What do you think?
Rate this book


305 pages, Paperback
Published August 26, 2017





Udah, nggak perlu lagi liat blurb-nya. Pokoknya apa aja yang ditulis Kak Ika itu bagus. Tulisannya berkarakter, kuat, dan bikin cerdas. Romantis udah pasti. Tapi yang bakal kamu dapat lebih dari itu. Seger banget ini cerita.
“Akan ada balasan kebahagian untukmu, Mia. Walaupun nanti bukan dengan Riyad, akan ada cinta lain untukmu. Akan ada orang yang mencintaimu sebesar rasa cintamu padanya. Yang dengan yakin akan memilihmu di antara banyak wanita di dunia.”
“Kita bukan takut untuk mencintai. Hanya lebih hati-hati memilih siapa yang layak untuk menerima cinta kita. Every relationship, broken or not, has made us better person. ”
“…Kita nggak tahu di depan bakal seperti apa. Ya kalau hubungannya berhasil, kalau nggak? Kalau ada orang nanya yang mana yang namanya Amia, orang-orang akan bilang oh, gebetannya plant manager dulu. Setelah kami putus, aku akan dapat gelar mantan-gebetan-Plant-Manager selamanya….”
Kamu kapan mau lepas cast?” Baiknya bicara dengan Amia, dia tidak perlu basa-basi.
“Minggu depan.”
“Aku yang antar ke rumah sakit, ya?” Gavin menyandarkan punggungnya.
“Buat apa? Saya bisa sendiri.” Tentu saja Amia menolak.
“Daripada naik taksi, kenapa kamu menolak kalau ada orang yang menolong kamu?” Kalau ada jalan yang lebih mudah, mengapa gadis itu tidak mau mempertimbangkan?
“Ya karena yang menolong itu Bapak.”
Jawaban yang tidak diduga Gavin. “Jadi kalau bukan aku, kamu mau?”
“Iya.”
“Kamu tidak adil, Amia. Aku harus punya kesempatan yang sama dengan yang lain.” Gavin telanjur menandai hari itu dan akan izin setengah hari.
“Terserah.”
“Jadi kamu setuju? Aku jemput kamu di rumahmu?” Punggungnya kembali tegak.
“Maksud saya, terserah apa pandangan Bapak tentang keadilan dan kesempatan.” Amia tidak mengerti kenapa Gavin sembarangan menyimpulkan.
“Dalam pandanganku, aku boleh menemanimu ke rumah sakit nanti.”
“Apa kamu tahu alamat ini?” Gavin menunjukkan kertas putih itu kepada Amia.
“Tahu, Pak.” Sejak lahir dia tinggal di sini, tentu saja tahu.
“Antar saya ke sana.” Gavin berdiri. Memang ada GPS. Pengisi suaranya juga wanita. Tapi kalau tersedia GPS alami—penduduk lokal—yang menarik dan cantik seperti ini, semua laki-laki akan melupakan software navigasi tersebut. Gavin tersenyum dalam hati. Memuji dirinya atas keputusan cerdas yang baru dibuatnya.
Tidak akan sulit baginya untuk menyukai Gavin. Seandainya Gavin tidak tampan dan seksi, Amia tetap akan mudah menyukainya setelah sedikit lebih jauh mengenalnya. He is not only intellectual, caring, and loving, but also naughty, active, spontaneous, and confident.
Amia mengamati kotak sepatunya, hadiah dari Gavin tadi. Apa lagi yang bisa dilakukan wanita kalau sudah mendapatkan perhatian seperti ini, selain membiarkan hatinya melambung jauh ke awan? Tidak ada yang lebih membuatnya bangga selain laki-laki luar biasa seperti Gavin, yang bisa mendapatkan wanita mana saja yang diinginkan, menyukainya.
“Kalau kamu merasa nggak bisa mempercayaiku, nggak secure dengan hubungan kita, ada cara lain yang bisa kamu lakukan, Gavin.” Amia berhenti sebentar.
“You need to really reevaluate me, our relationship, and your readiness for an adult relationship.” Amia akan memilih mempertahankan pekerjaannya.
“Kamu mau kita putus?” Gavin tidak percaya ini.
“Itu terserah kamu.” Amia membuka pintu mobil dan turun tanpa memberi Gavin kesempatan bicara. “Aku pulang sendiri.”
Aku masih senyum-senyum sendiri ingat Gavin dan Amia. Aduh, bikin bahagia sangat. Banyak banget yang ingin kutulis. Karena banyak yang kusuka, tapi nanti spoiler. Silakan baca BELLAMIA. Aku jamin nggak akan rugi dan nggak akan nyesel. Dengan harga novel yang nggak mahal, tapi dapat SEGALANYA, siapa yang nggak pengen? Aku aja habis dipinjemin temen, tetap beli 😀
My Bittersweet Marriage, aku disuguhi realita bahwa hidup di negara orang bukan berarti surga.
When Love Is Not Enough, aku diingatkan pada realita bahwa cinta aja nggak cukup buat menjalani pernikahan. Di Bellamia ini, mataku dibuka sama Kak Ika, bahwa pacaran sama atasan itu banyak nggak enaknya juga. EH, lebih banyak nggaknya daripada enaknya. Makanya Amia males waktu Gavin naksir dia hihihi
Apa pernah aku bilang aku ingin bersamamu setiap hari? Aku sudah sangat pengertian, Gavin. Hanya satu hari dari akhir pekan yang kuminta. Bukan satu minggu. Terlalu banyak? Terlalu berat untuk kamu penuhi?