Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ratu Sekop dan cerita-cerita lainnya

Rate this book
Sebelum dikenal lewat karya-karya berlatar era kolonial, yang menyabet penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, Iksaka Banu telah terlebih dahulu meramaikan lembar sastra media massa ternama Indonesia seperti majalah Matra, Femina, dan Koran Tempo dengan cerpen-cerpennya yang imajinatif, absurd, dan sesekali berbau fiksi-sains dengan latar kehidupan urban yang kuat. Ratu Sekop dan Cerita-cerita Lainnya menghimpun karya-karya terserak tersebut ditambah beberapa cerpen yang belum pernah dipublikasikan.

Pembaca bisa mendapati seorang dukun yang semua barang di ruang tamunya mempunyai kembaran; seorang istri yang bisa membaca pikiran setelah kesetrum; comedy of errors seorang pelukis frustrasi; “Indonesia” pasca Perang Dunia Ketiga 500 tahun ke depan dan upaya mengatasi kelangkaan sumber daya; serta absurditas-absurditas lainnya yang memberi cerminan dan renungan bagi absurdnya kehidupan kita sendiri sekarang.

189 pages, Paperback

First published September 1, 2017

4 people are currently reading
152 people want to read

About the author

Iksaka Banu

8 books87 followers
Iksaka Banu lahir di Yogyakarta, 7 Oktober 1964. Menamatkan kuliah di Jurusan Desain Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Bekerja di bidang periklanan di Jakarta hingga tahun 2006, kemudian memutuskan menjadi praktisi iklan yang bekerja lepas.

Semasa kanak-kanak (1974–1976), ia beberapa kali mengirim tulisan ke rubrik Anak Harian Angkatan Bersenjata. Karyanya pernah pula dimuat di rubrik Anak Kompas dan majalah Kawanku. Namun, kegiatan menulis terhenti karena tertarik untuk mencoba melukis komik. Lewat kegiatan melukis komik ini, ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama, ia memperoleh kesempatan membuat cerita bergambar berjudul “Samba si Kelinci Perkasa” di majalah Ananda selama 1978.

Setelah dewasa, kesibukan sebagai seorang pengarah seni di beberapa biro iklan benar-benar membuatnya seolah lupa dunia tulis-menulis. Pada tahun 2000, dalam jeda cuti panjang, ia mencoba menulis cerita pendek dan ternyata dimuat di majalah Matra. Sejak itu ia kembali giat menulis. Sejumlah karyanya dimuat di majalah Femina, Horison, dan Koran Tempo. Dua buah cerpennya, “Mawar di Kanal Macan” dan “Semua untuk Hindia” berturut-turut terpilih menjadi salah satu dari 20 cerpen terbaik Indonesia versi Pena Kencana tahun 2008 dan 2009.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
28 (22%)
4 stars
70 (56%)
3 stars
27 (21%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 31 reviews
Profile Image for Steven S.
702 reviews66 followers
September 30, 2017
Setelah beberapa tahun memenangkan penghargaan Kusala Sastra 2014, Iksaka Banu kembali hadir menyapa pembaca lewat karya terbarunya di Marjin Kiri. Berbentuk kumpulan cerita pendek. Semua cerpen yang ada memiliki benang merah yaitu kisah yang kelam. Noir. Tidak butuh lama, saya menandaskan "Ratu Sekop". Iksaka Banu at his best. Buku ini menjadi pamungkas dan favorit saya di bulan September. Bila saja Ratu Sekop masuk dalam penjurian Tokoh Sastra Tempo tahun 2018. Saya kira tak berlebihan karya ini adalah salah satu yang patut diperhatikan.



Jumat kemarin. Tanggal 29 September 2017. Saya mendapat buku ini dari salah satu penjual buku daring paling keren sejagad instagram. Terima kasih mas Jamal. Di tulisan ini saya akan membagi sedikit pembacaan Ratu Sekop. Semoga suka.



Pertama-tama. Obviously. Karya Marjin Kiri bagi saya selalu masuk kategori: wajib beli. Hitungannya apa yang diterbitkan oleh mas Ronny selalu berkelas. Salah satunya buku ini.

(c) instagram Marjin Kiri.


Mari kita membahas dahulu mulai dari yang paling luar. Judulnya terbaca: Ratu Sekop dan cerita-cerita lainnya, dengan cetak tebal di kalimat pertama. Kemudian di depan latar warna krem, sesosok ratu sekop seperti yang ada di kartu remi nampak memegang dua benda di tangannya. Look at this cover. Pasti ini cerita yang nggak-nggak. In a good way. He-he-he. Pistol ala film sains fiksi di tangan sebelah atas. Kabel colokan pemanas nasi di tangan bawah. Dari pemandangan sampulnya saja, imajinasi kita seakan dipicu, sebelum sajian utama dihadirkan. Di bagian sampul belakang, tangan si ratu dengan anggun memegang belati dan clapper board. Hmm.



Ikasaka Banu membuka perhatian kita dengan dua cerita, "Film Noir" yang menghentak dan "Cermin". Setelah menghabiskan "Film Noir," saya kira cerita ini adalah salah satu master piece dari karya beliau. Begitu pula setamat Cermin. EPIK. Itu yang secepat kilat keluar dari benak saya. Duo cerita ini langsung membuat saya tidak butuh lama untuk segera menuntaskan isi Ratu Sekop dalam waktu singkat.



Kedua cerita ini saja sudah berhasil membuat saya semriwing.



Dilanjutkan dengan cerita "Superstar". Di sini, saya lantas menemukan mood cerita mas Banu. Oh, kesan noir itu yang seperti begini. Apa yang hendak ditampilkan dalam keseluruhan cerpen di buku ini.



Kemudian ada "Listrik". Twist yang bikin saya berpikir, "Ok.. Something just like this.. Keren endingnya.."



Lalu ada cerita "Belati", yang membuat saya beberapa kali harus membaca lagi bagian-bagian tertentu. Serasa membaca cerita detektif.



Hal lain yang ingin saya sampaikan di tulisan ini adalah membaca cerita pendek Iksaka Banu yang terkumpul dalam buku ini benar-benar greget. Ibaratnya kita sedang menonton sebuah film dalam imajinasi kita. Sangat puas dengan penggambaran dan detail-detail cerita yang disampaikan lewat sudut pandang orang ketiga. Serba tahu.



"Jubah" pun membacanya memberikan kesan yang cukup dalam. Sempat hening beberapa saat sebelum saya lanjut.



Kembali dengan "Ratu Sekop" yang memberikan twist yang juga menarik.



Hal yang sama juga dengan "Lelaki dari Negeri Halilintar".



Pembacaan saya yang pertama berhenti di cerita "Undangan Seratus Tahun". Endingnya juga nggak kalah menyayat hati. S e d i h.



Malamnya. Saya menonton bincang buku Iksaka Banu di Cak Tarno Institute. Sila cari di facebook beliau. Mas Banu bercerita soal mengapa ia kemudian harus menerbitkan buku ini. Kapan beliau menulis cerita-cerita yang "berbahaya" ini yang kemudian dimuat di Matra. Kehidupan beliau yang turut menyumbang sebagian besar daya kreatif miliknya.



Harfiyah Widiawati, Sang pembedah buku menuturkan apa saja yang tersirat di Ratu sekop dengan gamblang. Rasa-rasanya masih aman. Pikir saya waktu mendengarkan bincang buku tersebut. Sebelumnya saya melihat sedikit film-yang lagi ramai akhir-akhir ini-sebentar karena kepo. Lengkingan musik latar yang menyayat. Keesokan harinya, memang betul, dari musiknya saja sudah begitu meneror yang nonton. Benar saja. Penata musik diminta sutradara memasukkan unsur musik horor di film tersebut. Lengkapnya. Sila. Baca Jawa Pos Sabtu 30 September 2017.



Hari ini, Sabtu 30 September 2017, melanjutkan pembacaan kedua, "Vertigo" dan "Sniper", sudah agak terbaca pola ceritanya. Meski harus diakui "Sniper" tersebut saya kira termasuk dalam cerita yang paling saya sukai. Begitu intens. Begitu padat cerita yang dihadirkan.



Dari cerita-ceritanya, Iksaka Banu, bisa kita akui sebagai pencerita yang ulung. Dengan keterbatasan tempat, karena umumnya dimuat di majalah dan koran, sosok lulusan desain ITB ini mampu meletakkan bangunan cerita lewat detail mengagumkan dan lukisan cerita yang sarat simbol dalam setiap kisahnya. Membuat kita sebagai pembaca begitu disenangkan dan kenyang dengan apa yang disajikan.



Istana gotik. Sekali lagi hati ini seperti terparut karena cerita yang mengundang rasa haru itu.



Terakhir, "VIP", cerita berbalut sains fiksi ini memberikan nuansa tersendiri, dibanding yang lain. Mungkin karena cerita terakhir di buku setebal 189 halaman tersebut. Perjalanan si "aku" sudah tidak begitu mengejutkan karena sudah kudengar pembahasan ceritanya di acara Cak Tarno itu.



Lesson learned: sebaiknya membaca tuntas sebuah buku sebelum ikut dengar bincang buku. Apalagi kalau yang dibicarakan buku fiksi. Kilasan cerita yang dibeberkan bisa saja sudah mengandung unsur-unsur kejutan dari cerita itu. Tapi bila tidak memungkinkan untuk membaca buku tersebut. Mau bagaimana lagi. He-he-he.



Ratu sekop saya rekomendasikan kepada penggemar sastra Indonesia. Khususnya penikmat karya mas Iksaka Banu. Terlebih itu ini seperti hadiah buat semua pembaca di Indonesia. Salam buku itu seru.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
September 24, 2017
Nuansa dalam buku kumpulan cerpen ini memang berbeda dengan prosa-prosa yang sudah kita cirikan kepada Iksaka Banu. Bila dua buku lainnya, Semua Untuk Hindia dan Sang Raja bernuansa prosa-kolonial, lantaran kisah dan latarnya. Dalam buku ini, kita lebih akan menemukan dunia urban, futuristik, dan sedikit absurd. Meski saya masih belum sepakat dengan scin-fi yang pengulas (dalam bedah buku ini Sabtu, 23 September kemarin di UI). Saya lebih senang menyebut sebagai kisah yang mungkin futuristik.

Cerpen-cerpen dalam buku ini benar-benar membangun dunia yang ajaib, meski mungkin sangat dekat dengan kegilaan alam pikiran kita. Karena absurd bukan berarti tidak bisa masuk nalar. Kebanyakan memang romansa rumah tangga, tapi beberapa semacam aroma distopian dan bahkan pembunuhan.

Kisah idola saya adalah Ratu Sekop, Belati, dan Listrik. Saya suka cara Mas Banu mengakhiri cerita. Sekali lagi, kesabaran Mas Banu teruji dalam buku ini. Mas Banu tidak berambisi untuk membuat ledakan atau kejutan, yaaa cerita akan berakhir kalau memang cerita sudah selesai. Dan itu keren.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
October 10, 2019
Ah, keren sekali! Meski berbeda dengan Semua untuk Hindia atau Teh dan Pengkhianat yang memiliki tema serupa, ini tetap menjadi bacaan yang asyik. Setiap judul mempunyai tema yang berbeda-beda: science fiction, thriller, romance dan lainnya. Setting waktunya pun beragam mulai dari zaman kolonial hingga masa depan. Satu hal yang dapat digarisbawahi dari kumcer ini: kapanpun dan dimanapun, nilai-nilai kemanusiaan itu tetap sama.
Profile Image for Ikra Amesta.
149 reviews29 followers
August 30, 2019
Kalau suatu saat, di hari yang aneh kamu ketemu dengan Kukuh Ranapati, Dwi Santoso, atau Armin Kelana, saya sarankan kamu lari saja biar selamat dari malapetaka.

Kukuh Ranapati mungkin akan membuat kamu terpesona, si Kurt Cobain Indonesia, aura rockstar sudah jelas ada di sekelilingnya. Kamu bakal dibuat jatuh cinta, saking cintanya sampai kamu tega membunuhnya dengan sabetan barbel. Dwi Santoso bakal membuat kamu bingung saat dia terserang vertigo sambil muntah-muntah tak karuan. Tapi setelahnya dia akan meramalkan dengan tepat apa yang bakal kamu alami. Dan kamu akan memintanya terus meramal sampai dia muak dan memberimu janji manis untuk menutupi sesuatu yang buruk. Lalu Armin Kelana, dia akan menusukmu dengan jambiya begitu dia melihatmu karena pasti kamu akan menemuinya saat sedang membuang mayat, dan itu artinya kamu juga harus dihabisi.

Tragedi berbalut absurditas. Ada kematian berdarah-darah, ada pula fiksi ilmiah. Ada yang bernuansa erotis, ada juga yang mistis. Semua disajikan dalam prosa yang mengalir dan sederhana sehingga kamu tidak akan kesulitan mengikuti jalan ceritanya. Tapi masalah dari cerpen-cerpen ini adalah kamu merasa seperti pernah membaca, mendengar, atau menontonnya beberapa kali dalam versi yang berbeda-beda. Itu juga sebenarnya masalah yang saya rasakan, kurangnya sensasi kebaruan dan kejutan-kejutan. Bukan berarti saya tidak terhibur, tapi kamu sendiri tahu kalau sastra punya hal lain yang bisa dicerna pembacanya selain hiburan.

Mungkin karena ini adalah cerpen-cerpen awal Iksaka Banu sehingga beliau masih tergoda untuk menekankan cerita pada plot twist dan adegan-adegan yang sinematik. Mungkin juga karena beliau murni hanya ingin menghibur pembacanya lewat formula 3 babak yang sudah sering teruji. Masalahnya adalah kamu dan saya bukan pembaca yang mudah dipuaskan. Kamu dan saya terlalu sombong untuk menelan hiburan mentah-mentah. Kamu dan saya lebih suka dibuat tersesat dalam narasi lalu menemukan jalan keluanya sendiri tanpa dibimbing langsung si pengarang. Kamu sendiri pernah bilang bahwa pengarang adalah Tuhan, dan kamu lebih suka Tuhan yang menantangmu dengan pilihan-pilihan baru.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
March 27, 2020
** Books 31 - 2020 **

Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2020

3,3 dari 5 bintang!


Awalnya gak ada niatan untuk membaca buku cerpen ini dalam waktu dekat. Namun kesuntukan melandaku ketika membaca The Red Book: Liber Novus oleh Carl Gustav Jung dan One Hundred Years of Solitude oleh Gabriel Garcia Marquez yang dua duanya amit-amit membacanya hahaha jadi aku mencari pelarian sementara ke buku cerpen yang jatuh kepada buku ini

Buku ini terdiri dari 13 cerpen yang masing-masing memiliki daya tarik masing-masing. Entah kenapa saya paling menyukai Kisah Superstar yang menceritakan kisah kekaguman si gadis gagu terhadap penyanyi rockstar yang bernama Kukuh Ranapati, ada lagi mengenai Armin Kelana dan belatinya, Ratu sekop tentang gadis yang ingin dilukis oleh seorang pelukis sebagai ratu sekop, lelaki dari negeri halilintar yang membuat saya terenyuh percakapan seorang nenek menjelang kematiannya, Undangan seratus tahun yang mengenai manusia dan teknologi di masa datang, dan vertigo ketika seseorang bisa meramal masa depan dikala vertigo menyerangnya.. jadi bisa dikatakan ada enam cerpen yang berhasil menarik perhatianku.. berarti kurang satu lagi bukuSemua Untuk Hindia dari mas Iksaka Banu nih yang belom aku baca hehehe

#StayAtHome #SelfQuarantine

Terimakasih Ojokeos dan Mas Iksaka Banu telah menandatangani buku saya!
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
November 7, 2017
13 cerpen yg terasa segar, orisinil, tapi juga punya daya ledak mengagetkan di ujung-ujungnya. Jika dulu saya sangat menikmati sajian seting kolonial dalam kumcer Semua untuk Hindia, maka di kumcer ini seting-seting yg dipilih menjadi panggung jauh lebih beragam, dgn genre tema yg juga beraneka macam. Satu yg jelas jadi pengikat adalah kegelapan penceritaannya. Kelam. Noir.

Cerpen pembukanya, Film Noir, serta cerpen berjudul Belati jadi contoh terbaiknya. Dark. Semuanya penuh bayang-bayang kelabu.

Undangan Seratus Tahun dan Istana Gothik terasa mencekam karena tragedi yg mengiringi. Berseberangan dengan kedua cerpen itu, Lelaki dari Negeri Halilintar justru terasa gelap saat bercerita namun menemukan ujung manis ironis. Judul kumcer ini diambil dari cerpen berjudul sama, Ratu Sekop. Kisahnya yg penuh kebohongan membuatku mengangguk setuju dengan endingnya.

Cerpen Listrik dan VIP bermain-main di ranah scifi. Ringan, menggelikan namun pesan yg dibawa cukup kuat menghentak. Dmkn juga Vertigo, yg 'melihat jauh ke depan' namun melupakan kemanusiaan. Sedangkan cerpen Cermin yang lebih mistis, sama saja pekat aroma gelapnya. Cerpen Jubah bermain di genre yg sedikit lebih religi drpd mistis. Endingnya, hmm...

Salah satu buku kumcer terbaik yg kubaca tahun ini. Gak kalah mencorong dengan novel Sang Raja yg sdh kubaca sebelumnya. Wah, bisa-bisa aku jd ngefans berat IB inih :)
Profile Image for Ursula.
305 reviews19 followers
February 7, 2018
Buku ini rasanya seperti cemilan yang menyenangkan. Mungkin saat otakmu lelah dan penat karena satu dan lain hal, cumitlah satu persatu 13 cerita pendek di buku ini dan mungkin yang ruwet bisa agak lurus sedikit.

Tadinya saya mau bilang seperti membaca Ken Liu karena kisah-kisah Iksaka Banu ini rata-rata science fiction. Tapi rasanya kurang pas. Gaya ceritanya lebih mengingatkan saya pada Seno Gumira Ajidarma, yah anggaplah bapak itu banting setir sedikit ke ranah sains bukan bermain linguistik atau HAM terus-terusan. Asyik, lugas, dan agak ngablu terkadang.

Seperti yang sudah saya bilang, buku ini bisa dibaca seperti camilan yang kamu pungut sedapatnya saja. Saya sengaja membaca dari yang judulnya paling menarik dan sialnya langsung jatuh hati sama Ratu Sekop (yang kebetulan juga jadi judul kumcer ini. Yang ini kental banget aura cerita SGA-nya. Gimana seorang yang memancarkan aura ratu ternyata dalamnya joker.

Untuk yang sains fiksi meski bagus tapi nyaris tidak ada yang nempel di kepala. Yang agak lucu itu kisah Listrik soal sepasang suami istri yang kesetrum steker rusak mereka dan mendapat kekuatan ala superhero tapi nirfaedah.

Lumayanlah kalau kalian cari-cari buku yang ringan dan menghibur.
This entire review has been hidden because of spoilers.
27 reviews4 followers
Read
February 19, 2021
Dengan kondisi dunia yang semakin absurd, kita perlu sedikit berkontemplasi. Absurdnya cerita-cerita dalam 'Ratu Sekop' dapat membantu kita berkontemplasi.
Profile Image for Avif Aulia.
60 reviews5 followers
May 19, 2025
Ternyata Iksaka Banu nggak jago di fiksi sejarah doang, tuh. Lagi pula kata siapa itu?

Kumcer ini terdiri atas 13 cerpen yang, secara mengejutkan, mayoritasnya menguarkan bau amis darah. Hubungan yang tidak sehat, pembunuhan, bunyi tembakan, dan degup jantung yang tak keruan mewarnai serangkaian absurditas yang menimpa para tokohnya. Kayak serius banget, ya? Padahal enggak juga. Di antara semua itu, Iksaka Banu juga menyelipkan humor yang membuat saya meringis sejenak, sebelum kembali tegang lagi. Ada pula fiksi-sains yang membuat saya tidak habis pikir: seorang Iksaka Banu yang terkenal lantaran karya-karyanya yang "kolonial" banget itu, ternyata bisa gini juga!

Meski begitu, tema sejarah tidak sepenuhnya disingkirkan dalam kumcer ini. Sebut saja di cerpen "Film Noir" yang tokohnya adalah seorang sutradara yang tengah menggarap film berlatar Hindia Belanda. Atau, cerpen "Istana Gotik" yang latar waktunya memang pada masa itu.

Sayang, beberapa cerpen bisa saya tebak dengan mudah twist atau ending-nya. Tapi entahlah, mungkin juga karena saya terlalu banyak melahap tulisan Iksaka Banu ... jadi sudah hafal duluan? Maklum, penggemar. Tapi sesungguhnya hal ini tidak mengurangi rasa nikmat yang saya rasakan. Malahan, adrenalin saya rasanya meningkat lantaran bertanya-tanya apakah tebakan saya tepat atau lewat.

Di antara 13 cerpen, favorit saya adalah "Jubah" dan "Vertigo". "Jubah" menceritakan seorang suami yang menerima seorang tamu di masa berkabung atas kematian istrinya. Tamu itu kemudian membuka dosa yang dilakukan si suami. Ending-nya benar-benar pukulan telak; ada sejarah kekristenan yang melatar belakangi cerita ini, dan ini adalah hal baru bagi saya.

"Vertigo" menceritakan seorang pemuda yang memiliki vertigo dan, secara nahas, terlibat dengan elite politik. Selain bergumul dengan penyakitnya, ia juga harus bergumul dengan keserakahan mereka, khususnya seseorang yang digadang-gadang sebagai calon presiden berikutnya. Ada satu hal yang disadari oleh tokoh utama, yang turut membuat saya mafhum:

"Dia seorang pemimpin. Inspirasi hidup. Pusat energi. Batang pohon besar, tempat ratusan dahan dan ranting kecil berisi orang-orang seperti aku bergantung. Tanpa diminta, aku siap mendukungnya lewat kesetiaan tanpa cadangan. Namun ketika hal itu diresmikan menjadi sebuah keharusan, tak ada lagi yang tersisa bagiku kecuali segumpal rasa tertindas" (hlm. 140).
Profile Image for Aksa.
41 reviews2 followers
April 15, 2018
Ratu Sekop karangan Iksaka Banu yang diterbitkan oleh penerbit @marjinkiri merupakan kumpulan cerita pendek yang pernah dipublikasikan di beberapa majalah.

Hidup nampaknya telah begitu rumit. Ada beberapa hal yang akhirnya menjadi tidak berterima dan sulit dicerna akal sehat. Tapi, keberadaannya nyata. Begitu kira-kira yang bisa saya tangkap dari barisan kalimat pada banyak cerita pendek di buku ini.

Saya selalu menilai bahwa dalam setiap karya sastra, apa pun itu bentuknya selalu berusaha menyampaikan keresahan yang ada di kepala perihal dunia. Buku ini, bagi saya pun begitu juga. Ada banyak hal-hal tentang kehidupan ini yang selalu kita rasa janggal. Kita menemukannya di beberapa masa. Pertanyaan selalu menjadi sahabat karib dari setiap permasalahan.

Mengapa semua mesti terjadi? Ya. Kira-kira begitulah kepala kita menafsirkan segala keresahan yang berubah menjadi permasalahan. Iksaka Banu, mengajak kita memberikan interpretasi sendiri dalam menjawab pertanyaan tentang permasalahan tersebut. Dalam hal ini, saya tertarik dengan bagaimana akhirnya interpretasi itu lahir dari kepala saya setelah membaca.

Beberapa bagian mungkin terkesan terlalu seronok. Tapi, sebagai sebuah karya tulis, Epik. Hanya itu yang bisa saya berikan.

Terima kasih.

#pengenceritaaja #masihpengenceritaaja #iksakabanu #ratusekop #marjinkiri #ceritapendek
Profile Image for Ahmad Rajiv.
120 reviews2 followers
February 23, 2018
Cerita-cerita Iksaka mengingatkan aku pada cerita-cerita yang dulu aku baca di majalah-majalah yang terdapat di perpustakaan sekolah saat aku masih duduk di sekolah menengah. Cerita-cerita itu hadir dengan kesederhanaan yang khas dan seakan-akan berutur dengan bahasa yang begitu mudah dipahami namun pada saat yang sama juga memberikan efek misterius dan plot dengan twist yang cerdas. Tipikal penuturan yang sederhana ini yang sudah jarang aku temukan pada cerita-cerita yang terbit belakangan. Entah mengapa para pengarang milenial begitu terobsesi dengan permainan kata-kata dan plot yang tumpang tindih sehingga kadangkala malah membingungkan. Mungkin memang sudah tren kekinian bahwa semakin pembaca bingung dibuatnya maka semakin tinggi dan bagus lah karya sastra itu. HAHAHA.
Profile Image for Sabrina.
49 reviews3 followers
August 5, 2025
Buku Iksana Banu yang pertama kali saya baca. Bentuk buku ini adalah kumcer, jadi saya menikmatinya dengan ritme yang ringan dan setiap ceritanya membuat saya berkata "wah mind blowing ya ceritanya" atau "ngga nyangka ya endingnya begini, apa yang dipikirkan oleh Iksana Banu ya ketika membuat kumcer ini" pokoknya setiap menuju ending selalu bikin penasaran dan ada perasaan ngga nyangka kalau endingnya gitu.

Di beberapa kumcer Iksana Banu juga menyelipkan isu sejarah maupun isu sosial secara tersirat tapi tidak menghilangkan esensi rasa ringan dari membaca kumcer ini. Dari seluruh kumcer, cerita yang paling saya suka yaitu berjudul Cermin, Superstar, Lelaki dari Negeri Halilintar, Undangan Seratus Tahun, Vertigo dan Istana Gotik. Favorit saya jatuh kepada cerita yang berjudul Vertigo.
10 reviews
March 26, 2020
I opened this book as I couldn't sleep due to high anxiety from 13 days of stay at home of coronavirus pandemic. I eventually managed to complete this book in less than 24 hours.

The experience is actually absurd; as absurd as several stories written in this book. Iksaka Banu once again shows his ability to craft well-constructed storyline and world. From a discussion I attended earlier, I got an impression that he has a strong visual ability, which could be shown from his short stories. I could really visualize each story as I was reading it.

This book is recommended if you're looking for absurd-yet-light stories.
Profile Image for Agnes Bemoe.
19 reviews2 followers
May 1, 2018


Ini kumpulan cerpen yang variatif banget; ada yang lucu, ada yang tegang, ada yang tentang masa lampau, ada futuristik. Yang jelas, semuanya ditulis dengan kemahiran tingkat tinggi seorang pencerita; setiap kata dan alur sepertinya dipikirkan masak-masak, membuat pembaca terpaku lembar demi lembar.

Biarpun semuanya keren, cerpen yang paling membuat saya sesak napas adalah “Sniper”. Ketegangan yang mencekam di sepanjang cerita ternyata ‘tak ada apa-apanya’ dibandingkan dengan endingnya.

Yang sedang mencari bacaan bagus, “Ratu Sekop” ini recommended banget. 5/5*****
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Dina Layinah Putri.
108 reviews5 followers
September 27, 2018
Jadi kapan terakhir kalinya kamu baca buku kumpulan cerpen yang ceritanya disuguhkan dengan bagus semua? Kalau saya, baru saja, lewat buku ini.

Ada seorang gadis gagu yang terbakar cemburu dengan vokalis band terkenal lalu membunuhnya, ada seorang pelukis yang redup karirnya dan memutuskan untuk bunuh diri dan darahnya digunakan untuk membuat karya agung terakhirnya, dan ada pula kisah pelukis yang sedang naik daun yang sedang mencari model untuk dijadikan ratu sekop dan menemukannya lewat pelacur di pinggir jalan.
5 reviews
March 16, 2018
+ Tiap cerita punya premis yang menarik dan kebanyakan diberi sentuhan sci-fi ataupun magis.
+ Pemilihan diksi terbilang cukup modern sehingga mudah dibaca.
+ Ceritanya tidak terlalu panjang pun tidak terlalu pendek, tapi pas. 1 cerita = 1 cangkir kopi, cocok untuk memulai hari ataupun shift.
- Beberapa cerita alurnya mudah ditebak, tapi tetap dikemas dengan baik.

Cerita paling suka: Istana Gotik.
Profile Image for Juinita Senduk.
120 reviews3 followers
September 16, 2018
Iksaka Banu tidak pernah mengecewakan pembacanya.

Membaca kumpulan cerita pendek yang tersebar di berbagai media dan dikumpulkan dalam buku Ratu Sekop, seperti terbawa dalam berbagai irama lagu.

Tidak ada irama yang sama dalam 13 cerita pendeknya. Dan setiap kali selesai menghabiskan 1 cerita pendeknya, saya memerlukan jeda sebelum berpindah ke cerita berikutnya.

Di atas semuanya, Ratu Sekop bukanlah buku yang dapat dibaca cepat seperti membaca cerita roman.
Profile Image for Dewi Rahmawati.
28 reviews
February 10, 2021
Kumpulan cerpen karya Iksaka Banu yg kreatif, imajinatif, dan jg thriller dengan latar kehidupan yang kuat. Terdiri dari 13 cerpen menarik yang bisa dibaca di kala senggang. 1 hari 1 cerita cukup menghibur untuk membantu menghilangkan penat di tengah kesibukan WFH yang penuh dengan meeting online :)
Profile Image for Rizky Almira.
43 reviews
November 4, 2022
Kumpulan cerpen dengan 13 judul cerita yang bikin saya gak bosan untuk membacanya sekali waktu. Ceritanya bikin penasaran, walaupun cerita ini lahir sekira puluhan tahun yang lalu tapi masih terasa relevan dengan kehidupan masa kini.

Latar ceritanya sangat bervariatif, jadi saya gak mudah bosan. Iksaka Banu sangat imajinatif dan kayak aneh gitu. Buku yang layak dibaca, paling tidak sekali.
45 reviews4 followers
April 23, 2023
Setelah sukses dengan "Semua untuk Hindia", butuh tiga tahun bagi Iksaka Banu untuk melahirkan kumpulan cerpen lagi pada 2017. Sebagaimana yang ditampilkan di sinopsis, kumpulan cerpen ini merupakan wajah lain Iksaka Banu yang lebih dulu hadir mewarnai jagad sastra media massa.

Ulasan lengkap di Twitter
Profile Image for Sejutaluka.
64 reviews9 followers
August 30, 2023
Menyesal karena cukup terlambat mendapatkan dan membaca kumcer ini. Sebagian besar cerpen memang pernah dipublikasikan tapi gw sendiri belum pernah membacanya satu pun.
Dari tigabelas cerpen ada banyak yang memang absurd ataupun surealis tapi tetap saja alurnya membagongkan. Kumcer2 seperti ini biasanya cocok untuk mereka yang mengalami reading slump. Keren dah pokoknya.
Profile Image for nobody.
211 reviews20 followers
October 12, 2017
Premis-premisnya menarik! Walau beberapa kelokan di cerpen "Cermin", "Listrik", "Jubah" dan "Lelaki dari Negeri Halilintar" sudah saya bisa prediksi. Namun tetap saja asyik untuk diikuti. "Belati" sukses membuat saya terpingkal, juga mengingatkan saya dengan film pendek karya Peter Capaldi yang berhasil meraih oscar dengan judul Franz Kafka's It's Wonderful Life.

Yah, kesimpulannya cukup memuaskan.
Profile Image for Travellinckx .
Author 2 books25 followers
October 18, 2020
The book contains of short stories richly seasoned with abundant imaginations. There is a touch of urban legend here and there, complete with hideous crime with an unexpected turn. A spine-chilling kind of book. Somehow, it reminds me of an Argentinian movie, Wild Tales by Damián Szifron.
Profile Image for Sadam Faisal.
126 reviews19 followers
April 17, 2020
Lagi keadaan kaya gini terus baca cerpen Listrik sungguh kampret sekali.
Profile Image for Bambang Yuno.
276 reviews13 followers
April 28, 2021
Cerpen2 yg menarik, selalu dengan ending yang tak tertebak...

Tapi klo sering baca cerpennya, lama2 bisa juga menebak endingnya.. hahahaha
Profile Image for Sandys Ramadhan.
114 reviews
July 5, 2020
Sekali lagi Iksaka Banu telah berhasil membuat saya menyukai kumpulan cerpen karyanya. Sebelumnya beliau membuat cerpen yang berlatar sejarah kolonial, di buku ini beliau membuat cerpen yang berbeda, bersifat imajinatif, absrud, dan ada bumbu-bumbu fiksi sains.

Gaya penulisannya seperti biasa mengalir, disertai referensi-referensi yang unik, ditambah desain fisik buku ini yang merepresentasikan kumpulan cerita di dalamnya, kemudian warna sampul cream yang sungguh estetik dan memiliki dimensi yang kecil jadi mudah dipegang dan nyaman untuk dibaca sekali duduk.

Dari 13 cerpen yang ad, saya menyukai 6 cerpen, tapi yang menjadi favoritku adalah cermin, listrik, undangan seratus tahun, dan VIP.

Jadi saya merekomendasikan kumcer ini bagi teman-teman yang kepingin tahu sisi lain pembawaan cerita yang berbeda dari karya-karya Iksaka Banu sebelumnya yang bergenre fiksi sejarah.
Displaying 1 - 30 of 31 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.