Tujuh belas cerita pendek saling simpul dan berjalin, mengisahkan bermacam hubungan antara manusia dengan manusia lain, dan bahkan manusia dengan yang bukan manusia. Karakter-karakternya sibuk saling menjalin hubungan atau pun memutuskannya, menguntai maupun mengurai benang-benang dan tali tak terlihat yang mengikat satu sama lain. Buku ini berkisah tentang hubungan yang ada dan tidak ada.
Kumpulan cerita pendek ini menyajikan baik kisah kasih maupun kisah patah hati antara pasangan kekasih, mantan kekasih, orangorang yang berharap dapat memadu kasih, suami dan istri dalam rumah tangga yang hendak runtuh, suami dan istri barunya, suami dan hantu mendiang istrinya, orangtua dengan anaknya, anak dengan jiwa mendiang orangtuanya, seorang fan berat dengan aktor Hollywood pujaan hatinya, manusia dengan benda, benda dengan benda, sekelompok iblis dengan manusia, dan sebagainya. Pembaca akan dibawa ke kota-kota nan romantis atau eksotis atau banal di seluruh dunia; ke masa depan dan akhirat namun juga dunia fana yang sehari-hari ada di depan mata.
Benang-benang tak terlihat yang simpang-siur di sekitar Anda. Bisakah Anda melihatnya?
Dias Novita Wuri was born in Jakarta, Indonesia, 11 November 1989. She graduated from Universitas Indonesia, majoring in Russian Language and Literature, and received funding from Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) for her study in Queen Mary University of London, England, majoring in MA Comparative Literature. She completed the degree in 2019.
She lives in the Netherlands with her husband and son.
Memang perlu aku akui kalau buku kumcer tuh bener-bener my comfort genre of book ( kalau kumcer bisa disebut genre? ) karena buku ini berhasil menyelamatkan aku dari reading slump yang aku alami belakangan ini. Banyak cerpen menarik dari buku ini, beberapa judul yang bikin aku berkaca kaca, ada Duiven, Dapur yang Bersih dan Lapang, Talo, Malaikat yang Mengurus Pesta Ulang Tahunmu di Surga...
Sejujurnya semua cerita di buku ini meninggalkan kesan dan makna tersendiri di ujung cerita. Seperti yang berjudul Teman Kami, agak ngeri gimana gitu ceritanya. Ide-ide yang sesungguhnya sangat simpel tapi mampu di rangkum jadi cerita yang menarik.
Waktu baca buku ini, feelnya kerasa kaya lagi baca buku terjemahan karena kebanyakan tokohnya pakai nama-nama dan latar tempat asing, bukan di Indonesia, walaupun ada beberapa yang berlatar di Indonesia. Tapi hal itu nggak mengurangi minatku, malah makin menarik. Buku ini page turner sekali karena buat aku yang super sibuk, baca buku ini nggak sampe dua hari selesai dan nggak ada niat dnf itu udah termasuk rekor.
"Tanyai aku soal rasa sepi." Rasa sepi dan dirinya adalah sepasang kekasih.
Sebelumnya saya harus mengakui kalau buku kumpulan cerpen ini sangat indah. Saya menyukai adegan-adegan yang tampak sederhana. Dialog-dialog yang konyol namun dalam bila ditelusuri. Namun, saya tidak suka ketika Dias berbicara politik dalam cerpen Satu yang Terakhir, meskipun adegan dalam cerpen yang ini sangat unik. Tapi seperti mencelat dalam tema besar dalam buku kumpulan cerpen ini.
Cerpen-cerpen favorit saya; 1. Com a Luz de Dia (endingnya cadas, banget. Sukkkkaaaaa. ) 2. Duiven (ini karena tokohnya orang-orang tua, jadi sangat kusukai) 3. 2.0 (entah mengapa saya keingat film HER) 4. Dapur yang Bersih dan Lapang--> suka banget bagian ini. Aku mati gara-gara kamu lebih mendahulukan mematikan kompor. 5. Donna, si Gadis --> sejak awal, kita sudah tahu kalau si Donna itu waria. Tapi tetep aja, ada hal menarik yang dikisahkan. Endingnya...keekeee^^ 6. Malam Pertama-->ketika dibacakan Dias di Salihara, terpukau saya. Pertanyaan bagaimana rasanya? itu menggelitik sekali.
Satu lagi yang sangat kusukai dari Dias, adalah tidak membuat endingnya secara mendadak. Bikin twisted atau bagaimana. Lempeng aja.... Tapi indah saat berakhir. Sukaa sukkaaa
kalau ada kekurangan (mungkin) cuma covernya terlalu lempeng. Mirip makalah gitu.... keeekeee (tapi ini cuma prespektif saya looh yaaa). Selebihnya saya sangat suka cerpen-cerpennya. Jadi malu kalau mau bikin kumpulan cerpen.
KAlau cerpenis perempuan yang aktif menulis dan menerbitkan buku belakangan ada Dewi Kharisma Michelia, Diani Savitri, dan Yetti AKA. Tapi Dias punya taste sendiri. Sukaaak.
Kamu bisa saja bilang bahwa buku kumpulan cerpen ini adalah buku yang tidak membumi. Sebab dari setting dan tokoh-tokoh ceritanya kebanyakan bukan berasal dari negeri kita melainkan tanah Eropa sana seperti Jerman, Prancis, Italia, Turki, sampai Rusia. Tapi, peduli amat, adakah aturan yang mengharuskan kamu menulis fiksi dengan cerita yang membumi hanya karena kamu orang Indonesia? Hell no.
Lagipula, duh..apa pula membumi itu?
Intinya begini, selama membaca 17 cerpen Kak Dias ini, saya seperti membaca cerpen terjemahan. Sensasinya menyenangkan terutama dengan premis-premis yang disajikan di setiap ceritanya.
Makramé, Dias Novita Wuri, Gramedia Pustaka Utama, 2017.
Dias menghadirkan kisah-kisah yang acap mendera manusia urban di 17 cerpen di buku ini. Tak tanggung-tanggung, hampir semua cerita berlatar beberapa kota di dunia, yang jadi lanskap masalah si tokoh utama. Di cerpen pembuka, Com a Luz de Dia (Dalam Cahaya Siang Hari) , Dias menggambarkan wajah sebuah keluarga di Portugal yang mengalami kesuntukan hubungan. Tiap hari, percakapan hanya sederatan kalimat tanya dan jawab soal keseharian sepasang suami-istri. Mereka tampak bosan satu sama lain, tapi sama sekali tak berpikiran untuk cerai. Alih-alih, mereka justru mencari orang lain dan dengan jujur, saling mengisahkan orang yang sedang mereka dekati. Di cerpen inilah, isu perselingkuhan tampak menemukan kewajarannya. Dengan kejujuran, tidak ada pihak yang tersakiti, dan Dias menunjukkan betapa keterbukaan adalah penting dalam membina hubungan. Lalu tanpa disangka-sangka, Dias rupanya menyimpan sesuatu yang lain di cerpen ini. Ia memungkas cerita dengan kejutan yang tak terpikirkan sebelumnya.
Di cerpen lain, Dias tidak hanya mewartakannya dari sisi realis yang tampak nyata. Setidaknya, ada empat cerpen yang dipadukan dengan hal-hal yang gaib. Itu ia tunjukkan di kisah seorang suami dengan hantu istrinya, gambaran malaikat dan seorang pria di akhirat, perayaan ulang tahun di surga, dan monolog iblis dalam menjalankan tugasnya. Empat kisah ini, walau tampak berbeda dari tema utama, tetap mendukung keberagaman cerita-cerita Dias. Sentuhan kehalusan, kejujuran, dan kehangatan yang jadi kekhasan tulisan Dias pun tak terenggutkan.
Sementara yang lainnya, Dias menjelajah beragam isu dan permasalahan di banyak kota. Ada yang menyoal eksistensi robot dan manusia di Tokyo, kehidupan yang melambat di sebuah panti jompo di Belanda, perseteruan sepasang kekasih di Paris, hingga perjuangan seorang perempuan yang tak bisa move-on di kota Milan.
Kisah-kisah tadi tentu belum mencangkup keseluruhan judul. Tapi setidaknya, itulah gambaran umum dari warna kisah yang ditawarkan Dias. Sebuah tawaran untuk pengalaman membaca dengan kompleksitas yang tak tanggung-tanggung.
Kumcer ini tuh menceritakan bermacam hubungan antara manusia dengan manusia lain dan juga hubungan manusia dengan yang bukan manusia. Kalau buat keseluruhan ada cerita-cerita yang cukup abstrak sih jadi buat bingung kayak yang bagian "Keanu Reeves". Tapi lumayanlah kalau mau baca dengan jumlah halaman yang lebih dikit.
Paling suka sama cerita pendek dengan judul "Ein Brief Fur Dich" sama yang "Com A Luz De Dia" karena dua-duanya sama-sama melepas sesuatu yang dia cintai demi lihat orang yang disayangnya bahagia.. Yang satu karena sakit yang lainnya karena mau lihat Istrinya bahagia dengan kekasih barunya dan rela bohong kalau dia punya kekasih juga (jadi serasa impas) padahal dia kesepian.
This entire review has been hidden because of spoilers.
in my opinion buku ini showing several lakes and even a wide and deep sea of emotions. actually aku udah baca ini buku dari lama, tapi baru kuselesaikan hari ini, karna memang baru punya keberanian berpisah dari buku ini. sometimes i am surprised by the fleeting facts that the author tells in this book. maybe that's it.
In my personal views, this collection of short stories are like idea that I always had but never I never thought of. All of the short stories written in this book are equally beautiful
Kumpulan cerita ini punya pesonanya masing-masing, tapi 2 atmosfer yang selalu aku dapat dari semua ceritanya: nyaman, tapi di saat bersamaan juga sendu. Julliet De Julie (Juli Julie) jadi cerita favoritku di buku ini! I'm really glad I found this book also Jalan Lahir, I'm positively in love with Kak Dias's work! Akan aku tunggu karya berikutnya♥️
Rasanya senang sekali bisa menemukan buku ini. Siapa sangka bahwa isinya begitu indah dan berkesan begitu.
Buku ini berisikan sekumpulan cerita pendek tentang kehidupan. Kebanyakan ceritanya menyinggung tentang fenomena-fenomena sosial yang terjadi di sekitar kita. Oleh karena itu, banyak nilai kehidupan yang bisa kita petik dari masing-masing ceritanya. Hebatnya, keluwesan penulis dalam menyampaikan nilainya menjadikan cerita-cerita di dalam buku ini indah.
Nilai plus lainnya dari buku ini adalah saya merasa sedang diajak berjalan-jalan karena latar tempatnya yang berbeda-beda, tidak hanya berputaran di Indonesia saja. Hal itu juga yang menyebabkan saya merasa seperti sedang membaca buku terjemahan. Tata bahasa yang digunakan oleh penulis juga sangat baik, rasanya ketika sedang membaca buku ini mengalir saja, sehingga menambah kesan indah dari buku ini. Meskipun ketebalan buku ini tidak sampai 200 halaman, buku ini bisa saya katakan bukan bacaan ringan. Karena konflik yang diangkat dan nilai-nilai tersirat dari masing-masing cerita didalamnya tidak sesederhana kelihatannya. Perlu waktu untuk bisa benar-benar memahami maksud yang ingin disampaikan penulis pada masing-masing ceritanya.
Cerpen yang paling berkesan bagi saya dari buku ini diantaranya adalah 2.0, Dapur yang Bersih dan Lapang, dan Satu yang Terakhir.
"Ironis juga betapa kita jadi sering mengkhayalkan masa lalu ketika kita tua, padahal ketika muda kita nyaris tidak pernah melakukan apa-apa kecuali mengkhayalkan masa depan"
Oh iya, buku ini tidak direkomendasikan untuk pembaca dibawah umur ya!
Memang benar kata sejumlah pembaca yang telah terlebih dulu membaca kumcer ini, cerpen-cerpennya sederhana dan banyak yang lurus-lurus saja tanpa ending yang WOW tetapi tetap saja terasa indah. Ada keluwesan dalam cara penulis bercerita, sekali masuk ke satu cerita pembaca akan langsung dirayu untuk membacanya sampai tuntas. Ada sesuatu yang akrab dalam cerpen-cerpen ini, yang membuat pembaca tidak berkeberatan untuk masuk menemani tokoh-tokohnya dalam beberapa halaman. Walau warna Eropa cukup kuat dalam buku ini, penulis menghadirkan cerita dari berbagai karakter dan bermacam tempat, yang entah bagaimana kok cerpen-cerpen ini rasanya memiliki penghubung tak kasat mata berupa garis lurus sederhana tapi menawan yang merentang dari awal hingga akhir halaman buku. Maaf ulasannya agak geje, tapi buku ini memang layak mendapatkan perhatian untuk dibaca.
Paling suka dengan cerpen 'Teman Kami' yang awalnya saya kira akan memiliki ending berbeda, tetapi ternyata masih mengangkat tema klise 'perbuatan-jahat-selalu-ada-balasannya'. Uniknya, cerpen ini menjadi tidak klise karena diceritakan secara unik. Penulis juga mengobral kata-kata yang deskriptif banget, seolah saya sebagai pembaca bisa turut memandang adegan-adegan yang dikisahkan di cerpen ini. Selebihnya, cerpen2 di buku ini memiliki keunikannya sendiri-sendiri, yang tidak meledak-ledak tetapi tetap kuat. Hanya cerpen paling bontot yang saya masih bingung itu ceritanya bagaimana.
Kumcer dengan berbagai tema dan setting, tentang hubungan-hubungan manusia. Beberapa aku suka sekali, beberapa hanya lewat tanpa kesan.
Cerpen pertamanya, Dalam Cahaya Siang Hari, hadir menghentak dengan cinta yg pernah ada, terabaikan, lalu kembali ada. Sayang sedikit terlambat. Bikin sedih. Aku suka cerita ini, realistis, tapi juga romantis tak kesampaian.
Lalu ada Julliet de Julie, tentang pelacur yang merindu. Sedih lagi. Tapi apik. Sama sedihnya dengan cerita dua robot dalam 2.0.
Tapi patah hati bukan satu-satunya tema di kumcer ini. Cinta sepanjang jalan juga ada. Di cerpen Dapur yang Bersih dan Lapang, seorang istri datang menghantui suaminya dan mengomel berhari-hari. Bukannya berasa horor, malah sedikit kocak dan banyak romansanya. *pukpuk si suami* Cerpen ini jadi favoritku bersama 2.0 dan Donna.
Cerita2 yg lain jg selalu unik, seperti Teman Kami yang tokoh utamanya tak biasa, atau Keanu Reeves, yang tokoh utamanya luar biasa. Tapi tak terlalu meninggalkan kesan buatku.
Jadi tahu tentang Makrame dari postingan 10 besar Kusala Sastra Nusantara yang di post tahun lalu oleh Buku GPU di IG official mereka, dn langsung tertarik buat baca-baca buku yang masuk list. Salah satunya Makrame ini.
I could say, setelah baca 3 buah buku kumpulan cerpen dari list 10 besar tersebut, Makrame adalah favoritku. Hampir semua cerita bertema romansa, dan beberapa lagi lebih ke slice of life atau tentang kehidupan. Cerita-cerita dari Kak Dias Novita Wuri benar-benar membuatku menikmati kumpulan cerpen ini. Penasaran, seru hingga begitu menikmati scrolling tiap halamannya.
Gaya penulisannya yang mengalir enak untuk dibaca, dengan bahasa semi-formal, dan lugas. Lebih sering mengambil latar serta karakter bernama asing dibanding Indonesia, tapi sama sekali tak mengurangi asiknya membaca buku ini.
Beberapa cerita favoritku adalah Com A Luz De Dia, 2.0 , Julliet de Julie, Dapur yang bersih dan lapang, Keanu Reaves serta Her. Setiap akhir cerita dalam Makrame ini selalu meninggalkan kesan tersendiri yang membuat tersenyum maupun terheran-heran :) Totally love it !
Entah mengapa sekarang saya lebih memilih cerita sekali duduk dibanding novel. Mungkin karena ceritanya yang ringan dan tidak terlalu memakan waktu. Secara keseluruhan buku kumpulan cerpen ini baik, namun dapat lebih baik.
Ada satu cerpen yang paling mengena, yaitu tentang sepasang robot android dan pemiliknya. Cerita itu begitu menggelitik saya, dimana seharusnya robot sebagai benda mati yang tidak dapat merasa, tetapi memiliki perasaan begitu mendalam terhadap pemiliknya. Ketika sang pemilik tidak membalas mereka dengan perasaan yang sama, mereka tenggelam dalam kesedihan mendalam hingga akhirnya rusak.
LOVE THIS BOOK!!!!! Sepanjang sejarah saya baca kumcer, ini kayaknya yang paling sederhana tapi juga paling.....paling apa ya saya juga bingung deskripsiinnya tapi yang jelas saya suka banget! Saya senang karena akhirnya bisa baca buku sastra yang mild kayak gini huhu cerita-ceritanya beneran lurus-lurus aja nggak ada twist yang bikin sampe bengong but it's good! Nggak bikin mikir yang "apa sih kok ujungnya gini?" setelah selesai baca huuu pokoknya suka banget <3
nb: the cover is eye-catching tho! so simple and got eyes wondering what's inside HEHE the visual me is visual after all :P
Sebetulnya awal beli aku tertarik sekaligus ragu-ragu.
Buku kumcer yg dulu kubaca adalah buku Tere Liye. Bukan pengalaman yang menyenangkan, karena kurang bisa kunikmati. (Mungkin semestinya ini nggak bisa jadi perbandingan, sih.)
Tapi ini beda. Dari cerita pertama, aku takjub. Endingnya enggak dipaksakan, ceritanya mengalir lempeng' aja. Selama membaca ini, selalu ada emosi yg berbeda. Aku sangat menikmati buku ini!
Judul cerita kesukaanku di buku ini: - Com a Luz de Dia - Duiven - 2.0 - Sana Dokunmak - Teman Kami
I have fallen in love with the first story she wrote. I couldn't expect that there would be many surprises in each and every story she wrote. The way they are written is so simple, yet beautiful. By giving of such small details, I can capture every scene on my mind.
My first book in 2018. Love between human, love between the living and the dead, love between parents and their kids, and love when she loves herself.
Tidak perlu suatu kejadian luar biasa untuk membuat kisah yang menarik. Itulah yang membuat saya suka dengan kumpulan cerpen ini. Kisah-kisahnya bisa dikatakan dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi apabila ditelusuri lebih jauh, akan tergambar betapa rumitnya hubungan manusia. Kisah-kisah ini juga ditulis dengan indah membuat saya betah membaca buku ini terus hingga selesai.
Membaca cerita-cerita Dias seperti dibawa traveling ke negeri-negeri jauh, yang belum pernah kudatangi. Diksinya seimbang, antara puitis yang mengawang-awang dan lugas yang menjejak tanah.
Cerita yang paling kusukai : Dapur yang Bersih dan Lapang
A lot of strong stories. Hal pertama yang teringat saat membaca kata macrame adalah that one song by mew, yang kok ya kebetulan disebut and dikutip full lyrics-nya di cerpen terakhir dalam buku ini XD I can totally imagine orang yang menulis cerpen2 macam gini adalah penikmat mew.
Makramé ini sebuah buku berisikan kumpulan cerita yang bisa buat aku merenung tiap selesai baca satu cerita ke cerita lainnya. Sebagian besar ceritanya menyangkut tentang hubungan dan beragam isi kepala manusia. Entah itu tentang kesetiaan atau bahkan sebuah pemikiran praktis yang justru terkesan cukup kejam; jika rusak, ganti, tak perlu ada perasaan sayang sama sekali.
Ada pula beberapa cerita yang buat hati cukup teriris karena menyangkut ihwal keihklasan untuk pergi dan melepaskan.
Cerita-cerita yang sederhana, tetapi cukup membekas. Untuk latar tempatnya sendiri bisa dibilang beragam, meski lebih banyak berada di Eropa. Tapi justru hal itu yang buat buku ini menurutku cukup menarik. Aku seolah bisa diajak untuk melihat keindahan, kegetiran, kesenangan bahkan kesedihan secara sekaligus.
Beberapa judul yang aku suka dari buku ini, adalah; Dapur Yang Bersih dan Lapang, Duiven, Ein Brief Fur Dich (Sebuah Surat Untukmu), 2.0, Com a Luz de Dia (Dalam Cahaya Siang Hari), dan Her.
Buku ini gak lebih dari dua ratus halaman, dan menurutku sangat bisa untuk dibaca dalam sekali duduk.
"Harusnya orang tidak menghabiskan waktu mereka untuk mempertanyakan arti hidup. Sebelum mereka menemukan jawabannya, hidup mereka sudah berakhir."
Berisi beberapa cerita pendek yang semuanya terkait ke satu hal; hubungan. Hubungannya tak semuanya biasa; hubungan sesama suami dan istri, suami dan hantu istrinya, seorang gadis dengan idolanya, manusia dengan malaikat, manusia dengan setan-setan, dan hubungan lainnya. Menurutku, pembawaan ceritanya tak biasa. Pembaca terkadang diajak untuk berpikir makna sebenarnya dari cerita tersebut. Seru, seperti membaca sebuah riddle. Namun, di beberapa cerita rasanya seperti tidak tuntas, tetapi, yah mungkin itu yang dinamakan cerita pendek. Afterall, ini buku kumpulan cerita lendek pertama aku yang aku enjoy sekali membacanya!