“Esok adalah padang halimun yang membuat lamat bagaimana aku harus berbagi sedih, berbagai ringan, berbagi risiko, berbagi kenangan. Sedih, selalu tidak bisa dipercakapkan lebih panjang.”
Kumpulan cerita pendek ini membawamu bertamasya ke keseharian yang tak biasa. Kisah-kisah yang dihadirkan menyelami dunia batin para tokohnya. Dinarasikan secara ringan dan tak rumit, tapi tetap memesona. Hanya saja, yang perlu diwaspadai, cerita-cerita di dalamnya menyimpan kejutan tak terduga.
Hidup benar benar sebuah pilihan. Tokoh utama yang terus berbohong pada ibunya mengenai pria pria yang ia kencani. Khas kaum individualis kota metropolitan yang merasa bisa mendiri. "Saya tidak tertarik pada laki laki maupun perempuan sama seperti saya tidak tertarik pada rokok dan alkohol" Hahaha, benar benar menarik. Tak ada konflik atau trauma yang menimpa sang tokoh utama, Ea juga tidak menunjukan ekspresi tertentu sang tokoh mengenai responnya terhadap pernikahan kecuali satu kalimat. "Bagaimana bisa seseorang hidup bersama sama berbagi apa yang mereka punya selama bertahun tahun?" Ada juga prosa berjudul, "apa diluar telah malam?" Rangkaian kata katanya benar benar membuat saya larut dalam kesedihan gak jelas. Konflik atau masalah sang tokoh hanya diceritakan sambil lalu tapi kekuatannya memang dari sensitifitas penulis dalam menyelami perasaan sang tokoh.
Ada rasa yang berbeda saat membaca kumpulan cerpen Puthut EA yang ini. Suatu rasa yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk hanya memberi tiga bintang.
Bagaimana menjelaskannya? Puthut memiliki gaya bercerita yang runut dan enak dibaca. Saya bisa terbayang situasi di sekitar tokoh utama hingga kegamangan yang berkecamuk di benaknya.
Tapi apa ya yang salah? Entah mengapa buku ini gagal membuat saya untuk terhisap dalam pusaran kisah Puthut sebagaimana Seekor Bebek berhasil melakukannya. Kalau saja saya beli buku ini dulu, belum tentu saya bakal bersikeras untuk menjajal karya-karya lainnya. Meski Puthut EA tetap seorang penulis yang harus diperhitungkan.
Dugaan saya jatuh pada pilihan topik. Dalam kumcer ini, Puthut lebih banyak menyentuh kegalauan manusia karena cinta dan patah hati. Juga masalah manusia urban yang berseliweran di sekitar kesepiannya. Karena itu, saya jadi tak terlalu empatik; bahkan cenderung antipati.
Tapi dari jajalan dua buku ini saya tahu kalau Mas Puthut memang semakin matang. Dia menulis Sarapan Pagi pada 2005; Seekor Bebek pada 2009. Wajar saja kalau saya merasa karya yang kedua jauh lebih nendang .
Meski demikian, saya suka sekali dengan cerpen yang menjadi judul utama kumcer ini: Sarapan Pagi Penuh Dusta. Dari semua karakter yang ada di buku, saya merasa tokoh utama cerpen ini unik. Seorang aseksual yang harus menyiapkan kisah tentang pria imajiner. Hanya untuk menyenangkan hati Ibunda-nya yang ingin si tokoh segera berumah tangga.
Keunggulan Mas Puthut untuk bermetamorfosis penuh menjadi tokoh-tokoh karyanya terasa betul. Ia seorang cerpenis luar biasa. Tak tergoyahkan.
Seperti biasa, Puthut memang mungkin spesialis penulis cerpen patah hati. Murung dan sedih. Hehehe. Cerpen Sarapan Pagi Penuh Dusta dalam kumpulan cerpen ini bercerita tentang hal yang sepele sebenarnya. Tentang seorang yang selalu berbohong pada ibunya tentang lelaki yang sedang dekat dengan dirinya. Kebohongan itu dipelihara lama.....
Agak lupa ceritanya karena sudah lama sekali saya baca, sekitar tahun-tahun 2005/2006. lupa. Buku yang sampulnya ini juga saya udah nggak punya, hilang, saya punya satu lagi yang sampulnya hitam. Kalau nggak salah cetak ulang lagi deh di Insist Press.
Cerpen-cerpen Puthut selalu asik dibaca, narasinya kuat, ide-ide ceritanya kadang biasa, tapi dibuat dramatis dengan gaya khas Puthut Ea.
Secara garis besar, cerpen-cerpen dalam buku ini mengisahkan hal-hal yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Namun Puthut EA menggoreskan ceritanya dengan prespektif yang cukup unik—setidaknya membuat saya berhasil menyematkan dia ke salah satu penulis cerpen yang asyik.
Sarapan Pagi Penuh Dusta, misalnya, tokohnya adalah seorang ibu dan anak. Kisahnya tentang impian sang ibu. Latarnya di rumah, saat sarapan. Sangat sederhana. Tapi cerita yang dibangun cukup menarik. Cukup membuat (saya setidaknya) berpikir bagaimana cara membahagiakan ibu saya dengan cara-cara yang beliau inginkan.
Atau cerpen Si Penulis Kematian. Sebenarnya cerita ini mengingatkan saya kepada Death Note. Hanya saja tokoh-tokohnya didominasi oleh Si Penulis itu. Lalu yang menarik... –baca sendiri aja ya.
Intinya sesederhana cerita-cerita pada umumnya, tapi punya twist yang membuat pembaca tertarik untuk membacanya lagi, setidaknya tiga sampai empat kali.
Selesai dalam dua kali duduk: perjalanan Jogja-Jakarta dan Jakarta-Jogja. Cerpen-cerpen Mas Puthut di sini rasanya 'jujur' sekali. Not my cup of tea, though. Habis ini mau coba kumcer beliau yang lain.
Buku ini resmi menjadi buku ketiga Puthut EA yang sudah rampung saya baca. Judulnya menarik hati, cover terbarunya, apalagi. Khas Puthut EA, kumpulan cerita di sini memiliki tokoh-tokoh "telanjang", tak penting atribut apa yang mereka kenakan, yang paling vital adalah apa yang ada di dalam pikiran kerdil mereka.
Berisi 15 cerita, seluruhnya adalah kisah-kisah remeh sehari-hari tapi dituliskan dengan menakjubkan. Anak sekarang mungkin akan menyebutnya banyak kata-kata yang "quotable" untuk dipasang di instagram story masing-masing.
Beberapa cerita masih tentang kehilangan, nelangsa, dan kesedihan. Beberapa tentang kritik sosial yang tak kunjung usai. Tapi, di cerpen terakhir berjudul Sesuatu Yang Mencekamku, ada jejak emosional yang ditinggalkan Puthut EA yang menjadi pesan terselubung bahwa kehidupan ini sebenarnya sedang kita jalani atau belum? Kalau sudah menjalani hidup, kenapa banyak orang sibuk kesana kemari untuk mempersiapkan hidup?
Gaya Puthut EA di dalam buku ini seolah menjelaskan karakter yang misterius dan terus membuat pembacanya agak deg deg. Saya termasuk takut dengan cerita misteri, jadi ketika Puthut EA sudah memulai kisah yang bau-bau ya akan berakhir tragis, saya memutuskan untuk pindah ke tempat yang ramai saat membaca.
Terlepas dari rasa misterius yang begitu kental, agaknya tulisan di dalam buku ini juga banyak yang menunjukkan rasa cinta yang tersembunyi. Ia seperti hujan dan kegilaan serta pertarungan dalam batin tokoh tokohnya. Saya sukaaaaa.
Cerpen terakhir dari buku ini cukup mengejutkan. Membungkus sempurna gagasan-gagasan saya tentang hidup selama ini. Tentang rasa muak akan persiapan hidup orang lain, sementara sendirinya tertinggal bersama khayalan. Sangat enggan untuk hadir di kehidupan kelak, namun tidak ada yang bisa menghentikan, sehingga pada akhirnya harus mempersiapkannya agar tidak terhindar dari keadaan yang rapuh.
Salah satu bagian yang paling ngena ya di cerpen Sarapan Pagi Penuh Dusta. Kebohongan-kebohongan kecil terselip hanya untuk membuat yang dibohongi sedikit berbahagia padahal matanya berbinar penuh harap. Entah kenapa setiap baca kumpulan cerpen ini, bawaannya murung dan bad mood. Entah karena bahasanya yang disusun seperti itu atau karena setiap akhir ceritanya yang selalu menyisakan kekosongan di hati. Setiap ingin berpindah ke cerita dan lembar selanjutnya, rasanya seperti tak ingin karena ada perasaan yang belum selesai, ada perasaan yang tersisa dalam setiap cerpennya. Ah, baca ini beneran gado-gado rasanya. Walaupun bukunya tipis, cuma 143 halaman, tapi butuh beberapa hari dan bahkan berbulan-bulan untuk menamatkannya. Kalau diminta untuk baca ulang, agaknya sulit. Tapi, setidaknya walau hanya dibaca sekali, buku ini membekas di hati.
Saya menyelesaikan membaca buku ini di dalam kereta. Bagi saya, buku ini adalah salam perkenalan saya dengan Puthut EA.
Ada banyak bagian dari caranya bercerita yang sangat saya sukai. Bagian-bagian itu mengingatkan saya pada Seno dan Agus Noor, dua penulis favorit saya.
Cerpen Sarapan Pagi Penuh Dusta yang paling saya ingat, begitu dekat dengan kehidupan. Saya suka karena Puthut mengangkat hal-hal yang sangat dekat, kegiatan sederhana seperti sarapan ternyata bisa dibuat menjadi tulisan semacam ini! Wah!
Kumpulan cerpen yang beberapa di antaranya sangat dekat dengan kehidupan anak muda, terlihat sisi sosialis dari penulis dan juga humanisnya, hanya saja beberapa cerpen dalam buku ini masih kurang dapat saya pahami. Bagian cerita yang sangat saya sukai adalah bagian cerita Sarapan Pagi Penuh Dusta dan juga kisah tentang seorang tentara yang masih menunjukkan sisi kemanusiaannya.
2.5 Diksinya bagus sekali, walau ada beberapa yang saya rasa seperti terlalu dipaksakan. Tapi secara keseluruhan saya suka. Cerita yang ditawarkan menarik dan beragam. Beberapa sangat berkesan. Beberapa agak terkesan misterius. Suka.
Bukunya cocok dibaca kalau lagi ga tau mau melakukan apa. Ceritanya ringan tapi berbobot. Ada beberapa cerita yang bagus banget dan membekas, ada juga yang menurut saya cerita-cerita yang narasinya agak bertele-tele. Tapi buku ini menurut saya cocok lah untuk dibaca, worth the time.
Personal favorite aku adalah cerpen pertama, Apakah di Luar Telah Malam? Pertanyaan ulang yang membuat gema sepi sayu yang bungkam. Aku sebak weh. Aku sebak.
Cerpen-cerpen yang kusuka: - Apakah di Luar Telah Malam? - Sarapan Pagi Penuh Dusta - Sebuah Paket Berisi Kenangan - Kisah Asing - Laki-laki yang Kusentuh Rambutnya
Puthut EA ini....pemilihan kata tiap kalimatnya keren. Meski di beberapa cerpen gw sukses gak nyambung sama apa yg diceritakan (ampuni otak gw yg dirubung semut ini!). Tapi beberapa cerpen jatuhnya keren banget, seperti Sisa Badai di Sepasang Mata, Bapa, Perempuan yang Selalu Mengirimiku Hujan, bahkan cerpen yg dijadikan judul kumcer ini Sarapan Pagi Penuh Dusta.
Meski dengan otak pas-pasan gini, gw kayaknya gak kapok baca karya-karyanya Puthut EA. Moga-moga di perpus masih ada yg lainnya :)
Semua cerpen dalam kumpulan cerita ini bernada muram, gelap penuh dengan kesedihan, khas seorang Puthut Ea. Tema yang diangkat tidak jauh-jauh dari patah hati, hubungan antar manusia, sudah banyak yang menuis tentang ini, namun yang membedakannyalah adalah diceritakan dalam narasi yang indah memesona, penuh dengan diksi dan frasa yang tak umum. Ini yang tak bisa ditiru oleh penulis lain (baca:pemula). Membaca satu paragraf saja dari satu cerita, kita akan langsung tahu bahwa ini karya Puthut Ea.
Buku Sarapan Pagi Penuh Dusta adalah kumpulan cerita yang menorehkan kesunyian dalam monolog batin sehari-hari—manis, getir, dan tak terduga. Bahasa yang ringan tapi menyengat membuat kita merasakan keberanian untuk menatap kebohongan kecil dalam diri, dan bertanya: apakah kita sudah benar-benar menjalani hidup, atau hanya tertawa di meja pagi tanpa menyadari retak reticence yang menganga?Sungguh buku yang cukup menarik untuk dibaca.
Tidak selamanya cerpen penuh dialog. Membaca cerpen ini, saya seperti sedang berjalan-jalan menyusuri hutan rimba yang angker (Kalau dalam bahasa Subcomandante Marcos, "Hutan rimba hanya dihuni oleh binatang liar, setan dan gerilyawan"). Yang ada hanyalah kesunyian yang dingin mencekam. Begitu juga dengan cerpen ini. Menghanyutkan...
ini adalah karya puthut ea pertama yang saya baca, dan dari buku kumpulan cerpen ini saya bisa menggambarkan sosok puthut ea sebagai seorang realis. cerita2nya dalam buku ini mengalir, membahas kekompleksan dari kehidupan tokoh2nya. tak heran tokoh seperti aan mansyur mengagumi penulis ini.
huuuu...buku yang bagus....novel yang menggugah jiwa...punya kesamaan dengan kondisi banyak orang yang ingin terus melajang...bukan gara gara takut berkomitmen, tapi lebih pada pilihan hidup