Membaca dan menelusuri buku-buku sejarah terkait peristiwa 1965 bagiku ngeri-ngeri sedap, dan lebih banyak ngerinya. Aku takut akan segala emosi yang timbul saat sedang dan setelah membaca. Juga, banyak dari buku-buku 1965 susah dicari dan harganya bikin nangis.
Tanah Air Yang Hilang disusun oleh wartawan Martin Aleida, berisi kumpulan kisah dan kesaksian (dari tangan pertama) para eksil yang terbuang dari tanah air karena dicurigai mempunyai keterlibatan dengan PKI. Banyak di antara mereka malah tidak punya kecenderungan politik kiri sama sekali, hanya "kebetulan" dikirim belajar oleh Presiden Soekarno ke negara-negara Eropa Barat. Tahun 1965 tiba-tiba situasi politik di Indonesia berubah drastis dan Jenderal Soeharto mengambil tampuk pimpinan, dan kemudian mahasiswa-mahasiswa ini harus melalui screening yang intinya menanyakan apakah mereka mendukung Orde Baru atau tidak. Mereka yang memutuskan setia pada Presiden Soekarno paspornya dicabut, berstatus stateless dan harus mencari suaka.
Dalam lubuk hati orang-orang terbuang ini, Indonesia masih tetap tanah air, meski mereka tidak bisa pulang ke sana.
"Tanah air itu apa?"
"Tanah air? Indonesia tetap tanah airku. Biar digebukin saya tetap wong jowo. Saya tetap Indonesia. Soalnya bukan di mana Anda hidup, tetapi bagaimana Anda hidup. Untuk apa Anda hidup. Ada orang yang di tanah air sendiri, tetapi tidak merasa seperti bertanah air. Ngumpet-ngumpet. Dan mereka berpikir kalau di luar negeri itu enak. Tidak begitu." (Soejono Soegeng Pangestu)
"Kalau ke Indonesia, Bung lukiskan itu sebagai pulang atau apa?"
"Tidak sebagai pulang lagi, tetapi sebagai kunjungan. Saya tak punya tempat ke mana saya pulang. Di sini juga begitu... Berangkat, ya, ke mana-mana..." (Waruno Mahdi)
Salah satu kisah paling mencengangkan adalah kisah Farida Ishaja yang dikirim belajar ke Vietnam tahun 1964, tapi malah terjebak dalam kecamuk perang Vietnam dan mati-matian harus mempertahankan hidup; masuk lubang di tanah kalau ada bom, mencari makanan di dalam hutan.
Sarmadji, sampai masa senja memutuskan tidak berkeluarga, dan bahagia hidup dalam rumah sempit yang diisinya dengan ribuan buku. Dari Wenni Santoso kita mendapatkan kisah pedih seorang istri yang mendampingi suami sampai ajal menjemput.
Kisah-kisah ini pedih, tapi juga penuh harapan. Mereka tidak menyesali semua yang terjadi, bahkan harus kehilangan tanah airpun tidak mereka sesali.
"Begitulah hidup saya: terdampar tetapi ada momen-momen bercahaya. Hidup saya memang sengsara, tetapi terkadang ada cahaya, ada cahaya di dalamnya." (I Ketut Putera)
Aku menutup lembar terakhir buku ini dengan sejuta pertanyaan. Pasalnya, ayahku juga termasuk salah satu mahasiswa yang diberangkatkan ke Uni Soviet tahun 1963. Beliau pulang ke Indonesia tahun 1968 dan menikah dengan ibu tahun 1972. Apakah waktu itu ia juga melalui screening? Apakah waktu itu ia menunjukkan dukungan terhadap Orde Baru (entah sungguh-sungguh atau untuk cari aman)? Aku bertanya pada ibuku dan beliau menjawab tidak ada masalah saat kepulangan ayah dari Soviet. Aku tidak bisa bertanya langsung pada beliau untuk menuntaskan keingintahuanku, karena beliau sudah meninggal tahun 2011. Tapi, jika beliau mengambil pilihan lain waktu itu, atau ada sesuatu yang terjadi, maka aku tidak akan ada hari ini...