Pramoedya Ananta Toer adalah sebuah legenda di Indonesia. Ini tidak hanya dibangun oleh karya-karya sastra yang dihasilkannya namun juga melalui kisah hidupnya. Pada dirinya terekam jejak sejarah Indonesia dengan segala kepelikan dan kepedihan, harapan dan kekecewaan, serta semangat dan kegagalannya. Pram, begitu ia biasa disebut, datang dari zaman yang penuh harubiru revolusi. Ia begitu terpukau oleh revolusi, terlibat di dalamnya namun akhirnya ikut dihancurkan oleh kegagalan revolusi yang ia bayangkan dan kagumi.
Pramoedya bukan hanya seorang penulis novel yang menggugah kita melalui cerita dan tokoh sambil mengajarkan nilai-nilai dan kemanusiaan, karya-karyanya, khususnya yang ia tulis di kam tahanan Pulau Buru, mewakili analisis yang paling dalam mengenai asal mula kemunculan bangsa Indonesia. Buku kumpulan esai ini adalah analisis atas karya-karya Pramoedya, pandangannya tentang sejarah kemunculan Indonesia, dan ide-ide politik yang ia tenunkan ke dalam karyanya.
Max Lane is a writer and researcher and translator, editor and consultant with 36 years of experience in and with Indonesia, as well as with Singapore and the Philippines and with the East Timorese community in Australia.
Bisa dibilang ini adalah karya tentang Pramoedya yang ditulis oleh orang asing yang sudah menjadi lingkaran dalam Pramoedya, karena penulis adalah kawan dekat Pramoedya dan lebih sering melakukan riset tentang karya Pramoedya melalui persinggungan dengan sang penulis langsung. Maka buku ini sangat emosional.
Dihimpunkan dari serangkaian kritik dari karya-karya Pramoedya yang sudah terbit, penulis mencoba untuk menyingkapkan maksud-maksud Pramoedya yang tak banyak bisa ditangkap oleh pembaca kebanyakan. Selain itu penulis juga mencoba menghadirkan beberapa ironi yang dialami Pramoedya beserta karyanya semasa bergelut dengan tiga pemerintahan sekaligus.
Kalau tidak ada seorang Indonesianis yang bernama Max Lane, bisa jadi hari ini kita tidak akan bisa menikmati karya-karya Pramoedya. Di awal penerbitan Tetralogi Buru, naskah Pram sempat dibawa oleh Max sebelum dibredel aparat zaman orde baru. Max kemudian menerjemahkan buku-buku tersebut ke Bahasa Inggris sebelum kemudian dicetak lebih luas ke dalam tiga puluh Bahasa Asing di dunia. Bisa dibilang, Max adalah orang yang sangat berjasa akan internasionalisasi karya Pram. Nah, dalam buku ini, Max menulis berbagai cerita menarik dari sang Maestro sebelum meninggal 2006 lalu. . Biografi ini berfokus pada tiga hal: Pramoedya sebagai seorang humanis (dan Soekarnois), latar belakang sejarah penulisan, dan analisis politik Max sendiri terhadap semua karya-karya Pram. Buku ini bisa menjadi guide bagi mereka yang baru mengenali dan membutuhkan penjelasan-penjelasan historis akan tulisan Pram. Tentu saja, bagi mereka yang tidak terlalu mendalami sejarah, buku ini dapat menjadi jawaban akan pertanyaan-pertanyaan mengenai berbagai kejadian-kejadian yang tertulis di dalam cerita Pram. Jadi, buku ini sebuah penegasan kuat bahwa karya Pram, khususnya Tetralogi Buru, lebih dari sekedar Roman. Mereka adalah potret sejarah panjang terbentuknya Nasion bernama Indonesia yang menentang argumen Ben Anderson akan masyarakat terbayang. . Saya pribadi, sangat tertarik dimana Pram menolak pandangan sempit kebangkitan nasional ‘sekedar’ diprakarsai oleh Budi Utomo. BU yang sebagian besar anggotanya adalah Priayi bisa dibilang adalah orang-orang yang mencari kehidupan bergantung dari gaji Gubermen Belanda. Tidak heran BU tidak banyak berkutik. Membentuk nasion membutuhkan kebebasan dan kemandirian dimana hal ini digambarkan oleh Minke (TAS) yang mendirikan Syarikat Dagang Islam daripada bergantung pada kaum priayi. Dengan menjadi pedagang yang merupakan orang-orang bebas! Maka salah kaprah lah mereka yang mengatakan Pram mengajarkan komunisme. Tokoh-tokoh yang memberikan perlawanan signifikan justru adalah kaum borjuis, atau lebih tepatnya, borjuis demokratik revolusioner menurut Marxis ortodoks.
In the world of Pramoedya Ananta Toer, the author of this book, Max Lane, should not need any introduction.
Like the fifth Beatle to John, Paul, George, and Ringo, I consider Max Lane as the "fourth member" of the mighty force of Hasta Mitra publishing trio: Pramoedya Ananta Toer (writer), Joesoef Isak (editor), and Hasyim Rachman (editor in chief); plus Max Lane as the unsung hero who translated the books into English language and spread them to the international stage.
And as Pram's translator, and as the only remaining one of the 4 that is still alive, his insight into Pram's ideas can be considered as the closest thing to Pram's own way of thinking.
This book is exactly that, Lane's memoir into Pramoedya and his works. While "Indonesia out of Exile" (by Lane as well) was the biography of the Hasta Mitra trio, this book dive deeper into Pram's views and how his harsh experiences shaped his ideas for the books.
For example, it's been established in plenty of Pram's biographies that he was arrested in 1960 by Soekarno's regime for his writing. But this book explains more about which writings in particular: his essays that criticize the government for subjected the Chinese community of abuse, banning them from doing business outside the provincial capital cities, with right-wing politicians scapegoating them for the economic troubles (with all of the essays then compiled into a book "Hoakiau in Indonesia").
This book also shows that despite being jailed by the Soekarno regime, Soekarno himself had nothing to do with it and was unable to release Pram from prison, and that Pram remains loyal to Soekarno's vision of Indonesia and that the "revolution is not over yet." It shows how chaotic 1950s-1960s politics were in Indonesia, where Soekarno's backers such as PNI and PKI were outnumbered by the Military (who had seats in the parliament) and right-wing parties.
However, it is also important to note that although Soekarno did not initiate the discriminative laws, he also did not stop it for going into effect, because his priority is political stability between the nationalist, religious, and communist factions. A political compromise at the huge cost of the Chinese and subsequently Pramoedya's unjust imprisonment.
Indeed, the book shows the chaotic reality of Indonesian revolution. Not only in the 1940s struggle for independence, but also in 1950-1960s unstable era of post-independence, the Suharto dictatorship era, and even way back in the Majapahit era by discussing Pram's trilogy of "Arok Dedes", "Arus Balik", and "Mangir" that show the DNA of nationalism without mentioning the name Indonesia and the uprising against unjust rulers (something that has never changed, hence it is why Pram said the revolution is not over yet).
All in all, the book feels like a director's cut of a great movie, a further commentary over Pram's greatest thinking and greatest works. But it can also treated, if you must, as a cheat book to read if you don't have the time to read all of the 2000 pages of Buru Quartet or his many other books. This book alone meets the very minimum for a basic introduction to all of his main ideas.
But of course, if you only read this one you're missing out on Pram's masterpiece deep dive into Indonesian history, and the many ideas of one of the greatest Indonesian thinkers of all time.
Buku ini semacam kumpulan Essay dari Max Lane yang kurang lebih memiliki keterkaitan dengan novel fenomenal yaitu Tetralogi Pulau Buru yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Max Lane memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Pramoedya Ananta Toer. Sehingga tidak lah salah jika Max Lane berani untuk mencoba menjelaskan tentang novel sekaligus diri dari Pramoedya Ananta Toer sendiri. Selain menjelaskan tentang novel tetralogi pulau buru dari Pram. Max Lane juga mencoba menjelaskan beberapa novel lainnya. Yaitu Arus Balik dan Arok Dedes. Pada dasarnya novel tetralogi pulau buru bukanlah novel biografi sepenuhnya dari Tirto Adhi Soerjo. Namun, apa yang coba ditangkap dari Pram berkaitan dengan Tirto adalah semangat bergerak dan alur perjuangannya. Kurang lebih buku ini cukup berguna bagi para pembaca yang telah membaca tetralogi pulau buru. Karena dengan membaca buku ini pemahaman kita akan semakin luas tentang Pramoedya Ananta Toer sekaligus karya-karyanya yang luar biasa.
Kira nya mungkin sudah lama sekali saya tidak membaca buku karya Pramoedya. Kali ini saya membaca buku yang berisikan kumpulan pemikiran dari Max Lane tentang pikiran Pram, karya serta kehidupannya.
Dari buku ini saya seperti mendapatkan intisari dari karya Pram yang belum sama sekali saya baca seperti Arok Dedes, Arus Balik, dan Hoa Kiau di Indonesia. Pemikiran-pemikiran Pram tentang rasialisme, sosialisme, humanisme hingga revolusi oleh Max Lane dijelaskan dengan mudah dimengerti. Sehingga dapat saya simpulkan pemikiran Pram tentang Indonesia nya sangat kompleks hingga dari 2000an halaman dari karyanya tidak pernah menyebut Indonesia.
Menarik, esai esai ringan, ringkas, padat namun bernas akan pandangan, pembacaan, dan pengalaman penulis bergumul dengan sosok Pram. Sebagaimana judul, seakan penulis ingin menekankan akan makna identitas bagi kata apa yang tidak muncul di novel-novel Pram, terutama tetralogi Buru. Sehingga, penulis bermaksud untuk mengatakan bahwa dari pergumulannya dengan Pram, konsep identitas yang direpresentasikan dengan nama Indonesia modern adalah satu hal yang sama sekali baru, bukan berasal dari identitas peninggalan kolonial dan semisalnya. Cocoklah buat pengantar yang belum membaca tetralogi Buru.
Buku ini berisi pendapat Max Lane mengenai buku-buku karya sastra seorang Pramoedya, tidak hanya tetralogi Pulau Buru namun karya lain khususnya Arus Balik dan Arok Dedes. Dalam buku ini juga menjelaskan bagaimana Toer mengambil sudut pandang sejarah dan kekiriannya. Buku ini recommended untuk penggemar Toer atau mungkin sebagai pelengkap bagi pembaca yang menganggap Toer 'overrated' pada karya Tetralogi Pulau Buru-nya