Jump to ratings and reviews
Rate this book

Reem

Rate this book
Tak ada yang indah saat bersekutu dengan kematian
Sebab, sesudah mati adalah ketiadaan
Aku berharap mendapati suaramu, yang dapat dikenali
di padang luas Mahsyar
Sebab, ke mana hati ingin melarikan diri?

Reem masih ingin hidup sepuluh, dua puluh, bahkan lima puluh tahun lagi bila mungkin. Untuk belajar, melukis, menulis puisi, melintasi perbatasan Palestina, dan merawat anak-anak pengungsi di Jardine d'enfants. Tetapi, kematian telah mengintai dengan pertanyaan dan dunia menyuguhkan ketidakpastian. Setiap kali air mata jatuh, Reem seakan berdoa mengucapkan permintaan terakhir. Ia masih memiliki sisa umur, jadi ia masih boleh mengucapkan permohonan. Kasim pernah meyakinkannya, sekalipun ia tak punya rahim, ia masih bisa menjadi ibu dari anak-anak Palestina.

Reem dan Kasim telah begitu banyak menjalani dialog demi dialog tentang peradaban dan masa depan. Di lorong-lorong kota-kota Maroko tempat mereka bertemu dan kisah cinta itu terpatri. Reem berharap dapat melukis sendiri jalan hidupnya. Tetapi, tak satu pun mengetahui takdir masing-masing. Akankah ia mendapatkan dambaan jiwanya? Atau ia takluk pada takdir yang menjadikannya bidadari yang didamba surga?

352 pages, Paperback

First published August 1, 2017

6 people are currently reading
53 people want to read

About the author

Sinta Yudisia

46 books93 followers
Penulis asal daerah poci Tegal ini, punya nama lengkap Sinta Yudisia Wisudanti. Penulis pernah kuliah di STAN Jakarta sampai tingkat II, mengaku aktivitas tulis menulisnya sebagai bentuk penyaluran dari hobinya berkorespondensi dan membaca. Tak heran kalau tulisan-tulisan fiksinya sangat beragam mulai melodrama, komedi, science fiction, historical fiction, sampai cerita-cerita perjuangan dengan latar dalam dan luar negeri yang kerap menghiasi berbagai media cetak, terutama majalah Annida.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
20 (32%)
4 stars
27 (43%)
3 stars
14 (22%)
2 stars
1 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 22 of 22 reviews
Profile Image for inas.
394 reviews37 followers
October 22, 2023
Huwoooo, aku lega banget akhirnya bisa selesai baca buku ini! TwT

Sebelumnya, berhubung banyak banget review yang ngasih bintang tinggi buat Reem, aku cuma mau ngingetin bahwa review berikut ini lumayan subjektif dan bisa jadi tergolong minoritas. Jadi, buat siapa pun yang setuju dan sukaaaa banget sama apa pun yang dibahas di buku ini, aku sarankan baca review-ku dengan lapang dada dan pikiran terbuka. :3

Baiklah.

Jadi, awal aku bisa baca buku ini karena aku cuma pengin cepet ngelarin. Dan supaya buku ini nggak numpuk kelamaan di TBR pile. Aku sendiri udah tahu sejak awal, bahwa aku kurang sreg sama genre ini. Cerita dan segala macam unsurnya bukan aku banget. Tapi, aku coba baca aja sampe selesai supaya ada tanggung jawab dikit. Masa DNF mulu bawaannya, kan GRC-ku jadi nggak selesai-selesai. Wkwkwk. :P

Cerita ini cukup simpel sih, dan mudah ditebak juga. Tokoh utama ceweknya—Reem—digambarkan cantik, saleh, santun, dan pinter buanget. Di awal-awal juga udah ada petunjuk tentang kondisi Reem, jadi pas twist-nya kebuka, aku biasa aja. Sama sekali nggak mikir “wah, itu ternyata foreshadowing toh, aku kok nggak tau”. Gitu. 'w'

Tokoh lain adalah seorang pemuda Indonesia bernama Fahri Kasim. Hampir sama kayak Reem, doi digambarkan sebagai mahasiswa yang pintar (dapet beasiswa, lagi), saleh, santun, digandrungi banyak cewek, dan apparently terjebak cinta segitiga—dan salah satu ceweknya penyakitan. Sounds familiar? To me, it does.

Salah satu kesamaan dari dua tokoh klise kayak mereka adalah: mereka menonjol karena orang lain enggak. Reem digambarkan cerdas banget karena temen-temen ceweknya masih terkesan centil dan belum bisa mikir buat diri sendiri. Kasim pun terdengar bisa bertanggung jawab karena, well, meski banyak banget orang Indonesia yang sering adzan di tempat mereka berkuliah, tetep Cuma Kasim doang yang cakep-pinter-dan-saleh nggak ketulungan.

I mean, ada berapa kemungkinan sih, tokoh kayak gini eksis? Plus, kalo semua novel bergenre serupa make pola karakter yang sama, tipe-tipe kayak Reem dan Kasim seharusnya banyak, kan? Jadi, ya, kalo mau bilang mereka spesial sih yaaa nggak spesial-spesial amat. (Sebagai tokoh utama ya.) Karena udah banyak yang modelnya begini, wkwkwk.

Reem sama Kasim ini pun kalo ngomong nggak efektif. Misal, si Reem ngangkat satu topik, Kasim langsung iya-iya aja. Trus, begitu diem, Kasim ngangkat topik tadi dan dibahas lagi. Like, kenapa ngasih banter-nya nggak dari tadi aja sih? Kan ekspektasi pembaca jadi mbulet. Yang tadinya mikir “udah selesai nih ngobrolnya”; malah sebenernya masih bersambung. =w=

Tokoh lain yang nggak kalah nyebelin tuh Alya. Dia digambarkan sebagai adik cewek yang muuuuanja dan cemburuan nggak jelas. Dan itu dalam arti harfiah. Nggak ada penjelasan apa pun yang ngasih petunjuk kenapa Alya bisa bersikap kayak gitu. Anak tunggal juga bukan. Pernah kehilangan/ditinggal seseorang kayaknya juga bukan. Intinya, dia takut kehilangan Kasim tanpa alasan yang bisa dilogika. =w= =3=

Makin gemes lagi pas ketemu bapaknya Kasim. Nggak ada petunjuk, nggak ada foreshadowing, tiba-tiba bikin alasan “pokoknya saya sakit, kalian anak-anak harus nurut, langsung nikah yha”. yHa. yHa.

Nah, udah jelas-jelas dimanfaatin gitu, Kasim yang tadinya digambarkan cerdas tiba-tiba kepentok “aku adalah anaknya ayah, selalu nurut, serta gembira~~”

yHa. yHa.

Perkara nikahnya Kasim sama Alya kan sebenernya cuma karena pewaris doang. Si Ayah mikir, cuma cowok yang bisa nge-handle perusahaan sekaligus panti asuhan. Padahal, Alya juga manusia yang punya kapasitas inteligensi yang sama. Dia bisa kan diajari ekonomi, trus disuruh ngurus panti asuhan, tanpa harus nikah dulu sama cowok. (Apalagi setelah nikah, pendapat Alya juga nggak segitunya diperhitungkan. So... :v)

Omong-omong soal nikah, perempuan di buku ini sering digambarkan sebagai istri idaman ketika: mereka bisa menangani urusan rumah tangga (kayak nyuci, masak, dll); jadi sering banget Ilham—temen Kasim—nyuruh Kasim nyari pasangan supaya ada yang ngurusi. Ilham pun sempat bilang, dia pengin bisa menikah sama Alya karena Alya tuh perempuan banget, as in lemah lembut, keibuan, dan pinter ngurusin rumah tangga.

yHa. yHa.

Setelah itu, Reem yang digambarkan progresif di awal, kritis sama banyak hal, peduli sama perdamaian, tiba-tiba bilang bahwa perempuan yang sempurna tuh yang bisa melahirkan. Like????

Logikaku sih, perempuan kan manusia. Bahkan mereka yang mampu melahirkan pun tetep bisa milih untuk nggak melahirkan. Apa itu berarti mengurangi value mereka sebagai manusia? Enggak, kan? Mereka tetep manusia, cuman memutuskan untuk nggak punya anak karena berbagai faktor dan alasan. Udah, itu aja.

Trus, alasan Reem nggak mau nikah sama Kasim juga lucu. Mereka ngebayangin hidup mereka cuma dipenuhi obrolan orang dewasa, tanpa ngobrolin mainan atau berkunjung ke tempat-tempat wisata.

Lha, selama mereka PDKT kan omongannya juga dewasa terus. Kritis. Penuh diskusi. Ya pokoknya yang berbobot lah. Kenapa setelah menikah mereka pengin kualitas berharga itu dihilangkan begitu aja, seolah diskusi yang sebelumnya mereka sukai harus banget hilang setelah mereka nikah? Do they think marriage equals brainlessness? Cinta mengalahkan segala-galanya, termasuk kecerdasan? =w=

description


Satu lagi. Kalo mereka beneran bisa punya anak, apa mereka bakal setega itu buat ngebiarin anak mereka hidup di situasi perang? Iya sih, ada kemungkinan mereka pindah ke negara lain; tapi melihat betapa menggebu-gebunya semangat Reem dan Kasim, kemungkinan ini terjadi bisa dibilang kecil.

Okelah, Kasim maupun Reem bisa bilang bahwa kematian itu rahasia Tuhan. Tetep aja, situasi perang itu nyebabin teror dan ancaman yang nggak jelas selesainya kapan. Apa mereka bener-bener mau ngebiarin (calon) manusia nggak berdosa itu hidup ketakutan? Karena sebelum kematian, masih ada hidup panjang yang durasi kepastiannya juga sama-sama blur kayak kematian. So. :)

description


Sempat juga di awal-awal (hlm. 107), Kasim bilang, kenapa umat muslim “belum meraih pencapaian berarti”. (Paragraf sebelumnya pun ngebahas apa manusia zaman dulu lebih pinter dari manusia zaman sekarang.)

Yah, sayangnya, di zaman sekarang ini hampir segala hal udah ditemukan. Kebanyakan barang upgrade pun kalo nggak gabungan dua ide berbeda, ya penambahan fitur dari penemuan terdahulu. (Contoh: Ms Word 2003 ke 2007 ke 2010, dst.)

Kalo emang mau bener-bener baru, kayak di The End of Science: Facing the Limits of Knowledge in the Twilight of the Scientific Age-nya John Horgan, minimal orang bisa ngalahin teori relativitas. Dan kalo teori bantahan itu terbukti benar, semua yang manusia kenal di dunia ini bakal berubah drastis. Itu yang namanya baru dan maju, karena ngelawan pakem.

Makanya aku tanya, definisi “berarti” itu yang kayak gimana? Kalo semua dipukul rata cuma karena hasil di zaman sekarang yang masih gini-gini aja, terutama menyangkut kontribusi umat muslim, ya, nggak valid juga buat narik kesimpulan dengan terburu-buru gitu.

Hal lain yang jadi keluhan adalah, tiap kali ada kata “Meski” di awal kalimat, penulis selalu ngasih koma. Itu bikin flow kalimatnya aneh.

Plus, meski deskripsi di sini bagus banget, info-info nggak penting yang nggak mendukung plot itu terasa dragging, bahkan menjurus jadi infodump. Apalagi deskripsi itu kebanyakan digambarkan dari segi penglihatan doang. Minus banget yang penciuman, peraba, pendengar, dan pencecap. Jadi kesannya tokoh-tokoh di sini cuma diem, pergi ke suatu tempat, ngobrol, diem lagi, pergi lagi, gituuuu terus sampe rasanya otakku sekarat. Wkwkwk. :')





Sudah, gitu aja. Semoga ke depannya aku bisa lebih didekatkan ke buku-buku bergenre sesuai selera. Wkwkwk.




It’s been a pleasure to be able to finish a book properly, tho. =3=

description
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,494 reviews73 followers
February 7, 2024
Ingatkan aku untuk merujuk pada karya-karya Mbak Sinta Yudisia sebagai contoh untuk merajut narasi dan deskripsi yang indah. Dengan Reem, gadis pujangga dan seniman keturunan Palestina-Indonesia, sebagai salah satu tokoh utamanya, novel ini diwarnai dengan untaian-untaian puisi cantik, deskripsi nan elok, serta dialog-dialog berisi perenungan yang dalam. Momen favoritku adalah saat Bibi Aisyah dan Reem berdialog soal apakah kematian itu secepat kuda-kuda di Chez Ali. Juga ketika Reem berdialog dengan Kasim yang mengatakan bahwa kematian adalah rahasia Tuhan sehingga belum tentu mereka yang sakit, yang lebih tua, bahkan yang tinggal di daerah konflik seperti Palestina bakal dijemput lebih dulu oleh malaikat Izrail.

Endingnya sungguh bikin patah hati. Tapi justru dari situlah pesan yang disampaikan Kasim kepada Reem soal rahasia kematian jadi lebih kuat.

Sejak berita di Palestina marak di media, novel Reem jadi punya antrian baca yang sangat panjang di iPusnas. Setelah ini aku akan coba baca Rinai yang juga sama-sama bicara soal Palestina.
Profile Image for Rahmadiyanti.
Author 15 books175 followers
December 31, 2017
Endorsement saya untuk novel ini:
"Sinta Yudisia selalu berhasil memikat pembacanya dengan karyanya. Narasi yang dibawakan mengalun dramatik. Karakter Reem, gadis Palestina dengan kehidupan penuh luka, bertemu Kasim, penuda Indonesia yang semangat. Plot cerita yang emosional dengan pesan kemanusiaan yang dalam, diselipkan kisah jenaka melalui tokoh Ilham dan Alya. Cerita yang membuat kita tak sabar membuka halaman demi halaman novel."

Waktu diminta memberi endorsement untuk novel ini, saya hanya diberi naskah 3 bab. Tega banget ya? 😜

Setelah baca novel ini secara utuh, sepertinya endorsement tsb tetap cocok ya 😁

3,5 stars untuk Reem.
Profile Image for Aira Zakirah.
174 reviews8 followers
August 22, 2020
Jika waktu adalah angin, maka terbanglah bersama laju udara
Berkelana menuju sudut-sudut dunia
Untuk menemukan hatimu yang masih di sana
Hanya mendengar sapamu,
Yang tidak melupakan namaku..

-Reem (305)

Terjeda sekian lama sejak terakhir kali membaca novel mba Sinta, finally... Saya menemukan kembali momen seperti dulu, zaman santri, melahap novel islami yang dibumbui kisah percintaan sederhana adalah hiburan menyenangkan yang selalu mengisi hari-hari saya. Dari mts menggilai novel hingga ke fase saya jadi lumayan selektif memilih bacaan, menempatkan novel (apalagi roman) di urutan kesekian, tiba-tiba saja membaca ini seperti bernostalgia sebentar. Ternyata ada juga rasa yang entah harus dibahasakan bagaimana, sensasi membaca novel Islam seperti ini memberi euforia bagi saya. *ini review apa curhat sih hahhh

Overall, saya menyukai novel ini. Di bab awal saya merasa penulis berhasil menarik minat atau rasa penasaran pembacanya, dengan narasi dan pilihan diksinya yang apik, saya pun dibuat larut, terus ingin membaca ke bab sela njutnya.

Saya yang memang mudah menangis pun dibuat berkaca-kaca sejak bab pertama sampai ke halaman 24, akhirnya menangis betulan. Sedih, kata-kata penulis menyentuh sisi sentimen saya, ide cerita tenfang Reem, gadis Palestina betul-betul membuat saya tersentuh.

Saya paling suka cara penulis menggambarkan suasana perasaan para tokohnya, setting tempat pun sangat bagus, begitu detil sehingga pembaca bisa merasa melihat sendiri, bahkan seperti hadir dan menyaksikan langsung di lokasi kejadian.

Maroko, Palestina hingga Spanyol, banyak tempat yang menjadi latar cerita membuat saya seperti jalan-jalan, meneguk keindaham dari kota-kota yang belum pernah saya pijaki, mempelajari irisan kecil sejarahnya. Salah satu keunggulan novel memang ketika pembaca tak sekadar mendapat bacaan yang menghibur tapi juga bisa menyerap banyak informasi sekaligus mendapat puisi-puisi manis yang banyak disisipkan penulis dalam ceritanya.

Meskipun ending novel ini sudah bisa ditebak saya tetap menaruh keinginan untuk membaca ulang novel ini. Jujur, saya memiliki ketertarikan khusus atau semacam kegemaran terhadap bacaan yang menyinggung "kematian" dan saya menemukan Reem begitu dalam mengulik pikiran dan perasaan saya yang belakangan sering sekali ke sana "ke takdir yang pasti setiap manusia" bahwa jodoh setiap manusia memang Izrail pada akhirnya.

Novel penuh hikmah dan renungan ini lumayan menyentak kesadaran saya. Terimkasih mba Sinta Yang sudah menjahit cerita yang menyentuh ini. (:
Profile Image for Kurnia Dwi Aprilia.
217 reviews4 followers
May 18, 2020
📿Dari awal baca novel ini udah berasa sih dramanya. Dan ternyata ke belakang2 lebih terasa lagi. Sebenarnya banyak hal yg agak awkward di alur cerita. Kayak yang.., 'gitu banget ya?', 'Eh ini drama banget', 'Kok, kenapa terkesan dipaksakan begini?', yg semacam itulah pokoknya. Tapi salutnya, ada banyak pesan yg bisa dipetik. Tentang dzikrul maut, ttg Palestina, ttg perjuangan, ttg ketulusan cinta, ttg Al-qur'an, juga sejarah, budaya dan keindahan negeri Timur Tengah khususnya Maroko.

📿Jadi pengen punya abang kandung. Seru kayaknya ngerasain posisi serta feel antara Alya dan Kasim. Ditambah kelucuan tokoh Ilham yg sangat menghibur.

📿Gambaran tentang Maroko, arsitekturnya, bangunannya, budayanya, pakaiannya, menarik sekali. Jadi pengen nyoba menjelajah Maroko. Ke Kota Faz, ke Kota biru. Duuuh cantik banget kayaknya.

📿Tau suku Bar2? Apa yg ada di benak teman2 saat mendengar kata Bar2? Pasti yg terlintas adalah kekerasan dan tidak tau aturan. Tapi sebenarnya tidak sepenuhnya begitu. Suku Bar2 memiliki cita rasa seni yg amat tinggi. Suku gurun pasir memang memiliki watak yg keras. Lingkungan geografis berpengaruh terhadap watak seseorang. Watak keras tidak selalu identik dengan perilaku tidak berbudi. Bangsa Palestina juga tinggal pada lingkungan geografis yg keras. Gurun pasir, batu, sedikit curah hujan, ditambah situasi perang. Tp yg kita ketahui, kebanyakan orang2 Palestina perangainya lemah lembut. Mengapa? Setiap keluarga Palestina selalu memiliki penghapal Quran di dalamnya. Sangat memalukan jika di dalam sebuah keluarga tidak ada penghapal kitabullah. Quran adalah pelembut hati, obat bagi hati yg angkuh dan keras, pelipur lara bagi hati yg sakit dan luka (di bagian ini nih pesan paling da best-nya).

📿Kematian itu sungguh dekat. Bisa menimpa siapa saja, di mana pun dan kapan pun. Tidak harus tua, sakit, renta, lemah, miskin, yg sehat, muda, kaya, bugar pun bisa meninggal kapanpun ajalnya datang. Maka, masihkah bisa bertemu Ramadhan tahun depan? Sementara di Ramadhan tahun ini.....
Ah, malaikat juga tau lagi2 akan kelalaian ini..
Profile Image for Yuning Rohmawati.
1 review132 followers
January 29, 2018
"Untuk anak-anak di penjuru dunia,
Berbahagialah
Ketika perang bukan menjadi keseharian kalian
Tidak seperti kami, anak-anak Palestina
Buku kami bertabur debu mesiu
Pena kami dipatahkan butir peluru
Lagu kebangsaan kami dinyanyikan penjara tak berpintu

Untuk kalian, anak-anak dunia
Berdoalah bagi kami anak-anak Palestina
Meski kami tidak berayah, tidak beribu
Kami hidup dalam persaudaraan dan semangat juang
Meski pada akhirnya, kami berbaring di tanah liang
Jangan menangis di kuburan kami!
Sebab kami tidak mati."

Adalah Reem, perempuan kelahiran Palestina yang tumbuh besar di negeri Maroko. Maroko merupakan 1 dari beberapa negara yang memberi penampungan pada warga dari daerah konflik seperti Palestina dan Suriah. Ayah Reem berasal dari Palestina, sedangkan Ibunya dari Indonesia. Keduanya berprofesi sebagai dokter. Sayangnya, Reem kecil harus menyaksikan Ibunda tercinta meninggal tepat di depan mata saat tanah Palestina dibombardir oleh zionis. Kenangan traumatis itu tak bisa hilang dari ingatan Reem, meski kini ia berada jauh dari Palestina.


Kasim, Alya (adik Kasim), dan Ilham adalah mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di negeri yang sama dengan Reem. Kasim sendiri tengah melakukan penelitian tentang kecerdasan bahasa di daerah konflik. Kasim sangat antusias menjadikan Reem sebagai subjek penelitiannya. Seorang narasumber berharga bagi Kasim. Menyelami kisah Reem, berdialog dengannya tentang hubungan Indonesia-Palestina, membuat Kasim perlahan jatuh hati pada Reem. Jatuh hati memang banyak cobaannya.

Selalu suka dengan gaya penulis- Sinta Yudisia- menyajikan karakter & konflik sosio-psikologis ditiap tokohnya.

Belajar dari novel Reem, masing-masing dari kita punya 2 takdir yang sudah pasti: jodoh dan kematian. Entah mana yang akan terlebih dahulu akan menghampiri kita. Maka yang bisa kita upayakan adalah mempersiapkan sebaik mungkin kalau sewaktu-waktu kepastian itu datang.
Profile Image for if knis.
6 reviews
October 9, 2021
"Kematian memang menakutkan, Tapi bukan berarti dalam hidup tidak ada kebahagiaan sama sekali, tidak ada harapan sama sekali" (hal. 235)

『••✎••』『••✎••』『••✎••』『••✎••』

Reem Radhwa, seorang gadis berdarah Palestina-Indonesia mengikuti banyak perjalanan Baba dan Ummi, yang merupakan seorang tenaga media relawan di Palestina. Hingga suatu kejadian menyebabkan Reem menetap di Maroko, bersama Bibi Aisyah

Bertemu dengan Kasim, seorang mahasiswa Indonesia tingkat akhir yang tengah menyelesaikan tesisnya

Kedekatan Reem dan Kasim terjalin pada awal pertemuan mereka di depan gedung Parlemen yang tengah mengadakan aksi demonstrasi Palestina. Dimana pekik takbir membelah safir langit kota Rabat. Pertemuan itu terus terjalin hingga mendalami kota merah Marrakech, kota biru Oudaya, dan kota putih Fez Al Jadida.

Hingga hari suci itu tiba, hari dinyanyikan nya ala dalouna selepas sholat Jumat. Kasim meminang Reem, dengan menyenandungkan surat Ar Rahman, surat yang dijanjikan sebagai mahar selain Cincin dan Abaya. Hingga ketika kepak sayap malaikat melambai halus, siutannya menimbulkan pusaran angin dan gelombang gurun.

" Cincin dan Abaya itu ikut hangus, tapi surah Ar-Rahman kita akan tetap abadi" - Reem Radhwa (hal. 348)

『••✎••』『••✎••』『••✎••』『••✎••』

Suka banget dengan segala detail yang digambarkan penulis. Membuat kita ikut merasakan, mendengar suasana disana. Selain alur Reem-Kasim yang membuat hatiku teriris-iris, interaksi Alya-Ilham pun sukses membuatku tersenyum jenaka.

Walau di awal sudah ada rasa curiga dua hingga tiga kali, namun plot twist yang terjadi selalu sukses membuat dada ku sesak. Buku ini benar-benar mengiris hati.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Ibuk Oemar.
19 reviews1 follower
January 25, 2023
📚 REEM

Penulis : Sinta Yudisia
Penerbit : Mizan Pustaka
Tahun : 2017
Tebal : 350 hlm

Baca via @ipusnas.id

Kisah tentang Reem Radhwa, gadis berdarah murni Palestina-Indonesia yang tinggal di Maroko. Kehilangan Ummi sejak kecil, ditinggal Baba nya melawat ke satu kota ke kota lainnya, membuat Reem tinggal bersama bibi Aisyah.

---
Awalnya aku mengira ini hanya tentang "Palestina", ternyata aku salah menduga. Ini keren banget ماشاءالله ♥ Detail menceritakan negeri Maroko, juga tidak lupa kisah utamanya, tentang "Palestina".

Awalnya aku mengira ini kisah "hati" seperti biasanya. Awal-awal membaca mengira ohh seperti ini, akan berjalan lancar. Begitu sampai pertengahan mendekati akhir, BOOM!!! Nggak keduga sama sekali! 😳

Lewat kisah Reem, seharusnya kita bersyukur hidup tanpa ancaman senjata, tanpa melihat darah, tanpa diliputi perasaan ngeri. Lewat kisah Reem dan Kasim, kita bisa memetik hikmah, cinta sejati seharusnya tanpa menuntut apa-apa selain ridha Allah swt saja..

“Seorang perempuan tidak kurang mulia, tidak hilang keperempuanannya hanya karena dia tidak mampu punya anak. Bunda Aisyah, tidak pernah menjadi Ibu. Tapi, dia adalah ummahatul mukminin, ibu bagi orang-orang mukmin. Siapakah yang meragukan kemuliaan Bunda Aisyah?” hlm. 338

Novel ini wajib dibaca! Recomended 😍
Profile Image for Neneng Lestari.
300 reviews1 follower
October 26, 2017
Pertama kali baca blurbnya, udah aku duga bau-bau bikin baper nie. Belum lagi aku pikir setting novel ini adalah Palestina, tau kan gimana nasib saudara-saudara kita di negara tersebut? bapernya sih betol, 100% baper malah, tapi untuk settingnya ternyata di Maroko.

Gambaran Palestina kebanyakan aku dapatkan dari dialog Reem-Kasim. Reem yang memang kehilangan ibunya disana, dan pernah tinggal disana menggambarkan bagaimana negara tersebut. negara yang selalu diliputi perang tapi mampu bertahan dan masih bisa mencetak anak-anak penghapal Alquran. Masya Allah!!! Kebayang nggak? Negara yang dihujani bom gitu aja masih bisa mencetak generasi-generasi yang membanggakan. Sedangkan dari Kasim, aku lebih menghargai kenapa seseorang harus mencintai negara tersebut. Reem-Kasim ini bagaikan dua jendela yang memperlihatkan Palestina secara berbeda kepada mata dunia.

Full Review: https://ntarienovrizal.blogspot.co.id...
Profile Image for Puella.139.
27 reviews4 followers
November 21, 2017
Palestina-Indonesia-Maroko adalah daya tarik yang membuat aku penasaaran untuk membaca kisah Reem ini. Gaya bahasa yang mudah diikuti bikin aku jatuh cinta sejak hlm awal novel Reem. Diksi yang penulis rangkai Indah. Penggambaran kota-kota di Maroko merayu aku ingin pergi kesana. Percakapan Reem dan Kasim banyak menambah wawasan aku tentang berbagai hal.

Memakai sudut pandang orang ketiga gak menghalangi kakak penulis mengajak aku mendalami setiap tokoh yang beliau ciptakan. Setiap tokoh mempunyai karakter yang kuat. Penulis berhasil membawa aku merasakan apa yang Reem rasakan. Seperti apa rasanya jadi Kasim.

Alurnya berhasil mengaduk-aduk perasaan aku. Plot twist-nya bikin aku melongo gak percaya. Rasanya masih gak terima sampai sekarang setelah selesai baca. Itulah inti pesan moral tang ingin disampaikan kakak penulis di novel ini. Pecinta Romance-islami aku rasa gak akan menyesal membacanya. Cz, bertebaran pesan moral dalam setiap hlm buku ini.
Profile Image for Bulan Maharani.
1 review
April 16, 2021
Kebetulan saya baca buku ini pas bulan Ramadhan, jadi vibesnya lumayan kerasa banget. Pas banget kalau dibaca sambil nungguin buka puasa. Rasanya kayak ngabuburit sambil keliling kota Maroko.

Puisi-puisi nya Reem, apalagi yang tentang Palestina itu, amat sangat menyayat hati. Gak jarang, penulis membahas hubungan baik antara Palestina dan Indonesia, rasanya ada kebanggaan tersendiri.

Makasih penulisnya, sudah menemani saya yang gabut nungguin buka puasa.

Ceritanya terlalu plot twist buat saya. Apalagi endingnya, yang tak terduga itu bikin saya kecewa. Yang namanya pembaca, ya bisanya cuma menduga-duga. Sebab yang punya kuasa cuma penulis aja.
Profile Image for Ashri.
133 reviews6 followers
February 19, 2022
Ada dua hal dari buku ini yang terus menjaga agar tetap dibaca. Satu, Palestina. Dua, hubungan dalam keluarga. Sayangnya, beberapa salah tik membuatnya tidak bisa ber-bintang lima bagi saya. Satu bintang lagi berkurang karena nyaris 2/3 bagian awalnya terasa bagai sinetron tipikal tanah air. Pada 1/3 bagian akhirnya, jalan ceritanya menjadi semakin terang untuk ditebak. Siapa yang mencari puisi dan Palestina, silakan membaca buku ini.
Profile Image for VINA.
11 reviews
April 9, 2023
Di awal cerita tergambarkan gimana keadaan palestina dan anak-anak di Gaza yg tiap hari kehilangan orang yg dicintai dan terus dapat ledakan bom. Disini nggk cuma bahas percintaan tapi juga kehidupan, perjuangan. Akan termotivasi untuk kamu yg mau berjihad dan jadi perempuan akan mental yg kuat salah satunya dengan dekat dengan anak² palestina.
Profile Image for Muhammad Rosyid.
18 reviews1 follower
October 4, 2018
Buku yang sangat menarik bagiku, dengan latar tempat di Maroko, saya jadi kembali membaca dan mempelajari sejarah islam di Maroko dan Andalusia yang berada hanya diseberang selat.. Endingnya itu hlo.. huummbb.. Keren lah..
1 review
August 21, 2018
Jujur pertama kali liat buku ini ngebaca di bagian belakang buku dan itu sudah membuat saya terharu.

Banyak dialog yang di dalamnya membuat saya terpukau.
Profile Image for Ratih Cahaya.
413 reviews7 followers
January 11, 2020
Buku ini berhasil bikin aku pengen ke Maroko dan kuliah lagi. Novel tentang cinta yang romantis, menyentuh, dan mendewasakan. Suka banget juga pokoknya.
Profile Image for Felita.
1,224 reviews52 followers
October 12, 2018
Sungguh, Sinta Yudisia patut diacungin jempol. Untuk penulis indonesia, tulisan mba Sinta detail akan deskripsi, sebutlah negeri Maroko tempat latar belakang cerita digambarkan dengan deskripsi yang khas. Tak lupa dengan deskripsi kehidupan mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil kuliah di Maroko.

Namun ke-detailan itu terkadang agak kurang tepat peletakan di cerita. Kalau aku pribadi, lebih suka ketika pas masuk adegan menuju klimaks, ngga usah ditulis banyak deskripsi detail tersebut. Cukup dengan penggambaran perasaan tokoh utama saja.

Kemudian dengan tema Palestina, wajar sih ceritanya sedih, cuman karena udah pernah baca tulisan Khaled Hosseini, jadi terasa agak terlalu cepat untuk alur tensi cerita. Ada kesan "ngebut" di tengah cerita. Sedangkan di awal, tensi cerita lambat yang menurutku oke untuk memperkenalkan pembaca pada tokoh Reem, Kasim, Alya dan Ilham. Padahal di pertengahan cerita itu, konflik bermunculan.

3 bintang
Profile Image for Shalma.
95 reviews
July 3, 2025
#reread

Saya mendapat buku ini sebagai kado ulang tahun dari salah satu sahabat saya sekitar tahun 2017. Saya bukan penggemar novel dengan latar Islami, namun novel ini saya rasa cukup menyenangkan, menenangkan, namun juga meresahkan untuk dibaca.

Saya ingat saya yakin sekali dengan bagaimana cerita di buku ini berakhir, hingga kemudian saya agak terkaget dengan plot twist di pertengahan dan total shock dengan plot twist besar di akhir. Benar-benar, deh. This book had me in the last part.

Saya suka dengan love-hate relationship antara Ilham dan Alya, meskipun sempat terpengaruh oleh konflik cerita mengejutkan part 1: konflik keluarga Alya dan Kasim. Karakter si Ayah benar-benar menjengkelkan untuk dibaca, cenderung egois, memaksakan kehendak, namun dengan gampangnya kabur kedalam penyakitnya setiap kali Kasim atau Alya berusaha memberitahu si Ayah mengenai hal-hal yang benar. Untunglah karakter Alya memiliki tekad yang kuat dan keteguhan hati sehingga konflik bisa diakhiri dengan baik. Kalau boleh saya bilang, pandangan orang tua Kasim dan Alya benar-benar aneh, dan agak gila.

Overall, menurut saya buku ini bagus. Gaya penulisannya tenang dan kalem, sopan. Puisi-puisi Reem Radhwa juga enak dibaca. Karakter Kasim benar-benar sebaik-baik laki-laki, dan karakter Reem benar-benar sebaik-baik perempuan (yang tidak terlalu cocok untuk saya, saya butuh humor dan perdebatan lucu seperti hubungan Ilham dan Alya). Saya harap dimanapun Reem Radhwa sekarang berada, dia akan selalu bahagia.

#FreePalestine🇵🇸
Displaying 1 - 22 of 22 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.