Radikal itu menjual! ungkap Aris Setyawan dalam Pias terhadap buku The Rebel Sell yang mengulas sisi lain produksi budaya tandingan yang katanya merupakan bentuk perlawanan terhadap kapitalisme. Ulasan Aris terhadap buku tersebut barangkali membuat kita mengernyitkan dahi, bahkan ada pula yang tersinggung. Akan tetapi, apa yang diungkapkan Aris memang menarik untuk ditelisik lebih jauh. Itu hanya salah satu pernyataan kontroversial Aris dalam buku Pias. Bisa jadi, ada begitu banyak hal-hal nyeleneh lain yang diungkapkannya dalam buku ini.
Kumpulan tulisan Aris di bukunya ini adalah testimoninya terhadap banyak hal yang dapat membuat yang lainnya juga berpikir ulang soal pentingnya tulisan remeh temeh pengalaman personal dan irisannya dengan musik dan budaya populer pada umumnya. (Herry Ucok Sutresna. Homicide, Bars of Death)
Aris, Potensial dan menjanjikan. Bisa jadi, kita tidak terlalu sepakat dengan pendapatnya. Namun, dari situ, kita bisa memulai perdebatan untuk mempertajam dan mencari jalan keluarnya jika diperlukan. Saya tidak akan heran jika pada masa depan, tulisannya, pertanyaannya, dan gugatannya terhadap suatu fenomena akan seliweran di media sosial maupun media cetak.
(Cholil Mahmud. Gitaris/vokalis Efek Rumah Kaca dan Pandai Besi)
Thought wanderer. Linux enthusiast. Co-founder & editor of Serunai.co, drumming for Auretté and The Polska Seeking Carnival, author of "Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya" (2017, Warning Books/Tan Kinira Books. 2020, Warning Books), "Wonderland: Memoar Dari Selatan Yogyakarta" (2020, Elevation Books), and "Aubade: Kumpulan Tulisan Musik" (2021, Arung Wacana).
Sudah lama sebenarnya saya mengikuti tulisan-tulisan dari Aris Setyawan ini. Saya mulai membaca tulisan-tulisannya dr Notes di profil Facebook dia. Berlanjut saya beberapa kali juga mengunjungi blog nya utk sekedar membaca bbrp tulisan yg blm pernah saya baca di FB. Entahlah, membaca tulisan Aris seperti meng'iya'kan kegelisahan-kegelisahan & pendapat yg saya punya. Bedanya, saya tidak menulis. Maka, dr bbrp tulisan Aris lah bbrp kegelisahan saya terjabarkan :D Saya membaca buku ini tdk urut dr halaman pertama menuju halaman terakhir, tetapi saya pilah dr yg saya anggap ada kaitan dgn bbrp gagasan/kegelisahan saya, baru saya lanjutkan ke topik-topik yg lain (yg menurut saya lebih umum) After all, tulisannya masih tetap gampang dicerna, seperti saya membaca tulisan-tulisannya dulu (bahkan bbrp tulisan yg saya baca disini saya pernah membacanya jg sblm dibukukan). Mengangkat hal-hal yg ada di sekitar, terutama musik, & hal-hal di sekitar nya. Memang layak utk ditunggu sepak terjang Aris Setyawan ini di dunia literasi (terutama musik)
selalu suka baca tulisan yang coba menangkap fenomena budaya saat ini. agakk sedikiiiit mengingatkan saya sama Dunia Yang Dilipat nya pak Yasraf tapi dengan tambahan topik: musik!
plus karena ini kumpulan esai, saya jd bisa memilah2 yg mana yg mau dibaca duluan. ada beberapa esai yg dilewati sih, lebih pilih yg relevan. dan ada beberapa esai yang kurang mengena seperti "Berperang Demi E'ek" tapi tetep bagus sih. sejauh ini udah sampe hal 121. dan kepincut sama bab "Kekerasan Budaya Pasca 1965". semoga bisa beres baca buku ini. masih banyak buku2 seru lainnyaa.