Dia melihat hujan susu, hujan susu yang datang tiba-tiba, tanpa mega-mega gulita dan tak ada gemuruh guruh dari dewa-dewa. Tak seperti hujan pada umumnya, hujan susu ini tidak menitik atau menetes, tapi lebih seperti menyembur atau memuncrat, seolah-olah ada kantung susu raksasa di langit sana yang sedang diperah oleh Hathor demi kesejahteraan sekalian umat. Yang selanjutnya dia ingat, dia sudah berdiri menatapi segenap rakyatnya yang tengah berhamburan menjejerkan jambangan untuk menadah tiap-tiap semburan susu yang jatuh. Terpujilah dewa-dewi yang agung! Dimuliakanlah Ra! Tapi kemudian hujan susu itu semakin menjadi-jadi sampai tak ada lagi jambangan yang sudi menampung di muka negerinya itu. Air sungai menjadi semakin kental dan kental dan lama-kelamaan jadi semurni susu; gurun-gemurun jadi becek dan lekit akibat susu; aliran susu juga mengisi tiap-tiap rekah tanah dan membasuh lembap tebing-tebing batu; kurma dan gandum jadi ikut-ikutan serasa susu, bahkan badai yang muncul justru menerbangkan bulir-bulir susu alih-alih pasir. Negerinya yang kering seketika menjadi sebasah susu.
Rio Johan was born in Baturaja, South Sumatra, 1990. Rio has been invited to speak at The Ubud Reader's & Writer's festival (2015), was on a sponsored residency in Berlin, Germany (2016) and has been the recipient of the 2014 Prose Book of Choice by Tempo for his short story collection, "Aksara Amananunna", and the 2018 Khatulistiwa Literary Award for his novel, "Ibu Susu".
Pengetahuan saya soal Mesir Kuno kebanyakan berasal dari game lawas Age of Empires dan Pharaoh. Penulis Indonesia bikin novel berlatar Mesir Kuno, perlu diapresiasi, dan beruntung saya bisa bertemu langsung kemarin Minggu. Saat membaca novel ini, dengan latar dan gaya penceritaannya, saya langsung teringat pada Piramida-nya Ismael Kadare. Benar saja, ada keterangan di epilog bahwa novel Kadare tadi salah satu pengaruhnya. Jika Kadare menggunakan Mesir Kuno untuk mengkritisi Stalinisme yg pernah mencaplok negerinya Albania, saya justru merasakan Rio sedang menceritakan nuansa dunia sekuler dan negara yg otoritatif, Perempuan Iksa dalam pembacaan saya seorang kapitalis-filantropis yg oportunis. Haha, mungkin ini gara-gara saya kebanyakan baca teks Marxis-Lacanian, tapi saya pikir seberapa jauhnya atau katakanlah tak membuminya apa yg ditulis seorang penulis, dia tak bisa tidak untuk nulis tentang dirinya.
Novel Rio Johan ini sudah memikat dari halaman pertamanya, dan terus memikat kita dengan ceritanya yang mengalir, diksinya yang kaya, dan eksplorasi yang mendalam (saya rasa, riset residensinya ke Berlin sangat membantunya).
Rio mengolah ceritanya dengan kepercayaan diri yang baik, sehingga apa pun yang diceritakannya terasa meyakinkan, sebab dia menguasai materi yang diceritakannya, terbukti dengan konsistensinya dalam membangun cerita. Rio pun lebih matang dalam menulis, tidak seliar waktu di Aksara Amananunna, bisa menahan diri untuk mengedit dan memfilter diri sendiri (hal yang sering kali sulit dilakukan oleh penulis muda yang memang punya hasrat menggebu-gebu sehingga sering kali bernafsu dalam menulis), sehingga jahitan ceritanya berbaur dengan baik dengan data-data hasil risetnya.
Sayangnya, 1/3 akhir cerita terasa terburu-buru. Nasib Perempuan Iksa yang sejak awal sangat memikat, kompleks, dan cerdas bahkan culas (mengutip perkataan Rio sendiri) malah berakhir begitu saja. Dan, setelahnya, Rio seperti agak kehilangan arah dalam bercerita, karena toh perihal ibu susu yang menjadi tema sentralnya berakhir sampai di sana. Sangat disayangkan walaupun dongeng Ibu Susu ini berhasil ditutup dengan cukup elegan.
Secara keseluruhan, buku ini semakin menunjukkan kematangan Rio sebagai penulis yang bisa membebaskan diri dalam berkarya, yang tidak mau atau bahkan menolak untuk terkungkung dalam ribut-ribut soal sastra Indonesia haruslah memiliki unsur lokalitas dan sebagainya dan sebagainya. Kehadiran Rio justru memberikan alternatif-alternatif bacaan yang semakin memperkaya khazanah sastra kita.
Novel ini pemilihan diksinya termasuk luar biasa sih, kepengrajinan kata penulisnya sangat baik untuk ukuran penulis muda. Misalnya, saya menemukan kata "deben" yang padu-padanannya dalam KBBI. Novel ini mungkin juga bisa dibilang sebagai novel yang ingin mengobrol dan saling membicarakan satu sama lain dengan novel Ismael Kadare yang berjudul Piramid. Ya, nampaknya, Rio Johan akan memiliki masa depan yang cerah dalam peta sastra Indonesia. Gak kebayang juga sih, kalau novel ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, mungkin ada kesan "kenapa penulis Indonesia memilih setting Mesir Kuno bukan negaranya sendiri" tapi kalau dirunut jauh ke belakang, William Shakespeare pun menulis banyak drama terbaiknya yang justru bukan bersetting di Inggris.
"Oh Firaunku, tapi hamba tak bisa menulis. hamba tak akan pernah bisa abadi sebagaimana yang bisa menulis." (hlm. 91)
Jika dibandingkan dengan buku pertama Rio, novel Ibu Susu ini sangat jauh berbeda. Bukan hanya formatnya yang novel (buku sebelumnya adalah kumcer), Ibu Susu merupakan fiksi sejarah yang mengambil setting di Mesir Kuno, tepatnya pada era kekuasaan Firaun Theb. Pembaca mungkin tidak akan menemukan cerita-cerita vulgar-imajinatif yang beraneka tipe seperti di buku pertama penulis, tetapi bisa jadi malah terpukau oleh aspek lain yang dibawakan penulis: riset.Harus diakui, kekuatan utama novel ini ada pada detail tentang Mesir kunonya yang sangat melimpah. Tidak hanya seputar dewa-dewi yang mereka sembah, Rio seperti menyajikan di hadapan kita kehidupan zaman Mesir kuno secara gamblang dan jelas. Dari makanan, pakaian, rupa-rupa sesajen, bangunan, struktur hierarkis kekuasaan, termasuk cara mereka ngomong yang puaanjjaaaanggg nan formal sebagaimana huruf-huruf hieroglif Mesir yang kaku. Suasara Mesir kunonya dapat banget!
Dongengnya saya salut. Meski terlampau jauh, apa urgensinya mengangkat Mesir Kuno dalam masa kini jika dalam teks tidak saya jumpai sepotong alegori pun atau simbol yang menjadikan premis hantaran ceritanya terkoneksi dengan Indonesia? Meski tidak melulu kita butuh idiom khas Seno bahwa “ketika jurnalisme dibungkam, sastra bicara”.
Sekadar berindah-indah dalam pilihan diksi arkais / kuno untuk mempersulit pembacaan adalah risiko teks akan berubah menjadi bentuk pencarian kata, bolak balik buka kamus / Google akan mencederai kenikmatan pencarian makna sastrawi. Sungguh lebay dengan setiap halaman dijejali kata-kata arkais / kuno.
Ibu Susu, novel karya Rio Johan terbitan Gramedia tahun 2017.
Sinopsis : Dia melihat hujan susu, hujan susu yang datang tiba-tiba, tanpa mega-mega gulita dan tak ada gemuruh guruh dari dewa-dewa. Tak seperti hujan pada umumnya, hujan susu ini tidak menitik atau menetes, tapi lebih seperti menyembur atau memuncrat, seolah-olah ada kantung susu raksasa di langit sana yang sedang diperah oleh Hathor demi kesejahteraan sekalian umat. Yang selanjutnya dia ingat, dia sudah berdiri menatapi segenap rakyatnya yang tengah berhamburan menjejerkan jambangan untuk menadah tiap-tiap semburan susu yang jatuh. Terpujilah dewa-dewi yang agung! Dimuliakanlah Ra! Tapi kemudian hujan susu itu semakin menjadi-jadi sampai tak ada lagi jambangan yang sudi menampung di muka negerinya itu. Air sungai menjadi semakin kental dan kental dan lama-kelamaan jadi semurni susu; gurun-gemurun jadi becek dan lekit akibat susu; aliran susu juga mengisi tiap-tiap rekah tanah dan membasuh lembap tebing-tebing batu; kurma dan gandum jadi ikut-ikutan serasa susu, bahkan badai yang muncul justru menerbangkan bulir-bulir susu alih-alih pasir. Negerinya yang kering seketika menjadi sebasah susu.
Membaca buku ini seperti membaca penggalan Alkitab perjanjia lama. Ada banyak istilah tak lazim yang dipakai dalam novel. Sepertinya, akan lebih afdol jika saat membacanya ada dampingan internet dan kamus besar bahasa agar cerita bisa tersaji secara utuh. Meskipun agak kesulitan dalam memahami kata-kata yang dipakai, diksi arkais dalam novel ini tidak terkesan dipaksakan. Saya tidak merasa ada keganjilan dalam membacanya, semuanya mengalir rapi, sepadan dan konsisten dari awal hingga akhir novel.
Di beberapa bagian, memang ada yang terasa menjemukan. Ya, seperti saya bilang di awal, membaca buku ini serupa membaca kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, dan kitab perjanjian lama serupa yang berisi tata cara, urutan, dan penyampaian data yang tidak menarik, diulang, dan tidak begitu penting dalam membangun sebuah cerita.
Meskipun novel ini kaya akan warna surealis, tetapi kisah yang diusung cenderung datar, tidak mencetak grafik konflik yang rumit dan naik turun. Linear, tidak bercabang. Berlatar Mesir, kisah ini dimulai dengan mimpi sang Firaun yang berujung pada sakitnya pangeran Sem. Segala upaya dikerahkan untuk kesembuhan putra mahkota, tetapi selalu mendapat halangan. Hingga pada akhirnya dia menemukan seorang perempuan yang cocok dengan tafsir mimpi, seorang ibu susu yang dipercaya air susunya bisa menyembuhkan anaknya. Cerita mengalir dengan tuntutan-tuntutan si calon ibu susu, tiga permintaan terpaksa dikabulkan oleh sang Firaun.
Penokohan dalam cerita ini tidak ekstrim dan sangat normatif. Raja digambarkan seperti sifat raja pada umumnya, begitu pula tokoh-tokohh yang turut membangun cerita. Namun, ada satu karakter yang mencuri perhatian saya, yakni Meth, istri Firaun Theb. Penulis bisa menggambarkan bagaimana kesengsaraan seorang perempuan yang air susunya kering. Kesedihan dan keputusasaan seorang permaisuri, perempuan utama di Mesir, yang tidak bisa menjaga kelangsungan hidup putra mahkota tergambar dengan apik. Kegelisahan yang terlukis dari bahasa tubuh—saya paling suka saat Meth memainkan gelas anggurnya, dan menatap gelisah pada suaminya—membuat cerita ini bisa memancing emosi.
Yang patut diacungi Jempol adalah ketelitian dan kelogisan cerita. Perlu riset yang tidak main-main untuk membuat cerita kolosal dengan detil yang luar biasa seperti Ibu Susu ini. Si penulis tidak kehilangan satu pun unsur yang bisa dicacat dalam ranah ini. Saya rasa, perlu pengetahuan umum yang luas dan kelihaian luar biasa untuk menempatkan istilah-istilah yang tidak lazim tanpa mengurangi keindahan cerita. Saat saya menulis review ini, saya sempat iseng memeriksa satu atau dua kata yang dipakai dalam novel tersebut. Beberapa ada dalam KBBI daring, beberapa lagi tidak. Namun demikian, hal tersebut lantas membuat novel ini berkurang kualitasnya.
Saya memberi nilai 4/5 untuk Ibu Susu karya Rio Johan
Setelah membuat terkesima dengan karya pertamanya-kumcer dengan beragam tema, Rijon datang menghentak kembali dengan sebuah novel historikal bersetting Mesir kuno. Meluap-luap dengan fakta-fakta sosio budaya masa itu, ditambah narasi-narasi panjaaaang nan seremonial, novel ini benar-benar berbeda dengan karya lokal mana pun yang pernah kubaca.
Kisahnya mengingatkanku pada kisah Nabi Yusuf AS, pada bagian Firaun yg bermimpi 7 tahun berkelimpahan disusul 7 tahun kekurangan. Hanya saja Firaun Theb di sini bermimpi tentang sungai yang mengalirkan air susu. Mimpi yang mempengaruhi nasib putra mahkota Pangeran Sem yg baru dilahirkan dan membutuhkan seorang ibu susu. Setelah berputar dan berkonflik, bermimpi dan bertafsir, berjanji dan mengingkari, dongeng ini ditutup dengan kritis tapi tetap indah.
Dalam rangka ingin sok nyastra baca buku pemenang KSK, saya tadinya mau baca Kura-Kura Berjanggut. Tapi ukuran bukunya astagfirullahable banget, berat-beratin tas pula. Udah tau saya malesan. Alhamdulillahnya, buku lain pemenang KSK tersedia di gramedia digital. Belum pernah denger sebenarnya saya Rio Johan ini siapa, dan ga ada bayangan juga bukunya gimana. Jadi saya baca ini dengan kerendahan diri, kalo bukan kerendahan hati. Saya sadar buku pemenang KSK pasti buku berat. Dan saya selalu underestimate pada diri sendiri kalo saya ga akan sanggup menyelesaikan buku berat. Ketika saya menikmati sekali baca ini bahkan komen, “ah masih beratan LDR sama pacar yang ga doyan telponan” dan menyelesaikan buku ini dalam waktu 2 hari aja, tentu saja saya amat bangga sama diri sendiri. Ciyeee pinter ciyeee. Anaknya nyastra ciyeeeee~~
SUKAA!!!!
Dongeng banget! Yah, mungkin itu alasan saya suka. Karena dongeng banget. Ceritanya berlatar Mesir kuno, tentang raja, mimpi, dan kutukannya. Idenya sebenarnya sederhana, tapi detil-detil soal tradisi kuno, upacara tua, dewa-dewa lama, tafsir mimpi sampe jadi lagu (udah kayak LotR aja sungguh), intrik-intrik kerajaan, bikin ceritanya jadi penuh dan….. magical (?!?). Belum lagi pemilihan kosakata yang digunakan penulis. Kayak di buku Raden Mandasia gitu. Klasik banget. Tua banget. Kuno banget. Sampe saya harus cek KBBI beneran ga sih kata ini ada di kamus bahasa Indonesia. Keajaiban cara bercerita dan bahasanya itu menghasilkan buku yang buat saya beneran jadi kayak naskah sejarah kerajaan masa lalu. Kereenn!
Selesai dalam dua hari kurang. Seperti buku kumpulan cerpen dari penulis yang sama, buku ini padat narasi namun tetap lancar dibaca karena gaya bahasanya yang menyerupai dongeng. Yang paling mengagumkan dari buku ini tentu saja risetnya yang tidak tanggung-tanggung, meskipun aku kurang puas dengan penutup ceritanya.
Dalam kepercayaan Mesir Kuno, air susu ibu (ASI) dianggap memiliki kekuatan penyembuhan yang luar biasa; bukan hanya sebagai sumber nutrisi bagi bayi, tetapi juga sebagai obat untuk pelbagai penyakit. Keyakinan ini berakar pada konsep magis dan religius yang mendominasi kehidupan masyarakat Mesir pada masa itu.
Salah satu alasan utama ASI dianggap berkhasiat adalah peran dewi Isis, ibu dari Horus. Menurut mitologi, Horus pernah mengalami cedera serius akibat racun atau gigitan hewan berbahaya, tetapi ia disembuhkan oleh air susu Isis. Selain itu, ASI juga dipercaya dapat memulihkan kesehatan anggota keluarga kerajaan yang sakit. Firaun dan bangsawan lain terkadang mencari perempuan dengan kualitas ASI terbaik untuk dijadikan ibu susu, yang dipilih berdasarkan kesehatan dan kesuburan mereka.
Dalam teks medis Mesir Kuno, seperti Papirus Ebers (sekitar 1550 SM), ASI sering disebut sebagai bahan utama dalam berbagai ramuan obat. ASI dicampur dengan madu, anggur, atau ramuan herbal untuk mengobati infeksi mata, penyakit perut, dan gangguan kulit. ASI juga digunakan dalam ritual penyembuhan, dioleskan pada luka, atau bahkan diminum oleh pasien sebagai bagian dari terapi spiritual.
Saya rasa, mitos-mitos itulah yang mengilhami Rio Johan saat menulis “Ibu Susu”. Novel ini mengisahkan Pangeran Sem, putra Firaun Theb yang baru lahir, yang tiba-tiba jatuh sakit secara misterius. Untuk mengungkap penyebabnya, Firaun mengundang berbagai cendekiawan. Salah satu dari mereka menduga penyakit Pangeran mungkin berkaitan dengan asupan yang masuk ke dalam tubuhnya. Sebab Meth, istri agung Firaun Theb, tak bisa menyusui karena kantung susunya telah kering, maka dicarilah ibu susu lain.
Meskipun bukan fiksi sejarah yang lurus, melainkan berupa rekonstruksi dari kisah atau legenda Mesir yang telah didokumentasikan dalam papirus dan arsip lainnya; novel ini tetap tampil meyakinkan dalam menyoroti unsur-unsur lain seperti mimpi, ramalan, ramuan, serta tradisi kerajaan Mesir, yang memberikan wawasan baru bagi pembaca.
Salah satu yang paling menarik ialah tentang petunjuk untuk memprediksi jenis kelamin janin yang dirujuk dari Papirus Berlin. Caranya, air seni dari seorang perempuan hamil dituangkan pada biji-bijian jelai dan gandum emmer. Jika keduanya bertunas, kehamilannya dapat dipastikan; jika jelai bertunas terlebih dahulu, janinnya adalah laki-laki; jika gandum emmer bertunas terlebih dahulu, berarti janinnya perempuan; dan jika tidak ada yang tumbuh, kehamilannya akan gagal.
Novel ini tak hanya menggambarkan kondisi pemerintahan Mesir Kuno zaman dulu, tetapi juga menyoroti penderitaan perempuan pada masa itu akibat aturan dan tradisi yang mengekang. Selain Meth yang sengsara karena merasa gagal sebagai ibu, novel ini juga menyinggung bagaimana perempuan tampak diobjektifikasi, terutama dalam proses pemilihan ibu susu. Bayangkan saja, perempuan dari berbagai penjuru negeri dikumpulkan untuk melewati proses seleksi ketat; ditelanjangi, dinilai ukuran dan bentuk payudaranya, lalu diperiksa kualitas air susunya.
Walaupun begitu, untungnya ada satu tokoh yang digambarkan sebagai sosok perempuan merdeka, ialah Perempuan Iksa. Ketika kerajaan menghadapi krisis dan Firaun Theb mulai putus asa, Perempuan Iksa hadir ibarat oase setelah sebuah mimipi ditafsirkan. Ia diangkut dari kehidupannya yang nyaman di hulu sungai dan diminta—atau lebih tepatnya diperintah—untuk menyelamatkan nasib kerajaan. Namun, alih-alih langsung menerima perintah menjadi ibu susu bagi Pangeran Sem, ia justru mengajukan tiga syarat kepada Firaun Theb. Syarat pertama, ia ingin rakyat-rakyat kelas bawah dimakmurkan. Sisanya lagi, ia bahkan tak banyak meminta untuk dirinya.
Mungkin banyak pembaca yang menganggap novel ini vulgar karena beberapa deskripsi perihal tubuh perempuan memang dideskripsikan dengan detail, tapi menurut saya memang itulah kebutuhan ceritanya. Diksi yang dipakai pun cenderung arkais, yang justru membuat narasi khas Rio Johan terdengar indah jika dibaca dalam diam maupun suara lantang. Lagi pula, sejak dilahirkan ke dunia, kita sudah akrab dengan susu ibu dan ibu susu—dan kita tak seharusnya mempermasalahkan itu.
“Lagi pula mati hanyalah peralihan menuju hidup yang lebih hakiki.”
Selamat Rio Johan! Buku keduanya lahir dan hasil residensi akhirnya satu demi satu bermunculan. HArus saya akui, kekuatan buku ini persoalan riset tentang perfirauan dan aneka budaya yang melingkupinya.
Buku ini benar-benar berkisah tentang susu. Mulai dari mimpi susu Firaun Theb, permaisurinya, juga Perempuan Iska si ibu susu. Seperti biasa Rio menulis dengan gaya apik dalam narasi. Meskipun saya berhasil menebak-nebak tiga permitaan perempuan Iksa dalam novel ini. Mengapa? (ini karena saya kebanyakan nonton drama Joseon) Perilaku Perempuan Iksa sama saja dengan orang-orang yang punya ambisi menguasai kerajaan, meski dalam novel ini perempuan Iksa digambarkan begitu tulus mengabdikan diri, memerahkan susu demi penerus Firaun di masa mendatang. Tiga permintaan itu kalau bisa diringkas, soal kekayaan, kemuliaan, dan kejayaan. Kekayaan dengan banyak hasil panen dan barang-barang berharga. Kemuliaan dengan menjadi rahim untuk sperma Firaun. Dan kejayaan untuk putranya kelak demi anaknya.
Selamat Rio. Dongengnya kali ini lucu dan kaya akan pengetahuan tentang dunia perfiraunan yang selalu menarik dibahas.
Novel ini dibuka dengan paragraf pertama yang apik dan menjerat: Dua hari sebelum Pangeran Sem jatuh sakit, Firaun Theb bermimpi tentang susu. Ini ganjil baginya, sebab tidak biasanya dewa-dewi memberinya mimpi susu. Dan cerita pun perlahan bergulir ketika Ibu Susu sebelumnya yang didepak dan diasingkan, dan berlanjut dengan mimpi Firaun Theb, sampai pada pencarian seorang Ibu Susu yang didapatnya bernama Perempuan Iksa dari pertanda di mimpinya.
Ketika novel fiksi sejarah ini pertama kali terbit empat tahun lalu dan satu tahun kemudian mendapat penghargaan di Kusala, dengan semangat yang meletup-letup, saya mencoba untuk membacanya. Naas, baru beberapa halaman saya langsung menutup kembali buku ini dan meletakkannya kembali ke rak semula. Bukan karena buruk. Tapi sewaktu itu pembacaannya agak tersendat-sendat ketika harus bolak-balik antara buku dan kamus mengecek arti dari kosakata-kosakata seperti: deben, sula, leta, anjana, sejet, teba, dan masih banyak lagi. Cukup melelahkan, memang. Dan, jujur, saya pun cukup berjarak dan merasa asing terhadap kebudayaan Mesir Kuno. Paling-paling hanya mendengar sekelebat saja dan belum benar-benar mengenal lebih dalam.
Pada akhirnya, Ibu Susu berhasil menuturkan persoalan pelik antara tokoh-tokoh di dalamnya dengan "nada" yang konsisten dari awal sampai akhir serta riset penulis mengenai mitologi, kebudayaan, dan segala hal yang berkutat pada zaman kebudayaan Mesir Kuno. Meskipun ada bagian di mana percakapan antara Firaun Theb dan Perempuan Iksa yang benar-benar terkadang terasa sangat berbeda. Kadang mereka berbicara menggunakan bahasa sebagaimana biasa --seperti contoh antara Firaun dengan Meth--tetapi juga terkadang percakapannya sendiri seperti penuturan syair. Begitulah.
Walaupun sempat struggle di bagian pemilihan kosakata yang dituliskan, novel ini tetap punya daya tarik sebagai dongeng berlatarkan mesir kuno dengan plot dan penyelesaian masalah yang tentunya khas dongeng sekali.
Baca novel ini buat saya jadi mengetahui beberapa teknologi yang ada pada mesir kuno dan penggunaannya untuk menjawab permasalahan manusia pada zaman itu. Selain itu juga sebagai novel sejarah, Ibu Susu berhasil membuat saya menyelami setting pemerintahan mesir kuno pada kala itu.
Lagipula mati hanyalah peralihan menuju hidup yang lebih hakiki.
Genre buku ini sebenarnya bukan comfort zone aku, makanya it took a while for me to finish this book..
Berlatar tempat di zaman mesir kuno, buku ini bercerita mengenai perjalanan Firaun Theb dalam mencari ibu susu bagi Pangeran Sam (anaknya), sang anak sekarat akibat tidak ada ibu susu yang cocok baginya. Tidak ada yang tahu alasan dibalik mengapa Pangeran Sam tidak meminum asi dari ibu susu pilihan kerajaan. Sampai sang Firaun pun akhirnya diberikan petunjuk-petunjuk hilal sang penyembuh pangeran lewat mimpi-mimpinya.
Semua upaya dikerahkan Firaun, menterinya dan seluruh rakyat demi kesembuhan penerus pemimpin mereka yakni pangeran Sam.
Aku suka banget sama buku ini, karna risetnya yang gak main-main. Sebelum baca buku ini, I google the author dan baca inspirasi ide penulisan buku ini, such an amazing book with very great explanations, bikin aku sebagai pembaca merasa jadi bagian dari zaman ini. Paced-nya agak lambat dengan narasi yang padat, karakternya pun unik dengan cara mereka sendiri.
Aku sendiri agak kecewa sama endingnya, karna endingnya lebih ke settle down ending gitu, although problemnya udah diselesaikan tapi berasa biasa aja gitu.
Buku ini sangat menyenangkan untuk dibaca. Kisahnya sederhana tetapi idenya memikat. Hasil riset Johan untuk memberi gambaran Mesir kuno terhadap pembaca patut diapresiasi. Pemberian gambar ilustrasi di buku ini juga pas dan tidak janggal. Selain itu, membaca buku ini hampir sama seperti mendengarkan album terbaru dari Mooner,"Orkes Melayu", sama-sama bikin saya bolak-balik buka KBBI. Penulis saya kira sengaja untuk memberikan diksi-diksi yang jarang digunakan. Seroja, garib, langsam, buana, mala, loya, farji, jumantara, taruk, pasu, dan ancala, merupakan beberapa kata baru yang saya pelajari dari buku ini.
Meski dalam kata penutupnya Johan menolak untuk mengategorikan karyanya sebagai "fiksi sejarah", buku ini juga mengingatkan saya pada "Mangir" yang dibuat Pram. Mungkin lain kali Johan bisa membuat riset yang lebih mendalam mengenai kerajaan-kerajaan di Indonesia untuk karya selanjutnya. Saya kira itu akan lebih menarik.
Ceritanya cukup menarik, sih. Jarang novel Indonesia yang membahas Firaun atau Mesir Kuno. Sayangnya saya kurang suka dengan cara penulisannya, satu paragraf panjangnya bisa sampai lima halaman padahal bisa diurai lagi menjadi beberapa paragraf. Sehingga tulisannya kurang enak dibaca, seakan tulisannya berbelit-belit.
...sungguhlah, O Firaunku, junjunganku, hamba tak lebih dari sekelipik jelata papa, hina, dan pesakitan nihil kuasa. (hlm. 54)
Bagaimana ya menggambarkan karya Rio Johan yang satu ini.
Waktu ada diskusi di Post Santa, seharusnya saya langsung membacanya saja. Ternyata tidak. Buku ini baru dibaca bertahun-tahun setelah didiskusikan bersama.
Kekuatan terbesarnya memang ada di riset. Intrik-intrik kerajaan, mitologi Mesir yang belum saya ketahui banyak, bagaimana cara memimpin negara otoritatif, dan sederet narasi yang jauh dari lokalitas Indonesia. Rio Johan kerap menyuarakan pendapatnya di media sosial jika ia tidak pernah ambil pusing dengan penulis Indonesia yang harus menampilkan lokalitas dalam karyanya. Buku ini menjadi alternatif yang tepat untuk memperkaya bacaan.
*celotehan ini hanya mengandung 20-30% cerita saja
Satu masa Firaun Theb bermimpi bermimpi tentang susu. "Dia melihat hujan susu, hujan susu datang tiba-tiba, tanpa mega-mega gulita dan tidak ada gemuruh guruh dari dewa-dewa." Hal.1
Mimpi itu ia dapatkan 2 hari sebelum anaknya -Pangeran Sem jatuh sakit.
"...alih-alih mendapati bayi yang merah-sehat, yang mereka dapatkan justru tubuh berkulit kelabu, lunglai tanpa daya, dengan napas lemas yang begitu lemas mengenaskan." Hal.2.
Ironis, ibunya, Meth si Istri Agung Firaun Theb tidak mampu memberikan asi. Sedangkan, air asi yang Pangeran Sem dapatkan dari ibu susu malah membuat tubuhnya semakin parah.
Dari petunjuk yang ia dapatkan dalam mimpi, Firaun kemudian memerintahkan untuk mencari ibu susu yang tepat bagi pangeran yang kelak akan menjadi penerusnya.
Para ahli tafsir mimpi kemudian berusaha mengerucutkan pencarian sehingga kemudian mereka menemukan Perempuan Iksa, yang ciri-cirinya cocok dari mimpi yang datang ke Firaun.
Perempuan Iksa bukan datang dari kalangan bangsawan, dia rakyat biasa dengan kondisi mengenaskan. Badannya penuh koreng. Nanah berbau busuk kerap keluar dari tubuhnya. Herannya, Perempuan Iksa ini memiliki sepasang kantung susu yang baik.
"Sepasang kantung susu yang bugar, berkilau; bukan hanya kontras dan asing dengan tubuh lain yang padang-koreng, sepasang kantung susu itu tersebut bagai entitas sendiri, hidup terpisah tanpa satu pun persinggungan dengan setetes saja lahar nanah di sekitar; sepasang kantung susu tersebut betul-betul telah menghidupkan, atau malah melampaui, sanjungan demi sanjungan yang telah mereka baca dari tiap-tiap laporan si tabib muda." Hal.150
Di saat orang-orang istana menyangsikan Perempuan Iksa ini menjadi jawaban atas penyakit Pangeran Sem, Firaun Theb malah yakin sehingga berusaha mewujudkan tiga permintaan Perempuan Iksa ini sebelum air susunya dialirkan ke tenggorokan Pangeran Sem.
Bukan permintaan biasa, tapi permintaan yang dapat membahayakan kelangsungan Pangeran Sem sendiri di masa yang akan datang.
Apakah permintaan itu dikabulkan oleh Firaun Theb?
* * *
Pada bagian ucapan terima kasih, Rio Johan menulis, "saya merasa tidak bisa menulis fiksi sejarah; yang saya maksud dengan fiksi sejarah di sini adalag fiksi yang bertujuan untuk memaparkan sejarah, fakta-fakta sejarah secara benar, tepat, lurus, tidak banyak menikung ke sana-ke mari."
Namun, banyak juga hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan firaun; pada masanya, yang digambarkan dengan baik di novel ini.
Jujur, sebelum baca, aku sempat khawatir Rio Johan akan menuliskan novel ini dengan njelimet. Dan, walaupun banyak sekali kata-kata asing yang ia pakai, aku dapat menikmati novel ini hingga tuntas.
Sungguh hasil pekerjaan yang baik. Risetnya tentu tidak sembarangan dan Rio Johan pasti berusaha keras untuk menjadikan tiap-tiap kata yang ia pilih jadi menjadi padu. Walaupun kadang membingungkan (karena keterbatasan pengetahuan si pembaca: aku), tapi bisa dibilang ini buku yang cemerlang.
Aku salut dengan isi kepala penulisnya.
Ibu Susu adalah buku yang keren dari penulis muda asal Sumatra Selatan ini. Masukanku, sepertinya buku ini akan semakin lengkap jika ditambahkan Glosarium di bagian belakang. Sehingga, pembaca tahu bagian mana saja yang benar-benar ada dan dilakukan pada saat zaman firaun, dan mana yang murni rekaan dari Rio sebagaimana yang ia sampaikan di bagian ucapan terima kasih di belakang buku.
..gurunya bukan sembarang tabib, gurunya guru di antara banyak tabib, tabib yang paling tabib, tabibnya para tabib-tabib; ramuan yang diramunya pun bukan sembarang ramuan, ramuan yang diramunya ramuannya ramuan-ramuan. 130 . . Seperti Mbah Kakung Haruki Murakami yang doyan lari maraton, seperti Om Eka Kurniawan yang doyan bersepeda disekitar rumahnya, bang Rio Johan ini doyan nge-gym, yang mengindikasikan bahwa seorang penulis itu harus sehat jiwa dan raganya.
Sebuah karya singkat yang sangat kaya akan kosa kata dan mengalir bagai puisi. Pengetahuan dan riset yang dilakukan penulis tentang budaya Mesir begitu dalam, pengetahuan singkat menyatu apik dan diramu menjadi fiksi yang dinamis. Seru!
"Kuterima kematian sebagaimana bayi yang baru lahir menerima kehidupan."
Baru menyelesaikan Ibu Susu yang syahdu dan penuh syak wasangka ini. Bacanya dibagi dua kali sekali duduk. Yah lumayan cepat juga untuk ukuran novel bagi saya. Pertama baca di kereta menuju Bandung dari Jogjakarta. Kuat sampai setengah novel dan sisanya dihabiskan sekarang. Sembari baca ini saya menyempatkan baca-baca yang lain. Biasa, saya tipe pembaca yang suka gonta ganti bacaan meski belum selesai. Hehe. Ceritanya novel dengan latar sejarah yang sekalipun penuh dengan detail nama-nama yang ada di dunia nyata, ceritanya sendiri sebenarnya amat fiktif. Bagaimana penulis menceritakan semua detail dan lakon di dalamnya mengasyikkan sekali. Saya kok ya sembari menahan rasa jijik membaca semua detail penggambaran tokoh Perempuan Iksa yang begitu hidup. Untuk hal itu saya salut pada @riojohan Yang tak kalah menarik adalah bagaimana kita bisa menemukan banyak kosakata yang jarang didengar dan mencantumkan itu semua dalam novel ini menguatkan kisah yang diangkat. Saya sendiri seperti ingin percaya bahwa ada kisah yang benar-benar terjadi tentang banjir susu dan lain sebagainya. Membaca karya ini meyakinkan saya bahwa penulis indonesia itu tak kalah dengan penulis luar negeri dan negeri kita punya banyak sekali kisah dan klenik yang bisa dijadikan cerita. Hayoo siapa yang mau menulis itu semua?
Buku Ibu Susu ini menceritakan tentang seorang anak Firaun Theb yang tiba-tiba sakit secara misterius. Ibunya bahkan tidak bisa menyusuinya, karena kantung susunya tidak lagi menghasilkan air susu. Firaun Theb mengerahkan seluruh negeri untuk mencari Ibu Susu yang tepat, yang dapat menyembuhkan putranya. Hal ini seiring dengan Firaun Theb yang terus dihantui oleh mimpi-mimpi aneh tentang susu. Hingga pada akhirnya, ia menemukan seorang perempuan yang ia yakini bisa menjadi Ibu Susu dari anaknya.
Sayangnya, penampilan dari calon Ibu Susu ini sangat tidak meyakinkan. Sekujur tubuhnya dipenuhi oleh koreng kecuali kantung susunya. Tentu saja, siapa yang bisa menyerahkan putra Raja yang agung, kepada perempuan seperti itu. Namun Firaun, lewat mimpi-mimpinya, meyakini bahwa perempuan inilah, yang ditunjuk oleh Dewa untuk menjadi penyelamat penerusnya.
Masalah per-Ibu Susu-an ini tidak serta merta selesai begitu saja, karena ternyata Ibu Susu ini meminta Firaun untuk mengabulkan 3 permintaan yang begitu sulit. Bahkan begitu menyulitkan seluruh penjuru negeri. Apakah air susu dari perempuan ini dapat menyelamatkan Firaun selanjutnya? Atau hanya menjadi petaka bagi Firaun Theb? Temukan jawabannya di buku ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini menjadi penyegaran bagi saya. Sudah lama tidak membaca cerita yang ganjil seperti Ibu Susu karya Rio Johan. Dimulai dari mimpi Sang Firaun tentang sungai yang banjir oleh susu dan nasib Pangeran Semermaat yang jatuh sakit, serta tafsir-tafsir mimpi Firaun yang membawanya pada Perempuan Iksa, buku ini menjadi cerita yang memikat dengan kekhasannya sendiri. Kentalnya sejarah dan mitologi Mesir yang disajikan di novel ini pasti membutuhkan riset yang kuat. Ibu Susu menjadi pengingat saya pada dongeng-dongeng 25 nabi yang sering diceritakan oleh ibu saya sendiri sebelum tidur sewaktu saya masih kecil. Sejujurnya saya mengharapkan buku ini dapat lebih tebal, disertai dengan penjelasan atau catatan kaki mengenai mitologi Mesir yang menjadi jiwa novel ini sehingga saya, sebagai pembaca dapat tenggelam lebih dalam. Selain itu, saya masih penasaran dengan nasib Pangeran Sem dan negerinya.
Cerita Firaun Theb ini memperlihatkan banyak sisi. Ada bagian yang menunjukkan kepada pembaca tentang situasi pemerintahan, dalam buku ini berbentuk kerajaan, yang diisi oleh orang-orang yang baik atau yang buruk tabiatnya. Lalu ada juga bagian yang menggambarkan hubungan orang tua dan anak yang diliputi cinta. Ada sosok ibu yang merasa merana menyaksikan anaknya sakit tidak berdaya, ada juga sosok ayah yang akan melakukan apa pun demi kebaikan anaknya.
Selain itu ada juga bagian yang memperlihatkan bagian romansa. Ini tergambar jelas ketika Meth, istri Firaun Theb, merasa cemburu ketika permintaan kedua Perempuan Iksa harus dijalankan demi tujuan anaknya sembuh. Kegundahan hati perempuan tampak jelas yang dirasakan Meth, dilema memilih rasa cemburunya atau kesembuhan Pangeran Sem.
Novel ini adalah karya kedua Rio Johan yang saya baca. Seperti biasa, suguhan diksi yang entah darimana dia dapat dan jarang saya tahu kalau pilihan kata itu ada, membuat saya terpukau. Cerdas dengan membawa nilai historis dunia, dalam hal ini adalah Mesir tempo dulu dengan segala budaya dan nilai-nilai sosialnya. Pintar dalam merangkai cerita, meski fiksi, namun seolah membaca cerita hikayat atau sejenisnya. Ibu Susu menyajikan cerita lewat penuturan dongeng yang terangkai lengkap dan detail. Twisting plot muncul di beberapa bab. Tidak menjemukan mata karena memuat pula halaman-halaman yang hanya menyuguhkan daftar data atau nama barang, bukan hanya paragraf. Penasaran.
Buku ini benar-benar membahas semua tentang ibu susu dan susu dan lagi susu. Saya salut sekali penulis mampu menuliskan kisah historical fiction dengan setting Mesir yang terasa nyata bagi saya seolah-olah saya dihanyutkan kembali ke jaman Firaun.. *Mendadak keinget sama kisah Nabi Musa AS
Cerita yang baik, alur yang runut, gaya bahasa yang khas, dan penggunaan kata yang jarang dipakai namun sangat membaur dengan cerita. Paling utama sih betapa riset yang dilakukan oleh Rio Johan terasa kuat di keseluruhan bagian novel. Salut. Dan (salahkan referensi saya yang terbatas sehingga) takjub penulis Indonesia bisa menulis topik ini sebaik ini.
Mesir kuno selalu punya tempat spesial di alam imajinasi gue, dan buku Rio Johan ini benar-benar buat gue melanglang buana di Tanah Hitam.
Kisah yang epik dengan penuturan yang apik. Sedari hulu, penggunaan diksi yang kaya dalam penulisan cerita ini buat gue harus satu-dua kali berhenti baca untuk buka kamus, demi mendapatkan penggambaran yang utuh di kepala. Selepas dari itu, cerita ini akan mengalir jauh seperti Sungai Nil. Menjelang hilir, jeramnya akan makin terasa dengan berbagai puntiran cerita yang tiba-tiba muncul.
Oh, gue suka banget bagaimana Rio melukiskan Mesir Kuno di buku ini. Kehidupan sosial, peran gender, politik kerajaan, keimanan terhadap kuasa entitas yang melampaui akal manusia, medis kuno, sejarah dan jejak yang ditinggalkan, dan beberapa sudut pandang menarik lainnya untuk dibicarakan bersama.
Rio menciptakan semesta fiksi yang menarik. Terkesan jauh di masa lampau, namun nyatanya bisa terasa lebih dekat hingga hari ini.
(Ulasan ini cenderung bias karena gue terlalu keranjingan budaya Mesir Kuno dari kecil)