Walid tak pernah menduga bahwa kepulangannya ke kampung halamannya di Madura menyeretnya kepada sebuah konflik yang lebih pelik daripada persoalan dengan kekasihnya di Yogyakarta. Di dusun yang senantiasa dihunjam kemarau, ia terjerumus ke dalam sebuah perbuatan serong dengan Ria, mantan biduan yang merupakan istri bekas seorang bajing. Lebih jauh lagi, ia terperosok ke dalam pusaran politik desa yang melibatkan Ra Amir (putra kiai yang berambisi pada kekuasaan), Nyai Rasera (perempuan sakti berusia ratusan tahun yang menyusui kelelawar-kelelawar hutan bakau), dan Maulana Bulan Purnama (mursyid Tarekat Nabi Kesturi).
Menarasikan kon lik politik yang sarat intrik, konspirasi, dan pengkhiatan, Tanjung Kemarau dibumbui kisah eros, sihir, dunia perbanditan, kerusakan ekologi, gosip tentang bajak laut, dongeng-dongeng, serta pengalaman ilahiah yang memabukkan.
Pertama kali melihat ini nongol di Scoop saya tertarik dengan ilustrasi covernya dan setelah membaca sinopsisnya yang settingnya di Pamekasan, Madura yang merupakan kampung halaman Ayah saya jadi makin double rasa penasarannya
Saya suka keterkaitan tokoh satu sama lain yang diceritakan di masing-masing bab yang berbeda. Saya salut dengan pembahasan penulis yang berani menceritakan tentang isu religi, seks/seks bebas dan isu LGBT yang diangkat didalam buku ini. Atas keberaniannya itulah saya memberikan bintang tambahan untuk buku ini.
Sebagai sahabat, saya belum pernah membaca tulisan Royyan yang lain (bahkan buku kumpulan cerpennya Tandak, yang tahun lalu memenangkan penghargaan sebagai buku kumpulan cerpen terbaik dari DK Jatim). But, it's amazing. Saya suka tulisannya. Saya suka Tanjung Kemarau. Saya suka cara dia bercerita; cara menulisnya -mengilustrasikan sesuatu, ungkapan-ungkapannya, clue-clue yang dibangun di masing-masing bab, dari awal hingga seperempat bagian akhir. Wow... Royyan... aku harus dapat tanda tanganmu di buku ini yaa.... Hehehehe.
Ya, saya menghabiskan buku ini dalam perjalanku ke Jogja kemarin. Selesai membaca, saya langsung 'nyatus' FB, yang isinya begini:
"Mas penulis Royyan Julian... makasih ya sudah memberikan dongeng yang luar biasa indah dalam #TanjungKemarau. Dalam perjalanan balik dari Jogja ini, aku telah selesai membacanya. Cuma sayang, konfliknya terlalu cepat selesai. Aku masih pengen denger banyak kisah tentang Walid -bahkan mungkin pengen denger Walid mati memperjuangkan kebenaran setelah keluar dari perserikatan Ra Amir... Tapi gpp, semoga buku ini ada sekuelnya. Hehehe... ;)"
Selesai membaca saya merasa 'getun' dengan antiklimaks yang ditawarkan penulis. Saya berharap dalam perjalanannya melarikan diri Walid dihadang oleh rombongan Ra Amir. Lalu ada Khalidi yang dengan heroiknya menyelamatkan Walid hingga sampai terminal dan bus berangkat. Namun... masih belum berhenti di sana, ternyata masih ada salah seorang cecunguk, pengikut setia Ra Amir yang tahu keberadaan Walid, dia mengikuti Walid sampai di dalam bus, ikut, dan membunuh Walid dalam perjalanannya ke Batui. Ya, saya merasa konflik yang sudah demikian bagus dibangun, dilogrok dan diturunkan dengan biasa. Ketegangan-ketegangan pembaca (yang mokong seperti saya) tidak dijaga sampai akhir. Saya merasa, "Ih, sayang, kenapa kisahnya begitu cepat selesai?" Hhehehehe... Maaf, ya Royyan.
Well, tapi secara utuh, buku ini recommended. Saya bakal langsung menyarankannya ke adik-adik saya, atau orang siapapun yang saya kenal, yang bertanya, "Buku apa ya yang bagus untuk dibaca?" I love this epic. Syumpah. hehehehehehe... (Sssstttt... apalagi pas kamu membicarakan soal agama melaui sosok Risti, it's sound like Royyan as always) :)
Saya suka sikap kritis Royyan terhadap agama. Plus teknik penceritaan yang jempolan maka saya suka sama gaya tulisan Royyan. Isu yang dibahas dalam novel ini juga banyak, mulai dari perihal LGBT, politik lokal sampai masalah kemaritiman. Saya hanya memberi tiga bintang karena menurut saya pribadi, ini cuma menurut saya aja sih, anggap aja pandangan sok tahu, kalau masalah isu seksualitas sudah terlalu banyak ditulis dalam novel-novel Indonesia belakangan ini. Mungkin ini pengaruh besar dari penulis2 senior sebelum Royyan seperti Ayu Utami dan Eka Kurniawan. Kadang saya kangen masa awal pembacaan saya terhadap novel-novel Indonesia waktu saya baca karya Pramoedya misalnya, saya hampir tak pernah melihat Pramoedya mengilustrasikan visual seksualitas dengan gamblang. Tapi seperti yang saya katakan di awal, teknik bercerita Royyan bagus sih.
Tema politik yang seringkali menimbulkan konflik menjadi pusat cerita novel ini, dikaitkan dengan pengkhianatan, asmara, mistis, dengan diksi yang gamblang dan 'buas' , bahkan untuk adegan-adegan seksnya. Ada juga sentilan atas pelestarian lingkungan, penghormatan kepada leluhur, ketaatan menjalankan ibadah —yang di masa kini sudah banyak terabaikan.
Tanjung Kemarau dibuka sama pasangan selingkuh guru madrasah dengan biduan dangdut. Walid, si guru madrasah menyuruh Ria, sang biduan segera minggat karena sudah siang. Takut dipergoki warga. Bisa berabe. Walid dan Ria selingkuh bukan karena cinta. Keduanya juga sudah ada yang punya. Walid sudah tunangan, dan Ria istri orang. Ria mau jadi selingkuhan Walid karena ingin dengar Walid mendongeng. Luar biasa. Dongeng apa yang bisa membuat wanita selingkuh dari suaminya?
Di blurb buku ini ada kata ‘kerusakan ekologi’ kata itulah yang membuat saya tertarik untuk membaca buku ini.
Berawal dari Walid yang berkonflik dengan kekasihnya di Yogyakarta ia pun memutuskan untuk pulang ke Kampung halamannya di Madura yang sedang mengalami kemarau.
Saya mengira selama berada di kampung halamannya Walid akan menjalani kehidupan yang seperti biasa ia jalani, menjadi pengajar di salah satu sekolah. Namun, ternyata beliau juga terlibat skandal perselingkuhan dengan seorang biduan bernama Ria. Dari awal cerita pembaca mulai disuguhkan kisah perselingkuhan Ria dan Walid kisah merekalah yang menjadi konflik utama dalam novel ini. Saya cukup kaget novel dengan 262 halaman cukup banyak konflik yang diangkat mulai dari perselingkuhan, LGBT, politik, bajak laut, kerusakan ekologi, penyembahan terhadap Tuhan, hingga dunia sihir pun turut menjadi konfliknya. Walaupun banyak terdapat konflik tapi tidak mengurangi esensi novel ini.
Dari sekian banyak konflik yang disajikan dalam novel ini saya paling tertarik pada konflik politik. Masyarakat Madura yang digambarkan dalam novel ini selain bermata pencaharian sebagai petani garam, banyak yang bermata pencaharian sebagai nelayan, kalau dipikiran saya emang para nelayan bisa terlibat politik juga dengan perangkat pemerintahan? Dari novel ini saya baru tahu bahwa, nelayan yang menggunakan pukat harimau untuk menangkap ikan, walaupun sudah ada unda-undang pelarangan penggunaan pukat harimau, tapi demi hasil tangkap yang banyak tetap saja menggunakan cara tersebut.
Terus apakah pemerintah tidak pernah mengecek langsung ke lokasi? Pastinya pernah dong, disinilah perangkat desa (telah mendapatkan informasi dari pemerintah kabupaten) saling berkompromi dengan nelayan Perkataan aparat desa kepada nelayan “hari ini jangan menggunakan pukat harimau yaa soalnya orang pemerintahan akan berkunjung ke lokasi kita” Miris sekali bukan? Aparat desa yang seharusnya mengayomi masyaraknya dalam hal-hal yang baik tapi ini malah sebaliknya.
Selama baca buku ini saya cukup deg-degan setiap babnya, di bab selanjutnya ada konflik apalagi, dan untung semua pemecahan konfliknya terselesaikan walaupun merasa perlu cerita lebih panjang lagi baru penyelesaian konfliknya selesai.
Saya kagum dengan penulis novel ini, dari diksi-diksi yang digunakan saya yakin beliau mempunyai kecakapan Bahasa yang tinggi, saya sampai bolak balik google untuk mencari arti dari kosakata yang digunakan. Banyak kosata yang sangat asing bagi saya. Hal baru yang aku pelajari dari Novel ini bahwa Pulau Madura merupakan produsen garam terbesar di Indonesia sehingga di juluki "Pulau Garam".
Buat kamu yang ingin baca fiksi dengan latar tempat di Madura dan Yogyakarta saya rekomendasikan untuk baca buku ini, walaupun ini fiksi tapi terasanya nyata sekali terjadi kehidupan kita.
Tanjung Kemarau adalah novel karya Royyan Julian yang bercerita tentang carut marutnya isu-isu kemanusian seperti politik, agama, kepercayaan lokal, isu perusakan lingkungan dan juga LGBT dengan latar tempat sebuah pedesaan pesisir laut di Madura. Cerita mengalir dengan tidak runut, cerita akan kembali ke masa silam jika sekiranya memang dimaksudkan menjelaskan sebab dan korelasi atas kejadian yang terjadi di masa sekarang. Pada setiap babnya menguraikan penjelasan tentang tokoh-tokoh yang ada. Sehingga, meskipun novel ini mempunyai tokoh utama, rasanya dunia yang dibangun oleh penulis dalam novel ini adalah milik semua karakter yang ada.
Beberapa hal yang saya sukai dari novel ini, yaitu: 1. Diksi yang digunakan penulis tidak monoton, kata-kata yang digunakan penulis cukup beragam dan bahkan beberapa diantaranya begitu puitis (terutama setiap mengawali bab baru)
2. Meskipun banyak isu yang diangkat, tetapi cukup terjelaskan dengan baik. Isu yang mungkin terlihat rumpang dalam suatu bab akan menjadi utuh ketika novel ini dibaca secara utuh.
Namun, ada juga beberapa hal yang sy kurang suka dari novel ini: 1. Ending yang anti klimaks, sebagai pembaca awam sy merasa cerita diakhiri dengan cara yang sangat aman. Salah satu contohnya, digambarkan dari sikap si tokoh utama yang memutuskan pergi keluar kota hanya untuk menghindar dari konsekuensi atas perselingkuhannya dengan sang mantan biduan dangdut dikampungnya.
2. Kurangnya eksplorasi dari karakteristik tokoh, beberapa tokoh yang cukup mendominasi di awal cerita diselesaikan dengan begitu saja. Sehingga cerita ini seolah diselesaikan secara terburu-buru.
3. Beberapa kali ditemukan typo, meskipun tidak banyak namun cukup mengganggu.
Berawal dari Walid yang pulang kampung karena ingin meninggalkan masalahnya dengan kekasihnya di Jogja. Walid yg anak ustad merasa terpaksa harus mengajar mengaji di mushola rumahnya, menggantikan sang ayah, karena dia tidak cukup agamis. Meskipun pada akhirnya dia dipanggil ustad juga, tapi sebenarnya dia masih melakukan maksiat dengan istri tetangga, karena pada dasarnya dia tidak ingin menjadi penerus ayahnya.
Karena nama baik ayahnya ini pula lah Walid ditunjuk sebagai timses pemilihan kades oleh Ra Amir, seorang anak kyai terpandang yang sebenarnya memiliki perangai yang sangat berbeda dari ayahnya. Banyak orang menggunjingkan tentang kelayakan Ra Amir sebagai calon kades, tapi banyak orang juga yang tutup mata karena beranggapan bahwa anak kyai pastilah akan baik pula seperti ayahnya. Cerita di novel ini sebenarnya lebih berfokus pada kisah masyarakat desa di masa-masa pencalonan kades ini, tentang pendapat warga, persaingan tidak sehat, fitnah, janji-janji palsu, sampai berujung pada tindak kriminal. Sedangkan Walid sendiri hanya dijadikan sebagai penghubung, karena pun POV yang dipakai bukan cuma Walid.
Untuk orang beragama, terutama Islam, dan memegang budaya ketimuran yang kuat, kayanya gak bakal suka sama novel ini. Atau bukan hanya gak suka, tapi jengkel. Jengkel karena si tokoh utama yang berhubungan sebelum halal dan tidak bertobat sampai akhir, jengkel karena kritikan pedas seorang tokoh tentang ibadah yang terasa memaksa, jengkel karena penggambaran masyarakat yang gampang tersulut emosi berkaitan tentang agama, jengkel karena adanya tokoh LBGT, dan jengkel-jengkel lainnya. Entah, kurasa mungkin ini kritikan si penulis pada budaya kita yang terasa sangat kolot, terutama di desa.
Sebenarnya ceritanya bagus. Bahkan aku langsung suka sama cara penulisan setting tempat di awal cerita yang menurutku cantik (bukan tempatnya, tapi penulisannya). Cuma kalau dari isinya sih agak terlalu berani, jadi agak susah untuk dinikmati sebagian orang.
Bagi saya yang menonjol dari buku ini adalah cara penulis menyampaikan ceritanya. Dengan konflik utama--jika bisa dibilang begitu--yang sebenarnya terjadi dalam kurun waktu pendek saja, penulis tetap bisa menyajikan cerita yang kaya. Setiap tokoh diberi ruang untuk menyampaikan ceritanya sendiri. Penulis juga lancar sekali mengolah kata-kata. Bagi saya, kalimat-kalimatnya segar. Jelas terlihat betapa penulis memiliki kecakapan dan pengetahuan yang luas perihal bahasa.
Ada banyak kontradiksi dalam ceritanya. Sebagian membuat saya senang, sebagian membuat saya kesal. Mungkin bisa dibilang, syahwat adalah apa yang menggerakkan tokoh-tokoh dalam cerita ini. Syahwat akan kebenaran, syahwat akan kekuasaan, syahwat akan perkasihan yang tak usai.
Kesegaran lain datang dari Madura sebagai latar. Jujur saja, saya rasanya baru sekarang membaca novel fiksi berlatar Madura. Sebab itu, bagi saya, novel ini pun menyuguhkan sesuatu yang baru untuk pengalaman membaca saya.
Apa yang ada dipikiran kalian ketika mendengar kata Madura? Benar sekali! Sebagian besar persoalan identitas madura ada dalam buku ini. Begitu membuka novel “Tanjung Kemarau,” saya langsung disuguhkan dengan suasana pesisir Madura yang penuh misteri. Cerita dimulai dengan kepulangan Walid ke desa, yang awalnya hanya ingin melupakan kisah cintanya. Namun, tak lama setelah itu, ia terjebak dalam konflik politik lokal yang rumit dan misterius.
Salah satu hal yang membuat novel ini menarik adalah cara penulis menggambarkan budaya Madura dan isu-isu sosial dengan sangat mendalam. Diksi yang indah dan puitis membuat setiap halaman terasa hidup. Selain itu, unsur mistis yang dibawa dalam cerita memberikan sentuhan berbeda yang menguatkan tema. Buku ini benar-benar misterius, semisterius endingnya!
Buku ini bukan hanya tentang kisah cinta atau politik, tapi juga tentang kehidupan masyarakat desa yang penuh lapisan. 🙌
Kisah yang menghadirkan kegamangan pikiran dengan latar pedesaan atau dusun selalu mengundang konflik tajam di antara para warganya.
Tokoh-tokohnya memiliki peran kunci yang menarik untuk ditelisik meski Walid lah yang menjadi sumber segala keresahan dan pikiran serta pertikaian di wilayah dusun itu. Seakan ketika Walid singgah masalah muncul, namun begitu Walid pergi persoalan mendadak sirna semuanya.
Yang bikin penasaran akhirnya bagaimana nasib Ra Amir selanjutnya? Novel singkat yang apik dan penuh perenungan akan hutan bakau dan kelangsungan pantai di pulau Madura ini menarik dan seru.