Jump to ratings and reviews
Rate this book

Cinta Tak Pernah Sia-sia

Rate this book
Edisi khusus bertandatangan dan kamu bisa menambahkan pesan personal yang akan ditulis langsung oleh Agus Noor dengan menambahkan catatan di kolom order notes ketika selesai checkout Sebuah perjalanan dan proses kreatif sebagai penulis cerpen di Kompas Minggu selama 27 tahun. SEBAGAI AHLI WARIS PELBAGAI KHAZANAH SASTRA DUNIA, Agus Noor sangat berani mengeksplorasi gaya. Mulai dengan siasat estetis di zaman Orde baru, sampai menolak untuk didefinisikan ketika menulis cerpen dengan berbagai gaya: surealis, absurd, populer, bahkan metropop. Baginya, menulis bukan semata-mata soal gaya atau teknik, tapi cara memandang, menanggapi, dan menyikapi dunia. Dunia macam apa yang ditanggapi dengan Cinta Tak Pernah Sia-sia?

288 pages, Paperback

First published August 28, 2017

15 people are currently reading
91 people want to read

About the author

Agus Noor

49 books118 followers
Agus Noor, menulis banyak prosa, cerpen, naskah lakon (monolog dan teater) juga skenario sinetron. Beberapa buku yang telah ditulisnya antara lain, Memorabilia, Bapak Presiden yang Terhormat, Selingkuh Itu Indah, Rendezvous (Kisah Cinta yang Tak Setia), Matinya Toekang Kritik, Potongan Cerita di Kartu Pos.

Karya-karya Agus Noor yang berupa cerpen juga banyak terhimpun dalam beberapa buku, antara lain: Jl. Asmaradana (Cerpen Pilihan Kompas, 2005), Ripin (Cerpen Kompas Pilihan, 2007), Kitab Cerpen Horison Sastra Indonesia, (Majalah Horison dan The Ford Foundation, 2002), Pembisik (Cerpen-cerpen terbaik Republika), 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 (Pena Kencana), dll.

Menerima penghargaan sebagai cerpenis terbaik pada Festival Kesenian Yogyakarta 1992. Mendapatkan sertifikat Anugerah Cerpen Indonesia dari Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1992 untuk tiga cerpennya: “Keluarga Bahagia”, “Dzikir Sebutir Peluru” dan “Tak Ada Mawar di Jalan Raya”. Sedang cerpen “Pemburu” oleh majalah sastra Horison, dinyatakan sebagai salah satu karya terbaik yang pernah terbit di majalah itu selama kurun waktu 1990-2000. Dan cerpen “Piknik” masuk dalam Anugerah Kebudayaan 2006 Departemen Seni dan Budaya untuk kategori cerpen.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (21%)
4 stars
20 (35%)
3 stars
11 (19%)
2 stars
3 (5%)
1 star
11 (19%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Tri Tanto.
33 reviews
June 19, 2018
Semua cerpennya menggambarkan peta selera redaksi Kompas, banget. Monoton, hampir ga ada yang baru, dan itu itu saja
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
October 7, 2017
Karena ini adalah album semua cerpen Agus Noor di Kompas, kita akan menemukan pergerakan cerpen Agus Noor. Semenjak 1990, ketika cerpennya berjudul Kecoa dimuat Kompas pertama kali, hingga terakhir tahun 2017.

Dulu, saya pernah mendengar bahwa Agus Noor adalah epigon dari Seno Gumira Ajidarma. (Biasalah selalu ada desas-desus untuk seseorang yang cemerlang). Saya yang lebih dahulu mengenal Seno daripada Agus Noor, pun tidak menemukan jejak itu di cerpen-cerpen Agus Norr yang baru saya mulai baca setelah 2010-an.

Tapi di buku ini kita akan menemukannya. Jejak-jejak pengaruh Seno di cerpen Agus Noor ketika awal-awal. Bahkan di cerpen Bouquet kita akan mengingat cerpen Seno berjudul Telinga. Lantaran sebuah adegan ibu yang bilang bahwa anaknya yang pejuang sering mencungkili mata para pengkhianat untuk dijadikan bouquet. Mirip bukan? Bahkan ada juga cerpen yang bertokoh Sukab.

Namun, setelah 2000-an, Agus Noor menemukan polanya sendiri. Dia urban, gloomy, dan kemudian akhir-akhir ini cerpen Agus Noor mulai dibumbui humor yang menarik.

Terus saya juga menemukan, sebelum tahun 2000-an, Agus Noor masih menggunakan setting rural. Baik latar maupun diksi yang dipergunakan.

Kembalii saya bilang, kalau ada yang ingin menulis perjalanan prosa Agus Noor buku ini bisa jadi rujukan. Perjalanan dan perubahan prosanya bisa terlihat. Dan bagaimana dia berpihak dalam menyikapi ketimpangan sosial.
69 reviews18 followers
January 14, 2018
Dalam sesi bincang-bincang di balik "Cinta Tak Pernah Sia-Sia" bersama Agus Noor, ia mengatakan bahwa menulis itu perlu menyesuaikan zaman. Karena itu, sesuai juga dalam Kata Pengantar buku ini, si penulis memilih untuk tidak punya gaya kepenulisan maupun tema yang baku. Jadi yang semacam 'Agus Noor banget lah', tidak ada istilah begitu. Wajar saja kalau dalam rentang 27 tahun mengisi kolom cerpen sastra Kompas, perubahan genre buatan penulis ini nampak kian beragam.

Tahun 1990-2000an di mana Indonesia masih ada di era Orde Baru, tema apalagi kah yang menarik untuk diangkat selain seputar perjuangan dan insiden-insiden kemanusiaan? Setelah tahun 2000, cerpen Agus Noor banyak berkutat seputar kehidupan masyarakat urban yang gloomy & ironis. Kehidupan rural pun masih ada. Di tahun 2016-2017, humor politik ikut masuk.

Saya kira buku ini pun bisa dianggap menggambarkan perjalanan kolom cerpen sastra Kompas dari tahun ke tahun.
5 reviews
December 23, 2018
Ulasan selengkapnya, silahkan mengunjungi tautan berikut ini.
Luci dan Cinta Tak Pernah Sia-sia

Sepertinya benar kata pepatah bahwa buku adalah jendela dunia dan membaca adalah kuncinya.

Membaca beberapa cerpen Agus Noor dalam antologi Cinta Tak Pernah Sia-sia, telah membuka jendela hati dan pikiran Luci akan Tanah Air yang masih belia dan memerlukan banyak bantuan untuk mendewasakan bangsanya. Dan sejak saat itu, kumpulan cerpen yang menjadi favorit sahabatnya sejak pertama kali diterbitkan pada 28 Agustus 2017 lalu, menjadi cinta pertama Luci pada dunia sastra koran. Dan layaknya cinta pertama, buku ini akan terus menghuni tempat yang spesial dalam diri Luci.
Profile Image for Andris Sambung.
39 reviews3 followers
February 4, 2018
Membaca Agus Noor adalah membaca sesuatu yang kerap kita alami dalam dunia kenyataan.kumpulan Cerpen Cinta Tak Pernah Sia-Sia adalah buku wajib untuk merayakan perselingkuhan secara lebih gembira, dalam banyak cerpen yang ditulis oleh Agus Noor tema perselingkuhan adalah bagian yang tak terpisahkan,bagaimana dia meramu adegan yang bagi sebagian orang tabu namun di tangan dia menjadi sesuatu yang romantis. Agus Noor sang pangeran kunang-kunang telah menjadikan cerpen koran menjadi begitu menggairahkan
Profile Image for Zera Putrimawika.
54 reviews9 followers
May 7, 2020
Agus Noor tidak pernah gagal untuk bicara frontal. Tidak pernah gagal untuk menyentil kepelikan hidup milik berbagai kalangan dari yang paling gelandangan hingga yang paling superpower. Tiga cerita favorit saya di sini: Mawar di Tiang Gantungan, Penyair yang Jatuh Cinta pada Telepon Genggamnya, dan Kurma Kiai Karnawi.
Profile Image for May.
56 reviews3 followers
January 14, 2022
Agus Noor adalah penulis yang produktif. Simbolisme mata dan kunang-kunang menjadi hal menarik dalam kumcer ini, serta beberapa tokoh nasional yang ia jadikan karakter. Blak-blakan dalam menceritakan perselingkuhan membuat saya bertanya2 apakah hal itu termasuk romantisisasi perselingkuhan?
Profile Image for Jein Oktaviany.
17 reviews1 follower
December 8, 2021
Agus Noor sendiri adalah salah satu penulis cerpen yang paling produktif (menurut saya) karena cerpennya selalu ada di koran minggu, dan itu membuat saya mengenal nama beliau. Ya dari koran minggu. Dan cerpen-cerpen di buku ini adalah kumpulan cerpen yang sebelumnya telah termuat juga di koran minggu, tepatnya di Kompas.

Berisi 37 cerpen yang sebelumnya pernah termuat di Kompas, sejak tahun 1990 (cerpen berjudul “Kecoa”) sampai 2017 (cerpen “Lelucon Para Koruptor”). 27 tahun, bahkan lebih tua daripada umur saya.



Saya adalah orang yang benar-benar membaca dari awal sampai akhir sebuah buku, dan pasti runut dari awal ke akhir, tidak pernah loncat-loncat meski itu adalah cerpen yang berbeda, termasuk Prolog buku ini pun saya baca pertama, karena disimpannya di awal (ya namanya juga prolog). Di Prolog ini (judulnya “Pengantar Sependek Cerita Pendek...”) menjelaskan tentang perjalanan menulis Agus Noor, yang bagiku sangat berfaedah sekali untuk dibaca (mungkin karena cita-citaku masih ingin jadi penulis), karena dengan prolog ini, aku lebih bisa masuk dan siap terhadap cerpen-cerpen dalam buku ini. Karena cerpen-cerpen dalam buku ini menurut Agus Noor sendiri adalah perjalanan menulisnya, “... yang saya kira akan banyak membantu pembaca melihat perkembangan kepenulisan saya.” tulis Agus Noor di prolog tersebut.

Dan saya pun merasakan itu, merasakan apa yang dituliskan oleh Agus Noor di prolognya. Karena buku ini pun disusun berdasarkan waktu Agus Noor menulis, jadi semacamtimeline yang benar-benar memperlihatkan bagaimana waktu mengubah pola pikir seorang penulis dan perkembangannya.


Dari 272 halaman berangka biasa dan 16 halaman berangka romawi yang berisikan 37 cerpen, saya menyukai cerpen-cerpen Agus Noor yang ditulis sejak tahun 2010 ke atas. Mungkin karena saya adalah kids jaman now, jadi lebih suka yang sekarang-sekarang, karena lebih paham. Atau mungkin karena teknik penulis Agus Noor yang semakin matang.

Kebanyakan cerpen 2010 ke atas diisi dengan judul kunang-kunang. “Kunang-kunang dalam Bir”, “Kunang-kunang di Langit Jakarta”, “Requiem Kunang-kunang”. Tapi anehnya, favorit saya malah cerpen yang tidak dengan judul kunang-kunang, yaitu “Matinya Seorang Demonstran”, yang menceritakan tentang Ratih, seorang perempuan yang tengah flashback saat melihat jalan yang dulu merupakan jalan rumahnya. Kilas balik itu membawa pada kerusuhan demo (ya seperti judulnya), kepada Eka, kepada Munarwan, yang memang bagiku merupakan kisah yang indah dengan plot twist yang membuatku mengucapkan kata makian (kata Bernard, buku yang bagus adalah buku yang saat dibaca membuat pembacanya memaki, saking bagusnya), dan cerita yang dipersembahkan untuk Eka Kurniawan ini memang seakan membuatku membayangkan bagaimana kejadian demonstrasi orba dahulu.


Bukan berarti cerpen sebelum tahun 2010 tak ada yang saya sukai dari buku ini, saya pun menyukai cerpen “Jerangkong” yang ditulis tahun 1998, yang berceritakan tentang seorang pengemis yang jatuh cinta dan saling cinta dengan Jerangkong jelita korban kebakaran mall. Sisi surelais yang sangat kelam, membuat saya menyukai cerpen ini. Jika teman-teman menonton animasi “Coco” milik Disney tahun ini, percayalah Agus Noor juga pernah menuliskan tentang jerangkong hidup jauh sebelum Disney menggarap itu untuk jadi film animasi.


Selain kedua cerpen itu, saya juga menyukai beberapa cerpen lain, di antara “Cerita buat Bapak Presiden”, “Kunang-kunang di Langit Jakarta”, “Lelocon Para Koruptor”. Bagi saya cerpen-cerpen yang sebutkan berhasil membuat saya lebih terpukau dibanding cerpen-cerpen lain, selain karena membahas unsur sosial dengan berbagai kemasan, cerpen-cerpen tersebut juga tak hanya memberikan gagasan saja, tapi cerita yang memang layak dinikmati (jika unsur sosialnya dihapus pun, akan tetap keren).


Di buku ini, menurut saya, tidak ditemukannya sebuah benang merah yang jelas antar setiap cerpen. Genrenya berbeda-beda, temanya berbeda-beda. Ada bahasan politik, ada cinta, ada keluarga, ada surealis, ada absurd, pop, bahkan metropop. Semacam gado-gado. Selain menikmati cerpen-cerpennya, saya juga jadi melihat bagaimana seorang penulis bermetaformosis dalam karyanya. Terlebih dengan adanya prolog yang menjelaskan tentang kepenulisan Agus Noor yang membuat saya semakin memahami proses itu.

Melalui buku ini, saya tidak hanya mendapat bacaan bergizi, dan mendapat kesempatan untuk ‘mengulik’ teknik menulis Agus Noor. Tapi juga mendapat pemahaman, bahwa untuk jadi penulis itu tidak mudah. Sesuai dengan kata Agus Noor di prolognya, “Saya percaya ketika ada yang mengatakan menjadi penulis itu bukan ‘profesi-karier’, tetapi lebih pada cinta yang keras kepala, tetapi tak sia-sia.”
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.