Jump to ratings and reviews
Rate this book

Manurung: 13 Pertanyaan untuk 3 Nama

Rate this book
Prajurit-prajurit dari Luwu, Ware, dan Cina dikumpulkan. Darah yang mengalir dari tubuh mereka, kelak membuatmu tumbuh dan kematian akan segan padamu. Mereka harus saling menghabisi dalam perang yang tidak mereka hendaki—sejak dulu, di Dunia ini, orang-orang saling membunuh untuk kematian yang tidak mereka inginkan. Perang umpama genderang yang bisa ditabuh kapan saja oleh Kekuasaan—dan Kekuasaan punya banyak tangan untuk menutup telinganya dari suara tabuhan.

128 pages, Paperback

First published October 2, 2017

Loading...
Loading...

About the author

Faisal Oddang

33 books112 followers


Faisal Oddang was born on 18th September 1994. He finished his study in Universitas Hasanuddin, focusing on Indonesian Literature. His books are: Poetry Collection Perkabungan untuk Cinta (Mourning for Love) and Manurung was shortlisted for Khatulistiwa Literary Award 2018, Novels: Tiba Sebelum Berangkat (Arriving Before Departing) was shortlisted for Khatulistiwa Literary Award 2018, Puya ke Puya (From One Heaven to Another) won 4th place in Jakarta Art Council Novel Competition 2014 and was chosen as the best novel in 2015 by Tempo Magazine.

He achieved: Robert Bosh Stiftung and Literary Colloquium Berlin Grants 2018, Iowa International Writing Program 2018, Asean Young Writers Award 2014, Best Short Stories Writers 2014 by Kompas Daily, Prose Writer of The Year 2015 by Tempo Magazine, Best Essayist in Asean Literary Festival 2017. He was invited as a speaker in Ubud Writers and Readers Festival 2014, Salihara International Literary Biennale 2015 and Makassar International Writers Festival 2015, and participated in writer’s residency 2016 in Netherland by Indonesian National Book Committee.

Email: faisaloddang@gmail.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
17 (11%)
4 stars
58 (39%)
3 stars
56 (38%)
2 stars
12 (8%)
1 star
3 (2%)
Displaying 1 - 30 of 44 reviews
Profile Image for Raven.
469 reviews41 followers
April 10, 2020
Untuk Tantangan Baca GRI April: Buku Puisi

3.8 🌟

Dalam buku ini penulis mengajukan 13 pertanyaan pada tiga tokoh epos I La Galigo, atas nama para budak dan orang-orang yang terlupakan.

Sedari dulu saya memang tertarik dengan I La Galigo yang konon merupakan naskah terpanjang di dunia. Penuturan cerita yang sepotong-potong dengan puisi ini menurut saya sesuai dengan kebiasaan mendongeng untuk menceritakan kembali La Galigo secara turun-temurun di masyarakat Sulawesi, seperti yang diceritakan oleh pengarangnya.

Kekurangannya, karena saya tak tahu pasti cerita La Galigo, sebagian besar saya hanya menebak jalan cerita berlangsung. Dari buku ini saya sudah mendapat bayangan kalau tanpa disensor cerita aslinya tak kalah dengan mitologi Yunani yang penuh tragedi sekaligus perbuatan amoral tokoh-tokohnya (yang dimaafkan, dan jarang dipertanyakan, sampai sekarang).

Omong-omong, desain sampul dan layout dalam buku ini cakep banget!!
Profile Image for Stebby Julionatan.
Author 16 books55 followers
November 15, 2017
Pertama kali tahu buku ini, sewaktu di Makassar. Saat menghadiri ibadah pentahbisan Kak Manda sebagai pendeta, saya menyempatkan diri untuk datang ke acara pertemuan antar komunitas sastra yang menghadirkan Oddang sebagai salah satu pembicara, bersilaturahmi. Di sana, di acara tersebut, ketika diminta oleh MC untuk membacakan karyanya sebagai penutup diskusi, Oddang mempromosikan dan membaca salah satu puisi yang ada di dalam buku ini. Sebelum membacakan, Oddang sempat juga menceritakan proses kreatifnya. Bahwa buku ini adalah interpretasi ulang dari kitab I La Galigo yang disusun atau diceritan dari sisi budak.

Jujur, bagi saya yang menyukai cerita dewa-dewa, cerita raja-raja, cerita-cerita soal budaya lokal, sejarah dan perbudakan... tentunya menaruh ekspektasi yang tinggi akan lahirnya buku ini. Dengan sabar saya menanti waktu kelahirannya, yang disampaikan Oddang bahwa di minggu pertama Oktober, buku tersebut akan beredar di toko-toko buku di Indonesia.

Saya masih ingat, tanggal 13 Oktober 2017, saat aku (baca: kami) mempersiapkan ultah Kevin, membeli kado untuk ultahnya di Gramedia Surabaya, saya melihat buku tersebut sudah terdisplay manis di depan kasir. Maka... tanpa berpikir panjang lagi, saya langsung menyeret buku tersebut ke meja kasir dan membayarnya, bersamaan dengan barang-barang lain yang kami beli untuk kado Kevin di hari ultahnya.

Namun, setelah membacanya, dalam perjalanan saya dari Surabaya ke Malang, pun keesokan harinya saat 'blakrakan' bareng anak-anak ke tempat-tempat pelesiran di Batu, saya tak menemukan sesuatu yang menarik di buku ini. Saya tak menemukan yang saya cari. Ya... mungkin karena saya kurang memahami I La Galigo, atau... seperti yang Oddang sampaikan di kata pengantarnya, ia tak peduli nanti struktur atau bentuk tulisannya seperti apa, tak peduli jika bentuk puisinya tak seperti bentuk-bentuk selayaknya puisi.

Entahlah....
Profile Image for Nike Andaru.
1,678 reviews115 followers
May 31, 2019
121 - 2019

Walau udah punya beberapa bukunya Faisal Oddang, tapi buku puisi ini justru adalah karya pertamanya yang saya baca. Beberapa kali nama Faisal Oddang saya dengar sebagai penulis dan penyair ngetop dari Makassar, bisa dibilang juniornya Aan Mansyur nih.

Membaca buku puisi ini membuat saya mencari tahu tentang Datu Palinge, Sawerigading dan La Galigo yang merupakan tiga bagian besar dalam buku ini. Pastinya ya karena saya gak tahu tentang nama-nama tersebut, setelah saya mencari di laman pencarian internet, akhirnya garis besarnya saya tahu.

Ketiga nama itu berasal dari kerajaan tertua di Bugis, namanya Kedatuan Luwu. Bagusnya adalah dalam buku ini digambarkan pula silsilah Sawerigading, yang merupakan putera raja di Luwu. Dan La Galigo sendiri merupakan epik mitos dari Bugis. Mungkin kalo baca cerita dari silsilahnya dah pasti ribet gitu yak. Puisi yang ditulis Oddang adalah pertanyaan-pertanyaan soal itu.

Walau saya gak gitu ngerti soal ceritanya sendiri, tapi puisi yang berisi pertanyaan ini sungguh menarik, saya menikmatinya berikut dengan ilustrasi yang dibuat.
Profile Image for Nina Bookshelves.
24 reviews
November 27, 2020
"Suamimu punya sepasang telinga tetapi tidak semua telinga diciptakan untuk mendengar. Dia Tuhan yang keras kepala, rapuh tetapi tidak tuli. Kau istri yang pemaaf untuk semua kekurangannya. Namun kau tidak pernah meminta maaf kepada dirimu atas kekuranganmu itu......" ___ hal 28.

Pertama mendapat buku ini, langsung terpukau dengan covernya yg cantik, tanpa tahu isinya apa. Begitu membuka halaman awal, terlihat silsilah keluarga yang panjang, mengingatkan sy dgn silsilah keluarga Buendia dr One Hundred Years of Solitude.

Dalam buku Manurung ini, diungkapkan 13 pertanyaan kepada 3 tokoh dalam silsilah La Galigo, dari sudut budak-budak yang dianggap tidak penting keberadaannya tapi muncul pada saat mereka butuh tumbal.

La Galigo/ Sureq Galigo sendiri adalah sebuah epos dari suku Bugis, yang konon menceritakan tentang dewa dan asal-usul kehadiran manusia di bumi. Epos ini merupakan epos terpanjang di dunia.

Saya pikir buku ini akan sulit dimengerti, tapi ternyata ceritanya mengalir, walau ditengah jalan saya googling dulu demi mencari tahu tentang epos La Galigo sehingga lebih memahami pertanyaan2 dalam buku ini.
Saya suka dengan pemilihan kata-katanya yang tidak rumit, sehingga mudah dipahami tapi tetap kaya makna dan indah. Saya juga suka sekali dengan ilustrasi2 cantik dalam bukunya. I'm glad i found this book

Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
247 reviews42 followers
August 16, 2021
Manurung adalah sebuah pembacaan kritis terhadap epos yang dituangkan dalam bentuk puisi.

Menarik. Teknik ini mungkin dapat kita pakai juga dalam membaca karya lain. Mengkritisi dan mempertanyakan hal-hal yang menurut kita janggal kepada tokoh-tokohnya. Meski, tentu saja, tak memperoleh jawaban, paling tidak kita telah mengabadikan jejak pemikiran kita.

Saya tidak pernah tahu cerita La Galigo. Membaca puisi karya Faisal Oddang ini memberi saya sedikit gambaran apa yang diceritakan dalam sastra klasik Bugis itu melalui tiga tokoh sentralnya.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books346 followers
November 15, 2017
Saya sebagai orang yang tidak memahami betul perihal epos yang diangkat dalam puisi ini, jadi yang saya perhatikan paling awal adalah silsilah tiga nama yang diangkat dalam buku puisi ini. KAlau boleh komentar jujur, garis-garisnya tidak terlalu jelas dan saya terdiam untuk mengamatinya.
Tapi selebbihnya saya menikmati buku puisi ini. Bukan puisi yang bikin gerrr memang, tapi jelas buku puisi yang memenuhi hasrat seorang penulis muda untuk mendedah kembali sejarah budayanya.
69 reviews
December 27, 2021
3.8/5⭐ suka ilustrasi dan covernya, dari buku ini makin penasaran sama cerita La Galigo
Profile Image for Gita Swasti.
331 reviews41 followers
August 12, 2020
Yang menggerakkan saya untuk membaca buku ini adalah epos La Galigo. Saya pernah tinggal di Palu, ibukota Sulawesi Tengah. Lingkungan saya malah justru didominasi oleh suku Bugis, sehingga La Galigo cukup menancap di benak saya, meski saya sendiri yang waktu itu masih berusia 5 tahunan belum paham.

Epos atau cerita kepahlawanan (semula saya menganggapnya singkatan dari epik mitos, ha ha ha) La Galigo sendiri menceritakan tentang penciptaan dunia. Cara Faisal Oddang membuka karya ini dengan menjelaskan silsilah Sawerigading adalah pilihan yang tepat.

Bintang empat atas keberanian Faisal Oddang mengeksplorasi La Galigo dalam bentuk pertanyaan, karena yang sudah ia utarakan dalam kata pengantarnya, "La Galigo sangat istanasentris." Maka tak heran jika ada pertanyaan-pertanyaan yang Faisal utarakan untuk kaum bawah.
Profile Image for Hëb.
172 reviews6 followers
October 30, 2020
Awalnya saya tertarik karena di sinopsisnya bicara soal 'La Galligo', kitab sastra Bugis yang lebih panjang ketimbang epos Ramayana atau Mahabharata. Saya kira novel, ternyata bentuk-bentuk puisi yang 'menjawab' 13 pertanyaan untuk 3 nama tersebut. Sepanjang membaca, saya perlu menelaah lebih lama dan bolak-balik melihat silsilah keluarga di awal halaman. Sayang saya masih belum bisa memahami 'La Galligo' melalui buku ini. Meski demikian, adanya ilustrasi yang apik cukup menghibur dan bisa jadi jeda selama membaca. Dari buku ini juga saya jadi tertarik unuk membaca karya2 Faisal Oddang yang lain, terutama yang membahas soal adat Bugis.
Profile Image for Ann.
87 reviews17 followers
January 10, 2020
Di satu sisi, buku ini layaknya gerbang yang membuka cakrawala pengetahuan adat di Indonesia. Di sisi lain, buku ini cenderung sulit dipahami jika tak pernah membaca kisah La Galigo sebelumnya.
Profile Image for Nyut.
126 reviews1 follower
July 17, 2024
Sebelum baca ini, lebih baik kalian tau dulu alur kisah epos I La Galigo dari suku Bugis, karena dasar penulisan kumpulan puisi ini diambil dari kisah itu. Kalau kalian bacanya benar-benar berangkat dari nol, gak tau sama sekali, mungkin bakal susah buat menangkap apa makna dari puisi-puisi yang ditulis di sini. Sebenarnya, sebelum baca buku ini, aku sudah pernah dengar tentang I La Galigo (nonton di youtube), tapi tetap saja bagiku lumayan sulit. Epos I La Galigo itu panjang banget (katanya epos terpanjang di dunia), dan tokoh-tokohnya banyak. Aku yang cuma sekali nonton belum bisa memahami seluruh kisahnya.

Untuk buku ini fokusnya cuma ke tiga tokoh (untungnya). Pertama, ada Datu Palinge, yang bersedih karena ditinggal suaminya ke langit untuk menjadi Tuhan dan anaknya harus dibuang ke Bumi untuk menjadi manusia pertama. Kedua, ada Sawerigading (aku gk tau dia ini keturunan keberapa dari manusia pertama di bumi), yang jatuh cinta pada saudari kembarnya. Karena cinta mereka terlarang, maka Sawerigading pergi berlayar ke Cina untuk bertemu dengan seorang putri yang mirip dengan saudarinya. Ketiga ada La Galigo, yang dibuang oleh ibunya untuk dimakan ikan-ikan. Inti cerita ini kudapat dari apa yang kubaca dari buku ini dan juga ingatan sekilas dari pa yang pernah kudengar.

Buku ini seperti menceritakan kembali kisah I La Galigo tapi dengan cara yang berbeda. Jadi di buku ini disajikan 13 pertanyaan yang dibagi untuk tiga tokoh. Tiap pertanyaan itu dijadikan sebagai 'judul puisi' dan 'isi puisinya' adalah jawaban dari tiap-tiap pertanyaan tersebut. Ide penulisan ulang I La Galigo seperti ini cukup menarik bagiku, tapi karena kurang paham sama kisahnya ya jadi perlu mikir keras buat bisa menangkap cerita yang ingin disampaikan.
Profile Image for Ammar Jayyid.
71 reviews2 followers
January 6, 2021
"Manurung" Secara harfiah bisa disebut "turun ke bawah". Sesuatu yg turun dari langit. Dalam konteks ini saya melihatnya org istana yang turun dunia ke rakyat jelata.

Saya mungkin termasuk orang yang telat mengenal La Galigo. Karya klasik dari Bugis yg sudah banyak sekali direspon dalam berbagai medium dan menjadi warisan kebudayaan dunia. 'Manurung' ini menjadi awal saya ingin mengetahui lebih jauh tentang La Galigo. Terbalik dengan penulisnya, faisaloddang yang melahirkan karya ini setelah jauh mendalami La Galigo, bahkan sampai ke Belanda di tempat naskah aslinya tersimpan. Hehe

Di tengah2 membaca karya ini, saya penasaran dengan cerita La Galigo yg sebenarnya. Mungkin sebaiknya memang penikmat karya ini, setidaknya sedikit tahu tentang La Galigo. Karena setelah membaca ringkasan cerita La Galigo, saya mulai bisa memahami keresahan yang coba disuarakan penulis melalui karya ini. Tentang hal-hal yang mungkin tidak tersuarakan dalam karya-karya yang merespon La Galigo sebelumnya. Keresahan itu dibungkus dalam 13 pertanyaan yang ditanyakan kepada 3 tokoh. Menarik bagaimana pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab ini justru yang menyatakan sesuatu.

Di luar puisinya, mungkin sebaiknya ada semacam kamus kecil di belakang untuk beberapa istilah lokal. Untuk ilustrasinya, menurut saya bagus sekali, cocok buat karya etnikal. Saya membayangkan kalau itu berwarna, bakal lebih epik lagi. Haha Saya juga tertarik dengan fontnya, yg mengadaptasi dari aksara lontar. Itu keren sekali!
Profile Image for Rafik Nurf.
39 reviews4 followers
February 17, 2020
Pertama kali suka dg karya faisal oddang adalah cerpennya yg beberapa kali saya baca di medium miliknya. Buku ini menjadi karya faisal oddang yg saya sukai, juga. Apalagi ini adalah sebuah karya berbentuk buku puisi -- krn skrg sdg gencarnya mencari puisi-puisi ternama, ditambah dg balutan cerita menarik: epos La Galigo.

Saya sendiri tertarik dg epos tersebut yg kabarnya merupakan karya sastra terpanjang di dunia melebihi kisah mahabbarata --Indonesia harus bangga akan ini. Faisal kembali membalut sejarah itu dengan bentuk yg lagi menarik: puisi. Terdapat 13 macam pertanyaan utk 3 nama. Yaitu: Datu palinge, Saweri Gading, La Galigo.

Dan di setiap pertanyaan tersebut diubahnya menjadi bait-bait puisi yg bernas. Penuh dengan cerita. Meski bagi orang awam -- spt saya -- ada beberapa istilah dri tradisi Bugis yg tidak diketahui, namun itu tak menyurutkan keingintahuan ku atas epos suku Bugis tsb. Sangat rekomended utk anak yg gandrung sejarah dan cerita mistis spt saya.

Beberapa yg menarik dri puisinya:

"jangan kau buat dia bersedih!"
Kau berkata ketika kesedihanmu tak mampu lagi dikatakan
: cinta tak lagi ada di kepalan tanganmu
-- Ia ada, tetapi jauh dari tubuhmu. Ia ada tapi dalam sarung tujuh lapis.
saat pelita-pelita seisi benua dipadamkan. Lalu apa lagi yang kauharapkan
dari dirimu, dari cinta?
(pertanyaan ke-10, h.104)
Profile Image for Aldila Sakinah Putri.
83 reviews
March 22, 2022
"Kau ingin mati, tetapi kematian tak memilih orang-orang yang menginginkannya." (Hal 88)

Pertama kali aku membeli buku ini karena nama besar penulisnya, yang sudah wara-wiri terdengar dalam kepiawaiannya menulis puisi.

Alangkah terkejutnya aku ketika melihat silsilah keluarga di halaman pertama buku ini. Banyak nama yang terdengar asing bagiku, karena aku tidak tahu banyak tentang suku Bugis.

Salah satu nama yang paling membuatku penasaran adalah Datu Palinge. Di dalam bab ini beliau adalah sosok perempuan, istri Dewa sekaligus ibu dari Batara Guru, anak yang diutus pergi ke Bumi sebagai hamba.

Anaknya diberi ujian penderitaan dan kesedihan sedemikian berat, sekaligus menyembah Tuhan yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Bagaimana rasanya menjadi Datu Palinge?

Sebaiknya kalian baca buku ini ya, karena direkomendasikan oleh penulis-penulis kenamaan dalam sembilan kata pengantar. Mereka mengakui, bahwa buku yang merupakan epik mitologis suku Bugis ini menghidupkan dunia baru dalam kesusastraan.

Karena penasaran, aku akhirnya mencari artikel terkait di internet tentang La Galigo. Bahwa mengapa hanya tiga nama saja yang diceritakan? Dan mengapa hanya ada 13 pertanyaan?

"Kau mendengar pertanyaan anakmu itu? Suamimu mendengarnya tetapi baginya pertanyaan adalah doa yang tidak perlu dia jawab sebagaimana doa yang tidak melulu butuh dikabulkan." (Hal 37)
Profile Image for zaawithbooks.
57 reviews6 followers
March 16, 2022
Awalnya aku gak ngerti kenapa setelah daftar isi langsung disuguhi silsilah sawerigading. Baca buku ini karena lihat covernya cantik, dan karena tulisan 'kumpulan puisi'.

Aku cari sedikit di internet, ternyata bagian dari Epos Bugis. Jadi sebelum membaca isi buku ini, sepertinya memang harus paham dulu dengan Epos Bugis, terutama silsilah sawerigading dan kisahnya.

Puisi di dalam buku ini ditulis sesuai dengan judul di covernya--dibagi 13 pertanyaan untuk 3 nama leluhur Epos Bugis; Datu Palinge, Sawerigading, dan La Galigo.

Di bandingkan sebuah puisi, aku lebih menikmatinya sebagai kisah sejarah/sastra Bugis.

Sebagai orang awam yang hanya gemar membaca puisi tanpa mengerti banyak tentang aturannya, aku sangat senang dengan pemilihan diksinya yang mudah dipahami, tetapi tetap cantik. Ilustrasi di dalam buku juga sangat membantu aku dalam proses memahami isi puisinya.

Sempat beberapa kali cari-cari juga seputar La Galigo, dan sebagainya. Kisahnya ngalir gitu aja, aku yang gak banyak tahu tentang Epos Bugis saja masih sangat bisa menikmatinya tanpa kendala berat.

Buku kumpulan puisi terbaik yang aku baca tahun ini 🥰 berani kasih 4.96/5.00 deh untuk buku ini.

Aku baca sekali duduk lewat ipusnas. Buku sebagus ini tidak mengantri di ipusnas, seperti mendapatkan harta karun.
Profile Image for Umara' Nur Rahmi.
62 reviews5 followers
February 27, 2020
Puisi di dalam buku ini memang tidak semua dapat saya pahami, mungkin saya harus baca dulu kisah La Galigo suatu hari nanti, dan membaca kembali puisi dalam buku ini agar dapat memahaminya dengan lebih baik.

Tapi, walaupun demikian. Saya akui, cara penulis menyampaikan puisi-puisinya dalam buku ini cukup apik dan bagus.
Setidaknya dari beberapa puisi, saya masih bisa menikmati dan belajar memahami apa yang penulis ingin sampaikan.

Puisi yang cukup kelam menurut perspektif saya.

Berikut salah satu potongan bait yang saya sukai :

𝑀𝑒𝑚𝑎𝑛𝑔
𝑇𝑎𝑘 𝑎𝑑𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘
𝑚𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔𝑖𝑠, 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑒𝑒𝑘𝑜𝑟 𝑏𝑢𝑟𝑢𝑛𝑔 𝑏𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑙𝑖 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑡𝑢𝑘 𝑏𝑜𝑙𝑎 𝑚𝑎𝑡𝑎𝑛𝑦𝑎
𝐵𝑎𝑡𝑎𝑟𝑎 𝐺𝑢𝑟𝑢 𝑡𝑎ℎ𝑢 𝑑𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑘 𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎ℎ𝑢,
𝑑𝑖𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑡𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑎𝑦𝑎ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑖𝑎𝑚
: 𝑎𝑝𝑎 𝑔𝑢𝑛𝑎 𝑚𝑎𝑡𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑚𝑝𝑢 𝑚𝑒𝑙𝑖ℎ𝑎𝑡 𝑚𝑎𝑡𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛 ?

𝐷𝑖𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑗𝑎𝑔𝑎 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑡𝑖𝑑𝑢𝑟𝑛𝑦𝑎. 𝐷𝑖𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑡𝑎𝑛𝑦𝑎, 𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑡𝑖𝑑𝑢𝑟 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔𝑢𝑛𝑘𝑎𝑛 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔-𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑒𝑙𝑎𝑝 ? (𝐻𝑙𝑚. 44)
Profile Image for Agusman 17An.
80 reviews2 followers
December 1, 2018
#Manurung adalah puisi luar biasa yang diangkat dari sejarah, yang mengangkat kembali dan menghidupkan lagi karya besar yang lampau dengan cara yang baru. Salut dengan penulis muda satu ini

Buku puisi ini beda dengan buku puisi kebanyakan. Bila buku kumpulan puisi kadang dan bersambung dengan tema yang bebas, buku ini sebaliknya menampilkan Puisi yang berkelanjutan dari pembukaan hingga akhir. Berisikan 13 pertanyaan untuk tiga nama yakni : Datuk Palinge, Sawerigading, Lagaligo.

Dan buku Puisi Faissal Oddang ini kemarin masuk dalam jajaran 5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2017-2018 kategori Puisi. Selamat.

Puisi yang kusuka pada buku ini terdapat pada halaman 61, “Kalau melihat sekawanan burung terbang dari utara. Coba hitung berapa kali mereka kepakkan sayapnya. Itu adalah isyarat bahwa untuk sesuatu yang diinginkan, kau perlu melakukan usaha yang sama berkali-kali”
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nila Pratiwi.
151 reviews5 followers
March 27, 2019
"manurung” berarti “yang berasal dari langit”, merupakan buku puisi yang ditulis oleh faisal oddang. lantas, puisi-puisi yang ada di sini ditulis berdasarkan epos i la galigo (secara garis besar). berdasarkan wikipedia, la galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan peradaban bugis di sulawesi selatan.

dahulu sekali, saya agak acuh tentang hal-hal seperti ini (padahal saya sendiri adalah orang bugis hehe), sama acuhnya setiap kali mom mengajar pelajaran sejarah di kelas saya dulu. namun, tak kenal maka tak sayang. akhirnya dengan membaca manurung maka secara resmi saya berkenalan dengan i la galigo. dan saya akui, bahwa ini adalah perkenalan yang menarik; saya seperti ingin mengenal lebih jauh lagi.

tulisan lebih lengkap bisa dibaca di blog saya >> https://ohsvgar.blogspot.com/2018/08/...
Profile Image for Siraa.
269 reviews3 followers
April 11, 2022
"Saya menemukannya!"
Katamu, padahal kau tak pernah mencari apa-apa
kau bahkan tidak pernah kehilangan apa-apa.
"Aku tidak pernah dicari karena aku tidak bersembunyi".
"Aku tidak pernah hilang maka tak ada vang menemukanku"

Manurung adalah kumpulan puisi yang berasal dari epos suku Bugis, I lagaligo. Isinya membicarakan banyak hal dimulai dari Dunia atas (Botting Langi), Dunia tengah (Ale' Kawa') serta Dunia Bawah (Buri' Liu). Sesuai judulnya, pemeran utama dalam puisi ini dituturkan dari atas, Datu Palinge dan Guru Riselleq kemudian menuju Batara Guru, Batara Latuq, We Tenri Abeng, Sawerigading, Lagaligo dan We Cudai dst. Tulisannya memang agak berat apalagi dengan membawa kisah epos yang tidak familiar membuatnya sulit direka-reka. Maksud saya, cerita tentang orang yang mati dan berubah jadi padi hanya bisa didapatkan dari cerita-cerita Epos, kan?
Profile Image for Lidia.
91 reviews
September 20, 2022
Manurung, 13 pertanyaan untuk 3 nama adalah kumpulan puisi Faisal Oddang yang diangkat dari kisah La Galigo. Nama tokoh dan tempatnya membawa saya sebagai pembaca meraba-raba cerita ini.

13 pertanyaan untuk 3 nama. 3 nama di sini yaitu Datu Palinge, Sawerigading, dan La galigo. 13 pertanyaan adalah buah pikiran dari penulis setelah membaca epos La Galigo, sebagai perwakilan suara budak-budak, dan yang berada di luar istana Langit, peretiwi, dan bawah laut.

Ada 1 pertanyaan yang cukup menarik, "Ketika cucumu mati lalu tumbuh menjadi padi, bagaimana mungkin cucumu yang lain memakannya dan kau tak menegur mereka?"

Puisi-puisinya berhasil bikin saya ikut bertanya-tanya, dan harus membaca buku La Galigo yang sangat tebal itu.
Profile Image for Soraya Nur Aina.
170 reviews1 follower
May 29, 2025
Kumpulan puisi yang diambil dari cerita yang terkandung di dalam La Galigo. Sebuah karya sastra bugis klasik yang punyai hampir 300.000 bait dan dinobatkan sebagai memory of the world oleh UNESCO.

Penulis menulis ini karena La Galigo dianggap terlalu istanasentris. Sesuai judulnya, 3 nama ini merujuk pada Datu Patotoe, Sawerigading dan La Galigo yang masih satu keturunan namun berbeda Dunia Atas (botting langi) - Dunia Tengah (Ale Kawa) dan Dunia Bawah (Buri Liu).

Diksinya cantik, karya pertama penulis yang aku baca. TAPI kayanya emang harus tau dulu La Galigo itu apa. Baca buku ini kaya tiba-tiba ujian tapi nggak belajar, paham kan ya rasanya? Blank.
Profile Image for Aisyah Hudabiyah.
8 reviews
December 18, 2017
Setelah membaca Manurung, saya membuka banyak buku yang berkaitan dengan epos La Galigo. Pertama, saya baca buku yang khusus membahas Sawerigading lalu membandingkan apa yang disampaikan Oddang dalam puisi Sawerigadingnya. Ah, aku menikmati. Sampai sekarang masih terkenang dan Oddang menurut saya cukup berhasil membangkitkan memori tentang karya sastra klasik Bugis dengan caranya sendiri. Meski sebenarnya, kejadian dalam isi puisi hanyalah pengulangan dari apa yang tlah disampaikan karya klasik itu.
Profile Image for Nura.
1,061 reviews30 followers
January 15, 2019
Tantangan Baca GRI 2019 #2: buku yang terinspirasi mitologi, legenda, atau folklor

Siapa tak kenal I La Galigo, legenda tentang asal usul orang bugis, para pelayar tangguh keturunan sang mahadewa. Saya belum pernah membaca naskah lengkapnya, tapi sepertinya cukup terangkum dalam buku ini.

Sempat terpikir akan membaca buku tentang orang Batak karena judulnya, tak dinyana ternyata tak ada hubungannya sama sekali. Saweri Gading dan We Tenriabeng, saudara kembar yang terikat takdir sejak dalam rahim hingga buaian kematian.

(2/52)
Profile Image for Ella Oktaverina.
303 reviews1 follower
July 11, 2020
Saya bukan orang yang terbiasa membaca puisi, tetapi ketika membaca buku ini entah kenapa saya merasa sangat menikmati. Asumsi saya adalah karena rangkaian puisi dalam Manurung ini punya "cerita". Saya kebetulan adalah penggemar folklor dan ini pertama kalinya saya membaca referensi tentang salah satu folklor asal Makassar.

Buku ini dibaca untuk memenuhi Tantangan Baca Goodreads Indonesia Bulan April 2020: Buku Puisi.
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
October 7, 2017
Ternyata Faisal Oddang tidak hanya mahir mengarang prosa seperti novel Puya ke Puya, ia juga piawai merangkai diksi dan frasa puitis menjadi buku kumpulan puisi ini. Ia meramu cerita rakyat masyarakat sulawesi, La Galigo, menjadi karya yang bisa dinikmati oleh orang yang awam dengan cerita tersebut sekalipun. Keren!
Profile Image for Devi N..
51 reviews1 follower
January 9, 2018
Bagi saya yang mencintai sejarah tentu tidak asing bila mendengar La Galigo. Manurung yang memiliki arti "turun ke bawah" adalah sebuah karya Oddang yang menginterpretasi La Galigo lebih lanjut lagi dalam sebuah diksi-diksi yang hampir sempurna. Menghasilkan 13 pertanyaan terhadap jalan cerita sejarah yang berasal dari Sulawesi Selatan ini.
Profile Image for Miftahul Rizka.
28 reviews1 follower
March 10, 2019
13 pertanyaan yang disimpulkan penulis dari kisah sastra bugis iLaga ligo membawa saya ingin tetap menulusuri cerita nenek moyang suku bugis keluarga saya. Alur,plot dan silsilah keturunan Sawerigading dan ilagaligo dijelaskan secara visual yang sangat menarik. Dan berhasil membawa dunia masa lalu ke masa kini dengan hasil karya singkat seperti ini.
Profile Image for Andria Septy.
249 reviews14 followers
May 14, 2019
membaca buku kumpulan puisi lantaran penasaran dengan tulisan F.O yang sebelumnya saya sudah membaca cerpen dan novelnya. Akhir kata, saya lebih menyukai F.O menulis novel atau cerpen, tapi bukan berarti buku puisi ini jelek lho... sekarang ini, kita berbicara dengan selera baca saya (yang mungkin jelek). Terlepas dari itu, patut kita apresiasi anak muda dari Wajo ini.
Profile Image for Nenden Arum.
19 reviews4 followers
November 13, 2019
Isi ceritanya sangat tersegmen, sehingga orang-orang yang tidak pernah mendengar perihal hikayat Bugis akan sedikit kesulitan untuk mengikutinya. Tetapi, secara konsep, buku puisi ini pantas mendapatkan acungan jempol. Pertanyaan dan jawaban, serta ilustrasi membuatnya menjadi sangat menarik dan menimbulkan rasa penasaran untuk membaca lebih banyak referensi soal kepercayaan orang-orang Bugis.
Profile Image for Alfina.
13 reviews
September 17, 2021
Karena saya dari jawa yang kurang banyak mengetahui tentang cerita di daerah lain, tentu pada akhirnya berpengaruh dalam segi pemahaman saya dalam membaca buku ini.
Buku ini berisi tentang mitologi dari Makassar.
Displaying 1 - 30 of 44 reviews