APA yang akan kaulakukan bila kautahu kau anak hasil hubungan sungsang, keluargamu telah bermetamorfosis sempurna menjadi benalu, kota kelahiranmu makin tak kaukenali, perjalananmu dalam satu hari menghantam otakmu sampai memar, dan orang yang membuatmu jatuh cinta setengah mati berpotensi mendatangkan hinaan untukmu justru jika kau berhasil mendapatkannya? Kautahu bahwa dunia keras, sering tak tertanggungkan. Mungkin kau akan bermuslihat menghibur dirimu dengan membuat sekian palindrom atau mencoba menulis cerita detektif, tanpa sadar bahwa siasatmu bisa berkhianat.
Muslihat Musang Emas, yang memuat 21 cerita baru dari Yusi Avianto Pareanom, pengarang novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, mengajakmu menyelam ke dalam palung-palung tergelap jiwa manusia—tempat asal-muasal seseorang sanggup melakukan apa saja.
Lulusan Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Pernah bekerja sebagai wartawan di majalah Forum Keadilan dan Tempo. Saat ini berkhidmat di Penerbit Banana. Selain menulis fiksi dan nonfiksi, ia juga menerjemahkan dan menyunting karya-karya penulis asing. Ia terlibat dalam karya kerjasama novel grafis Ekspedisi Kapal Borobudur: Jalur Kayu Manis dan Eendaagsche Exprestreinen.
Bahkan jika dibandingkan dengan Rumah Kopi Singa Tertawa, pendahulunya, kumpulan cerpen yang satu ini apik sekali. Ya tuhan. Saya bahkan bisa saja mendirikan agama baru dengan buku ini sebagai kitabnya--sebagai perwujudan rasa syukur atas betapa ajaibnya cerita-cerita yang terkandung di lembar demi lembarnya.
Sebagai pembanding, terus terang saja, Rumah Kopi Singa Tertawa hanyalah kumpulan cerpen biasa. Bukan artinya cerpen-cerpen di dalamnya biasa, tidak sama sekali. Akan tetapi, jika dipandang secara keseluruhan, buku itu hanyalah sekadar antologi dengan tema-tema cerita yang sama sekali berlainan--tak ada konsep yang mengikat keseluruhan isinya. Bukan hal yang keliru, memang, tapi pembaca jadi sulit menikmati bukunya sebagai suatu hidangan besar yang padu dan utuh.
Lain halnya dengan buku ini. Dari apa yang saya tangkap usai menuntaskannya, cerpen-cerpen di Muslihat Musang Emas berkarib dengan tema-tema yang serupa. Bagaimana manusia tak luput dari suratan takdir, nasib sial, dan sejauh mana mereka rela berupaya untuk keluar dari situasi yang sukar. Menariknya, Yusi mampu mengisahkan tema ini melalui berbagai macam tokoh yang kontras dan tak terbayangkan. Sebut saja anak dari hubungan sungsang di cerpen Saṃsāra, komika di Benalu Tak Pernah Lucu, perampok kelas kakap di Alfion, hingga orang cebol di cerpen pamungkas Pak Pendek Anggur Orang Tua Terakhir di Dunia. Tak berhenti di situ, di sini Yusi juga menjajal segala macam sudut pandang cerita; dari yang pertama, kedua, maupun ketiga. Begitu versatile, eksploratif, dan membuka khazanah.
Hal lain yang saya sukai dari buku ini adalah bagaimana Yusi berhasil membuat tekstur cerpen-cerpen di dalamnya terasa begitu dekat dan personal. Dia berhasil membuat saya, seorang remaja berusia 19 tahun, merasakan kepedihan seorang suami yang harus membunuh istrinya, misalnya. Atau saat dia berhasil membuat saya memakai sepatu seorang remaja yang doyan minum sperma. Atau saat dia berhasil membuat saya menelan pil pahit saat mengetahui bos saya tiba-tiba berpindah haluan politik. Sensitif, imajinatif, dan usil--jika boleh dibilang begitu.
Bicara cerpen kesukaan, sulit sekali menentukannya. Akan tetapi, jika didesak, cerpen yang paling saya sukai dari buku ini barangkali adalah Ia Pernah Membayangkan Ayahnya adalah Hengky Tornando. Tak malu saya akui; saya menangis usai membacanya. Menempati posisi kedua adalah Penyair yang Meninggalkan Ibadah Puisi. Endingnya spekulatif, saya suka sekali. Kemudian menempati posisi ketiga adalah Alfion, yang menurut saya lebih baik anda baca sendiri agar tahu rasanya.
Akhir kata, saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca semua orang, terutama buat yang masih skeptis dengan karya-karya sastra Indonesia. Apabila anda malah berakhir tidak menyukainya, anda boleh memaki-maki saya, meski saya yakin kemungkinannya kecil sekali.
gak terhitung berapa kali saya mengumpat seperti itu pas baca buku ini hhh.
untuk yang belum tahu, saya adalah golongan orang yang menilai sebuah buku dari sampul dan bila ini bukan ditulis oleh oom Yusi (dan gatau ceritanya bakal gimana), tanpa ragu pun mungkin saya tidak akan sungkan memberikan 5 bintang. sampulnya apik, semacam bikin mikir dan berfilosofi sendiri cerita macam apa yang ada di dalamnya.
dan oh perihal sampul, saya baca ini jam 11 sampai jam 2 tadi dan sempet tak baca di serambi masjid. lalu ada bapak2 yang nyeletuk ''baca buku apa?'' dan pas tak kasih lihat sampulnya dia membalas lagi ''oh, buku tentang luwak ya?''
pas denger itu asli saya ngakak kenceng banget yang bikin bapak2nya jadi heran ''lho iya tho?'' saya iyain aja karena bingung juga harus merespon apa wqwq
baiklah mari kita mulai bahas isi buku ini.
terdiri dari 21 cerita pendek (yang kalau tidak salah ingat lebih banyak dari kumcer sebelumnya) dan jujur semuanya sangat segar dan cukup berbeda dari buku sebelumnya. kalau kumcer yang pertama ada beberapa cerita yang bahas tentang dunia wayang dan kisah dongeng serta cerita2 masa lampau yang pas adik saya iseng ikut baca bikin dia gak ngerti, cerita di buku ini enggak.
banyak kisah yang diambil dari keseharian beberapa individu di sekitar kita (atau mungkin pernah kita alami juga) (yang di dukung di lembar terima kasih dengan catatan dari oom yusi kalau ada beberapa cerita yg terinspirasi dari pengalaman rekan2nya) yang bikin kita bakal ngakak dan kayak ''asu kok ini aku banget e'' pas selesai baca. berbagai macam genre di buku ini ada. thriller, komedi, roman, misteri, sci-fi atau yang gak jelas maunya apa adaaaa. di beberapa cerpen saya bahkan bisa mbayangin kalau dibuat film, siapa aktor jepang yang cocok memerankan. nama-nama seperti Teruyuki Kagawa dan Tadanobu Asano sempat terlintas di kepala saya.
satu hal lagi yang menarik, cerpen2 di buku ini bisa dikatakan pendek tapi penuh. maksudnya, gak dibawa muter2 jauh dulu. ini bikin 50:50 sih. bikin kesel karena merasa ceritanya kurang tapi juga bersyukur karena gak bisa mbayangin kalau lebih panjang gimana. soal beberapa cerita yang pendek2 ini saya sempat mikir apa jangan2 bakal dilanjutin jadi novel kayak raden mandasia(?)
ya siapa tau kan~
lalu, untuk yang belum tau, selain jatuh cinta pada sampul, saya juga suka menilai sebuah buku/cerita dari nama tokohnya. nah, nama-nama tokoh di buku ini tuh ''ler'' semua. bener2 cocok sama semua cerita dan ada beberapa nama yang menurut saya nggak nyambung tapi otak saya bisa ''dipaksa'' untuk percaya kalau nama dan sosok seperti itu ada di dunia nyata. contohnya nama Zen Abaccus. tae, orangtuanya dapet ilham darimana woy namain anaknya kayak gitu hhhh
sudut pandang di buku ini macam2 dan semuanya enak banget bacanya. dan oh, ayo taruhan sama saya, kalau baca buku ini kamu pasti bakal suka sama cerpen berjudul Suatu hari dalam kehidupan seorang warga Depok yang pergi ke Jakarta. itu gaya berceritanya enak banget, kayak nontonin vlog gitu, saya ngulang baca itu 3x saking sukanya dan sambil menyelami, ini observasi bantuan ''kebetulan hidup''nya apik banget wqwq. wajib baca!!!
di buku ini saya juga menemukan banyak nama tokoh dan karakter yang sepertinya saya ketahui sedikit2 di dunia nyata. seperti misal mas dea anugrah, mas sabit, aan mansyur, mas dio dan lainnya. ooh, di buku ini ada Jokpin juga. itu cerpen yg ada jokpinnya saya epik sih, saya penasaran itu beneran apa nggak dan apakah oom jokpin keberatan kisahnya ditulis disini wqwq
apalagi ya,
nulis ginian bikin ketawa wqwq. masih gak ngerti tadi baca buku apaan wqwq
kamu beneran gak bakal tau banget mau dibawa kemana pas pertama kali buka sampul bukunya. dan saya harap kamu siap untuk berpetualang dan menikmatinya.
oiya, pas selesai baca ini tadi saya langsung buka tokopedia buat cari tiket ke semarang meskipun bulan depan gak ada tanggal merah. ada rencana pengen main kesana dan mencoba cari tau lokasi2 yang oom yusi cantumkan di buku ini. soalnya banyak banget beberapa lokasi di Jawa tengah yang disebutkan di buku ini dan pasti bikin kamu penasaran entah itu pengen beneran nyobain kesana atau cuma ngecek di gmaps untuk tau pasti di sebelah mananya pulau Jawa. seru!
lalu, entah memang sedang tren terkini atau gimana, di buku ini oom yusi menyelipkan beberapa kisah yang memiliki tema tentang hubungan dengan gender yang sama meski cuma sentilan dikit2. saya gak kaget dan malah justru merasa salut. mas yusi juga sedikit menyelipkan satu kritik tersembunyi soal politik terkini disini. saya selalu suka sama penulis yang berani nyoba hal2 baru gini (halah komentarmu maii) wqwq.
cerpen kesukaan saya Alfion, samsara, b.u.d, pemuda peyayang dan yang paling tak sukai banget bikin nangis sampai bikin buku ini lecek karena tak banting, cerpen kedua berjudul Ia pernah membayangkan ayahnya adalah Hengky Tornado. tai. pas baca itu nangis kejer ra karuan. tai tai tai taiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii T_T
sebuah buku kumpulan cerpen itu sebenarnya cukup sulit untuk dinilai, tapi biasanya yang menjadi acuan saya dalam memberikan rating selain karena sampul/nama tokoh, penilaian saya pada sebuah kumcer bisa saya dasari dari cerita pertama dan akhir. dan menurut saya buku kumpulan cerpen ini sempurna.
membaca buku ini seperti ngobrol sama oom yusi langsung. cerita pertama semacam kayak kamu sedang bertamu dan baru di suruh masuk lalu duduk di ruang tamu. lanjut ke cerita2 selanjutnya, kamu seperti dibolehin numpang solat, minjem toilet, lalu obrolan pindah ke kafe sambil cari makan siang dsb dsb dsb. cerita terakhir di buku ini pas untuk mengakhiri acara bertamu, meninggalkan kesan yang menyenangkan, membuatmu menghormati dengan baik perjamuan dan empunya rumah dan bikin kamu ketagihan ingin berkunjung lagi.
ini salah satu kumpulan cerpen dan buku terbaik yang saya baca tahun ini.
oom Yusi nggak mencoba mengikuti selera pasar tetapi tetap bisa menguasai pasar. menurut saya iklan ''pengarang novel Raden mandasia si pencuri daging sapi prosa terbaik kusala sastra khatulistiwa 2016'' gak perlu di cantumkan di sampul juga orang2 udah pada suka hhe.
apalagi ya, udah sih kayaknya itu aja. sekarang saya mau ke post santa dulu mau ikut selametan tempat baru sekalian minta ttd oom Yusi di buku ini hehe.
rekomen!
terima kasih Oom Yusi sudah menuliskan buku ini!
btw, oom yusi masuk ke 5 besar penulis kesukaan saya mengganti posisi mbak Windhy puspitadewi hhe
Sampurno! Sampurno! Indah sekali ini buku. Bila dibandingkan dengan Rumah Kopi Singa Tertawa, buku kumcer yang ini lebih liat, temanya padu, bukan sekadar mengumpulkan cerpen-cerpen Paman Yusi yang sudah bertebaran di media massa. Cerpen-cerpen dalam buku ini punya caranya sendiri untuk membuat saya tertawa. Cerita kembali sebagai cerita. Dan lebih banyak mengisahkan orang-orang yang tertimpa kesialan, sedikit aroma seks, dan jalinan cerita yang seolah Paman Yusi ramban dari sekitar.
Terlalu banyak cerita yang saya favoritkan di buku ini. Misalkan cerpen yang dijadikan judul, benar-benar bikin gerrr. Dan cerpen penutupnya benar-benar ajiib. Keren. Semoga menyabet banyak peghargaan sastra untuk buku ini. Kerreeen. Buku sastra idola saya tahun ini.
Sebagai bekas wartawan, saya yakin Yusi Avianto Pareanom memang memiliki “mata khusus” yang terus melekat pada dirinya. Mata yang mampu menangkap kisah-kisah spesial dari lorong gelap takdir dan nasib jelek. Dan apa yang dimaksud dengan spesial itu bukan berarti sesuatu yang mencengangkan atau super dramatis, tapi justru sesuatu yang miris, nelangsa, bahkan sial yang dibumbui secukupnya cengek dan micin sehingga perut, pikiran, dan perasaan ini bergolak keracunan. Kalau buku kumpulan cerpen ini diibaratkan 1 boks krayon maka di dalamnya hanya ada warna hitam beserta gradasinya.
Beberapa cerita menyampaikan tragedi, beberapa mengangkat tema cinta yang tidak mungkin bahagia; tokoh-tokoh di dalam sini juga memancing emosi dan mual karena saking nyatanya. Yang paling menarik adalah kisah-kisah semi-biopik yang merentangkan perjalanan hidup tokoh utamanya dalam linimasa yang lumayan panjang. Di sinilah “mata” wartawan Yusi mengambil kendali, mengajak pembaca berkelana melewati momen-momen krusial si tokoh yang kalau diperhatikan memang cocok nemplok di rubrik berita kriminal atau kolom kecil khusus kisah-kisah aneh. Seperti kisah mujahidin asal Kediri yang tak kunjung mati syahid tapi malah disodomi komandannya di Afghanistan. Atau kisah 4 dekade perseteruan antar kampung di Semarang yang berawal dari adu bogem 2 soundman dari Orkes Melayu Soneta dan grup Usman Bersaudara di suatu konser. Atau kisah para orang cebol yang disewa perusahaan Anggur Cap Orang Tua sebagai pembawa hoki yang gemar ikut tarung tinju bebas di malam hari berhadiah perek Kampung Kali.
Kalaupun tidak berakhir dengan kematian atau kesedihan, kisah-kisah yang lain ditutup dengan semacam komedi gelap yang “membunuh” kemanusiaan secara nyaris brutal. Seorang siswa SMA yang rela menelan air maninya sendiri demi lulus ujian nasional karena percaya dengan pemberitaan di internet mengenai khasiatnya. Seorang calon nabi yang ditantang memegang payudara wanita sebelum jatuh hari ulang tahunnya yang ke-26. Seorang duda yang meringis mencoba sekuat mungkin menahan perasaannya yang jatuh hati pada seorang transgender. Siapa yang bisa menelan semua itu tanpa rasa risih? Cerpen-cerpennya memang diniatkan untuk jadi duri ikan di tenggorokan, kerikil di dalam sepatu ─ mengganggu optimisme kita terhadap kehidupan. Norma-norma seakan dipreteli, moralitas dijungkir-balikkan, manusia ditelanjangi di hadapan kuasa (ibu tiri) modernitas.
Kemampuan Yusi menemukan lalu mengolah kisah memang bersandar pada kekuatan serta kepekaan “matanya” itu. Setiap tokoh, semarjinal apapun ia, diberi ruh dan napas yang kaya, dihormati layaknya protagonis, dihias sedemikian rupa tampak mencolok bagi mata batin pembaca. Pada gilirannya kita seakan diajak bercermin, menatap diri kita sendiri di air keruh untuk memaknai sisi kotor yang terpendam. Semua orang memilikinya. Hanya beberapa yang berani mengakuinya. Maka untuk menjadi Yusi rasanya tidak cukup hanya memiliki “matanya” saja. Sesuai pengakuan beliau bahwa sebagian besar cerita dicomot dari pengalaman kawan-kawannya, berarti modal berikutnya adalah punya “kuping sakti” yang tahan menampung sampah dan ampas dari setiap sesi curhat.
Di bagian cerita yang semestinya saya bisa tertawa justru saya dibikin menangis. Saya kira buku Rumah Kopi Singa Tertawa (2011) adalah mahakarya, tapi muslihat Yusi kali ini mahakarya yang lebih kaya.
Sudah mulai terbiasa dengan bagaimana cara paman yusi bercerita. Memang asik banget. Penuh dengan detail-detail menarik, kosakata yang begitu kata dan tentu saja ending yang tak selalu bisa diduga. Cerpen Muslihat Musang Emas sendiri saya pikir kan bercerita tentang dunia silat atau semacamnya. Tetapi cerita yang dihadirkan tak kalah getirnya. Kumpulan kisah-kisah getir akan derita manusia yang luar biasa banyaknya. Sebuah inspirasi yang unik, ajaib dan mungkin tak bisa dipercaya. Membuat kita sendiri harus berdecak kagum memahami betapa pilihan-pilihan kita akan hidup ini sejatinya penting sekali bahkan hal sepele sekalipun. Salah satu buku cerpen yang layak dibaca ini.
Setelah membaca Rumah Kopi Singa Tertawa, terasa kumpulan cerita pendeknya terinspirasi dari pengalaman-pengalaman Yusi yang baru. Ada sedikit perubahan gaya berbahasa yang membuat kesannya lebih modern. Meski gaya utamanya tetap terjaga. Apalagi penggunaan kata yang sangat beragam dan kaya.
Latarnya masih dekat dan akrab. Sekitaran Jawa Tengah, Kalibata, dan bahkan yang paling terasa spesial ada karakter yang kuliah di Teknik Fisika ITB. Semakin terasa dekat lah dengan saya. Mungkin ini rasanya kawan-kawan yang jarang terwakilkan di budaya populer.
Yusi tetap lihai dalam bercerita. Bisa dibikin tertawa, miris, sampai melongo dibuatnya. Mungkin sudah saatnya Yusi menerbitkan buku yang dijanjikannya sejak lama biar saya bisa baca lebih banyak lagi.
Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2019
3,5 dari 5 bintang!
Aku tak menyangka banyak cerpen didalam buku ini yang membuatku tersenyum simpul sendiri. Aku suka dengan satire dan cara penulisannya yang berbeda dengan penulis Indonesia yang membuat cerpen XD
Suka semuanyaaaaaaaa... Bukunya penuh. Isu-isu yang diangkatnya kekinian dan dekat di hati ((( NAON ))). Nama tokoh-tokohnya adorable. Bahasa yang digunakannya menyenangkan. Ceritanya bisa bikin ngakak dan miris pada waktu yang sama. Nunjukin betapa hidup itu lucu, kalo dipikir-pikir, kalo diceritain. Cerpen-cerpennya jadi kayak ((( perayaan atas takdir Tuhan ))) buat saya. Suka suka sukaaaaaaaa!!!
Buku ini bikin saya merenungkan sesuatu. Yaitu.... kalo suatu saat saya bikin buku, saya mau namain karakter-karakternya pake nama temen-temen saya sendiri.
"Seorang lelaki muda melaju dari Bekasi menuju Pasar Santa dimana ada toko buku Indie favoritnya. Ia ingin lekas membeli buku terbaru kumpulan cerita dari sastrawan juga sering disapa ‘Paman’ yang pandai sekali mendongeng. Ini buku ketiga yang bakal disukainya. Ada total 21 cerita pendek dalam kumpulan tulisan ini. Ternyata membaca buku sampul kuning itu sambil makan bukan ide yang baik. Mulai cerita pertama saja, si lelaki muda hampir menyemburkan makanan yang sedang dikunyahnya. Kebetulan ada sate padang enak di samping pasar yang buka sore hari. Sebenarnya ia sudah antisipasi cerita yang bakal ditemuinya, jika merunut pada kumcer pertama Paman itu. Tapi, yang baru ini, ah, sulit untuk menahan tak berkata-kata kasar atau sekadar umpatan kecil di setiap ceritanya. Apalagi beberapa cerita cukup up to date dengan tokoh kekinian misalnya buzzer politik di medsos, dan standup komedian. Namun, kisah masa lalu juga cukup mendominasi, beberapa malah ada nama aslinya, Paman ini sungguh berani bermain-main dengan fakta. Ada cerita yang bikin geleng-geleng kepala, seperti perempuan di luar negeri sana yang minum cairan berkhasiat untuk meningkatkan IQ nya. Tak percaya, si lelaki muda googling tentang itu, yak tenanan iku. Tidak sampai seminggu ia menamatkan seluruh cerita, ingin rasanya ia memberi 5 bintang di akun GRnya jika saja si Paman tak mengolok-olok Arsenal klub kesayangannya di satu cerita. Ia pun menulis rekapan cerita, dan disambi melamun andai ia bisa menculik si Paman agar mau mendongeng untuknya tiap malam."
Ini adalah salah satu buku cerpen terbaik di hidup saya. Plotnya, cara bertuturnya, kisahnya, semua. Keduapuluhsatu cerpen dan saya tidak bisa memilih satu terbaik! Semuanya sangat baik. Saya bisa bilang ini terlalu nyata, gila, dan edan untuk sebuah buku fiksi.
"The war against cliche" adalah selogan yang dipegang Martin Amis dalam mengulas buku. Buku yang isinya klise (ya karakternya, ya konfliknya, ya tempatnya) tidak punya tempat di hati (dan resensi) Martin Amis. Nah, menurut saya, buku Muslihat Musang Emas (dan mungkin cerpen-cerpen Yusi Avianto Pareanom secara umum) adalah "a war against cliche."
Dalam menggelorakan perang terhadap klise, setidaknya ada dua hal yang saya dapati muncul dalam karya-karya Yusi dalam buku ini: kalau tidak orang-orang yang memang tidak biasa jalan hidupnya, ya gaya penceritaan tidak biasa untuk sesuatu yang sebenarnya biasa-biasa saja. Alhasil, waktu baca, saya selalu merasa menemukan sesuatu yang tidak biasa, entah itu subject matternya maupun gaya penyampaiannya.
Untuk kelompok yang pertama, lihat saja kisah seorang anak yang terlahir dari hubungan inses (yang kisah hidupnya begitu "Hollywoodiah" sampai mirip-mirip The Kite Runner), atau seseorang yang terlahir pendek (atau "cebol" atau istilah medisnya achondroplasia). Ada beberapa lagi kisah semacam itu. Atau, untuk kelompok kisah biasa dengan gaya penceritaan tak biasa, lihatlah kisah tentang warga depok yang pergi ke jakarta, atau tentang seorang yang sebal dengan atasannya di kantor (yang menimbulkan rasa sebal seperti saat kita membaca cerpen Yorrick karya pak Budi Darma).
Ada banyak lagi yang bisa saya obrolkan tentang buku ini, tapi saya simpan saja lah buat postingan blog.
Buku ini bagus buat Anda yang suka baca, maupun yang tidak suka baca.
Buku ini bagus buat yang menggemari cerpen-cerpen dengan waktu singkat, maupun penggemar cerpen-cerpen yang bertema kisah hidup.
Khusus terkait cerpen "b.u.d," yang menghadirkan kisah hidup seseorang yang tidak terlalu tidak luar biasa (nah!) tapi disampaikan dengan gaya bercerita yang luar biasa (dengan ditaburi dengan dekorasi palindrom yang cukup organik) yang inspirasinya saya tahu dari mana, saya rasa cerpen ini sangat membantu saya mencoba memahami estetika penulisan yang diamalkan Yusi Avianto Pareanom.
Tapi, daripada ngobras terlalu jauh, saya lebih baik menyarankan Anda untuk membaca buku kumpulan cerpen ini dan lihatlah sendiri bagaimana "perang melawan klise" bekerja, dan bagaimana bentuk kisah tak biasa itu, atau bagaimana kisah yang tidak terlalu luar biasa disampaikan dengan gaya yang tidak biasa itu.
Kalau ngomong gaya MLM, membeli buku ini adalah investasi yang tidak akan sia-sia. :))
Buku pertama yang selesai saya baca di 2018, dan juga menjadi buku pertama yang saya review di Goodreads.
Sedikit kebingungan untuk masalah kasih rating, dan akhirnya memutuskan untuk kasih bintang 4. Ini juga mungkin bisa jadi patokan untuk buku2 setelah ini yg akan saya kasih bintang 4.
Dari 21 cerita dalam buku ini, ada 10 cerita yang menjadi favorit saya. Mereka adalah: Muslihat Musang Emas dan Elena, Ia Pernah Membayangkan Ayahnya adalah Hengky Tornado, Samsăra, Alfion, b.u.d, Buris, Suatu Hari dalam Kehidupan Seorang Warga Depok yang Pergi ke Jakarta, Pergi ke Malang, Ular-ular Temanten, dan Pak Pendek Anggur Orang Tua Terakhir di Dunia.
Karena ini kali pertama saya baca tulisan om Yusi dan langsung suka, saya jadi tertarik untuk baca tulisan-tulisannya yang lain.
Motivasi saya mengkhatamkan kumcer ini adalah karena bakal ada diskusi buku ini di Kineruku. Biar bisa sok-sokan jadi kritikus susastera. Enak mengatai penulis itu, saya bisa melabeli "kumcer Islami" dan bahwa ada "degradasi kualitas". Ini agak snob, tapi mungkin karena kebanyakan baca ini-itu selera baca saya sialnya makin bikin saya jadi penuntut. Enggak ada eksperimentasi baru, banyak formula dan tema yang diulang-ulang. Favorit saya cerpen berjudul "b.u.d", soalnya ini personal banget bagi saya, memotret skena keislaman kampus di Bandung dengan betul-betul pianjingeun.
Sama kayak dengarkan orang-orang tua berkisah, ngalor ngidul. Saranku, bacalah satu cerita atau maksimal dua cerita pada tiap perkesampatan membaca. Kalau senang-senang saja, lanjutkan~
Nama Yusi Avianto Pareanom memang sudah beberapa kali mampir. Terutama ketika kumpulan ceritanya yang berjudul Rumah Kopi Singa Tertawa diterbitkan. Sekeliling rasanya kerap menyebutkan nama Yusi serta merekomdasikan buku karyanya. Dilanjut lagi ketika Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi rilis. Seakan tidak pernah berhenti, klub-klub buku memasukkan judul tersebut sebagai salah satu bacaan yang harus didiskusikan bersama.
Ketika Muslihat Musang Emas lahir, nama Yusi kembali didengung-dengungkan. Pertama, karena desain sampulnya yang menarik. Begitu pula dengan judulnya. Kedua, tentu apalagi kalau bukan karya itu sendiri. Semakin lama semakin banyak orang yang merekomendasikan. Semakin penasaran jadinya. Sayang, buku ini tidak mudah didapatkan di gerai toko buku besar. Pilihannya pun hanya dua: memesan secara daring (dengan konsekuensi baru menerimanya 2 hari setelah lunas membayar) atau mendatangi toko buku independen (yang berarti hanya bisa dilakukan di akhir pekan). Namun, namanya juga sudah berkeinginan untuk memiliki, buku Muslihat Musang Emas pun bisa didapat dan dibawa pulang.
Judulnya menarik. Frasa "musang emas" seperti frasa "angsa emas". Sesuatu yang dianggap sakral dan bisa mendatangkan keberuntungan. Apakah benar? Judul buku tersebut merupakan judul cerita pertama. Pembaca disuguhkan dengan hal yang mengagetkan terlebih dahulu. Akhir cerita dari Muslihat Musang Emas juga tidak tertebak. Yusi memberikan kejutan pada cerita yang menyebabkan pembaca kesal atau malah tertawa miris.
Muslihat Musang Emas merupakan pembuka yang menarik untuk buku kumpulan cerita pendek. Baik pembaca yang sudah familiar dengan tulisan Yusi maupun yang baru pertama kali, rasanya mudah untuk mencerna rangkaian diksi menariknya tersebut. Memudahkan pembaca pula untuk mengikuti alur cerita pada judul-judul berikutnya.
Pembaca pun bisa menandai ciri khas tulisan Yusi dalam kumpulan cerita pendek ini. Semuanya memiliki sentuhan yang sama meskipun sudut pandang dan permasalahan yang diangkat sungguh beragam. Bahkan, ada pula judul-judul yang perlu dibaca seksama untuk dapat memahami pesan sebenarnya di balik kisah-kisah itu.
Selain pemilihan diksi dan sudut pandang, Muslihat Musang Emas juga menarik karena cara menuturkannya yang mengalir. Pembaca bisa membayangkan seseorang yang mendongengkan tulisan-tulisan Yusi tersebut. Tanpa sadar, pembaca sudah bisa menghabiskan beberapa judul dalam sekali duduk.
Akan tetapi, kesamaan pola yang digunakan dalam menulis Muslihat Musang Emas juga berpotensi membuat pembaca menjadi bosan. Meskipun akhir ceritanya macam-macam, tetap saja pembaca akan berhent sebelum bukunya selesai.
Muslihat Musang Emas menawarkan kisah yang mungkin tidak sebagian besar orang pernah memikirkan isu-isu tersebut untuk dinaikkan menjadi sebuah cerita. Bacaan yang tidak bisa dibilang ringan namun juga tidak bisa dibilang berat. Cocok untuk dibaca di saat perlu asupan kosa kata dan narasi yang berbeda.
Membaca cerpen ini mengingatkan saya dengan Eka Kurniawan yang sama-sama piawai memainkan narasi. Satu dari 21 cerpen yang masih mengusik hati dan berputar-putar di kepala adalah Pergi Ke Malang. Mana tahu kalau jalan ceritanya begitu. Saya mengambil pesannya yaitu kebaikan yang ditampakkan oleh orang di muka, belum tentu baik di belakangnya. Banyak orang licik di jaman sekarang ini. Semua itu entah karena materi, dendam, sakit hati, atau apalah, rasa-rasanya masalah hidup manusia itu begitu banyak ragamnya.
Di sini kita akan diceritakan begitu banyak masalah yang dihadapi oleh orang-orang di luar sana. Meskipun cuma cerita fiksi, tapi saya yakin cerita-cerita ini sedikit banyak ada di kehidupan nyata. Sehingga setelah membaca buku ini, saya cuma ingin bersyukur aja bahwa jalan hidup saya yang sekarang ini tidak seberat dengan jalan-jalan yang dialami oleh Pak Pendek, Alfion, Sabda Dhani Wibisono, dan beberapa karakter lainnya. Satu hal yang konsisten di kumcer ini adalah semua karakter tokoh utama adalah laki-laki. Saya jadi tahu meski sedikit isi kepala laki-laki.
Di beberapa kisah membawa saya ke kota kelahiran saya bertahun yang lalu, nama-nama tempat atau gang atau bangunan yang dulu pernah sangat populer, Barutikung yang menjelma menjadi Tikung Baru, dulu sarang gali, sekarang menjadi gang yang sudah hijrah :) Belum lagi nama-nama artis yang dulu sangat populer di tahu 80an, Oma Irama sebelum menjadi Rhoma Irama dengan grup Melayu Soneta-nya, dan grup Usman Bersaudara. Jika dulu saya ngga kerja di radio yang memutar lagu-lagu Indo jadul, mungkin saya ngga kenal dengan nama-nama DEddy Stanzah, Deddy Dores sewaktu masih gabung di sebuh grup band, dan lainnya. Siapa sangka lagu penanda pulang Gelang Sipaku Gelang bisa menimbulkan keributan semacam itu? wakakakaka....
Semua cerpen dirangkai sederhana dengan bahasa yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat urban. Saya mengerti kenapa banyak orang menilai buku ini sempurna, karena memang cerpen-cerpennya (terutama cerpen panjangnya) benar-benar membawa kita seperti menonton film pemenang Palme d'Or. Melihat karakternya terbentur-terbentur-terbentur dan terbentuk karena diisengin nasib, seperti membaca biografi singkat penuh cerita seru dan anekdot. Karena saya membaca buku ini dalam tempo yang tidak sesingkat-singkatnya, saya banyak lupa terkait plotnya, namun mengingat rasa saat membacanya, seperti teringat kerasnya hidup Alfion dalam cerpen Alfion, kocaknya cerpen "Upaya Menulis Sebuah Cerita Detektif", ngeselinnya ngikutin hidup orang di "Suatu Hari dalam Kehidupan Seorang Warga Depok yang Pergi ke Jakarta" (ini pembacaan kedua saya, setelah sebelumnya di buku Cerita-Cerita Jakarta, dan makin relate dengan saya yang sudah tinggal di kota satelitnya Jakarta), dan tentu yang masih fresh di pikiran saya saat menikmati naik turun hidup orang cebol dalam "Pak Pendek Anggur Cap Orang Tua Terakhir di Dunia". Saya merasakan bahwa Om Yusi Avianto Pareanom ini enjoy sekali saat menulis buku ini, sampai membuat pembacanya semua terbawa ke tulisannya yang seru tapi pahit, asyik tapi naas juga.
Cerpen-cerpen dalam buku ini agaknya akan saya baca secara cabutan saat hidup atau nasib saya sendiri sedang terombang ambing sama seperti tokoh-tokoh yang hidup dan berlarian dalam imajinasi Om Yusi yang sudah dituliskan dalam kumcer apik ini.
21 cerpen dengan pola mirip—semi biografi dan menjelaskan kehidupan seseorang dengan masa lalu kelam, jalan hidup yang tidak umum dan biasanya berakhir dengan penerimaan bahwa hidup walaupun terjadi banyak hal diluar nalar, intinya ya biasa saja. Saya suka beberapa ceritanya, beberapa rasa haru juga sempat terasa dan (saya tidak suka mengatakan kata ini) tapi lumayan tipikal penulisan cerpen dan bagi saya, saya belum menemukan ke-khas-an Yusi. Tapi secara keseluruhan, cerpen-cerpen disini enak dibaca di waktu senggang sambil menertawakan nasib sendiri.
Dibuka dengan tawa, ditutup dengan getir. Semoga cerpen Upaya Menulis Sebuah Cerita Detektif atau Suatu Hari dalam Kehidupan Seorang Warga Depok yang Pergi ke Jakarta dibuat versi panjangnya alias dijadiin novel gitu.
Buku kumpulan cerita yang berisi 21 cerpen dari Paman Yusi ini memang top abis. One thing i noticed is cerpen-cerpennya Paman Yusi ini gak kayak your typical cerpen Kompas yang terlalu fokus ke pesan moral cerita. Pure ditulis untuk bercerita, bukan untuk menceramahi. Kalau kita tarik benang merah, nampaknya tokoh utama tiap cerpen selalu mengalami semacam kesialan dalam ceritanya. Sebagian besar cerpen di buku ini agak unsettling buat saya, tapi tetap bagus. Sekali lagi Paman Yusi memukau saya dengan gaya bahasanya yang ringan tetapi tidak picisan dan banyak menyisipkan vocab yang kurang umum yang dapat menambah perbendaharaan kata pembacanya. Paman Yusi mampu bercerita dengan sangat filmis—setiap kali membaca cerpen-cerpennya, rasanya pembaca seperti menyaksikan film tentang kisah tokoh utama cerpen secara saking sangat jelasnya penuturan Paman Yusi dalam bercerita. Dan hebatnya, Paman Yusi bisa bercerita sejelas itu tanpa membuat ceritanya terkesan bertele-tele.
MUNGKIN MENGANDUNG SPOILER Berikut 21 cerpen yang dimuat dalam buku ini: 1) Muslihat Musang Emas dan Elena Cerpen yang dijadikan judul buku ini. Bercerita tentang Donny, seorang duda yang sering mengikuti pertemuan berbagai macam komunitas kemudian menemukan cinta di salah satu pertemuan komunitas yang ia kunjungi. Menghibur dengan sedikit plot twist ;)
2) Ia Pernah Membayangkan Ayahnya adalah Hengky Tornando Ga asik ah kalo dispoilerin. Intinya ini tentang dua orang yang baru pertama kali bertemu. Pertemuan mereka didasari oleh suatu hubungan yang baru mereka sadari. Cerpen ditulis menggunakan sudut pandang orang kedua. Menurut saya ini cerpen yang paling heartwarming di buku ini.
3) Bagaimana Ben Kembali Memeluk Islam Menceritakan kesialan Ben dalam perjalanannya menuju Coffeewar di Kemang untuk nongkrong dengan teman-temannya di malam Nisfu Syakban. Membuat pembaca membatin "Buset sial banget nih si Ben". Walau begitu, kesialan Ben asik untuk diikuti.
4) Gelang Sipaku Gelang (1) Berawal dengan masalah sesederhana lagu Gelang Sipaku Gelang yang dinyanyikan oleh Usman Bersaudara lebih awal dari yang seharusnya. Kejadian ini memberi dampak yang jauh lebih besar daripada yang diperkirakan.
5) Gelang Sipaku Gelang (2) Menceritakan butterfly effect yang didapat dari cerpen sebelumnya. Kali ini, yang jadi sorotan di cerpen adalah Setyo Andi dan Satryo Beni sebagai pengurus tata suara dari band yang tampil di Gelang Sipaku Gelang (1). Menyadarkan pembaca bahwa tindakan kecil yang berdampak besar memang benar adanya.
6) Samsara Cerpen terpanjang dalam buku ini. Menceritakan perjalanan hidup/biografi Sabda Dhani Wibisono yang seperti roller coaster. Mulai dari hubungan sungsang, Pakistan, sampai salon. Sesuai dengan judulnya, Samsara: roda kehidupan.
7) Benalu Tak Pernah Lucu Tentang seorang pelawak bernama Berto yang sebagian penghasilannya terpaksa ia berikan ke keluarga kakaknya—benalu bagi Berto. Keadaan diperburuk dengan ibunya yang selalu berpihak pada kakaknya. Pembaca dibuat kesal oleh sikap keluarga Berto.
8) Penyair yang Meninggalkan Ibadah Puisi Bercerita tentang Joko Pinurbo yang selalu mendapat kabar duka tiap ia menghadiri acara yang berkaitan dengan puisi di luar kota. Agak kocak tapi kasihan sama Joko Pinurbo.
9) Pengelana Waktu Cerpen singkat sepanjang 2 halaman. Tak banyak yang diceritakan. Hanya 3 bagian berisi seseorang yang melakukan perjalanan waktu.
10) Alfion Kesan pertama yang timbul saat baca cerpen ini: namanya bagus. Alfion. Biasanya nama orang kan Alfian. Cerita ini ditulis dengan alur mundur, menjadikan cerpen ini unik. Pembaca perlahan-lahan jadi tahu mengapa Alfion bisa menjadi dirinya yang sekarang.
11) Upaya Menulis Sebuah Cerita Detektif Bercerita tentang si tokoh utama yang berusaha menulis cerita detektif tapi tak kunjung ia tulis juga. Tiba-tiba temannya yang bernama Zen Abacus datang meminta tolong padanya untuk memberi ide cerita sinetron—yang akhirnya memakai outline cerita detektif yang ia buat selama ini. Kesan saat membaca cerpen ini: namanya keren banget, Zen Abacus. Kepikiran aja bikin nama kayak gini. Tapi sayang, untuk apa nama bagus-bagus tapi nyusahin temen?
12) Bangsawan Deli dan Delia Cerpen ini meminjam tokoh dari cerita detektif pada cerpen sebelumnya, yaitu Inspektur Hamid Aljufri dan rekannya, Brigadir Yayat Supriyatno. Latar cerpen ini tahun 1950an. Pembaca dibawa menyaksikan perjalanan dua detektif tersebut menyelesaikan dua masalah.
13) b.u.d Berkisah tentang seseorang yang sangat menyukai palindrom. Itu juga sebabnya mengapa cerpen ini diberi judul b.u.d, yang sebenarnya bukan palindrom tetapi jika dibaca menggunakan cermin tetap berbunyi b.u.d. Cerpen ini sebenarnya merupakan mini-biografi si tokoh utama yang menyukai palindrom. Asik sih ceritanya. Om Yusi menyisipkan bebeeapa palindrom keren di cerpen ini.
14) Buris Tentang si tokoh utama yang benci terhadap atasannya yang bernama Buris. Om Yusi berhasil bikin si tokoh utama kelihatan sebel banget sama Buris. Saat baca cerpen ini, saya jadi ikutan kesel sama Buris. Dan ada satu momen di mana saya membatin, "kasihan.....".
15) Pemuda Penyayang Nothing special dari cerpen ini sih menurut saya. Cuma tentang seorang pemuda yang saat kecil disebut-sebut memiliki tanda kenabian. Ia belum pernah punya pacar.
16) Kecerdasan dan Cairan Pekat Asli, ini cerpen jorok dan absurd banget. Mungkin dari judulnya beberapa pembaca bisa menebak cairan apa yang dimaksud (termasuk saya, makanya cerpen ini menjadi cerpen yang saya baca pertama kali di buku ini karena penasaran apa hubungannya cairan itu dengan kecerdasan). Ternyata oh ternyata.... Ah, Windu, ada-ada aja ya kelakuan lo demi lulus Ujian Nasional.
17) Suatu Hari dalam Kehidupan Seorang Warga Depok yang Pergi ke Jakarta Cerpen ini juga dimuat di buku Cerita-Cerita Jakarta. Ceritanya sederhana, tentang seorang warga Depok yang pergi ke Jakarta naik KRL karena ada urusan. Cerpen ini menyentuh saya secara personal karena cerpen ini relatable dengan kehidupan saya saat maba, yaitu pulang-pergi Depok-Jakarta naik KRL setiap akhir pekan (sebelum SARS-CoV-2 menyerang 😩). Jadi saya sangat senang membaca cerpen yang mengingatkan saya akan momen-momen itu. Sebagai warga Jakarta, saya juga menikmati perjalanan si tokoh utama dari Kedubes AS ke Setiabudi Building, Pecenongan, Stasiun Juanda, Stasiun Duren Kalibata, sampai ke Coffeewar di Kemang Timur (ya, kafe ini juga disebutkan di cerpen ketiga buku ini) sebelum akhirnya si tokoh utama harus pulang ke Depok. Berasa dibawa keliling Jakarta naik KRL dan taksi. Apalagi Stasiun Juanda merupakan stasiun langganan saya, jadi saya sangat senang mendengar nama stasiun itu disebut. Gaya bercerita Om Yusi yang filmis ditambah latar-latar dalam cerita yang familiar bagi saya membuat saya merasa benar-benar menyaksikan perjalanan si tokoh utama. Sungguh cerpen yang simpel, menghibur, dan membawa saya bernostalgia. Saya rasa cerpen ini berhak mendapat kehormatan untuk menjadi cerpen favorit saya di buku ini.
18) Pergi ke Malang Cerpen ini KEREN sih menurut saya. Kalo dispoilerin ga asik. Pokoknya ada satu bagian di cerpen ini yang tidak saya sangka-sangka. Mantep lah pokoknya. Berasa baca cerita detektif atau cerita kriminal kriminal gitu lah.
19) Nasihat Bagus Cerpen ini menyinggung salah satu golongan yang sering bertebaran di sosial media: BUZZER. Pas baca ini saya langsung ngebatin, "anjay keren banget Om Yusi nyeritain tentang buzzer—golongan yang ada di mana-mana tapi nggak pernah kita pikirin." Intinya ini cerpen menyingkap kehidupan seorang buzzer yang kalo mendekati pilpres dibutuhin banget tapi begitu pihak yang ia dukung ganti haluan ia langsung dibuang.
20) Ular-ular Temanten Awalnya bingung, ular-ular temanten itu apa sih? Ternyata artinya nasihat-nasihat perkawinan untuk penganten. Ceritanya tentang seseorang yang sudah lama menikah yang diminta tolong untuk memberi ular-ular temanten di pernikahan temannya karena ia dianggap sukses menikah (usia pernikahannya sudah 30 tahun). Padahal pernikahannya tidak seindah itu. Sebagai pembaca, hal yang saya dapatkan dari cerpen ini adalah: 1) Apa yang kita lihat tak seindah realitanya; 2) Menikahlah jika sudah siap. Jangan menikah muda.
21) Pak Pendek Anggur Orang Tua Terakhir di Dunia Ketika pertama kali saya membaca judulnya, saya bingung maksudnya apa. Ternyata di cerpen ini dikisahkan bahwa pada tahun 1970an sampai 1980an, perusahaan anggur cap Orang Tua senang mempekerjakan orang-orang cebol yang dijuluki 'Pak Pendek' untuk bertugas mempromosikan anggur Orang Tua di roadshow-roadshow mereka. Jarwo merupakan salah satunya. Cerpen ini mengisahkan perjalanan hidup Jarwo sebagai orang cebol, mulai dari masa kecilnya yang kegiatannya hanya membantu ayahnya berburu kodok hingga hidup barunya sebagai Pak Pendek. Cerpen ini cukup seru. Vibesnya seperti cerpen Samsara, karena sama-sama mini-biografi. Ada satu nama yang menarik perhatian saya di sini: Kawer. Bukan nama yang 'wah', tapi cukup catchy bagi saya. Memang Om Yusi ini bisaan aja ya bikin nama-nama untuk tokohnya. Cerpen ini mungkin sedikit absurd, dan sudah jelas ratingnya untuk dewasa. Walau begitu, kisah tentang para Pak Pendek di cerpen ini tetap menarik untuk disimak. Dengan cerpen ini, Om Yusi seolah-olah menarik saya ke depan layar lebar dan menayangkan kehidupan para Pak Pendek (terutama Jarwo) sejelas-jelasnya untuk saya saksikan.
Saya menduga-duga Paman Yusi menulis dengan meneruskan, salah satunya, tradisi Idrus. Saat membaca "Samsara" saya tersadar bahwa perasaan akrab pada penulisan cerpennya berasal dari kemiripannya dengan, "Jalan Lain ke Roma" yang menceritakan kehidupan Open. Saya agak bosan dengan sebagian cerita yang biarpun bagus, tapi seperti hanya mengulangi bentuk standar yang buat saya sudah bagus sekali di Rumah Kopi Sings Tertawa. Mungkin karena sudah nemu beberapa bentuk yang segar, saya jadi berharap lebib. Tapi, perlu diingat juga, di beberapa cerpen, bentuk yang narasi yang biasa saja juga jadi bagus betul seperti tak tersedia cara lain untuk menceritakannya dengan lebih bagus, seperti Pergi Ke Malang". Saya pribadi lebih suka dengan cerita yang naratornya adalah tokoh dalam cerita karena emosinya lebih jenaka dan cenderung hangat sekalipun getir, seperti "Muslihat Musang Emas", "Buris" dan "Upaya Menulis Sebuah Cerita Detektif". "Ia Pernah Membayangkan Ayahnya Seorang Henki Tornando" memberi kesan lebih karena meski dengan sudut pandang orang ketiga, informasi yang disampikan kerap melalui sudut pandang tokoh sehingga masih cair. Terlepas dari semua itu, review goodreads ini benar-benar tak perlu dipercaya. Sebeb kelewat cerewet dengan landasan yang, setelah saya baca ulang, tidak tampak begitu jelas. Hehe