Tsujimura is an award-winning novelist, she is best known for her mystery and children novels. She studied at Chiba University and won the Naoki Prize in 2012 for Kagi no nai Yume wo Miru (I Saw a Dream Without a Key), and in 2018 she won the Japan Booksellers' Award for her novel Kagami no Kojo (Lonely Castle in the Mirror).
Due to the slow pace and how the first volume was written, I did not expect this to take an eerie turn so fast.
If the previous book mostly dealt with Mizuki’s issue, in this one we get to see more from the other characters. Mainly Mitsuru, Shimizu, and Akihiko. It really highlights how complicated life is to a teenager, and a life that may seem perfect can hide pretty dark issues beneath the surface. The portrayal of complex emotions such as guilt, inadequacy, or emptiness is done so nicely as the writing really goes deep into each character’s psyche, so I enjoyed this a lot even if the pace continues to be slow.
Strange, creepy things are starting to happen in this book. Some of the characters are beginning to remember who committed suicide on the day of the culture festival, but it’s a mystery that remains unresolved for now. If anything, it actually brings more questions than answers. I’m so glad I waited for all the volumes to come out before picking this up, so now I can just continue to the next one.
🇮🇩 For the Indonesian version: Kualitas secara keseluruhan sedikit lebih baik, tapi terjemahan masih kurang rapi. Kenapa 割り箸 diterjemahkan jadi “waribashi chopstick” padahal kita punya istilah “sumpit sekali pakai”? Terus, “mematahkan” sama “membelah” itu beda arti lho. Di Indonesia sumpit juga umum dipakai kok, jadi pembaca juga pasti mengerti.
Bagian 2 adalah bagian yang harus di jalani dengan kesabaran wkwkwk karena zuzur agak ngantuk tapi kalo gak di baca nanti aku gak dapat feelnya soalnya POV para tokoh ini juga penting dalam membngun ceritanya. Dan masing2 tokoh kompleks banget, jadi dibikin mikir keras kira2 siapa tuan rumahnya nih. Pas baca POV 1 mikir pasti ini, ganti POV ganti lagi wkwkkw Di sini udah gak mencekam lagi, udah Gore !! Agak wadidaw tapi aku menikmatinya
Ketegangan masih berlanjut di buku kedua seri a School Frozen in Time. Setelah telepon misterius yang membuat Mizuki kena mental, suasana di SMA Seinan Gakuin semakin tegang. Takano, Sugarawa, Akihiko, Mitsuru, Keiko, Rika, dan Shimizu mulai menduga temannya yang bunuh diri adalah Mizuki.
Oke, semakin seru dan gelap buku kedua ini. Topik yang diangkat akan triggering untuk beberapa orang. Di buku kedua satu persatu orang dari kelompok yang terjebak dalam zona waktu mulai menghilang. Satu hal yang aku tangkap adalah kita semua tidak bisa menduga apa saja yang disembunyikan oleh teman yang kita anggap dekat.
Ketika Mitsuru merasa Sasuke berpaling dari dirinya, Sasuke segera kembali kepadanya, Itulah kepribadian egois yang khas dari seekor kucing
A School Frozen in Time seri kedua masih berkisah tentang delapan orang siswa yang terjebak di sekolah di musim dingin secara misterius.
Sebuah peristiwa aneh dan mengerikan terjadi pada mereka satu persatu. Untuk mencegah lebih banyak korban mereka harus mengingat siapa yang bunuh diri dan kenapa.
Apa sebenarnya tujuan Tuan Rumah ini mengurung mereka di dunia ciptaannya? Apakah karena hanya ingin diingat atau ada motif lain?
_____________________ Novel kedua ceritanya makin kelam! 😭
Di novel kedua ini setiap tokoh punya pov-nya, sebagai pembaca aku ngerasa seneng banget jadi bisa menyelami pemikiran setiap tokoh-tokohnya. Setiap tokoh punya peran penting, gak cuma sekadar tempelan aja.
Dan hidup mereka sebagai remaja tuh ternyata gak mudah, banyak permasalahannya. 😔
Ada yang korban bully, terus ngerasa bersalah karena dulu gak bisa ngebela/ngebantu temennya yang di bully sampai bunuh diri, ada yang hidupnya terlihat sempurna dan punya kepintaran yang bikin iri tapi tetap ngerasa belum cukup. 😢
Sosok Tuan Rumah yang ngurung mereka juga semakin berani menampakkan diri dan menghantui mereka secara bergiliran. Bikin merinding! Penulisan beneran lihai banget membangun suasananya.
Di novel keduanya ini aku kira bakal menemukan jawaban dari misteri-misteri yang ada, eh malah nambah hal yang harus dipikirin!
Aku rekomendasikan baca novel ini buat yang suka cerita remaja penuh misteri, ngeliatin sisi gelap kehidupan remaja dan ngangkat isu mental health dan bullying!
✎ Jadi ceritanya, pada suatu hari di musim dingin, Mizuki dan teman-temannya yang merupakan komite perwakilan kelas tiba-tiba terjebak di sekolah secara misterius. Seolah ada fenomena mistis, waktu di sekolah berhenti tepat di pukul 05.53—waktu ketika salah satu teman sekelas mereka bunuh diri pada hari terakhir pentas seni budaya sekolah.
Anehnya, nggak satu pun dari mereka mengingat siapa orang itu dan kenapa dia bunuh diri. Padahal, mengingat sosok dan alasan di balik kejadian itu adalah satu-satunya cara agar mereka bisa keluar dari sekolah tersebut.
✎ Kalau di buku pertamanya lebih dominan fantasi dan misteri, di buku kedua ini genrenya makin melebar ke horror dan thriller. Kenapa aku bilang gitu? Karena bakal ada penampakan dari si orang yang bundir itu, dengan tampilan yang cukup serem. Dan bukan cuma muncul, dia mulai mengincar nyawa mereka satu per satu.
✎ Mereka ini awalnya ada 𝐝𝐞𝐥𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 yang terjebak (kalau kalian mau tahu sedikit gambaran dari semua karakternya, bisa cek review aku di buku pertamanya yaa). 𝐓𝐢𝐠𝐚 di antara mereka jadi incaran pertama.
Satu orang dikurung, satu orang jadi manekin, dan satu orang lagi tangannya kena luka bakar lalu diubah jadi manekin juga. Manekinnya sempat hancur dan mengeluarkan banyak darah.
✎ Pertanyaannya, tiga orang itu apakah masih hidup? Hmm… 50:50 sih. Soalnya, menurut perkiraan mereka, sekolah tempat mereka terjebak ini adalah “𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐩𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧” si pelaku bundir. Jadi bisa aja, tewas di dunia pikiran belum tentu berarti tewas di dunia nyata. Tapi ini masih sebatas teori aja ya.
Satu hal yang cukup jelas, ketiga korban pertama ini hampir pasti 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮 bundirnya (kecuali ada plot twist lain). Artinya, kandidatnya tinggal enam orang lagi.
✎ Oh ya, 𝐭𝐞𝐨𝐫𝐢 “dunia dalam pikiran” ini dibahas cukup detail, baik di buku pertama maupun kedua. Teori dan penjelasannya cukup menarik✨
✎ Namun, di buku ini aku mulai ngerasa kalau si pelaku bundir ini terlalu 𝐞𝐠𝐨𝐢𝐬. Nggak cuma memerangkap mereka, tapi sekarang juga mengincar nyawa mereka. Kenapa mereka harus menanggung rasa bersalah atas pilihan yang dia buat? Apa cuma dia yang merasa jadi korban?
Rasanya dia punya mental korban yang menganggap penderitaannya paling besar, sementara orang lain dianggap nggak merasakan apa-apa. Padahal yang ditinggalkan dan menyaksikan kejadian tersebut pun 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 dan 𝐭𝐫𝐚𝐮𝐦𝐚. Dan sepeka apa pun seseorang, nggak mungkin bisa tahu isi hati dan pikiran orang lain kalau nggak pernah dibicarakan.
Ini murni penilaianku berdasarkan informasi sampai buku kedua ya 🥲🙏 Karena sampai titik ini, motif, alasan, dan identitas pelaku bundirnya masih belum terungkap jelas.
✎ Oh ya, sebenernya aku agak heran karena dia nyuruh temen-temennya buat ingat dia. Sedangkan ingatan teman-temanya aja (bisa jadi) dimanipulasi sehingga sampai sekarang mereka nggak bisa ingat. Nggak ngerti juga sih maunya dia gimana🥲
✎ Di buku kedua ini juga, porsi pembahasan karakter jauh lebih banyak. Perasaan mereka, cara pandang mereka terhadap dunia dan lingkungan sekitar digali cukup dalam. Di satu sisi, aku agak ngerasa bosan karena beberapa bagian terasa bertele-tele, apalagi karena pelaku bundirnya belum ketahuan, jadi aku belum bisa melihat 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐫𝐚𝐡 antara flashback kehidupan para karakter dengan kejadian utama. Tapi di sisi lain, aku kagum banget sama penggambaran karakternya yang kompleks, penuh kontradiksi, dan terasa sangat manusiawi.
✎ Buku ini juga banyak membahas soal 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧. Tentang bagaimana hal-hal kecil berupa kepedulian bisa sangat berarti bagi seseorang yang sedang dirundung. Dan sebaliknya, bagaimana hal-hal yang dianggap sepele oleh sebagian orang ternyata bisa meninggalkan luka besar, sampai mendorong seseorang memilih mengakhiri hidupnya.
✎ 𝐎𝐯𝐞𝐫𝐚𝐥𝐥, aku sangat menikmati buku ini dan nggak sabar lanjut ke buku ketiganya 😆 Aku pribadi udah punya dua kandidat kuat sebagai pelaku bundirnya (tolong jangan spoiler dan biarkan aku menikmati rasa penasaran ini 🤣🤞). Semoga twist-nya nggak mengecewakan yaa. Aku berharap banyak sama series ini, sampai rela nggak baca review booksta lain demi menghindari spoiler wkwk 😭☝
Sudah mencoba menebak, mati. Sudah berhasil menebak, mati. Nggak mau menebak tapi selalu di beri teka-teki yang mengarah ke ingatan yang terlupakan, juga mati.
Sebenarnya yang bunuh diri itu siapa?
Apa anak-anak ini pem-bully?
Atau mereka pelaku perundungan secara tidak langsung yang kompak memilih membungkam diri agar tidak ikut di bully?
Saksi bisu aksi bunuh diri yang mana oleh pihak sekolah mereka di ancam untuk tidak menyebarkan nya ke media massa?
Atau kisah mereka mirip Night Has Come? Dimana pikiran nya di bawa ke alam game terus di buat nggak sadar, sampai mereka menemukan siapa korban nya dan bos penguasa waktu yang membeku itu dalang untuk menemukan keadilan untuk korban?
Buku kedua semakin seru saja, dan semakin membuat saya penasaran menebak-nebak "siapa sih yang bunuh diri di sekolah waktu itu?" Kalau saya lihat ada sejumlah orang yang bilang cerita ini bertele-tele karena malah menyelami karakter-karakter satu per satu. Kalau menurut saya sih ya justru bagus, masing-masing karakter bukan tempelan, apalagi tragedi yang dibahas di buku ini berat, yaitu perkara bunuh diri. Kita bisa melihat sejumlah POV berbeda dari anak-anak yang sempat punya 'suicidal thoughts', ataupun anak-anak yang tidak cukup memperhatikan teman mereka sendiri sampai si teman bunuh diri. Tentunya kita masih perlu lihat apakah di akhir nanti semua ini akan disatukan menjadi satu kesimpulan yang bagus.
Terjemahan dan editan masih perlu dirapikan lagi, sih. Misalnya, berkali-kali penerjemah menggunakan kata 'tersenyum masam' meskipun rasa-rasanya kok tidak pas dengan konteksnya. Saya jadi bertanya-tanya, apakah istilah yang dipilih itu sudah benar, ataukah sebenarnya maksudnya yang lain? Selain itu ada hal-hal yang seharusnya bisa disederhanakan atau diutak-atik lagi agar mudah dan cepat dipahami pembaca Indonesia. Contohnya, kalimat "Setelah memotong waribashi chopstick-nya..." Pembaca yang tidak tahu istilah 'waribashi' mungkin mengernyit, apa itu? Ditempel pula dengan istilah bahasa Inggris 'chopstick'. Padahal kan kita punya kata 'sumpit', dan orang Indonesia juga sudah sering menggunakan sumpit yang harus dibelah dulu sebelum digunakan.