Jump to ratings and reviews
Rate this book

Jejak Cinta 20 Tahun Berlalu

Rate this book
Semua keruwetan hidupku dimulai ketika pamanku, Bernard Hadison, terbangun dengan ingatan akan Rinjani.

Dua puluh tahun lalu ia mencintai perempuan berlesung pipit dengan senyum secerah bulan purnama. Apa daya, perempuan tersebut memutuskan menikah dengan laki-laki lain. Dengan hati hancur, pamanku pergi ke Leiden untuk melupakannya. Saat mendapat kabar bahwa cinta pertamanya kembali sendiri, pamanku yang tidak pernah menikah itu pun pulang ke Indonesia demi mempersunting cinta pertamanya. Parahnya, aku dan Keegan yang diminta Paman Ben untuk menemaninya. Awalnya aku tidak mengerti, bagaimana cinta mampu menggerakkannya untuk melakukan perjalanan melelahkan yang tidak jelas ujungnya begini. Namun, pada akhirnya aku mengerti bagaimana cinta bekerja, karena kini aku telah jatuh cinta.

Kalian akan terkesan pada sepasang mata yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Tidak bisa dinilai dengan harga berapa pun. Sepasang mata yang di dalamnya ada ribuan bintang, sehingga ketika kalian melihatnya, kalian seakan berada di tengah alam semesta.

290 pages, Paperback

First published August 1, 2017

1 person is currently reading
16 people want to read

About the author

Maya Lestari Gf.

17 books28 followers
Penulis buku:

Kutukan Pitopang (2004)
Ken (2004)
Farewell Party (2005)
Denting Dua Hati (2005)
It's My Solitaire (2005)
Kupu-kupu Fort de Kock (2013)
Attar dan Peta Beliyaka (2013)
Attar dan Panci Ajaib (2013)
Attar dan Alamat yang Hilang (2013)
Love, Interrupted (2014)
Labirin Sang Penyihir (2015)

Juga menulis cerpen dan artikel di berbagai media massa

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (18%)
4 stars
14 (63%)
3 stars
3 (13%)
2 stars
1 (4%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
Profile Image for Rossa Imaniar.
221 reviews5 followers
January 9, 2025
“Perjalan adalah seni menemukan hal-hal tak terduga.”

“Terkadang, dalam hidup kita di uji dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Ini akan menaikkan derajatmu di hadapan Sang Pencipta.”

“Ingat kunci hidup ini, jika kita sangat menginginkan sesuatu, alam akan berkonspirasi untuk membantu.”

“Jatuh cinta seperti melukis, sekali kamu menggoreskan cat ke kanvas, goresan itu takkan hilang selamanya. Kamu bisa menyamarkan goresan itu dengan goresan lain, menimpanya dengan warna lain sampai tak terlihat lagi, tapi kamu tahu goresan itu ada. Kamu tak bisa membohongi dirimu.”

Selesai dalam waktu satu hari, dan aku sukaaa. Ini ke-empat kalinya aku baca karya Uni Maya, dan ke-empatnya tidak mengecewakanku. Cerita yang disajikan Uni Maya selalu menarik.

Fyi, selama satu bulan kemarin aku terkena ‘reading slump’, jadi aku tidak menghasilkan bacaan sama sekali di bulan Desember. Nah di awal tahun ini, iseng aku pinjem karya Uni Maya di iPusnas. Eh, nggak tahunya ini novel bikin gairah bacaku kembali.. 😍

Jadi novel ini berkisah tentang keluarga besar Hadison. Yang jadi sorotan cerita yaitu Paman Ben (Bernard) dengan kisah cinta lamanya. Lalu ada si keponakannya Paman Ben, yaitu Abby (Abigail), anak dari saudara kandung Paman Ben. Dan juga ada Keegan, si Keegan ini bukan keponakan langsung Paman Ben. Karena Keegan ini anak dari sepupu Paman Ben.

Nah di sini, Abby sama Keegan diminta Paman Ben untuk menemaninya demi untuk menemukan cinta lamanya. Kenapa Paman Ben harus mencari cinta lamanya? Dan seperti apa perjalanan mereka? Apa yang diperoleh Abby dan Keegan dalam perjalanan ini? Nah, Kalian coba cari tahu sendiri kisahnya dalam novel ‘Jejak Cinta 20 Tahun Berlalu’.

Banyak banget pelajaran yang bisa diambil dari novel ini. Apalagi ketika dalam perjalan, Paman Ben sempat marah dan memberi petuah pada Abby, karena Abby salah bicara.

Selain itu, Uni Maya juga jelas sekali mendeskripsikan keindahan Pulau Sumbar, serta kulineran di sana. Rasanya ngiler pingin ke sana juga. Yang jelas novel ini keren banget, kisah romansanya nggak berlebihan, sederhana tapi berkesan manis.

4/5 🌟 untuk novel ini.
Profile Image for Sinta Nisfuanna.
1,022 reviews64 followers
October 16, 2017
Mencari seseorang yang telah menjejakkan kenangan 20 tahun yang lalu, tanpa informasi yang jelas, bukan perkara mudah. Itulah yang terus berputar di benak Abby ketika Paman Ben memilih dia dan Keegan menemani pencariannya. Paman Ben, pria eksentrik 40 tahun yang tidak dapat melepaskan bayangan Rinjani, perempuan yang dicintainya 20 tahun silam. Patah hati ternyata bisa membuat hidup seseorang terkungkung selama 20 tahun.

“… apakah kamu bisa mengganti orang yang hilang dengan yang baru? Tidak. Karena kalau kita bicara tentang orang, kita bicara tentang emosi, kenangan, dan semua hal yang rasakan terhadapnya, yang tidak kita rasakan terhadap orang lain.” ~ Paman Ben - h.167

Perjalanan yang terasa tidak masuk akal ini ternyata tidak membuat keluarga Hadison melarang kepergian Paman Ben. Keluarga besar yang SANGAT mencintai kebersamaan ini, malah mendukung 100%, demi tak ingin kehilangan kembali Paman Ben yang sempat ‘melarikan-diri’ ke tanah Leiden, Belanda selama 20 tahun. Tinggallah Abby yang harus rela menjadi “partner in crime” Paman Ben, bersama Keegan.

Nah, salah satu yang membuatku jatuh cinta dalam buku ini adalah Keluarga Hadison yang terasa kehangatannya setiap kali anggota keluarga berinteraksi. Terutama saat para sepupu beraksi, kekocakan pasti hadir dalam alur cerita. Penulis menggambarkan, bahwa tidak selalu tinggal bersama orangtua itu menyedihkan tapi bisa jadi kekuatan, apalagi didukung dengan kekompakan dan keahlian masing-masing. Rasanya seperti mempunyai ‘negeri’ sendiri. Sebuah latar lakon yang sangat mendukung cerita.

Perjalanan dimulai dari Mandeh, tempat sahabat Paman Ben yang diperkirakan mengetahui sedikit info tentang Bu Rinjani. Sayangnya, lagi-lagi info yang didapatkan Paman Ben tidak sesuai keinginan dan membuat Abby-Keegan harus ‘tepok-jidat’ berkali-kali. Di sisi lain, interaksi Abby-Keegan, yang berseberangan dalam menyikapi perjalanan Paman Ben ini menambah konflik dalam alur.

“Sesuatu yang mematahkan hatinya puluhan tahun lalu. Bu Rinjani yang sudah membuatnya down dua puluh tahun lalu, boleh jadi akan melakukan yang sama kali ini.” ~ Abby – h. 118

“Dia tahu, Abby, tapi dia memilih menjalani ini supaya dia tahu kebenarannya. Dia mencari kebenaran. Mengerti?!” ~ Keegan – h. 121

Sepanjang perjalanan tidak melulu berisikan kesedihan seorang pria yang menyimpan kenangan, tapi interaksi yang tak ayal membuat tersenyum, meski diliputi kejengkelan. Ceplosan-ceplosan seperti senyum selebar nampan atau pengartian ekspresi yang menyiratkan banyak makna, menjadi kekocakan yang mewarnai sebagian besar alur. Selain itu, wisata alam dan kuliner yang diperkenalkan penulis digambarkan dengan menggiurkan, serasa mengikuti acara Pak Bondan ‘Maknyus’.

Satu lagi, yang menarik adalah gambaran karakter remaja, yang menginjak dewasa, dalam novel Jejak Cinta layak diacungi jempol. Beberapa karakternya menunjukkan meski usia tergolong muda, mereka telah memiliki impian dan tujuan hidup, walau tetap saja sikap jail dan suka menggoda mewarnai interaksi mereka. Bakalan menarik jika Novel Jejak Cinta diangkat ke dalam film sembari mengenalkan kuliner dan wisata alam Provinsi Sumatera Barat.
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
November 22, 2017
"Perjalanan adalah seni menemukan hal-hal tak terduga."
.
Bagaimana kamu setuju dengan quote ini?

Kalau aku ya, seperti kisah Paman Ben, Abby dan Keegan yang memutuskan melakukan perjalanan ke Tanah Minang menyusuri jejak cinta Paman Ben, mencari cinta pertamanya, Bu Rinjani.

Perjalanan yang sungguh luar biasa, karena banyak momen terjadi dan itu membuka hati dan pikiran Paman Ben, Abby dan Keegan, termasuk aku. Sejak awal aku dibuat penasaran dengan sosok Bu Rinjani, karena aku mengetahui sosoknya dari kenangan yang dibagi Paman Ben dan informasi yang didapatkan mereka selama perjalanan.

Waktu 20 tahun yang berlalu tidak membuat Paman Ben pesimis. Dia memutuskan untuk memperjuangkan dan mencari tahu sendiri kebenarannya. Rasanya mustahil? Tentu saja tidak, setidaknya Paman Ben sudah berusaha dan tidak menyesal bukan?

Gaya bahasa yang ringan dan sederhana, diceritakan dari sudut pandang Abby, keponakan Paman Ben yang masih remaja, aku begitu menikmatinya. Perjalanan yang awalnya begitu menjengkelkan dan terpaksa, berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan dan tak terduga.

Aku suka sekali dengan detail setting Sumatera Barat yang ditulis. Indah sekali. Kak Maya mengangkat unsur budaya dan kearifan lokal yang begitu memukau. Aku bisa mengenal Sumatera Barat lebih dalam. Aku jadi tahu banyak tempat menarik selain Padang, mulai dari Mandeh, Batu Sangkar, Bukit Tinggi hingga Payakumbuh. Belum lagi aku dimanjakan dengan kuliner yang aduh bayanginnya saja sudah bikin aku ngiler setengah mati.

Menuju ending, aku semakin deg-degan bagaimana akhir perjalanan ini. Apakah mereka berhasil menemukan Bu Rinjani? Walaupun endingnya terasa terlalu sederhana, untungnya kisahnya ditutup dengan sesuatu yang ah romantis sekali.

Aku sangat berharap sekali Kak Maya mau menuliskan kisah Abby dan Keegan tersendiri karena rasanya masih ingin bertemu dengan keduanya.

Kamu mencari sebuah kisah romansa sederhana tentang perjuangan cinta dan mengangkat unsur budaya Indonesia yang kental, aku rekomendasikan novel ini untuk kamu baca.
Profile Image for Melani Ivi.
55 reviews5 followers
October 21, 2017
“... jangan terlalu mengandalkan teknologi untuk hidupmu. Sekali teknologi berhenti, hidupmu pun bisa berhenti. Senuah peta... adalah nyawa perjalanan.” (hal. 112-113)
“Jatuh cinta itu seperti melukis, Abby. Sekali kamu menggoreskan cat ke kanvas, goresan itu takkan hilang selamanya. Kamu bisa menyamarkan goresan itu dengan goresan lain, menimpanya dengan warna lain sampai tak terlihat lagi, tapi kamu tahu goresan itu ada.” (hal. 166-167)
“Masing-masing orang itu unik. Kamu bisa mengganti gantungan kuncimu yang hilang dengan yang baru, tapi apakah kamu bisa mengganti orang yang hilang dengan yang baru? Tidak.” (hal. 167)
“Orang Minang itu sabar-sabar kalau masak, sebab rasa dan aroma itu penting.” (hal. 177)
“Keberhasilan tidak ada hubungannya dengan seberapa banyak isi rekeningmu. Keberhasilan ditentukan dari seberapa banyak kamu bahagia.” (hal. 220)
“Seharusnya manusia yang diistimewakan, benda yang dimanfaatkan. Manusia jadi gila oleh sesuatu yang seharusnya melayani hidup mereka.” (hal. 221)
“Tak ada bedanya kamu pakai baju seharga sepuluh juta dengan seratus ribu. Toh kamu tetap manusia. Sifatmu juga akan tetap sama.” (hal. 222)
“Kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita mau. Itu betul, dan inilah yang membuat orang berpikir Tuhan tidak adil.” (hal. 223)
“Kamu kaya lalu memberi, itu tidak istimewa. Tapi kamu miskin, lalu kamu memberi, itu baru luar biasa.” (hal. 224)
“Bekerja keras adalah tradisi keluarga kita.” (hal. 261)

Dikisahkan menggunakan sudut pandang orang pertama, Abby, dan alur maju, Kak Maya Lestari GF menurut saya mengambil pilihan yang tepat. Awalnya saya berpikir kisah ini akan dikemas dengan gaya yang agak berat, karena dari blurb saya menangkap topik filosofi hidup dan nilai kearifan lokal. Ternyata perkiraan saya meleset. Karena menggunakan sudut pandang Abby yang notabene gadis sembilan belas tahun yang ceria, ceplas-ceplos, dan cerdas, kisah ini penuh humor segar dan aura kehangatan sebuah keluarga besar, keluarga besar Hadison. Karakter para sepupu, paman, dan bibi Abby pun tak kalah lucu dan mengundang tawa. Dari sini saja pesan tentang adat ketimuran yang masih kental akan nilai kekeluargaan terasa sekali. Keluarga besar Hadison juga digambarkan sebagai orang-orang pribumi yang sukses di bidang masing-masing, terutama dalam berwira usaha. Perasaan Abby tentang pesona alam dan budaya tanah Minangkabau selama perjalanan pun membuat pembaca ‘awam’ seperti saya merawa terwakilkan.

Sedangkan karakter Keegan, sebagai pemuda dua puluh tiga tahun yang secara fisik dan gaya penampilan bisa dibilang menawan (digambarkan sedikit menyerupai aktor Hollywood Tom Hiddleston—yang mana membuat saya senyum-senyum senang), berpikiran dewasa dan sukses berbisnis di usianya yang masih muda. Keegan merintis usaha tour and travel dari nol, sebagai buah kecintaannya terhadap traveling dan kegiatan di alam bebas. Visi dan misi usahanya pun jelas. Sosok Keegan bisa menjadi inspirasi bagi banyak pembaca muda.

Paman Ben yang merupakan pelukis sukses di Eropa, nyentrik, cuek, namun diam-diam doyan menyantap kuliner Minang. Dari obrolan seputar masakan Minang ini pula terselip filosofi kesabaran. Meskipun terkesan ceria dan cuek, sesungguhnya Paman Ben menyimpan kesedihan dan kesepian. Momen di mana dia mengungkapkan segala uneg-uneg hatinya kepada Abby merupakan salah satu adegan emosional favorit saya. Saya pun merasa tertohok dan saya yakin banyak pembaca yang juga akan merasa tersindir dengan sederetan pernyataan Paman Ben.

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai karya Kak Maya Lestari yang satu ini. Alurnya relatif cepat, dialog-dialognya bernas, plot dan ending logis dan memuaskan. Terdapat ilustrasi menarik juga di dalam buku, menggambarkan beberapa adegan dalam cerita. Kisah cintanya pun manis dan tidak berlebihan, serta menarget pembaca muda hingga dewasa. Karena ini merupakan perkenalan saya dengan karya Kak Maya, maka bisa dibilang ini merupakan perkenalan yang mengesankan dan memantik rasa ingin tahu akan karyanya yang lain. Bagi kalian yang menyukai kisah romansa yang kental nilai budaya lokal dan religi, saya sangat merekomendasikan novel ‘Jejak Cinta” ini. Kisah yang bikin baper dan laper :)

“Perjalanan adalah seni menemukan hal-hal yang tak terduga.” (hal. 290)


Displaying 1 - 5 of 5 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.