Sewaktu lagi heboh-hebohnya membahas #FilmPosesif, aku malah nggak sabar untuk memulai baca #NovelPosesif. Bukan karena underestimate film Indonesia, tapi karena keterbatasan waktu. Jadi, membaca adalah pilihan aman. Karena alasan itulah, ulasan mengenai novel ini murni dari pembaca yang belum menonton sama sekali (bahkan baru menonton trailer film-nya setelah selesai baca bukunya).
Yudhis dan Lala adalah sample karakter masa SMA yang sepertinya tidak lekang oleh zaman. Keduanya pasti akan ada di masa remaja zaman kapanpun, yang membedakan hanya setting dan tren zaman tersebut.
Cara berkenalan Yudhis dan Lala, cara mereka menghabiskan waktu bersama (kencan), bahkan gesture sederhana pada masa PDKT cukup umum dikenal oleh remaja masa kini maupun masa dulu. Tambahan, untuk beberapa tren masa kini yang sepertinya memang kekinian banget, bikin aku tertawa karena 'iya juga ya'. Nilai 1.
Walau persoalan di dalam cerita ini terkesan berat, tapi aku setuju kalau persoalan tersebut tidak terlalu berlebihan untuk remaja seperti Yudhis dan Lala karena di dunia nyata, hal seperti itu ada. Hal ini yang menurutku jadi kelebihan buku ini. Tabu yang tidak tabu, karena memang harus dibahas. Sering kita tidak sadar kalau mereka itu ada di sekitar kita. Tindakan-tindakan itu berlangsung di sekitar kita. Perasaan-perasaan itu nyata di sekitar kita. Anak zaman sekarang tidak sepolos yang dibayangkan, hidupnya. Dan Mbak Rini menuliskan detailnya terasa nyata di depan mata, walau tidak menonton film-nya. Nilai 1.
Setting yang digunakan cukup fokus dan teratur untuk ceritanya. Nyaris tidak ada tempat atau situasi yang tidak penting dalam cerita ini. Malah pub tempat anak-anak remaja ini hangout saja tidak terkesan terlalu berlebihan untuk diselipkan dalam cerita. Karena emosi dalam lokasi tersebut juga turut andil dalam membawa alur cerita secara keseluruhan. Sama seperti suasana dan emosi dalam kamar Lala bagi dirinya dan Yudhis. Semuanya terasa pas dan nyata. Ditambah juga dengan detail waktu cerita ini dibuat (setting zaman teknologi) dan kutipan-kutipan yang tepat. Nilai 1.
Khusus karakter Lala yang labil aku acungi jempol karena setuju. Sebagai perempuan dalam sebuah hubungan yg mulai kurang sehat, seringkali menutup mata pada kenyataan yang terjadi. Aku nggak bilang semua perempuan seperti Lala, tapi biasanya pernah ada di posisi seperti Lala. Hal ini yang dibuka dalam cerita menjadi tamparan bagiku yang membaca: ku pernah di posisi ini dan memang seperti itu adanya. Issue penting dalam cerita ini terbaca jelas melalui salah satu karakter utama dalam cerita ini. Nilai 1.
Namun, dibalik semua ulasan yang tampak sempurna, selalu ada kekurangannya. Buatku adalah karakter Mama Yudhis yang terlihat tapi tampak kurang mempunyai alasan kuat untuk menjadi pribadi yang menciptakan karakter Yudhis. Berbeda dengan karakter Ibu Lala yang walau tidak ada wujudnya dan hanya terlihat dari kutipan-kutipan maupun kenangan Lala, cukup punya alasan untuk membentuk Lala menjadi karakter yang walau labil tapi masih punya pendirian. Ya, kalau alasan ini berbeda dengan pembaca lainnya, maafkan pemahamanku. :D
After all, saat membaca buku ini aku mampu merasakan apa yang dirasakan karakter-karakternya (entah kebetulan karena pernah di posisi yang sama atau tidak) dan tanpa membayangkan pemerannya di dalam film. Aku punya imajinasi sendiri tentang 'wujud' dari karakter-karakter dalam buku hanya karena 'membaca' karakter mereka melalui dialog, gesture, emosi, dan perasaan seluruh karakter.
8.5/10 dariku dan sangat direkomendasikan.