruk juga ya. Dia dalam hati selalu suka sama Aidan tp realitanya dia ngasih kesempatan buat Edgar. . Jujur ku kurang suka dgn tipe karakter percintaan kayak gini, di real life kalo begini sakit bgt loh 🥲
Dan penulisnya ini kalo bikin ending cerita emang selalu bittersweet. Udah jadi korban sejak baca karya-karyanya Forgiven , Notasi dan What If tp entah kenapa aku selalu nungguin karya barunya dia utk dicetak. Terutama yg tayang di platform Storial tp maaf aku lupa bgt judulnya. Cuma tau covernya warna biru dan yg desain si suku tangan. Dulu gak sempat baca itu karena udah premium skrg platformnya malah tutup 🥲
Membaca novel ini terasa mudah sekaligus berat. Mudah, karena alurnya yang mengalir, konfliknya yang menarik, dan setting-nya yang terasa nyata. Berat, karena tiap kalimatnya sarat emosi. Aku harus sesekali mengambil jeda ketika membaca. Sekadar mengambil napas panjang, atau minum setengah gelas air putih. Ini subyektif, tapi sungguh, membacanya benar-benar mengaduk-aduk emosi--terutama bagi yang punya cinta tak tergapai juga, seperti cinta Gwen pada Aidan. Silakan menikmati kalimat-kalimat yang menusuk tepat di jantung. Duh.
Novel ini tak hanya menyajikan kisah cinta tak sampai, tapi juga kisah tentang persahabatan, mimpi-mimpi, juga musik. Tentang keberanian, tentang penerimaan, tentang pengorbanaan. Kak Morra selalu bisa mengemas cerita dengan apik.
Sama seperti novel-novel sebelumnya, novel ini pun membawa pemahaman. Bahwa cinta memang tak pernah datang tanpa rasa sakit. Karena hati seringkali memilih apa-apa yang sulit untuk dimiliki. Tapi, percaya atau tidak, hati punya kemampuan lebih luas untuk menahan rasa sakit, untuk menampung tiap luka--separah apapun itu, dari hal-hal yang telah dipilihnya. Maka, jatuh cintalah dengan berani. #Tsah
Thanks Kak Morra, I love this novel so much, meski belum juga mampu menggeser Forgiven dan Will di hatiku. Hehe
Sejak membaca novel Forgiven beberapa tahun silam, aku sudah jatuh cinta dengan tulisan Kak Morra. Setiap Kak Morra menerbitkan novel selalu langsung masuk dalam daftar list bacaan yang harus aku baca. Walaupun ending yang dipilih Kak Morra hampir selalu bukanlah ending favoritku, tetapi itu semua pengecualian karena aku sudah suka dengan kisahnya.
Membaca The Second Best awalnya aku pikir hanya mengisahkan tentang kisah cinta segitiga biasa antar sesama anggota grup musik,nyatanya masalah tidak sesederhana itu. Masalah bukan hanya soal mencintai dan dicintai saja, tetapi melibatkan sesuatu yang mengejutkan, karena aku sama sekali tak membayangkan kalau akan seperti itu.
Kisah romansa berbalut persahabatan melebur menjadi suatu rangkaian yang menarik. Aku penasaran siapa akhirnya yang bersama Gwen. Aidan atau Edgar?
Aku suka dengan konsep The Second Best, suka dengan musik yang dibagikan (walau aku tidak terlalu familiar)namun semua menarik. Sekali lagi dibuat jatuh cinta dengan kisah yang ditulis Kak Morra.
4/5 karena William Hakim masih belum tergantikan. Aidan boleh lah jadi pemegang kunci di sini, tapi Edgar ganteng banget dan terlihat rapuh, harus disayangi dan diperhatiin. Edgar ini nyeleneh tapi aslinya baik gitu, he he he kan jadi suka. Tokoh laki-lakinya masih tetap penuh pesona, ah Kak!
Gaya cerita yang selalu khas, penggambaran setiap tokoh, setiap emosi, dan setiap tempatnya terasa nyata. Begitu aja, udah, berasa aku yang ada di posisi Gwen, jalanin kehidupan kampus dengan semangat lulus yang menggebu dan mimpi yang meletup-letup.
The Second Best nawarin segala hal tetang musik, mimpi besar jadi musisi, label rekaman, susahnya jadi band independen, dan Britpop-Xylo Myloto masih terngiang jelas!
The Second Best, bercerita tentang Gwen yang menerima pilihan kedua, meski pada dasarnya dia masih menyimpan rasa untuk pilihan pertama.
Setelah sekian lama tak berjumpa dengan karya Morra Quatro, kali ini, buku kedua yang aku pilih di tahun 2018 adalah karyanya.
Dia masih selincah dulu dalam membuat cerita. Bahasanya masih indah. Melankolisnya masih sangat kental. Karakter tokoh-tokohnya masih begitu hidup dan memukau. Aku selalu suka dengan hal-hal yang dia campurkan dalam ceritanya. Meskipun, di awal bab sampai hampir pertengahan, aku agak kesulitan untuk masuk dalam cerita. Mungkin karena mood bacaku yang agak turun karena lama nggak baca buku. Atau, karena aku bacanya sepenggal-penggal. Maklum, sekarang aku harus mencuri waktu sekedar menghabiskan dua atau tiga bab.
I tried my best untuk memahami buku ini, tapi sayangnya aku menamatkan buku ini dengan meninggalkan kebingungan. Aku nggak bisa mengikuti alur buku ini, aku nggak paham secara detail mengenai hubungan Edgar-Gwen-Aidan, aku nggak ngerti kenapa Edgar melakukan itu, bahkan aku nggak sadar bahwa Edgar dan Gwen sudah berada dalam satu hubungan. Kayak aku seperti tersesat membaca buku ini, mungkin karena cara penulisannya yang menurutku kurang bisa kupahami, jadi aku tidak begitu enjoy membacanya. Tapi secara garis besar udah mengerti sih.
I give 4 stars bcs this novel isn't as baper as Forgiven. Dari semua novel Morra, William Hakeem emang karakter yang sukses bikin baper berkepanjangan sampai detik ini. Tapi tipikal Morra, novel The Second Best juga sukses mengacak2 hati selama 2 jam baca gak berhenti. Aidan, I should've known it from the start that you're into her, dude 😂😂 Two thumbs up buat Morra yang selalu bikin novel dengan kata2nya yang selalu jleb di hati.
suka tapi belum pake banget. too flower-ish dengan banyak kalimat yang sulit saya cerna, huhuhu. buat yang suka musik, kamu wajib baca novel ini, detailnya luar biasa. twist-nya juga oke banget. sayanya saja yang kurang klik sama keseluruhan packaging-nya. typo-nya lumayan banyak. sudah nggak heran, sih, kayaknya dari dulu typo bukan concern utama dari penerbitnya.
Hari itu aku masih tak mengerti akan ada konsep yang disebut second best. Pilihan kedua, sebab pilihan pertama tak mampu kita miliki. Sebab ada nama yang hanya dapat ditulis di hati, namun tidak di tempat lain. Sebab hanya itu pengakuan yang kita miliki. ― The Second Best, hal. 115
Suka bangett. Tas tes alurnya ngga bertele-tele. Realistis ngga menye menye. Imbang antara persahabatan sama cinta. Aku biasanya ngga suka open ending tapi aku puass pokoknya pas banget endingnya. 4,5/5
This entire review has been hidden because of spoilers.