Apa yang bisa dipahamai dari NU dalam kaitan sejarahnya yang panjang Nusantara, atau lebih panjang lagi dalam sejarah panjang Aswaja. Ahmad Baso menjelaskan upaya ini, NU Studies sebagai sebuah project perkembangan keilmuan yang harus dirintis, karena kata Ahmad Baso : tidak akan pernah habis untuk membahas dan mengulas NU. NU Studies, Baso menejlaskan, adalah usaha NU dalam menulis balik dari sudut pandang NU itu sendiri, dikarenakan selama ini NU selalu ditulis orang lain. Menurut saya, ini adalah sebuah usaha yang terlampau ambisius. Utamanya metode yang digunakan oleh Ahmad Baso, metode poskolonialisme. Tapi usaha yang ambisius ini patut diapresiasi seberapapun kadarnya. Selain itu juga, Ahamd Baso menjelaskan secara mendetil bagaimana kalutnya Aswaja dalam sejarah lintang tradisi Islam sampai kemudian menjadi paham agama NU dan hampir sebagian besar umat Islam di dunia. Keberanian Ahmad Baso terletak disini menurut saya, ia mengkritik Aswaja dalam tahap :produksi pengetahuannya. Dengan menunjukan data-data historis dan produk aswaja yang masih terjaga dan mapan didunia islam sampai saat ini, ia mengatakan bahwa "produksi pengetahuan" Aswaja pun tercampur dan terbaur dalam "arena" kekuasaan". Awaja adalah produk historis yang tidak benar mutlak benar dalam paham keagamaannya baik fiqh, muamalah, utamanya siyasahnya. Buku ini, meskipun terkesan seperti bunga rampai, amat menantang bagi siapa saja yang ingin melihat NU dari sudut pandang NU, atau NU menulis balik. Ambisi penulis terasa segar meski perlu diuji kembali asumsi asumsi nya, utamanya ada metode analisis objek yang menurut saya bias barat, tak bisa lepas dari nama-nama Foucoult, Derrida dll dgn terma term seperti Arena, Dekontruksi, Poskolnialisme, Produksi Pengetahuan, dll sehingga penulis terkesan ingin menulis dengan jalan kemandirian tapi memilih menggunakan kacamata tetangga.