Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perempuan Bernama Arjuna 4: Batakologi Dalam Fiksi

Rate this book
Setelah sukses dengan novel Perempuan Bernama Arjuna 1: Filsafat dalam Fiksi (Bandung: Penerbit Nuansa Cendekia, 2013); Perempuan Bernama Arjuna 2: Sinologi dalam Fiksi (Bandung: Penerbit Nuansa Cendekia, 2014); dan Perempuan Bernama Arjuna 3; Javanologi dalam Fiksi (Bandung: Penerbit Nuansa Cendekia, 2015), kali ini Remy Sylado-seorang sastrawan multi-talenta Indonesia-hadir kembali ke hadapan kita dengan novel terbarunya berjudul Perempuan Bernama Arjuna 4: Batakologi dalam Fiksi.

Melanjutkan cerita perjalanan pasangan suami-istri: Arjuna dan Jean-Claude van Damme, novel ini menuturkan secara memikat ihwal petualangan mereka berdua dalam menjelajahi berbagai tempat menarik di Tanah Batak dan sekaligus melacak asal-usul ayah suami Arjuna yang berdarah Batak.

Membaca novel ini membuat kita disuguhi "hidangan" lezat Batakologi dalam fiksi-tradisi, sejarah, budaya, dan segala sesuatunya tentang masyarakat Batak-untuk kita santap sebagai makanan jiwa dan pikiran kita.Dalam hal ini, Remy Sylado memang seorang maestro yang sangat piawai, "top-markotop", dan "jos-gandhos."

Selamat menikmati!

352 pages, Paperback

First published September 19, 2016

23 people want to read

About the author

Remy Sylado

36 books144 followers
Remy Sylado lahir di Makassar 12 Juli 1945. Dia salah satu sastrawan Indonesia. Nama sebenarnya adalah Yapi Panda Abdiel Tambayong (Jampi Tambajong). Ia menghabiskan masa kecil dan remaja di Solo dan Semarang. Sejak usia 18 tahun dia sudah menulis kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, esai, sajak, roman popular, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Ia memiliki sejumlah nama samaran seperti Dova Zila, Alif Dana Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel. Dibalik kegiatannya di bidang musik, seni rupa, teater, dan film, dia juga menguasai sejumlah bahasa.

Remy Sylado memulai karir sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya.

Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, dan tahu banyak akan dunia perfilman. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.

Dalam karya fisiknya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang sudah tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.

Karya yang pernah dihasilkan olehnya antara lain : Orexas, Gali Lobang Gila Lobang, Siau Ling, Kerudung Merah Kirmizi (2002). Kembang Jepun (2003), Matahari Melbourne, Sam Po Kong (2004), Rumahku di Atas Bukit, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Bahasa Asing, dan Drama Musikalisasi Tarragon “ Born To Win “, dan lain-lain.

Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan di Bandung dan Jakarta seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, dan Sekolah Tinggi Teologi.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (30%)
4 stars
4 (40%)
3 stars
3 (30%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
October 30, 2025
Novel dan pengarang buku ini membatasi kisah pada satu wilayah (atau satu suku), yakni Batak di Sumatra Utara. Tidak hanya menjadikan Batak dan Sumatra Utara sebagai latar, novel ini juga mengulas banyak hal tentang orang Batak dan kebudayaan Batak layaknya sebuah buku etnografi-antropologi-sosiologi dalam bentuk novel yang ringan dan bernas. Enak sekali diikuti, sambil pembaca bisa belajar banyak tentang hal-hal yang selama ini ditanyakan tentang Batak dan orang Batak. Mengapa orang Batak banyak yang menjadi pengacara dan ahli hukum, mengapa ada banyak marga, mengapa orang batak dengan HKBP-nya begitu erat, dan mengapa suku bangsa ini begitu "melekatkan diri dengan bangsa Yahudi". Ada banyak pelajaran tentang toleransi dan bhineka tunggal ika di novel ini yang seharusnya membuat kita lebih terbuka dalam menerima berbagai perbedaan.
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.