Jump to ratings and reviews
Rate this book

Posesif

Rate this book
INI CINTA PERTAMA LALA, YUDHIS INGIN SELAMANYA

Novel ini merupakan adaptasi dari skenario film Posesif karya Gina S. Noer. Film dibintangi Adipati Dolken & Putri Marino. Tayang 26 Oktober 2017 di layar lebar.

Lala, seorang atlet loncat indah yang mulanya bahagia bertemu Yudhis yang membuatnya dapat berjarak dari jadwal ketat latihannya sebagai atlet. Namun ternyata bukannya semakin berprestasi, kehadiran Yudhis justru membuat hidup Lala jungkir balik.

_______________________

Aku belum memutuskan untuk tetap mencintai atau membencinya. Ia membuatku ingin memeluknya, tapi sekaligus ingin lari menjauh di saat yang sama.

Lala:
Aku bahagia. Bersama Yudhis aku menemukan yang selama ini tak kupunya, perhatian dan kebebasan. Namun, ada debar ketakutan menyelinap. Kadang jadi teman baik, kadang kejutan yang mengganggu. Aku berusaha untuk percaya, tapi tak bisa.

Yudhis:
Mungkin ini terlalu cepat. Gue sudah memutuskan untuk menyukai Lala. Setiap kali bersamanya, gue merasa di puncak dunia. Gue ingin melindungi dan membuat Lala bahagia. Namun, gue takut Lala tahu sisi lain dari gue yang selama ini gue sembunyikan. Kadang gue enggak mengerti diri gue sendiri.

351 pages, Paperback

First published October 26, 2017

14 people are currently reading
180 people want to read

About the author

Lucia Priandarini

11 books58 followers
Lucia Priandarini lahir dan dibesarkan dalam rumah penuh buku. Setelah lulus dari Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, ia sempat menjadi reporter di media gaya hidup, menulis naskah nonfiksi untuk penerbit, serta menulis konten untuk media daring. Kini ia bekerja mendokumentasikan pendampingan komunitas pembatik dan penenun di beberapa daerah.

Episode Hujan dan 11.11 (2016) adalah 2 novel pertamanya. Ia menerbitkan buku nonfiksi kesembilannya, Mengejar Ujung Pelangi pada 2020. Pada 2021 ia menerbitkan kumpulan puisi pertamanya, Panduan Sehari-hari Kaum Introver dan Mager. Buku ini menjadi nomine buku sastra pilihan Tempo kategori puisi tahun 2021.

Dua Garis Biru (2019) adalah kolaborasi ketiganya dengan Gina S. Noer setelah novel adaptasi Film Posesif (2017), dan Dunia Ara, buku anak dari semesta Film Keluarga Cemara (2018).

Ia dapat dihubungi melalui surat elektronik: lucia.priandarini@gmail.com, Instagram dan X: @rinilucia.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
37 (38%)
4 stars
41 (42%)
3 stars
15 (15%)
2 stars
2 (2%)
1 star
2 (2%)
Displaying 1 - 29 of 29 reviews
Profile Image for A.A. Muizz.
224 reviews21 followers
March 7, 2018
"Posesif" mengangkat salah satu sisi kelam dalam kisah percintaan. Diceritakan dengan sudut pandang orang pertama dengan Lala dan Yudhis sebagai narator, membuat saya berhasil menyelami pikiran dan perasaan kedua tokohnya. Meskipun agak kurang di sisi Yudhis, bagi saya, kurang luluh lantak, padahal dia sudah luluh lantak banget menghadapi kepribadiannya yang seperti itu. Ada pula sedikit bagian yang diceritakan dari sudut pandang sahabat Lala yang bernama Rino dan sudut pandang orang ketiga sebagai pelengkap.

Saya suka cara bertutur penulis yang kadang membuat metafora sederhana yang tak biasa. Bikin apa yang dirasakan oleh tokoh-tokohnya lebih terasa. Dengan bab-bab pendek dan alur yang naik-turun membuat saya tak ingin berhenti membaca. Rasa hangat, khawatir, cemas, takut, geregetan, dan luluh lantak menginginkan agar segera dituntaskan. Meskipun setelah tuntas, adegan demi adegan seakan tak mau tuntas begitu saja di kepala saya.

Buat kamu yang ingin dibuat baper sekaligus nyesek, cobalah baca buku ini. Saya memberinya rating 5 kurang dikit. 😄😄😄
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
October 9, 2017
Sebenarnya saya paling anti membaca buku teenlit, apalagi kalau cara mereka jatuh cinta-jadian-dan konflik utamanya gitu-gitu saja. Macam FTV yang sering kita temukan.
Tapi di novel ini, saya justru seperti membaca novel-novel serius yang 'meminjam' kisah cinta anak SMA Lala-Yudhis. Kemudian ada bumbu-bumbu kekerasan dalam pacaran yang belakangan merebak juga di kalangan remaja kita. Namun, sayangnya mereka yang menjadi korban kerap tidak sadar batas antara posesif-kekerasan itu di mana. Bahkan sekadar membentak, memanggil dengan julukan yang salah, atau minta dibelikan pulsa.

Dan ini dialami Lala yang dalam bayangan saya sedang kebingungan sebenarnya sikap Yudhis ini bukti cinta yang teramat sangat hingga tak ingin Lala jauh-jauh, atau ini adalah 'sakit' yang berakar dari banyak persoalan pribadi dan keluarga sebelumnya???

bacalah novelnya, saya sih suka bagaimana Lucia menulis dengan lugas. Dan bagaimana Lucia menambahkan hal-hal yang belum ada di visual film. Cakep.
Profile Image for Paskalis Damar.
38 reviews7 followers
November 4, 2017
Posesif the novel is easier to follow as it elaborates the story more from first person pov (overriding the film’s observational pov). With all the explanations of the subtexts, on-screen symbolism & off-screen details, the novel only proves that the film is way more superior. Language speaks what image cannot; but images, if used correctly, are a more powerful tools to deliver emotion.

Please be advised that I admired the film so much. The novel simply cannot replicate the emotional floods the film brings. It can only bring back some best memories of the film with different after-taste.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,436 reviews73 followers
January 17, 2020
Kisah cinta menyakitkan yang digubah dalam rangkaian kata yang sangat indah. Mengingatkanku pada cerita Represi yang ditulis Fakhrisina Amalia. Bedanya, Yudhis masih sadar bahwa dia salah, dan dengan begitu harapan untuk pulih masih terbentang (meski kisah buku ini diputus tanpa sampai ke fase terapi). Sudut pandang Yudhis dan kisah mengapa ia jadi serusak itu masih dijabarkan dengan sangat representatif. Meski geram, sulit untuk benar-benar membenci Yudhis.

Para bucin harus membaca cerita ini untuk membuka mata mereka. Bahwa cinta adalah pengorbanan tanpa harus menjadi korban.

Jadi penasaran sama duet Lucia dan Gina S. Noer di novelisasi Dua Garis Biru.
Profile Image for Nurul.
311 reviews38 followers
September 2, 2019
Relateable banget dan endingnya realistis (walaupun udah nonton filmnya). Gaya penceritaannya ngalir.

Rate : 3.75/5
Profile Image for Lou Trulymay.
27 reviews4 followers
November 27, 2017
Sewaktu lagi heboh-hebohnya membahas #FilmPosesif, aku malah nggak sabar untuk memulai baca #NovelPosesif. Bukan karena underestimate film Indonesia, tapi karena keterbatasan waktu. Jadi, membaca adalah pilihan aman. Karena alasan itulah, ulasan mengenai novel ini murni dari pembaca yang belum menonton sama sekali (bahkan baru menonton trailer film-nya setelah selesai baca bukunya).

Yudhis dan Lala adalah sample karakter masa SMA yang sepertinya tidak lekang oleh zaman. Keduanya pasti akan ada di masa remaja zaman kapanpun, yang membedakan hanya setting dan tren zaman tersebut.

Cara berkenalan Yudhis dan Lala, cara mereka menghabiskan waktu bersama (kencan), bahkan gesture sederhana pada masa PDKT cukup umum dikenal oleh remaja masa kini maupun masa dulu. Tambahan, untuk beberapa tren masa kini yang sepertinya memang kekinian banget, bikin aku tertawa karena 'iya juga ya'. Nilai 1.

Walau persoalan di dalam cerita ini terkesan berat, tapi aku setuju kalau persoalan tersebut tidak terlalu berlebihan untuk remaja seperti Yudhis dan Lala karena di dunia nyata, hal seperti itu ada. Hal ini yang menurutku jadi kelebihan buku ini. Tabu yang tidak tabu, karena memang harus dibahas. Sering kita tidak sadar kalau mereka itu ada di sekitar kita. Tindakan-tindakan itu berlangsung di sekitar kita. Perasaan-perasaan itu nyata di sekitar kita. Anak zaman sekarang tidak sepolos yang dibayangkan, hidupnya. Dan Mbak Rini menuliskan detailnya terasa nyata di depan mata, walau tidak menonton film-nya. Nilai 1.

Setting yang digunakan cukup fokus dan teratur untuk ceritanya. Nyaris tidak ada tempat atau situasi yang tidak penting dalam cerita ini. Malah pub tempat anak-anak remaja ini hangout saja tidak terkesan terlalu berlebihan untuk diselipkan dalam cerita. Karena emosi dalam lokasi tersebut juga turut andil dalam membawa alur cerita secara keseluruhan. Sama seperti suasana dan emosi dalam kamar Lala bagi dirinya dan Yudhis. Semuanya terasa pas dan nyata. Ditambah juga dengan detail waktu cerita ini dibuat (setting zaman teknologi) dan kutipan-kutipan yang tepat. Nilai 1.

Khusus karakter Lala yang labil aku acungi jempol karena setuju. Sebagai perempuan dalam sebuah hubungan yg mulai kurang sehat, seringkali menutup mata pada kenyataan yang terjadi. Aku nggak bilang semua perempuan seperti Lala, tapi biasanya pernah ada di posisi seperti Lala. Hal ini yang dibuka dalam cerita menjadi tamparan bagiku yang membaca: ku pernah di posisi ini dan memang seperti itu adanya. Issue penting dalam cerita ini terbaca jelas melalui salah satu karakter utama dalam cerita ini. Nilai 1.

Namun, dibalik semua ulasan yang tampak sempurna, selalu ada kekurangannya. Buatku adalah karakter Mama Yudhis yang terlihat tapi tampak kurang mempunyai alasan kuat untuk menjadi pribadi yang menciptakan karakter Yudhis. Berbeda dengan karakter Ibu Lala yang walau tidak ada wujudnya dan hanya terlihat dari kutipan-kutipan maupun kenangan Lala, cukup punya alasan untuk membentuk Lala menjadi karakter yang walau labil tapi masih punya pendirian. Ya, kalau alasan ini berbeda dengan pembaca lainnya, maafkan pemahamanku. :D

After all, saat membaca buku ini aku mampu merasakan apa yang dirasakan karakter-karakternya (entah kebetulan karena pernah di posisi yang sama atau tidak) dan tanpa membayangkan pemerannya di dalam film. Aku punya imajinasi sendiri tentang 'wujud' dari karakter-karakter dalam buku hanya karena 'membaca' karakter mereka melalui dialog, gesture, emosi, dan perasaan seluruh karakter.

8.5/10 dariku dan sangat direkomendasikan.
Profile Image for Akaigita.
Author 6 books238 followers
February 1, 2018
Beautiful yet scary love story.

Untuk ukuran novel remaja, bahasanya terasa formal banget, ya? Meskipun cukup mudah sih membedakan 'pikiran' Yudhis dan Lala hanya dari apa yang mereka bahas dalam narasinya. Agak terganggu juga dengan penggunaan kata ganti yang tertukar-tukar antara POV Lala dan Yudhis. Enggak berpengaruh banyak sih, cuma jadi kepikiran pengin benerin aja, haha.

Aku termasuk pembaca yang tidak menonton filmnya, dan mungkin baru akan tergerak untuk nonton kalau sudah disiarkan di TV swasta nasional saja. Tapi dengan membaca novelisasi skenario ini, aku bisa membayangkan adegan-adegannya, merasa tersipu di bagian yang romantis dan deg-degan di bagian yang horor.

Serius, horor.
Profile Image for Rei Reihana.
31 reviews6 followers
September 18, 2019
Selalu suka cara penulisan mba lucia ini. Menyenangkan untuk dibaca, dan ga berat meski mengangkat topik serius (terkadang). Juga mengagumi ide2 kreatif mba Gina s noer. Saya suka sekali
Profile Image for Ossy Firstan.
Author 2 books102 followers
March 9, 2018
Kubelum nonton filmnya, tetapi kutahu mengapa orang menyukai film ini. Oke, seharusnya kumereview bukunya. Penceritaannya mengalir, dari yang sweet ke dark tuh terasa halus, dan pembaca tahu Yudhis posesif tanpa harus ada kata posesif di buku itu. Kupun suka endingnya. Ah ya, kumenemukan narasi Yudhis ber'aku'. Sekian dan sukses untuk kaka penulisnya.
Profile Image for Fatimah Ghanim.
82 reviews4 followers
January 22, 2018
Cukup memuaskan rasa penasaran, walau memang sangat perlu untuk tidak memasang harapan tinggi-tinggi. Dalam novel tipikal teenlit SMA, at least posesif sedikit banyak punya poin-poin yang bikin pembaca (atau penonton filmnya mungkin) merenung.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,355 reviews43 followers
October 7, 2019
Oke, tema garis besar sudah mencekam: hubungan pacaran yang abusive di kalangan remaja saat ini makin banyak. Remaja cewek semacam tergantung pada pacarnya karena berbagai alasan: bangga punya pacar ganteng/keren/tajir/populer, perasaan disayang (digombalin) yang membuncah, perasaan sudah dewasa karena bisa berduaan kayak di FTV, atau karena orang tua di rumah kurang perhatian. Hal-hal begini membutakan mata dan hati saat sang pacar ternyata berperilaku merusak jiwa raga. Dan bukan cuma remaja perkotaan yang kena sihir begini. Kalau baca novel Minoel-nya mbak Ken Terate, cewek yang dilemahkan pacar begini juga umum di pedesaan Gunung Kidul, termasuk bila si cowok sama sekali nggak punya potensi jadi calon mantu ortu baik-baik.

Buat kisah ini, saya nggak nonton film yg skenarionya dikembangkan jadi buku ini. Saat membaca, saya sadar bahwa sebuah kisah remaja yang tidak ditulis oleh remaja macam ini, tetap bisa kedodoran bila penulisnya kurang memahami dasar cerita.

Sepanjang cerita yang lumayan banyak berlokasi di SMA umum di Jakarta ini (kira-kira sepertiga bagian), saya nggak bisa melihat bahwa sekolah ini punya interaksi yang cukup intens dengan siswanya. Padahal tokoh utamanya, Lala, adalah atlet nasional loncat indah. Dalam pembukaan buku, memang ada apresiasi bagi Lala yang bersama tim DKI Jakarta mengharumkan nama provinsi dalam Pekan Olahraga Nasional. Kisah Lala dimuat di mading sekolah, dan atas prestasinya di kolam loncat indah, ia selalu diberi dispensasi untuk tidak hadir saat persiapan dan pelaksanaan lomba. Namun demikian tentu ia tetap harus mengejar ketertinggalan pelajaran dan memenuhi tugas selama absen. Lala dan Yudhis juga diberi hukuman lari keliling lapangan saat mereka melanggar aturan (kecil). Ini hal baik dan bernuansa romantis dari sekolah Lala yang tidak lupa dikisahkan oleh penulis cerita.

Tapi sisanya... Sekolah yang absen.
Sekolah tidak ada untuk mengawasi jejak yang dibawa Yudhis sang anak baru dari sekolah lamanya. Sekolah tidak bertanya-tanya mengenai Lala siswa berprestasi nasional mereka yang secara mendadak berhenti berlatih loncat indah. Sekolah tidak digambarkan punya akreditasi A atau peringkat gemilang, atau digambarkan memiliki guru-guru yang hebat saat mengajar dan mengangkat prestasi siswa, tapi terkesan bisa membuat semua siswanya mendaftar SNMPTN (jalur masuk PTN tanpa tes) asalkan "tidak mengambil jurusan asal-asalan dan nanti mempersulit adik kelas mendapat kursi kampus." Sekolah bisa abai dan tidak terlihat melakukan tindakan saat di dalam pagarnya di jam sekolah, Yudhis menyakiti fisik dan mental Lala sedemikian rupa.

(Yah, mungkin SMA Pranacitra ini sekolah luar biasa dengan siswa yang kemampuan akademiknya telah diseleksi ketat dan guru-guru rendah hati dan tak perlu tampil dalam cerita)

Untuk latar orang tua Lala dan Yudhis yang saat ini masing-masing adalah orang tua tunggal dengan alasan berbeda, ya mau bagaimana lagi. Kedua anak ini pun anak tunggal, jadi tak perlu repot ada penanaman karakter pendukung kakak, adik, tante, paman, dkk yang bisa membantu pengembangan kepribadian mereka. Saya malah jadi ingat cerita-cerita remaja di wattpad, tapi yang ditulis oleh remaja beneran.

Tentang pelatih loncat indah nasional, yang ternyata juga ayahnya Lala sendiri, saya tidak keberatan. Apalagi ayah dan ibu Lala juga tadinya atlet nasional bidang yang sama. Cuma kan ya, sebagai cabor yang bukan hanya punya pentas setingkat PON melainkan juga kelas Asia Tenggara, tidak hanya ada pelatih fisik dan gak cuma satu. Mustinya ada tim psikologi juga bagi atlet-atlet remaja ini. Seandainya nggak lupa dimasukkan cerita, mungkin bisa membantu Lala pada fokusnya. Tapi yaa... Nanti konfliknya dengan Yudhis jadi nggak seru, hahaa.

Wah, bahasannya panjang. Padahal belum selesai 😁😂
Profile Image for Al Szi.
57 reviews4 followers
October 31, 2021
Posesif. Kisah cinta yang seakan manis, tapi ternyata menyakitkan dan menyeramkan.
Teenlit yang diangkat dari Film, aku nonton filmnya duluan (jelas!). Tapi malah penasaran sama bukunya. Dan ternyata bukunya bagus, kok!

Kenapa kusuka teenlit ini, karena menceritakan sebuah hubungan tidak sehat di masa SMA. Sepertinya hubungan toxic itu bisa terjadi kapan aja ya, tapi terutama masa SMA. Penggambaran cinta untuk anak SMA tuh naif, aku merasa jatuh cinta dan aku merasa ini akan terjadi selamanya. Dan begitu pula yang terjadi sama Yudhis dan Lala. Kenapa buku ini bagus? Karena di sini menyadarkan kita, bahkan orang tua sekali pun tidak bisa menyelamatkan kita dari hubungan tidak sehat. Cuma dirinya sendiri yang bisa keluar dari sana.

Di sini, Yudhis berbaik hati ingin meninggalkan Lala, padahal pada kenyataannya kalau ada pasangan toxic mereka sama-sama gak bisa lepas satu sama lain. Makanya kenapa kubilang buku ini bikin orang sadar.

Selain menyadarkan diri sendiri juga ada sikap Ayah dan sahabat-sahabat Lala yang selalu mendukung Lala. Sahabat-sahabatnya tau Lala menjalani hubungan yang buruk dan terjebak di dalamnya, tapi mereka tetap selalu ada walau pun Lala bersikap keras kepala ingin tetap ada di samping Yudhis. Mereka enggak menghakimi Lala dan ketika Lala kembali mereka tetap membuka tangan mereka lebar-lebar untuk Lala. Menurutku, memang itu yang harus dilakukan seorang teman/keluarga. Seberapa pun buruknya pilihan hidup seseorang, tapi ketika dia mencoba kembali ada orang-orang yang masih mau menyambutnya. Sebuah support menolong seseorang kuat untuk pergi dari hubungan buruk mereka.

Dan terakhir, buku ini mengingatkan para remaja untuk mengejar apa yang mereka mau tanpa harus terhalang apa pun (apapun=pacar posesif). Pilihan hidup yang diambil jangan berdasarkan seseorang selain diri kita sendiri.
Profile Image for Muhammad Ridwan.
193 reviews25 followers
January 4, 2018
POSESIF versi film, merupakan tontonan bioskop terfavoritku pada tahun 2017. Posesif memberikan kesan bahwa kisah cinta 2 remaja juga bisa digarap serius dan ... sangat relatable.

Sesuai dengan tagline-nya, Posesif menceritakan tentang Lala dan Yudhis, siswa-siswi kelas 12 SMA, yang jatuh cinta. Bagi Lala, ini adalah cinta pertama. Sebagai seorang atlet loncat indah, rutinitas latihan hariannya membuatnya tidak terpikir untuk pacaran. Yudhis memberikan rasa kasmaran itu. Akan tetapi, Yudhis ingin selamanya. Yudhis telah menyediakan segalanya untuk Lala, terutama waktu.

Sebagai penonton dan memfavoritkan filmnya, POSESIF versi novel, seolah hanya menulis ulang adegan-adegan dan dialog yang ada di film, sehingga memberikan nostalgia film tersebut ketika membaca novelnya. Ketika membaca, aku tidak memiliki bayangan selain Putri Marino sebagai Lala dan Adipati Dolken sebagai Yudhis. Tidak terbentuk frictional character yang lain karena memang minim mendeskripsikan tokoh.

Bedanya dengan film, mungkin hanya di kisaran menjelang ending (itu pun alur dan kisahnya hampir sama), dan endingnya (yang berbeda).
Namun, aku memberikan bintang lebih karena aku lebih suka ending di novel daripada di film.

-----

Toxic relationship yang ada pada Posesif, sering sekali dijumpai di dunia nyata.
"Cuma aku yang bisa ngubah dia."
"Dia itu butuh aku."
Kalimat-kalimat yang diucapkan oleh cewek dengan luka parah karena "disakiti pacarnya", lalu dinasihati oleh yang lain, tetapi malah menjawab seperti ini.
Kemudian mereka kembali bermaafan, bermesraan, dan mengulang kembali siklus mesra-"berantem"-maaf.

-----

"Aku tahu yang terbaik untukmu."
"Hanya akulah yang mengerti kamu."
Kalimat-kalimat yang biasanya berasal dari seseorang kepada yang "terkasih".

Profile Image for Dhani.
257 reviews17 followers
February 5, 2018
Saya beruntung karena akhir akhir ini bisa menemukan buku buku yang bagus dan membawa pesan pada pembacanya.Dan Posesif termasuk salah satu di antaranya.

Ditulis oleh Lucia Priandarini berdasarkan skenario Gina S Noer, ini adalah novel yang diadaptasi dari film, yang pertama saya baca.Dan saya suka mulai dari idenya, interaksi di antara tokoh tokohnya, juga informasi yang dibagikan.

Lala yang siswa SMA dan juga atlit loncat indah DKI, menjalin hubungan dengan Yudhis, cowok yang " nampaknya" baik.Tapi dalam perjalanan waktu, Yudhis seakan memiliki dua kepribadian.Yang lambat laun mempengaruhi kehidupan keseharian Lala.

Novel ini menyampaikan pesan kepada pembacanya banyak hal, di antaranya, anak yang dibesarkan dalam kondisi kekerasan yang dilakukan oleh orang tuanya( salah satu atau keduanya), cenderung akan punya sifat yang sama di kemudian hari. Dia tak bisa atau kurang bisa membedakan antara mencintai dan menguasai.Sebuah novel yang layak dibaca oleh remaja, juga orang tuanya.Very inspiring.
1 review
May 18, 2020
Udah nonton filmnya sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu. Karena nonton yang bajakan di youtube (hehehe) jadi nggak berasa apa-apa, karena suaranya sering hilang-hilang sendiri (rada kesel, sih). Tapi setelah hari ini aku baru aja menamatkan bukunya, sumpah, asli, ini tuh buku teen fiction "berisi" yang aku baca pertama kali. Bukan cuma tentang cinta-cintaan haha-hihi doang, tetapi ada pesan di balik cerita itu dan ada alasan di balik setiap kejadian. Endingnya bagus (walau rada kecewa), karena nggak kebayang kalau Yudhis tetap membiarkan Lala kekeuh dengan keinginannya. Yang ganjal dikit itu waktu mereka lagi makan berdua, ngomongnya pake aku-kamu, terus tiba-tiba nggak ada angin nggak ada hujan Lala pake gue-lo, wkwkw, mungkin itu penulis dan editornya lupa. Lalu waktu mereka diceritain pake POV 3, eh tiba-tiba nyempil kata gue di narasinya padahal nggak lagi ngomong dalam hati, hahaha, tapi bisa dimaafkan kok. Sekian:)
Profile Image for Gregorius Harvi.
53 reviews13 followers
January 6, 2018
I like this book but not as i love the other depressive drama books. For me "posesif" is more about depressing love that caused by abusive relationship and broken home. I love the premise and the idea for this novel because im interested in broken home and depressive story. Posesif told you about how a girl who fall in love with a wrong guy and she was panicked and anxious about how to runaway from her abusive boyfriend.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Aulia Suyadi.
7 reviews
February 20, 2018
Berharap bacaan ringan kisah cinta dua anak SMA, ternyata malah serem. Dari pertama kali Yudhis nunjukin tanda-tanda nggak bener, dalem hati teriak, "Pergi La, tinggalian dia. Udahlah."

Reaksi standar bystander yang melihat/mendengar cerita tentang abusive relationship.

Jadi inget suka ngatain temen yg kadang terlalu kepo nanya2 lagi di mana? sama siapa? ngapain? dengan sebutan posesif. Ternyata kalo posesif beneran nggak ada lucu2nya sama sekali.

Creepy..
Profile Image for Syaumi.
121 reviews4 followers
April 16, 2018
ini pertama kalinya dari sekian lama nggak baca teenlit Indonesia, dan untungnya nggak mengecewakan. Temanya anti mainstream banget, disaat yang lain muja-muja cowok posesfi, buku ini justru malah sebaliknya. Yang awalnya sweet, tiba-tiba jadi abusive dan nggak sehat. Syukur deh Lala sama Yudhis didn't end up together :')
This entire review has been hidden because of spoilers.
2 reviews
December 29, 2017
Dear author, please write a spin off story about Bacil. I am dying to know what had happened to him eg. why/where did he disappear? Also, did Yudhis hit home run on the eve of Lala's birthday? Plus, what happened to Lala and Yudhis during 1,5 months of waiting for the SNMPTN announcement?
Profile Image for Mia Thalib.
1 review14 followers
September 2, 2018
Meskipun ceritanya tergolong ringan, tapi beda sama novel percintaan anak sma pada umumnya yang isinya hepi-hepi. Posesif nawarin hal beda dan bisa nyentil yang baca kalo kisah cinta gak selalu indah, da yang toxic juga kayak yang diceritain di novel ini
Profile Image for Muhammad Rajab Al-mukarrom.
Author 1 book28 followers
August 13, 2019
Sepertinya sang penulis, Lucia, sudah dipercaya Gina S. Noer untuk menulis novel berdasarkan skenarionya, dan kepercayaannya itu memang tepat. Novelisasi skenario film ini terasa enak dibaca, sama enaknya ketika menikmakti filmnya.
Profile Image for Salsabilla Shafa.
11 reviews3 followers
November 2, 2020
Tema nya sama kayak cerita dari buku Someday nya Winna Efendi. Tapi yang gue salut, si Yudhisnya sadar kalau apa yang dia lakuin adalah rantai dari Mamanya. Yang jelas, gue mewek banget lah baca nya 😭😭
Profile Image for Ari.
18 reviews1 follower
January 11, 2018
Kadang gue ngerasa gue juga tipikal posesif
Profile Image for Maya.
206 reviews8 followers
December 31, 2019
Saya membaca novel adaptasi ini dalam kondisi belum menonton filmnya, jadi saya tidak akan membuat perbandingan antara keduanya.

Saya terkesan dengan perkenalan tokoh di awal buku. Dengan teknik bercerita sudut pandang orang pertama bergantian, saya bisa menyelami pemikiran dan perasaan Lala dan Yudhis. Saya menjadi paham mengapa masing-masing tokoh berbuat ini dan merasa begitu: Lala anak yang cukup people pleaser dan Yudhis yang agak tengil.

Sampai saya tiba pada peristiwa Yudhis sempat menahan Lala di dalam mobilnya sebelum cewek itu keluar untuk latihan loncat indah. Itu adalah adegan awal yang membuat saya tercengang. Yudhis yang saya tebak dari karakternya santai dan banyak akal berubah menjadi sosok pengekang dan kasar. Tidak santai sama sekali.
...Mata itu bukan mata Yudhis yang kukenal. Seperti mata jiwa asing yang tersesat masuk ke tubuh yang salah.
Mungkin pemahaman saya terhadap abusive relationship masih terbatas. Tetapi abuser, sejauh yang saya ketahui, tidak serta-merta menjadi orang lain yang bukan dirinya ketika melakukan abuse. Manusia memang memiliki sisi gelap masing-masing. Tetapi ibarat bulan, sisi gelap itu masih bagian dari dirinya. Yang saya temukan pada tokoh Yudhis adalah sisi gelap yang posesif dan kasar terhadap Lala itu tidak nyambung dengan baseline karakter normalnya. Saya merasa aneh terhadap Yudhis yang pada kondisi normal itu banyak akal, santai cenderung apatis, dan simpatik pada Lala, tiba-tiba menjadi sosok kejam yang ia sendiri tak kenali. Saya mengharapkan Yudhis akan lebih licik dan memainkan perasaan Lala daripada main kasar, yang nantinya ia akan lebih merasa punya pembenaran atas perbuatan sisi gelapnya itu. Dalam cerita ada indikasi juga bahwa hurt people hurt people, tetapi sayangnya itu tidak dijabarkan bagaimana bisa terjadi. Yudhis diceritakan punya mama yang kasar juga, tetapi tidak ada penjelasan apakah Yudhis "belajar" dari ibunya atau entah bagaimana.

Tetapi itu cuma teori saya saja sih. Tema ceritanya menarik, terutama di bagian akhir ketika Lala telah beberapa kali dianiaya tetapi malah berbalik simpati pada Yudhis. Kita sebagai pembaca atau penonton tidak perlu main savior complex seperti Lala, karena peran menyembuhkan luka emosional Yudhis lebih tepat diserahkan pada konselor.
Profile Image for Wina.
83 reviews
December 5, 2025
Sesuai keterangannya, novel ini ceritanya sama dengan filmnya karena diambil dari skenario film. Buat yang mau nikmatin salah satu saja boleh banget, perbedaannya gk begitu banyak.

Awalnya baca ini tanpa ekspetasi tinggi, tapi lama-lama kok asyik juga. Penulisnya membuat cerita ini mengalir alami dan gk bosen buat dibaca. Walau sudah nonton filmnya, gak bakal bosen kalau baca novel ini lagi.

Tokohnya memang masih SMA tapi lebih cocok untuk pembaca young adult. Konflik yang disajikan berat. Awalnya sweet seperti novel romantis biasa. Begitu masuk ke pertengahan mulai terasa beratnya. Betapa mirisnya hubungan Lala dan Yudhis. Dilanjutin sakit, udahan juga sakit.

Konflik yang disajikan benar-benar bisa terjadi di dunia nyata oleh siapa saja. Pembaca jadi lebih berempati dengan para tokohnya. Akhir yang disajikan pun realistis. Tidak membuat pembaca bermimpi indah mengenai toxic relationship.


Novel ini cocok buat young adult ke atas. Ada adegan dewasa sehingga tidak cocok untuk pembaca di bawah umur. Bisa dibaca saat waktu luang atau saat menyisihkan waktu, sebab meski konfliknya berat, narasi yang disajikan mudah untuk dipahami.
Profile Image for Jessica Ravenski.
360 reviews4 followers
June 30, 2018
Baru sempet nonton filmnya kemarin dan kok gue lebih suka buku daripada filmnya ya? Setelah pikir2, mungkin karena di buku ceritanya ga terlalu buru2. Contohnya pas awal Yudhis & Lala kenal dr insiden sepatu sampe akhirnya mereka jalan bareng, kok di film kesannya cepet banget, tau-tau mereka sudah duduk2 nempel gambar2 paus & penguin. That escalated quickly. *tubruk* *pisahin*

Terus pas baca bukunya, emosi gue bener-bener sukses nyampe ke ubun-ubun banget sih (insiden Lala keterima di UI terus Yudhis ngamuk & waktu nyokapnya Yudhis mukulin anaknya, itu sumpah sedih banget gue yang kesel sama Yudhis jadi beneran ga tega deh), sedangkan pas di filmnya gue merasa biasa aja. Apa karena gue sudah tau apa yang bakal kejadian abis ini-abis itu makanya gue ga merasa wah saat nonton filmnya ya?

Ya udah itu aja. Buku & filmnya tetep bagus sih pokoknya! Dan, duh, Putri Marino cakep banget! Mba, aku ngefanssss! <3
Displaying 1 - 29 of 29 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.