Masa sekitar pergantian abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 merupakan zaman emas untuk kartu pos. Demikian juga yang terjadi di Nusantara. Pada masa itu, saat telepon masih belum umum digunakan atau dianggap terlalu mahal, kartu pos merupakan media korespondensi terpenting untuk kalangan yang bisa baca tulis. Banyak penerbit swasta mengedarkan beraneka macam kartu pos bergambar yang menarik, sesuai dengan keinginan para pelanggan. Menariknya, bukan sekadar media korespondensi dalam dan luar negeri, kartu pos sering memberikan gambaran dari suatu zaman yang luput dari perhatian media lain.
Buku ini menyajikan sejarah kota-kota di Pulau Jawa. Sebanyak 277 lembar kartu pos koleksi penulis akan membawa pembaca pada sejarah 44 kota yang terletak di ujung barat hingga ujung timur Jawa. Pemandangan kota yang indah, unsur pembentuk kota berikut struktur dan sejarahnya, serta toponimi suatu kota diceritakan dengan lugas dan jernih dalam buku ini. Membaca jejak-jejak lama lewat kartu pos dalam buku ini, bukan tak mungkin kita bakal membuka narasi baru suatu kota.
Tak perlu mesin waktu untuk dapat melihat kota-kota di Jawa tempo dulu. Dalambuku ini, teman-teman bisa melihat sekitar hampir 300 kartu pos yang memiliki vibe vintage. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Gue salut sama kolektornya. Bukan pekerjaan mudah untuk mengumpulkan kartu pos ini.
Masih dari kumpulan kartu pos milik Raap yang kali ini menyajikan kartu pos bergambar kota-kota di Pulau Jawa dari masa akhir pemerintahan kolonial. Sekira 277 lembar kartu pos yang menampilkan penampakan 44 kota di Jawa. Seperti pada buku sebelumnya, setiap kartu pos disandingkan dengan narasi yg informatif tentang sejarah objek yang tampil di kartu pos. Tak hanya menyajikan eksotisme arsitektur kolonial dari kota-kota di Jawa, kartu pos koleksi Raap juga mengingatkan kembali kepada kita infrastruktur yg ada pada era tersebut. Alun-alun, seluk-beluk pasar, pemukiman orang asing, kediaman para penguasa, hingga ruang terbuka hijau yang asri ditampilkan dan dibahas dengan narasi kesejarahan. Membuka lembar-lembarnya yg sebanyak 340 halaman ini cukup membuat pembacanya merasa singgah sejenak di kota-kota era kolonial di Jawa. Tak perlu waktu banyak untuk menyelesaikan ini, sekali duduk tuntas. Cocok sekali untuk menemani saat-saat rehat dari rutinitas.
mendadak buku ini muncul di mejaku dipinjami oleh arsitek di kantor sebelah. ketahuanlah kalau ternyata kami sama-sama pembaca buku akut, yang terdampar di pembangunan sebuah mall di pinggiran kota bogor.
dan ternyata buku ini keren, karena menceritakan tentang kota-kota di masa seabad yang lalu yang diabadikan dalam kartu pos. sedikit narasi membawaku bernostalgia padaa titik-titik yang dijelaskan karena hidupku yang berpindah-pindah di pulau jawa mengenali hampir 80% lokasi yang dijelaskan dalam buku. mungkin memang bisa dibilang bahwa arsitektur itu seperti monumen penanda zaman ketika ia didirikan. membaca buku ini seakan menyusuri lorong waktu kembali ke masa mobil dan motor belum melaju kencang, dan nama-nama jalan belum berubah menjadi pahlawan.
thought of, mungkin aku perlu beneran punya buku ini, untuk si kecil nanti.
Keren! Melihat kartu pos alun-alun utara Solo, pendopo, Mesjid Agung zaman dahulu, terasa sekali perbedaannya. Selain suasana yang lebih ramai, banyak hal kecil yang sudah diubah mengikuti perkembangan zaman. Jalan Slamer Riyadi terkesan lenggang di halaman 176, beda dengan saat ini. Saya berusaha mengingat lokasi tempat Pasar Buah pada zaman dahulu di Solo. Konon, letaknya di bagian utara dan barat Pasar Gede. Menilik kartu pos bergambar Puro Mangkunegaran di halaman 166, saya berusaha mengingat beberapa hal yang sepertinya tidak ada saat ini. Yang paling jelas adalah patung ala Romawi di kanan-kiri. Jadi pingin kembali ke Solo.
Salah satu buku non-fiksi sejarah yang saya suka. Karena dokumentasi fotografi yg ada di dalam buku membuat saya seolah-olah diajak menginjak langsung ke 15 dekade ke belakang. Jawa tidak lepas dari kebudayaan yang begitu beragam dan sayang sekali modernnya zaman perlahan telah menggerusnya.
Bersyukur bisa ketemu langsung dan mendapatkan tanda tangan penulisnya di Pasar Cihapit Bandung. Bukunya berisi foto kartu pos dan sejarah tempat-tempat bersejarah di pulau jawa.
sumpah aku bacanya cuma sehari langsung kubabat abis karena sebagus ituu. postcard nya juga hah ga mungkin ada di masa sekarang. dan kotakuuu, yaampun aku melihat ikon2 kotaku di abad lalu dan rasanya magis, karena banyak dari ikon2 kota itu masih ada dan seringgg ku kunjungi