Audio book trailer: https://www.youtube.com/watch?v=ucdDu...
Selamat datang di Asagao High, di mana empat kisah berbeda dengan berbagai macam emosi dan rasa, bercampur membentuk manis-pahit cinta.
Singkat cerita, Erika jatuh hati pada Yuu—rivalnya di bidang akademis yang juga terkenal tidak pernah awet pacaran.
Ran sulit percaya bahwa Jun sungguh-sungguh menyukainya, bukan hanya ingin menjadikannya kamuflase untuk menutupi kecenderungannya.
Tsubaki yang patah hati pada seniornya, menawarkan diri pada sahabatnya, Kenzo—yang terus mengeluh ingin punya pacar.
Lalu, Kanna si Ketua OSIS yang sudah dibuat pusing oleh masalah yang terjadi di sekitaran sekolah dan asrama, kini terancam kehilangan Shuhei—sang wakil yang paling mengerti tentang dirinya.
Saat mereka harus menghadapi perasaannya masing-masing, kehidupan siswa-siswi Asagao High mulai terusik dengan banyaknya kasus kehilangan yang semakin meresahkan. Seperti apa akhir yang akan mereka jalin?
*** Klik 'more photos' untuk berkenalan dengan karakter-karakter Hello, Spring!
Penyuka horor dan romance. Gaya tulisannya lugas dan sederhana, dengan dialog yang mengalir dan kasual, sesuai dengan setting dan tokoh-tokoh dalam cerita.
Selain menulis novel yang merupakan passion-nya, Rettania sehari-harinya bekerja sebagai praktisi Public Relations di salah satu Konsultan Public Relations di Jakarta.
Masih berkeinginan menulis dengan genre realistic fiction dan cerita bertema keluarga.
Bersama Yoana Dianika, Aiu Ahra dan Nel Falisha, Rettania tergabung dalam R.A.Y.N., sebuah kelompok penulis yang disatukan oleh minat akan budaya Jepang dan berkomitmen untuk konsisten berkarya bersama.
Akan sangat senang diajak ngobrol tentang “anak-anaknya” ini melalui: Email: retty.tania@gmail.com Facebook: rettania.74 Twitter: @rettania74 Instagram: @Rettania
Light novel ini mengisahkan siswa-siswi Asagao High, SMA berbasis Jepang dengan tokoh dan cerita yang beragam.
Sekolah tersebut punya asrama, kantin, dan kafe yang menjadi latar tempat para tokoh di novel ini. Alur novel ini unik. Empat kisah dialami oleh para tokoh berbeda, di tempat berbeda, dan di waktu yang sama.
Tokohnya banyak. Hehehe. Tapi aku suka. Tokoh-tokohnya memiliki karakter masing-masing, yang bisa kalian baca di daily reviewku😁
Gaya bahasa yang digunakan Mbak Rettania sangat santai, khas cerita anak SMA, enteng dan mudah dipahami. Dan nilai plusnya lagi yaitu… ilustrasinya! Ada beberapa gambar khas manga yang diselipkan di halaman-halaman tertentu. Ah, aku suka banget!
Endingnya juga yang menjadi favorit saya. Mbak Rettania menyediakan last story untuk akhir dari cerita-cerita sebelumnya, dan menjadi jawaban dari misteri barang yang hilang di sekolah dan asrama.
Saya hanya ingin menambahkan, jika nanti Hello, Spring! dicetak ulang *Aamiin*, semoga typo dan EBI nya sedikit diperbaiki, ya.
Aku rekomendasikan buat semua yang lagi pengin baca yang ringan dan segar khashigh school dengan sentuhan manga, untuk baca light novel karya Mbak Rettania ini. Untuk yang selesai baca buku berat atau lagi reading slump, boleh banget, lho. Yuk, baca.. dan kita obrolin bareng-bareng😁
Surprisingly, aku lumayan enjoy baca buku ini padahal iseng doang belinya wkwk. Ada 4 kisah dengan mc yang berbeda di buku ini, tapi antar tokohnya punya hubungan gitu, mulai dari temab sekamar, teman klub, sesama anggota osis dll gitu.
Ceritanya ringan banget sebenarnya, tapi yang aku suka adalah cara penulis nyambung nyambungin kejadiannya itu, trus walaupun punya 4 pasangan tapi karakternya gak mirip. Bonus ada ilustrasi tokoh dan beberapa kejadiannya yang gemesh
Sudah hampir dua minggu berlalu sejak menyelesaikan buku ini... sayang kesibukan menyandera sehingga baru bisa review sekarang.
Hampir seluruh buku ini saya baca di kereta, saat berangkat dan pulang kemudian dilanjut di rumah. Lalu saya bersyukur memakai masker selama di kereta. Karena kalau tidak, saya akan dianggap gila gegara cengar-cengir sendiri. :)))
Yesss, buku ini semanis itu.
Kak Retty mengemas cerita di novel ini dengan sangat baik. Saya sudah bukan remaja dan kerap kali merasa meh kalau membaca cerita (khususnya shoujo manga) remaja, tapi Hello Spring ini tidak memberikan sensasi demikian. Malahan membawa rasa nostalgia ketika saya masih SMP dan berlangganan majalah komik Nakayoshi, ketika saya masih sangat menikmati kisah cinta anak sekolahan yang sederhana tapi manisss.
Hello Spring mempunyai empat pasangan cowok-cewek sebagai tokoh utamanya dengan satu latar di sekolah yang sama. Kak Retty piawai menceritakan kisah masing-masing pasangan (satu bab satu pasangan) yang konfliknya berbeda-beda, tapi dihubungkan dengan satu benang merah besar yaitu misteri ala sekolahan yang membuat pembaca penasaran. Saya suka sekali bagaimana Kak Retty mengakhiri kisah setiap pasangan dengan "menggantung" di part yang sama, lalu menuliskan kesimpulan semuanya di bab paling akhir, sekaligus mengungkap misteri yang membuat cerita di novel ini bukan sekadar romansa belaka.
Saya selalu kagum pada penulis yang bisa menuliskan ceritanya dari berbagai sudut pandang tapi berhasil menyusun plotnya sedemikian rupa sehingga liniwaktu kejadian ini dan itunya tetap rapi. Di sini Kak Retty sukses melakukannya; semua cerita--orang, kejadian--saling berkaitan dan diceritakan dari sudut pandang berbeda sehingga pembaca menangkap gambaran utuhnya di akhir. Mengingatkan saya pada sensasi ketika membaca The Candymakers.
Yang saya suka lagi dari novel ini adalah "manga feel"-nya yang dapet banget. Bukan hanya karakterisasinya saja, melainkan juga ilustrasi dan biodata tokoh yang tepat sekali untuk melengkapi feel itu. (Btw, saya naksir Shuhei. DIA GANTENG BANGET OMG #abaikan. Udah lama nggak nemu cowok manga yang bikin naksir pada pandangan pertama haha).
Terus... apa lagi ya. Oh ya, suka judul di setiap scene setelah bintang tiga. Itu imut banget. :3
Kalau ditanya siapa pasangan favorit saya, jawabannya Kenzo/Tsubaki. Suka aja sama hubungan mereka. :3
Overall, novel yang sangat manis dan menyenangkan dibaca bagi penyuka novel rasa manga. :)
Akhirnya aku berhasil menamatkan light novel ini. Jujur ini pertama kalinya aku membaca light novel, dan ternyata aku suka.
Novel ini mempunyai konsep yang menarik. Ada 4 kisah yang berbeda dengan 4 pasang tokoh berbeda, di latar yang berbeda tetapi waktu yang sama. Walaupun berbeda kisah, benang merahnya adalah mereka semua siswa-siswi Asagao High dan terlibat erat dengan kasus barang hilang yang sedang heboh di sekolah itu.
Walaupun barang-barang yang hilang itu benda-benda yang kecil dan bukan benda berharga, tetapi tentunya banyak yang bertanya-tanya. Apalagi jumlahnya tidak sedikit dan salah satu diantaranya berupa barang pribadi yaitu CD salah satu siswi.
Unik bukan? Yang aku suka, setelah disuguhkan dengan 4 kisah ini, di akhir akan ada kisah penutup yang akan menjawab semua permasalahan para tokoh dan tentunya kasus barang hilang.
Selama membaca novel ini juga yang aku suka adalah beberapa ilustrasi yang cantik sekali, khas manga gitu. Jadi kamu yang suka baca manga, mungkin akan suka dengan kisah Hello, Spring.
Secara keseluruhan, novel yang ringan, konflik dan alur yang menarik, ilustrasi yang cantik dan ending yang memikat, membuatku betah membaca novel ini. Kamu mencari kisah romansa remaja yang ringan, aku rekomendasikan novel ini untuk kamu baca.
Dijamin saking nyamannya membaca, kamu gak bakal lama menyelesaikan kisah ini.
Review buku ini, lagi-lagi, mungkin nggak akurat karena aku baru menuliskannya sekitar dua bulan setelah aku selesai membacanya.
Bisa dibilang, pengalaman membaca Hello, Spring! menjadi salah pengalaman yang menyenangkan buatku. Dikemas dalam bentuk light novel, buku ini jadi kerasa ringan dibacanya. Memang ceritanya khas anak SMA banget, tapi aku ngerasa cerita di buku ini betul-betul mengalir dan cukup asyik dibaca.
Dalam buku ini, ada empat kisah dari empat tokoh berbeda. Satu benang merah di antara mereka adalah, mereka sama-sama merupakan siswi di Asagao High. Eits, meski kesannya ini latarnya Jepang banget, Rettania ternyata mengambil latar cerita ini di Indonesia saja, tepatnya di Bogor—tapi tenang, penulis memberi background kenapa vibe Asagao High itu Jejepangan banget. Anyway, kalau kalian nggak mencari kisah YA-Romance, mungkin nggak akan terlalu cocok membaca buku ini karena fokus cerita dari masing-masing kisah di buku ini memang tentang percintaan masa SMA.
Seperti yang kubilang tadi, ada empat kisa berbeda di buku ini. Pertama, ada Erika yang jatuh hati pada Yuu yang merupakan rivalnya di bidang akademis. Lalu, ada Ran yang tidak percaya kalau Jun sungguh-sunguh menyukainya—ingetku ini kisah deting naksir kating hehe. Ada juga kisah Tsubaki yang memutuskan untuk mencoba berpacaran dengan sahabatnya, Kenzo, setelah patah hati.
Kisah yang aku suka tentu saja Kisah Kanna si Ketua OSIS. Sebagai orang yang cukup kaku, Kanna tak pernah suka kalau ada hal yang tak sesuai standarnya. Semua hal yang terjadi di sekolah maupun asrama haruslah teratur di matanya. Untungnya, ada Shuhei, sang wakil, yang bisa membantu Kanna mewujudkan keteraturan itu. Nah, hal apa yang paling klise tapi menyenangkan dari kisah Kanna-Shuhei? Iya, mereka dijodohin sebenarnya. Pertanyaannya, apakah perjodohan itu akan terus berjalan kala Kanna menyadari sepertinya Shuhei terpaksa menerima perjodohan itu?
Selain kisah percintaan yang super duper manis kayak gulali itu, di Asagao High juga sedang terjadi kasus kehilangan barang, baik di sekolah maupun asrama. Barang yang hilang tuh sebenernya barang-barang kecil dan tak terlalu penting seperti ikat rambut dan gantungan kunci. Sampai kemudian, ada satu barang pribadi yang ikut menghilang dan menjadi perbincangan di Asagao High. Tidak ada satu orangpun yang mau mengakui sebagai dalang kehilangan barang tersebut. Lalu, bagaimana cara kasus kehilangan ini akan terungkap, ya?
Awal aku ingin membaca buku ini tuh sebenarnya karena aku lagi mencari buku yang cocok untuk #BorrowedSpring. Waktu aku ubek-ubek IPusnas, aku malah menemukan buku ini. Ketika aku mencari review-nya di Goodreads, rating dan review-nya pun lumayan. Jadilah aku memutuskan untuk membaca buku ini.
Berhubung bentuknya light novel, kerasa banget ringannya alur buku ini. Karena bentuknya tuh kayak ditulis per bagian, dia tuh kerasa kepisah tapi juga tetep nyambung (?). Makanya jadi berasa cepet banget bacanya. Aku juga suka gimana per bagian dalam satu bab tuh berasa ngasih napas waktu baca.
Tapi memang, sih, aku agak gimanaaa gitu waktu hampir semua tokoh cowok di buku ini tuh pada lempar tanggung jawab soal barang yang hilang itu. Iya, aku tahu kalau barang yang hilang itu sensitif banget, tapi sungguh deh, masak nggak ada yang mengambil tindakan yang “benar”? Well, kecuali Shuhei—yang membuat derajatnya di mataku langsung naik. Therefore, kisah Kanna-Shuhei jadi favoritku di buku ini.
Kalau pengen coba baca buku dengan konsep light novel, Hello, Spring! Bisa banget dicoba, yaa. I definitely will recommend it😉