Kebayang nggak, ada cowok yang menulis buku harian juga hobi masak? Itulah Devano Michiavelly yang ganteng, populer, dan tajir. Tak ada yang tahu dua hobi Vano yang ia anggap memalukan dan merusak citra diri itu kecuali beberapa sahabatnya. Paling tidak sampai kemunculan seorang cewek tomboi bernama Valen.
Hidup Vano yang tenang dan damai serta tampak cuma punya satupersoalan—bagaimana pindah ke lain hati alias move on dari Kensa—berubah jadi penuh drama setelah bertemu si tomboi. Valen sering kali menyebalkan dan mengancam akan menyebarkan ‘aib’ si cogan itu bila tak mau berpura-pura menjadi kekasihnya.
Ini adalah kisah tentang persahabatan dan cinta. Betapa sesungguhnya banyak hal akan jadi lebih mudah bila kita jujur dan terbuka: terhadap perasaan, juga terhadap yang benar-benar kita anggap berharga.
Hum, sebelumnya halo dulu buat author yang sefakultas sama gue #dilempar
Oke, langsung review. Buku ini merupakan buku teen romance. Jadi wajar sih kalau yang diangkat itu cuma romansanya doang. Ada beberapa plus minus dari buku ini.
(+) Ceritanya ringan banget, baca sehari udah selesai. Gaya cerita yang cukup hidup. Layout yang bagus (bravo layouter bukune!) Tokoh yang nggak biasa. Momen momen yang cocok untuk romansa remaja. Narasi sedikit dan banyak dialog masih cocok untuk fiksi remaja.
(–) Pengelolaan konflik kurang. Konflik utama baru muncul di halaman halaman 100+ dan penyelesaiannya terkesan buru-buru. Disebut sekuel Blacky White, tapi nggak juga menurut gue. Soalnya gue tetap nyaman dan nggak bertanya banyak soal cerita meskipun nggak baca blacky white dulu. (gue udah baca kok btw) Sifat cowok yang suka nulis diari dan masak tidak digali lebih dalam. Padahal di blurb ini disorot. Ending yang sangat nanggung (ini subjektif ya.) Jadinya teman tapi mesra gitu? Lucu sih. Kalau mau pacaran pacaran aja. Kalau gak iya nggak sekalian. Kecuali kalau memang mereka pengen sahabatan sejak awal.
seru banget berasa ikutan didalem novel ini, baru pertama kali nemuin cowok nulis dairy sampe dia dewasa, kocak banget deh humor banget baca ini novel untuk endingnya hmmmm kenapa begitu sih thor