MENUNGGU AYU Tapi Ayu bisa dekat dengan siapa saja. Ia baik dan ramah. Tidak ada yang pernah mencoba menjahili Ayu. Kehadirannya tidak menyakiti dan tidak disakiti siapa saja. Dulu, rasa-rasanya Ayu tidak cantik. Dia jadi cantik setelah pergi tanpa pamit.
GERIMIS DI ATAS KERTAS “Kak,” aku memberanikan diri menatap matanya.“Kakak bisa membaca pikiran orang?” Kak Fajar menggeleng.“Mana ada yang begituan.” “Kakak bohong.” “Kalau saya sudah jujur, dan kamu tetap suruh saya jujur dengan penjelasan lain, artinya kamu sedang nyuruh saya bohong.”Kak Fajar tersenyum.
CAKWE KOTA TUA “Saya ragu Kak Sastri mau!”Anggik yang pertama protes. “Kalau belum dicoba, kan, belum tahu.”Kamu tersenyum simpul. Benar: kamu ingin mengajak Sastri membuat sebuah warung kopi terbuka di pesisir Pantai Ampenan. Warung kopi yang sederhana, dengan menu istimewa kopi unik Parid dan cakwe Sastri.Akan ada pula sejumlah buku yang bisa dibaca di tempat, gratis. Sebuah warung kopi literasi.
Tiga cerita, dua gaya penulisan sudut pandang, satu benang merah: komunitas. Di Pulau Lombok jalinan cerita saling bersinggungan ini terjadi.Tentang anak muda, tentang cinta,dan tentang dunia yang serbabergerak.
Menjadi pembaca yang cukup rakus dan hampir selalu membawa buku bacaan baru ke kampus, seringkali saya dimintai rekomendasi bacaan oleh teman-teman. Biasanya permintaan itu akan diakhiri dengan: “Ehm… Tapi yang gampang dibaca ya, jangan berat-berat.” Glek. Masalahnya, terkadang saya bingung kadar ‘berat’ dari sebuah bacaan itu bagaimana.
Pernah saya menawarkan buku Mas Pacar ke salah satu teman, yang ternyata cuma dibolak-balik sebentar lalu dikembalikan. “Opo tho, nggak ngerti aku kalo yang begini.” Tanpa perlu menjelaskan ironi dari minat membaca masyarakat Indonesia yang masyaa Allah kadang-kadang bikin pengen nangis, saya membuat penelitian kecil-kecilan perihal bacaan-yang-jangan-berat-berat kepada beberapa teman saya di kampus. Ternyata, mereka cenderung menyukai cerita-cerita yang ringan, diceritakan dengan jelas, padat, dan menggunakan gaya cerita realis.
Saya rasa Gerimis di Atas Kertas bisa menjadi salah satu bacaan yang memenuhi standar itu. Kumpulan novelet yang berlatar tempat di Lombok dan menggunakan dua sudut pandang ini adalah buku pertama dari koleksi Basabasi Muda, terbitan Penerbit Basabasi yang ringan dan banyak menarget pembaca remaja. Dua cerita pertama—Menunggu Ayu dan Gerimis di Atas Kertas menggunakan sudut pandang orang pertama, sementara cerita ketiga—Cakwe Kota Tua—menggunakan sudut pandang orang kedua.
“Bahwa seperti kemudahan yang selama datang menyertai kesulitan, kesulitan pun akan selalu ada mengikuti kemudahan. Silih berganti keduannya datang sebagai ekspresi logis hukum alam. Tidak ada cerita tentang bahagia selamanya. Tidak ada juga yang melarat seutuhnya. Di tengah kenyamanan hidup selalu ramai oleh tekanan-tekanan batin yang kecil. Di tengah kemelaratan, selalu tersedia kebahagiaan-kebahagiaan kecil”. - Menunggu Ayu -
“Aku ingin punya perasaan yang murni tehadap hidup: bahwa hidup terdiri dari pilinan detik, yang mesti dinikmati dan disyukuri. Tidak masalah dengan usia yang terkait jauh itu. Rezeki masing-masing sudah ditetapkan: jangan dikalkulasi seperti orang tidak meyakini murah hati dan adilnya Tuhan.” - Gerimis Di Atas Kertas -
“Semua kebaikan selalu menanam kebaikan pula. Akan ada waktunya ketika setiap kebaikan yang tertanam akan menumbuhkan pohon, memberikan kita bebuahan yang kita butuhkan.” - Cakwe Kota Tua -
Buku pertama yang ku baca di tahun 2023. Awalnya aku nggak punya ekspektasi apa-apa dengan buku ini. Tapi nyatanya buku ini cukup menyentuh hatiku.
Ada tiga cerita dalam buku ini. Dua cerita di awal menjadi cerita favoritku. Sederhana saja ceritanya. Tapi entahlah.. Saat membaca emosiku bergejolak. Tiba-tiba aku teringat pada seseorang yang pernah kusayangi—yang sekaligus menyakitiku.
Tidak.. Tentu saja kisah-kisah asmara dalam buku ini tidak berakhir dengan sad ending—dan sebenarnya tidak ada kaitannya dengan kisahku. Tapi entahlah... kesederhanaan dan kelembutan dalam setiap ceritanya membuatku merasa sedikit melow—mengingatkanku kembali pada kisah masa laluku.
Selain menyajikan kisah romansa yang ringan tapi tetap menarik. Penulis juga menyajikan bagaimana perjuangan tiap tokoh di setiap cerita dalam mengembangkan dunia literasi. Dan satu lagi, bagaimana cara penulis menggambarkan Kota Mataram-Pulau Lombok begitu detail.
Yang jelas buku ini rekomended baget buat kalian yang butuh selingan bacaan ringan.. 4/5 🌟 untuk buku ini..
Jujur aku ngga expect bukunya bakal semenarik ini dan bacanya enjoy banget. Bahasannya enteng, cerita sederhana, penulisan ngga bertele-tele dan asik buat dinikmati. Sesantai itu, sampe aku kebawa suasananya, sedih sampe nangis, seneng sampe kesemsem sendiri HAHAHAH.
Ini isinya 3 cerita yang latarnya sama dan hampir mirip satu sama lain. Anak muda yang ngerantau di Lombok, dan endingnya ada sedikit romance tapi bukan yang menye-menye. Ini kisah cinta remaja dewasa yang udah siap nikah gitu. Apalagi Kak Fajar, "Seorang lelaki yang telah lama menyendiri dengan cara yang berkelas" ♡___♡
"Tidak semua yang kita inginkan selalu terwujud, ya. Tapi sejauh ini kita sudah mengusahakan yang terbaik."
Buku Gerimis di Atas Kertas berisikan tiga kisah cerita, di mana ketiga ceritanya berkaitan dengan cinta, komunitas, dan Pulau Lombok. Dari buku ini, ada beberapa poin yang aku suka.
Pertama, penulis tidak hanya menuliskan cerita cinta saja, tapi juga peran komunitas yang memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang membutuhkan tempat untuk belajar, berkarya, dan saling berbagi.
Selanjutnya yang aku suka, penulis juga menyelipkan sejarah Pulau Lombok, seperti konflik antara masyarakat Lombok dengan orang Tionghoa, Jawa, dan Kristen. Tentang Suku Sasak yang sudah mengenal tradisi menulis sebelum abad ke-13, serta perebutan Ampenan oleh dua kerajaan Nusantara, yaitu Kerajaan Karangasem Bali dan Kerajaan Makasar.
Dari awal baca buku ini, aku selalu kira kalau Royyan itu laki-laki. Ternyata, dia perempuan. Dan dia salah satu tokoh yang aku kagumi. Selain cerdas, dia juga mengayomi, bisa diandalkan, sederhana, tutur katanya tertata rapi, dan sahabat yang diidam-idamkan banyak orang, serta pendengar yang baik. Aku puas karena dia berakhir bersama lelaki yang mencintainya.
Selain Royyan, aku juga kagum sama Sahril. Baca kisahnya membuat perasaan campur aduk. Sahril harus menggantikan peran Ibu di depan adik-adiknya. Sehingga, dia selalu mencoba memberikan yang terbaik bagi adik-adiknya. Karena tumbuh dengan pikiran 'harus selalu memberikan yang terbaik', Sahril tumbuh menjadi anak yang terlalu khawatir, takut mencoba, dan khawatir melakukan kesalahan.
Gaya penulisannya ringan, tapi ada beberapa bagian di mana penggambaran suasana kurang dimengerti, sehingga kurang memberikan kesan. Selain itu, ada yang aneh, karena tiba-tiba saja Binyok, salah satu tokoh di cerita Cakwe Kota Tua, sengaja dihilangkan. Apakah karena dia pendiam sehingga dihilangkan? Tapi mungkin beberapa orang gak ngeh ya sama hilangnya Binyok ini.
Tiga kisah yang menitikberatkan akan komunitas dan perpustakaan. Setiap kisah memberikan gambaran yang jelas tentang perjuangan dan cinta. Selama membaca suasana sendu dan semangat terlihat jelas dan tegas.
Kisah yang saya suka ada di cerita pertama, anak-anak murid tersebut mencuri perhatian dan percakapan yang terjalin antar guru dan muridnya seakan nyata dan berkesan.
Tiap bab nya menceritakan tokoh yg berbeda tapi dengan jalan cerita yg hampir sama. Buku yg membuat ku semakin menumbuhkan rasa cinta akan buku. Banyak sekali pelajaran yg bisa diambil dari tiap kisahnya
BAGUS.... aku ngga expect bukunya seru dan ringan banget buat dibaca, cerita di buku ini sederhana dan 3 cerita di buku ini latar tempatnya pengen aku datengin semua!!!!! huhu favorit aku gerimis di atas kertas 🥺
Kumpulan cerita romansa dengan latar belakang pulau lombok. Alurnya rapi dengan bahasa yang tidak bertele-tele tapi menarik untuk terus dibuka hingga halaman terakhir.
awalnya gak expect kalo bukunya bakal semenarik ini, penulisan cantik dan bahasannya ringan. hal yang aku suka itu cara penulis menceritakan 3 cerita dengan 2 sudut pandang yang berbeda dan banyak pelajaran yang bisa diambil. aku enjoy baca buku ini, cocok buat selingan!
my favorite part: "Tapi guru sejati tidak melihat bagaimana potret muridnya di hari ini. Guru sejati berdoa dan memperjuangkan potret muridnya di masa depan."
Tiga cerita, dua sudut pandang, dan terjadi di satu kota. Entah bagaimana cara saya menyampaikan betapa unik dan memabukkannya buku ini. Cerita pertama diwarnai latar belakang kehidupan lima bocah dengan keunikan masing-masing. Di cerita ini penulis memunculkan kembali ragam permainan tradisional yang mulai terlupakan. Di cerita kedua, penulis mengajak kita berbaur dalam komunitas dan sedikit berbagi ilmu seputar dunia kepenulisan. Sedang di cerita ketiga, yang paling saya soroti adalah setting-nya. Penulis tidak hanya menjadikan Mataram sebagai tempelan di balik cerita, tapi benar-benar memaparkan sejarahnya.