Seriously.
Siang tadi saya mengetik review saya panjang lebar menggebu-gebu. Mendapati kalau review saya nggak kepost, ya jelas dong saya keki. jadilah saya nulis ulang. peduli amat kalau sampe review saya di sebagian besar orang jadi dobel (dobelnya dengan bahasa beda, lagi!). Tapi yah, saya terlanjur bete, jadi maaf kalau bahasa disini rada-rada…
Jadi, intinya, saya yang penggemar kalex ini merasa kecewa dengan buku ini karena beberapa alasan (Note: spoiler alert)
1. Timeline yang kacau
jarak antara kasus lely dan awal mula penyelidikan grey dkk sangat kabur. terdapat inkonsistensi dalam penggambaran timeline. coba ya, perhatikan:
- hal 112, pov Trisha:
‘Masa mendadak aku harus mengandalkan cowok yang baru kukenal hari ini? eh, maksudku, kami kan baru benar-benar berteman tadi pagi—tepatnya saat menemukan lely’
setelah itu, cerita bergulir. grey ketemu temennya –yang mergokin dia bengongin tangannya yang habis pegang-pegang tangan trisha. mereka terus berencana ciduk johan. dalam perjalanan menciduk johan, dia mergoki trisha sama gil. terus grey ciduk johan. abis ciduk johan, dia ngajakin trisha buat introgasi johan bareng-bareng.
sampai sini, nggak salah kan kalau saya mengasumsikan itu terjadi dalam jangka waktu sehari? Cuma beda beberapa jam saja dari penemuan mayat lely dimana johan bikin ribut? tapi anehnya, ketika grey dkk interogasi johan, daryl malah bilang gini:
- hal 154:
‘minggu lalu selasa pagi waktu terjadi pembunuhan, kenapa kamu bisa muncul di tkp?’
beda kan? pembunuhan yang sebelumnya dibilang terjadi pagi ini, mendadak sudah berlalu seminggu. waktu grey dkk ngecek ke mariko, waktu yang digunain juga sama: selasa. bukan hari ini. tapi ketika kasus tari muncul, Erika malah bilang:
- hal 251:
‘kemungkinan kasus yang sama dengan kasus tadi pagi’
inkonsistensi yang lumayan bikin saya bingung, tapi berusaha saya singkirkan.
2. Tokoh
Sejak pertama kali membaca dark series, saya sudah membatin, tokohnya nggak kebanyakan? Ada 6 hero baru yang diperkenalkan di seri ini. lalu saya inget: omen series juga tokoh utamanya 5 heroine, tapi pas baca itu, saya nggak protes. kenapa?
Itu karena 5 heroine omen series sangat distinguishable. Erika yang cablak dan mirip cowok. val yang lembut tapi diemdiem jagoan. putri yang jutek dan dingin. rima yang pintar dan mirip hantu. aya yang ceria dan matre. karakteristik mereka beda. penampakan mereka beda. saya tahu gimana bentuk wajah kelimanya, jadi nggak susah ngebayanginnya.
hal ini nggak berlaku untuk josh dante daryl grey hyuga Justin. mereka terlalu… serupa. yang paling memorable paling Cuma hyuga, karena karakter 4d dan darah jepangnya. penampakan 6 cowok ini mirip: sama-sama ganteng. ini bikin saya susah memvisualisasikan. padahal, ini nggak terjadi waktu saya bayangin Daniel, les, damian, gil, frankie, markus, johan, dkk.
namun, selain penampakan, tampaknya mereka punya kesamaan satu lagi: cara berpikir. saya kayaknya terlalu judgemental soal ini sih, mengingat saya kan baru baca pov grey sama daryl doang. tapi masalahnya, mereka berdua itupun, isi kepalanya sama aja. mereka sama-sama pembela kebenaran dan suka minder sama temennya kalo menyangkut cewek yang ditaksir. tidak ada tanda-tanda si grey ini adhd dari pikirannya. ini beda banget ketika saya baca pov Daniel, misalnya. dari isi povnya, keliatan banget dia playboy kelas kakap yang suka narsis muji diri sendiri. Pun dengan damian. keliatan bagaimana batin dia bergejolak karena harus bersebrangan dengan putri, ditambah nelangsanya karena jatuh cinta sama cewek itu. makanya isi pov mereka jadi distinguishable. beda dengan daryl dan grey.
…which leads us to point number 3:
3. uninteresting love story
kalo diperhatikan, semua heroine omen series punya kisah cinta menarik dan berbeda. kisah val beda dengan rima dan putri. tapi, kisah mereka sama-sama rumit dan memorable. ketika saya baca omen 4, saya sampe jerit jerit lihat kisah Tarik ulurnya Daniel dan rima. ketika saya baca kisah damian-putri, saya bete berminggu-minggu mereka harus pisah. ini beda banget dengan kisah grey-trisha. kisah grey dan trisha sangat datar. well, trisha dan grey sudah mulai tertarik satu sama lain habis malem di kafe 1230 itukan. dan habis mereka nemu mayat bareng, mereka pun deket.
udah begitu aja. mereka deket, dan kedekatan mereka disertai omongan dan perilaku manis. tapi itu aja, dari awal sampe akhir. tidak ada perkembangan berarti. hingga cerita berakhir pun, mereka tetep temenan kan? nggak menarik. cerita daryl-giselle yang agak klise pun lebih baik dari ini (saya cengar-cengir sendiri pas daryl cium Giselle di atap (apa ini tandanya saya suka baca orang ciuman?)). cerita Daniel-rima pun (yang di akhir omen 4 masih belum pacaran resmi) mengalami kenaikan, meski nggak langsung dikatakan pacaran.
4. uninteresting side chara
kalau ini sih, murni karena saya sensi kali ya (maaf kalex). tapi beda dengan omen series dimana saya peduli banget sama semua karakternya (kelima heroine dan love interest mereka), saya malah nggak peduli samsek sama trisha dan Giselle. mereka disandera, yah sok atuh. mereka jadi korban juga mungkin saya nggak bereaksi. soalnya mereka nggak penting, sih, menurut saya. Cuma jadi pajangan samping daryl dan grey aja. bisa berantem? nggak. pinter analisis? hmm lumayan sih. tapi mungkin aja kalex punya rencana sendiri untuk mereka, jadi saya nggak banyak protes ^^
5. terakhir, minor aja sih. cara kompol Lukas address dirinya sendiri. pertama muncul dengan trisha, dia pake aku. well, agak imut sih, but okaylah, saya kira waktu itu. tapi ternyata dibelakang dia berubah pake ‘saya’. terus pake ‘gue’. rasanya lebih top kalo dikonsistenkan aja.
meskipun saya rant sampe panjang gini, saya sih bakalan tetep menunggu karya kalex yang baru, karena:
1. ini buku kalex gitu lho.
2. selalu penasaran sama kasus yang baru dan bagaimana cara kalex mengolah misteri itu
3. narasi kalex yang rada-rada gokil still rocks
4. saya kepo sama kelanjutan tokoh omen series
begitulah review saya. terus berkarya ya kalex! you still rock!