Buku ini kumpulan hasil riset dalam kurun waktu tiga puluh tahun, di bidang psikologi, neuro-science, ilmu politik, ekonomi dan ilmu humaniora lainnya. Aneka riset itu ingin menjawab satu pertanyaan sentral: apa yang harus dilakukan untuk hidup bahagia?
Denny J.A. merumuskan ilmu bahagia dengan formula 3P + 2S. Rumus yang mudah dipraktikkan, tetapi memiliki jejak riset dan temuan ilmu pengetahuan yang panjang.
Buku ini menyajikan aneka temuan dan riset itu dalam bahasa yang mudah, dilengkapi cerita-cerita yang menggugah. Dengan membaca buku ini, Anda akan mendapatkan peta jalan menuju hidup bahagia secara mudah dan ilmiah.
Denny Januar Ali, known as Denny JA (born in Palembang, South Sumatra on 4 January 1963) is an intellectual entrepreneur and best-selling author. He holds records in the academic, political, social media, literature and cultural worlds in Indonesia.
Denny JA is awarded by TIME magazine in 2015 as one of 30 most influential people in the Internet. Included in the list are the US President Barack Obama, President of Argentine Christina Fernandez de Kirchner, Indian Prime Minister Narendra Modi, and some world celebrities such as Shakira, Taylor Swift, and Justin Bieber. The recognition is regarding his role in utilizing social media in shaping public opinion and polls in Indonesia's 2014 presidential election.
In late July 2015, Denny JA's book Fang Yin's Handkerchief (English and German edition) become the no. 1 best-seller in Amazon.com kindle book poetry, enjoying the same position as the books written by legendary poets such as William Shakespeare, Rumi, Khalil Gibran, and Edgar Allan Poe.
In 2014, he was awarded by Twitter Inc. as The World No 2 Golden Tweet 2014, and the No 1 in Indonesia. He was also awarded by MURI as the first and the only political consultant in the world helping and winning presidential election three times in a row. In his case, the presidential elections he was involved were in Indonesia in 2004, 2009, and 2014. In the same year, he was chosen as one of 33 the most influential literature figures in Indonesian history by a team of eight (a team of prominent poets, critics and academicians). Denny JA is also known as a social activist promoting and campaigning non-discrimination movement and funding this movement by his own money after he is successful as a businessman.
Apa pun yang kita capai, jika tak bahagia, itu bukan hidup yang ingin kita jalani. Setinggi apa pun prestasi, jika tak bahagia itu bukan hidup yang kita dambakan (Denny J.A)
Nama Denny JA sudah tak asing lagi untuk mereka yang aktif di dunia politik. Rekornya adalah menjadi konsultan politik pertama di dunia yang ikut memenangkan tiga kali pemilu presiden berturut-turut (2004, 2009 dan 2014). Namun buku terbaru yang ditulisnya sama sekali tidak berbicara tentang hal itu. Judulnya “Bahagia itu Mudah dan Ilmiah.” Barangkali satu-satunya kesamaan dengan rekor tersebut adalah sisi ilmiahnya. Karena di buku ini hadir riset-riset ilmiah yang populer dan terbaru tentang bagaimana menggapai bahagia.
Hasil dari eksplorasi ilmiahnya tentang bagaimana menggapai bahagia dituangkan dalam rumus :
3P+2S : personal relationship, positivity, passion, small winning dan spiritual life
1. Personal Relationship yaitu hubungan pribadi (interpresonal) seseorang dengan orang lain dalam keluarga dan lingkungan sosial lainnya.
Riset Mark Granovetter pada tahun 1970 menyimpulkan semakin sering kita berjumpa dengan orang yang memiliki hubungan akrab akan memberikan kebahagiaan yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak melakukannya.
Riset lain oleh Ed Diener dan Martin tahun 2002 membuktikan bahwa 10 % individu yang paling bahagia adalah mereka yang dikeliling para sahabat, keluarga, teman kerja yang punya hubungan positif dan emosional kuat lagi intens. Riset 75 tahun Harvard Study of Adult Development menyimpulkan mereka yang hidupnya bahagia (sehat) adalah responden yang memiliki hubungan pribadi yang hangat, akrab dan saling menyayangi.
2. Positivity yaitu sikap hidup yang selalu positif sehingga melahirkan perspektif positif.
Cara pertama dengan menumbuhkan kebiasaan memberi. Riset Sonja Libyumorsky dkk tahun 2004 menguji kelompok yang ditugaskan untuk melakukan “The Random Act of Kindness” selama 6 minggu memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi daripada kelompok kontrol (tidak melakukan aktivitas apa-apa).
Cara yang Kedua dengan bersyukur. Robert Emmons dari University of California meneliti 1000 orang selama 10 tahun tentang hubungan perilaku bersyukur dengan kebahagiaan.
Hasilnya, mereka yang mempraktikkan perilaku bersyukur secara rutin kekebalan tubuhnya (immune system) lebih kuat, tidur lebih nyenyak, senang berolahraga dan lebih peduli dengan kesehatannya, lebih ceria dan tahan stress serta lebih menolong dan membina relasi hangat dengan orang lain.
3. Passion yaitu kebiasaan melibatkan diri Anda secara total dengan sepenuh hati atas aktivitas apapun yang Anda anggap penting. Penelitian Experience Sample Method (ESM) University of Chicago tahun 1970 menunjukkan situasi flow didapatkan ketika seseorang berada dalam kondisi beraktivitas yang disukai. Olahraga adalah salah satunya karena menghasilkan hormon Endhorphine yang dapat menghadirkan ketenangan. Passion juga memunculkan sense of purpose sehingga banyak penderitaan tidak dirasakan sebagai penderitaan seperti yang dicontohkan oleh Gandhi.
4. Small wins (kemenangan kecil). Riset Teresa Amabile dan Steven J. Kramer tahun 2011 menunjukkan setiap individu yang mencatat kemajuan signifikan dengan apa yang tengah dikerjakannya menunjukkan kenaikan kreativitas dan emosi positif. Menjalani hobi juga memiliki korelasi positif terhadap kebahagiaan. Penderitaan demi penderitaan ternyata bagian dari melatih “otot” bahagia. Riset Christoper Peterson dan Mark Seligman tahun 2004 menemukan satu karakter yang disebut Zest (gairah memberikan energi ekstra) sebagai sikap penting yang memunculkan kebahagiaan. Kisah Abraham Lincoln adalah bukti bahwa dalam kegagalan sekalipun tetap dapat ditemukan kekuatan untuk bahagia dan menghasilkan masa depan yang berakhir baik.
5.Spiritual life adalah hidup yang diperkaya dengan dimensi spiritual. Level kebahagiaan ada dua yaitu pleasant happiness dimana kebahagiaan semata karena ketiadaan kesulitan, menikmati aneka kesenangan dan seterusnya. Level kebahagiaan berikutnya yaitu meaningful happiness dimana kebahagiaan hadir karena pemaknaan yang positif atas segala hal yang terjadi pada seseorang bahkan dalam situasi yang sulit sekalipun. Contohnya Victor Frankl yang memilih hidup dalam kamp konsentrasi Nazi dan mendapatkan penyiksaan selama bertahun-tahun. Namun saat keluar dari Camp Victor masih dalam kondisi psikologis yang sehat bahkan menulis buku laris Man’s Search for Meaning.
Spiritual life dapat dicapai dengan berbagai cara seperti melakukan aktifitas sosial. Riset The National Trust of Scotland pada Maret 2015 membandingkan 3800 pekerja sukarela membuktikan bahwa mereka yang mendedikasikan diri secara sukarela (minimal 100 jam setiap tahun) ternyata hidupnya merasa lebih bahagia dan bermakna.
Cara berikutnya yaitu dengan mendekatkan diri pada komunitas. Denny menuliskan bahwa salah satu bentuk komunitas itu adalah agama. Riset General Social Survey pada tahun 1972-1990 membuktikan bahwa mereka yang berafiliasi dengan agama lebih bahagia dibandingkan mereka yang tidak berafiliasi dengan agama.
Menurut Diener dan Seligman agama memunculkan social-network antar sesama penganut agama. Peneliti lain, Salsman dan Carlson menambahkan adanya Social-support yang diperoleh dari afiliasi terhadap agama sehingga memunculkan level kebahagiaan yang lebih tinggi. Namun orang yang tidak berafiliasi pada agama tetap bisa bahagia jika mengikuti jalan kebahagian lainnya seperti PERMA (Positivity, Engagement, Relationship, Meaning of life and Achievement).
Spiritual life yang lain dapat diperoleh dengan berdo’a. Mereka yang hidupnya acapkali meditasi atau berdoa (dengan compassion) lebih bahagia dibandingkan mereka yang tidak atau sangat jarang berdoa.
Riset Universitas of Warwick tahun 2008 doa memberi pengaruh signifikan terhadap sikap hidup yang positif dan level kebahagiaan.
Selain uraian 3P+2S ada selipan tulisan menarik lainnya tentang 8 sebab Denmark menjadi negara paling bahagia di dunia 4 tahun berturut-turut (hal.76), 4 tokoh founding fathers riset kebahagiaan (hal.124), kurva usia dan kebahagiaan (hal. 148), klasifikasi cinta yang memunculkan kebahagiaan (hal. 196), dan jenis do’a yang paling memunculkan kebahagiaan (hal. 330).
Buku yang baru terbit awal Juli tahun ini mengingatkan saya dengan karya best-seller Charles Duhigg, The Power of Habit. Penulisan yang berbasis kajian lalu disajikan dengan gaya bahasa bercerita (story telling) dan disimpulkan dalam rumus sederhana. Bedanya, buku ini didesain lebih renggang (tak padat tulisan) dan diselingi pula beberapa ilustrasi agar tak melelahkan mata.
Saya terkesan dengan kalimat penutup buku ini:
Sungguh ini era yang luar biasa. Bahkan walau tak ada pencapaian dan prestasi besar kita tetap bisa hidup bahagia dengan mudah dan ilmiah. Apalagi jika ada pencapaian dan prestasi besar.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku yang cukup melampaui ekspektasi, soalnya dapat dengan harga sangat murah di bazaar buku. Tetapi ternyata di dalamnya penuh dengan kajian dari riset, agama, filosofi, kisah hidup serta anekdot yang dirangkum dalam rumus 3P + 2S sebagai kunci kebahagiaan. (Apa itu 3P + 2S? Cek sendiri di bukunya 😅). Ilustrasi yang diberikan juga sangat bagus buat mendukung tiap subbab. What an awesome book to start the new year with!
+ Finished in 4 days (if i keep this pace i might reach my book goals this year hahaha)
Buku bagus, karena berdasar pada ilmu pengetahuan.
Ada buku sejenis berjudul "Resilience, Tetap Tangguh di Masa Sulit Pandemi COVID-19" yang ditulis oleh M. Jojo Rahardjo dan Dezny Zacharias Rahardjo. Diterbitkan oleh Membangun Positivity.
Selain kiat kiat bahagia, buku ini memberikan insight tentang proses menuju bahagia. Bahwa semua hal, pun berbahagia, adalah tentang memaknai sebuah proses. Tentang bersyukur dan bersabar.