Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ammar

Rate this book
Manusia memiliki hak yang sama untuk menjadi berguna, lalu kenapa kita tidak segera merampas hak kita itu? Dengan bermimpi saja terlebih dahulu. Setelah kita memiliki mimpi, maka seribu jalan akan terbuka, dan kelanjutan perjalanan menujunya adalah upaya dan doa.
Hari ini berlalu begitu cepat, jarum waktu berhembus seperti gemuruh penonton haus darah yang menggema secara bertahap, berputar di tepi-tepi Colloseum, yang tentu saja siap mengeluarkan banyak gladiator berdarah dingin yang hendak memenggal kepala lawannya. Berputar dua kali, tiga kali, ah, empat kali lebih cepat dari yang biasa kuamati. Usai sudah kebahagiaan ini. Kemudian para guru membentuk barisan berderet untuk menyalami kami, melepas dan memberikan motivasi kuat serta ucapan selamat atas kemenangan kami, kemenangan apa pula? Setidaknya kemenangan kami bertahan menuntut ilmu di sekolah ini. Ya, hanya orang kuat yang mampu menerobos benteng kejemuan belajar. Dahulu, Pak Tatang pernah mengulas kembali ‘petuah’ dari Imam Syafi’i “Jika kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan.” Dan kami telah melalui satu fase dalam proses belajar—secara formal. Mungkin itu yang dimaksud atas ucapan ‘selamat’ yang diucapkan dari bibir guru-guruku, meski di dalam hati aku masih bertanya-tanya sudahkah aku belajar dengan baik dan benar? Semoga saja.


Novel AMMAR karya Candrika Adhiyasa ini mengangkat sebuah risalah perjalanan hidup seorang pemuda yang lahir di desa Kadatuan, Kuningan yaitu Ammar Chania. Kisah AMMAR perlu dikonsumsi publik terkhusus sebagai rujukan kaum intelektual muda yang masih banyak mengeluhkan dinamika kehidupannya kala berada di titik kejemuan dalam menuntut ilmu dan merajut mimpi. AMMAR menunjukan sebuah ‘cara’ untuk menyikapi segala persoalan hidup dengan mengesampingkan egoisme masa muda yang notabene dikuasai oleh sikap fluktuatif dan lebih mementingkan keinginannya sendiri. AMMAR juga mengajarkan kita untuk bangkit dari keterpurukan dan keterbatasan dengan kekuatan mimpi, doa dan upaya. Secara umum, buku ini wajib dikonsumsi berbagai kalangan untuk direnungi bahwa hidup adalah tentang berusaha dan bersyukur, kemudian berserah diri hanya kepada Tuhan atas segala sesuatu yang menjadi ketentuan-Nya.

204 pages, Unknown Binding

Published April 1, 2017

6 people want to read

About the author

Candrika Adhiyasa

5 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (80%)
4 stars
2 (13%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (6%)
No one has reviewed this book yet.

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.