Jump to ratings and reviews
Rate this book

Candrasa

Rate this book
Hidup tidak pernah mudah bagi Sapta Gray. Sebagai penyandang Candrasa, bakat istimewanya yang berarti pedang lebih banyak mendatangkan celaka daripada bahagia. Terjaga sampai pagi, bertarung dengan siluman tak tahu diri, menahan ego dan emosi merupakan santapannya sehari-hari. Tidak ada yang lebih diinginkan Gray selain bersantai. Begitu kemampuannya naik, dia bisa menyamarkan bakatnya. Dengan demikian, dia akan bebas beraktivitas! Lepas dari incaran para siluman rendahan. Begitu bakatnya semakin tajam, lawan yang tangguh pun berdatangan. Gray harus berjuang menyelamatkan orang-orang yang disayanginya... meski dengan imbalan nyawa.

288 pages, Paperback

First published August 21, 2017

4 people are currently reading
14 people want to read

About the author

Primadonna Angela

50 books374 followers
Call her Donna or Angela, she might respond with a smile. This Indonesian writer divides her time juggling to make ends meet, writing, balancing her attention between her partner (Isman H. Suryaman) and children, managing the household, and of course, occasionally sipping earl grey tea to keep her sane. She has written twenty books so far, popular fiction, in Gramedia Pustaka Utama (GPU). Her newest book, Candrasa, is published in August 2017.

Her passion for new experiences propels her to seek new chances to meet more people. Enthused for fresh inspirations, she longs to join multicultural events, collecting data and broadening her horizon.

She claims to be unique, independent and strong. She dreams and imagines a lot. "But what is love, and what is life, if you do not let yourself live?"

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (11%)
4 stars
6 (33%)
3 stars
8 (44%)
2 stars
1 (5%)
1 star
1 (5%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Stefani.
19 reviews12 followers
June 12, 2018
*Warning minor spoiler untuk karakter dan plot awal*

Candrasa bercerita tentang seorang pemuda bernama Gray (atau Sapta Gray), yang dikaruniai kekuatan untuk melihat serta membasmi para siluman.

Yang sangat membuat aku gak bisa lepas dari buku ini, adalah tulisan Angela yang tidak pernah membuatmu bosan. Kata-kata yang dipakai banyak yang baru, pola kalimat jarang berulang, kerap kali aku penasaran dan buka kamus, mencari apa itu arti kata menggusah (mengusir), menghidu (mencium), atau menjerikan (yang tidak tercantum di KBBI sehingga aku rasa ini typo "mengerikan" :v ).

Selain itu, dunia Candrasa, meskipun mengambil setting Bandung, benar-benar memiliki unsur fantasi menarik yang bercampur secara apik dengan dunia nyatanya. Bagaimana harimau dijadikan pelindung Bandung, lalu hewan-hewan dan siluman mistis yang--tidak sesuai kekhawatiran--gak bikin ini semacam hantu-hantuan mistis, melainkan lebih ngingetin sama youkai di Jepang. Yah, namanya juga siluman.

Oke, 2 poin plus-plusnya Candrasa ini, cukup kena tampar sama plot yang dirasa biasa aja dan lemahnya karakter. Lebih tepatnya, lemahnya karakter ini yang nge-drag, alias bikin plotnya jadi standar.

Premisnya sederhana, dengan karakter utama bertingkah hiroik membasmi siluman. Romance-nya bisa dibilang cukup banyak, terutama dari pertengahan hingga akhir, yang salutnya, dipadu dengan unsur aksi yang tidak kalah seru. Plot twist mudah ditebak (berhubung sekali lagi, ceritanya standar), tapi ini sama sekali gak berasa romance teenlit receh yang dibumbui fantasi. Ini fantasi, dengan romance yang kadarnya cukup layaknya film superhero Marvel.

Akan tetapi, Gray adalah tokoh utama standar yang bisa dikatakan hampir tidak memiliki kekurangan satu pun. Narasi yang sering ngalor-ngidul mengutarakan pikiran Gray, membuat Gray terasa penceramah kelas atas yang menjadikan dia sebagai remaja baik hati sempurna, yang gak mau tampil mencolok karena kebaikannya. Dibanding Gray, aku lebih suka karakter ceweknya, Lilah.

Lilah memiliki kepribadian congkak yang rupanya menyukai Gray diam-diam. Bisa dibilang, Lilah ini tsundere yang sangat realistis. Aku salut, rupanya karya lokal ada juga tsundere-nya. Nyebelin di awal, tapi makin lama makin manis.

2 karakter hero dan heroin ini masih mending, bila dibandingkan dengan 3 karakter lain yang menurutku gak menarik dan 2 di antaranya hanya buang space. Di awal, Gray memiliki konflik dengan cowok populer bernama Brian yang memiliki kemampuan serupa dengannya, tapi dimanfaatkan untuk perbuatan buruk. Brian ini sama sekali gak punya peran selain pembanding dengan Gray, Gray baik, Brian buruk. Intinya begitu. Gak ada sumbangsih di plot utama. Gak muncul lagi pula selain di awal, yang bikin agak sayang, karena plot Candrasa berasa lambat gara-gara si Brian ini. Banyak potensi yang bisa digali sebenarnya, karena ada unsur lemari mistis aneh yang dibahas di rumah Brian tapi gak pernah muncul lagi, dan kondisi keluarga Brian yang sangaaaat menarik. Beneran sayang.

Lalu, ada guru yang memberi nasihat-nasihat dan membuat Gray mau gak mau bertingkah hiroik, tapi bayangkan. Peran guru ini hanyalah sekitar 1-2 chapter, sekali lagi, tanpa sumbangsih berarti, cuma karena Gray adalah tokoh utama pasif yang perlu didorong tokoh-tokoh kayak gini untuk akhirnya dia bereaksi.

Satu lagi yang dirasa kurang, adalah antagonisnya, Rex. Rex adalah antagonis one dimensional yang bisa dibayangkan hadir pada cerita-cerita superhero Marvel edisi perkenalan karakter, maunya ya menguasai dunia. Apa lagi?

Overall, Candrasa adalah salah satu cerita fantasi superhero standar, yang diramu secara menarik sehingga sama sekali gak terasa membosankan. Namun, jika diperhatikan baik-baik, karakter-karakternya tidak terlalu menarik dan ada yang tak perlu ada pun tak pengaruh ke plot. Mengenai tema dan amanat, terkadang aku merasa, Candrasa sulit memasukkan amanatnya lewat plot, sehingga perlu bikin narasi ceramah panjang lebar melalui pikiran Gray dan pandangannya terhadap si bocah kaya kurang bersyukur, Brian. Bisa dibilang, unsur fantasi dan kesehariannya, nyatu di dunia yang menarik, tapi kurang nyatu di bagian tema dan plot.
Profile Image for naga.
451 reviews98 followers
June 25, 2021
huhuhu padahal awalnya bagus banget... gak paham kenapa setelah bab tengah-tengah gaya kepenulisannya berubah jadi lebih... puitis? terus romancenya juga terlalu maksa :( endingnya kayak terburu-buru.
Profile Image for Launa.
250 reviews50 followers
July 15, 2020
“Mereka yang diberkati dengan Candrasa bisa menyerang dan membentengi diri sendiri serta orang lain. Mereka yang memiliki Candrasa seolah identik dengan emosi naik-turun, sifat impulsif yang sulit dikekang, dan hasrat untuk menjadi pionir.” (Hlm. 53)

Candrasa berkisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Sapta Gray yang memiliki bakat istimewa; Candrasa. Salah satu mimpinya adalah peringkat ilmunya naik cukup tinggi sehingga ia dapat menyamarkan kekuatannya dari penguasa siluman yang levelnya lebih rendah hingga lebih atas daripadanya.

Adalah ulah Brian yang membuat Gray terpaksa membantu Arman. Bukan hanya satu kali Gray membantu temannya tanpa berpikir panjang. Ketika satu sosok mungil berpenampilan layaknya boneka muncul dan hendak memangsa prana salah seorang teman sekelasnya, Gray pun menolongnya. Akibat ikut campur saat Brian berusaha menjaili Arman dan masalah siluman boneka serta Aretha, Gray pun mau tidak mau mendapat konsekuensinya.

“Manusia itu kadang lupa bersyukur, lebih mudah mengingat sengsara yang mungkin tidak seberapa, daripada berkat-berkat melimpah yang dicurahkan setiap hari.” (Hlm. 118)

Kegelisahan dan perasaan tidak nyaman menyelimuti diri Gray. Pikirannya dipenuhi oleh hal-hal yang telah lewat, termasuk urusan yang tidak seharusnya ia campuri. Gray merasa sesuatu yang akan mengubah keadaan menjadi luar biasa payah akan terjadi.

Ketika Gray hampir tiba di gerbang sekolah, tampak Lilah, teman Gray yang termasuk salah satu cewek paling ngetop di sekolah. Cewek yang perangainya membuat Gray sebisa mungkin menjauhinya. Saat Lilah menghampiri Gray dan hanya berjarak lima meter, Gray merasa akan ada sebuah pertempuran hebat yang ia sendiri tidak yakin akan berhasil mengatasinya atau tidak.

Satu per satu kebenaran pun terungkap dan berhasil membuat Gray terkejut. Mulai dari Lilah yang ternyata seorang pawang buru, rahasia Lilah yang tidak disadari Gray, kenangan masa lalu yang terjadi antara Lilah dan Gray, identitas Apollo Arsjandi—guru Bahasa Inggris—yang sebenarnya, kakek Gray yang tiba-tiba tidak bisa dihubungi, hingga Maharaja Perejah.

Satu kebenaran yang diungkap oleh Apollo membawa Gray dan Lilah pada sebuah misi. Misi di mana mereka harus memusnahkan Maharaja Perejah dan merebut kembali kenangan-kenangan yang telah dicuri. Berhasilkan Gray dan Lilah menyelesaikan misi tersebut? Bagaimana hubungan Gray dan Lilah setelah Gray mengetahui rahasia dan perasaan yang diutarakan Lilah?

Kalau dibandingkan dengan dua TeenLit-nya yang sudah saya baca; Pojok Lavender dan Satsuki Sensei, Candrasa ini terasa sekali bedanya. Dua buku tersebut disajikan dalam bentuk kumpulan cerita, sedangkan Candrasa berbentuk novel. Selain itu, tema yang diangkat tidak biasa; bakat istimewa.

Adegan romance-nya pun hanya sedikit, tetapi porsinya tidak lebih tidak kurang dan mampu membuat (kalau kata anak-anak sekarang mah) baper. Jadi, jangan berharap kalau novel ini akan memberimu kisah percintaan yang umumnya terjadi ketika kamu masih SMA. Meskipun begitu, adegannya mampu membuat saya sebagai pembaca merasa terhanyut. Itulah yang membuat novel Candrasa ini menarik untuk saya.

Candrasa mulai terasa seru ketika sudah sampai di pertengahan cerita. Di mana sosok Lilah muncul, kemudian Apollo Arsjandi, Rex, dan kebenaran yang tersibak satu demi satu. Ketika sudah sampai akhir cerita masih tersisa satu pertanyaan dalam benak saya yang tidak terjawab dan membuat penasaran; siapakah sebenarnya guru Brian. Tampaknya perihal guru Brian tersebut sengaja dihilangkan dan sepertinya akan ada lanjutan Candrasa.

Kalau kamu penggemar TeenLit dan senang dengan cerita yang tidak mudah ditebak, baca saja Candrasa. Karena Candrasa adalah TeenLit yang menarik yang akan membuatmu terus bertanya-tanya dan penasaran akan cerita maupun para tokohnya.

Review ini juga bisa dibaca di http://wp.me/p15WBH-kx
Profile Image for Stefani Gifta Ganda.
95 reviews
January 6, 2021
Sekarang sudah susah banget buat cari buku fisik Candrasa ini. Untungnya masih bisa dibaca di aplikasi iPusnas. Aku lupa gimana bisa nemu novel ini--kayaknya, sih, dulu lagi nyari novel lain di iPusnas, terus ngga ketemu, malah nemu Candrasa. Sekarang aku bersyukur ngga sengaja nemu novel ini, karena cerita dan penokohannya bagus banget.

Selain itu, gaya bercerita yang dipakai juga ngga biasa, tapi bisa cukup luwes. Gaya tulisannya kayak menerjemahkan bahasa Inggris, tapi hasilnya ngga terlalu kaku. Meski epilognya kurang memuaskan (mungkin akan lebih baik kalau bagian epilognya dihilangkan saja), tapi selain itu worth your time.

Menurutku, plotnya cukup kelihatan arahnya, tapi detail-detail kecil di dalam ceritanya ngga terduga. Selama baca, aku juga banyak jepret layar buat nyimpen bagian-bagian favoritku, karena banyak pelajaran yang bisa diambil, dan rangkaian kata-katanya juga apik. Deskripsi-deskripsi yang dipake juga ampuh buat membawa masuk ke dalam dunia dalam novel.

Diksi di novel ini luas dan aku dapat banyak kata-kata baru selama membaca. Memang karena terlalu penasaran, aku bolak-balik iPusnas-KBBI, yang mana sedikit merepotkan, tapi sebenernya tanpa nyari arti di KBBI pun ceritanya bisa dinikmati secara utuh. Di bab saat perang terakhir, ada banyak kejutan cerdas yang unpredictable, tapi sayangnya di bagian tengah perang diksinya agak terkesan dipaksa, tapi esensi novelnya bisa balik lagi di akhir.

Yah, di akhir aku tetap merasa buku ini layak dapat bintang 5, untuk mengapresiasi keunikan dan konsistensi gaya berceritanya.
Profile Image for Bunga ✿.
186 reviews10 followers
August 6, 2020
Bagiku plot Candrasa sangat menarik. Meskipun aku pribadi penasaran sih sama kemampuan Candrasa ini dan bagaimana asal-usulnya sampai tercipta kemampuan tersebut. Yang aku suka dari teenlit ini adalah cukup banyak ditemukan quotes yang bagus dan sangat memorable. Aku pribadi mendapatkan setidaknya 17 quotes yang kemudian aku tulis ulang di buku lain karena sememorable itu sih hehe
311 reviews11 followers
May 25, 2022
Oke. Gue tarik pendapat gue. Ternyata buku ini lumayan seru. Awal-awalnya rada konyol sih, buat gue, tapi setelah iseng lanjut baca, ternyata seru juga.

Banyak yang gue sayangkan sih, tapi banyak juga yang bikin buku ini seru.

Humornya banyak! Kayak, apa itu "mpretmbelgedes"?! wkwk. Gue ngakak enggak berhenti-henti seharian itu.

Buku ini YA fantasy (teenlit fantasi). Benar-benar bukan cup of my tea. Gue juga lupa kenapa dulu beli buku ini. Yauda, itung-itung "melebarkan sayap", seperti kata teman sekampus gue.

Buku ini bercerita seputaran kisah hidupnya Gray sebagai seorang Candrasa. Candrasa itu tingkatan teratas seseorang yang punya ilmu sakti gitu. Inti buku ini begitu, udah.

Tata bahasanya rapi banget. Pemilihan katanya juga bagus, walau gue agak bingung kenapa makin ke akhir, gaya bahasanya makin puitis. Alurnya juga jelas. Iya, jelas BANGET. Saking jelasnya, gue sampe bisa nebak sampe akhir.

Oke, itu gue doang. Sebenernya alurnya enggak se-flat itu juga. Ada main plot twist.

Gue akhirnya ngasih cuma 3 bintang karena:

1. Ending-nya terlalu singkat dan mainstream. Ngebosenin. Ini yang bikin gue sering males baca fantasi.
2. Beberapa tokoh pendukung utama malah kayak cuma jadi tokoh figuran. Kayak cuma numpang lewat. Disayangkan, padahal karakteristik mereka cukup menarik.
3. Villain-nya kagak ada "villain vibes"-nya sama sekali buat gue.

Selebihnya, sebenernya buku ini punya potensi buat jadi buku yang lebih menarik kalo dikembangin lagi. Beneran.

Kesimpulannya, gue merasa buku ini "tipikal fantasi" banget. Gue bilang begini karena biasanya gue nganggep buku fantasi itu gitu-gitu doang alurnya. Boring. Kalo sebuah buku fantasi enggak termasuk tipikal fantasinya gue, itu baru buagus buanget.
Profile Image for Fitt Rilaily.
1 review
September 9, 2017
Saat pertama kali baca judulnya, kirain nama tokoh utamanya itu Candrasa. Ternyata bukan! Hehe...
Novel ini termasuk kategori teenlit. Tokoh utamanya seorang siswa SMA. Tentu jalan ceritanya enggak rumit sebab menggunakan kata-kata yang mudah dipahami tapi tidak alay.
Setiap pergantian bab cerita, akan disambut dengan kalimat-kalimat menarik yang memotivasi, menyemangati juga menasehati.

"Kadang tamparan bisa lebih menyadarkan daripada kata-kata manis penuh pujian".
(Memang iya kan, pujian itu seringnya bikin lupa diri bahkan bisa bikin sombong)

Akhir cerita Candrasa ini bikin aku bertanya-tanya. Endingnya nggak gantung tapi aku merasa kayak ada yang masih disembunyikan, nih. Itu seperti kekasihmu menyembunyikan tangannya yang sedang membawa sesuatu di belakang punggungnya.

Apa Mbak Donna bakalan buat Candrasa part II?
Profile Image for Fahri Rasihan.
478 reviews124 followers
October 2, 2019
Ini merupakan kali pertama bagi saya membaca novel karya Primadonna Angela. Candrasa sedikit mengingatkan saya dengan novel The Rest of Us Just Live Here karya Patrick Ness. Saya menikmati cara penulis menceritakan kisah Gray yang memiliki kekuatan candrasa. Dimana jarang sekali ada novel teenlit Indonesia yang mengangkat tema seperti ini. Biasanya saya selalu disuguhi novel teenlit dengan tema cinta atau persahabatan. Namun, kali ini Candrasa memberikan alternatif yang berbeda dalam membaca novel teenlit. Satu hal yang membuat saya tertarik untuk membaca Candrasa adalah cover bukunya yang keren dan berbeda. Dimana Martin Dima lagi-lagi berhasil membuat sebuah karya yang menarik perhatian melalui cover buku Candrasa. Terlihat seorang pria yang sedang memegang sebuah pedang yang siap ditebaskan, sangat menggambarkan karakter tokoh Gray yang memiliki kekuatan candrasa yang berarti pedang. Sekali lagi saya acungi jempol untuk cover bukunya yang keren banget.

Tema fantasi yang diangkat dalam buku ini terbilang unik dan segar. Dimana tokoh Gray harus melawan para siluman akibat kekuatan candrasa yang ada di dalam dirinya. Akan tetapi, Gray sendiri sesungguhnya tidak ingin memiliki kekuatan tersebut. Dia hanya ingin menjadi remaja normal seperti teman-temannya yang lain. Namun dengan bimbingan dari kakeknya, yang juga memiliki kekuatan, Gray pun mulai bisa mengendalikan kekuatan candrasa-nya. Tema cerita seperti ini jarang sekali saya jumpai pada novel teenlit. Saya sangat menyukai tema cerita yang ada dalam Candrasa. Dimana novel teenlit tidak harus melulu tentang cinta atau persahabatan, tapi juga bisa mengangkat tema-tema lainnya.

Tokoh Gray digambarkan sebagai seorang remaja biasa dan tidak menonjol. Namun, Gray memiliki kelebihan dengan dianugerahi kekuatan candrasa. Sayangnya Gray tidak berminat dengan kekuatannya tersebut dan memilih untuk memendamnya. Dari semua keluarganya, kakek dan adiknya, Mag, juga memiliki kekuatan yang berbeda-beda. Dengan bimbingan dari kakeknya, Gray pun bisa menyembunyikan kekuatannya dari gangguan para magus. Gray sebisa mungkin tidak ingin menunjukkan kekuatannya, padahal seorang candrasa seharusnya bisa melawan para perejah. Namun Gray lebih memilih beraksi di balik layar. Karakter Gray ini bisa dibilang cukup mirip dengan saya, dimana dia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Padahal dengan kekuatan candrasa yang dia miliki, Gray bisa memikat banyak orang. Namun, karena sudah dilatih oleh kakeknya, Gray pun tidak ingin menyalahgunakan kekuatannya. Sayang sekali latar belakang keluarga Gray ini kurang dieksplor lebih dalam, bahkan tokoh Mag yang disebut-sebut oleh Gray pun tidak memiliki peranan penting dalam cerita. Padahal saya berharap jika Gray dan Mag bisa bersatu untuk melawan Maharaja Perejah.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga melalui tokoh Gray. Banyak sekali narasi yang berisi pemikiran-pemikiran Gray. Saya sendiri jadi lebih memahami karakter Gray melalui narasi-narasi tersebut. Gaya bahasa yang digunakan oleh penulis bisa dibilang sederhana, tapi terdapat beberapa kata yang mungkin terdengar asing. Selain itu juga ada beberapa istilah, seperti perejah, magus, dan masih banyak lagi. Tapi untungnya penulis menjelaskan itu semua dengan cukup detail. Pada awalnya saya kurang begitu nyaman dengan istilah dan gaya bahasanya, tapi semakin menuju akhir cerita, gaya bahasanya pun mengalir begitu saja. Saya juga hampit tidak menemukan typo sama sekali.

Konflik yang terdapat dalam Candrasa baru terjadi menjelang akhir cerita. Dimana tokoh Gray yang dibantu oleh Lilah harus berhadapan melawan Maharaja Perejah. Menurut saya konfliknya ini terlalu tiba-tibadan terkesan dipaksakan, karena sepertinya penulis terlalu terburu-buru dalam menyelesaikan konflik. Di awal cerita terlalu banyak penjelasan mengenai kekuatan candrasa yang dimiliki oleh Gray, sehingga penulis terlihat memaksakan konflik. Seperti tokoh A yang tiba-tiba muncul dan menyuruh Gray serta Lilah untuk bertarung melawan Maharaja Perejah. Sebenarnya siapa tokoh A ini, kok baru muncul sudah main perintah saja? Selain itu penyelesaian konfliknya pun terkesan terburu-buru dan aneh. Ini terlihat dari adegan pertarungan antara Gray dan Maharaja Perejah yang terkesan biasa dan terlalu singkat. Mungkin karena ini novel teenlit sehingga penulis mempersingkat ceritanya. Padahal jika penulis bisa lebih sabar dalam mengembangkan konflik ini, saya yakin hasilnya pasti akan lebih kompleks dan seru.

Secara keseluruhan saya menikmati cerita yang disuguhkan dalam novel Candrasa. Dimana penulis berhasil memberikan ide yang segar dalam sebuah novel teenlit. Cover bukunya pun sukses memikat hati saya untuk membacanya. Selain itu terdapat pula beberapa gambar ilustrasi yang menggambarkan adegan-adegan dalam novel ini. Kekurangan dari novel ini terletak pada latar belakang tokoh Gray, yang menurut saya kurang begitu dikupas lebih dalam lagi. Selain itu konfliknya pun terkesan hambar dan terburu-buru. Padahal ide ceritanya sudah menarik dan konfliknya pun bisa lebih berkembang lagi, tapi sayangnya penulis tidak mengembangkan itu semua. Akan tetapi, bagi kalian pecinta novel teenlit, saya sangat merekomendasikan untuk membaca novel Candrasa, karena selain tema ceritanya yang unik, terdapat pula pesan mengenai nikmatnya rasa syukur.

Selengkapnya : https://www.facebook.com/notes/fahri-...
Profile Image for Nafisya.
29 reviews
February 3, 2023
It's a good story tho, meskipun konfliknya sedikit terlalu cepat dan endingnya juga sedikit terlalu dipaksakan. Hal yang paling aku suka ya humornya Gray yang sarkas plus konyol. Overall interesting story
Displaying 1 - 10 of 10 reviews