Jump to ratings and reviews
Rate this book

Rentang Kisah

Rate this book
Apa tujuan hidupmu?
Kalau itu ditanyakan kepadaku saat remaja, aku pasti nggak bisa
menjawabnya. Jangankan tujuan hidup, cara belajar yang benar saja aku nggak tahu. Setiap hari aku ke sekolah lebih suka bertemu teman-teman dan bermain kartu. Aku nggak tahu apa yang menjadi passion-ku. Aku sekadar menjalani apa yang ibu pilihkan untukku—termasuk melanjutkan kuliah di Jerman.

Tentu bukan keputusan mudah untuk hidup mandiri di negara baru. Selama 7 tahun tinggal di Jerman, banyak kendala aku alami; bahasa Jerman yang belum fasih membuat proses perkuliahan menjadi berat, hingga uang yang pas-pasan membuatku harus mengatur waktu antara kuliah dan kerja sambilan.

Semua proses yang sulit itu telah mengubahku; jadi mengenal diri sendiri, mengenal agamaku, dan memahami untuk apa aku ada di dunia. Buatku, kini hidup tak lagi sama, bukan hanya tentang aku, aku, dan aku. Tapi juga, tentang orangtua, orang lain, dan yang paling penting mensyukuri semua hal yang sudah Tuhan berikan.

The purpose to live a happy life is to always be grateful and don’t forget the magic word: ikhlas, ikhlas, ikhlas.

216 pages, Paperback

First published September 1, 2017

271 people are currently reading
3066 people want to read

About the author

Gita Savitri Devi

2 books127 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
619 (30%)
4 stars
725 (35%)
3 stars
500 (24%)
2 stars
102 (5%)
1 star
70 (3%)
Displaying 1 - 30 of 259 reviews
Profile Image for Fitri.
203 reviews
January 21, 2023
I bought this book on impulse, just because I went to a bookstore one day and I was trying to have something for my weekend. I have no expectation because I was kind of skeptical with a book from an influencer who generally have a great number of followers. I was once disappointed, but I pick up the book anyway because I once watched her YouTube videos, in which she talked about the book, and I kinda like it.

Long story short, I finished the book even quicker than I thought I would have.

(Since the second part is her writings that has been published on her blog, I'm going to focus more on the first part of the book).

It was surprisingly good and heartwarming. What I love the most is that she can courageously share the story of her journey to find what she now have a faith in. I thought that the book would be about preaching, and her successful journey (no offense, those kind of story can be good and humble too, but I just wasn't attracted to it), instead, she was (IMO) humble in delivering her story and show the glimpse of how she had been raised and grow up that she can thought and be like her now.

To be very honest, since she get lots of exposure in social media, I have my moments when I disagree with what she had said. Finishing reading the book doesn't mean that I fully agree with her everything, but kind of open my mind a little bit broader about how it's okay to disagree to people and still respecting that person with different minds.

Reading the book has been very pleasant. Thank you @gitasav :)



also, I am finally #readingmorediversegenre !
Profile Image for Gwen.
120 reviews
June 28, 2018
Ditulis dengan gaya gita banget, sepanjang membaca gw ngebayangin dia ngomong depan kamera. Isinya tentang perjalanan hidup yang membuat dia menjadi gita yang sekarang
Gw suka dengan bab-bab awal yang banyak memberikan contoh nyata, agak sedih karena dibeberapa bab terakhir merupakan tulisan dari blognya.
Semoga bisa meneruskan karyanya dan memberi pengaruh yang baik untuk semua.
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
January 2, 2018
1 - 2018

Sudah sejak lama aku mendengar tentang Rentang Kisah. Buku yang baru saja selesai kubaca ini bahkan merupakan cetakan kedua.

Awalnya aku pikir Rentang Kisah adalah sebuah novel fiksi, ternyata ini semacam diary perjalanan kehidupan seorang Gita Savitri sejak masih remaja, hingga saat memutuskan untuk kuliah di Jerman.

Membaca buku ini seperti aku diajak mengintip kehidupan penulis dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Mulai dari seorang remaja yang tidak suka belajar, tidak tahu passionnya apa hingga saat dia memutuskan untuk mengejar impiannya kuliah di Jerman dan melepas kesempatannya untuk kuliah seni di ITB.

Bagaimana seorang remaja 18 tahun harus menyesuaikan diri ke lingkungan yang berbeda di Jerman, bagaimana dia harus belajar mati-matian untuk bisa lulus program penyetaraan atau kelas persiapan sebelum masuk ke dunia kampus sesungguhnya.

Pertemuannya dengan Paulus, kisah romanda beda agama hingga hijrah dia untuk menggunakan hijab.

Semua dirangkai dengan mengalir, hingga tak membutuhkan waktu yang lama untuk membacanya. Buku yang inspiratif. Cocok dibaca buat remaja yang masih mencari jati diri. Siapa tahu bisa mengambil hikmah dari kisah Gita.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,430 reviews72 followers
June 19, 2024
Hmm... So, ini ditulis sebelum dia memutuskan buat childfree (yes dia masih mikir gimana milih lingkungan yang baik buat membesarkan anak di buku ini. Itu salah satu alasan dia stay di Jerman). Sebelum dia pakai hijab turban (dia baru pakai jilbab setelah pasangannya masuk Islam. Dia bahkan pernah halaqah di tarbiyahnya PKS). Dan sebelum dia bikin kontroversi dengan ikut aksi demonstrasi di Hamburg dan posting foto suaminya yang mengangkat karton bertuliskan "I support women of Iran, women of Afghanistan, women of Uyghur, BIPOC & LGBTQ+. Everyone fighting against oppression and inequality" dan bikin ujaran mengomentari pemerintah Qatar yang melarang masuknya simbol-simbol LGBTQ+ di Piala Dunia 2022.

Aku jadi penasaran bagaimana isi pemikirannya jika ia menerbitkan buku lagi. Tentunya ada perubahan drastis dan aku ingin tahu bagaimana dia menjustifikasi argumen-argumennya.

I'm not really familiar with her selain dengan kontroversi-kontroversinya yang kusebutkan di atas, yang dimuat di situs-situs berita online secara singkat. Jadi, ini pertama kalinya aku bersentuhan dengan buah dari pemikirannya. Kesimpulan awalku? Menarik. Dia jelas punya karakter yang tegas, kuat dan pola pikir yang terstruktur (plus punya editor yang bagus!).

Di sini diceritakan naik-turun hubungannya dengan sang mama. Bagaimana dia merasa mamanya tidak terlalu perhatian padanya, suka memarahinya terus, dan dia kecewa karena mamanya tidak lembut seperti sosok para ibu di sinetron. Buat Gita, ibu adalah sosok yang ditakuti, bukan dihormati. Sampai masalah rabun mata pun baru berani ia utarakan ketika kondisi matanya semakin memburuk di kelas 2 SMP.

Pandangannya terhadap sang mama melembut setelah ia kena penyakit misterius yang ditandai dengan benjolan di leher. Gita sempat ketar-ketir karena mengira dirinya kena kanker. Setelah dites, ternyata dia DBD. Peristiwa jatuh sakit itu mengubah pandangannya terhadap sang mama. Ternyata bagi mamanya perilaku Gita pun terbilang ketus dan suka melawan.

Gita menulis bahwa setelah ia sembuh, ia baru menyadari soal usaha ibunya yang terus menekan perasaan agar bisa terlihat kuat karena suaminya kerja di Amerika. Timbul keinginan untuk lebih menerima ibunya apa adanya.

Nah, Gita sempat mengalami kegalauan waktu mau lulus SMA. Dia mengaku bukan tipe pelajar yang serius belajar. Ia bahkan bingung mau meneruskan ke mana karena tidak tahu apa passion-nya. Akhirnya dia mencoba ikut tes masuk ke Seni Rupa ITB. Setelah belajar dengan sangat keras, akhirnya ia diterima. Tapi ibunya malah menawarinya opsi lain: mau ke Jerman buat kuliah Perminyakan? Gita pun galau karena dia sangat ingin tinggal di luar negeri. Sejak bertahun-tahun yang lalu dia sudah les bahasa Jerman.

Akhirnya ia mengambil opsi untuk kuliah di Jerman. Namun, ternyata ia tak bisa langsung berangkat karena usianya belum cukup. Orang baru bisa kuliah di Jerman jika sudah berusia 17 tahun. Kalau tidak, segala urusan administrasi Gita harus diwakilkan pada orangtua dan itu jelas tak mungkin karena masalah jarak. Gita sempat sangat kesal mengetahui kenyataan itu. Terminal satu tahun buatnya tak mudah. Apalagi melihat teman-temannya sudah sibuk kuliah semua. Tapi akhirnya ia bisa menemukan hikmah. Ia jadi lebih bisa bermain dan menikmati Jakarta tanpa harus diburu-buru waktu sekolah. Dia juga ikut kegiatan olahraga bersama teman-temannya. Akhirnya dia bisa lebih menerima kenyataan.

Sampai di Jerman, dia harus ikut kelas persamaan dan ujian masuk universitas. Dia berusaha keras memperbaiki cara belajarnya, sampai minta tolong diajari teman. Yang kutangkap, apa yang dia alami saat itu benar-benar tidak mudah. Jika dirinya gagal ujian, risikonya adalah ia akan langsung dipulangkan ke Indonesia. Aku yang suka mager ini jadi bertanya-tanya, apa memang harus menempatkan diri di lingkungan yang memberikan tekanan dan tantangan ya biar nggak mager? Lingkungan yang ngasih konsekuensi jika terjadi kegagalan karena tidak bersungguh-sungguh. Tapi tekanan yang masih aman buat ditanggung biar jatuhnya nggak malah depresi. Nah, lingkungan apa yang sesuai kebutuhanku dan bisa memberikan tantangan serta tekanan yang kubutuhkan, yang sanggup kuhadapi dalam waktu lama? #Galau

***

Hal yang paling menarik dalam buku ini menurutku adalah perjalanan spiritualnya yang dimulai dengan kegalauannya karena pacaran dengan lelaki beda agama. Gita yang kini sering dituding sebagai muslim liberal ternyata punya pemikiran dan pengalaman spiritual yang bisa dibilang mendalam. Ketika ia makin cemas dengan status pasangannya yang masih nonmuslim, ia berpikir ulang soal niatnya untuk membuat pacarnya jadi mualaf. Dia memutuskan untuk mengikhlaskan dan tidak memaksakan untuk harus berjodoh dengan pacarnya. Ia mengganti niatnya, ingin memperkenalkan Islam agar pacarnya dapat hidayah. Justru setelah dia pasrah seperti itu, pacarnya mulai memperlihatkan ketertarikan pada Islam. Awalnya, sang pacar terkena masalah. Keraguannya pada agama aslinya muncul. Gita lalu memintanya untuk salat. Dia sampai membuatkan tulisan bacaan-bacaan salat dalam ukuran besar untuk membantu pacarnya salat. Masyaallah. Dan pacarnya mau. Jadi, sebelum bersyahadat, pacarnya udah nyoba salat lebih dulu.

Aku langsung berpikir begini, "Orang yang selama ini kalian hujat tuh seenggaknya udah pernah mengusahakan dirinya untuk bikin satu orang jadi mualaf, loh. Kalian gimana?"

Menariknya, setelah itu baru Gita berpikir untuk pakai jilbab karena temannya bertanya, "Kapan kamu mau mengislamkan dirimu sendiri dengan nutup aurat?". Menarik, kukira sejak dari Jakarta dulu dia sudah pakai jilbab. Ternyata masih baru. Berarti dia bisa dibilang masih proses belajar soal ini, kan? Aku jadi tertarik apa tulisan dia untuk menjustifikasi dirinya yang kini sering pakai hijab model turban yang enggak menutupi leher. Bagaimanapun dia masih belajar, kan.

Sejujurnya setelah membaca buku ini aku kagum dengan ketegasannya dalam berpendapat dan mempertahankan pendapat. Tipe perempuan yang bisa membela dirinya sendiri begitu. Ingin juga rasanya bisa berargumen secara kuat dalam kehidupan sehari-hari. Ada kesan angkuh dalam dirinya, tapi itu mungkin karena pengalaman dan lingkungannya menempanya jadi seseorang yang berwatak keras. Bagaimanapun, terlalu dangkal rasanya untuk menilai seseorang seperti Gita hanya dari berbagai ocehan pendek di medsos dan berita-berita kontroversi yang isinya hampir sama di portal-portal berita itu. Anyone has their own depth. Buku ini pun hanyalah sekeping kecil dari keseluruhan seorang Gita.

Buku ini menyertakan lima tulisan dari blognya. Tulisan-tulisan itu berbicara tentang hidup yang bukan perlombaan, bagaimana menurutnya seharusnya orang muslim bersikap sebagai minoritas di negara-negara asing, kritikannya terhadap orang Indonesia sebagai masyarakat yang hanya ingin disuapi informasi tanpa ada inisiatif untuk mencari sendiri, dan wataknya sebagai seorang introvert. Favoritku adalah tulisannya tentang kekesalan pada orang-orang Indonesia yang berusaha membungkam kekritisannya dengan dalih, "Memangnya apa kontribusimu buat Indonesia?". Cara dia menjawab benar-benar kuat.

Namun, untuk soal capnya pada orang Indonesia sebagai generasi tutorial yang hanya mau disuapi informasi, aku punya pandangan lain. Sometimes, sebagai seorang manusia yang butuh berkomunikasi dengan orang lain secara riil, aku memilih bertanya pada orang yang lebih ahli dan bukannya langsung meng-Googling. Tujuannya? Biar aku bisa ngobrol sama orang ahli itu dan di-notice. Berharap dari situ bisa memunculkan hubungan pertemanan. Selain itu juga buat mempersingkat waktu untuk dapat referensi yang benar-benar bisa diandalkan. Misalnya, aku mau belajar soal Okinawa, nih. Sebagai orang yang nggak tahu apa-apa soal Okinawa, bingung dong kalau belajar sendiri. Makanya aku bertanya beberapa hal pada orang-orang yang pernah ke Okinawa dan mempelajari budaya Okinawa. Dari informasi mereka, aku mengumpulkan kata-kata kunci yang bisa jadi peganganku untuk menggali informasi lebih jauh. Begitu dapat informasinya, aku pun menghubungi mereka lagi untuk diskusi demi mengecek apa hasil temuanku udah benar.

Karena itulah aku nyaris nggak pernah menjawab pertanyaan sesepele apa pun dengan "Googling aja", karena itu berarti aku mematikan keinginan orang untuk berkomunikasi denganku. Mungkin Gita ngerasa jengah karena jumlah orang yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dianggapnya sepele itu ada banyak banget. Tapi beneran, deh. Capek banget kalau dikit-dikit Googling. Even aku juga biasanya nanya berapa kurs rupiah ke mata uang Polandia ke sepupuku yang kerja di Polandia. Buat nambah interaksi dan mempersingkat waktu. Lagian juga itu hanya ketertarikan sesaat. Kalau aku benar-benar tertarik sama suatu isu baru deh aku gali Google sampai kenyang plus nyari buku-buku referensi terkait dan narasumber yang bisa ditanyai.

Lalu juga soal bagaimana Gita tidak habis pikir dengan pertanyaan orang-orang yang bunyinya seperti, "Bagaimana caranya untuk nggak males?". Buat dia pertanyaan semacam itu jawabannya bisa dicari sendiri. Tapi jawaban untuk pertanyaan ini cukup kompleks loh. Aku baru aja baca "Buku Antimalas dan Menunda-Nunda" yang ditulis oleh orang psikiater Korea. Dari situ aku jadi tahu bahwa penyebab rasa malas itu bisa sangat kompleks. Masalah emosional, trauma, dan lingkungan toksik yang membuat diri jadi tak berdaya itu ngaruh. Begitu juga soal kecemasan dan takut gagal. Apa ini jenis pertanyaan yang bisa diremehkan? Sampai ada psikiater yang nulis buku khusus tentang ini, loh. Hal-hal seperti ini itu nggak bisa dianggap sepele karena efeknya bisa fatal. Ada ilmu khususnya juga. Terapinya dengan orang profesionalnya bisa berlapis.

Yah, itulah pandanganku soal buku ini. Aku insyaallah akan langsung membaca buku keduanya, A Cup of Tea. Aslinya juga pingin baca buku ini karena penasaran dengan konten soal cyberbullying. Tapi ya karena aku tipe orang yang kalau baca suka sesuai urutan, kubaca dululah buku pertamanya dia. Semoga setelah ini dia nerbitin buku lagi. Iya, aku penasaran dengan perubahan pemikirannya yang sekarang dan bagaimana dia menjustifikasi semua itu.
Profile Image for Aida Fajriyatin.
113 reviews
September 29, 2017
Buku debut mba Gita yang sarat kisah inspiratifnya! Terinspirasi? Jelaass
Tapi kayak ada yang kuraang ni bukunya, kurang banyak ? Hahahaha
Keren ya, curhatan-curhatan yang kecil bisa impactnya ke orang banyak juga.
3 stars ya Mbak Gita :*
The lost 2 stars karena feelnya kurang sama ekspektasiku terlalu tinggi ternyata, kayak baca tulisan blog di dalam buku. But still, tulisannya Mbak Gita renyah banget, ngalir gitu aja.
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
November 1, 2017
well, tidak mengira kalau saya cukup menikmati buku ini...

kalimat yang cukup saya ingat itu ''di usia 20, akan banyak 'keajaiban' yang kamu temui, terus jalani dan ikhlas''

dan yap.

saya baru beberapa bulan berusia 20 dan rasanya super nganu...

dan oh,

terima kasih kak Gita, sudah mengingatkan bahwa di dunia ini kita tidak sedang balapan dengan siapapun,

hhe

aduh nangis hhhhh

***

gaya tulisannya masih kurang suka sih. soalnya, saya kayak bisa mbayangin gita lagi ngevlog dan menurut saya ada beberapa bahasa yang terlalu ''nyolot''. gimana jelasinnya bingung juga wqwq

tapi menarik,

well, kalau kak gita bakal baca ulang buku ini tiap merasa down, mungkin saya akan baca ulang diary saya karena kebetulan saya gemar nulis diary dan isinya naik-turun hidup yang sungguh nganu.

haaaaaaaahh

saya tidak merekomendasikan buku ini ke semua orang karena saya tau ada beberapa kenalan saya yang agak kontra dengan gitasav. tapi kalau punya kesempatan untuk baca2 gratis, coba deh intip.

isinya agak terlalu agamis tapi cukup bikin merenung, termotivasi dan bikin pengen gak cuma diam di tempat.

terima kasih sudah menuliskan buku ini kak Gita!
Profile Image for Syifa Luthfianingsih.
250 reviews95 followers
December 2, 2017
(Agak terkejut saat melihat buku ini baru mendapat 98 rating di Goodreads, mengingat bahwa penerbit sudah empat kali menerbitkan ulang bukunya.)


Bagi orang yang rutin menonton vlog dan membaca tulisan Gitasav seperti saya, pasti ada ekspektasi tertentu saat memulai membaca buku ini. Sayangnya, buku ini tidak terlalu memenuhi ekspektasi tersebut, bahkan menurut saya lebih 'greget' mendengar celotehan Gitasav di videonya atau bagaimana dia mengungkapkan opininya melalui tulisan-tulisan di blog. Tapi terlepas dari itu, buku ini cukup menjawab beberapa hal personal Gitasav yang tidak pernah diungkap di media :)
Profile Image for Buddy The Book.
157 reviews16 followers
October 8, 2020
Memang benar, kata Gita sendiri, buku ini bukan tipikal biografi orang-orang sukses yang bikin mengaga banget bacanya. Tapi saya rasa, paling tidak selalu ada pelajaran dari cerita Gita soal hidupnya.

Banyak mengiyakan beberapa point yang disampaikan Gita, mungkin karena relate sama umur sekarang. Termasuk soal ekspektasi tuh bener banget. Lelah kecewanya. Hehehe
Profile Image for Hendra.
12 reviews2 followers
May 23, 2018
I literally don't know where to start this over, but i really can tell you this book was very good for the people who was still finding their own self in early 20 years old. This book was tell about the stories of the writer Gita Savitri Devi (@Gitasav) in the way to find her faith and the her experiences during her study in German. Her understanding to her parents also one of the things i'm thinking about. Having a chance to study abroad at early age without mental readiness also one of the interesting parts i learned there.
I don't regret myself to bought this book in the first place cause i found this book quite interesting even though i'm not a muslim. However, i still could take some life lessons from her writings. Despite this book is describes a strong religious experience, but I can take some positive things out of it and learn to be a more tolerant person. I should admit this book was easy going and didn't require you to get overthinking.
Profile Image for Evita MF.
92 reviews8 followers
July 19, 2018
Awal tahu buku "Rentang Kisah" gara-gara temenku yang suka banget sama Gita. Dia bahkan nyuruh aku baca dan yakinin kalau aku bakal baca buku ini dalam satu hari. Hasilnya emang buku ini selesai cuma dalam waktu kurang dari 3 jam.
Bukunya inspiratif dan menurutku cocok dibaca untuk teman-teman yang baru lulus SMA atau yang lagi kuliah. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman penulis tentang kehidupan, cinta, dan agama.
Tulisan penulis memang enak sekali dibaca, sampai-sampai aku nggak sadar udah sampai di bagian akhir buku ini. Namun aku lebih suka bagian tulisan-tulisan Gita yang berasal dari blog pribadinya dibanding tulisan baru yang mengisi 3/4 isi buku ini. Aku suka bagimana cara berpikir penulis yang dituangkan dalam tulisan di blognya. Sayang, gaya tulis penulis terlihat jauh berbeda dibanding tulisan pada blognya yang kuat dan berkarakter.
Profile Image for Niken Budiarti.
4 reviews
October 8, 2017
So far I love this book. Tapi sayang, jalan ceritanya terlalu singkat dan kurang mendetail jadi emosinya kurang ngena, mungkin karna ini dari blog ya. Terutama dari bagian sinopsis bukunya bikin bertanya-tanya, "gimana sih tinggal di jerman dengan uang pas-pasan?" Sayangnya Gak di ceritakan lebih detail, cuma bilang "harus muter otak untuk membiayai hidup di jerman". Buku ini cukup menginspirasi dan membantu merubah sudut pandang. Salut sama gita yang berani buat nulis buku. Semoga buku berikutnya lebih bagus lagi.
Profile Image for Delfi.
23 reviews
October 9, 2020
I wish I could give this book 5 stars but I couldn't.

I can totally understand and relate to the 5-6 first chapters. It felt like looking through the reflection of myself but in several last chapters, especially on the blog parts, I have to disagree on some points (and terms) but it's okay because overall I still enjoyed this book.
Profile Image for Rachma.
37 reviews
September 2, 2022
I have to admit, moving a thousand miles away from home to a completely different country has revealed some parts of me that I have never realized before. Sisi - sisi dari diriku yang belum pernah aku lihat ini, sedikit banyak membuatku frustasi. Aku lebih mudah marah, binging, dan mengutuki keadaan yang sebelumnya selalu aku panjatkan dalam doa. Wajar... sebagai orang yang selalu berencana A - Z untuk segala sesuatu yang aku lakukan, keadaan ini sangatlah membingungkan.

Dengan latar belakang ini, membaca Rentang Kisah membuatku seolah - olah sedang berdialog dengan diri sendiri yang sedang kebingungan ini. Bahwa ternyata segala hal yang sedang aku rasakan ini adalah sebuah proses yang wajar untuk terjadi. Selain itu, dialog dan pemikiran Gita yang dituliskan dalam Rentang Kisah juga kembali menyadarkanku mengenai peranku yang sesungguhnya hanyalah manusia biasa, bukan Tuhan. Bahwa seyogyanya kapasitas manusia adalah berusaha dan berdoa, selebihnya urusan Tuhan-lah yang akan menentukan akhir dari segalanya.

What a simple yet e very warm book to read. Semoga setelah ini aku bisa lebih rendah diri untuk melakukan segalanya lillahi ta'ala.
Profile Image for Ari Teguh Nugraha.
211 reviews52 followers
January 3, 2024
Over pretentious. Di tengah-tengah buku lumayan inspiratif. Selain itu agak harsh dalam intonasi kalimat yang digunakan ketika berbicara mengenai kondisi masyarakat Indonesia dan ketika awal-awal bercerita mengenai orang tua. I think her personality is very good, she's also very smart person. But as a writer, she has more to improve.
Profile Image for Rizky Ayu Nabila.
242 reviews30 followers
July 1, 2021
Isinya lebih ke kisah perjalanan hidup seorang Gita Savitri. Yang agak menarik tuh menurutku saat proses Paul memutuskan untuk menjadi seorang muallaf.

Btw, ternyata Gita Savitri ini orang Palembang, satu kota denganku.
Profile Image for Esti Larasati.
27 reviews
January 18, 2021
One of best healing books because it really help me a alot to survive in my lowest point. Thank you Kak Gita Sav😀
Profile Image for syarif.
295 reviews58 followers
June 19, 2022
buku ini cocok dibaca untuk para pelajar menurutku dari gimana gita bersifat ‘melunak’ kepada orang tuanya, belajar mengikhlaskan, hingga perjuangannya bisa keep up di kuliah ternama

sayang, dibandingkan buku limitless punya ka nadira afifa, menurutku buku ini jauh ketinggalan:( mungkin karna baca itu standard ku juga ketinggian ya hehe tp aku suka pola pikir gita yg berani dan kritis!!
Profile Image for Aqyas Dini.
27 reviews
December 18, 2017
Aku suka cara menulisnya Kak Gita, baik di buku ini maupun di blog. Idenya, pemilihan katanya, alurnya, bikin betah baca sampe abis. Berasa seperti baca novel; pengen langsung baca sampe selesai!

Buku ini cocok banget untuk anak muda yang butuh nasehat tapi ga pengen berasa dinasehatin, atau yang butuh sudut pandang tentang bagaimana anak muda memandang dunia di sekitarnya. Keep writing, Kak Gita!
Profile Image for Dian Shinta.
170 reviews
May 20, 2018
[13/70] Rentang Kisah - Gita Savitri Dewi
⭐⭐⭐⭐⭐ (5 dari 5)

Beberapa waktu lalu saya sempat bertanya dan mencari buku apa yang cocok dibaca untuk generasi yang sedang mengalami Quarter Life Crisis? Dan ternyata ini salah satu jawabannya. 😁


"Semua hal yang terjadi di hidup ini bukan tanpa alasan. Aku kembali belajar sesuatu yang sangat penting. Menyayangi orang ternyata ada batasnya. Seperti kemarin aku terlalu yakin akan berujung bahagia, sampai lupa jodoh bukanlah urusan manusia. Memang benar, berharap pada apa pun selain Tuhan itu ngga sehat." - hlm 77

"Ternyata ada beberapa hal di dunia yang ngga bisa kita utak-atik, memang bukan kuasa kita. Mau sekeras apa usahanya, mau sedalam apa perasaannya, kalau memang bukan takdirnya, ya ngga akan bersama. Sesimpel itu. Namun, entah kenapa, sulit buatku untuk menerima, kalau aku hanyalah aktor, dan Tuhan-lah sutradaranya. Bukan aku yang menentukan apa yang menjadi milikku, karena cuma Tuhan yang tahu apa yang terbaik buat hambanya." - hlm 78

"Aku sangat bangga karena sudah bisa (walaupun sesekali masih gagal) mengalahkan setan di dalam diri, yang selalu ngebisikin telinga untuk menyerah, untuk keras kepala, untuk kebanyakan berekspektasi supaya di depan nanti aku kecewa." - hlm 158

"Aku juga selalu bilang kepada diri sendiri untuk berdamai dengan diri sendiri. Karena kita diberi jasad, diberi ruh, untuk diajak berteman. Bukan untuk dimusuhi. Bukan untuk dibego-begoin ketika sedang terpuruk. Bukan untuk dijelek-jelekin ketika kita melihat ada orang yang jauh lebih cakep dari kita. Diri kita ini ada untuk disayang, untuk dirawat, untuk dijaga, diberi ilmu, ditinggikan derajatnya. Bukan untuk disiksa oleh diri kita sendiri." - hlm 159

"Dan aku harus selalu sadar bahwa dunia ini sebenarnya bukanlah tuntutan. Karena sesungguhnya ngga ada yang menuntut kita harus punya particular life atau particular things yang harus dicapai. Cuma keadaan. Dan aku ngga mau kalah sama keadaan. Balik lagi, aku harus selalu sadar, pada dasarnya hidup yang aku miliki ini bukan diisi dengan mengejar ini dan itu, tapi untuk menghadapi dan menikmati keseruan yang dikasih sama Allah." - hlm 160

Whatever that may come, you and I just need to do well, be nice to ourselves, to people around us. Because we are given only once chance. We only live once. The key to live a happy life is to always be grateful and don't forget the magic word: ikhlas, ikhlas, ikhlas. - hlm 161

Kutipan-kutipan kalimat itu hanya sedikit yang Gita tulis di buku. Cerita di buku ini dimulai saat Gita berusia 17 tahun dan harus berusaha untuk kuliah di PTN yang sangat diinginkannya. Dengan usaha yang tidak mudah Gita berhasil masuk PTN yang jadi incarannya tetapi malah ada tawaran lain untuk lanjut kuliah S1 di Jerman (dan sampai sekarang Gita masih berada di Jerman). Selama 8 tahun berada di negara orang, banyak pelajaran yang sudah diambilnya di tempat yang jauh dari kedua orang tua.

Bukan tawaran kuliahnya yang membuat saya merasa berkaitan erat dengan buku ini. Tapi beberapa tulisan Gita di blognya (yang dikutip di buku) yang benar-benar "tanpa filter" dan somehow saya punya pikiran yang tidak jauh berbeda dengan Gita. 😁

Saya kasih contoh ya, di tulisan berjudul "Life is Not A Race" di situ Gita menulis:

"Apakah poin dari kita hidup adalah untuk cepat-cepatan melakukan sesuatu? Kenapa juga kita mesti cepat-cepatan melakukan sesuatu? Cepat-cepatan achive sesuatu? Dan, kenapa kita harus mengikuti pattern yang udah ada, yang udah dilakukan sama orang-orang sebelum kita? I am 24 now. Apakah gue seharusnya sudah lulus kuliah? Apakah seharusnya sekarang gue udah jadi orang kantoran? Apakah sekarang seharusnya gue udah sibuk mengurus vendor buat nikahan? Terus salah, kalau gue masih berurusan dengan perkuliahan S1 gue? Salah kalau gue belum jadi orang kantoran, walaupun gaji gue lebih besar dari orang kantoran di Jakarta? Ngomong-ngomong, siapa sih, yang awalnya mengharuskan seorang individu begini dan begitu? Siapa sih yang awalnya membuat sistem ini?

Seseorang pernah nanya ke gue, jika gue bisa memutarbalikkan waktu, apakah gue mau memilih jalan yang lain - which is ngga ke Jerman dan hidup gue pun akan berjalan "tepat waktu"? My answer was a no and still a no and will always be a no. Karena gue harus tahu betapa banyak pelajaran yang hue dapat di sini, yang bikin gue bisa kayak sekarang. Dan karena gue tahu gimana ngga bangetnya mental gue, kalau gue memilih untuk stay di Indonesia. Let's say me living in Germany has changed my perspective. It has changed the way I look at things and the way I think of things.

Terus gue nggak pengin nikah cepat? Of course gue mau. Tapi - realistically speaking - gue ngga bisa. Kadang manusia suka lupa; everybody has their own problems, conditions and what not. Dan gue 100% sadar betul kendala apa yang gue miliki sekarang, apa yang menahan gue dari moving forward ke life goals lainnya, seberapa berat kendala itu, dan bagaimana cara gue menyelesaikannya. So, I know that getting married is not on top of my priority.

Well, gue emang ngga tahu gimana takdir gue. Gue ngga tahu kapan Allah bilang gue siap. Kalau ternyata out of the blue gue nikah sekarang, ya bagus. Jodoh udah datang, masa gue tolak? But still, to everybody out there, please stop telling me to get married."

Dan saya menambahkan: Berdoa agar dia (saya, atau siapapun) segera menikah lebih baik daripada just telling anyone to get married asap. 😁

Di tulisan Gita yang lain membahas tentang generasi tutorial. Maksudnya apa? Iya, sedikit-sedikit minta diajarin, minta "disuapin", minta disediain di depan mata, minta dipancingin ikan lalu tinggal makan. Ngga mau tahu gimana caranya mancing. Ngga mau tahu gimana caranya masak ikan. Ngga mau tahu prosesnya. Maunya terima hasil. 😂 Saya akui, kadang saya juga masih ada kalanya bersikap seperti itu. Tapi, saya sadar, dengan saya meningkatkan kebiasaan membaca buku itu saya harusnya lebih bisa banyak belajar.

Buku itu jendela dunia. Internet itu jendela dunia. Mau jalan-jalan ke belahan dunia lain, hanya dengan membaca dan membuka internet. Betul. Kalau penggunanya menggunakan keduanya dengan bijak. Bukan hanya punya smartphone tapi cuma tahunya buka akun gosip dan baca berita hoax. Sudah pakai smartphone tapi belum smart. 😁 Indonesia termasuk pengguna internet yang tinggi. Tapi sepertinya belum siap dengan adanya internet ini. Kalau ada yang nanya, Shinta kenapa sih suka baca? Saya pengin balik tanya, kenapa kamu ngga suka baca? 😊


Gita juga bahas tentang diaspora. Jangan tanya diaspora itu apa ke saya. Silahkan buka browser, ketik di kolom pencarian dan saya yakin ada hasilnya di sana. 😁

Menjadi seorang diaspora ternyata masih saja ada yang berkata "belum kasih kontribusi nyata kalau belum membangun Indonesia." 😒 Saya setuju dengan Gita. Sekolah atau hidup di luar negeri (sebagai minoritas pula) itu sudah membawa beban berat karena membawa nama negara dan agama. Bersikap baik dan sesuai aturan itu sudah salah satu kontribusi yang diaspora lakukan.

Terakhir. Buat @arsnath dan @harleymax, I know you can do it well at there. Di tunggu kabarnya selalu. Much love from me and pals, 😘
Profile Image for Siti Bariroh Maulidyawati.
102 reviews6 followers
October 3, 2018
Ada satu quotes yang paling saya suka;

"Aku sangat bangga karena aku bisa mendefinisikan sendiri apa itu kesuksesan dan kebahagiaan versi pribadi. Dan aku sudah membuktikan, kesuksesan bisa didapat, kebahagiaan bisa selalu dirasa, kalau kita tahu caranya bersyukur."

adem euy.
Profile Image for Murtyas Puspasari.
95 reviews6 followers
May 25, 2020
I used to expect lot more than this. I read her blog and watch her vlog, get much information i didn't know yet and I expect getting the exact same thing with that or even better. But unfortunately, I end up disappointed. Maybe just not my cup of tea, or perhaps I expect too much.
Profile Image for Kaytalist.
348 reviews26 followers
October 17, 2021
Just like any other Biography of selebgram, the tend to be over pretentious is something that unavoidable. But, atleast this one has clearer concept. Some part are relatable. Some part are motivating, but, well yeah.....
Profile Image for Lita Lestianti.
38 reviews
June 22, 2018
Bahasanya mengalir, khas anak muda. Dari awal udah bikin ngga sabar pengen nyelesein. Ternyata memang enak. Cerita sederhana tapi banyak makna.
Profile Image for Nora Apriyani.
151 reviews
November 15, 2017
Gitasav.. saya mengenalnya bukan baru ketika ia mengeluarkan buku ini, tapi (tidak jauh) sebelum itu, yaitu saat saya mulai aktif melihat video beberapa vloger Indonesia dan kemudian saya tersesat (anggap saja demikian :D) ke channel nya Gita. Waktu itu saya menonton vlog nya yang edisi Gita menceritakan cara dia belajar bahasa Jerman yang menurut Gita sangat susah. Waktu itu saya kagum sekali sama Gita, cara dia tekun belajar bahasa Jerman itu sungguh luar biasa.

Dan setelahnya, saya melihat Gagas Media akan mengeluarkan buku yang ditulis oleh Gita berjudul Rentang Kisah. Waktu itu saya sempat ikut polling untuk penentuan covernya juga. Kemudian akhirnya buku inipun terbit dan saya memang berniat untuk membelinya, tapi sempat maju mundur karena di tobuk di kota saya harga buku ini bisa lebih mahal 20% daripada di pulau Jawa atau di tobuk online. Singkat cerita akhirnya saya (memilih) membeli buku ini secara online di belbuk hanya dengan mengeluarkan uang 30 ribuan rupiah saja (karena di belbuk saya punya saldo sekitar 20 ribuan rupiah, hasil dari memberikan ulasan beberapa buku).

Setelah buku ini mendarat di tangan saya, perlu beberapa waktu untuk saya mulai membacanya karena saya terlanjur membaca buku yang lain. Dan setelah saya punya waktu membaca buku ini, ternyata hanya perlu waktu sekitar 2 jam menghabiskan buku ini dalam sekali duduk. Isinya tidak terlalu padat hingga sedikit 'mematahkan' ekspektasi saya dan mungkin pembaca lainnya. Tadinya saya berharap buku ini bisa lebih detail dan 'berisi' daripada beberapa vlog yang pernah dibuat Gita. Tapi saya justru lebih merasa vlog Gita lebih ngena dan rich di beberapa bagian daripada di buku ini Tapi secara garis besar, isi buku ini bagus koq. Gita tidak hanya menyajikan kelebihan atau yang bagus-bagus dari dirinya, tapi juga menyebut beberapa kekurangan yang ada pada dirinya. Tapi kekurangan itu berhasil Gita atasi dengan kerja keras dan keikhlasan. Intinya, banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari buku ini dan saya yakin memang hal tersebut yang ingin dicapai Gita dengan diterbitkannya buku ini.

"Kita belum tentu mendapatkan apa yang kita mau. Ketika itu terjadi, kita harus bisa menerima dan menghadapinya dengan bijaksana atau nggak akan pernah belajar apa-apa dari hidup ini." (hal. 50)

Saya merasa terharu banget pas baca yang bagian Paul mengucapkan syahadat. Untuk part yang ini pernah dibikin vlognya gak sih sama Gita? Saya kurang yakin, ntar deh saya search :D
.
Dan untuk pendapat Gita mengenai hijab, saya setuju sekali!! Dari dulu saya gak suka dengan istilah 'menghijabkan hati'. Hijab itu kewajiban yang harus kita (wanita) patuhi sebagai umat muslim.

"Kalau dulu aku merasa sebelum menghijabkan kepala, harus menghijabkan hati terlebih dahulu, ngebenerin kelakuan terlebih dahulu, sekarang aku mengerti hijab adalah kewajiban. Mau kita udah benar atau belum, menutup aurat itu wajib hukumnya." (hal. 129)

Well, walau tidak memuaskan, tapi untuk tahap awal (pertama menelurkan buku), saya merasa buku ini bagus. 3/5 bintang untuk buku ini.
Profile Image for Nadira Aliya.
80 reviews5 followers
March 21, 2018
Sering melihat videonya di Youtube membuat saya pun penasaran untuk membaca bukunya. Jujur banyak hal yang jadi terjelaskan sih setelah membaca buku ini. Tentang kenapa kok ternyata Gita kuliahnya lama banget, tentang ternyata dia pernah diterima di kampus yang sama tempatku kuliah dulu tapi ditolak dan lebih milih pergi ke Jerman, tentang berislam dan tentang masnya, mas Paul.

Yang saya suka dari pemikiran Gita adalah, kita nggak hidup di dunia untuk balap-balapan hidup ideal sekolah-kerja-menikah-punya anak. Kita punya timeline kita masing-masing yang sudah digariskan, dan mesti percaya kalau semua sakit dan duka akan mendapatkan pelipur setelahnya.

Mungkin beratnya waktu Gita nunggu setahun untuk akhirnya kuliah itu sama seperti galaunya wanita lain yang menunggu untuk menikah sementara teman lain sudah punya anak, menunggu wisuda sementara teman lain udah punya penghasilan yang oke, menunggu untuk bekerja sementara teman lain udah bisa jalan-jalan ke luar negeri pakai duit hasil kerjanya.

Merasa tertinggal itu emang nggak enak.

Tapi enggak pernah ada kata ketinggalan dalam hidup. Kita nggak lagi balapan cuy.

Kita juga bisa kok mengisi "rasa ketertinggalan" itu bukan dengan bersungut-sungut, apalagi nyalahin orang lain, tapi dengan hal yang lebih positif. Kelilingi diri sama orang yang punya positive vibes. Bersabar dan nggak mengeluh sebab di depan kita punya garis bahagia sendiri untuk dijalanin, yang mungkin tidak seideal hidup orang lain.

Overall emang benar sih baca buku ini kayak lagi baca blognya Gita. Tiap bab disusun enggak terlalu panjang, tapi punya maknanya tersendiri. Salute buat Gita yang bisa menyelesaikan buku ini ditengah dia hektik skripsi, ngerjain video, dan kesibukan lainnya~
Profile Image for Farah.
212 reviews35 followers
December 24, 2018
Setelah menyaksikan beragam video Kak Gita di Youtube dan bahkan berselancar sampai jauh di blog pribadinya, Rentang Kisah menjadi bacaan cukup menarik buatku.

Kenapa? Karena buku 216 halaman ini didominasi oleh cerita "buka-bukaan" penulis tentang lika-liku yang dia alami sebelum dan selama masa studinya di Jerman. Cerita-cerita personal dalam 'Rentang Kisah' lumayan eye-opening untuk pembaca yang selama ini hanya melihat Kak Gita lewat sosial media dan Youtube dalam kondisi "terbaik" dia. A person is so much more than what you (only) see and perceive in social media guys.


Akan tetapi, kalau misalnya ditanya: Apakah aku merekomendasikan buku ini untuk pembaca yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Gitasav? Aku menyarankan pembaca jenis ini untuk menonton berbagai video Gita di akun Youtube-nya terlebih dahulu ( Try this video guys ). Aku rasa pembaca bisa lebih relate dengan kisah yang ditawarkan dalam buku ini setelah mereka familiar dengan sosok Gitasav yang terlihat dalam video-videonya. Rentang Kisah pada akhirnya memang merupakan sebuah buku kumpulan cerita personal yang membuat orang-orang dapat melihat sisi lain seorang Gitasav.

Ulasan terkait buku ini juga dapat ditemukan di sini.

Also found Farah on Blogger | Instagram
Displaying 1 - 30 of 259 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.