Ada sejumlah perjuangan introver yang tidak diketahui banyak orang. Misalnya, perjuangannya saat harus berbicara di depan banyak orang, saat harus menyapa orang tak dikenal, saat harus berpura-pura menikmati pesta, juga saat harus mempertahankan konsep dirinya di tengah gempuran interaksi yang terfasilitasi dengan mudah oleh media sosial.
Sederet stigma dikenakan pada introver. Misalnya, pemalu, antisosial, egois, pemurung, tidak bisa bahagia. Itu terjadi hanya karena introver melekat dengan kesendirian dan kesunyian. Itu terjadi karena introver menikmati hidup dengan cara yang berbeda.
Terdiri dari 65 tulisan yang terbagi ke dalam tiga bagian besar, buku ini merangkum sekelumit cerita yang dialami introver saat berhadapan dengan perjuangan-perjuangan itu dan mengajak pembacanya menjelajah di ‘ruang angkasa’ dalam kepala introver.
Buku ini menyuarakan kesunyian yang sering dianggap tak berguna, dicap sebagai keanehan, dan dinilai sebagai sesuatu yang tidak menarik. Buku ini ingin menunjukkan bahwa kesunyian bisa menjelma menjadi nyanyian merdu nan menyentuh kalbu jika didengarkan dengan hati. Maka dengarkanlah nyanyian ini dengan segenap hatimu.
"Keheningan adalah pesta yang meriah bagi pikiran dan jiwa. Undanglah kebahagiaan itu, maka ia akan datang."
Membaca buku ini seperti membaca (sebagian) diri sendiri. Seringkali saya mengangguk2 ketika membaca tiap paragraf nya. Lalu dalam hati bergumam "iya banget!" Buku ini membuatmu yg seorang introvert atau mungkin stgh introvert akan merasa bersyukur dan beruntung. Malah pingin jd totally introvert aja karna sepertinya akan banyak menyelamatkanmu dari 'mara bahaya' dlm hidup~ Buku ini menceritakan apa yang sebenarnya ada pada dunia si intovert, bagaimana cara otak mereka bekerja, bagaimana mereka dapat melihat hal2 yg tak tampak permukaan yg orang lain tak bisa 'melihat'nya: itu adalah karna aktivitas perenungannya yg dalam. Ia yang seringkali sedikit berbicara dan lebih menyukai menulis, lagak yg dingin, dsb ternyata ada alasan ilmiahnya :') Juga, buku ini memberitaumu -semacam tips- bagaimana kamu seharusnya berhadapan dgn seorang introvert; baik ktika sebagai teman, pasangan, maupun orangtua yg memiliki anak introvert.
Membaca buku ini seakan belajar membaca diriku sendiri. Buku ini adalah rekomendasi kakaku agar aku memahami bahwa 'aku normal' dan 'wajar' dalam pergaulan. Buku ini bukan membenarkan, namun menyadarkan bahwa aku harus menerima diriku yang seperti ini tanpa perlu memasuki dimensi lain dengan topeng kepura-puraan yang sangat menguras energi, padahal itu tak harus aku lakukan. Sebab aku Dan 1/3 penduduk bumi yang lain memilik Cara kami sendiri dalam pergaulan. Aku belajar bahwa aku tidaklah sekaku, sedingin, sependiam, sepemalu apa yang mereka pikirkan. Aku hanyalah seorang yang terlalu banyak berpikir dan merasa lelah jika diajak berbicara banyak hal, sebab kepalaku sudah penuh dengan segala percakapannya sendiri lalu bahasanmu akan sedikit terabaikan karena sdah Tak mampu menjadi fokusku. Jad aku Tak usah risau kata kakakku, aku hanya perlu menjadi diriku sendiri dengan tutur yang memahamkan mereka bahwa aku seperti ini. Semoga kalian memahamiku Dan 1/3 penduduk bumi yang sama denganku. Selamat membaca dirimu melalui buku ini.☺
🍁Kesunyian bisa menjelma menjadi nyanyian merdu nan menyentuh jika didengarkan dg hati🍁 . Ketika pertama kali melihat ada seorang teman memberikan review buku ini (cetakan pertama, sampulnya warna kuning), aku langsung penasaran😍 Ternyata rasa penasaran itu berubah menjadi rasa suka. Suka karena buku setebal 200 hlm ini bisa mendefinisikan diri "INTROVER" (baca: salah satunya AKU) dg sangat tepat. . Menjadi introver itu...suka disalah artikan. Banyak yg mengira kami: antisosial, pendiam, pemurung, dll. Ooh sebenarnya kami tidak seperti yg kalian kira, apa yg ada di dalam diri kami sangat ramai & luas, hingga seringkali mengeksplorasi ruang angkasa di dalam pikiran diri sendiri lebih menarik. Kami lebih suka terhubung dg dunia kecil di dalam diri untuk mengumpulkan energi. . Buku ini berisi kisah introver: self-talk, dunia kerja, berteman, berkenalan dg org asing, aktivitas2 (berpidato, menulis, serta 'pesta'!) Bagiku bahasa buku ini mengalir seolah2 sedang membaca pikiran sendiri, yg membuatku berkata "nah ini aku banget"😁 . Bagian paling menarik >> introver dibahas dari sisi ilmiah: Kenapa kami memiliki kecenderungan untuk menjauhi keramaian? Karena otak kami sangat sensitif pada DOPAMIN. Apa itu dopamin? Senyawa neurotransmitter yg bertanggungjawab untuk menimbulkan rasa bahagia. Bagi kami stimulus hal kecil/biasa sudah cukup untuk membuat kami bahagia. Nah, jadi ketahuan kan kalo ungkapan "Bahagia itu sederhana" tak lain & tak bukan pasti lahir dari pikiran introver. Karena memang begitulah kami, sederhana dalam memaknai kebahagiaan. . Quote fav-ku: 🍁Ada yg berbicara untuk membuat org terkesima, aku berbicara untuk menyentuh hati manusia.🍁 . Ada kata yg berulang2 kutemukan di buku ini: 🌸KESEPENUHHATIAN🌸 Kami sangat selektif dg siapa menghabiskan waktu & tenaga. Ketika sudah percaya dg seseorg, maka kami akan sepenuhnya hadir, sepenuhnya mendengarkan, membantu dg sepenuh hati. . Introver suka pembicaraan yg bermakna, reflektif, & kontemplatif. Kami mgkin memiliki teman dg jumlah yg terbatas, karena kami suka pertemanan yg berkualitas, hubungan yg mendalam☺ 🎶Kami senang menyelam ke dlm hati & pikiran manusia. Hati2 terhanyut🎶
"Sebagian orang hanya berbicara di permukaan. Sedangkan introver senang menyelami ke kedalaman pikiran dan hati manusia. Mencari makna, mencari benang merah, mencari tanda-tanda, mencari jawaban--- meski seringkali membawanya pada tanda tanya yang lain, menuju pemahaman tentang tujuan dan tentang eksitensi."-hal 12.
Senang sekali bisa ketemu buku ini, rasanya seperti menemukan teman baru dikenal tapi tahu luar-dalamnya diriku. Ya, karena ini buku tentang intover. Semua hal tentang introver dibahas tuntas dalam buku ini, dikemas dalam bahasa yang mudah dipahami. Sesuai kata pengantar penulis, buku ini hadir untuk menemani para intover menemukan dirinya, agar tak tersesat dalam keriuhan dunia yang sepertinya memihak kepada ekstrover.
Buku ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama: mendengar nyanyian sunyi. Berisi semua hal tentang inttover. Bagaimana pikiran introver, bagaimana introver mengisi energi dengan berdiam diri di rumah daripada bertemu banyak orang. Seringkali dianggap aneh. Bagaimana ketika terlahir menjadi introver dan menjadi orang tua introver. Sederhana tapi mendetail.
Bagian kedua: mendengar inner berujar. Inner adalah sebutan untuk introver. Ini bagian yang paling kusukai. Berisi percakapan antara introver dengan orang lain yang kutebak sih seorang ektrover; berlawanan. Ketika inrover memilih sendiri saat di pesta. Memilih menghabiskan waktu liburan di rumah saja. (Kaya sekarang dong🤣).
Bagian ketiga: mendengar kode rahasia. Berisi puisi-puisi yang menggambarkan kehidupan introver. Yang suka mendengar suara-suara alam. Aku suka juga bagian ini. Seperti membaca isi pikiran introver.
Buku ini bakal jadi salah satu buku favorit, bisa di baca berulang kali di halaman mana saja. Kurekomdasikan untuk teman-teman introver agar lebih mengerti diri sendiri juga teman-teman ektrover agar bisa memahami 'keanehan' teman introver mereka.
"Jika di berbagai kamus kau tak menemukan definisi yang tepat tentang sesuatu, mungkin sudah saatnya kau yang menciptakan definisimu sendiri."
Itulah sepenggal kalimat yang akan menyambut kita di halaman pertama buku ini. “Mendengar Nyanyian Sunyi” didedikasikan untuk semua introver yang tengah berjuang menemukan dirinya di antara riuh dan gaduh. Buku ini adalah hadiah bagi seluruh introver, yang seringkali merasa dunia tidak memahaminya, tidak ramah padanya, yang membuat mereka jatuh pada perasaan tidak percaya pada diri sendiri. Selain itu, buku ini juga ditujukan bagi siapapun yang ingin belajar memahami dunia ramai yang tersembunyi rapi di balik sunyinya seorang introver.
Bisa dibilang, buku ini merupakan kumpulan catatan yang lahir dari penjelajahan dan penghayatan penulis terhadap sisi-sisi introver dalam diri manusia. Terdapat juga muatan sains yang mendukung gagasan penulis seperti pada penjelasan tipe kepribadian serta bagaimana mekanisme otak ekstrover dan intover bekerja. Meski dibumbui dengan istilah-istilah sains, penulis tetap mampu menyampaikannya dengan gaya yang santai dan ringan. Selama membaca buku ini, kita akan merasa seperti sedang diajak berbincang dengan diri kita sendiri. Banyak bagian dalam buku ini yang akan mendorong kita untuk merenungkan kembali tentang bagaimana kita melihat dan menilai diri kita selama ini.
Lewat buku ini, kita akan tahu bagaimana perjuangan para introver dalam menjalani kehidupan sehari-harinya dan menghadapi berbagai stigma negatif yang tersemat pada introver seperti dianggap tidak kompeten, antisosial, dan pemalu.
“Aku merasa sunyi dalam ramai dan ramai dalam sunyi. Aku tak berjodoh dengan berbagai definisi. Aku tak bermaksud untuk membela diri. Aku hanya ingin kau bersedia menyadari, bahwa kesalahpahaman tentangku harus sudah disudahi.” -hal.3
Seperti pada judul buku ini, “Sunyi” dibilang menjadi highlight dalam tulisan ini karena dinilai cukup bisa menggambarkan tentang sosok introver. Ya, introver adalah mereka yang menikmati inner world atau ‘dunia’dalam dirinya sendiri. Pusat energinya ada pada dunia dalam dirinya. Inilah salah satu alasan kenapa para introver cenderung lebih memillih untuk menyendiri. Being in solitude (being alone) bukan berarti kesepian (lonely), tapi itulah cara mereka untuk kembali terhubung dengan dunia dalam diri mereka, untuk bisa berpikir lebih jernih, dan tentunya membuat mereka lebih bersemangat. Sebaliknya, jarak yang terlalu jauh dengan diri sendiri akan membuat mereka merasa sepi.
Banyak sekali hal yang menurutku menarik saat menyelami tentang dunia introver ini. Banyak hal yang membuatku takjub dan terkesima.
“Ada sejumlah perjuangan introver yang tidak diketahui banyak orang. Salah satunya adalah bagaimana perjuangan introver mempertahanakan konsep dirinya di tengah gempuran interaksi dan komunikasi yang terfasilitasi dengan mudah oleh sosial media.” -hal.65
Sebagai seorang intover yang juga tengah dalam perjalanan mengenal dirinya sendiri, buku ini banyak sekali membuka pandanganku dan membantuku untuk kembali pulang pada diriku yang seutuhnya. Bagaimana aku yang sebelumnya begitu sering meragukan diriku, mempertanyakan pemikiran dan tindakan-tindakanku, dan yang paling membuatku ingin meminta maaf pada diriku sendiri adalah saat aku begitu keras memaksanya untuk berlomba di arena yang tidak akan pernah aku menangkan.
“Everybody has a secret world inside of them. All of the people of the world, I mean everybody. No matter how dull and boring they are on the outside, inside them they do all have got unimaginable, magnificent, wonder-ful, stupid, amazing worlds. Not just one world. Hundreds of them. Thousand maybe.” -hal.99
Di awal, buku ini lebih dulu menjelaskan tentang apa sih introvert itu, dan apa bedanya dengan ekstrovert. Berdasarkan tipe kepribadian MBTI (Myers-Briggs Type Indicator), introvert adalah orang yang memiliki kepribadian perenung, pemikir, merasa nyaman sendirian, suka mengerjakan hal-hal sendirian, mengenal akrab dengan lebih sedikit orang. Kurang lebih, secara umum seperti itulah karakter introvert. Sayangnya, banyak yang mengsalahartikan kepribadian introvert ini dengan kepribadian yang kurang baik, seperti pemalu, antisocial, tidak mau bergaul dengan sekitar dan sejenisnya. Padahal introvert tidaklah seperti itu.
Setelah penjelasan singkat tentang apa itu introvert dan ekstrovert, barulah penulis mengulas dengan lebih rinci, seperti apa sih kepribadian introvert itu. benarkah dia antisocial? Benarkah dia hanya punya teman sedikit? Benarkah dia selalu gugup tampil di depan umum? Benarkah dia tidak suka bertemu dengan orang asing? Dan yang lebih penting, jika semua itu benar, apakah itu sebuah kesalahan?
Buku ini sangat pas untuk dibaca baik oleh para introvert maupun ekstrovert, terutama yang tidak terlalu suka dengan penjabaran yang berat-berat seperti di buku teks. Secara sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, penulis menyampaikan kegelisahan dan keinginan seorang introvert.
Bagi para introvert yang membaca buku ini, pastilah lansung merasa bahwa ia tidak sendirian di muka bumi. Ada introvert-introvert lain (meski tak pasti jumlahnya berapa) yang juga merasakan apa yang dia rasakan, mengalami apa yang dia alami. Dan semoga buku ini juga dibaca para ekstrovert agar dapat saling memahami kepribadian masing-masing.
Pada akhirnya, tidak ada yang lebih unggul antara introvert dan ekstrovert. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat saling melengkapi. Tinggal bagaimana cara kita memandang dan memahaminya.
Saya rasa, kita semua butuh mengetahui tipikal introvert dan ekstrovert ini agar dapat mengurangi prasangka-prasangka dan perselisihan yang mungkin saja tidak perlu terjadi. Sebuah buku sederhana yang sangat layak untuk dibaca.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kesan sepanjang membaca buku ini, "wah, gue banget""kok sama persis sih dengan apa yang aku rasain?" "oh.. ternyata begitu toh." Sebagai peminat ilmu-ilmu kepribadian, saya termasuk yang senang mencari-cari tahu tentang personality, termasuk MBTI lah yang paling banyak saya acu. Berkali-kali saya mencoba mengetes kepribadian saya, dari berbagai situs yang berbeda dengan pertanyaan berbeda, hasilnya pun beraneka ragam. Namun, satu yang tidak pernah berubah, yaitu huruf I, introversion over extroversion yang selalu menang. Setelah banyak membaca mengenai kepribadian, saya adalah orang yang sampai pada kesimpulan bahwa kepribadian itu bukan sesuatu yan saklek dan tidak bisa dikotak-kotakkan secara sederhana oleh empat huruf atau hanya satu kata sifat saja. Dia adalah sesuatu yang jauh lebih rumit dan misterius daripada itu. Tapi tidak bisa dipungkiri, suatu sifat bisa menjadi sangat dominan dalam diri kita, baik kita sukai atau tidak, yang mana kita harus memahami, mengayomi dan berdamai dengannya. Dan bagi saya itu adalah sifat I ini. Bisa dibilang saya adalah golongan yang sudah bisa menolerir ke-I-an saya, sudah bisa lebih nyaman dengan diri sendiri without any burden to try to interact with more people, bisa mengatakan 'tidak' untuk aktivitas sosial yang tidak saya inginkan tanpa merasa bersalah (atau setidaknya berusaha tidak merasa bersalah :") tapi tetap saja masih banyak hal yang membingungkan dalam diri saya, dan BUKU INI berhasil mendefinisikan hal-hal tersebut dengan tepat. Jujur, saya mendapat banyak sekali pembelajaran dengan membaca buku ini dan menjadi lebih termotivasi dengan kelebihan yang saya miliki sebagai introver yang mungkin selama ini saya sepelekan.
Jadi curhat gini ya di kolom review goodreads :") tapi jujur, buku ini membuat saya jadi ingin menumpahkan segala sisi introver saya yang baru saya temukan definisinya sekarang. Terima kasih kak Urfa :)
Salam Sada Roha. Semoga selalu bahagia. Buku ini lebih membahas tentang kepribadian seseorang yaitu introver. Menceritakan tentang bagaimana kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orang introver. Buku ini merangkum sekelumit cerita yg dialami introver dan mengajak pembaca menjelajahi ruang angkasa yg ada di dlm kepala introver.
Mungkin kita pernah melihat seseorang yang suka sendiri, kagok dalam berbicara di depan umum, pemalu, dll. Ketahuilah, bisa jadi mereka adalah orang introver itu. Maka, ketika kita menjumpai orang yang seperti itu, jangan sampai kita menjudge mereka orang yang tidak baik seperti antisosial, egois, pemurung, dll. Hal ini karena kepribadian orang itu ya seperti itu. Kita hanya cukup untuk saling memahami. Ketahuilah, meskipun begitu, introver memiliki kelebihan yg lain. Biasanya mereka senang bermain dengan ide dan imajinasi, mereka adalah orang2 yg aktif di belakang layar. Maka, apabila ekstrover dan introver dapat saling memahami dan ber-colabor(act)ion, akan menghasilkan sesuatu yang dahsyat luar biasa.
Kalau kamu ingin mengetahui lebih dalam tentang introver, bacalah buku ini. "I have learned silence from the talkative, tolerance from the intolerant, and kindness from the unkind. I should not be ungrateful to these teachers" == Kahlil Gibran == (halaman 105 dalam buku ini)
Senang mengetahui bahwa ternyata aku tidak sendirian, aku punya teman seperjalanan yang memiliki cerita nyaris mirip denganku, yang sama-sama tengah mendaki gunung keresahan, untuk mencari jawaban. Oh, hei, apakah aku sedang membaca diriku sendiri?
Sedikit banyak menyadari beberapa kelemahan juga adalah sebuah kelebihan, juga bahwa sebagian kelebihan adalah merangkap peran sebagai kekurangan.
"Perjalanan paling panjang adalah perjalanan menemukan diri sendiri. Perjalanan itu kelak hanyalah bermula dari pikiran menuju hatimu; dari keingintahuan menuju kedamaian, tapi itu akan menguras waktu. Sebab, kau harus menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang paling sulit sejagat raya: pertanyaan tentang siapa dirimu, darimana asalmu, mengapa kau di sini, dan ke mana kau akan pergi."
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini menggambarkan hal-hal yang dirasakan dan dialami oleh orang-orang introver dari sudut pandang penulis yang juga introver. As an introvert myself, reading this book makes me feel like 'finally someone understand what I'm going through!' Untuk teman-teman dengan kepribadian cenderung ekstrover yang ingin memahami perasaan para introver, buku ini adalah buku yang baik untuk dibaca. Bahasanya ringan, mudah dimengerti, dan tidak menggurui. Hm, tapi mungkin beberapa orang akan menemukan buku ini 'terlalu melankolis'. But still, worth to read.
Buku yang bagus dalam menjelaskan perihal introvert. Buku ini bukan buku nonfiksi yang seperti textbook, tetapi lebih ke curahan opini dan pikiran penulisnya, yang didukung oleh teori-teori. Waktu baca buku ini, rasanya kayak pengen komentar, "Bener, bener banget. Ini aku banget!"
Buku yang cocok dibaca oleh introvert dan ekstrovert. supaya yang introvert nggak merasa sendirian, sementara yang ekstovert, mengerti mengapa introvert betah sendirian.
Baru saja mengisi ulang baterai sendiri dengan membaca kumpulan tulisan ini. Lebih bisa dinikmati dibandingkan buku Urfa yang pertama. Mungkin karena di buku ini sendiri merasa terpahami? Gaya bahasanya seperti buku terjemahan. Bagus, karena rasanya sudah lama sekali tidak membaca buku dengan kalimat baku.
Bahagia menjadi dirimu sendiri adalah karunia. Pun bahagia menjadi seorang introver. Si Pendiam. Si Pemikir. Si Pencari Makna. Tanpa bermaksud mencela kepribadian lain yang berbeda. Maka teruslah mengenali dirimu. Menyelami kepribadianmu. Ia yang sepanjang hidup setia menemani, dalam ramai serta sunyi.
Membaca buku yang 'kita' banget itu ibarat seperti pensil yang sedang meraut diri sendiri. semakin tajam. Jadi buku ini mengajarkan kita bahwa kebahagiaan itu tidak dapat diukur dengan satu ukuran. bahwa kebahagiaan itu sifatnya tak terhingga.
Melalui buku ini, saya bisa menemukan kelebihan introver yang sungguh baik dan membuat saya lebih paham apa yang terjadi pada otak saya, tubuh saya, yang sebelumnya saya anggap sungguh tak biasa dan sedikit berlebihan
Kamu introvert? Buku ini bagus utk dibaca. Tidak hanya untul introver jg, Ektrover jg menurutku harus baca ini. Agar mengerti introver, bahwa intover bukan orang aneh.
“Butuh beberapa waktu bagi introver untuk memercayakan hatinya pada seseorang. Namun, sekali ia percaya, ia akan percaya selamanya. Berjanjilah untuk tidak mematahkannya.” (Hal. 72)
Pernah gak sih ngerasa, “kok kita gak bisa kayak orang-orang yang gampang banget akrab sama orang asing, punya banyak teman, banyak bicara dan bertahan berada di luar rumah seharian.” Sampai akhirnya bahkan kita jadi bertanya-tanya sama diri sendiri, “salah gak sih kaya gini? Karena merasa lebih nyaman berada di rumah seharian, gak banyak bicara, sulit untuk bisa akrab dengan orang asing, bahkan punya sedikit sekali teman dekat.”
Mungkin buku ini bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan, mengenai sikap kita yang seringkali disalah artikan.
Karena ternyata, menjadi seorang yang pendiam, tak banyak bicara, atau hal-hal lain yang tidak seperti orang kebanyakan, adalah wajar. Buku ini juga menjelaskan bagaimana kepribadian introvert/ekstrovert itu terbentuk. Mengapa kita bisa lebih menyukai sunyi, mengapa kita seringkali mudah lelah setelah bertemu orang banyak, juga mengapa di antara kita ada yang lebih mendominasi.
Sebagai seseorang dengan kepribadian introvert, membaca buku ini, membuat aku merasa seperti ‘Akhirnya ada seseorang yang mengerti apa yang aku rasain selama ini!’ dan buku ini juga cocok untuk orang yang sedang berusaha untuk lebih memahami diri sendiri, setelah sekian lama bersembunyi di balik topeng yang menguras banyak sekali enegri, hanya untuk mendapat penerimaan dari orang lain dengan mengenyampingkan konsep diri.
Selamat mendengar nyanyian sunyi dari orang sepertiku, dan 1/3 penduduk bumi.
Sesuai dengan pengantar yang diungkapkan penulis, buku ini bisa menjadi bagian dari kumpulan puisi, fiksi pendek, bahkan sebagai referensi, yang secara keseluruhan menggambarkan tema utamanya, yakni introver.
Sebagai seorang introver juga, saya banyak memiliki kesamaan persepsi dengan penulis, seperti mengalami kesulitan dalam tuntutan untuk 'tampil' di dunia dengan versi yang dominan dipenuhi dengan cara adaptasi orang ekstrover. Meskipun tidak salah, namun permasalahannya, menjadi introver seringkali masih dianggap sesuatu hal yang aneh atau bahkan mengkhawatirkan bagi orang-orang yang belum memahami konsep introver-ekstrover.
Saya pikir buku ini dapat dengan baik memberikan pemahaman pola pikir, tingkah laku, sebab-musabab mengapa introver terlihat atau bertindak sedemikian rupa, atau sifatnya sebagaimana ia. Buku memberikan dorongan, tidak hanya untuk para introver, tapi juga ekstrover ketika mereka pun bisa berada di fase kontemplasi.
Kendati bukan seorang introvert murni (47%), buku ini membuat gue lebih memahami temen-temen gue yang introvert. "Oh jadi selama ini mereka ngerasa seperti ini, seperti itu..."
Membaca buku ini serasa sedang membaca tentang diri sendiri. Setiap sub babnya mengantarkanku pada penemuan-penemuan baru tentang sisi diriku yang menurutku dominan ini. Bagi mereka yang ingin lebih memahami sosok dan isi pikiran serta perasaan sisi diri yang disebut "introver", buku ini layak direkomendasikan!