What do you think?
Rate this book


508 pages, Paperback
First published June 1, 2017
" Laksana hujan yang membasahi bumi memberi kehidupan, begitu juga selayaknya bumi yang menumbuhkan tunas dari dalamnya yang juga memberi kita kehidupan. Langit dan bumi itu satu bagiku, mereka sama tinggi, dan juga sama rendah. Apabila langit jatuh, bumi akan hancur. Dan apabila bumi hancur, tidak ada langit untuk dipandang,
" Mereka satu, namun dipisahkan untuk memberikan kita ruang agar dapat hidup. Mereka satu, namun rela untuk saling berjauhan dan menunjukkan diri masing-masing dan saling memuja dalam diam. Karena kita tidak akna pernah melupakan keagungan langit yang memberikan berkah, namun kita tidak akan hidup jika bukan di atas bumi yang kita sebut hina,"--halaman 91
Jika aku, Kaisar Shuan Tan Zhen adalah perumpaan langit sebagaimana yang selalu disebutkan, aku dengan senang hai memuja bumi yang berada di bawah naunganku. Karena hanya disana aku dapat menemukanmu, sebab hanya di bumi yang hina aku dapat melihat permaisuri agungku,"
" Tidak untukku Ailan. Karena bagiku, tidak akan cukup bagimu hanya dengan terkurung di dalam kamar seharian, hanya dapat bersamaku sebagai seorang pengawal pribadi. Bagiku tempatmu sejak awal adalha di singgasanaku, sebagai seorang permaisuri, "
" Seperti aku yang mencoba melupakan Ailan di masa lampau, walau tak pernah bisa. Seperti aku yang akan merelakanmu di masa depan, Lan. Walau mungkin juga tidak akan pernah bisa,"
" Nona Ailan, siapun Anda, saya hanya ingin mengatakan jika Anda adalah perempuan yang sangat beruntung. Dicintai oleh Yang Mulia Kaisar, sampai sedalam itu. Dalam ketidakhadiran Anda pun, Anda bahkan masih membuat beliau tidak melupakan sosok Anda barang sekejap pun, "
" Aku memang terlihat malaikat bagimu, tapi untukmu, Kaisar tetaplah dewa bagimu,"
" Sejauh apapuh kau pergi, kau pasti akan tetap kembali ke sisi-kesisiku. Karena akhirnya, kau harus tetap menyahuti panggilan takdirmu, Ailan,"