Jump to ratings and reviews
Rate this book

Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat

Rate this book
Roman ini menunjukkan keseriusan menjelajahi secara kritis pengalaman penulisnya di tanah tumpah darahnya sendiri. Memeriksa timbunan pengetahuan lokal dan mengartikulasikannya dengan bahasa etnografis pengalaman keagamaan dan godaan seksualitas sebuah hiburan. Yang suci dan profan, yang sakral dan banal bercampur membentuk cerita yang memikat.

Muhidin M. Dahlan


Novel Kedung Darma Romansha ini bercerita tentang dunia prostitusi, panggung dangdut, pergaulan para pemabuk dan tukang kelahi. Adegan seks dan kata-kata kasar bertaburan. Namun uniknya, novel ini tidak terkesan vulgar. Mengapa demikian? Saya rasa hal itu terkait dengan nada penulisan dan posisi narator. Narator berada pada posisi netral: dia tidak memberi penilaian moral apapun, baik dalam arti menghakimi perilaku tertentu, maupun sebaliknya, yaitu merayakan atau membela perilaku yang berada di luar standar moralitas yang menjadi pegangan mayoritas orang Indonesia. Di samping itu, penulis menaruh perhatian pada detail-detail penggambaran suasana, juga bahasa dan gaya pergaulan lokal, yang terkesan cukup realistis dan berbasis pada riset lapangan. Dengan demikian, lingkungan dan perilaku manusia yang diceritakan sekadar hadir sebagai sesuatu yang memang eksis, dan menarik sekali-sekali dilirik, serta dimasuki lewat dunia khayal sebuah novel. Mau dihakimi, dinikmati, atau sekadar diamati, itu terserah pembaca.
Katrin Bandel, kritikus sastra

414 pages, Paperback

First published June 1, 2017

16 people are currently reading
132 people want to read

About the author

Kedung Darma Romansha

8 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
28 (28%)
4 stars
35 (35%)
3 stars
29 (28%)
2 stars
7 (7%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 23 of 23 reviews
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews68 followers
December 22, 2019
Buku ini bikin capek!

1. Ceritanya rauwis-uwis. Mbulet ke sana-sini tanpa kejelasan, kayak hubungan. *hilih!
2. Tokohnya banyak banget astagaaaa... Banyak tokoh yang kadang terkesan cuma tempelan dan kalau nggak ada pun, ya, gpp.
3. Tapi dari segalanya, yang bikin capek adalah membaca komentar tetangga soal kehidupan dan aib dari para tokoh di buku ini. Mungkin ini nilai tambah si penulis karena maksudnya tercapai, tapi sungguh ku tak sanggup pada kesinisan dan sindirian orang-orang yang merasa Mahabenar segalanya. Ini lebih bikin capek soalnya menguras emosi, sih. Gambaran tetangga rumpi tiada henti itu bikin pengen raupin sambel sekilo ke bibirnya.
4. Endingnya seketika bikin pengen banting buku ini. 11-12 sama Kelir Slindet. Gantung amat, udah kayak hubungan! *heh, lagi?

Terlepas dari penulis berhasil menggambarkan kehidupan masyarakat Pantura dengan baik dan walaupun membaca buku ini sampai harus dilompati beberapa buku lain, aku bersyukur akhirnya bisa menyelesaikan buku ini.

Buku ke-25 dari 25 target buku di 2019!
Profile Image for Nurina Widiani.
Author 2 books15 followers
November 5, 2017
Makin suka dengan Safitri dalam novel ini, walau jalan hidupnya masih bikin nangis :(
Novel ini terlalu realistis, potret-potret kehidupan masyarakatnya benar-benar jujur apa adanya... nggak ada dongeng indah di dalamnya, hanya realita kehidupan yang menohok, yang menggugat nurani saya sebagai pembaca.
Well, gaya narasinya memang sedikit berbeda dari novel sebelumnya—Kelir Slindet—lumayan membuat saya jengkel karena muter-muter dan dilempar dari satu narator ke narator lainnya, padahal saya cuma penasaran siapa yang menghamili Safitri. Hingga akhirnya saya ditohok... lha terus kenapa kalau saya jadi tahu pelakunya? Apa gunanya bagi saya? Dan saya jadi malu karena sudah mengintip kehidupan Safitri, Mukimin, Govar, Sondak, Saritem, Mak Dayem, dan lain-lain melalui novel ini. Lalu apa bedanya saya dengan orang-orang bermulut usil yang demen mencampuri kehidupan Safitri??? Halah kirik! Wkwkwkkk~~
Profile Image for Yoyovochka.
311 reviews7 followers
January 14, 2023
Buku ini Indonesia banget. Bercerita tentang Diva Fiesta alias … yang memiliki masa lalu kelam sekaligus misterius. Kisah yang ada di dalam buku ini diceritakan dari sudut pandang banyak orang: Aan, Govar, Kriting, Mukimin, dan Diva alias… Diva ini penyanyi dangdut sekaligus telembuk alias PSK yang membuat jalinan cerita ini semakin berbelit karena keempat sobat masa lalunya tanpa sengaja mengenalinya saat manggung.

Ada banyak kata kasar dan tak senonoh di sini yang anehnya nggak terasa kasar buatku karena pas🙈penempatannya. Agak2 ngilu dikit lihat masa lalu si Diva ini. Tapi jujur buku ini sangat Indonesia karena orang-orangnya begitu Indonesia dan budayanya itu loh.

Suka banget, nggak nyesel beli buku ini
Profile Image for Kahfi.
140 reviews15 followers
October 10, 2021
Selain tentang kisah percintaan yang menyedihkan, sebenernya buku ini merupakan kumpulan masalah sosio kultural yang ada di Indramayu.

Daerah penghasil padi namun belum sejahtera, tingkat pendidikan warganya masih rendah padahal 3 jam jarak dari ibu kota, sampai penyuplai tenaga kerja untuk dipekerjakan di luar negeri.

Dan dunia pertelembukan yang menjadi kata kunci ketika membicarakan Indramayu dibalut dengan cerita yang kaya karakter sampai akhir yang tidak tertebak karena penulis seperti memperlihatkan sisi paling primitif dari kita yaitu ingin tahu lebih tentang kehidupan orang lain.
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews44 followers
September 30, 2021
Hmm, hal paling menarik dari buku ini ya tentang prostitusi dan kehidupan masyarakat di pantura itu. Bikin semakin sadar, meski tinggal di Jawa dan sering dengar pantura dan Indramayu, tapi ya sebatas dengar saja. Banyak cerita tentang kehidupan di sana yang saya tidak tahu.

Hubungan antara kehidupan masyarakat dan agama, dengan gosip dan obrolan warga, dengan kehidupan hingar bingar politik di ibu kota yang ternyata berimbas nggam enaknya, semua ada di sini. Belum lagi tentang kehidupan kompleks tokoh karakter utamanya yang jadi telembuk ini (baru tahu arti kata ini.)

Kadang bikin bingung sih tapi. Berputar-putar ke sana ke mari, mbulet, dan kadang kelewat siapa yang cerita tentang apa. Bahkan karakternya sempat tertukar. Tapi senang setelah selesai.

Pertanyaannya, apakah saya harus baca buku pertamanya (iya ternyata ada pendahulunya, Kelir Slindet) dan buku ketiganya?
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
February 1, 2018
Antara riset tentang dunia prostitusi yang mendalam atau ingatan penulis tentang kampung halaman yang tajam. Sungguh, ini karya yang bagus sekali.

Awal membaca, saya agak kaget mendapati bahwa novel ini adalah dwilogi, dan ini adalah novel keduanya. Apakah saya bisa mengikuti ceritanya? Ternyata, di awal kisah, ada rangkuman novel pertamanya, Kelir Slindet, yang menurut saya sangat membantu untuk memahami konflik di novel Telembuk ini.

Berlatar belakang Indramayu tahun 90an, Telembuk bercerita tentang seorang gadis bernama Safitri dan lika-liku kehidupannya mulai dari kembang desa penyanyi kasidah, lalu banting setir menjadi biduan dangdut, dan yang terakhir menjadi pelacur (Telembuk). Selain itu, kisah cintanya yang berliku dan tragis pun ikut mewarnai 410 halaman buku ini.

Yang menarik, keseluruhan novel diceritakan oleh empat Point of View dengan eksekusi yang bagus sekali. Tidak terlihat ketimpangan antara pencerita satu dan yang lain. Uniknya lagi, karakter-karakter di dalam novel seperti hak veto untuk memperjuangkan jalan hidupnya dalam novel tersebut. Tetiba mereka muncul dalam satu bagian, dan memprotes mengapa mendapat bagian yang sedikit dalam novel, atau meminta penulis membuat nasib karakter lainnya berakhir tragis karena dendam. Bagian lain yang saya sangat suka adalah lirik-lirik dangdut dan pantun Sunda, yang meskipun saya tahu artinya dari baca terjemahan, terasa sangat indah dan sesuai dengan konteks kisah.

Ini tulisan Kedung yang pertama yang saya baca. Saya menjadi penasaran dengan novel pertamanya, Kelir Slindet, yang menurut penulis disensor di beberapa bagian karena terlalu ekstrem. Kesimpulan saya, sangat direkomendasikan!
Profile Image for Wahyudha.
444 reviews1 follower
January 20, 2023
Telembuk ada karena kesempatan itu diberi. Baik oleh masyarakat atau kaum tetangga yang pada umumnya suka menghakimi bilamana ada wanita yang tiba-tiba hamil meski tidak tahu disebabkan oleh musibah. Dan oleh si pelaku sendiri yang sudah merasa Terlanjur lalu menikmati.

Ya novel ini cukup menggambarkan salah bagian kehidupan masyarakat Indonesia. Selain hamparan sawah dan ketergantungan pada musim dalam mencari nafkah.Juga tentu disediakan arena pertarungan politik di kancah lokal alias kelurahan atau Hulu sebutannya dalam Novel ini.

Para tokohnya adalah para sahabat karib yang tak lekang waktu. Yang seperti kehidupan perlu perubahan menyesuaikan zaman.

Di tengah suara merdu pengajian itu juga bersanding suara musik dangdut. Masyarakat yang diberi pilihan hendak belok kanan atau kiri.

Sampai ceritera ini berakhir.Masih ada misteri yang belum tamat atau memang dibiarkan begitu.Dan sebuah nasib yang harus ditelan secara legowo.
Profile Image for ucha (enthalpybooks) .
201 reviews4 followers
November 17, 2017
Jika novel ini ibarat masakan, semua bumbu cerita cukup menjanjikan akan hidangan yang enak : dangdut, tarling, pantura, kelahi dan telembuk. Hanya saja sepanjang 400 halaman, banyak cerita dengan alur membingungkan bagi saya. Ada bagian yang terlalu banyak, dan yang lain tidak cukup hingga racikan yang tersedia belum cocok bagi pengunyah satu ini. Terutama adegan pemerkosaan di kereta, bagian yang paling tidak saya suka cara penceritaannya.

Salah satu yang menyelamatkan adalah setting lokasi sepanjang Patrol, Eretan, Dermayu dan sekitarnya cukup familiar karena itu tempat ayah saya menghabiskan masa kecilnya. Novel ini menyambungkan dengan cerita nostalgia yang sering dipaparkan olehnya.
Profile Image for Said Agung.
7 reviews1 follower
November 17, 2017
Cerita-cerita dari daerah memang memiliki ke-khas-an tersendiri, dan bagiku eksplorasi cerita dari daerah menarik untuk disimak. Kedung berkisah tentang Telembuk dengan memberi kejutan-kejutan kecil di tengah dan akhir cerita sehingga Telembuk tidak membosankan.
Profile Image for Safara.
413 reviews69 followers
May 22, 2021
Settingsnya bertahun-tahun setelah Kelir Slindet. Beneran lambe netijen tuh bisa membuat nasib orang lain jadi berubah 180°......
34 reviews4 followers
December 29, 2017
Membincang "Telembuk" karya Kedung Darma Romansa berbicara persoalan sosial keagamaan, dan gender sekaligus. Novel ini bersetting di Indramayu, tepatnya di sebuah Desa "Cikedung". Di daerah Pantura jamak adanya aktivitas pertelembukan dibalut dengan nyanyian dangdut nan erotis. Aktivitas pertelembukan, seolah menjadi budaya masyarakat di Pantura. Menjadi semakin kompleks ketika agama, biasanya menjadi basis kuat di kawasan pesisir. Sebenarnya dalam Telembuk ini mempertentangkan dua hal yang diposisikan saling berhadapan. Dalam hal ini saya menggarisbawahi tiga hal.

Pertama, pergulatan sosial masyarakat desa vis a vis masyarakat kota. Masyarakat desa yang berbasis kolektif sosial dimana kesalingterikatan masih intens dijalankan. Konstruksi sosial tersebut mengakomodir terjaganya tradisi budaya, religiusitas, dan nilai-nilai masyarakat. Kondisi itu menjadi kontradiktif ketika sistem sosial masyarakat kota perlahan-lahan masuk ke dalam sistem sosial masyarakat desa; seperti pergaulan bebas, teknologi, materialistis, dan individualistis mulai menjangkiti masyarakat Cikedung. Sayangnya perubahan sosial tersebut diterima begitu saja, tanpa seleksi terlebih dahulu.

Kedua, dalam Telembuk ini seperti cerminan adanya agamawan yang sibuk dengan ritual agama, dan mengurusi komunitasnya sendiri. Pada dataran ini, agama menjadi kehilangan spiritualnya sebagai transformation of social change ketika hanya sibuk terhadap kesalehan individualis, acuh terhadap komunitasnya yang lain. Sehingga agama berubah menjadi limited, sebatas status, bahkan menjadi alat propaganda politik saja. Terbukti agama seperti gagal menetralisir adanya perilaku negatif masyarakat; seks bebas plus perilaku minum minuman, seks bebas, pemerkosaan, pembunuhan maupun konflik sosial lainnya.

Ketiga, dilihat dari kaca mata gender apa yang dialami Safitri sebagai tokoh utama seolah memberikan gambaran begitu kerasnya konflik batin (katakanlah PSK) dengan lingkungannya. Di satu sisi, dia begitu saleh sewaktu belum dewasa tapi karena konstruksi sosial yang kurang mendukung akhirnya dia terjebak sebagai telembuk. Tidak bisa dipungkiri adanya kekerasan pada perempuan, termasuk kekerasan seksual pada perempuan terjadi karena adanya jurang patriarkhi dimana wanita dikenal sebagai masyarakat kelas kedua saja. Para telembuk distreotipkan sebagai wanita pengolah erotisme pemuas birahi belaka yang bisa dimaterialkan, akibatnya wanita dipandang hanya sebagai obyek seksualitas. Dari sini bisa dipahami bahwa adanya telembuk tidak semata-mata faktor sensualitas saja tapi lebih karena faktor keterdesakan ekonomi dan minimnya pendidikan.

Apa yang ingin disampaikan @kedung sebagai santri sekaligus budayawan mungkin ingin melegitimasi bahwa tradisi perlu dilestariakan sekiranya itu baik tapi ditinggalkan diganti budaya baru yang sekiranya lebih baik "al-muhafadzatu 'ala al-qadim ash-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah" tentunya dengan lebih selektif. Kedung sekiranya juga mengangkat fenomena sosial di sekitarnya, seolah membuka mata sekaligus melakukan kritik sosial.

Telembuk menjadi bacaan yang seharusnya dinikmati perlahan-lahan, karena tiap lembarnya membuat penasaran pembacanya seperti merangkai puzzle-puzzle sampai lembar terakhirnya. Bahkan sampai lembar terakhir juga ceritanya belum berakhir, Kedung memilih pembacanya menyimpulkan sendiri. Bagi saya kompleksitas dan kerumitan Telembuk lebih layak menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini, sayangnya masuk shortlist saja ya. Tapi selamat untuk abang Kedung.
Profile Image for Ilham Rabbani.
20 reviews4 followers
January 10, 2022
Membincang novel Telembuk (2017) karya Kedung Darma Romansha, sedikit tidak kita akan dipaksa bersinggungan dengan dua setting yang secara hakiki berpasangan dan saling melengkapi tersebut. Sutan Takdir Alisjahbana, lewat sudut pandang masing-masing puisi hasil karya-cipta masyarakat lama dan masyarakat baru (modern), ia menarik ke belakang penjelasannya hingga sampai pada penjabaran karakteristik kedua situasi dan kondisi masyarakat (lama dan modern). Setting kota sebagai tempat berjubelnya masyarakat penghalal terjangan gelombang besar bernama modernisme yang memupuk jiwa-jiwa resah, pencari, dan para pesaing “kelas kakap” pada akhirnya menumbuhkan manusia-manusia yang individualis dan penumpuk materi tanpa henti. Sementara di satu sisi lagi, masyarakat kampung yang menonjolkan ciri-ciri pemertahanan nilai-nilai lama turunan nenek moyang yang dianggap adiluhung, berjiwa lebih kolektif (lazimnya karena alasan satu nasab), dan semacamnya, dalam pandangan orang kota mereka adalah orang-orang yang–untuk tidak mengatakan mutlak–cenderung kolot, terbelakang, dan pastinya kurang update style kids jaman now. Namun pada perjalanan selanjutnya, terjadilah ketegangan ketika wilayah-wilayah bernama kampung ini sedikit-demi sedikit “diinvasi” oleh peranti modern seperti radio, dan terutama televisi. Alhasil, lamat-lamat terjadilah imitasi perilaku yang kurang ditahutempatkan, bahkan tidak terkendalikan dalam masyarakat kampung. Paling tidak, inilah posisi nahas dari kampung bernama Cikedung dalam novel Telembuk.
Tidak dapat kita sangkal, kampung mengandung nilai-nilai adiluhung yang mulai terkesampingkan, misalnya nilai kolektivitas berupa sikap kepedulian atau saling menguatkan tatkala ada permasalahan yang menimpa salah seorang di antaranya, lantas dikuatkan, malah berubah menjadi hobi kasak-kusuk yang menusuk-nusuk hati. Meskipun, di satu sisi, kasak-kusuk mungkin dapat dimaklumi sebagai pengejawantahan sebuah hukuman terhadap laku buruk seseorang yang telah dilakukannya. Tetapi, lebih jauh ia berdampak pada keretakan-keretakan hubungan sosial masyarakat.
Selengkapnya: https://basabasi.co/telembuk-kekacaua...
Profile Image for Mangku Parasdyo.
83 reviews5 followers
December 31, 2021
Ekspektasiku diangkat cukup tinggi sebab buku ini di promosikan oleh Seno Gumira dalam Podcast Coming Home with Leila Chudori.

Mengangkat tema kehidupan masyarakat di pantura dengan segala lika-likunya sebenarnya sangat menarik. Indramayu sangatlah asing dan jarang terdengar, apalagi kehidupan orang-orangnya. Penggambaran mengenai bagaimana struktur masyarakat, kebiasaan dan kebudayaan di pedesaan pantura tergambar dengan baik.

Hanya saja penceritaanya menurutku masih sangat biasa saja. Penulis mencoba menggonta-ganti sudut pandang pencerita, namun semuanya datar dan tidak memiliki ciri yang berbeda antar karakter. Mungkin penulis bermaksud untuk membuat pelintiran-pelintiran untuk membingungkan pembaca, namun jujur saja sebagai pembaca aku tak mempan dengan pelintiran-pelintiran itu. Satu-satunya yang berhasil dibuat bingung oleh penulis hanyalah si Mukimin saja.

Selain itu hal yang membuat tidak nyaman dalam membaca novel ini adalah adanya bagian yang berisi diskusi antara pencerita dengan tokoh-tokoh dalam cerita membahas dan membedah kisah yang sedang diceritakan, ini apa coba ? hal ini mengingatkanku pada acara opera van java dimana si Wayang protes kepada si Dalang, sayangnya dialognya tidak lucu, tidak berkesan, dan tidak memiliki pengaruh apapun ke cerita selain mengingatkan pembaca bahwa ini bukanlah sebuah kisah nyata, haduuh.

Buku ini adalah bagian kedua dari trilogi,tak ada rasa penasaran untuk membaca buku sebelumnya atau sesudahnya.
Profile Image for Umar Qadafi.
Author 3 books1 follower
December 26, 2017
Gaya penceritaan Mang Kedung pada novel ini masih sama seperti novel sebelumnya (Kelir Slindet). Tetapi kali ini dibubuhi sedikit intermeso tentang dialog si pencerita dengan para tokoh lainnya, yang tiba-tiba muncul meminta pertanggungjawaban cerita. Dan itu sedikit menghibur dari penatnya menarasikan jalan cerita yang berkelok-kelok. Namun novel ini diakhiri dengan klimaks yang tak sampai. Hingga akhir paragraf masih dipertanyakan siapa yang menghamili Safitri. Mungkin penulis sengaja membuat si pelaku menjadi setan yang akan terus merongrong pikiran pembaca. Atau barangkali penulis akan mengungkapnya pada novel selanjutnya? Tunggu saja. Barangkali.
Profile Image for Adek.
195 reviews4 followers
February 2, 2018
Penulis seperti sudah hafal dengan segala seluk beluk latar cerita yang adalah kampung kelahiran ibunya. Beberapa tokoh justru mengibaratkan dirinya yang bersekolah di Jogja. Cerita lumayan mengalir walaupun ending-nya belum tersibak, mungkin karena penulis ingin menjadikan rangkaian novel ini sebagai trilogi. Tentang si pencerita yang ikut berdialog dengan tokoh-tokoh dalam novel, kok bikin saya terganggu ya.
Profile Image for Tika.
9 reviews
January 28, 2021
Novel ini sungguh-sungguh bisa membuat kita mengetahui hal-hal yang selama ini tidak terlalu disorot. Kehidupan penyanyi dangdut pantura yang tidak melulu glamor tapi sarat kepedihan dn mengeyampingkan perasaan.

Untuk karya lain dari penulis ini, saya amat tertarik membacanya karena karya beliau tidak pernah membosankan.

♥♥♥♥♥
Profile Image for Christmas.
267 reviews1 follower
February 2, 2021
Cerita panjang dan bisa dibilang cukup berbelit. Banyak tokoh dan konflik dimasukan ke dalam semesta ceritanya. Saya pribadi kurang suka pada bagian percakapan penulis dengan tokoh-tokohnya karena membuat cerita semakin bertele-tele. Di sisi lain, kehidupan dalam cerita digambarkan dengan sangat realistis dan memang terjadi di sekitar kita.
7 reviews1 follower
July 1, 2018
Novel yang sangat "nakal" dan realistis. Tidak menghakimi, hanya cerita apa adanya, selesai baca bukunya makin jadi emosi kok gini amattt tapi bisa jadi realitas kehidupan memang seperti itu adanya. Sangat direkomendasikan untuk dibaca
Profile Image for Avif Aulia.
60 reviews5 followers
July 23, 2025
Ini fiksi. Karangan. Tapi boleh lah kalau saya merasa kisah yang disajikan sangat apa adanya. Lagipula, penulis memang menggiring pembaca untuk merasa demikian. Awalnya saya pikir tokoh utamanya adalah Safitri alias Diva, dan Aan. Oh, tapi ternyata tidak sesederhana itu. Banyak tokoh dalam novel ini punya porsi masing-masing untuk bercerita. Tokoh A menceritakan tokoh B, tokoh B menceritakan kembali cerita yang ia dengar dari tokoh C, dan seterusnya. Ditambah lagi alurnya loncat-loncat. Saya merasa seperti ikut duduk di warung kopi sambil mendengarkan gosip-gosip yang berkembang di kampung. Tidak jelas, tidak lengkap, tapi menghibur. Saya jadi bimbang mau memberikan 3 atau 4 bintang. Kalau tiga, rasanya terlalu jelek. Kalau empat, terlalu bagus. Tapi dengan pertimbangan bahwa kenyataannya saya menikmati waktu yang saya habiskan untuk membaca novel ini, akhirnya ya sudah, kasih empat, deh. Intinya tidak mengecewakan, tetapi juga tidak cukup untuk membuat saya terkesima.
Displaying 1 - 23 of 23 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.