Di sebuah pulau yang disebut banyak orang mirip buaya, seorang lelaki muda akhirnya memutuskan untuk meninggalkan keluarganya, masuk ke dalam lubang batu yang pernah melahirkannya. Kembali menjadi tanah. Sementara itu, seorang penulis di usia 30 tahun berubah menjadi penyihir bermata kuning dan membunuh pasangannya secara misterius. Buku ini berisi 18 cerita tentang hantu, para penyihir dan kematian-kematian yang ganjil: orok dalam kaleng susu, pohon-pohon yang dibunuh tim doa, perempuan tua yang membantu dan melahirkan seribu anak sungai.
Bersoraklah para peminat sastra Indonesia. Karena di antara kita, sekarang ada seorang penulis sekaliber Juan Rulfo. Sambutlah seorang penulis yang akan membebaskan banyak penulis mendatang dari keterbatasan stuktur narasi, krisis kata-kata, kekakuan makna. —Richard Oh, Novelis dan Sutradara Film
Cerpen-cerpen di buku ini bagaikan ditarik dari kenangan masa kecil yang sungguh berkesan, mungkin menakutkan, yang saat kita bertumbuh besar dan dewasa tidak lagi kita ketahui apakah benar-benar terjadi atau sekadar khayalan kita; dipadu hasil pengamatan tajam terhadap sekeliling dan kondisi sosial-ekonomi, penghayatan kepercayaan lokal, dan penggalian sejarah lokal. Kadang membuat tersenyum, kadang membuat meringis ngilu, kadang membuat diri berharap tahu lebih banyak tentang wilayah dan masyarakat yang dituturkan dalam cerita agar bisa meresapi kisah dengan lebih baik. Pengalaman membaca yang sungguh membuka mata.
Sai Rai merupakan buku kumpulan cerpen karya Dicky Senda yang mengeksplorasi budaya Timor khususnya masyarakat Mollo melalui cerita-cerita yang dibalut dengan kepercayaan lokal. Cerita-cerita ini menghadirkan peristiwa supranatural, membawa pembaca ke dunia yang ganjil namun tidak sepenuhnya asing.
Menurut saya, buku ini sudah bagus karena mengangkat tema dari budaya masyarakat Timor yang belum terlalu banyak di eksplorasi penulis lain. Namun, buat saya yang belum terlalu paham istilah dan bahasa Flores, banyaknya istilah lokal dan bahasa daerah dengan tanpa keterangan membuat saya sedikit kesulitan memahami maknanya dengan cepat.
Sairai adalah serpihan mistisisme surealis dari tanah Timor yang eksotis. Bersama Sairai, saya bagaikan dipanggil kembali oleh para leluhur dan mendengar mereka bertutur tentang rahasia hidup. Sairai adalah cerminan esensi penerapan adat istiadat Timor dengan aspek komunikasi dengan para leluhur dan menghargai alam semrsta dipandang sangat penting nilainya oleh kami orang Timor (Timor NTT dan Timor-Leste) sebagai transmisi nilai kearifan lokal dan bagaimana semesta adalah rumah universal untuk semua makhluk didalamnya.
Kamu sedang bersiap untuk tidur tapi seorang pria misterius menarikmu menuju lubang peranakan di tengah kebun Nenek Min yang di tengahnya ada sekaleng susu. Di dalamnya, terdapat ular piton hitam besar yang melilit sebuah gubuk. Di dalam gubuk itu ada tiga lukisan yang mana lukisan terakhir adalah kamu dengan seutas tali tambang di depan wajahmu, Leon. Menuju keabadian.
Cerita Sai Rai ini memaksa imajinasi saya menjadi liar dan bebas bagai berlarian di padang rumput. Berlatarkan Nusa Tenggara Timur/Barat yang jarang terekspos di lautan cerita metropolitan yang gemerlap semu, Sai Rai menawarkan cahaya berbalut darah, sihir, roh dan juga peristiwa sejarah.
Plot twist demi plot twist selalu hadir di setiap cerita. Saya selalu gagal dalam menebaknya karena kepiawaian Dicky Senda dalam memainkan kata-katanya. Saya senang dengan berbagai genre cerita hadir dalam kumcer ini, sihir, roh halus, cerita rakyat, cinta tak berbalas, kasih orang tua, darah di tahun 1965, dan juga PKI. Topik yang dibawakan begitu berat, namun tetap asyik untuk saya ikuti
Beberapa kata dengan bahasa daerah Flores akan sering kamu temui, karena saya sudah terpikat dengan latar Sai Rai, serta merta saya menuju mbah Google untuk meminta pertolongannya. Betapa sempit rupanya ilmu saya terhadap dunia saudara saya di daerah Flores ini, hal ini membuat saya malu sekali.
Namun, beberapa alur bahkan sudut pandang yang kadang berubah-ubah membuat saya bingung.
Ah, tapi tak apalah, karena aku adalah sutradara yang memainkan filmku sendiri.
Beberapa judul yang saya suka: Mok dan Kucing-Kucing tak Bernama, Bagaimana Jika Para Istri dan Gundik Ayah Adalah Berbagai Jenis Hewan dan Tumbuhan?, Liuksaen dan OPK dan Kisah Lainnya, Maet Mone, Pohon-Pohon yang Dibunuh Tim Doa. Lainnya lebih mirip puisi daripada cerpen.
Tapi keseluruhan cerita yang dimuat di sini menggambarkan indahnya NTT. Pantainya, rumahnya, adat, mitos masing-masing tergambar di setiap judul. Saya pun harus bolak-balik membuka Google untuk tahu -setidaknya gambar- untuk setiap kata yang dicetak miring. Minusnya, typo bertebaran dimana-mana.
Setelah membaca buku ini, dengan malu-malu saya akui bahwa saya baru tau kalau Timor itu adalah nama kabupaten di NTT. Sebelumnya saya anggap Timor Leste hehe. Tertegun juga waktu tahu ada nama kabupate Timor Tengah Selatan -seperti tiga nama mata angin dijadikan satu nama daerah.
18 cerpen ganjil mengisi buku kumpulan cerpen ini, dengan berbagai variasi tema. Dikemas dengan ringan tetapi penuh makna, cerpen-cerpen ini dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
Hampir semua bab terasa settingnya yang sangat imajinatif penuh fantasi, sihir, dan entitas lain. Terkecuali bab terakhir yang terasa sangat nyata bisa terjadi, di kehidupan sehari-hari; kepada dia, aku, atau bahkan kamu, karena penjahat-penjahat itu masih berkuasa.
Menambah banyak pemahaman baru seputar budaya Mollo. Membaca buku ini seakan saya sedang memperhatikan lukisan surealisme, memang sulit untuk saya cerna beberapa kisahnya, namun karya yang indah ini tetap bisa dinikmati dengan gaya penulisannya yang apik.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Unik banget. Mengangkat lokalitas dan mitos yang berkembang di Indonesia Timur (NTT) dengan gaya tulisan yang surealis. Hampir mirip seperti Cala Ibinya Nukila Amal atau tulisan-tulisan realisme magisnya Danarto. Masih satu vibes pokoknya. Cerpen paling favorit sejauh ini adalah Dua Ruangan dengan Seribu Ular dan juga Bagaimana Jika Para Istri dan Gundik Ayah adalah Berbagai Jenis Hewan dan Tumbuhan?. Banyak analogi, banyak deskripsi bentang alam, banyak metafora, banyak sekali hal-hal yang membuat saya jadi bertanya-tanya. Membaca cerpen Dicky nggak cukup sekali saja, perlu pengulangan untuk mengerti benar maknanya. Keren.
Sementara itu, kutipan paling mengena adalah dari cerpen Pulang ke Barat dari Hanga Loko Padae yang bernuansa politis: "Kau perempuan pandai, Kati. Kau juga lahir dari keluarga petani hebat dan betapa beruntung kau sadar akan potensi tanah leluhurmu, tanah adatmu. Namun, semua akan sia-sia jika Tanah Air-mu dikuasai raja dan para pejabat pemerintah. Sungguh kemalangan jika mengambil itu dengan semena-mena dan kau kelak menjadi babu di kampungmu sendiri." (halaman 139). Hm, sangat relate dengan kehidupan dan kesejahteraan petani yang saat ini masih perlu menjadi perhatian.