Menulis adalah kodrat, tapi menulis juga hanya salah satu pilihan perbuatan dan manifestasi kodrat seutuhnya. FX Rudy Gunawan, hanya menulis buku kehidupan dari perjalanannya menyelami realitas demi realitas. Karena menulis adalah kodrat maka menulis bukanlah pekerjaan, menulis adalah pemenuhan tanggungjawab eksistensial belaka.
Bravo buat mas Rudi...ada cupikan yang menyentuh niy...
“Semua orang tahu, esok sama saja dengan hari-hari kemarin. Sama-sama 24 jam, sama-sama ada pagi, siang, sore, dan malam. Tapi tak seorang pun tahu seperti apa persisnya setiap esok. Mungkin tetap seperti hari-hari lainnya, tapi apakah matahari akan sama teriknya seperti kemarin? Tapi apakah bunga-bunga yang sama akan mekar seperti kemarin atau malah berguguran? Tak seorang pun tahu. Mungkin tetap seperti kemarin. Tapi mungkin juga sama sekali berbeda. Mungkin saja kau menang lotere, mungkin saja kau dirampok orang, mungkin juga kau jatuh cinta. Atau mungkin tak ada yang berbeda dalam hidupmu yang membosankan”.
“Tidak semua hal bisa dan perlu diketahui, bahkan tentang orang yang paling dekat dengan kita. Mengapa kita harus selalu mau tahu? Setiap orang punya sisi gelap, sisi terang, sisi abu-abu. Apa kita harus mengetahui semuanya seolah kita punya hak untuk mengadili semua orang? Tidak. Kebenaran punya waktu sendiri untuk mengungkapkan dirinya. Kebenaran tak perlu dipaksa untuk memunculkan dirinya di saat yang tidak tepat. Itu justru akan melukai. Merusak tatanan. Lebih baik membuat percepatan untuk menemukan hal-hal baru, atau melakukan perbuatan-perbuatan yang berguna, daripada mengerahkan segenap pikiran dan tenaga untuk mengungkap sebuah rahasia dalam hidup seseorang. Karena rahasia apapun sesungguhnya pasti terungkap pada waktunya nanti”.
“Tak ada sesuatu yang benar-benar sendiri dalam hidup seseorang. Hidupku jalin menjalin dengan kehidupan orang-orang di sekitarku. Aku tak pernah tahu, siapa orang paling menentukan dalam hidupku. Bisa saja ia tetangga sebelah rumah, tapi sangat mungkin ia seseorang yang sama sekali tak kita kenal. Seseorang yang melintas di depan rumah dan berpapasan denganku pada suatu siang yang terik”.
bukankah setiap hal memerlukan jeda. sebelum sampai ke sesuatu yang kita identifikasikan sebagai tujuan. ya. tujuan. kata ini menjadi absurd ketika pada dasarnya hidup adalah sebuah bentukan skenario yang telah lapuk dalam kitab kejadian.
tujuan adalah penanda absurditas yang sebenar-benarnya terjadi dalam benak. melalui plot, alur, dan tanjakan, kodrat -tokoh dalam novel ini- adalah refleksi dari jalan menuju tujuan. proses tujuan itu yang nyata. sedangkan tujuan menjadi subtil ketika struktur hidup adalah bentukan dari koma-koma.
kenangan -ibu kodrat- adalah koma. pun juga jauhhari -ayah kodrat-. novel ini sudah terasa sebagai 'koma' ketika penanda tokohnya diwujudkan dalam kata yang tak lazim untuk sebuah tujuan. tetapi lazim sebagai sebuah proses yang tak berkesudahan. berbagai karakter; kesombongan, keajaiban, ketabahan, kebaikan, kejahatan, kepentingan, adalah latar bekalang yang hampir terjadi dalam novel indonesia. termasuk dalam novel ini. ada beberapa isu HAM, spiritualitas, kebebasan, kesenian, seks, pun pengkhianatan, yang dipakai f.x. rudi gunawan untuk menjadi novel ini lebih bisa ditangkap ceritanya.
bagi saya, menikmati teks kadangkala lebih membuat saya orgasme. daripada saya harus melewati cerita yang berpilin-pilin. cerita semacam itu hanya membuat saya ejakulasi dini. menembus batas sederhana saya sebagai seorang pembaca sekaligus penggiat 'kuliner teks'.
dus, novel ini tak total. absurditas yang ditawarkan terjebak pada kenyataan sehari-hari. meski begitu, saya jadi bertanya-tanya sendiri dalam hati, bagaimana jika saya menjadi kodrat dalam novel ini. apakah saya juga akan menenggak corona dan menuntaskan syahwat saya ke penyanyi kafe malam itu? ah. entahlah. saya bukan kodrat. saya hanya menjalani keputusan. dan itu berarti saya menjalani kodrat -kata kerja- saya sebagai manusia.
Penulis : FX Rudy Gunawan Penerbit: Sp@si & VHR Book, Jakarta Cetakan: Pertama, Maret 2008 Harga: Rp. 38.500,- Tebal: IX + 182 hlm; 13 X 26 cm
K-O-M-A adalah buku ketiga yang gue baca dari beberapa karya FX Rudy Gunawan. 2 buku sebelumnya adalah Bangsal 13 dan Tusuk Jelangkung (keduanya novel adaptasi). Dan kali ini gue bakal mereview buku FX Rudy Gunawan yang terbaru, K-O-M-A
Bukan novel adaptasi, melainkan sebuah novel sastra.
Kodrat, anak muda yang selalu membawa kebahagiaan bagi setiap orang di sekitarnya. Ibunya, Kenangan dan bapaknya Jauhhari. Ibunya seorang perangkai bunga dan ayahnya sudah meninggalkan mereka sejak pertengkaran dengan ibunya. (Dalam cerita ini ada dua gambaran yang menyebabkan Jauhhari pergi meninggalkan Kodrat dan Kenangan, tetapi tidak ada penekanan yang mana yang sebenarnya penyebab Jauhhari meninggalkan mereka).
Lalu ada hubungan dengan sang penelpon gelap, seseorang yang mengaku bernama Pamungkas yang membayar 10 juta rupiah agar Kenangan mau merangkaikan bunga duka cita untuk seseorang, dan akhirnya penyerangan tiba - tiba ketika Kodrat bersama Muara.
Ada empat hubungan yang ingin ditekankan (dan diceritakan) oleh FX Rudy Gunawan. Yang pertama, hubungan ayahnya dengan Pamungkas. Yang kedua, Kodrat dengan ayahnya. Yang ketiga, Kodrat dan Kenangan. Dan terakhir, Kodrat dan Muara (serta sekitarnya).
Pada bagian awal, ada epilog yang menarik buat gue untuk terus menelusuri tentang 3 orang yang berperan penting dalam cerita ini, Kodrat, Kenangan, dan Jauhhari.
Aku lahir di tengah hiruk pikuk Jakarta. Benar - benar di tengah hiruk pikuk Jakarta.
...ya, aku benar - benar dilahirkan di dalam mobil yang disewa ayah untuk membawaku ke rumah sakit bersalin. Itulah sebabnya ayah memberiku nama: K o d r a t...
Masih lima bintang
Semakin ke belakang, semakib membongkar Kodrat dan isinya. Tapi ketika ia mengisahkan Kenangan yang biosa membuat orang menangis dengan bunganya adalah suatu kegagalan yang (tak) tampak gue lihat. Dia bisa menceritakan 2 kisah kesuksesan Kenangan yang membuat orang menangis. Kegagalan apa yang (tak) tampak itu? Ya, kegagalan untuk memperbanyak isi buku dengan cerita yang bertele - tele.
Tinggal empat bintang
Imajinasi liar FX Rudy Gunawan juga disisipkan di halaman - halaman buku ini. Seperti imajinasi di pantai, juga imajinasi - imajinasi berita. (Kok bahasanya berita banget? Ingat, latar belakang FX Rudy Gunawan adalah wartawan).
Imajinasi itu yang membuat berpikir, "Oh... ada juga toh cerita begini..." Entah itu real atau maya, gue juga enggak tahu. Tapi di situlah membuat gue berputar otak.
Kembali lima bintang
Isi email. Sepertinya itu adalah wilayah Rudi menceritakan kegelisahan hatinya tentang beberapa kejadian. Sayangnya, isi email itu tidak membuat gue menjadi terkesan.
Empat bintang lagi
Ingat! Pada bab awal, Kodrat diceritakan seperti anak "cupu" walau ia telah berusia 6 tahun. Tetapi ketika 29 tahun, ia seperti anak yang agak brandal. Dan ia yang sering membawa kebahagiaan bagi orang sekitanya hanya kata pembuka saja. Bukan sebagai penggambar cerita (Rudy sepertinya melupakan hal ini).
Tiga bintang aja
Cara ia mendeskripsikan ruang ICU juga enak dibaca dan mudah dipahami tetapi tetap saja bertele - tele.
Dua bintang
Cerita Kodrat. Itulah yang membuat gue tetap bertahan membaca. Hanya, mulai jarang ditemukan kata - kata bagus atau indah padda novel ini.
Cara Kodrat mengeja. Agak menarik untuk dibicarakan.
Tiga bintang
Rasanya cukup diresensi. Kali ini gue sadar beberapa penulis muda yang memberikan komentar untuk buku ini adalah anak - anak GagasMedia-Bosnya Gagas ya... FX Rudy Gunawan-. Bahkan Ninit Yunita mengakak. Sedangkan gue? Bingung sendiri mencari apa yang membuat Ninit tertawa.
"A must read book!" Ninit Yunita, novelis
Ok... sebutkan dulu apa yang bisa membuat dirimu tertawa ketika membaca K-O-M-A yang membuatku jadi K-O-M-A (ka-o-em-a)
"Saat buku disimpan, seakan pikiran dan 'nyawa' novel ini masih terbawa-bawa dan terus berlanjut. Bukan titik, tapi koma."
Fira Basuki, novelis
Ah masak sih Mbak Fira? Kok saya masih dapat cetakan pertama ya? Padahal belinya udah 3 bulan sejak bukunya terbit lho! Bukan titik kah itu?
Saat bangsa Roma, bangsa yang pertama kali mengembangkan konsep jalan raya, merancang jalan untuk kota, mereka menetapkan ukuran lebar jalan 143,5 cm. Mengapa harus demikian? Ternyata kereta yang mereka gunakan saat berperang ditarik oleh dua kuda dan bila ditempatkan berdampingan kedua kuda akan jadi selebar 143,5 cm.
Dan lebar rel kereta api yang kita lihat saat ini "ditentukan" oleh bangsa Roma. Saat orang-orang mulai berimigrasi ke Amerika Serikat dan mulai membangun jaringan rel kereta di sana, mereka tidak berpikir untuk mengubah lebar rel kereta. Hal itu bahkan berpengaruh pada pembangunan stasiun ruang angkasa. Para insinyur di Amerika berpikir bahwa tanki bahan bakar untuk pesawat luar angkasa seharusnya berukuran lebih lebar dari 143,5 cm. Namun tangki bahan bakar tersebut dibuat di Utah dan harus dikirim ke Pusat Pengendalian Luar Angkasa di Florida menggunakan kereta api, sedangkan terowongan kereta tidak bisa memuat gerbong yang lebih lebar dari itu. Terpaksa mereka menerima ukuran yang dianggap orang Roma paling ideal untuk lebar kendaraan.
Hal itu ternyata berlaku pula bagi perkawinan. Saat dua orang menikah, mereka harus tetap seperti itu sepanjang hidup. Mereka akan berjalan beriringan seperti halnya dua besi yang terhubung menjadi rel kereta api, berusaha menjaga lebar tersebut agar tidak berubah. Bahkan jika suatu waktu salah satu dari keduanya perlu sedikit menjauh atau mendekat, hal itu melanggar aturan. Aturannya jelas: kau harus sensitif, pikirkan masa depan, pikirkan anak-anakmu. Kau tak dapat berubah. Kau harus seperti dua baja rel kereta api yang lebarnya selalu tetap sama sepanjang jalan mulai dari titik keberangkatan hingga titik tujuan. Aturan itu tidak memperbolehkan cinta untuk berubah. Itu terlalu berbahaya.
Paparan Paulo Coelho dalam novel Zahir tentang lebar rel kereta tersebut tampaknya dianut betul oleh Jauhhari, salah satu tokoh dalam novel K-O-M-A karya FX Rudy Gunawan. Baginya, dengan bersanggama dengan pasangannya, Kenangan, berarti peleburan hati, jiwa, dan pikiran. Paham ini menyebabkan Jauhhari frustrasi karena kegagalannya menuangkan keindahan rangkaian bunga yang dibuat Kenangan ke dalam lukisannya.
Frustrasi itu membuat Jauhhari meninggalkan Kenangan dan anak mereka, Kodrat. Jauhhari, seniman yang bergerak di bawah tanah dan menentang pemerintahan otoriter pada masa-masa sebelum reformasi, seperti lenyap ditelan bumi. Tinggallah Kenangan, yang dalam kesenduan membesarkan Kodrat sendirian.
Kenangan dan Kodrat melanjutkan hidup dalam keunikan masing-masing, namun saling melengkapi. Kenangan yang selalu hidup dalam kenelangsaan, merefleksikan kesedihan hidupnya melalui karangan bunga rancangannya. Berbeda dari sang ibu, Kodrat selalu mencerminkan kegembiraan. Keriaan selalu mengiringi kehadirannya, di mana pun ia berada. Juga tercermin pada karangan bunga yang ia hasilkan sejak usia 4 tahun.
Hukum 143,5 cm pun berlaku bagi Kodrat. Sesuatu tidak boleh ada yang berubah, termasuk dosa orang tua, harus juga ditanggung oleh anak. Kodrat, yang tidak tahu apa-apa, harus menghadapi seorang intel yang begitu menaruh dendam pada Jauhhari, sang ayah. Kodrat pun diburu, bahkan sampai jatuh koma di rumah sakit karena upaya pembunuhan yang dilakukan si intel.
Ketulusan, kalau bisa dibilang kepolosan, pikiran Kodrat kemudian menjadi penjalin cerita dalam novel ini. Lompatan alur cerita pun tidak menjadi hal yang mengganggu, karena ditulis dengan begitu kuat, tanpa terasa dipaksakan. Pemilihan kata yang tepat dan efektif juga membuat pembaca mudah untuk bermain-main dengan pikirannya sendiri, meski cerita yang ditulis begitu abstrak.
Membaca K-O-M-A, rasanya seperti membaca pikiran penulisnya, FX Rudy Gunawan. Segalanya begitu ringan diungkapkan, mudah dicerna, namun demikian berat saat dipikirkan dan direnungkan. Segalanya begitu mengada-ada, begitu tinggi mengawang, tapi bukan berarti tidak mungkin untuk dicapai dan diraih. Hanya ada satu kata yang tepat untuk menggambarkan isi novel ini: absurd! (lits)
Novel ini sebenarnya ceritanya not bad. Tapi detil-detil yang terlalu banyak malah membuat novel ini membosankan, belum lagi penceritaan yang terlalu bertele-tele. Padahal ada renungan-renungan yang cukup dalam yang bisa kita ambil dari sini. But i don't know, it's just not my thing. Menyerah di halaman 106
aku membaca buku ini sekitar sebulan yang lalu. Tokoh-tokohnya, kodrat, kenangan, jauhhari, dll cukup memiliki kekuatan karakter. Penuh pesan tapi bagiku sendiri kurang memberikan kesan...