Kita ini memang mudah baper menghadapi perkembangan zaman. Kita suka menghibur dan mengagumi diri sendiri dengan selfie, suka kepo dan lebay dalam menanggapi berbagai fenomena, suka cemen menghadapi persoalan, dan gampang dirundung php. Itulah colekan sajak-sajak gokil Hasta Indriyana: parodi mengenai situasi kekinian. (Joko Pinurbo, penyair)
"Menertawakan hidup" bukanlah prinsip hidup yang kuanut. Sedikit saja ada hal yang dianggap tidak serius, aku langsung gelisah dan harus segera cari tahu ada apa sebenarnya di balik itu. Segala sesuatu harus berjalan "normal". Mungkin itulah mengapa aku tidak begitu menyukai acara-acara humor. Aku akan tertawa dengan berpikir terlebih dahulu. Banyak orang-orang di sekelilingku kerap kali berceletuk "Telat, woy!" ketika ada lelucon yang terlontar dan aku baru tertawa beberapa detik setelahnya.
Buku ini memberikan perspektif berbeda. Bukan buku humor. Bukan buku dengan penuh lelucon ringan yang akan membuatku hanya mengernyitkan dahi atau mempersatukan kedua alis. Tapi, entah mengapa puisi-puisi di dalamnya membuatku merasa senang, dan beberapa kali terkikik. Personifikasi dari kata-kata sifat atau nomina memberikan pengalaman membaca yang berbeda. Sebuah penyegaran. Mengingatkanku pada buku puisi yang juga "gaul", Diet Stalking: Sepilihan Puisi.
Yang sedang kukulik adalah membuat masalah-masalah yang datang jadi bukan masalah. Atau, mengambil istilah Hasta, "menikmatinya dengan ringan sebagaimana punakawan". Ini membuatku teringat petuah ibuku, bahwa masalah-masalah pasti akan teratasi bagaimanapun caranya. Tugas kita hanya menjalaninya. Entah kenapa buku yang ringan ini membuatku berpikir bagaimana mengemban kehidupan secara "ringan".
Hidup yang berpedoman seperti ujaran Gusdur yang juga disuratkan dalam pengiring buku ini, "Gitu aja kok repot!"
Membaca buku puisi di antara bacaan novel-novel itu ibarat memberikan tanda koma pada kalimat yang panjang. Memberi jeda sejenak, mengisi sela.
Puisi-puisi Hasta Indriyana dalam buku kumpulan puisi ini memang cukup serius. Tapi ada satu dua puisi yang lucu dan membuat saya ingin meng-screen cap-nya, dan menjadikannya status di media sosial. Karena sejatinya kita butuh rangkaian kata-kata lucu untuk sikap serius, soalnya banyak yang sensitif sama kata-kata akhir-akhir ini.
Lebih susah jadi lucu ketimbang jadi serius. Puisi-puisi Hasta seperti berkelakar dengan muka datar. Seperti Jogja kata yang berharap tak tenggelam dibandingkan ibu kota.
Di negeri ini, sepertinya banyak yang tidak bisa berlepas dari pengaruh Jokpin. Setelah Usman Arrumy, buku ini menjadi buku kedua--yang saya temukan--yang memuat puisi persembahan sang penulis kepada Joko Pinurbo. Aroma-aroma Jokpin itu terutama tampak pada puisi-puisi yang sederhana dan (mencoba) lucu di buku ini, dan memang sangat menghibur. Kreativitas penulis tampak pada upayanya membolak-balik susunan kata, serta sejumlah puisi lain yang berkenaan dengan fenomena kebahasaan. Bagian paling saya suka ada pada tengah-tengah, pada puisi-puisi yang berbau kekinian seperti "Sesuatu Banget", "PHP", dan LDR"
Sesuatu Banget
Kadang puisi kentara lebay Ia berdandan dan genit Kalimat-kalimatnya bahenol Dibikin menarik minta diikuti
Bulu matanya panjang terbuat dari Ombak yang berkejaran di pantai landai Bibirnya badai bagai petir membahana
Apakah kau suka membacanya? Mengeja tubuh yang berlekuk-lekuk Menyusur isi kepala yang penuh lenguh Dan tanda takluk?
Jawabnya adalah kata-kata bernas Meskipun tidak jelas, tapi banyak Pembaca mengikutinya
Separuh awal buku, lucunya memang benar masih belajar. Justru puisi-puisi di separuh akhir, yang lebih beresonansi dengan saya. Bahasanya sederhana, tapi tak selalu mengena, kadang brilian, tapi lebih sering melayang. Mencoba memakai diksi kekinian, namun terasa jauh lebih hambar dibanding Rusunothing. Saya pun merasa tidak ada kesatuan tema dalam keseluruhan buku ini. Melompat-lompat. Bintang 3/5.
Ada beberapa puisi yang saya bookmark, namun yang paling mengena judulnya: - Penyair di Rumah Penerbitan - Bukan Peribahasa - Memandikan Nino
Mungkin karena baru menyelesaikan membaca buku Jokpin, puisi milik Hasta Indriyana ini tampak mencoba mengikuti cara Jokpin. Kata "lucu" sendiri menjadi tantangan tersendiri untuk penulis, kesan serius dan lucu semestinya memberi ruang pada penulis untuk meramu kata dengan baik, semoga kedepannya masih bisa baca puisi-puisi Hasta I lagi. Selamat untuk bukunya.
Sambil menunggu nasib motor rusak, saya baca buku ini. Bukunya selesai, motornya belum selesai.
Membaca puisi, bagi saya tidak seperti sedang membaca novel atau buku nonfiksi. Mungkin seperti kamus, meskipun nggak persis begitu. Membaca puisi, seperti kita sedang membuka sebuah lembaran, merasa cocok dengan judul dan isi tertentu, tapi nggak pas bagi judul yang lain. Tergantung suasana hati. Seperti misalnya, puisi patah hati yang hanya menjadi rangkaian kata-kata sambil lalu saat dibaca ketika tidak sedang patah hati, tapi bisa berubah menjadi sesuatu yang "klik", pas di hati saat mengalami peristiwa yang sama.
Jadi sekarang, saat tidak punya perasaan khusus (selain menggalaukan soal motor mogok/rusak yang sayangnya tidak ada di buku ini), saya membacanya dalam kondisi biasa-biasa saja. Meskipun, tetap ada beberapa bagian yang melekat karena lucu, satir, sarkas, tapi indah dalam permainan kata-kata. Ungkapan kekinian yang ditulis dengan cerdas, membuat kesan "masa kini" yang banyak satirnya itu mengena dan membekas.
Singkat cerita, puisi di sini terbagi menjadi dua, yakni "Belajar Lucu" dan "Dengan Serius". Untuk kedalaman maknanya, saya justru suka pada bagian yang serius-seriusnya, meskipun pada bagian yang lucunya itu banyak yang bermakna tak kalah dalam. Saya suka puisi "Penjual Jam". Itu harusnya masuk ke bagian dua, sepertinya, karena tidak ada lucunya, hehehe. Membaca puisi tentang waktu, saya jadi teringat dengan The Time Keeper-nya Mitch Albom. Sama makna, dan sama kuatnya. Puisi berjudul "Di Jakarta" juga mengangkat fenomena luar biasa tentang posting foto di Facebook. Lalu, setelah "cklik, maka kita ada" (mengutip puisi berjudul Tongsis) itu, kenyataan menampar kita pada realitas sesungguhnya. "Di Jakarta" adalah puisi sederhana, lucu satir, tapi sarat makna.
Yang saya suka adalah puisi berjudul "Di Atas Mahakam". Mungkin karena itu salah satu puisi yang begitu dekat dengan saya, mengingat saya lahir dan besar di kota yang dialiri sungai Mahakam. Sebuah suara yang mewakili teriakan anak negeri yang peduli.
Dengarlah, dada ini terus membatin Jikalau kelak batu bara semakin membara Dan seseorang akan mendengar pekik Enggang samar akan meneriaki Batin kita yang memar
"Kita ini memang mudah baper menghadapi perkembangan zaman. Kita suka menghibur dan mengagumi diri sendiri dengan selfie, suka kepo dan lebay dalam menanggapi berbagai fenomena, suka cemen menghadapi persoalan, dan gampang dirundung php. Itulah colekan sajak-sajak gokil Hasta Indriyana, parodi mengenai situasi kekinian. (Joko Pinurbo)."
2/
bagi gue sendiri, membaca ini buku puisi agak susah untuk melepaskan diri dari sosok Joko Pinurbo. pemilihan gaya bahasa yang sederhana, dan eksplorasi tema yang berangkat dari kehidupan sehari-hari yang begitu dekat, membuat buku puisi Hasta Indriyana ini kesannya kayak buku puisi tribute to Joko Pinurbo bagi gue.
gue pikir ini memangtantangan bagi para penyair yang memilih jalur estetis dengan pendekatan yang sama seperti Joko Pinurbo, untuk benar-benar bisa yang namanya ngelepasin diri gravitasi Joko Pinurbo.
3/
Hasta Indriyana di sini berusaha banget mengeksplorasi tema yang bmemotret situasi kekinian khas anak muda banget gitu.
ambillah satu contoh puisi yang kayak gini:
LDR
Kalau sepi begini Yang kubutuhkan bukan wifi Tapi wife
bagi beberapa anak muda mungkin pernah lah ya yang namanya denger joke kayak begini; "nyari wifi mulu, nyari wife kapan?"
di sini, di puisi LDR-nya, Hasta berhasil banget membawa situasi kekinian tersebut dan mengemasnya menjadi sesuatu yang terkesan 'main-main' tapi tetap memiliki kedalaman makna.
di puisi lain Hasta juga terang-terangan membikin puisi yang dipersembahkan buat Joko Pinurbo seperti yang berikut:
MISALNYA - untuk Joko Pinurbo
Coba kalau dulu tak ada puisi Barangkali aku tak paham Bahwa di dalam celana ternyata ada Tuhan
4/
tapi, terlepas dari kesulitan gue untuk membaca puisi ini tanpa terikat dengan Jokpin. bagi gue, upaya Hasta menghadirkan situasi zaman now ke dalam tubuh puisinya patut dikasih love dan like. dan oleh karena itulah, buku puisi ini barangkali dapat menjadi salah satu alternatif bagi lo yang ingin menyegarkan kepada dengan sesuatu yang 'lucu namun digarap dengan serius' seperti buku puisi ini. sebuah parodi terhadap situasi kekinian yang makin lama makin ... hambuh.
Di perpustakaan sekolah atau di perpustakaan pribadi atau di rumahmu mungkin terdapat buku kumpulan puisi dan majalah atau surat kabar yang memuat beberapa sajak. Cobalah cari 3 sajak yang menunjukkan perasaan penulisnya peka dan pikiran penulisnya kritis terhadap peristiwa kehidupan tertentu atau alam sekitar. Kemudian salinlah pada buku catatan dan uraikanlah pendapatmu. (halaman 15, Bimbingan Apresiasi Puisi)
Maka ketemulah buku ini di Ipusnas. Judul dan kovernya sama-sama menarik. Dari judulnya, buku ini seperti kombinasi dua hal yang baru-baru ini saya pelajari yaitu puisi dan komedi (atau tepatnya cara menulis lucu). Dari kovernya, ilustrasi pria bermimik memelas yang berkubang dalam air matanya sendiri itu sesuatu banget ....
Kumpulan puisi dalam buku ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu "Belajar Lucu" dan "Dengan Serius". Terus terang saya tidak menyadari bedanya puisi-puisi di bagian satu dengan puisi-puisi di bagian yang lain, sampai membaca salah satu review di sini bahwa yang di bagian pertama itu isinya puisi-puisi yang lucu (atau main-main) sedang di bagian kedua puisi-puisi yang serius. Memang di "Pengiring" sang penyair bilang bahwa puisi-puisi di dalam buku ini ditulis dengan teknik "bermain-main" tetapi serius, tidak main-main (wait, what?).
Saya membaca buku ini masih seperti membaca teks apa saja, alias sapu semua kata syukur-syukur ada yang kena dan menarik untuk dicatat. Menurut saya, sekumpulan puisi ini sesuai dengan yang diminta dalam tugas Bimbingan Apresiasi Puisi, yaitu "menunjukkan perasaan penulisnya peka dan pikiran penulisnya kritis terhadap peristiwa kehidupan tertentu atau alam sekitar". "Peristiwa kehidupan tertentu" itu bolehlah dianggap sebagai tema-tema yang saya tangkap dari sekumpulan puisi ini, yaitu:
1. Fenomena kekinian Terutama puisi-puisi di separuh terakhir bagian pertama, yang berjudulkan kosakata kekinian seperti "TONGSIS", "SELFIE", "BAPER", "LDR", "PHP", "SESUATU BANGET", "LEBAY", "KEKINIAN", "GOKIL", "KEPO", dan "REMPONG".
2. Religi Terutama puisi-puisi di bagian kedua, dengan judul-judul "SAJAK TUKANG DERMA", "SEPERTI SAID", "SAJAK MENJELANG RAMADAN", "SAJAK MENJELANG LEBARAN", dan "DOA".
3. Kematian Terutama puisi-puisi di penghujung bagian kedua, seperti "MEMANDIKAN NINO", "MOBIL JENAZAH", dan "SEBUAH MAKAM YANG TAK TERAWAT".
Ada juga puisi-puisi yang berupa kritik sosial, pergulatan individu, dan persoalan filosofis atau yang semacam itulah.
Memang membaca puisi itu mesti perlahan-lahan agar dapat meresapi kedalamannya (eyyyaaa ...). Sekali membaca secara biasanya, memang ada beberapa perkataan yang mengena. Membaca ulang secara biasanya pula, timbul pengertian akan daya tarik lebih banyak puisi. Membaca bagian-bagian yang dalam pembacaan sendiri tidak bermakna tapi dikutip para reviewer lain buku ini, barulah saya manggut-manggut.
Karena tugasnya adalah mencari, menyalin, dan mengurai pendapat mengenai tiga buah sajak, maka saya memilih:
"TEMAN-TEMAN MAAF" "SAJAK KATAK" "PENYAIR DI RUMAH PENERBITAN"
Salinannya cukuplah di buku catatan pribadi saja. Ketiga puisi itu saya pilih karena relatable (dan cukup begini saja uraian pendapat saya!). Khusus dua yang terakhir itu karena pendeknya alias cuma 2-3 baris :V
Saya juga menyalin beberapa puisi lain yang menarik bagi saya pribadi tapi tidak secara utuh, hanya mengutip sedikit bagian yang kena atau judul dan idenya saja.
Karya ini memasang kata "lucu" di judulnya tapi di "Pengiring" sang penyair berapologi dengan mengatakan bahwa puisi-puisi di dalam buku ini sejatinya tidak diniatkan untuk jadi lelucon. Jadi lucu atau enggak nih??? Saya pribadi merasakannya seperti sewaktu membaca buku-buku tentang cara menulis lucu: kelucuannya kadang-kadang bisa ditangkap tapi tidak menimbulkan reaksi spontan.
Karena ini bukan hanya lelucon, melainkan juga puisi, ada kesan so deep yang hendak disampaikan. Dasar saya ini, saking deep-nya saya malas memikirkannya atau malah enggak menangkapnya. Selain itu, saya jadi bertanya-tanya: Puisi itu setelah mengajak termenung-menung, terus apa? Kata-kata sering kali tidak cukup menjadi pendorong untuk bertindak, tapi hanya memberikan bentuk bagi pikiran-pikiran yang mungkin selama ini sudah berkelebatan dalam benak pembacanya.
Saya membaca buku ini sembari membawa ingatan saya ketika remaja. Rasa-rasanya tak banyak buku puisi yang berjudul akrab dengan dunia remaja. Nah, buku ini membantu kita menjembatani masa remaja kita dengan diksi-diksi yang khas milik generasinya.
Di buku puisi berjudul Belajar Lucu dengan Serius ini, saya menemukan banyak sekali judul puisi yang lucu seperti "Tongsis", "LDR", "Baper", atau "Selfie". Rasanya akan menyenangkan membaca puisi yang dekat dengan keseharian remaja namun tetap berupaya menjelma puisi yang tidak pasaran.
Kelebihan buku ini selanjutnya adalah harganya yang relatif terjangkau untuk penulis yang beberapa kali masuk nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa. Terima kasih, Mas Hasta sudah menuliskan buku indah ini.
Cuci-cuci mata di salah satu toko buku legendari di Yogyakarta, eh ketemu deh sama buku puisi yang satu ini. Awalnya tertarik dengan judulnya, terus ilustrasi covernya juga unik. Yaudah deh, tanpa lama-lama lagi langsung aja aku bawa bukunya ke kasir bersamaan dengan 2 buku puisi lainnya hehehe.
Puisi nya unik. Diksinya sederhana, tapi maknanya terasa nampar banget. Sebagai orang yang menyukai puisi, aku berani beri buku puisi ini dengan rating bintang 5.
Lembut. Kata itu yang terlintas di benak saya ketika menyelesaikan buku puisi ini. Seperti semua hal yang lucu bisa jadi dipandang serius dan sebaliknya, buku puisi ini seperti riak-riak kecil air hujan yang jatuh di tanah basah membekas sedikit tak lantas hilang, menggores perkara yang itu-itu saja dalam bingkai yang berbeda karena apalah arti puisi tanpa cinta dan cita?
Banyak hal pahit yang mesti dibikin manis-manis saja, seperti buku ini "Belajar Lucu dengan Serius"
Puisi-puisi Hasta Indriyana memberi suasana bahagia dikala kita sedang sedih. Membacanya seperti dihipnotis untuk menertawakan kehidupan yang makin hari makin aneh ini.
"Kalau sepi begini Yang kubutuhkan bukan wifi Tapi wife."
Kumpulan puisi sederhana yang asik disimak sambil menunggu bus menuju rumah. Puisi-puisi yang beberapa diantaranya mewajahkan kekinian. Paling suka puisi PHP, Lebay, Sesuatu Banget, Gokil, Pengamen 1 dan Pengamen 2.
Buku puisi Hasta Indriyana yang saya baca. Dalam buku ini judul puisinya kekinian sekali, seperti Tongsis, Baper, Lebay, Gokil, Selfie, LDR, PHP, Rempong, Cemen, dsb. Bisa dibilang gaya berpuisinya Hasta ini lucu, jenaka mirip puisi Jokpin.
Buku ini berisikan puisi-puisi ringan tentang tingkah laku orang-orang di masa awal kedatangan smartphone dan gadget lainnya. Masalahnya serius, tapi penulis membuat masalah-masalah yang ada menjadi bukan masalah bahkan menjadi lelucon.
Tertanggal 24 Maret 2020 saya memiliki utang lima buku untuk dibaca. Oleh karena itu, saya memilih buku ini. Buku ini memiliki jumlah halaman kurang dari seratus. Saya membacanya melalui aplikasi ipusnas membuat saya semakin cepat membacanya. Saya tidak memiliki ekspektasi apa-apa mengenai buku ini, hanya ingin melunasi utang. Ternyata, buku ini lumayan juga. Saya rasa Hasta Indriyana adalah salah satu penggemar Joko Pinurbo, secara mereka sama-sama penyair. Mereka memiliki gaya yang sama dalam menyampaikan ide. Ringan, tetapi mengena, sesuai dengan judulnya. Buku ini membuat saya menangkap layar beberapa kali karena menemukan kata-kata yang menggelitik. Nantinya akan saya cantumkan di kolom Quote.
Sedang mencoba memahami sajak, makanya diusahakan setiap bulan baca satu kumpulan sajak. Memilih buku ini karena ingin "belajar lucu dengan serius". Penulis menggunakan banyak bahasa kekinian sebagai judul. Beberapa sajak memang cukup menghibur, namun sayang, setelah baca buku ini, saya masih belum bisa memahami dan mencintai bentuk karya sastra yang satu ini.