Ini terjemahan baru dari buku yang pernah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Terjemahan kali ini dalam supervisi penulis aslinya sendiri dan diberi pengantar oleh Didi Kwartanada.
Laithwaite Fellow and Tutor in Modern History at Trinity College, Oxford. Peter Carey works on the history, contemporary politics and socio-economic development of Southeast Asia, specialising on Indonesia, East Timor, Cambodia and Burma.
Narasi informatif tentang perjalanan sejarah orang-orang Cina di Indonesia. Gejolak politiknya, godokan budayanya. Dalam banyak hal manusia selalu membuat saya terpesona, termasuk dalam cara mereka bertahan hidup.. ke mana pun mereka pergi.
Sejak peristiwa Mei 1998 dan melihat kebencian yang mendalam terhadap orang Tionghoa, disamping dikotomi Pribumi dan Non Pri yang sejak kecil selalu menghantui setiap pembicaraan di kalangan terbatas, membuat saya bertanya-tanya, kesalahan apakah yang dilakukan orang Tionghoa pada bangsa Indonesia? Mengapa mereka tidak pernah menjadi bagian dari orang Indonesia? Mengapa orang Tionghoa selalu memiliki 'kumpulan' sendiri terlepas di kehidupan sehari-hari mereka berbaur dengan masyarakat Indonesia lainnya.
Namun pertanyaan yang tersimpan selama bertahun-tahun tidak pernah mendapatkan jawabannya.
Hingga di suatu waktu, 1 bulan yang lalu, saya membaca judul buku ini di laman Komunitas Bambu.
Penelitian yang dilakukan Peter Carey terhadap keberadaan dan peran orang Tionghoa di Pulau Jawa, akhirnya memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang selama ini berseliweran di dalam diri saya.
Semua ini bermuara dari kelihaian pemerintah kolonial Belanda melihat celah memanfaatkan kepintaran orang Tionghoa sebagai "mesin pencetak uang".
Celah yang dipelajari pemerintah kolonial Belanda dari keraton Yogjakarta yang telah terlebih dahulu memanfaatkan orang Tionghoa untuk menambah pemasukan kelangsungan kehidupan istana sebagai pemungut pajak bagi rakyat yang berada di wilayah kekuasaan keraton.
Dan sebagaimana layaknya celah yang dibiarkan tanpa peraturan dan pengawasan yang kuat, orang Tionghoa pun memanfaatkan celah itu untuk kepentingan diri mereka pribadi dan kaumnya.
Penindasan terhadap kaum yang lemah, dalam hal ini orang Jawa pun tidak terelakkan.
Tarif pajak yang mencekik disamping 'upeti' yang harus dibayarkan agar para petani Jawa dapat membawa hasil sawah untuk diperdagangkan antar desa/daerah, serta 'kasta' dimana orang Tionghoa menganggap diri mereka setara keluarga bangsawan saat berhadapan dengan rakyat jelata, menimbulkan luka yang mendalam.
Luka inilah yang kemudian menjadi dasar larangan menikah atau menggauli orang Tionghoa digaungkan Pangeran Diponegoro kepada pengikutnya.
Dendam inilah yang kemudian mendapatkan penyalurannya lewat genosida terhadap orang Tionghoa di Ngawi yang dilakukan oleh Raden Ayu Yudo kusumo pada 17 September 1825. Tindakan serupa ini juga berkali-kali terjadi di daerah lain di seluruh Jawa Tengah menjelang Perang Jawa.
Lewat buku ini, saya berkaca, bahwa manusia pada dasarnya sama, terlepas dari ras atau suku mereka. Kolonialisme lewat buah buahnya tidak pernah berhenti walaupun negara itu sudah merdeka, selama para pihak yang diuntungkan mendapatkan kenikmatan.
Lewat buku ini pula, walaupun hanya selintas, saya belajar, bahwa motif batik yang menjadi daya tarik batik Cirebon, mega mendung, salah satu contoh, merupakan peninggalan orang Tionghoa.
Lewat buku ini pula, beberapa buku yang disampaikan dalam catatan kaki oleh Peter Carey, masuk ke dalam daftar buku yang akan saya baca dan cari tentunya.
Sebuah tinjauan khusus mengenai etnis Tionghoa terutama di daerah Vorstenlanden (kerajaan) Jawa Tengah bagian selatan di tahun antara 1755 hingga 1830. Dimana Peter Carey menyatakan bahwa tinjauan ini belum dapat mewakili penjelasan mengenai etnis Cina diseluruh Jawa maupun Hindia Belanda. Dari tinjauan tersebut diperoleh suatu kesimpulan bahwa kebencian masyarakat Jawa kepada etnis Tionghoa pada saat menjelang perang Jawa diakibatkan peran etnis Tionghoa dalam memperparah keadaan ekonomi baik sebagai petugas tol dan Bandar candu. Serta, hubungan dekatnya dengan pemerintah Eropa pada saat itu.