Jump to ratings and reviews
Rate this book

Young Adult GPU

Orbit Tiga Mimpi

Rate this book
Alejandro, terobsesi dengan benda-benda angkasa dan bertekad menang olimpiade astronomi. Tapi, bagaimana dia bisa menang kalau pelajaran matematika justru membuatnya merana? Asterion, vokalis band yang selalu cerah ceria dan tidak pernah menangis. Tak ada yang tahu dia menyembunyikan banyak rahasia di balik suara merdunya. Angkara, senang menghabiskan waktu untuk merenung dan menulis puisi tentang bintang-bintang. Tapi, seluruh dunia ingin dia mengubah gaya menulisnya. Ketiga orang yang sangat berbeda ini dipersatukan oleh kelompok belajar yang dipilih sesuai urutan absensi kelas. Meski awalnya canggung, ketiganya menemukan diri mereka mengorbit satu sama lain. Namun, ketika perasaan saling suka melesat bagai meteor, ditambah keresahan atas identitas diri, akankah orbit mereka terus berputar atau malah hancur lebur?

380 pages, Paperback

First published October 2, 2017

28 people are currently reading
257 people want to read

About the author

Miranda Malonka

12 books64 followers
Seorang pecinta kucing yang suka penasaran. Senang menghabiskan waktu dengan mengamati segala hal sambil mendengarkan musik country nonstop. Cita-cita terbesarnya adalah membangun animal shelter dan pergi ke Mars.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
94 (28%)
4 stars
173 (53%)
3 stars
56 (17%)
2 stars
3 (<1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 94 reviews
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews854 followers
October 4, 2017
Miranda Malonka
Orbit Tiga Mimpi
Gramedia Pustaka Utama
380 halaman
7.9

Dalam album keduanya, Melodrama —salah satu album terbaik tahun ini—Lorde menunjukkan kemampuan sinestesianya ke dalam lagu-lagu yang ia tulis. Di kepala Lorde, setiap lagu-lagunya menghasilkan warna-warna cantik setiap kali ia mendengarkannya. Dalam "Supercut", misalnya, ia mendeskripsikan cinta pertama seperti fluoresens, kilatan cahaya liar yang berdenyar-denyar. Ia mengizinkan pendengarnya mengintip apa yang ia lihat setiap kali ia menulis lagu, hijau saat ia patah hati di "Green Light" atau berkilauan seperti cosmic lattewarna semesta—saat ia sedang jatuh cinta. Saya yakin ketika Lorde membaca buku kedua Miranda Malonka, Orbit Tiga Mimpi, ia akan melihat warna semesta yang sama.

Dalam ilmu fisika three-body problem adalah sebuah permasalahan ketika kita harus menentukan pergerakan tiga buah benda yang memiliki massa, kecepatan, dan posisi. Sebuah persoalan yang menjadi dasar dalam buku fiksi ilmiah Cixin Liu yang menakjubkan. Tapi satu hal yang jelas: satu objek akan memengaruhi pergerakan dari kedua objek lainnya. Dalam Orbit Tiga Mimpi Miranda menggambarkan bagaimana ketiga remaja yang saling bersinggungan dan mimpi-mimpi mereka bergerak dipengaruhi oleh mimpi-mimpi yang lain.

Sekilas, Orbit Tiga Mimpi memiliki premis yang serupa dengan buku Dya Ragil, terutama dari tajuk astronomi dan perjuangan para remaja dalam meraih mimpi mereka. Tetapi jika Starlight dipenuhi dengan kekuatan persahabatan—sesekali diselipi dengan sedikit unsur romance, Orbit Tiga Mimpi akan membawa pembacanya ke dalam nostalgia cinta pertama, perasaan yang tak berbalas, dan rasa kehilangan. Malonka akan membawa pembacanya ke dalam semesta yang berwarna cosmic latte yang berdenyar.

Sejak dari prolog, Malonka sudah menyajikan akhir dari kisah ceritanya, tetapi masih dengan gaya menulisnya yang vague dan buram, membuat pembaca menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Ia lalu memperkenalkan ketiga karakter utamanya. Alejandro, yang lebih senang dipanggil Ale, seorang cowok blasteran Spanyol ganteng—yang ditekankan oleh Malonka berkali-kali—yang menggemari astronomi dan menatap ke angkasa dan bercita-cita menjadi astronom sejak kecil. Asterion, yang sering dipanggil Aster, seorang cewek vokalis band yang berusaha menemukan identitas suara dan meraih mimpinya sebagai seorang penyanyi. Dan Angkara, alias Kara, seorang cewek penulis puisi yang menggemari filsafat dan astronomi. Ketika ketiganya menjadi satu tim dalam tugas Biologi, mereka ternyata saling merasa nyaman dan mendukung satu sama lain.

Terkadang teman-teman terbaik bukanlah yang selalu mendukung setiap keputusan kita. Teman-teman terbaik adalah orang-orang yang berani menarik kita dari pinggir jurang, orang yang berani mengatakan tidak ketika mereka tahu kita mengambil keputusan yang salah. Malonka paham benar soal ini. Ia menunjukkan bahwa dukungan sahabat tidak lantas menjadikan sahabat menjadi yes man. Ketika Ale memutuskan untuk mengikuti olimpiade astronomi, misalnya, meskipun ia tidak bisa melakukan hitungan, kedua temannya meminta Ale untuk menanyakan apakah memang menjadi astronom adalah hal yang akan membuatnya bahagia, apakah mengikuti olimpiade astronomi adalah pilihannya yang terbaik. Mereka tidak memaksakan kehendak, mereka meminta satu sama lain untuk menengok ke kata hati mereka masing-masing, meminta mereka mendengar nurani mereka masing-masing.

Orbit Tiga Mimpi terasa sangat nostalgic, dengan kisah-kisah masa SMA-nya yang manis. Dalam usaha menulis sudut pandang orang pertama maskulin yang setengah-gagal—mengganti aku dengan gue tidak serta-merta mengubah karakternya menjadi maskulin—Malonka menggambarkan perasaan remaja lelaki ketika ia sedang menaksir seorang cewek, dan apa yang seorang cewek rasakan ketika ia menaksir cowok lain. Malonka mengingatkan sejumlah hal bodoh—yang manis—yang pernah kita lakukan untuk membahagiakan orang-orang yang kita sayangi. Tetapi setelah mengenal Malonka lewat Sylvia's Letters, jangan biarkan kisah manis yang ia tulis menghanyutkan kalian. Ketika buku mencapai klimaksnya, Orbit Tiga Mimpi menjadi intens dan tak terkontrol, mengisap perasaan pembacanya ke dalam lubang hitam, emotionally draining their feeling. Dan itu, menurut saya, salah satu kekuatan tulisan Malonka.
Profile Image for Utha.
825 reviews402 followers
May 11, 2023
Resensi lengkap: http://www.tsaputrasakti.com/2017/09/...

Empat bintang karena cerita ini terasa begitu dekat dengan pengalamanku dulu. Tentang bagaimana menemukan diri sendiri, bagaimana perasaan sudah terbit begitu saja dengan sahabat, meski kadang menyangkal hal itu karena kebiasaan bertemu yang bisa dikatakan gradual, resah karena hal-hal kecil, dan bagaimana sulitnya mendefinisikan arti kata hidup yang sesungguhnya. Bahkan di novel ini aku sering kali menyetujui opini-opini karakternya (yang mungkin juga opini pribadi penulis) tentang sistem yang kadang melunturkan siapa kita sebenarnya.

4 bintang penuh!!!
Profile Image for Syifa Luthfianingsih.
251 reviews95 followers
August 2, 2019
Dan ternyata, sekeras apa pun kita mencoba untuk siap, sebetulnya kita nggak akan pernah siap menghadapinya. Karena ketika kita sudah betul-betul siap, namanya bukan lagi perubahan.


Sama sekali nggak punya ekspektasi apa pun saat akhirnya memutuskan untuk beli buku ini. I'm glad I did.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,469 reviews73 followers
October 6, 2019
Kenapa cerita seindah ini harus berakhir dengan adegan semenyedihkan itu??? Ralat, epilognya adalah penutup yang manis, sih. Sebenarnya dari awal prolog, dengan percaya diri penulisnya sudah mengindikasikan akan nasib tragis yang akan menimpa salah satu dari tiga tokoh utamanya. Tapi melewati berbagai adegan penuh makna akan dinamika persahabatan mereka, aku tetep nggak siap menerima akhir yang itu. Huhuhuhuhuuuuu....




***

Before I could make a full and elaborate review, as usual, I will pour all the best quotes I like from the book.

***

Aku suka kata-kata Ale waktu menanggapi Aster yang sedang bete saat tahu teman-teman bandnya mencoba mencari vokalis cowok untuk menggantikan dirinya yang keluar dari band.

"Aku cuma mau bilang kalau... semua orang berhak punya hari buruk."

...

"Kamu boleh bete, uring-uringan, numpahin uneg-uneg ke teman-temanmu... tanpa perlu... menunjukkan bahwa kamu baik-baik saja...."

...

"Hanya saja, kita nggak perlu jadi kuat sepanjang hari. Ada saatnya kita tersandung dan merasa sakit, lalu menangis...."


Dengan bingung Aster menanggapinya begini:

"Bukankah lebih bagus kalau setelah tersandung kita langsung bangkit dan berlari lagi?"

Ale menjawab:

"Ya, betul. Maksudku, kita nggak perlu membohongi diri sendiri saat kita sedang sedih. Menurutku, itu sama saja dengan lari dari kenyataan. Pura-pura nggak sedih. Itu hanya bikin kesedihanmu bertahan lebih lama, nggak tersalurkan, dipendam di hatimu sampai jadi lengket."

..."Kamu boleh ngeluarin apa aja dari hatimu, Ster. Itulah gunanya teman. Kita jadi tong sampah teman kita, nggak peduli betapa nyebelinnya itu."


Ini sangat menyentuh, sih. Meskipun yang terakhir itu... hahahahahahahahah! Jangan bebani teman-temanmu dengan sampah yang terlalu banyak, yah :v Itu sangat nggak sehat!

***

"Ekonomi bagi hewan jauh lebih simpel. Mereka juga jujur dan nggak bisa berpura-pura."

"Setuju. Hewan nggak pernah ngomongin hewan lain di belakang punggungnya sambil akting pura-pura baik di depannya."

"Hewan yang pinteran dikit, kayak bangsa kera, mulai mengenal politik. Tapi masih jauh, jauh lebih simpel dan jujur daripada politik manusia."

"Bukankah justru semakin berevolusi, semakin kita berubah jadi makhluk yang menyebalkan?"

(Percakapan Alan dan Kara, halaman 160)


I got the point. Tapi bukannya banyak predator yang berkamuflase, ya? Seolah dirinya nggak berbahaya atau menyatu dengan lingkungan, begitu mangsa mendekat, langsung HAP! XD

***

"Mengenal diri sendiri adalah jalan terbaik untuk menjadi seniman sebelum kamu mempersembahkan karya seni untuk orang lain." (Pak Gupta kepada Aster, halaman 219)

Kalimat ini dikatakan Pak Gupta pada hari pertama Aster masuk kelas musik dan melakukan solmisasi. Pak Gupta yang sudah sangat ahli dan berpengalaman bisa menebak bahwa Aster sering menyanyi di luar range suaranya yang alto. Karena itulah dia mengatakan hal di atas. Juga bahwa nantinya mereka akan berlatih agar Aster bisa menyanyikan nada tertinggi dan terendah dalam range suara alto.

Kutipan yang sangat menyentuh. Karena aku sendiri juga sedang "mencari diriku" sendiri dan "kisah macam apa yang sebenarnya ingin kuperjuangkan sebagai seorang penulis". Rasanya semakin banyak buku yang kubaca, aku jadi makin merasa asing dengan kata-kata dalam diriku sendiri. Hiks.

***



***

Rupanya pertemuan dengannya (Aster) hari ini membantuku membuang satu lagi bebanku yang terakhir, yaitu ambisi alami semua manusia untuk berprestasi, yang meskipun bagus, kadang-kadang bisa begitu destruktif. (Kara, tentang Aster, halaman 274)

***

"Ya, teman-temanku di forum. Kami saling bantu, mengomentari karya satu sama lain, dan dalam sekejap saja aku sudah merasa menjadi bagian dari mereka, padahal kami nggak pernah ketemu. Aneh, ya?"

"Well, not really. Persahabatan itu... ada di mana saja, Kar. Banyak orang... bertemu secara fisik... but they're not connected. Kenapa nggak boleh... terjadi sebaliknya?"

(Kara dan Aster, soal hobi Kara menulis fanfiksi dan perkenalannya dengan teman-teman forum yang sangat mendukung, halaman 301)


***

Sebelum kita menimbun diri kita dengan kesibukan yang rumit, bukankah kita sebaiknya menyadari kalau hidup ini sebenarnya sangat sederhana?" (Ale to Kara, halaman 302)

***

Buku ini wajib dipunyai dan diturunkan ke anak cucu. Tak hanya agar mereka berani bermimpi dan berjuang untuk meraih impian. Tapi juga agar mereka siap akan berbagai tantangan yang mengadang di tengah perjuangan meraih mimpi itu. Dan agar mereka tahu, bahwa impian adalah konsep yang sangat fleksibel.

Yang aku suka dari buku ini, ia seolah mencoba menunjukkan cara paling manusiawi dalam menyikapi kegagalan dan kehilangan. Tidak dengan segera berpura-pura ceria dan bersemangat agar terlihat baik-baik saja. Tapi dengan belajar menerimanya terlebih dahulu.
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
October 17, 2017
Saya membaca novel karya Miranda Malonka sebelumnya, yaitu Sylvia's Letters, dan saya menyukainya. Gaya penceritaan di Sylvia's Letters yang tidak biasa dan jalan cerita memukau, membuat saya mengatakan bahwa ingin membaca karya lain penulis, yang penyampaian ceritanya tidak melalui media surat. Orbit Tiga Mimpi menjawab rasa penasaran saya, apakah saya bakal menikmati karya Miranda Malonka jika disajikan dengan gaya penceritaan yang normal. Hasilnya, saya suka dan puas dengan buku ini.

Orbit Tiga Mimpi menyajikan premis yang mirip dengan novel yang pernah saya baca sebelumnya, berjudul Starlight. Tanpa bermaksud membandingkan karena memang setiap buku memiliki kisahnya masing-masing, tapi kedua novel remaja ini mempunyai kisah yang sama. Tentang kesukaan dengan dunia astronomi, dan tokohnya disatukan oleh tugas kelompok. Alejandro si cowok satu-satunya dalam kelompok itu, berbagi kisah dengan Angkara alias Kara, yang mulanya dikira seorang anak laki-laki tapi ternyata perempuan, dan teman duduknya. Mereka juga berteman dengan Asterion, seorang anak perempuan lainnya, yang dari namanya saja sudah memikat Ale.

Ketiganya memiliki mimpi. Ale dengan kecintaannya pada dunia astronomi (tapi tidak pandai matematika) dan biologi, Angkara yang memiliki kesukaan dengan puisi bertemakan alam semesta, dan Asterion yang pandai bernyanyi. Mereka mengorbit bersama, saling menggapai mimpi. Hanya saja, ketika perasaan bercampur-baur dengan persahabatan, tidak selamanya planet mereka berputar dan mengorbit.

***

Saya menemukan sesuatu yang berbeda dengan novel ini. Disajikan oleh tiga sudut pandang yang berbeda, menggunakan orang pertama, membuat kisahnya dalam. Kita diajak mengintip isi kepala tiga tokohnya yang berbeda, tapi mempunyai benang merah yang sama. Ketiga karakternya menarik, dan tidak biasa. Ale yang senang mengamati dunia makroskopis dan mikroskopis, lalu Kara yang suka menulis tapi dihadapkan realita bahwa dia tidak bisa selalu menuliskan apa yang diinginkannya saja. Aster dengan segala permasalahan berkaitan dengan keluarga dan hal-hal aneh dalam hidupnya. Mereka kian dekat, untuk membuktikan pada siapa seharusnya cerita cinta ini tertambat. Lalu tentang jati diri, pencarian makna hidup, dan masa depan. Tidak selamanya tiga planet akan mengorbit bersama.

Saya pernah membaca tulisan Miranda Malonka tentang dia yang lebih senang menuliskan setting tempat secara abstrak. Seperti saat menuliskan Sylvia's Letters dia tidak menyebutkan settingnya, meskipun nuansa kota Jakarta kental di sana. Ternyata, pola serupa diterapkannya di sini. Selama membacanya, saya jadi menerka-nerka, kota manakah yang menjadi latar cerita ini. WITA, dekat pantai, langitnya bisa dengan mudah melihat bintang. Terlebih, ibu Ale yang berdarah Spanyol. Apakah setting-nya di Bali? Saya menebaknya demikian. Membuat cerita berlatar samar begini, sebenarnya membuat pembaca mengimajinasikan sendiri di mana atau bagaimana suasana yang dibangun. Bagi saya tidak masalah, justru bagian menebak-nebaknya itu yang seru.

Secara keseluruhan, kisah ini bagus. Apalagi perlakuan Ale yang memberikan hadiah tak terduga oleh siapa pun itu, benar-benar mengejutkan dan di luar kotak. Juga tentang pemberian seseorang yang ternyata dipakai untuk melihat sesuatu dengan orang yang bukan dia (ini kalau saya deskripsikan secara detail tentu akan spoiler sekali), bikin nyesek. Duh, jadi ingat bagaimana pertama kali merasakan naksir seseorang, melakukan apa pun demi menyenangkan orang yang kita sukai, lalu patah hati karenanya.
Profile Image for Dian Achdiani.
207 reviews26 followers
October 4, 2017
Begitu baca nama tokoh-tokohnya, Alejandro, Angkara, Asterion, langsung kebayangnya ini buku kisah persahabatan cowok-cowok. Malahan kubaca di tuiter, ada yang menyangka bakal gaylit.

Bwahaha. Salah besar ternyata.

Baydewey, aku baca ini di saat sedang senang-senangnya membaca scifi. Begitu baca judulnya, langsung penasaran dong. Kan belum lama ini baca A Common and Closed Orbit xDD

Engga juga ternyata. Sedikit sih, ada juga bagian sci-nya. Dan kusuka. Karena tidak 'disuapkan' paksa pada pembaca, sehingga jadi informasi yang pas. Konstelasi bintang. Dan Myasthenia gravis.

Ku selalu ingin ada buku (dan sinetron/film) Indonesia yang bagian medisnya ditangani serius. Jangan karena ketabrak terus amnesia. Atau dramatis narik selang infus. Cih.

Paling tidak, semoga lebih banyak Marga T di perbukuan kita. Dan semoga anak-anak kita bisa mencari identitas dengan bahagia, tidak dipaksa masuk jurusan tertentu idaman orangtuanya.

Satu hal FYI, anak-anak SMA sekarang begitu masuk, langsung psikotes, dua minggu atau sekitarnya, langsung dibagi jurusan. Jadi bukan mau naik ke kelas 11 baru dibagi jurusan xD

Kusuka penempatan POV seperti di buku ini. Ale. Kara. Aster. Dan seterusnya. Dengan demikian kita bisa mendengarkan isi hati kesemuanya.

Oya, spoiler berikut bukan hanya diperuntukkan bagi calon pembaca Orbit Tiga Mimpi, tapi juga bagi calon atau yang sudah membaca The Midnight Star - Marie Lu

Kusuka puisi-puisinya! Kalau memang Kara demam panggung, kenapa engga puisinya dinyanyikan saja ya, sama Aster? Etapi kalo gitu, jalan ceritanya beda dong, ah Mbu!

Terakhir, ingin membaca adegan fanfiksi-nya Kara memenangkan kategori scifi di IFA 2017 #nyengir #deritajuriIFA xDD
Profile Image for Nidos.
302 reviews78 followers
September 15, 2019
Kalau dihitung dari kali pertama membuka halaman pertama, buku ini kayaknya selesai dalam dua minggu lebih. Setelah sekian lama disimpan di tas sebagai bekal di jalan, paruh keduanya selesai di atas kasur sesorean ini. Melihat ulasan lama saya tentang Sylvia's Letters, kayaknya pembukaan yang panjang dan tempo yang lambat memang jadi ciri khas penulis. Nggak protes juga sih karena pembeberan yang berbabak itu yang menurut saya berhasil bikin pembaca terpaut secara emosional dengan tokoh-tokohnya. Meskipun saya merasa para tokohnya bukan orang yang bisa kita temukan dengan mudah di keseharian, narasi dan dialog antarmereka membuat saya bisa menerima mereka. Omongan-omongan tingginya nggak berasa pamer ilmu karena berhasil menyatu sebagai karakterisasi. Keajiban Malonka lainnya adalah penggunaan bahasa baku yang nggak canggung sama sekali sebagai bahasa sehari-hari. Dan dengan hadirnya salah satu tokoh dari buku pertama di sini, rasanya saya siap dengan judul lainnya di semesta cerita Malonka.

Hampir empat.
Profile Image for Lelita P..
633 reviews58 followers
October 5, 2017
Ide novel ini sebenarnya sederhana: tentang persahabatan, cinta segitiga, dan impian remaja. Namun, eksekusinya seperti khas Miranda, tidak biasa.

Bercerita tentang Ale, Kara, dan Aster yang merupakan tiga remaja di sebuah "kota pinggir pantai". (Saya masih menebak-nebak di manakah kota ini sebenarnya... apakah Bangka Belitung atau Makassar atau pinggir Kalimantan atau manalah.) Pada awal kelas sebelas mereka dipersatukan pada satu kelompok biologi untuk sepanjang tahun, lalu mereka mulai bersahabat sejak hari itu.

Ketiganya punya latar belakang dan kesukaan yang berbeda. Ale, maniak astronomi tapi lemah dalam matematika, tokcer dalam biologi. Kara, penulis penuh imajinasi, yang suka astronomi juga tapi nggak segila Ale. Aster, yang paling tidak nerdy di antara mereka, seorang vokalis band yang cerah ceria. Ale dan Kara duduk sebangku (semeja lah ya), sementara Aster duduk dua kursi di depan Ale.

Singkat cerita, mereka dengan segala latar berbeda itu bersahabat, kemudian tumbuh rasa lain selain sahabat.

Kedengarannya klise tapi kenyataannya tidak seklise itu kok. Novel ini sarat akan pencarian jati diri remaja, pendewasaan diri, berdamai dengan luka dan banyak sekali hal-hal kompleks yang wajar dialami remaja. Miranda berhasil menceritakannya dengan baik... dan... unik.

***

SUKA

1. Karakter-karakternya yang nggak biasa. Masing-masing punya ciri khas tersendiri, dengan keunikan tersendiri. Ini yang paling saya sukai dari cerita-cerita Miranda karena selalu memberikan rasa young adult luar negeri: karakternya nerdy dan tidak pasaran.

2. Gaya penceritaannya. Novel ini ditulis dari tiga sudut pandang masing-masing tokoh utamanya. Suara mereka cukup terasa berbeda. Dan narasi akan pemikiran masing-masing tokoh, yang pastinya secara tak langsung merupakan opini intrinsik Miranda sendiri dengan kedalaman pemikirannya, selalu menarik.

3. Poin 2 menjadikan novel ini begitu berisi bagi remaja, padat pengetahuan akan berbagai hal: musik, astronomi, dunia kepenulisan, filosofi, biologi, dan banyak hal lain. Remaja (pembaca dewasa pun) yang suka berpikir akan sangat menyukai novel ini.

4. Senang dengan kemunculan tokoh Scarlet dari Sylvia's Letters. Di sini Scarlet "sudah sembuh" dan bisa melanjutkan hidupnya dengan baik. Rasanya melegakan, mengingat bagaimana Sylvia's Letters. (Bagi yang belum membacanya, disarankan membacanya.) (Lalu saya sangat ingin tahu bagaimana kabar Gara.)

5. Hampir ingin menjerit kesenangan ketika berbagai hal tentang fanfiksi dimasukkan di sini. Miranda tidak melupakan akarnya~ XD Ini agak subjektif, tapi hal tersebut menaikkan nilai novel ini berkali-kali lipat untuk saya. Betapa senang saya membaca Miranda menyelipkan pesan bahwa fanfiksi tidak boleh dikomersialkan dan menyebutkan kehidupan sebagai author fanfiksi di situs Unleash Your Imagination dengan para reviewer-nya yang memberi masukan, tekanan untuk update, tapi dengan cara yang bisa membuat kita semua berteman baik meskipun belum pernah bertatap muka. Ah~ rasanya rindu sekali masa-masa menjadi author fanfiksi aktif~ salam kangen buat semua teman author dan reviewer fanfiksi saya, apa kabar kalian semua?

6.

***

KURANG SUKA

1.

2.


Di luar itu, saya rasa tidak ada komentar lagi. Miranda selalu bisa menulis novel young adult yang bagus, dan saya harap dia terus bermain di situ. Remaja Indonesia butuh novel-novel penuh pemikiran seperti karya-karyanya.
Profile Image for Kazu.
189 reviews
January 15, 2022
Jujur, i didn’t expect this book going to be so good at first soalnya aku belum baca review dan sinopsisnya. Tapi beneran kerennnnnn! Dari tokoh yang punya warna sendiri, slice of life, pelajaran astronomi sama filafatnya juga seruuuu. Recommended to everyone who likes astronomy related 🔭 🥺⭐️
Profile Image for Almeyda.
121 reviews35 followers
August 18, 2018
3.8/5 stars!
Will write the review when...I feel like it lmao
Profile Image for R.A.Y.
292 reviews47 followers
May 2, 2018
apa ini kenapa aku baru tau aku lemah banget sama astronomi dan young adult meets science aku harus mendapatkan buku ini secepatnya

update:
akhirnya selesai juga bacanyaaa. lagi lagi saya harus berpendapat agak beda dari orang orang rekan satu timeline goodreads yang sempat saya lihat ngehype buku ini. saya setuju soal betapa bagusnya buku ini. seharusnya novel young adult indonesia memang jenisnya kayak gini (saya pernah lihat sekilas yang ceritanya tentang pasangan muda dan nikah muda... seketika kecewa). mungkin banyak yang terpukau juga sama kata kata dalam buku ini yang ditulisnya rapi dan dalem banget :'))) saya juga terpukau, tapi selain terpukau, saya juga seriiiiing banget merasa dialognya terlalu dibuat buat. yang bijak bijak gitu loh (taulah maksud saya). kayak... gimana ya... bukan sesuatu yang sering kita denger dalam kehidupan sehari-hari? menurut saya itu kurang natural sih. ya itu tadi terlalu dibikin bijak dan penuh perenungan hehe dan rasanya novel ini jadi kayak cerita yang crafting-nya sangat, SANGAT sempurna. saking sempurnanya sampai terasa fiktif sekali semuanya :" mungkin saya terbiasa baca YA luar yang ceritanya ngalir banget nyeritain kehidupan sehari-hari yang relatable... jadi rada kurang nyaman baca yang semuanya di-setting dengan rapi begini...

ada lagi alasan yang membuat saya merasa penulis agak trying too hard membuat novel ini jadi penuh kebijakan (?). pengetahuan astronominya saya sukaaaa suka suka banget karena sangat kaya dan kesannya sangat menguasai. tapi soal yang filologi... waduh... saya rasa ada kesalahan yang agak fatal...? cmiiw. di sini filologi disebutkan sebagai ilmu yang berkaitan dengan filsafat. apa karena sama-sama ada fil-nya? setahu saya nih, saya belajar di jurusan yang dari semester satu udah dicekokin bacaan naskah kuno. setahu saya filologi itu gaada hubungannya sama filsafat :'D ada sih, tapi jauuuuuh banget. filologi (yang saya pelajari selama ini) lebih deket ke studi bahasa (linguistik). disebutkan di novel ini, kurang lebih filologi dijelaskan sebagai "nerjemahin teks teks sejarah dengan bahasa mati". ujung ujungnya temen aster nanggepin "orangtuamu pasti belajar filsafat" um excuse me?? sejak kapan mau nerjemahin teks belajarnya filsafat? ._. iya ada filsafatnya tapi itu urusan nanti setelah teksnya terbaca dan udah diterjemahin. itu pun belajarnya mesti linguistik dari fonetik fonologi sampai semantik dan kawan kawannya. belom lagi belajar bahasa yang ditarget. belom lagi baca baca aksara. 3T: transliterasi, transkripsi, translasi. jadi filologi itu lebih ke studi bahasa... atau studi naskah... kenapa jadi filsafat hahaha :'D lebih deket juga ke paleografi, arkeologi, dan bidang studi lain yang bisa multidisipliner antara ilmu bahasa dan sejarah. also, disebutkan entah gimana persisnya di novel ini kalau filologi itu bahasa sejarah. saya langsung nooope nope nope. filologi itu lebih ke ilmu yang mempelajari bahasa, sejarahnya, dan perkembangannya (lebih identik dengan studi bahasa kuno karena objek kajiannya banyak yang berupa manuskrip kuno, prasasti, dan semacamnya). filologi bukan bahasa. mungkin bisa dikatakan sebagai bahasa sejarah in a sense. tapi kalau disambunginnya ke filsafat? mohon maaf... jauh... :'D

wkwk maaf jadi panjang. saya beneran nggak terima soalnya (sampai-sampai satu bintang saya jatuhkan dari rating). tapi cmiiw ya. meskipun nggak terima, saya toh punya love-hate sendiri dengan filologi :'D jadi mungkin ada pemahaman yang kurang tepat. mohon koreksinya.
(di kampus saya sendiri filologi lebih diperlakukan sebagai studi naskah kuno, sementara banyak definisi menyebutkan filologi adalah studi bahasa dan perkembangannya. mungkin penulis pernah baca definisi yang mengaitkan filologi dengan filsafat?? entahlah???)

soal karakter dan konflik dan latar dan lain lain saya nggak banyak keluhan sih. toh emang udah fiktif sekali, gimana mau protes haha OH! bentar. ada. soal si anu siapa tokoh cowoknya namanya? Ale? si Ale ini kalau dari sudut pandang orang lain selalu disebutkan sebagai anak yang dingin(??) pendiem(??) semacam begitulah saya lupa persisnya gimana. tapi kalau dari sudut pandang Ale sendiri saya gabisa ngerasain itu? rasanya kayak cuma tempelan doang gitu karena saya gabisa nge-relate bagian mananya Ale atau kapan Ale punya aura seperti itu. tiap baca bagiannya Ale juga dia goofy banget sih. gaada dingin/pendiem/galak/kalem/atau apalah saya lupa yang intinya ngasih kesan kalau Ale luarnya beda sama dalemnya. daaan kalau boleh jujur, i found it hard to fall in love with... the three of them. neither of them made feel things i could hype over. belom jodoh aja kali, ya. nggak cuma sama mereka, tapi juga sama novel ini secara keseluruhan.

inti dari semuanya: ini novel yang bagus. bacaan yang bagus. sangat bagus, malah. tapi nggak cocok sama saya. kalau kamu nggak keberatan dengan hal-hal yang saya keluhkan di atas, kamu mungkin akan menikmati novel ini. saya tetap rekomendasikan untuk baca sih. sayang novel bagus begini kalau cuma dicuekin.

sekian dan terima kasih.
Profile Image for Akaigita.
Author 7 books240 followers
December 4, 2018
Setelah menenangkan diri beberapa jam, aku baru bisa mikir jernih tentang buku ini. Tapi tetap aja, buku ini KEREEEN BANGET. Bukan keren karena tokohnya keren-keren, tapi penulisnya yang keren.

Kita biasa baca cerita remaja yang cowoknya ganteng, selengean, cool, atau genius, tapi cuma tell doang, nggak ada shownya. Di buku ini, show semua! Walaupun Alejandro emang disebut ganteng dan keturunan Spanyol (buset, iler gw ngalir), tapi nggak lantas jadi aset utama dia buat jadi menarik. Otak dia dan kecintaannya pada mikrokosmos serta makrokosmos (damn, I thought the author is the genius one) itulah yang bikin Ale jadi seksi.

Bisa dibilang, this is exactly what I expect from a young adult book. Kaya pengetahuan tapi nggak terkesan pamer bacaan atau sekadar nempelin info dump di mana-mana. Bicara hal-hal besar dan ilmiah tapi nggak terkesan sombong atau bahkan sinis. Penuh kata-kata bijak tanpa menggurui pembaca.

Buku ini ya seperti judulnya, tentang tiga anak muda yang saling mengorbiti kehidupan satu sama lain. Ada persahabatannya, tapi bukan buat hepi-hepi nggak jelas atau curhat micin. Ada cinta segitiganya, tapi nggak norak. Dialog-dialognya berisi, nggak ada yang kayak "hei," "hm" "apa sih?" dan gumaman nggak penting lainnya.

Narasinya memang panjang-panjang sih, tapi nggak ada yang bisa diskip karena setiap kalimatnya thoughtful. Konfliknya kalem, tapi masing-masing tokoh punya kedalaman karakter yang bikin kita bersimpati dengan masalah mereka. Dan juga, walaupun ada tokoh yang sakit kemudian mati, penjabarannya nggak drama dan menye-menye, jadi air mataku ikhlas ngalirnya.

Aku sudah beberapa kali baca cerita yang tokohnya menggandrungi astronomi, tapi belum pernah nemu yang se-real cerita ini. Kubahkan baru tahu kita bisa "membeli bintang", dan itu memberiku perspektif baru dalam hal "being so sweet to your crush".

Yok, lanjut nyanyi.

Don't call my name, don't call my name, Alejandro, I'm not your babe, I'm not yout babe Fernando~
Profile Image for Hanoi.
41 reviews1 follower
January 15, 2021
Satu kata: keren. Pesan yang disampaikan penulis ngena. Diksinya bagus, apalagi puisi-puisi Kara :")
Sayangnya aku merasa konfliknya biasa aja dan endingnya juga mudah ditebak. Jujur, karena konflik yang ringan inilah, aku merasa kalau seharusnya buku ini bergenre teen-lit alih-alih young-adult.

Meskipun begitu, aku berharap ada sekuel. Pengin tau gimana Kara dan Ale waktu udah jadi anak kuliahan.
Profile Image for Ratna Sari.
308 reviews12 followers
October 8, 2017

🌠
"Cinta itu aneh, seperti penyakit. Pilihannya cuma dua: kamu terjangkit atau tidak." (hlm. 123)
🌠
Tiga orang, dengan tiga mimpi yang berbeda, dipersatukan oleh satu ikatan persahabatan. Aster, Ale dan Kara berjuang meraih impiannya di sela-sela kesibukan ketiganya sebagai pelajar. Sayangnya, ketiganya dituntut untuk "keluar" dari zona nyaman mereka. Aster yang ngeband, berusaha menjadi penyanyi lagu klasik. Sedangkan Ale yang sangat menyukai astronomi, berusaha keras masuk olimpiade astronomi, padahal dirinya payah di materi berhitung. Lain halnya dengan Kara, yang ditantang oleh ketua madingnya untuk membuat puisi dengan prompt yg berbeda-beda setiap minggunya, padahal dirinya sedang mempunyai deadline untuk menyelesaikan novel tentang cintanya.
*
Berhasilkah mereka mendapat jawaban dari pencarian identitas itu? Lalu bagaimana nasib persahabatan mereka saat cinta menyapa ketiganya?
🌠
Ini kali kedua aku membacanya karya Miranda Malonka setelah Sylvia's Letter. Bila di novel sebelumnya tokoh utamanya menderita penyakit Anoreksia Nervosa, di "Orbit Tiga Mimpi" ini tokohnya menderita penyakit Myasthenia gravis, penyakit autoimune. Asing kah kalian mendengarnya? Aku pun sama 😅 Sepertinya ini memang salah satu ciri khas penulis ini.
🌠
Yang aku salut adalah keberanian penulis menggunakan tiga sudut pandang orang pertama ketiga tokohnya, dan menurutku penulis berhasil melakukannya. Karena aku merasakan perbedaan sudut pandang tiap karakternya. Keren 👍👍
Membaca novel ini seperti diajak ke planetarium, terasa sekali tema astronomi. "Aura" science-nya juga kental. Tapi anehnya gak terkesan hanya tempelan belaka, sepertinya penulisnya memang benar-benar smart 😊
🌠
Hanya satu hal yg agak menggangguku menikmati novel ini, yaitu adanya unsur "Filsafat" 😂😂 Oke, ini sebenar kelemahanku sih. Aku memang tidak menyukai Filsafat. Berat bo! 😂😂
Profile Image for runin.
126 reviews1 follower
July 28, 2023
Buku yang awalnya kukira se-'sederhana' kisah persahabatan anak SMA, ternyata salah besar. Kisah dengan alur awal yang ringan, kemudian mengalir sedemikian rupa hingga tak terasa tiba pada konflik utama buku ini yang cukup serius: pencarian identitas diri.

Ale, Aster, Kara, tiga manusia dengan pemikiran unik masing-masing. Si penggila astronomi yang benci berhitung, mencari jati diri akan kecintaannya pada biologi atau astronomi. Asterion, si pemilik vokal bagus, manusia paling banyak senyum. Namun, siapa yang paham bahwa ia menyembunyikan banyak beban tentang hidupnya? Lalu, Kara. Si penulis mading yang gemar bergelut dengan dunia dalam tulisannya sendiri. Penunjukan kelompok di awal tahun ajaran baru, mengantarkan mereka pada kenyataan bahwa akhirnya tiga manusia ini saling mengorbit satu sama lain.

Kisah sederhana zaman sekolah, ke-ambis-an yang memang sudah seharusnya menjadi citra anak sekolahan, hingga perasaan jatuh cinta khas anak SMA dikombinasikan menjadi sebuah alur cerita yang sangat apik, namun sederhana.

Melalui buku ini, diingatkan kembali mengenai arti cita-cita. Tentang mengapa anak remaja bisa se-berani itu memiliki dan memperjuangkan mimpi. Tapi justru mimpi itu terkikis, bahkan hilang, ketika manusia beranjak dewasa. Dalam buku ini juga mengajarkan mengenai arti penting keluarga, arti penting sahabat, arti penting seseorang yang kita anggap "sumber semangat".

"Kalau memang suka, aku yakin kamu pasti bisa," kata Kara pada Ale saat ia bimbang mencentang Biologi atau Astronomi di formulir pendaftaran pelatihan olimpiade. "...Kamu sudah punya semangatnya, itu yang penting".

Kadang, dalam beberapa kejutan hidup yang kita temui, kita hanya harus menuruti perkataan Aster, "Hadapi saja," kata Aster, jelas dan tegas. "Nggak peduli kamu siap atau nggak. Begitulah caranya membangun mental. You learn it the hard way."

Dan Kara, adalah perempuan dengan pemikiran yang ... umm kurasa sedikit mirip denganku. Setidaknya dalam hal memandang makna suatu persahabatan:
Persahabatan adalah sesuatu yang rumit. Bahkan aku tak berani menjabarkannya dengan logika Aristoteles yang membagi cinta dan persahabatan menjadi tiga konsep yang membelit, agape,eros, dan philia.
Tak mungkin pertemanan bisa dirusak oleh hal-hal bodoh seperti.... perasaan.
Bahwa persahabatan memang complicated, tergantung masing-masing orang yang menjalaninya.

Cerita diakhiri dengan akhir yang tak terduga. Namun, ya, begitulah kadang hidup berjalan. Pada akhirnya, semua akan berjalan pada orbit masing-masing. Bukan, bukan sad ending. Lebih tepat disebut realistic ending, mungkin. Ketika semuanya menemukan identitas diri masing-masing. Aster yang hidup abadi dengan bintang Asterion hadiah dari Ale. Ale, akan menekuni bidang kedokteran sesuai kecintaannya pada ilmu saraf. Dan Kara, ia memutuskan untuk meninjau manusia dari segi mental, menekuni bidang Psikologi. Lagi pula, ia juga selalu bisa mempelajari filsafat sendiri, dari buku-buku plus imajinasi.

Bintang lima untuk buku ini!!!!!
Profile Image for Lila Cyclist.
858 reviews71 followers
November 13, 2017
Saya ngga pernah membayangkan jika novel kategori YA ini memiliki banyak sekali hal kompleks di dalamnya: Romance (tentu saja), rasi bintang lengkap dengan ukuran dan petanya (sesuai dengan judulnya), filsafat, mimpi-mimpi, penyakit histeria hingga fanfiction! Waw waw waw...

Alejandro, seorang anak kelas sebelas harus memilih diantara dua mimpinya: astronomi atau biologi. Kecintaanya pada dunia perbintangan tak bisa diragukan lagi. Ia memiliki teropong bintang di rumahnya yang bisa ia gunakan untuk meneropong bintang setiap malam, belum lagi buku-buku hingga novel grafis seputar perbintangan. Namun ia juga memiliki kelemahan jika nanti ia menjatuhkan pilihannya di astronomi. Biologi juga pelajaran favoritnya hingga ia terobsesi dengan olimpiade biologi. Tapi....

Angkara atau Kara juga memiliki mimpi yang sulit ia putuskan: terus menulis sesuai dengan passion-nya, atau menekuni filsafat sesuai dengan idamannya. Belum lagi keinginan tersirat ayahnya di dunia kuliner.

Asterion alias Aster, memiliki mimpi yang tak jauh berbeda dengan dua temannya yang lain: menjadi penyanyi band sesuai keinginannya atau mencari genre lagu yang sesuai dengan suaranya namun tak ia sukai. Belum lagi kedua orangtuanya yang merupakan penggila filsuf dari Yunani. Filsafat Yunani seolah nantinya akan menjadi pekerjaan turunan dari orangtuanya.

Mereka bertiga bertemu, bermula dari hubungan yang awkward, hingga akhirnya mereka menemukan 'warna' satu sama lain hingga mendekatkan mereka bertiga. Ale yang ganteng tapi pendiam ini bisa menyulap seorang Aster yang selalu memasang 'topeng senyum' di wajahnya menjadi lebih jujur pada diri sendiri. Ale, si kaku yang jarang bergaul, menjadi lebih ceria ketika ia menemukan sosok nerd bintang pada diri Kara. Kara, si pendiam yang cenderung selalu berada di autopilot mode, menjadi lebih hidup dengan adanya Aster yang ceria dan Ale yang juga otaku bintang.

Saya mengenal nama Milanda Malonka ketika pertama kali dulu saya membaca Syilvia's Letters yang saya beri bintang 4 juga. Meski memiliki tone yang berbeda, tapi saya tetap menyukai keduanya. Jika di buku sebelumnya, penulis menggunakan berlembar-lembar surat sebagai narasi novelnya, di novel ini penulis menggunakan 3 points of view yang berbeda. Masing-masing karakter penulis menggunakan penyebutan yang berbeda. Ale menggunakan gue, sementara Kara dan Aster menggunakan aku. Sedikit rancu di awal saya membaca novel ini antara Kara dan Aster. Tetapi di sebelum setengah novel, saya bisa menemukan perbedaana antara keduanya.

Saya suka dengan gaya bercerita si penulis, hingga diksi yang ia gunakan. Belum lagi sisipan seputar rasi bintang, hingga percakapan ringan antara ketiga sahabat itu dengan sisipan filsafat yang keren. Ngga terlalu detil sih, tapi menyenangkan dan buat saya itu keren hahaha... Saya tidak ragu memasukkan nama oenulis Miranda Malonka ini menjadi nama penulis yang wajib saya baca karyanya, sperti Annisa Ihsani.
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
November 22, 2017
Setelah membaca Sylvia's Letter aku jatuh cinta dengan tulisan Kak Miranda. Ketika aku tahu kalau Kak Miranda menerbitkan novel baru lagi, tentu saja aku tak ragu lagi membacanya.

Perasaanku membaca Orbit Tiga Mimpi masih semenyenangkan membaca novel sebelumnya. Novel remaja yang ringan tetapi begitu menghibur. Karakter tokohnya begitu hidup dan kuat, seperti Ale, Kara dan Aster. Mereka bertiga mewakili remaja masa kini yang masih galau dengan hidupnya, tentang pilihan-pilihan yang harus diambil, mimpi dan masa depan mereka.

Aku suka bagaimana Kak Miranda menyatukan ketiganya. Bukan karena kesamaan sifat, chemistry mereka terbentuk karena mereka mau saling terbuka. Disinilah kita bisa melihat kelebihan dan kekurangan Ale, Kara dan Aster. Walaupun Aster sering tidak nyambung dengan Ale dan Kara kalau sudah omongin soal astronomi tapi persahabatan mereka menyenangkan. Karena sesungguhnya persahabatan itu tidak harus selalu sama, berbeda itu indah.

Aku suka bagaimana banyak informasi yang kudapatkan dari interaksi para tokoh, mulai dari astronomi, biologi dan musik. Semua terjalin dengan indah.

Novel ini cukup kompleks mulai dari pencarian jati diri, impian, persahabatan hingga cinta. Namun, dibahasakan dengan gaya bahasa remaja yang ringan membuatku sangat menikmatinya 😍

Diceritakan dari sudut pandang Ale, Kara dan Aster aku jadi bisa memahami apa yang ada di pikiran dan hati mereka.

Kamu mencari sebuah kisah remaja tentang mimpi, persahabatan dan pencarian jati diri, yuk dibaca kisah Orbit Tiga Mimpi ini :)
Profile Image for Yuu Sasih.
Author 6 books46 followers
October 31, 2017
3,75 stars rounded up.

Dari kenyamanan membaca, saya lebih nyaman baca ini daripada Sylvia's Letter. Tokoh-tokohnya lebih make sense di saya dan saya secara personal relating sama Alejandro yang cinta astronomi tapi nggak suka hitung-hitungannya. hahaha. tapi aku olimpiade astronomi ikut sampai seleksi tingkat propinsi loh le jangan samakan diri kita #eh #ditabok

Kekuatan Miranda menurut saya selalu pada tokoh-tokoh yang tidak biasa di dalam ruang lingkup kisah biasa. Buat saya dia semacam John Green-nya Indonesia. Miranda juga pandai mengolah scene dengan luwes jadi tulisannya enak dibaca.

Yang saya sayangkan adalah chemistry Ale-Kara-Aster yang saya nggak dapatkan. Ada satu scene agak di belakang yang mana Kara bilang Aster adalah sahabatnya. Which is, saya nggak nangkap itu sama sekali, karena sepanjang novel saya justru lebih mendapat kesan bahwa Aster lebih sohiban sama anak-anak band-nya, sementara Kara nempel sama Ale berdua kemana-mana. Buat saya Kara-Aster hanya teman sekelas saja, karena mereka nggak pernah menghabiskan waktu cuma berdua--atau bertiga sama Ale--di luar sekolah, jadi lumayan kaget waktu ada kalimat Kara menganggap Aster sahabatnya. Ada beberapa scene terkait relationship yang juga sering bikin saya "hah?" tapi itu mungkin karena sayanya aja yang bego soal hubungan. lol.

Selebihnya, this is a nice read about young dreams and love. Bikin kangen masa SMA. X))
Profile Image for Ossy Firstan.
Author 2 books103 followers
February 16, 2018
Astronomi, puisi, mimpi dan cita-cita khas anak SMA, musik, dan tentu saja merah muda yang kelabu. Aku menikmati tulisan Kakak Penulis seperti kumenikmati Sylvia's Letters.
Kusuka karakter-karakter mereka, dekat sekali dengan kegalauan anak SMA (setidaknya ketika kusekolah kami sama-sama merisaukan masa depan seperti mimpi dan cita-cita). Kupikir betapa menyenangkannya jika membaca buku ini beberapa tahun lalu saat kumasih SMA haha. Buku itu layak banget dibaca waktu hujan dan perut sudah kenyang.
Profile Image for laura.
12 reviews1 follower
March 25, 2020
Aku membaca buku ini di tengah - tengah wabah yang menerjang hampir seluruh titik di dunia. Dan merasa mendapat teman, walau tidak nyata, bagaimana kara selalu berpikir dengan dalamnya seperti melihat bayangan diri ini.
Tentu, semua harus menjadi sahabat seperti aster, yang begitu baik hati, dan jujur seperti kara, serta peduli seperti ale. Setiap kalimatnya begitu bermakna, menunjukkan bagaimana kak Miranda menuliskannya dengan jujur dan dalam. Memberikan pencerahan untuk senantiasa jujur kepada diri sendiri, dan menjalani hidup dengan apa adanya, tidak ada paksaan.
Profile Image for Madina.
Author 3 books28 followers
November 25, 2017
i probably am very biased about this book but idc i ugly sobbed on the ending while smiling at itc fatmawati... honestly

(fingers crossed i'll do an actual review)
Profile Image for Andria Septy.
249 reviews14 followers
July 16, 2020
ini karya Miranda Malonka kedua yang aku baca. aku suka cara penuturannya dan ide ceritanya keren. jadi gak sabar pengen baca karya2 dia yang lain.
Profile Image for VaaRida.
133 reviews6 followers
April 10, 2018
dengan genre young adult, cerita nya memang tidak fokus pada kisah percintaan saja, 3 remaja yang sedang duduk di bangku SMA, menitik beratkan pada masa pencarian jati diri, pada masalah masalah keluarga dan masalah di sekolah. semuanya terangkai apik dan dari ketiga tokoh kita mendapatkan sebuah pembelajaran hidup.

review lengkap bakalan aku post juga di blog, tapi waktunya kapan masih belum tahu. cek aja di link blog aku ; vaaridapunya.blogspot.co.id
Profile Image for Ainay.
418 reviews77 followers
January 31, 2020
Waaahhh, aku berharap buku ini ada bertahun-tahun lalu zaman aku masih sekolah. Supaya apa yang dilakukan ketiga tokoh--Alejandro, Angkara, Asterion--dapat kulakukan juga, yakni memilih melakukan apa yang benar-benar mereka suka, bukan memaksa dan pura-pura suka.

Aku suka dengan gaya berceritanya. Enak banget diikuti, nggak bikin jemu. Penggunaan sudut pandang orang pertama dari ketiga tokohnya juga asyik, aku jadi dapat menyelami kepala mereka, lebih memahami tindakan-tindakan mereka.

Hal yang paling kusukai dari buku ini adalah, bahasan tentang astronomi. Juga segudang kalimat-kalimat cantik yang rasanya mau kutempelin sticky notes (yah, sayang banget aku bacanya di Gramedia Digital), padahal aku bukan tipe pembaca yang suka nandai buku begitu wkwkwk.

Well, yah, intinya adalah temukan dirimu sendiri.
Profile Image for Yasfin.
119 reviews
November 2, 2017
Seperti covernya yang kece, novel ini menceritakan tentang tiga orang dengan kesukaannya terhadap sesuatu terutama tentang astronomi. Mereka dipertemukan karena harus satu kelompok dalam pelajaran biologi.
Ada beberapa adegan yang sempat nggak membuatku paham, karena pada bab sebelumnya tidak ada kaitannya dengan bab selanjutnya. Dan aku baru paham ternyata berkaitan dengan dua bab sebelumnya.

Menggunakan sudut pandang tokoh masing-masing, kita jadi bisa tau bagaimana pandangan atau perspektif antartokoh terhadap tokoh lain atau kejadian yang menimpa mereka. Tapi kayaknya aku lebih suka kalau ceritanya memakai sudut pandang ketiga atau pertama.
Profile Image for Syifa Zakiah.
44 reviews12 followers
January 27, 2021
3.8/5 ⭐

"Lagi-lagi setiap waktu, kita dihadapkan pada perubahan. Dan ternyata, sekeras apapun kita mencoba untuk siap, sebetulnya kita nggak akan pernah siap menghadapinya. Karena ketika kita sudah betul-betul siap, namanya bukan lagi perubahan."
Hal, 314
Profile Image for ❦.
202 reviews6 followers
March 25, 2024
Tiga orang yang sebelumnya gak saling kenal dipertemukan dalam satu kelompok belajar biologi yang kemudian akhirnya mereka memiliki ikatan persahabatan, layaknya orbit tata surya yang saling mengitari.

Ale menyukai segala hal yang bersangkutan dengan astronomi, Kara suka menulis, dan Aster yang jago menyanyi bersama bandnya. Di buku ini kita bakal ngeliat gimana struggle mereka di fase remaja menuju dewasa. Bagaimana mereka belajar mengenal dan menerima diri sendiri. Novel ini membahas tentang persahabatan, cinta dan menemukan jati diri.

Kalau lagu itu easy-listening berarti kalo buku itu easy-reading, ya (?) Pokoknya buku ini sangat sederhana, baik dari karakter tokohnya maupun konfliknya. Namun konflik yang disajikan di buku ini cukup relevan dengan kondisi remaja-remaja di luar sana yang lagi kebingungan mencari jati diri. So, i guess, buku ini cocok dibaca untuk para remaja yang lagi butuh motivasi hidup.

Uniknya, buku ini banyak menyinggung tentang hal-hal berbau astronomi dan dunia luar angkasa yg dapat menambah pengetahuan baru para pembaca 😺🌟☄️💫🌑🪐
Displaying 1 - 30 of 94 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.