Jump to ratings and reviews
Rate this book

Persembahan Teruntuk Bapak

Rate this book
Tuhan itu punya banyak cara untuk membawa seseorang kepada impian yang diinginkannya. Bisa jadi, segala kesusahan yang dilaluinya di depan, adalah cara-Nya untuk mematangkan proses menjadi.

***
Arya telah menyaksikan karier bapaknya ambruk. Kakaknya pergi mencari kerja entah ke mana. Sekolah pun Arya pontang-panting membiayai sendiri dengan menjadi loper koran. Hidup terasa keras bagi Arya. Maka, Arya selalu bertanya-tanya kenapa Bambang selalu begitu bersemangat untuk belajar mendalang.

Cita-cita? Apakah selama ini ia memiliki cita-cita?

Terlahir tanpa tahu rupa sang ayah, Bambang merasakan amarahnya bergolak saat perusuh-perusuh itu mengoloknya. Ia ingin membalaskan dendamnya… dengan caranya.

Semua orang, sekarang atau nanti, akan menemukan jalannya sendiri-sendiri.

184 pages, Paperback

Published September 1, 2017

4 people want to read

About the author

Adi Zamzam

4 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (25%)
4 stars
0 (0%)
3 stars
2 (50%)
2 stars
1 (25%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
September 25, 2017
Kisah inspiratif tidak melulu harus tentang orang besar atau perjalanan yang akbar. Dari kisah-kisah sederhana keseharian, kita juga bisa mendapatkan banyak pelajaran dan pengajaran. Seperti kisah di novel tipis ini. Cerita sederhana ini membuktikan betapa setiap cita-cita layak untuk diperjuangkan, betapa pun absurd dan remehnya. Siapa yang pantang menyerah, terus bertekun diri, dan tak mudah goyah, hasil yang manis sudah menanti di ujung perjalanan. Persembahan Teruntuk Bapak berkisah tentang persahabatan Arya dan Bambang dalam meniti masa depan mereka. Kedua anak muda ini memilih berjuang untuk meraih impian yang mungkin tak terbayangkan di benak anak-anak muda era milenial: menjadi dalang.

“Dalang itu bukan pekerjaan gampangan. Bukan cuma harus belajar tirakat, memahami karakter tokoh-tokohnya lalu mencari padanan tokoh dalam kehidupan nyata, atau memahami selera penonton. Seorang dalang juga harus punya pegangan nilai, satu kata satu perbuatan.” (hlm. 81)

Arya adalah seorang putra dari mantan dalang. Ayahnya dulu sangat terkenal di Jogja, pernah punya penonton yang setia, serta selalu memiliki trik-trik khusus untuk membuat penonton tetap terjaga semalam suntuk. Sayangnya, passion sang ayah untuk mendalang tidak turun ke putranya. Sementara Bambang adalah seorang remaja keturunan Arab yang ternyata sangat suka mendalang. Nasib keduanya malah seperti tidak mendukung impian masing-masing. Hidup kadang memang seperti ini. Tidak semua yang kita inginkan selaras dengan kenyataan. Lebih sering, kitalah yang terpaksa harus mengalah dan menjalaninya. Tetapi, hidup juga mengajarkan kita untuk senantiasa berpikir positif, untuk belajar dari setiap apa dan dari setiap siapa.

“Tuhan itu punya banyak cara untuk membawa seseorang kepada impian yang diinginkannya. Bisa jadi, segala kesusahan yang dilaluinya di depan adalah cara-Nya untuk mematangkan proses menjadi.” (hlm. 115)

Tetapi permasalah yang harus dihadapi dua remaja ini ternyata tidak hanya tentang passion saja. Penulis kemudian menyeret pembaca dalam kehidupan keluarga Arya yang ternyata sedemikian sesak oleh konflik. Ayahnya yang nglokro setelah berhenti mendalang, lalu kakak sulungnya yang memutuskan berhenti mendalang dan malah memilih menjadi biduanita, serta kakak kedua yang malah terjebak oleh rayuan tak bertanggung jawab. Potret keluarga Arya begitu terang melambangkan sosok keluarga kelas menengah ke bawah yang mungkin dekat dengan keseharian kita. Meski mengangkat tentang perjuangan Arya, tidak kemudian novel ini berubah menjadi novel yang cengeng, mendayu-dayu, atau menuntut iba. Di buku ini, penulis mampu menuliskan cerita yang apa adanya, yang justru dengan begitu malah menjadikan cerita ini dekat dan mudah diterima.

“Kalau yang kau tuju uang, semuanya akan habis setelah uangnya juga habis. Rugilah kamu. Tapi kalau yang kau tuju ilmu, segala jenis ilmu takkan habis kau gunakan. Meskipun berkali-kali.” (hlm. 131)

Sayangnya, saya agak merasa perpindahan cerita di novel ini agak melompat-lompat. Lompatannya juga kadang sangat samar sehingga ketika cerita telah berpindah, perhatian saya masih ada di cerita sebelumnya. Terlepas dari yang sedikit itu, ada banyak hal yang bisa kita dapatkan dengan membaca novel ini. Salah banyaknya, hal-hal baru tentang wayang dan dunia dalang, juga tentang pentingnya inovasi.

Profile Image for Rizki Wulandari.
125 reviews3 followers
November 17, 2017
Kutipan di atas kuambil dari sampul Persembahan teruntuk Bapak. Tulisan kecil di sudut kanan bawah. Ya, jalan hidup. Bisa dikatakan itulah isi sebagian besar kisah di novel ini. Mengangkat tokoh utama bernama Arya Sena beserta problematika tentang hidupnya dan keluarganya. Tentang lelaki yang kehilangan kebanggaan, tentang perempuan yang pasrah dan yang memberontak. Pun tentunya tentang proses menjadi dalam hidup dua sahabat yang harus dilalui, harus dihadapi.

Persembahan teruntuk Bapak memiliki tebal 184 halaman. Bisa dibaca sekali duduk namun aku memerlukan waktu sekitar 3 hari. Selain karena ada kesibukan lain, ada juga bagian-bagian dari kisahnya yang membingungkan. Maksudku, ada bagian yang membuatku mengerenyit ketika perpindahan waktu, dan ada beberapa percakapan yang aku bingung itu siapa yang berbicara. Ada waktu ketika aku kesulitan mengikuti jalinan kisahnya. Sebagai contoh, ada nama Pak Margono di halaman 152. Sejauh yang kuingat, aku belum menemukan nama tersebut di buku ini. Aku menduga seharusnya bukan Pak Margono tetapi Pak Wikyo.

Meski demikian, ada dua hal yang khas dan kusukai dari novel ini. Pertama adalah tema ceritanya yaitu tentang masa depan dan cita-cita. Bagaimana setiap cita-cita layak diperjuangkan tanpa ukuran besar ataupun kecil. Penulis pun mengangkat latar yang tidak muluk-muluk. Sebuah keluarga biasa yang bisa ditemui di sekitar kita sebagai bagian inti cerita.

Satu hal lagi yang kusukai yaitu novel ini penuh kearifan lokal. Bukan hanya latar cerita dan sisipan istilah dalam bahasa Jawa, namun terutama bahasan tentang kesenian wayang kulit. Ada rasa yang menggelitikku, rasa penasaran. Aku bisa dikatakan awam soal kesenian yang satu ini.

Silakan baca review lengkapnya di:
bukulova.blogspot.com
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.