Sebagian dari kita percaya bahwa hidup ini dikendalikan oleh sebuah kekuatan yang tak nampak, yang membuat seluruh makhluk hidup, khususnya manusia, tunduk pada suatu keadaan tertentu yang tidak dapat dihindarinya. Kekuatan itu, yang karena tak nampak dan mungkin susah dipahami, kemudian dikembangkan dalam konsep-konsep yang dapat dipahami manusia, lalu diberi berbagai macam nama. Konsep-konsep itu berkembang luas melalui tradisi lisan dan tulisan manusia.
Narasi paling populer untuk menjabarkan konsep-konsep ini tentu saja adalah kitab-kitab suci agama, yang mengatakan dengan tegas bahwa apa yang tertulis di dalamnya berasal dari pemilik kekuatan itu sendiri. Lainnya, yang juga punya pengaruh besar, tentu saja adalah sains dan ilmu pengetahuan. Bedanya, agama mempertahankan posisi kekuatan tersebut sebagai sesuatu yang misterius, dan yang dibutuhkan hanyalah mengimaninya saja, sedangkan sains memposisikannya sebagai sesuatu yang bisa diselidiki, ditelaah, disanggah, dan dipertahankan dengan metode-metode tertentu, agar dapat dibuktikan dan disusun menjadi teori teori yang universal, katakanlah misalnya hukum fisika, kimia, dan lainnya.
Di luar itu, banyak narasi lain yang beredar, termasuk di dalamnya adalah produk produk budaya populer saat ini, salah satunya adalah cergam¹. Walaupun untuk yang terakhir ini sifatnya lebih bebas, dalam artian tidak perlu diimani, dan tidak perlu pembuktian dengan metode-metode tertentu, imajinasi semacam ini tetap bisa dikategorikan sebagai konsep-konsep alternatif. Soliter, sebuah cergam karya Poton V, mencoba menawarkan konsepnya mengenai kekuatan tersebut, dan bagaimana kekuatan tersebut mengatur kehidupan manusia. Dalam dunia imajinasinya yang tertuang dalam panil-panil cergam, Soliter menggambarkan sebuah dunia di mana kehidupan manusia diatur oleh Four Horsemen, sebentuk ‘makhluk-makhluk’ yang mempunyai tugas khusus untuk mengatur berbagai hal dalam kehidupan manusia, semacam konsep dewa-dewa atau malaikat dalam agama-agama. Setiap ‘makhluk’ itu mempunyai tugas yang spesifik, ada yang mengatur kebencian, penyakit, mimpi, kematian, keserakahan, mukjizat, dll dsb. Namun demikian, keberadaan ‘makhluk’ bertugas khusus ini ternyata juga tak bisa lepas dari sesuatu yang dinamakan takdir, begitulah kira-kira garis utama dari kisah ini. Dalam kalimat pembuka, dengan lugas Poton menuliskan: “ada beberapa hal [tak] kasat mata… yang membuat kehidupan ini… menjadi tunduk kepada takdir…”²
Dikisahkan, Sirna, petugas pengendali mimpi yang tugasnya adalah menghapus mimpi manusia di penghujung malam, sedang berada dalam kebosanan karena rutinitas pekerjaannya. Pada suatu ketika, ia mendapati sebuah mimpi yang menggambarkan percintaan sosok dirinya dengan sang pemilik mimpi, seorang wanita yang berprofesi sebagai penyanyi dangdut bernama Yati. Penasaran, ia akhirnya mengetahui bahwa Yati bermimpi dalam kondisi koma. Singkat cerita, Sirna menjadi simpati dan jatuh cinta pada seorang wanita itu. Ia, dibantu Maut, pengendali kematian, mencari cara untuk dapat melepaskan penderitaan Yati, melalui sebuah petualangan di Kebun Malapetaka. Paska kesembuhan Yati, mimpi-mimpi percintaannya dengan Sirna justru menghilang. Sirna yang sudah kadung cinta menjadi kecewa. Untuk mendapatkan cintanya, Sirna memutuskan mengubah dirinya menjadi manusia, dan cerita terus mengalir hingga berakhir dengan tragis di tangan takdir, yang ironisnya justru hanya dianggap permainan oleh pengendalinya.
Jika kita mengamati cergam-cergam Poton, termasuk beberapa karyanya terdahulu seperti Jagger Myth, Tuna Kala, Hama, atau Djinah 1965, kita dengan mudah dapat mengetahui bahwa gaya ilustrasi Poton tidaklah fokus pada detail. Tak ada gambar-gambar bombastis seperti tokoh-tokoh yang keluar dari panil ataupun yang penuh detail dengan gaya realis. Adegan demi adegan dalam panil-panil cergamnya tercetak dalam gambar-gambar sederhana para tokoh dan aktivitasnya, nyaris tanpa tambahan apapun selain balon kata dan narasi. Sangat banyak dijumpai panil gambar yang bahkan tidak memiliki gambar latar, diganti dengan blok-blok hitam ataupun arsiran. Meski demikian, konsistensi karakter tokoh-tokohnya tetap terjaga dengan baik. Kejelian Poton memanfaatkan ciri khusus untuk setiap tokoh saya pikir adalah kuncinya. Misalnya, Sirna digambarkan berambut gondrong a la suku Indian lengkap dengan bulu unggasnya, Maut dengan kacamata dan topi, juga pengawas kebun Malapetaka yang memakai masker. Penggunaan ciri khusus tersebut memudahkan identifikasi pembaca untuk membedakan satu tokoh dari lainnya. Sebagai catatan tambahan, saya cukup terkesan pada panil-panil di setiap pergantian chapter dan pembukaan chapter baru. Sebuah komposisi layout yang manis dan enak dilihat.
Sebaliknya dari gambar yang sederhana, Poton adalah komikus yang cukup serius membangun jalan cerita. Teknik pengisahan cerita dalam cergam ini memang bukan sesuatu yang baru. Menggunakan rumus drama tiga babak: pengenalan tokoh, konflik, dan penyelesaian konflik, dengan alur maju yang konstan, tak berarti jalan cerita menjadi asal-asalan dan membosankan. Poton cukup lihai membentuk karakter tokoh-tokohnya dalam dialog-dialog dan gambar, sembari merambat masuk ke konflik utama tanpa harus bertele-tele menambahkan halaman khusus daftar tokoh seperti yang sering kita jumpai dalam komik-komik Jepang. Dalam beberapa panil, dapat kita lihat juga bagaimana Poton membangun ketegangan/suspense cerita dengan cukup baik, misalnya dalam adegan petualangan di Kebun Malapetaka dan saat pelarian Sirna dan Yati di jalanan.
Pendekatan kelokalannya juga harus menjadi perhatian khusus. Lihatlah bagaimana identitas-identitas kelokalan yang berserakan dengan alami tanpa harus terlihat dipaksakan: Yati yang penyanyi dangdut, bapaknya yang tidak mau melakukan suatu pekerjaan karena menganggap hal tersebut adalah urusan perempuan, mimpi Yati menjadi juri Diva Dangdut Indonesia, atau ajakan Sirna kepada Yati untuk kawin lari karena hubungan mereka tak direstui oleh ayah Yati, juga penggerebekan di hotel.
Selain itu, Poton juga piawai menyelipkan humor-humor gelap dalam cerita ini. Beberapa yang bisa saya tunjukkan, misalnya pada adegan alarm kiamat, yang berubah menjadi musik gubahan Beethoven, Symphony no. 7 in A Major, Op 92-II, Allegreto. Pengawas Kebun Malapetaka dengan enteng mengomentarinya dengan: “tak kusangka akhir dunia diiringi oleh musik ini…” ditimpali gumaman Maut: “aku berharap mereka bakal memutar Lux Aeterna atau No Surprises…”
Bagian sampulnya pun sangat apik. Potret tampak belakang Sirna sang tokoh utama, dengan pilihan warna yang eye-catching. Bagus! Secara keseluruhan, penilaian saya untuk cergam setebal 104 halaman ini adalah: Sangat Layak Untuk Anda Koleksi.