Nadya Sera kehilangan pekerjaannya sebagai pustakawan dan memutuskan pulang untuk mengurus Damar Hill, penginapan tua milik keluarganya. Tapi penginapan itu menyimpan banyak rahasia, duka, dan rasa bersalah yang menggerogotinya dari dalam. Sehelai brosur penginapan yang ditinggalkan di kedai kopinya membawa Daryl Sukmawan ke Damar Hill. Dia berpikir mungkin kali ini takdir sedang menawarkan hal baik setelah tahun-tahun gelap dalam hidupnya. Tapi dia terlalu berduka untuk jatuh cinta pada gadis pemilik penginapan itu. Bagaimana mungkin dua orang yang larut dalam dukanya masing-masing bisa saling menyembuhkan?
“Tapi kita tidak hidup untuk masa lalu. Ada saatnya mempertahankan dan ada saatnya kita harus belajar melepaskan...”
Iya, sebelumnya saya memang agak underestimate dengan genre Amore. Saya bayanginnya sebuah cerita romance tanpa ada apapun lagi yang dibahas selain kisah cinta. I love romance, tapi saya berharap sebuah buku punya lebih banyak sisi untuk diceritakan. Saya pikir buku yang melulu ngomongin cinta (dalam konteks cinta kepada pasangan) bukan sebuah buku yang bakalan saya suka.
Tapi toh ternyata saya suka Damar Hill, padahal, sesuai genre-nya, ceritanya pure romance. Dan sebetulnya konflik-konflik yang hadir rada berbau sinetron, apalagi menjelang ending. Hihihi.
Secara singkat novel ini bercerita tentang Nadya Sera yang pulang kampung ke Tekangon, Aceh, setelah diberhentikan dari pekerjaannya sebagai pustakawan di Jakarta. Nadya punya misi untuk mempertahankan penginapan kecil bernama Damar Hill yang hendak dijual ayahnya. Suatu hari Damar Hill kedatangan tamu bernama Daryl, seorang botanis, yang berniat memiliki kebun kopi sendiri. Baik Nadya maupun Daryl sama-sama merasakan ketertarikan, namun kepedihan masa lalu menahan mereka untuk melangkah maju.
Kekuatan novel ini adalah bagaimana penulisnya meramu kata. Pelan, tenang, syahdu. Tidak banyak gaya, namun cukup terperinci tentang emosi para tokoh. Penggambaran setting cerita pun cukup mumpuni. Saya seakan bisa melihat danau, bukit, dan burung-burung yang berterbangan di atas kepala.
Buat beberapa orang buku ini pasti terasa lambat. Pun tokoh yang muncul lumayan banyak. Dan oh, penulisnya bukan bukan tipe yang secara gamblang menjelaskan hubungan antara tokoh A dengan tokoh B. Ini salah satu yang cukup membingungkan buat saya. Jadi Ayah Nadya menikah dua kali atau bagaimana? Kemana istri pertama beliau?
Masalah tokoh ini juga sempet bikin saya kecele.
Namun di luar itu saya tetap suka cerita buku ini. Saya baca via e-book iPusnas, dan sekarang mulai terpikir buat beli buku fisiknya. Omong-omong kenapa saya akhirnya coba baca buku ini padahal sebelumnya nggak terpikir untuk memberi kesempatan untuk genre Amore adalah karena buku ini dijual diskon di Solusi Buku. Sebelum masuk ke menu pembayaran saya iseng cek di iPusnas. Dan ternyata ada. Jadilah saya baca bukunya secara gretongan. Hehehe. Buku ini juga jadi e-book pertama yang selesai saya baca setelah sebelumnya dua e-book lainnya sukses bikin saya ngantuk.
Akhir kata, buku ini layak diberi kesempatan. Buku ini cocok buat kamu yang nggak keberatan dengan tempo cerita yang pelan mengalir. Cukup resapi dan nikmati
Ibarat lagu, buku ini mengingangkan satu kata di kepalaku: mengalun. Ibarat ada harmoni nada dari satu kalimat ke kalimat lain. Gaya bahasa Kak Bulan semengalir itu, adem, effortless, seolah alam sedang ikut berkonspirasi. Seperti kita saat membayangkan berdiri dengan Daryl dan Nadya di Damar Hills, menikmati hijaunya pohon-pohon dan bukit, birunya danau, dengan burung-burung langka yang berkicau juga angin yang mendesau.
Alurnya cukup lambat buatku, meski di titik lain terasa agak cepat. Di beberapa bagian ada yang terasa "lompat". Sepanjang novel ini aku agak menebak-nebak karena latar belakang tokoh-tokohnya tidak dijelaskan secara gamblang, sampai akhir masih ada pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab juga tentang hal ini. Agak menyayangkan juga karena sisi psikologisnya punya potensi besar untuk dieksplor (tapi sepertinya, untuk ukuran novel di tahun 2012-an, belum banyak novel yang mengeksplor ini, ya?).
Overall, sebagai novel romance, aku cukup menikmati novel genre Amore ini.
"Kadang lebih baik kalau kamu melepaskan apa yang seharusnya pergi..." (Hal. 62)
Blurb Nadya Sera kehilangan pekerjaannya sebagai pustakawan dan memutuskan pulang untuk mengurus Damar Hill, penginapan tua milik keluarganya. Tapi penginapan itu menyimpan banyak rahasia, duka, dan rasa bersalah yang menggerogotinya dari dalam. Sehelai brosur penginapan yang ditinggalkan di kedai kopinya membawa Daryl Sukmawan ke Damar Hill. Dia berpikir mungkin kali ini takdir sedang menawarkan hal baik setelah tahun-tahun gelap dalam hidupnya. Tapi dia terlalu berduka untuk jatuh cinta pada gadis pemilik penginapan itu. Bagaimana mungkin dua orang yang larut dalam dukanya masing-masing bisa saling menyembuhkan?
“Tapi kita tidak hidup untuk masa lalu. Ada saatnya mempertahankan dan ada saatnya kita harus belajar melepaskan...”
Review Satu kata buat novel ini: Wow Saking bingung mau review apa, karena novel ini bener-bener bikin speechless. Sukaaaa banget sama gaya penulisannya, semua unsur membangun cerita yang ingin disampaikan oleh sang penulis. Mulai dari diksi, alur, setting, penokohan, tema dan amanat benar-benar disampaikan dengan baik. Bahkan plotwist tak terduga pun membangun cerita menjadi lebih menarik, sehingga membuat pembaca semakin penasaran dengan isi buku ini.
Hal yang membuat aku jatuh cinta dengan novel ini adalah penggambaran setting tempatnya. Damar Hill terletak di Takengon salah satu wilayah di Aceh, terkenal dengan kopi Gayo-nya yang nikmat serta pemandangan bukit yang menawan. Menurutku, menggambarkan sebuah pemandangan di dalam cerita tidaklah mudah, tapi sang penulis berhasil membuat para pembaca tenggelam dalam lautan imajinasi ketika membacanya.
Walaupun bergenre Amore, novel ini tidak menceritakan kisah roman yang berlebihan, semua pas pada porsinya. Mengangkat sedikit issue mental health membuat novel ini penuh dengan kejutan. Sang penulis sangat piawai dalam memainkan konflik, apalagi konflik Nadia dengan ibunya, di mana obrolan Nadya dengan sang ibu terasa janggal. --- Aku sangat merekomendasikan novel ini, sedikit kau membaca maka kau akan terjatuh dalam untaian ceritanya. ---
Waktu tidak akan bosan membuatmu menunggu. Dia akan mengajarimu untuk menikmati setiap detiknya. (Hal. 102)
Novel ini, awalnya cukup membingungkan buatku. Mungkin aku yang nggak terbiasa sama monolog yang panjang. Hahahah.. Tapi, begitu masuk ke dialog, dan makin ke belakang, aku semakin penasaran! Apalagi dibikin geregetan sama kelakuan Nadya yang maju mundur, nggak yakin lah. Belum lagi dibikin belibet sama dia yang suka menarik kesimpulan sendiri. Mungkin efek karena nggak pernah jatuh cinta kali ya? Hahahaha..
Di sini, aku juga paham. Sebenernya dari beberapa baca novel sih. Hahaha.. Kalau cowok lagi berduka, dia akan berduka dengan caranya sendiri. Dan dia nggak akan kayak kita para cewek, yang nangis bombai, seakan-akan dunia langsung runtuh hari ini. Kalau cowok, mereka bakalan diem, berusaha sibuk, tapi kadang ngelamun juga. Nggak fokus. Hahaha.. Selain itu, kita juga belajar untuk nggak ngbully orang, untuk urusan apapun. Karena efeknya pasti gede banget, secara langsung ataupun nggak.
Overall, aku suka sama novel ini. Menarik banget. Simpel, tapi manis. Penulisnya juga berhasil bikin aku penasaran sama Tanah Gayo loh! Hahahah..
Sepertinya dari awal aku baca kisah Nadya ini aku udah terbius deh. Latar belakang dia yang seorang pustakawan, sering main di kedai kopi buat baca buku sendirian, dan ketemu laki-laki aneh yang menurutku bikin penasaran. Hahaha, udah kepincut sama gaya bahasanya Mbak penulis yang jadi kesukaanku. Banyak analogi bagus, banyak kosakata baru yang kupelajari. Banyak ngomongin Gayo Arabika, kopi terbaik dan juga favoritku, banyak ngasih insight tentang tanah Gayo, Damar Hill yang dalam bayanganku tempat yang bikin aku pengen ke sana. Dan tentu saja, kali ini selain aku terseret sama kisah Nadya, aku juga jatuh cinta sama Daryl Sukmawan. Dua orang yang sama-sama punya duka mendalam karena rasa bersalah yang mencekik, saling menyembuhkan? Bisakah?
Banyak kata-kata bagus yang ku-bookmark (aku baca di ipusnas) tetapi belum sempat kuketik ulang. Aku berharap bisa punya fisiknya. Kelihaian Mbak Bulan memang udah menyihirku untuk membuat buku ini menjadi salah satu Amore favorit yang berpotensi kubaca dua kali. Wkwkwk.
Mengangkat tema orang-orang yang terjebak di masa lalu, Damar Hill diceritakan menggunakan narasi-narasi yang indah dengan deskripsi yang sangat membantu pembaca untuk memvisualisasikan segala latar yang ada. Baik suanasa, tempat, juga waktu.
Nuansa ceritanya yang lembut dan tenang dituturkan menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas yang didominasi oleh Nadya, tokoh utama, dan sesekali diambil alih Daryl tokoh utama yang lain.
Romansa di dalam cerita ini bukan yang menggebu-gebu, tapi tenang dan terbangun oleh pertemuan-pertemuan, percakapan-percakapan, dan isyarat-isyarat. Saya suka bagaimana interaksi antar tokoh terbangun, kalimat-kalimat mutiara yang terucap, dan pesan-pesan yang tersampaikan dengan lembut.
Saya rasa Damar Hill akan cocok dibaca oleh pembaca yang mencari ketenangan dengan romansa yang implisit.
Apa yang membuat saya memutuskan membaca novel ini adalah karena ceritanya mengambil setting di Takengon, Aceh Tengah, dan sampai tulisan ini saya buat, saya belum pernah ke Takengon. Buku ini ditulis dengan alur yang lambat dan cerita kehidupan tokoh-tokohnya berjalan dengan apa adanya, jadi kamu kau harus sabar membacanya. Herannya, kenapa saya begitu menikmati membaca buku ini dan tidak melewatkan setiap lembarnya? Baca review saya selengkapnya di: http://www.peutimangbuku.com/2018/02/...
"Tapi kita tidak hidup untuk masa lalu. Ada saatnya untuk mempertahankan, dan ada saatnya kita harus belajar melepaskan" (hal 304)
Cerita ini tentang dua orang yang saling terluka dan dipertemukan oleh takdir untuk saling menyembuhkan. Suka banget sama gaya penulisannya, panjang tapi ga bertele-tele dan gapernah bikin bosen. Slow burn antara Daryl dan Nadya bikin gemeeesss bgttt, pengen rasanya aku jadi jubir buat nyelesaiin kesalah pahaman mereka 🤣🤣 Detail penginapan Damar Hill juga adem bisa bikin ikutan ngerasain dingin dan sejuknya di Tanah Gayo.
Banyak twist-nya dan aku suka dengan alur ceritanya. Sukses dibuat penasaran dari awal baca halaman pertamanya. Hal yang tak terduga sama sekali antara ibu dan Nadya, aku cuma bisa bilang ini penulisnya keren bener dalam meramu ide ceritanya. Dan suasana setting ceritanya terasa nyata, seakan-akan aku juga berada di tempat yang sama dengan tokh ceritanya. Mmmebuat aku jadi kangen sama Takengon dan ingin kesana melihat langsung tempat-tempat yang menjadi setting di dalam cerita ini.
3,5/5🌟 aku sangat menikmati penggambaran latar tempat yang disajikan, jadi pingin ke gayo dan nginep di damar hill. selama membaca aku juga ikut merasakan duka yang dialami oleh nadya, rasa sepi yang dia lalui. porsi interaksi nadya dan daryl menurutku bisalah dibanyakin lagi sampai mereka kakek nenek misalnya, soalnya mereka gemes😭🤏
Awalnya agak kebingungan dan sedikit bosan. Tapi, setelah menyelami lebih lanjut ternyata menarik. Alurnya cukup lambat dibagian tengah-akhir. Setting dan suasana dalam novel ini cukup detail dan banyak sekali budaya serta adat Aceh yang dibahas. Saya menemukan adanya kesalahan nama tokoh pada bagian akhir. Tidak fatal dan tidak mengurangi minat baca saya.
Salah satu novel lokal yang bakal aku rekomendasiin ke orang-orang. Penulis sangat lihai menggambarkan suasana alam, menarik pembaca masuk untuk ikut menikmati udara sejuk pegunungan dan secangkir kopi gayo. Paket komplit, akhir bahagia menanti di ujung cerita <3
Slowburn romance yang dikemas secara apik seperti Damar Hill selalu nagih untuk dibaca lagi dan lagi, sambil menikmati kopi di jam tujuh pagi. Jauh di atas ekspektasi saya, saat mencapai beberapa halaman terakhir, rasanya semakin tidak ingin berpisah dengan Nadya dan Daryl.
Suka sekali part Nadya yg berani menghadapi luka dan duka masa lalu, berdamai dan mengikhlaskan yg terjadi tanpa melupakannya. She found herself by confronting the past, yg aku kurang suka adalah endingnya. Terkesan terburu-buru dan dipaksakan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bahkan 4 bulan setelah membacanya, saya masih merindukan Takengon.Saya masih terbayang interaksi antara Daryl dan Nadya.Dan saya masih menjadikan Bulan Nosarius sebagai penulis fav saya.
Rating asli 3.5 Ceritanya cukup oke dan ada twist2 kecil Romansanya juga ga menye2 tapi terlihat dewasa aja gitu Di bagian akhir2 cukup bikin pindah haluan nge-ship juga sih btw
Alur ceritanya cukup lambat, tapi bisa aku nikmati dengan baik. Penggambaran lokasinya sangat baik, aku seolah bisa membayangkan bukit-bukit, danau, perkebunan kopi, serta suhu dingin Takengon, Aceh.
my comfort book, penggambaran suasana di tanah gayo dapet banget. juga monolog protagonisnya fresh banget bikin betah berlama-lama larut dalam suasana damar hill.
🌲 Buku ini menceritakan tentang Nadya seorang pustakawan yang kehilangan pekerjaannya sehingga memutuskan pulang untuk mengurus Damar Hill, penginapan tua milik keluarganya. Tokoh Nadya yang seorang pustakawan, suka main ke kedai kopi buat baca buku dan ketemu laki-laki aneh membuatku penasaran dan tertarik untuk membaca dengan novel ini.
🌲 Membaca buku ini aku mendapatkan banyak hal, selain sebagai penghibur di sela-sela nugas kuleyah yang nggak ada habisnya. Buku ini sukses menarikku untuk menikmati sekaligus jatuh cinta dengan suasana alam di daerah Takengon, Aceh. Aku sangat suka diksi, alur, setting, plot, juga karakter novel ini. Aku juga banyak menemukan kosakata baru sehingga banyak yang aku bookmark-aku bacanya di Ipusnas. Istilah nyctophiliah juga baru saya dengar. Wqwq
🌲 Saya sepakat dengan salah satu review di Goodreads, dia bilang kalau "penulisnya membubuhkan ganja pada tiap rangkai kalimat sehingga pembaca menjadi mencandui ceritanya".
🌲 Novel bergenre Amore, nilai plusnya yahh karena novel ini agamis jadi bahasanya cocok denganku. Novel ini sangat cocok untuk dibaca oleh pembaca yang ingin mencari ketenangan dengan romansa yang implisit. Namun untuk pembaca yang nggak terbiasa dengan monolog yang panjang, awalnya mungkin akan membingungkan.
Mengambil latar belakang di daerah Takengon, Aceh. Beralur cerita cukup lambat yang menceritakan tentang dua orang yang kehilangan orang yang disayangi. Seorang pustakawan bernama Nadya yang kehilangan pekerjaannya di Jakarta dan kemudian memutuskan kembali ke rumah dan mengurus penginapan milik keluarganya. Serta Dayrl yang melarikan diri dari dunianya dan kemudian menjadi tetangga Nadya karena membeli perkebunan kopi milik ayah Nadya. Cerita romancenya tidak sebanyak novel-novel amore yang lainnya, menarik karena mengambil latar belakang di daerah Takengon yang diceritakan cukup indah dengan bukit, perkebunan kopi, danau, dermaga, dan suhu yang sejuk. Entah karena ini novel amore yang terbitannya agak lama atau memang gaya penulisnya, banyak kalimat-kalimat yang kurang mengalir sehingga cukup kebingungan ketika membaca novel ini. Dibagian awal novel cukup lambat namun sangat cepat dibagian akhir cerita dan terkesan terburu-buru untuk diselesaikan.