Jump to ratings and reviews
Rate this book

Misteri Bilik Korek Api

Rate this book
Sejak bayi Sunday tinggal di panti asuhan sehingga disa sama sekali buta dengan Ambon, daerah asalnya. Sampai Emola datang, lalu mengingatkan Sunday dengan asal-usulnya yang samar.

Suatu hari mereka menumukan bilik penuh tempelan korek api saat pindah panti asuhan ynag baru. Sejak saat itu, kecelakaan demi kecelakaan menimpa teman-teman sekamar Sunday. Sunday mencurigai Emola berkaitan dengan semua kesialan yang terjadi. Bagaimana tidak? Emola memiliki kepribadian yang misterius, minim bicara, dan hanya mendendangkan lagu daerah asalnya sambil menggenggam bandul kalung yang dibungkus kain putih.

Lalu siapa giliran berikutnya yang bakal celaka?
Dia?
Mereka?
Kamu?

240 pages, Paperback

Published October 23, 2017

9 people are currently reading
151 people want to read

About the author

Ruwi Meita

37 books204 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
35 (16%)
4 stars
113 (54%)
3 stars
55 (26%)
2 stars
6 (2%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 71 reviews
Profile Image for Nandiito.
31 reviews11 followers
January 3, 2025
Gila! Aku sama sekali tidak menyangka bakalan menyelesaikan buku ini hanya dalam waktu dua hari. Bukunya memang sangat seru dan menarik sampai-sampai aku pun tidak sadar sudah membaca buku ini sampai di halaman terakhir. Tapi aku kecewa banget karena kisah yang nanggung ini membuatku berharap kalau buku ini bakalan ada sekuel karena masih banyak sekali misteri yang perlu dieksplor lebih jauh lagi terlebih dalam buku bilik korek api ini tidak lain hanya sekedar tempelan terlebih open ending dalam buku ini membuatku berharap ingin sekali buku ini dibuatkan sekuel.

Di buku inipun jangan harap menemukan sebuah cerita mencekam berupa kehadiran sosok tak kasat mata yang menjadi kekuatan dalam bercerita sehingga membuat pembaca merasakan sebuah ketegangan sepanjang yang menurutku bakalan klise tetapi ketegangan yang dihadirkan dalam buku ini memiliki pendekatan yang cukup berbeda. Justru, cerita ini mengandalkan sesuatu yang meresahkan, atmosfer supranatural yang mencekam serta dampak psikologis yang mengganggu sehingga membuat buku ini terlihat unik dan seksi di waktu yang bersamaan.

Aku sangat suka bagaimana Ruwi Meita menyampaikan kisahnya ini dengan tenang dan kalem. Tenang yang aku maksud dalam buku ini tentu narasi dalam disampaikan selambat mungkin demi membangun ketegangan cerita secara bertahap seiring berkembangnya cerita ini dan ledakan plot twist cerita ini pun datang di momen yang tepat.

Ulasan selengkapnya menyusul di akun Instagramku
Profile Image for Tristanti Tri Wahyuni.
195 reviews6 followers
December 17, 2017

Menyelesaikan membaca buku ini beberapa hari yang lalu. Dan, perlu menenangkan diri sejenak sebelum bisa menulis review ini. :))

Banyak yang saya suka dari buku ini. Pertama, jalan ceritanya yang penuh dengan teka-teki, membuat saya enggan untuk melepaskan buku ini setelah membaca lembar-lembar pertama. Menegangkan sekaligus bikin penasaran. Kedua, buku ini dituliskan dengan dua sudut pandang yang saling melengkapi. Kita akan membaca sisi gaib dari sudut pandang Emola, dan dunia yang kasat mata dari sudut pandang Sunday.

Ketiga, karakter tokoh yang unik. Emola mengingatkan saya kepada Christopher Boone di buku Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran. Setidaknya, bagaimana pusingnya kepala saya saat membaca jalan pikiran Emola, sama seperti ketika saya membaca jalan pikiran Christopher di buku tersebut. Christopher adalah seorang anak penderita sindrom asperger yang berusaha memecahkan kasus pembunuhan anjing tetangganya. Sedangkan, Emola adalah anak yang bisa mendengar warna-warna bersuara. Kalau tidak salah ingat, dari artikel yang pernah saya baca, kondisi Emola ini disebut dengan synesthesia. CMIIW. Hebatnya, selain menderita synesthesia, Emola juga anak indigo dan suka berhalusinasi melihat manusia seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Walah! Complicated sekali hidup Emola ini.

Hal lain yang saya sukai dari buku ini adalah saya jadi dapat banyak informasi baru. Tentang filumenis, John Walker, rumah jengki, permainan ancong-ancong, dll. Kereeenn... sekali pokoknya!

Kutipan favorit:

“Kadang menangis akan membantumu menyadari arti kekuatan.” – Nugi kepada Sunday. Aww... so sweet. :’)

Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
November 15, 2017
Saya suka dengan peralihan sudut pandang antara Emola dengan Sunday. Pergantian yang alih-alih bikin salah fokus pembaca, tetapi menurut saya malah membuat ceritanya utuh sekaligus tidak membosankan. Sunday dan Emola ini walau berbeda tetapi terasa banget saling melengkapi. Apa yang tidak dilihat oleh Sunday bisa dilihat oleh Emola. Demikian pula, apa yang tidak bisa dirasakan Emola (persahabatan, kasih sayang,cinta) dapat dirasakan oleh Sunday. Membaca dua pribadi yang berbeda ini kita jadi bisa belajar banyak. Tentang tanggung jawab manusia kepada sekitarnya, tentang masa lalu seseorang yang menjadikannya seperti sekarang. Pembaca tidak lagi menghakimi, tetapi mau mencoba untuk memahami. Saya juga senang dengan Mbak Ruwi yang mengoptimalkan semua perangkat yang ada dalam cerita, tak ada yang disia-siakan. Semua hal yang ada di buku ini turut mendukung alur cerita, atau paling tidak akan muncul fungsinya entah di bagian mana.

Ulasan dan kuis berhadiah satu novel 'Misteri Bilik Korek Api' sudah tayang di https://dionyulianto.blogspot.co.id/2..., hanya sampai 20 November 2017.
Profile Image for Lila Cyclist.
857 reviews71 followers
December 28, 2017
Bayangan api memang selalu menghadirkan bayangan-bayangan seram dalam refleksinya, apalagi bayangan api korek api, yang menyala hanya sesaat...

Sunday, sebagai yang tertua di panti asuhan dimana ia dibesarkan, mendapat tanggung jawab dari para pengasuh di panti asuhan. Suatu hari, ia bersama saudara-saudaranya di panti pindah ke panti asuhan baru. Rumah panti asuhan baru ini adalah rumah kuno yang asri. Karena rumah kuno inilah, rumah ini memiliki misteri yang tersimpan berpuluh tahun lalu, yang sumbernya berasal dari satu bilik mungil di dalam kamar, dimana deretan bungkus korek api berderet, membentuk formasi bangunan yang indah, namun....

Emola, salah satu anak dari panti menyimpan rahasia dan bakat dalam dirinya. Sayang, ia nyaris tak pernah berkomunikasi dengan anak-anak lain di panti. Ia menyimpan apa yang ia lihat sendiri, berbicara pada diri sendiri, hingga satu peristiwa membuatnya harus membuka diri.

Ini adalah perkenalan saya dengan penulis Ruwi Meita. Sebelumnya saya sempat mencoba beberapa novel bergenre thriller horor di Scoop, sayangnya yang saya dapatkan tidak seperti yang saya harapkan. Dan kebetulan novel ini menjawab ekspektasi saya. Diceritakan dengan dua PoV memudahkan saya membedakan antara Sunday dan Emola. Perbedaan penggunaan aku dan beta juga lebih menjelaskan siapa yang berbicara di sini. Sayang, beberapa kali saya menemukan salah penyebutan antara beta dan saya di bagian Emola. Typo? Atau gimana ya? Hal lain yang masih menjadi ganjalan adalah nama asli Sunday. Apakah benar seperti yang disebutkan salah pengasuh panti yang dengki itu? Sampai akhir, saya berharap itu hanya nama rekaan dari si pengasuh karena seperti yang dipercayai banyak orang, nama adalah doa, ekspektasi para orangtua pada anaknya kelak. Well, mungkin memang itu yang terlintas dalam pikiran orangua Sunday ketika ia lahir. Hmmmff....

Overall, novel ini sangat recommended bagi para oenyuka novel thriller psikologis horor. Semuanya dapet, sampai bumbu romance sedikit disini cukup membuat sentuhan manis novel ini. Hmm...saya jadi pengen mencoba karya penulis ini lainnya. Ada yang mau minjemin? ;)
Profile Image for Araaaa ➹.
133 reviews12 followers
December 3, 2023
Perjalanan seru sekali duduk. Thrilling lumayan kerasa. Pergantian pov gak mengganggu dan membingungkan, malah memberi sudut pandan lain yang membantu. Tapi sebenernya aku berharap backstory Sunday bisa dijelasin lagi kayak punya Emola.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
December 6, 2017
Melihat cover buku ini kusangka kisahnya adalah kisah horor yg mungkin bukan genre nyamanku, tapi nama pengarangnya bikin aku penasaran karena semenjak Rumah Lebah dan Patung Garam, aku selalu suka dengan gaya penulisan dan tema-tema psikologis thriller lokal yg diangkatnya. Ternyata sama juga, meski dibalut kesan angker rumah tua tak terawat lengkap dengan bilik misterius di dalam kamar, tema psikologisnya masih tetap kental dan nuansa thrillernya bikin jantung deg2an sepanjang waktu.

Ceritanya sendiri adalah tentang sekelompok anak panti asuhan yg menempati sebuah kamar di rumah panti yg baru. Sudut pandangnya diambil bergantian dari 2 orang paling kompleks kepribadiannya, Sunday yg realistis dan hangat ramah, dan Emola yang traumatis dan dingin penyendiri. Keduanya saling melengkapi dalam menyingkap kejadian-kejadian aneh di panti mereka.

Aku suka sekali perpindahan sudut pandang ini. Alih2 membingungkan, malah keduanya membuat kesan dinamis dan setiap adegan cerita dilihat dari 2 mata berbeda. Asyik sekali. Misteri dan horornya menarik untuk diikuti, dengan twist di akhir yg menegangkan. Suka endingnya!!! :)

#Scoop
Profile Image for A.A. Muizz.
224 reviews21 followers
May 20, 2018
Novel ini diceritakan dengan sudut pandang orang pertama, dengan Sunday dan Emola sebagai pencerita. Keduanya saling melengkapi. Sunday dengan dunia kasat mata. Emola dengan dunia tak kasat mata, dengan halusinasinya, dengan penglihatan dan pendengaran yang riuh-rendah di benaknya.

Selain bangunan misteri yang rapi dan ketegangan yang sudah disajikan sejak awal dengan sudut pandang Emola, yang menjadi kekuatan novel ini adalah risetnya: tentang psikologi, tentang dunia anak indigo, tentang panjat tebing, tentang dunia panti asuhan, dsb. Sehingga, saya sebagai pembaca dapat menemukan hal-hal baru dan menarik di sini, terutama tentang psikologinya.

Seperti novel-novel Mbak Ruwi yang sudah pernah saya baca, novel ini juga menyajikan plot twist yang oke. Tokoh-tokoh yang jumlahnya lumayan banyak itu, sebagian besar punya andil dalam membangun cerita apik ini.

Kekurangan novel ini bagi saya sih nyaris nggak ada. Hanya ada beberapa typo di cetakan pertama ini. Dan mungkin asal-muasal Sunday yang masih menyimpan misteri, karena nama asli Sunday itu Busu, yang dalam bahasa Ambon berarti busuk.

Saya begitu menikmati cerita ini. Ah, jadi nggak sabar pengin baca novel Mbak Ruwi yang bakalan terbit. Dengar-dengar sih masuk serial #UrbanThriller-nya Noura. Mari kita tunggu dan semoga dapat berjodoh. 😉😉😉
Profile Image for Zelviaaa Aris.
60 reviews6 followers
October 7, 2022
Another book from my favorite author, Ruwi Meita. This book is about a mystery that happens at the orphanage. consist of dual POVs, from Sunday, who is the eldest of them all, and Emola, the new girl from Ambon, who never talks to anyone.

It all began when they found a small room with a huge collection of matches. What they didn't know was that something more than matches lived in that small room.

In my opinion, I found some similarities in Ruwi's book that I have read (such as Belenggu Ilse, Rumah Lebah, and Carmine). She always writes with a dual POV, shows mothers' love, and sometimes also raises an issue about special children. I love those characteristics about her. In this book, she also uses so much local language (Ambon language when it comes to Emola's POV), and I am more in love with this book!

One more thing that I mentioned was that, as a horror book, this book is not enough to scare me. the storyline, which, in my opinion, ended too quickly, and the conflict that seemed forced to end. Maybe it is not too scary because this book is for teenagers (I thought about it when I saw the cover)? I don't really know, but I still enjoy this book.
Profile Image for Lesh✨.
291 reviews4 followers
December 31, 2024
Closing my 2024 reading challenge with a middle-grade horror story by Ruwi Meita. The story is well-written, with two engaging POVs that add depth to the narrative.

Setiap bab hanya terdiri dari nama tokoh; Sunday dan Emola. Cerita bermula saat mereka dan anak-anak panti harus pindah tempat tinggal karena suatu alasan. Berpindahlah mereka di sebuah rumah jengki peninggalan Belanda yang memiliki misteri di dalamnya. Suatu ketika salah satu anak panti tanpa sengaja menemukan pintu berwarna merah di balik wallpaper yang robek di salah satu dinding kamar. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah replika kota lengkap dengan pasar raya dibangun dari korek api yang mengelilingi bilik tersebut.

Emola, termasuk anak indigo yang berbeda dan merasakan ada suatu keganjalan dibalik bilik tersebut. Sampai suatu ketika ada momen di mana anak-anak panti merayakan ulang tahun Sunday, lalu ia meniup lilin dan memohon sebuah doa. And boom, doa jeleknya terwujud!

Menurutku agak sedikit bosan mungkin karena memang bukan seleraku. Tapi cukup page turner, tokohnya sat-set, alur terarah. Hanya saja untuk takaran horornya lebih kayak film The Conjuring. Serem, tapi gak serem banget, tapi cukup oke.
Profile Image for Laaaaa.
208 reviews5 followers
November 1, 2021
aku awalnya curiga ama emola, kelakuan dia kek fishy banget gitu lho. maaf ya emola sudah aku suudzonin terus huhuhu

ternyata dia menyimpan rahasia dan trauma berat....

aku awalnya bingung karena chapternya lompat2 dari pov sunday ama emola. terus emola ngomongin hewan2. aku bingung banget pas di awal2. kek apaan sih ini dia halu apa gimana? ada tikus, lintah, disebutin gitu. tapi lama2 ngalir aja sih ceritanya, enak banget buat diikuti.
Profile Image for Rossa Imaniar.
221 reviews5 followers
July 16, 2021
Novel yang keren.. Misterinya cukup membuat pembaca penasaran...
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,467 reviews73 followers
January 12, 2019
Ya ampun. Rasanya cepet banget aku baca buku ini via IPusnas (kalau nemu hardcopy-nya insyaallah bakal kubeli!). Berasa nonton film horor selama dua jam yang mencekam. Tapi ini bukan jenis cerita horor hantu yang mengandalkan jump scare. Ia lebih mengandalkan atmosfer dan suasana, ketajaman narasi, dialog, drama yang kental dan meremas kalbu, serta misteri yang dicicil di sepanjang cerita.

***

Adanya dua narator dalam buku ini membuat kekuatan narasinya semakin menonjol. Narator pertama adalah Sunday, seorang gadis yatim piatu di panti asuhan Katolik yang punya rasa tanggung jawab tinggi pada "adik-adiknya" di panti. Ia duduk di bangku SMA, aktif di klub panjat tebing (dan kemampuannya ini jelas berguna dalam plot), dan punya impian untuk kuliah agar bisa mandiri. Di sekolah ia bersahabat dengan Nikma, lalu juga Nugi, cowok yang sudah dekat dengannya sejak SMP, sejak cowok itu masih gendut, berjerawat, dan belum lena transformasi puberty attack yang membuatnya digilai para gadis di SMA.

Jika di sekolah dia diganggu oleh Dona, cewek yang naksir Nugi meski jelas bertepuk sebelah tangan, di panti asuhan ia diganggu oleh Bu Nasti, pengurus panti yang jahat yang pilihan kata-katanya sungguh nasty. Konon itu karena ia iri sebab tak ada keluarga yang mengadopsinya hingga ia terjebak menjadi pengurus panti.

***

Narator kedua adalah Emola, seorang bocah laki-laki misterius dengan trauma yang sangat mendalam akibat KDRT. Meski narasi Sunday tak kalah memikat, logat Ambon Emola menjadi warna tersendiri di sepanjang cerita. Emola tampaknya seorang indigo, dia bisa mendeteksi hal gaib, di matanya para manusia berbentuk binatang layaknya tokoh-tokoh dalam fabel yang mewujud di dunia nyata. Ia menyebut teman-teman sepanti asuhannya sebagai "tikus", Bu Nasti sebagai " burung bangkai", dan Bu Martha, pengurus panti yang baik, sebagai "penguin Martha".

Ia juga bisa melihat imaji-imaji contohnya bunga ungu yang tumbuh di atas kepala Sunday, atau ribuan paus yang berenang di udara. Sungguh menarik mengintip isi kepala anak indigo seperti Emola. Menarik sekaligus mencekam. Selama membaca aku mengira dia skizofrenia dan terus menebak-nebak di sisi manakah dia berdiri: hitam atau putih. Karena sepanjang cerita ia pun banyak melakukan hal yang mencurigakan juga.

Ia memiliki sebuah kalung pemberian neneknya. Kalung itu dibungkus dengan kain putih dan neneknya memperbolehkannya membukanya nanti jika ia sudah menemukan kekuatannya sendiri. Jika gelisah ia akan memutar-mutar kalung itu sambil terus bergumam seolah membacakan mantra. Ngeri banget dah.

***

Suatu hari panti asuhan dipindahkan ke sebuah rumah besar yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya ke luar negeri. Sunday dan adik-adiknya bahagia karena akhirnya bisa terbebas dari Bu Nasti. Dalam sebuah kamar, mereka menemukan sebuah pintu menuju bilik rahasia yang tersembunyi di balik wallpaper. Setelah berhasil membuka pintu yang terkunci, mereka menemukan sebuah bilik rahasia yang seluruh dindingnya ditutupi oleh kotak korek api beraneka warna. Mereka juga menemukan semacam miniatur bangunan yang dibuat dengan batang-batang korek api. Di dalam bilik mereka menemukan sebuah buku cerita: Gadis Korek Api.

Emola merasakan ada yang tak beres dengan bilik itu, tapi tak mampu mengomunikasikannya pada anak-anak yang lain.

***

Di hari ulang tahun Sunday, para anak panti memberinya kejutan, lalu sambil menyalakan korek api seperti Gadis Korek Api di cerita, mereka menyebutkan permohonannya masing-masing. Anak-anak itu memohon agar mereka diadopsi. Sedangkan Sunday berdoa agar ia bisa menjaga anak-anak itu seterusnya. Satu persatu keinginan mereka kemudian terkabul. Anehnya setiap ada yang mau mengadopsi anak-anak itu, kejadian-kejadian aneh datang beruntun dan membuat anak-anak itu terkena beragam kecelakaan hingga jatuh tertidur dan tak bangun lagi. Para dokter yang menangani mereka heran karena anak-anak itu tidak koma melainkan hanya tidur. Tidur, tapi tak bangun-bangun.

Perlahan Sunday pun menyadari bahwa semua itu berkaitan dengan bilik rahasia yang mereka temukan di kamar. Semakin ia menyelidikinya, rahasia menakutkan di balik pintu bilik itu pun mulai terkuak. Menimbulkan rasa ngeri sekaligus kecurigaan bahwa semua kecelakaan aneh beruntun itu disebabkan oleh Emola dan kekuatan anehnya.

***

Buku ini menyisipkan pesan mendalam tentang anak-anak yatim piatu, dan isu KDRT. Ironis memang. Ketika sekelompok anak merindukan orangtua mereka yang sudah tiada, ada para orangtua lain yang entah kenapa sudah dicabut rasa cinta dari hatinya hingga sanggup melakukan hal-hal yang mengerikan pada darah dagingnya sendiri.

Ia juga menyampaikan pesan tentang anak-anak berkebutuhan khusus (indigo, sindrom asperger) yang seharusnya mendapatkan penanganan, perhatian, dan kesabaran yang khusus juga. Sayangnya tak banyak orang "normal" yang paham bagaimana cara menghadapi mereka.
Profile Image for Lunar Angel.
79 reviews12 followers
May 21, 2021
Creppy and thrilling ini yang aku rasakan ketika membaca buku ini. Setiap bukunya kak Ruwi selalu aku merasakan hal yg membuat ngeri sekaligus penasaran. Buku ini page turner sih makanya aku hanya menghabiskan 3 hari membaca buku ini.



Overall 3.3 🌟
Profile Image for Perpustakaan Dhila.
200 reviews12 followers
December 10, 2017
[Resensi Buku + Giveaway] Misteri Bilik Korek Api : Tentang Rumah dan Rahasia yang Meliputinya https://perpustakaandhila.wordpress.c...

3.5/5

Sudah lama sekali sepertinya saya tidak membaca novel dengan tema horor. Saat sekolah dulu, saya suka sekali membaca novel horor karangan R.L. Stine. Membaca Misteri Bilik Korek Api membuat pengalaman seru itu muncul kembali. Novel ini juga mengingatkan saya pada salah satu dongeng karya Andersen berjudul ‘Gadis Korek Api’. Jadi, salah satu novel dari seri Scary Fiction terbitan Grasindo ini wajib kalian cicipi ketegangannya.

Novel karangan Ruwi Meita ini menggunakan sudut pandang orang pertama dengan dua pencerita, yaitu Sunday dan Emola. Secara bergantian kedua tokoh tersebut menjadi narator. Menariknya adalah meski berasal dari daerah yang sama—Ambon—terlihat kekhasan masing-masing dari narasinya. Misalnya, Emola yang menggunakan kata ‘Beta’ sebagai penunjukan kata diri. Sedangkan Sunday, yang meski berasal dari Ambon, tetapi menggunakan kata ‘aku’.

Penulis cukup lihai menggambungkan unsur dongeng yang cukup terkenal dengan misteri yang terdapat di dalam sebuah bangunan. Unsur tegangnya dapat, unsur misterinya, unsur pensarannya juga. Semua diceritakan dari sudut pandang Emola dan Sunday. Emola yang unik, yang ‘melihat’ sebuah benda dan tempat sebagai warna. Atau memandang semua orang sebagai hewan dan tumbuhan. Sunday yang baik hati, tetapi kadang terlalu baik. Keibuan dan sangat disayangi adik-adiknya yang jahil.

Baca ulasan lengkap dan ikuti Giveaway buku ini di blog saya, ya!
Profile Image for Lala.
128 reviews46 followers
September 3, 2018
Kak Ruwi Meita adalah salah satu penulis yang aku favoritkan! Sayangnya aku baru sempat baca buku ini meski udah punya cukup lama. Aku harus bilang aku suka banget buku ini. Ceritanya tentang Sunday yang tinggal di panti asuhan dan harus membantu mengurus adik-adiknya di panti asuhan, termasuk Emola, anak perempuan misterius yang tidak pernah mau berinteraksi. Ketika panti asuhan mereka pindah, mereka menemukan sebuah bilik tersembunyi yang berisi banyak korek api. Tetapi sejak saat itu, hal-hal aneh mulai terjadi, dan mereka menuduh Emola sebagai penyebabnya.
.
Panti asuhan itu menurutku sangat cocok dijadikan latar cerita horor. Lihat saja Annabelle 2: Creation. Jadi aku sangat antusias ketika aku tahu latarnya. Ditambah lagi ada salah satu ibu panti yang jahat, mereka tambah sukar meminta bantuan jika ada apa-apa. Aku suka bagaimana Kak Ruwi membangun perlahan-lahan rasa penasaran pembaca, memberikan sedikit demi sedikit potongan misteri-misteri sampai nantinya akan terungkap semua. Ke-horor-annya juga nggak lebay, nggak ada dialog teriak-teriak pake huruf kapital dan tanda seru banyak, hanya ada narasi yang menggambarkan kejanggalan berbagai peristiwa, misalnya tiba-tiba Sunday melihat penampakan tangan di foto dirinya dan anak-anak panti. Itu diceritakan dengan sangat tenang, tapi menggigit, mampu membuat merinding. Aku juga suka bagaimana Kak Ruwi bercerita menggunakan dua sudut pandang: Sunday dan Emola. Kita bisa melihat betapa normalnya Sunday, dan "tidak normal"-nya Emola yang sering menamai orang dengan nama-nama binatang.
.
Misteri diungkapkan dengan perlahan-lahan dan jujur saja lagi-lagi aku terkecoh untuk menebak jawaban misteri ini. Ceritanya menyeramkan sekaligus mematahkan hati, Kak Ruwi men-deliver semua itu kepada pembaca dengan sangat baik.
.
Karakter Emola sangat menarik sekali, sangat unik. Dua sudut pandang yang dipakai di novel ini membuat aku sering terkecoh, sebenarnya ada apa dalam cerita ini? Apa yang terjadi?
.
Misteri diungkapkan dengan perlahan-lahan dan jujur saja lagi-lagi aku terkecoh untuk menebak jawaban misteri ini. Ceritanya menyeramkan sekaligus mematahkan hati, Kak Ruwi men-deliver semua itu kepada pembaca dengan sangat baik. Aku suka kehangatan Sunday dan saudari-saudarinya di panti, memperlihatkan karakter Sunday yang sangat bertanggung jawab, di satu sisi ia juga bisa rapuh karena menginginkan punya orang tua untuk mengasuhnya. Sayangnya typo di buku ini cukup banyak, mengingat sebelum ini mostly aku baca buku terbitan GPU yang minim banget kesalahan ketik mungkin malah nol. Ada narasi ketika Cika berbicara dengan Cika, atau sekolah yang ditulis 'ekolah', bahkan salah arti kata, tertulis 'mengacuhkan' padahal maksudnya tidak peduli yang seharusnya 'tidak mengacuhkan' dan ini tertulis dua kali. Selebihnya aku sangat puas dengan cerita ini!
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
November 19, 2017
Sunday ditemukan oleh Bu Martha di kota Ambon saat kerusuhan melanda kota itu. Sunday dibawa ke Klaten dan dibesarkan di panti asuhan. Setelah SMA, Sunday dipercaya oleh pengelola panti asuhan untuk membantu menjaga beberapa adik-adik yang masih kecil. Ketika Bu Martha menemukan sebuah rumah di Jogja, dia memindahkan sebagian anak-anak ke Jogja. Sunday dibawa serta, karena Sunday bersekolah di Jogja. Di antara beberapa anak yang ikut serta ke Jogja, salah satunya adalah Emola.

Emola adalah anak yang unik. Dia jarang bicara dan suka menyendiri. Karena sama-sama berasal dari Ambon, ibu Martha meminta Sunday untuk lebih dekat kepada Emola. Emola sering terlihat memegang bandul kalung yang digunakannya. Anak-anak lainnya tidak begitu menyukai Emola karena tidak mau bergaul dengan mereka.

Misteri mulai terasa ketika mereka menemukan satu bilik khusus di balik wallpaper di kamar baru mereka. Bilik korek api. Bilik itu memang dipenuhi dengan kotak korek api dan juga replika yang terbuat dari korek api. Rupanya pemilik sebelumnya adalah seorang filumeni (pengoleksi korek api). Di dalam bilik itu juga terdapat buku dongeng tentang gadis korek api. Kalau Sunday dan kelima adiknya senang dengan bilik rahasia itu, berbeda dengan Emola. Emola merasakan ada bahaya di dalam bilik itu.

Diceritakan dari sudut pandang Sunday dan Emola, kisah ini saling melengkapi. Kalau Sunday menceritakan apa yang bisa dilihat di dunia nyata, Emola melihatnya dari dunia berbeda. Di mata Emola dunia ini dipenuhi binatang-binatang, sehingga terkadang dia tidak bisa membedakan mana yang nyata atau tidak. Emola yang menggunakan bahasa dan dialeh Ambon saat bercerita seperti cenayang dengan kekuatan mata batin yang hebat. Bagian kisah Emola ini yang membuat saya bergidik saat membacanya, dan ingin segera pindah ke bagiannya Sunday. Setidaknya ada Nugi yang so sweet yang membuat bagian Sunday lebih berwarna. Apalagi saya membacanya di malam hari... serem rasanya. Mau berhenti kok nggak bisa juga.

Selain filumenis, saya tertarik dengan arsitektur rumah jengki yang digambarkan di dalam novel ini. Saat mencari gambar yang mana sih yang dimaksud rumah jengki, saya teringat kalau di sekitaran Stadion Mandala Krida Jogja, memang ada beberapa rumah tua Belanda. Padahal menurut penjelasan Nugi, rumah jengki ini adalah bentuk perlawanan terhadap kolonial Belanda lewat arsitektur. Keren deh...risetnya sampai ke situ.

Profile Image for Ratna Sari.
308 reviews12 followers
November 14, 2017

🔥
"Pada akhirnya kamu akan sama seperti aku. Kamu akan terjebak di sini." (hlm. 190)
🔥
Sejujurnya, aku sudah menyelesaikan novel ini tdk lama setelah ku update dailly reviewku kmrn. Penasaran banget sih 😅 Akhirnya, muncul juga sih "penghuni" bilik korek apinya. Yang nyeremin tuh paz adegan sumur. Ada rambut di dalam sumur 😨
🔥
Ini pertama kali aku membaca karya kak Ruwi, memang sih aku sdh denger "kerennya" karyanya sebelumnya yg berjudul "Misteri Patung Garam", tapi sampai skrg blm baca novel itu 😢Jadi, saat novel ini ada di scoop, kubahagia sekali 😚
🔥
Btw aku nggak tau target audience utama "scary fiction" siapa, tapi menurutku novel ini cukup ringan dibaca oleh anak remaja. Misterinya nggak terlalu sulit, mudah diikuti kok.
🔥
Tokoh yang paling aku suka adalah Emola. Tokoh ini bikin aku penasaran banget sanking misteriusnya. Ditambah lagi, ada trauma masa lalu yang membuatnya "aneh" dan sering disebut dengan "anak setan". Pokoknya setiap pergantian POV dari sudut pandang Emola, aku selalu dibuat merinding (disko) 😨😨 Tapi, yg bikin keren Emola ini adalah dia selalu mendeskripsikan orang-orang disekitarnya dengan seekor binatang sesuai karakternya masing-masing. Misal. Ibu Nasti, salah satu ibu panti yang bermulut jahat digambarkan sebagai Burung Bangkai, atau tikus kecil untuk anak-anak panti yang menjadi teman sekamarnya. Aku jadi penasaran siapa yg menjadi inspirasi tokoh Emola ini 😆
🔥
Aku suka keseluruhan ceritanya. Aku sangat menikmatinya. Walau agak takut, tapi dibuat selalu penasaran. Cuma satu yang aku sayangkan, belum terjawabnya alasan kenapa Sunday diberi nama "Busu". Lalu aku sdh membayangkan nantinya akan ada kejutan diantara Sunday & Emola, karna kesamaan daerah asal (Ambon). Tapi ternyata aku hrs gigit jari 😆😆 hehe..
🔥
Nb. Typo di hlm. 78, kata "saya" di kalimat "tokek-tokek mengikuti setiap gerakan saya". Seharusnya "Beta" (semoga di buku cetaknya gak typo)
Profile Image for Amaya.
757 reviews58 followers
June 12, 2025
Buku pertama karya Mbak Ruwi Meita yang kubaca, dan kesan pertamaku, Impressive!

Sunday sebagai anak yatim piatu sejak kecil ditinggalkan di pinggir jalan dan harus menjalani masa-masa pertumbuhan di dalam panti yang jelas serba kekurangan. Poin ini menekankan pelajaran bersyukur akan apa yang kita miliki.

Kisah misteri, thriller, ditambah bumbu horor dan sedikit supranatural membuat buku ini langsung menyita seluruh perhatianku. Walaupun kesan horornya bakal kerasa kalau dibaca di tempat sepi atau tertutup. Well, selama kurang lebih enam jam aku berhasil menyelesaikannya, karena memang kisahnya bikin penasaran terus!

Sama seperti The Life We Bury, bumbu romansa ala anak remaja membuat kisahnya bertambah kompleks serta apik. Bintang lima untuk buku ini dan Mbak Ruwi. Ketemu lagi di review buku Mbak Ruwi Meita yang lain!
Profile Image for Dewi.
1,033 reviews
November 17, 2017
Kekuatan buku ini menurut saya ada pada dua narator. Bagaimana dunia dipandang dari dua sisi yang berbeda, satu dari sudut pandang Sunday dan satu sisi dari Emola. Sunday dan Emola memiliki kesamaan : mereka tinggal sekamar di panti asuhan yang sama. Sunday, si remaja, punya dunia yang sibuk dan ceria. Hidupnya tak mudah memang, namun dia menemukan kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Sesuatu yang mungkin tidak banyak disadari remaja pada umumnya. Emola, beranjak remaja, mempunyai dunia yang dia lihat berbeda. Warna bisa menimbulkan rasa, juga ada mahluk-mahluk yang tak bisa terlihat oleh yang lain. Emola memiliki stigma menjadi “berbeda”.
Dan suatu hari mereka pindah ke rumah tua ....

(Baca sendiri deh)
Profile Image for Putri Natalia.
120 reviews10 followers
November 17, 2017
Aku sempat ketakutan baca buku ini... Teror yang terjadi sama anak-anak panti bikin miris. Tapi yang paling sedih itu klo melihat Emola yang indigo dan mempunyai trauma, tiap kali baca POV Emola aku merasa ngeri sendiri karena apa yang dilihat bukan hanya binatang biasa tapi binatang itu bisa memangsa binatang lain. Selipan teenlitnyapun terasa dari kisah Sunday dan Nugi yang terjebak friendzone. Satu lagi yang aku dapat dari buku ini adalah tambahan ilmu pengetahuan tentang bahan dasar korek api dan arsitekur bangunan Jengki. Ada beberapa typo tapi tidak mengurangi keseruan dan horrornya buku ini
6 reviews
November 15, 2017
Keren bgt. Sejujurny ini lebih baik dr novel” sebelumnya bahkan lebih baik dr misteri patung garam. Cara menceritakanny bikin saya bisa mendiskripsikan kondisi juga tempatny. Benar” bikin terhanyut. Love it to the max
Profile Image for tïmmyrèvuo.
204 reviews2 followers
April 21, 2025
This book didn’t feel like a rollercoaster ride to me—no, it was more like driving along a high mountain road. Narrow, winding, with cliffs that drop straight down. Tense. Uneasy. And from the very first page, I could feel the chill in my spine.

Meet Sunday—a high school girl who’s lived in an orphanage her whole life. And then there’s Emola—a quiet little girl who avoids people, rarely speaks, but somehow becomes the anchor that pulls Sunday back to her roots. Both of them are from Manado. That shared past? It matters.

The story revolves around the two of them. It begins when the children are moved to a bigger house. At first, nothing seems out of the ordinary. But Emola knows something is wrong—because Emola is an indigo. And when they discover a small room hidden inside their massive bedroom, lined with mosaics made from matches... the haunting begins. Slowly. Quietly. And terrifyingly.

Even though the story didn’t deliver a traditional climax for me—no steep emotional drops or gut-punching twists—I couldn’t shake the tension. It stayed with me, clinging like fog even a day after finishing the book. And honestly? I kept swearing out loud because of how intense it all felt.

What I admire most is how Ruwi Meita crafts an atmosphere so thick with dread—without relying on cheap jumpscares. She builds tension through unease, through the supernatural that creeps in quietly, and through the psychological layers that disturb you deeply. It’s unsettling. It’s smart. It’s sexy, in a dark and twisted kind of way.

And strangely enough, even though the story is slow-paced, it’s not something you can just put down. This is actually my second time reading it. The first time? I was breathless—but also bored. This time? I saw more. Felt more.

I believe a great writer pays attention to detail. Like Sunday’s birthday gift—it seemed small at first, but became crucial later on. I also loved the shift in point of view between Sunday and Emola. It didn’t confuse me; it made the story fuller. Sunday and Emola are so different, yet they complete each other. What one can’t see, the other does. What one can’t feel, the other feels. Through them, I was reminded of how much our past shapes us, and how deeply we’re connected to those around us—even when it’s painful.

But... if I’m honest, this isn’t my favorite work from Ruwi Meita. There are pieces left uncovered. Sunday’s past was hinted at, but not explored deeply enough. And the plot twist? I lowkey hoped Sunday would turn evil—ha! But yeah... didn’t happen. As for the other twist (if we can even call it that), I kind of saw it coming. I also wish the black magic part—the climax—had hit harder, left more of a mark.

Still, I can’t deny this: I enjoyed the ride. The tension. The breath I kept holding without realizing. And for that alone, this book deserves to be read.
Profile Image for Nadia.
25 reviews
September 12, 2025
Sunday - yang sejak kecil tinggal di panti asuhan, mendapati fakta bahwa nama aslinya adalah Busu (busuk dalam bahasa Ambon) di hari kepindahannya ke Yogyakarta. Ia sejak kecil tinggal di panti asuhan tanpa ada orang tua yang mengadopsinya dan dihantui masa depan yang akan dihabiskan hanya untuk mengurus panti. Fakta itu membuatnya semakin kecil hati, karena seakan nama yang baik adalah doa, maka nama yang buruk adalah kutukan. Kepercayaan bahwa ia adalah anak sial semakin tervalidasi ketika kejadian-kejadian aneh mulai menimpa teman-teman sekamarnya, sejak mereka menemukan bilik berisi kotak-kotak korek api di kamar mereka. Keadaan semakin kacau karena Emola - anak 'aneh' dari Ambon yang suka bicara sendiri mulai meracau hal-hal aneh tentang bilik korek api tersebut.

"Sunday, saat permintaanmu tidak dikabulkan Tuhan, bukan berarti dia tidak mendengarmu. Aku yakin ada hal yang lebih baik yang sedang dipersiapkan-Nya untukmu. Sesuatu yang lebih indah daripada yang kamu inginkan."
- Bu Marta kepada Sunday, p. 140

"Aku takut, Nug."
"Semua orang memiliki ketakutan."
"Kamu tidak tahu apa yang kutakutkan. Akhir-akhir ini banyak kejadian yang membuatku sadar akan ketakutanku. Dona memperjelas semua yang selama ini kuingkari."
"Katakan saja ketakutanmu pada orang lain. Bagilah. Seharusnya itu guna seorang teman (Nug, kita semua tahu kamu naksir Sunday). Berbagi."
"Bagaimana kamu bisa paham jika kamu memiliki semuanya. Kamu bukan aku."
"Memang aku bukan kamu. Justru itulah aku mungkin bisa membantumu."
- Nugi kepada Sunday

Opiniku tentang buku ini, bagus - tapi yaudah bagus aja. Bintang 4 karena menurutku masih masterpiece Rumah Lebah. Seperti biasa, menurutku tulisan Kak Ruwi sangat bisa bikin deg-degan dan merinding padahal bukan lagi deskripsiin hantu (tapi aku jadi takut ke kamar mandi). Sangat slow pace awalnya...jadi aku bosan...banget...tapi tengah ke akhir mulai nemu serunya. Agak bingung pas bagian Emola karena narasi PoV dia banyak pakai bahasa Ambon dan perumpamaan hewan-hewan gitu deh, cuman oke sih mungkin untuk bedain PoV dia sama Sunday. Karakternya juga emang weird or stuffs gitu deh. Terus ini sebenarnya lebih kayak novel rohani Kristen, karena latarnya panti asuhan Kristen gitu.

Jujur, aku mengharapkan reveal background si Sunday kenapa orangtuanya kasih dia nama Busu which artinya super jelek (kek tega banget lu??!!) mana mati lagi (bagus, deh, Sunday nggak perlu ketemu ortu biadab kayak lu berdua). Intinya seru, tapi plot-twist ketebak.

Profile Image for Devinachky.
4 reviews2 followers
August 20, 2020
Judul : Misteri Bilik Korek Api
Penulis : Ruwi Meita
Penerbit : Grasindo
Tahun Terbit : 2017
Jumlah Halaman : 238
.
.

"Saat permintaanmu tidak dikabulkan Tuhan, bukan berarti Dia tidak mendengarmu. Aku yakin ada hal yang lebih baik yang sedang dipersiapkan-Nya untukmu. Sesuatu yang bahkan lebih indah daripada yang kamu inginkan." (Hal. 140)
.
.

Novel Misteri Bilik Korek Api ini mengangkat tema psikologis thriller. Menegangkan, menarik dan bikin penasaran. Itulah yang menggambarkan keseluruhan kisah ini. Semua diceritakan dari sudut pandang Emola dan Sunday. Pemilihan sudut pandang kedua tokoh ini membuat kita bisa membaca bagaimana cara pandang masing-masing tokoh. Secara bergantian kedua tokoh tersebut menjadi narator. Menariknya adalah meski berasal dari daerah yang sama terlihat kekhasan masing-masing dari narasinya.
.

Bicara mengenai tokoh, Sunday ini digambarkan sebagai sosok kakak yang baik bagi anak-anak di Panti Asuhan Santa Maria. Dia sosok gadis yang penuh kasih sayang dan suka menolong. Rasa ingin tahunya juga sangat besar. Namun Sunday lebih suka memendam masalahnya sendiri daripada berbagi keluh kesah dengan orang lain.
.

Sedangkan Emola, dia gadis yang misterius. Mungkin orang lain akan menganggapnya aneh dan memiliki kelainan mental jika dilihat dari fisiknya. Padahal Emola itu anak yang spesial karena memiliki kemampuan untuk melihat makhluk yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa. Salah satu hal menarik dari Emola adalah bagaimana dia memanggil teman-temannya menggunakan nama binatang. Karena menurut Emola dunia ini dipenuhi oleh binatang-binatang sehingga ia kesulitan membedakan dunia nyata dan dunia buatannya sendiri. Dan dari sisi Emola pula kengerian dan sisi horor terasa sangat kental.
.

Menurutku porsi misterinya sih cukup seram. Mungkin karena sebagai pembaca kita disuguhi banyak rahasia dalam kisahnya, diperkuat oleh unsur mistis dari sudut pandang Emola. Tapi itu juga yang membuat pembaca makin penasaran sebenarnya mau dibawa ke mana ending cerita nanti. Namun ada beberapa bagian yang kurang diekslpore, terlepas dari itu aku selalu suka karya-karya kak Ruwi Meita yang menarik dan bikin penasaran. Novel ini, sukses bikin merinding dari awal hingga akhir. 
Profile Image for Wardah.
954 reviews172 followers
January 13, 2025
Novel horor bikin takut ❎️
Novel horor bikin mewek✅️

Seriusan deh ini bukannya bikin aku takut, malah sedih 😭

Sesuai blurb, Misteri Bilik Korek Api bercerita tentang bilik rahasia di bangunan panti baru. Sunday dan adik-adiknya mulai mengalami hal aneh sejak menemukan bilik rahasia itu. Apakah karena bilik rahasia? Atau justru karena Emola, anak panti baru, yang aneh dan mencurigakan?

🔥YANG AKU SUKA:

• Setting bukunya ditulis dengan sangat ciamik. Memadukan unsur horor, budaya, dan sejarah. Dan udah pasti dijalin dengan sangat rapi 👌 Bacanya tuh jadi bisa cepat banget!

• Dua POV yang sangat beda! Kerasa banget bedanya cerita dari sudut Sunday sama Emola. Pada awalnya, aku agak bingung sama POV Emola tuh. Habis ditulis dengan gaya Ambon kental banget. Tapi terus lama-lama mulai terbiasa dan bacanya tuh ajaib banget! Karena Emola juga melihat dunia dengan hal yang berbeda. Cek slide 4 & 5 buat lihat perbandingannya!

• Meski horor (ada penampakan, kerasukan, sampai dendam kesumat), ceritanya sendiri lebih fokus ke hal-hal lain. Kayak trauma dua tokoh utama yang jadi 'suara' utama buku ini, hubungan dengan penghuni panti lain, problem remaja, hingga ketakutan karakter-karakter yang ada 🥹 Pengen banget peluk Sunday dan Emola 🥹🥹🥹 Coba cek slide 6-9 yang aku share buat buktinya 🥹

• Nggak ada hal sangat ekstrem terjadi. Awalnya tuh udah khawatir ya karena tokohnya banyak anak kecil dan genre ada horor. Tapi syukurlah bukunya sendiri gak semenakutkan dan sengeri itu. 🥹 Bisa dibilang kayak soft horor gitu semacam seri Lockwood 🤔

Kurangnya itu justru banyak dari sudut Emola yang bikin aku bertanya-tanya. Karena Emola melihat dunia beda kan, aku jadi penasaran apakah ada lambang-lambang tertentu? Apakah bakal terjawab? Tapi sampai akhir nggak ada sih meski di akhir tulisan "the end" ada tanda tanya. Apakah ada kelanjutannya? 👀

Overall, Misteri Bilik Korek Api ini tuh beneran horor yang gak serem dan malah heartwarming. Dengan karakter remaja, horornya soft dan membawa masalah khas remaja juga. Bukunya pun tergolong tipis, jadi bisa diselesaikan dalam sekali duduk.
Profile Image for Meta Morfillah.
677 reviews23 followers
August 20, 2025
Judul: Misteri bilik korek api
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: Grasindo
Dimensi: 238 hal, cetakan pertama Oktober 2017, edisi digital ipusnas
ISBN: 9786024523503

Sunday tinggal di panti asuhan seumur hidupnya. Meski harus menahan sakit hati akibat perkataan pedas Bu Nasti, ia mampu bertahan sejauh ini. Ia menyayangi Berli, Cika, Linda, dan Kiki. Juga berusaha menjaga Emola, yang baru pindah dan memiliki trauma hingga sulit beradaptasi. Namun, sejak panti dipindahkan ke rumah baru yang memiliki sebuah bilik berisi korek api, ada banyak kejadian aneh. Satu per satu kecelakaan menimpa anak-anak yang masuk ke bilik itu. Emola pun tampak semakin aneh dan sering meracau sambil memegang kalungnya. Bersama Nugi, sahabat lelakinya, Sunday mencoba memecahkan misteri agar semua anak selamat.

Dengan 2 PoV dari Sunday dan Emola, potongan kisah terjalin apik. Meski agak sulit di awal untuk memahami maksud Emola, namun perlahan saya bisa mengerti perumpamaan yang ia sebutkan. Memang buku ini ditujukan untuk remaja, tapi sebagai pembaca dewasa saya tetap merasa scary. Ibaratnya seperti dongeng gadis korek api dibuat versi horor. Namun ada beberapa yang masih kurang bagi saya. Seperti logika kebakaran di rumah Sonya dan karakter ayah ibunya Sonya. Mengapa mereka aneh begitu? Padahal awalnya normal.

Ya, bisa jadi sebab ini bukan genre favorit saya, sehingga setelah selesai pun saya masih dihantui kejanggalan yang tak biasa. Isu asperger dan indigo yang dibawa cukup menarik, namun saya kurang paham ritual kristennya serta suanggi di Ambon.

Cocok untuk yang remaja yang suka horor dan thriller.

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta Morfillah

#1hari1tulisan #bookstagram #oneweekonebook #resensibuku #reviewbuku #bacabuku #misteribilikkorekapi #ruwimeita #metamorfillah #fiksi
Profile Image for Libel.
15 reviews
November 26, 2024
Cukup seru dan page turner, tapi:

1. Di part² krusial kayak pengupasan misteri dan resolusi segalanya begitu mudah.

2. Penceritaan terlalu telling yang buat aku sebagai pembaca merasa semuanya selesai dengan begitu mudahnya.

3. Trus sebagai cerita misteri novel ini kurang bisa menjahit benang merahnya, jadi segala macam kemiripan kejadian antara Emola dengan *sensor* itu nggak terasa korelasinya (yg mana di akhir pun ternyata memang nggak ada korelasi yg berarti ya antara si A dengan si B dan B dengan C/X/Y/Z).

4. Berkali-kali aku mempertanyakan fungsi Emola sebagai salah satu MC di sini untuk apa, karena kurang ada penegasan karakter.

5. Interaksi antara Sunday dengan Emola yg harusnya solid saling bergaung karena mereka bagaikan dua sisi koin malah terasa kayak komunikasi satu arah, karena selain secara interaksi verbal/lisan mereka tidak banyak juga karena pov kedua MC di sini kurang kemistri ke satu sama lain. Jadi aku nggak merasa mereka ini adalah dua tokoh utama yang saling terikat dan terhubung. Peralihan pov antara keduanya kurang terasa.

5. Terus lagi, banyak tokoh nggak penting yg padahal dari awal dikenalkan cukup solid seolah mereka akan jadi tokoh kunci atau minimal tokoh penggerak cerita.

Overall ceritanya cukup asik, cuma kurang diadon aja kayaknya.

P.s: aku nggak ngira bakal ada bumbu romance teenlitnya di sini, dan ternyata part romansa tipis-tapi-gemes-nya MANISSSSSSSS bangettttt! Terasa tapi nggak berlebihan, porsinya passss. Gemesnya nggak bikin mual. Nugi gentle banget, dan Sunday lucu bangetttt! Gemessss 😩❤ Sempet salfok lupa ini bukan novel genre romance teenlit wkwkwk, jadi penasaran kalo Ruwita Mei nulis cerita dengan genre romance gimana.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Ning.
67 reviews1 follower
September 14, 2019
"Menangis tidak selalu karena tidak berdaya, Sun? Kadang menangis justru akan membantumu menyadari arti kekuatan," - Nugi hal. 154

Baca novelnya @ruwimeita itu nggak pernah gagal bikin ngeTHRILL! Berawal dari novel Misteri Patung Garam. Aku memang udah jatuh cinta sama penulisnya. Dan pas liat di @ipusnas.id ada ebook ini. Dengan kegirangan langsung pinjem.

Dikisahkan dari dua sudut pandang, bukan oleh Ayu & Widya yah, itu kalau di KKN Desa Penari yang lagi viral 😂 tapi oleh Sunday & Emola. Sesama orang Ambon. Jika Emola mengenal baik tanah kelahirannya, berbeda dengan Sunday yang tak pernah ingat menginjakkan kaki di tanah Ambon.

Emola, awalnya aku bingung tiap baca dari sudut pandang dia. Karena Emola menggambarkan manusia sebagai binatang. Bersikap aneh karena trauma masa lalu. Bisa mendengar warna, dan memiliki keistimewaan. Mungkin yang paham masalah psikologi bakal ngerti kondisi Emola ini disebut apa.

Tiap chapter selalu ada teka-teki yang bikin penasaran. Jadi kalau belum selesai baca bakal kepikiran terus & berpikir segala kemungkinan gimana kelanjutannya, apalagi aku baca sambil ngurus baby. Jadi nggak bisa ngebut, tiap penasaran anak nangis tunda dulu. Baca dikit, kerjaan rumah numpuk, tunda dulu. Akhirnya malemnya setelah kondisi kondusif, anak tidur, kerjaan rumah beres. Lanjut lagi bacanya sampai selesai. Hehe

Tapi yang bikin aku masih penasaran sampai sekarang, kenapa tidak diungkapkan. Kenapa di akta kelahirannya ia dinamai Busu? Padahal itu misteri pertama dari awal novel. Kirain jawabannya bakal ada di akhir. Tapi ternyata enggak ada. Hiks
Profile Image for Naza N.
359 reviews10 followers
July 13, 2018
Meskipun aku lebih suka novel semacam Misteri Patung Garam yang bukan horor, tapi seperti biasa, tulisan Mbak Ruwi nggak pernah mengecewakan. Meskipun aku baru membaca dan mengoleksi tiga bukunya (dua yang lain adalah Misteri Patung Garam dan Alias), aku benar-benar jatuh cinta sama cara menulisnya. Four thumbs up (ditambah jempol kaki) deh pokoknya!

Aku suka cara penulis membagi penceritaan dalam dua sudut pandang yang berbeda, yaitu dari Sunday dan Emola. Rasanya kayak mereka berdua itu berkomunikasi langsung dengan aku sebagai pihak penengah yang frustrasi karena nggak bisa menyatukan dua jalan pikiran mereka secara langsung. Ketika mereka sibuk dengan pemikiran sendiri-sendiri, aku cuma bisa baca sambil geram sendiri. Halah. Cuma satu yang kurang adalah masa lalu Sunday. Entah nggak ada hubungannya dengan jalan cerita atau apa sehingga nggak dibahas, tapi karena aku tipe orang yang kepo sangad, maka aku pengin tahu banget.



Emola juga asyik banget kok anaknya meskipun pendiam gitu (tapi yakin deh, kalau aku yang ketemu dia alih-alih Sunday, kami bakal diem-dieman aja). Kayaknya bakal seru kalau dia ketemu sama Kiri Lamari, Kenes, dan Ireng (maaf, nggak bisa move on dari MPG, nih! XD)

Ditunggu karya lainnya! ^^
Displaying 1 - 30 of 71 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.