Clara Ng adalah pengarang sejumlah novel dewasa dan juga buku anak-anak. Ibu muda berbintang Leo ini lahir di Jakarta tahun 1973. Lulusan di Ohio State University jurusan Interpersonal Comunication ini tidak pernah bercita-cita jadi penulis, namun kini karya-karyanya mengalir tanpa henti. Novel-novel dewasa yang sudah diterbitkan adalah Indiana Chronicle: Blues, Indiana Chronicle: Lipstick, Indiana Chronicle: Bridesmaid, The (Un)Reality Show, dan Utukki: Sayap Para Dewa. Buku anak-anaknya yang sudah terbit adalah Seri Berbagi Cerita Berbagi Cinta.
Buku ini berisi kumpulan 12 cerpen yang─eum ... menurut saya cukup kelam dan agak sadis, jadi saya rasa buku ini tidak diperuntukan untuk anak-anak. Dari kedua belas cerpen yang disajikan memiliki karakteristik cerita yang hampir mirip, yakni mengenai cinta terlarang, dendam, iri, dan dengki. Kesemua cerpennya pun berakhir tragis dan pilu. Buku ini benar-benar gelap dan kelam.
Saya juga menyukai bagaimana khayalan dari imajinasi penulis yang cukup out of the box. Misalnya saja dalam cerpen yang berjudul "Himne Bunga-Bunga di Ladang" yang menjadi cerpen favorit saya di dalam buku ini sekaligus yang dijadikan judul dalam buku ini. Bagaimana penulis memadukan khayalan mengenai dongeng manusia srigala dan juga zaman penjajahan Jepang serta misionaris yang membawa abu keabadian menurut saya cukup gila, sih.
Penulis juga sangat piawai dalam menggunakan metafora di sepanjang cerita. Sehingga, bagi saya pribadi cukup lama untuk bisa memahami makna apa yang sebenarnya sedang disampaikan oleh penulis. Terlebih, diksi yang digunakan oleh penulis juga lumayan agak njelimet. Tapi, saya suka oleh teman-tema gelap yang dibawakan oleh penulis.
Selain itu, selama kita membaca buku ini, kita akan diajak berkelana ke macam-macam daerah: mulai dari Jakarta, ke Blitar, Ternate, Mumbai, Cina, Marciles, bahkan sampai ke Rio de Janeiro. Lumayan cukup banyak perpaduan culture yang dimasukan oleh penulis sehingga rentang ide cerita yang diberikan oleh penulis cukup beragam.
Adalagi cerpen "Para Peraih Surga" yang juga cukup berkesan bagi saya karena berkisah mengenai seorang anak yang terobsesi dengan ibunya karena ingin jadi ahli surga. Metafora yang digunakan penulis dalam cerita ini cukup menyentil dan bikin geli, sekaligus kelam. Bagaimana suatu obsesi yang berlebihan itu tidak baik, karena bisa membuat gelap mata sampai merenggut saudara sendiri.
Singkatnya cerpen-cerpen yang terdapat dalam buku ini bagus dan saya suka. Saya juga akan dengan senang hati merekomendasikan buku ini karena dapat dibaca sekali duduk─halaman tidak banyak, dan cerita-cerita yang terdapat di dalamnya meskipun "gelap" tapi sanggup dikemas dengan pembawaan ringan. Penulis menuliskan buku ini dengan format seperti dongeng.
Tetapi, meskipun Clara Ng terkenal sebagai seorang penulis buku cerita anak-anak, saya tidak merekomendasikan buku ini untuk dibaca anak di bawah umur, karena terdapat cerita sadis seperti pembunuhan, balas dendam, dan juga LGBT.
29.12.21 Himne Bunga-Bunga di Ladang • Clara Ng • Gramedia Pustaka Utama • 2017 • 152 hlm.
Aku jatuh cinta dengan karya Clara Ng sejak membaca tulisannya pada sebuah buku anak-anak. Ini membuatku mencari karyanya yang lain. Tak jauh berbeda dengan "Malaikat Jatuh" yang sudah kubaca lebih dulu, isi buku ini tak semeriah warna sampulnya.
Membaca buku ini, kita akan dibawa ke Blitar, Jakarta, Rio de Janeiro, Mumbai, Ternate, daratan Cina, dan Marciles. Kita juga akan diperkenalkan dengan tradisi santapan malam ciaciu yang dilakukan warga keturunan Tionghoa menjelang sebuah perkawinan, deretan sajian yang dikeluarkan bertahap oleh masyarakat India, dan juga diingatkan kembali tentang beberapa nasihat nenek yang sering menggelitik telinga.
Buku ini berisikan dua belas cerita pendek yang mengisahkan kehidupan dan kematian, perjumpaan dan perpisahan, cinta dan dengki, kesetiaan dan perselingkuhan. Kisah cinta dalam buku ini tidak hanyalah cerita berbagi kasih antara sepasang muda-mudi yang sebaya, tetapi juga ada yang berselisih puluhan tahun, terhalang ikatan suci pernikahan, atau juga cerita sepasang pemuda.
Beberapa cerita dalam buku ini disampaikan dalam balutan dongeng laiknya kisah pengantar tidur. Aku dibuatnya menahan napas dan berdebar-debar sepanjang cerita, mencoba menerka-nerka akhir kisahnya. Sayangnya, semua kisah ini bukanlah cerita cinta yang manis dan layak dibaca--terlebih lagi, dikagumi--anak-anak. Semua ceritanya suram dan kelam!
Seperti yang sudah-sudah, aku mengagumi kepiawaian Clara Ng menebarkan metafora di sepanjang isi buku. Selain itu, aku juga mengacungkan jempol untuk kemampuannya menuturkan ide cerita yang tidak biasa dan "berani". Karena beberapa kisah dalam buku ini tidak hanya suram, tetapi juga menceritakan pergulatan dua manusia yang berbagi peluh di atas ranjang, kusarankan buku ini hanya dibaca oleh kalian yang sudah dewasa--terutama bagi kalian yang butuh bacaan serupa "dongeng dewasa" yang bertaburan metafora.
"... ingatan seringkali menganiaya daripada memberikan ketenangan." - Hlm. 15
Saat mulai declutter buku-buku milikku, aku menemukan kumcer ini. Astaga, sudah teronggok bertahun-tahun. Karena bosan baca novel tebal, kuputuskan untuk baca kumcer ini. Apalagi aku suka gaya menulis Clara Ng di kumcer sebelumnya. Dan... aku suka!
Top notch-nya buatku adalah: Himne Bunga-Bunga di Ladang, Selamat Ulang Tahun, A Cidade Maravilhosa, Mata Indah, Bulan dan Tukang Sulap Berbaju Merah, dan Nasihat Nenek.
BANYAK. Karena memang menyebutkan setengah dari total cerita.
Kalau di Malaikat Jatuh masih ada beberapa hal menyenangkan yang bisa kutemukan, di Himne Bunga-Bunga di Ladang justru tidak sama sekali. Hampir seluruh ceritanya berakhir dengan pilu; kalau tidak mati mengenaskan, ya hidup dengan berbalut kesedihan. Atau minimal, berakhir dengan kenyataan adanya perselingkuhan antar tokoh. Tentu saja itu tidak bisa disebut menyenangkan--memangnya siapa yang mau diselingkuhi meski dengan diam-diam?
Keduabelas cerita yang disatukan dengan Himne Bunga-Bunga di Ladang sebagai pembuka memiliki kesamaan tema: cinta. Seluruh pembunuhan, perselingkuhan, maupun obsesi yang terjadi dilakukan atas nama cinta. Latar tempat, budaya, dan suasana dikemas dengan beragam, seperti "Monsoon" yang menggunakan unsur kehidupan India dan "A Cidade Maravilhosa" yang memakai perayaan karnival Brazil menjelang Paskah sebagai latarnya. Tak lupa, Clara Ng menyisipkan fantasinya dalam bentuk pasangan jelmaan serigala, bulan yang menelan lelaki, dan lain-lain.
"Para Peraih Surga" menjadi cerita yang paling mengesankan untukku. Cerita ini tentang Hilmi yang amat mencintai ibunya, bahkan sampai terobsesi. Asalkan itu untuk ibunya, dia mau melakukan apa saja, bahkan mencuri dan menghabisi orang-orang yang enggan melakukan perintahnya, meludahi pusara ibunya; sekalipun itu saudaranya sendiri. Sedikit banyak, ini menjadi pelajaran untukku agar tidak terlalu berlebihan dalam mencintai, supaya tetap bisa mempertimbangkan sesuatu dengan akal sehat.
Pendek kata, buku ini bagus-bagus saja, tetapi tidak yang sampai "Wow, ini luar biasa, kalian harus baca," karena cerita-ceritanya cenderung datar. Bahkan, tak jarang aku membolak-balik halaman sebelumnya karena penyampaiannya agak belibet dan agak sulit dipahami. Minimal, hubungan tokoh A dengan tokoh B harus jelas dulu agar ceritanya lebih nyaman untuk dinikmati.
Membaca ini tentu saja sensasi yang saya harapkan adalah sama seperti ketika saya membaca kumcer Clara Ng sebelumnya, MalaikatJatuh. Well, memang sih, sensasinya sama tapi rasanya kok ngga kayak dulu. Mungkin saja saya lagi ngga mood dengan cerita-cerita absurd nan sadis begini. Lagi mellow dan pengen cerita manis git wkwkwk...
dari 12 kumcer disini, begitu selesai membaca, saya bahkan lupa tadi tuh cerita tentang apa ya? Cerita basurd yang dibalut dengan darah, nafsu dan kematian kadang bisa membuat saya ketagihan, tapi kadang sebaliknya, eneggg. Yang saya ingat hanya kisah pertama dari kumcer ini, yang menjadi judul kumcer ini, Himne Bunga-Bunga di Ladang dan Nasihat Nenek. Yang lainnya, lupa wkwkwkwk...
Nanti deh kalo ada waktu baca lagi sekilas demi blog post. kalo niat sih 😬😬
Clara Ng memang selalu jadi "guru" saya soal penulisan cerpen. Saya penikmat cerpen, buku kumpulan cerpen di rumah banyaknya nggak keruan, karangan Clara Ng memang selalu beda di hati. Memang ini masalah selera, tapi yang juara tetep Malaikat Jatuh. Temanya dark, nggak jauh dari family, love relationship yang dikemas dengan unik. Mbak Clara, 8 bukumu sudah ada di rumahku, plis kumpulan cerpen lagi ya ditunggu :)
“...ingatan seringkali menganiaya daripada memberikan ketenangan.” —hlm 15
Baru kedua kalinya baca karya Clara Ng setelah Gerhana Kembar; dan wow aku jatuh cinta. Suka sama narasinya yang selalu mengalir, diksinya yang menarik banget, dan emang sih (buatku) di beberapa bagian cerita harus ambil jeda sejenak sebab porsi ceritanya sedikit menganiaya pikiran. Tapi overall tetap keren! >_____<)b
Aku menikmati buku ini dengan cerpen2 di dalamnya, meskipun kadang gak ngerti maksudnya gimana 😭 favoritku di sini ada Himne Bunga-bunga di Ladang, Mata Indah, sama Nasihat Nenek. Tiga cerita ini menyajikan perjumpaan dan perpisahan, keinginan dan kesempurnaan, serta dendam dan kehancuran. Aku suka gaya bahasa yang digunakan di cerpen2 ini. Cantik, memikat, magis, dan sadis.
I’m not really a fan for short-stories or “cerpen”. But this book, Clara Ng, have shown me dark stories from human being and whether I like it or not, some of them are happens in real lives. Ooohh I hate to know the truth! Now I can’t stop think about dark side on every human...
Cerita yang indah, menarik, kelam. Saya suka bagaimana penulis menggambarkan keseluruhan cerita meski saya kadang suka kebingungan sendiri tapi itu murni salah saya yang kurang paham diksi, haha, maaf.
Cerpen-cerpen yang unik, yang anehnya saya suka semuanya. Seperti biasa, cerpen yang menjadi judul buku ini disajikan paling depan, dan merupakan cerpen yang paling panjang. Sementara 11 cerpen lain setelahnya tidak terlalu panjang, tetapi selalu menerbitkan imajinasi yang tidak biasa.
This book has a many various stories, there are 12 stories. I really love this variation but still in one package, about Love, Life, and dead. Some stories give you a new thing, like the culture and something else. But, there are some stories that probably will make the readers little bit in awkward situation, but still is better to read than wait.
Baca beberapa karya bu Clara. Dari cerita anak sampai kumpulan cerpen beliau.
Sama seperti buku kumcer Bu Clara yang berjudul Malaikat Jatuh, buku ini kelam dengan cerita yang memerlukan imajinasi pembacanya. Buku ini untuk pembaca dewasa, karena ada beberapa bahasa yang agak vulgar.
Over all pembawaan ceritanya cukup bagus. Makna dari kumpulan cerita di dalam buku ini juga cukup mudah dicerna dan masih related dengan kehidupan milenial jaman sekarang.
Saya sangat suka diksinya. Hanya saja ada 3 cerita yang saya langkaui sebab saya yang masih awam dari dunia orang dewasa ini rasanya kurang pantas membacanya.
The first story is the only one that managed to keep me engaged. If i have to read fucked up things then at the very least make it interesting please t___t
Every sentence is very poetic and I love how tragic some stories are. I wish more Indo lit books like this can be published and have their own shelf in a bookshop so I don't have to go through fanfiction adaptations when I am looking for books like this.
Di buku kumpulan cerpen kali ini, aroma darah dan kematian begitu tajam. Walaupun ada beberapa cerpen dalam buku ini pernah dibaca karena sudah pernah terbit di beberapa media cetak (Majalah & Koran). Beberapa cerpen memberikan warna baru dengan alur cerita unik khas Clara Ng.
Ini cerpen DEWASA! kenapa tidak ada tulisan warning atau apalah gitu 😑 dibelakang buku hanya tertulis 'kumpulan cerpen'dan dan sinopsis nya sungguh sangat menggiurkan, kecewa banget ternyata ini banyak kalimat yg gacocok dibaca untuk dibawah umur.
yah saya tau cerpen ga punya batas umuran tertentu, tapi untuk jenis buku yg dijual umum sperti ini harusnya ditulis warning or cerpen dewasa or anything!
12 Kisah yang terkadang membuka misteri, romantis dan mencekam.
1. Hymne Bunga-Bunga Di Ladang. keabadian membawa penyesalan apalagi kalau tidak ada teman abadi dalam mengarungi kehidupan keabadian itu sendiri. Tetap. Takdir Tuhan adalah yang terbaik.
2. Selamat Ulang Tahun. Cinta seorang keponakan dan seorang paman yang terselubung dalam misteri tembok-tembok tinggi keluarga besar. Kalau Abang Ricardo bilang, "Semakin tua, kesepian adalah teman yang paling setia mengikuti."
3. A Cicade Maravilhosa. artinya kota yang dahsyat. bagaimana seorang pemuda 22 tahun yang memiliki 2 kelamin melarikan diri ke Brazil untuk menemukan pemuja cintanya di dalam diri kekasihnya Thiago.
4. Monsoon. Gak ngerti ceritanya. terlalu berputar-putar. mehhhh..
5. Mata Indah. kecemburuan yang membawa kepada petaka dan kutukan. Bersyukurlah yang Tuhan berikan
6. Genta Nostra Senhora Del Rosario. kisah romantis sepasang kakek nenek dari Ternate. yang mengganggap Genta/lonceng sebagai anaknya sendiri.
7. Semua Perempuan Berselingkuh. baru tahu ada menu makanan CiaCiu. menu makanan 10 orang ala Cina.
8. Bulan Dan Tukang Sulap Berbaju Merah. Untuk zaman sekarang ini, adakah profesi pendongeng seperti yang dilakukan Pak Husin, pensiunan guru SD.
9. Para Peraih Surga. terlalu lebai dalam menggagungkan tokoh ibu hahaha
10. Anak Babi Yang Masih Menyusu Kepada Ibuny. Ting, seorang cowo brengsek! Bener-bener brengsek!! kalau Ting ada di depan mataku bakalan aku cincang! gilakkkk...
11. Nasehat Nenek. perhatian petuah yang disampaikan oleh para nenek biasanya benar-benar bermanfaat!
12. Ke Tengah Laut. ini kayak dongeng Danau Toba. kisah yang ini terjadi di Marciles.
Buku rekomendasi dengan tema BUKU KUMCER TERBARU untuk siaran Sabtu, 7 Okt. 2017 di RPK 96.3FM bersama Selvi sebagai partner di ruang siar.
seperti kumcer Clara Ng pada umumnya, ada sentuhan khayalan yg melewati imajinasi diri selama ini. tapi lumayan lah tdk terlalu khayal walopun beberapa tetep bikin merinding disko~~