Meet The Wounded [Her] Avelyn Tedjanarta, seorang wanita yang tidak percaya dengan cinta. Ia menjalani kehidupannya yang biasa-biasa saja tanpa menginginkan perubahan. Yang diinginkannya hanya satu, menjauh dari masa lalunya. Tapi tidak semua harapan akan menjadi kenyataan, terkadang satu perubahan mengakibatkan perubahan yang lainnya. Dan ketika Avelyn bertemu dengan pria itu, Avelyn tahu... kehidupannya tidak lagi sama. Meet The Healer [Him] Warren Tjandrawinata, cukup sekali merasakan terluka. Ia tidak menginginkan wanita lain mengusik kehidupan tenangnya. Yang diinginkannya adalah hidup dengan tenang dan menjalani masa lajangnya dengan bahagia. Pertemuan yang didasari oleh keinginannya untuk menolong seseorang, tanpa sadar malah menariknya semakin dalam dengan wanita itu. Warren tidak membutuhkan kejadian masa lalunya terulang untuk kedua kalinya. Tapi ketika wanita itu memutuskan untuk mendorongnya menjauh, Warren tahu hatinya tidak lagi menginginkan ketenangan.
“Kepada kau yang merasa tidak puas dengan kehidupanmu sekarang, kepada kau yang merasa hidupmu tidak bermakna. Bukankah kebahagiaan memang sulit untuk didapat, namun layak untuk ditunggu?” – Pg. 535
Yuhuuuu! Akhirnya setelah sekian lama kelar baca, aku bisa up review dan kesan-kesanku baca Soprano Love ini. Nah, untuk ceritanya sih buatku nggak begitu ngebosenin ya, secara ini bukunya lumayan tebel loh ya. Apalagi bagian Warren yang pas lagi berdebat sama Avelyn atau pas Warren bikin Avelyn kehilangan kata-kata karena perbuatan manis yang Warren lakuin buat Ave. ditambah adanya Max yang dewasa banget buat anak seusianya jadi hiburan tersendiri. Omongannya itu kadang sok tua banget! Haha, tapi kusuka Max. sungguh.
Walaupun alurnya agak lambat dan banyak flashback di sana sini, aku cukup senang karena setiap flashback/suara-suara yang muncul dalam hati/pikiran setiap tokohnya diberi pembeda sehingga nggak bikin bingung pas bacanya. Karena cukup banyak dialog yang pindah-pindah dari masa lalu ke masa sekarang begitupun sebaliknya. Dibanding versi dunia orennya, aku lebih suka versi cetak ini.
Last, kalau yang penasaran bagaimanakah ending kisah Avelyn-Warren kalian tentu saja bisa berburu buku ini di toko buku terdekat ya!
Cerita ini mampu membuat perasaanku porak poranda. Sedih, terharu, senang, baper bahkan bisa membuat aku sampai menitikkan air mata melihat kehidupan Avelyn. Melihat dia diperlakukan dengan tidak adil oleh keluarganya sendiri. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat berlindung, tempat mencurahkan isi hati dan tempat yang membuat kita nyaman untuk tinggal. Tapi semua itu tidak pernah dia dapatkan. Yang didapatkannya hanya caci maki, penghinaan, bahkan kekerasan sehingga meninggalkan trauma yang cukup mendalam bagi Avelyn.
Selain itu aku juga sangat jatuh hati dengan sosok Warren, seorang pria yang berusaha untuk masuk ke kehidupan Avelyn. Seorang pria yang berusaha untuk membuat Avelyn bahagia. Walaupun selalu didorong Avelyn untuk menjauh, tapi dia tidak pernah menyerah.
Ceritanya yang gak klise sebenernya tapi aku kurang suka dengan sifat karakternya,ada sesuatu aja gitu yang buat gak logis dan buat gregetan. Mungkin aja sih egoisnya karakter utama Cewek dan cowoknya. Ini opini aja atau emang gimana.karakter anak disini namanya Max dan ak merasa bersalah kesel sama Max krn dia anak anak tapi ga logis anak anak bisa berpikiran spt Max,bahkan pikiran Max jauh lebih dewasa dibanding pemikiran tokoh utama cewek Jadi butuh waktu bgt untuk menyelesaikan buku ini dengan gregetan
Baca ini berasa kejar tayang krn tingkat penasaran sama kelanjutan cerita halaman per halaman nya. Jadi sadar arti penting nya kehangatan keluarga , kasih sayang dan perjuangan pasangan dalam membahagiakan pasangan hidup nya. blom lagie si kecil Max yang kok yaa dewasa banget pemikiran nya, sampe kadang bikin baper . tapi semua yang dikemas dalam crita ini sungguh sangat menghibur dan menginspirasi. bikin deg-deg'an , nangis haru dan kadang jengkel sama keegoisan untuk saling malu ungkap perasaan masing2 tokoh nya. Tapiii tetap lah keren ... Suka baca nya dan nge bosen in .