“Risa, kau gemuk!” “Risa, aku takut hujan!” “Risa, aku benci disebut hantu!” “Risa, seandainya gigiku tak ompong!” “Risa, aku rindu Anna….” “Risa… terima kasih, biarpun kau jelek, aku menyayangimu. Sama seperti sayangku kepada Annabelle. Jangan berhenti menemuiku karena menemuimu membuatku merasa hidup.” —Jantje Heinrich Janshen—
Selama ini kita memanggilnya “Janshen”, padahal itu adalah nama belakang keluarganya. Sejak lahir, anak ini dianggap sebagai pembawa kebahagiaan karena siapa pun yang ada di sekitarnya selalu merasa bahagia. Tak ada yang mau tahu bagaimana kisah hidupnya. Semua sahabat hantuku tak tertarik mencari tahu karena masalah terberat seorang Janshen hanyalah gigi ompong yang membuat anak itu menjadi bulan-bulanan. Kupikir hidupnya selalu menyenangkan, kupikir harinya selalu dipenuhi tawa. Ternyata aku salah, anak sekecil dan selucu dia harus menghadapi banyak masalah hingga akhir hidup. Selamat datang di kehidupan si hantu ompong favoritku. Selamat menyelami sisi gelap masa lalunya.
Dengan ini, beres sudah aku membaca kisah kelima sahabat kecil Risa Saraswati. Seperti kisah Peter, William, Hans, dan Hendrick, kisah Janshen juga sarat drama dan kesedihan. Tapi untungnya, keluarga Janshen adalah orang-orang yang baik hati dan saling menyayangi, sehingga hatiku tidak terlalu pedih saat membaca. Semoga suatu saat Janshen dapat berkumpul kembali dengan orangtua dan ketiga kakak perempuannya. . Aku tidak mau membicarakan banyak tentang kekejaman para Nipon karena Risa juga tidak banyak membahasnya di buku, tapi kuharap ini menjadi pengingat pahit akan apa yang pernah terjadi. Apa yang mungkin sedang terjadi di belahan lain bumi. Perang dan kekejaman. Mereka yang mendukung dan melakukan kedua hal ini bukan manusia, melainkan jelmaan iblis, bersembunyi di balik apa pun itu yang katanya mereka bela. . Semoga kita bisa selalu menjaga sisi kemanusiaan kita...
buku ini adalah buku terakhir dari serial kisah hantu-hantu cilik yang menjadi sahabat tak kasat mata-nya sang penulis. Janshen yang telah kita kenal (dari buku-buku Risa Saraswati sebelumnya ) adalah hantu paling muda, yang menemui ajalnya saat usianya belum genap 6 tahun. meski mengisahkan tentang hantu, namun buku ini jauh dari kesan horor. alih-alih menyeramkan, buku ini malah membuatku meneteskan air mata. ya, seperti kisah keempat sahabatnya yang lain (Peter, Hendrick, Hans dan William), kematian mereka yang tragis memang menyedihkan. Enak dibaca saat senggang...
Such a cute babyboy. Sad to see he left the world with such a cruel way. I felt sorry for the whole family too. The world back then wasn't as advanced as now, the distance and communication gap here is SO well portrayed, it shows how disconnected the girlies left on Indonesia and the parents back on Netherlands.
Bisa dibayangkan jika kamu ditinggal sendirian di tempat dimana semua orang membencimu? Mengerikan, bukan?
Sebelum membaca buku ini, aku sudah terlebih dahulu menamatkan cerita Peter (si ketua geng) kemudian beralih ke Janshen karena kalau dilihat dari review, Janshen paling banyak menggugah hati para pembaca.
Dia berhasil. Lebih tepatnya Kak Risa berhasil menuliskan kalimat demi kalimat yang menyayat hati. Waktu membaca Peter aku sedih tetapi tidak menangis, namun ketika membaca buku Janshen aku hampir selalu menangis ketika Anna dan Janshen sedang berdialog atau hanya sekadar narasi yang menampilkan mereka berdua saja.
Janshen mungkin yang paling beruntung karena memiliki kedua orang tua dan ketiga kakak yang sangat menyayangi dirinya namun seketika kebahagian itu luntur saat kedua orang tua dan kedua kakak Janshen (Lizbeth dan Reina) memutuskan untuk pergi ke Netherland—berobat untuk kedua kakaknya.
Janshen dan Anna tinggal berdua di Hindia Belanda (Indonesia), walau terkenal dengan keluarga baik tetapi masih banyak masyarakat Hindia Belanda yang membenci mereka terlebih saat Nippon sudah masuk ke Hindia Belanda.
Sebagian besar warga Netherland habis disiksa, disekap, dan dibunuh.
Anna berusaha melindungi Janshen, tetapi suatu hati rakyat Hindia Belanda membocorkan pada Nippon bahwa kedua anak Netherland itu masih berada di rumah. Anna tertangkap, Janshen diselamatkan oleh Satirah (sahabat Reina, Pribumi yang menjadi sahabat baik keluarga Janshen) namun sayang, Satirah ketahuan keluarganya dan membiarkan Janshen lari untuk menghindari Nippon.
Hari itu juga Janshen terus mencari keberadaan Anna. Kakak perempuan yang sangat disayanginya. Setelah sekian tahun berlalu hasilnya tetap nihil. Bocah kecil itu belum juga menemukan Anna.
••••
Well, cerita ini cukup menyedihkan. Kasih sayang antara saudara kandung terpapar rapi di sini.
Awalnya baca seri terakhir dari Lima Sahabat Kecil Risa ini, aku pikir akan berakhir menyenangkan...aku pikir akan berbeda dengan cerita sahabat Risa yg lain, tp tetap sama siih...Memilukan...
Ditambah cara Risa menyampaikan alur ceritanya tuh sangat haluuuus banget...walau polanya agak sedikit bikin sesak yah, aku bacanya kayak yang diapain aja gitu menerka nerka kemungkinan buruk yang akan terjadi dan apes nya selalu tepat gitu..padahal disisi lain aku mengharapkan tidak terjadi sesuatu yang menegerikan sm Jahnsen...
Membayangkan Nippon pada jaman kolonial memang tidak kenal ampun itu benar siih...penjajahan mereka meskipun tidak lama tapi sangat bar bar, berbeda sedikit dengan Belanda, walaupun lama tp masih ada beberapa kalangan dr mereka yang mementingkan kemanusiaan darpada merendahkan kaum pribumi yang padahal baik kaum londo ataupun pribumi sama saja tetap manusia. Yang perlu diperlakukan dengan baik juga...atau setidaknya dianggap sebagai manusialah, bukan makhluk kotor menjijikkan seperti yang Maria (mama Will) selalu katakan.
Aku gak tau lagi siiih..sama yang ada dipikiran Satirah. Udah tau kan yah namanya sudah pernah kedapatan berbohong jgn berani berani lakukan yg kedua kali...yaaah walaupun ingin menyelamatkan Jahnsen tp tunggu momenlah, tunggu sampai situasi nya meredaaa...baru deh misi penyelamatan untuk Jahnsen dilakukan, tp kasian si Jahnsen juga si sendirian di loteng.
Novel Janshen ini merupakan novel terakhir yang menceritakan kisah perjalanan hidup sahabat-sahabat hantu Risa yang pernah muncul pada novel Danur. Dalam novel ini Jantje Heinrich Janshen yang digambarkan sebagai seorang anak kecil yang umurnya belum genap enam tahun. Ia berasal dari keluarga Belanda sederhana yang mencoba peruntungan untuk berdagang di Indonesia. Keluarga Janshen sangat rukun satu sama lain dan menjaga satu sama lain.
Namun, keadaan berubah ketika anak pertama dan ketiga dikeluarga ini dinyatakan sakit dan memaksa keluarga ini harus berpisah. Kedua orangtua Janshen menyerahkan usaha yang mereka lakoni di Indonesia kepada Anna, anak kedua mereka sembari menjaga Janshen yang masih kecil. Sementara itu, kedua orangtua Janshen akan membawa Lizbeth dan Reina kembali ke Netherland untuk berobat di sana. Selama itulah Janshen hidup bersama kakaknya, Anna.
Keadaannya semakin memburuk ketika Nippon mulai masuk ke Hindia Belanda (sekarang Indonesia) untuk merebut kekuasaan Belanda saat itu. Pembantaian terjadi dimana-mana dan Janshen akhirnya berakhir di tangan Nippon.
Dalam mengapresiasi novel ini sangat tepat apabila menggunakan pendekatan ekspresif, sebab penulis berhasil membuat emosi pembacanya masuk dalam setiap detail cerita. Di mana pembaca akan merasakan sedihnya ketika Anna harus menyembunyikan kenyataan bahwa Reina sudah meninggal dan Lizbeth yang mengalami koma. Juga ketika Janshen harus mati di tengah kekejaman bangsa Nippon saat itu.
Beli buku ini di Wilis dengan harga yang terjangkau sekali, tapi orisinal dong tentunya. Awalnya aku kira ini buku cerita horor, tapi ternyata nggak. Sedih banget kisah Janshen kecil yang emang harus menderita hingga akhir hayatnya.
Berlatar di zaman peralihan antara penjajahan Belanda menuju Jepang, kisah ini dibawakan dengan bahasa yang amat ringan. Aku bahkan habis membacanya dalam dua jam. Tanpa terasa. Janshen mengambil perspektif dari keluarga Belanda yang amat toleran dan ramah, tapi turut menjadi korban dari kejamnya penjajahan Jepang.
Penderitaan dialami berturut-turut oleh Annabelle, anak kedua keluarga Janshen. Ia harus mengurus adiknya yang paling kecil, sendirian, di negeri jajahan hingga kekuatan bangsanya tidak sekokoh dulu. Dimulai dari penyakit kedua saudara kandungnya, keluarganya harus meninggalkan ia dan Janshen berdua saja di Hindia Belanda, tanpa orang tua. Anna menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Ia anak perempuan cerdas walaupun usianya masih sangat muda, sepuluh tahun.
Sedangkan Janshen, masihlah seorang anak kecil yang tidak tau apa-apa. Ia belum mengerti kejadian buruk yang menimpa mereka berdua. Berkat ketegaran Annabele, Janshen tetap bahagia. Tapi, pilihan terbaik yang diberikan Tuhan padanya tetaplah satu: kematian.
Sedih baca buku ini. Ceritanya berfokus tentang satu keluarga damai tenteram, tapi sekaligus membawa kisah sejarah yang amat pilu.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Janshen merupakan buku terakhir dari seri #SahabatRisa yang kubaca. Rasanya senang sekali berkenalan dengan Peter, Hendrick, Hans, William dan ditutup si kecil Janshen.
Kisah Janshen mungkin tak segelap kisah sahabat Risa lainnya. Aura Janshen yang semasa hidup memang ceria dan pembawa kebahagiaan, membuat separuh buku ini pun terasa menyenangkan. Aku suka dengan kesederhanaan keluarga Janshen, hangatnya keluarga mereka, dan perlakuan mereka yang tidak berbeda untuk kaum pribadi.
Konflik mulai semakin memanas ketika ayah, mama, Lizbeth dan Reina kedua saudara perempuan Janshen harus ke Netherland dan meninggalkan dia dan Anna.
Rasanya sedih membayangkan Anna harus berusaha menjadi lebih dewasa dari usianya, melindungi dia dan adiknya. Sayangnya, mereka harus berada di tempat yang salah. Harus merasakan semua yang menyakitkan 😭
Sebenarnya aku berharap kisah Janshen bakal lain daripada kisah sahabat lainnya. Tapi sungguh tak mungkin ya. Tapi, mungkin itulah yang terbaik untuk Janshen.
Oiya, akhirnya aku tahu kenapa Janshen akhirnya harus ompong 😁
Secara keseluruhan, aku sangat menyukai kisah Sahabat Risa ini. Aku suka dengan gaya menulis Kak Risa, benar-benar kisah yang mengharukan sekali dan berasa mengenal sahabat tak kasat mata Risa lebih dekat.
Ini cerita terbaik dari beberapa cerita yang ada di Danur Universe actually i want to give it 4.5 stars out of five👏👏🤩 karakter di dalam nya smua nya bisa menarik perhatian utk saya. Bahkan karakter antagonists seperti Joshua yg merupakan org blasteran cukup bisa memainkan emosi pembaca. Karakter Jantje yang menggemaskan dan loveable di sini membuat sy menyayangkan akhir hidupnya yg cukup tragis. Annabelle yg merupakan salah satu sosok perempuan tangguh yang harus menjaga adiknya ketika ortu bserta kakak pertama dan adik bungsu nya diharuskan dirawat di Belanda krn sakit yg cukup parah (blum trllu jelas ini skit apa). Dan yang tidak kalah penting karakter si Robbert Grunigen yg mnrut saya salah satu karakter fiksi ter-Green flag yg pernah saya baca (bhkn ini lebih baik dripda si Soke Bahtera wkwkwk). Overall smua aspek cukup baik dibanding cerita lain dri Danur Universe, that is it from me. Wish u can meet Annabele as soon as possible, Janshen🍂💐
Ini pertama kalinya saya membaca karya mbak Risa Saraswati. Saya pikir ini akan seram seperti film Danur, tapi ternyata pikiran saya salah besar. Ini sama sekali gak ada seram-seramnya!
Saya suka novel ini karena saat membaca novel ini saya jadi bisa melihat penjajahan yang terjadi puluhan tahun lalu di negara ini melalu sudut pandang yang berbeda. Dalam pelajaran sejarah, yang sering kita temukan adalah kesalahan orang-orang Belanda yang menjajah Indonesia, tapi di sini tidak sepenuhnya Belanda salah.
Kisah keluarga yang mengharukan. Penuh perjuangan. Saya sangat menyayangi sosok polos Jantje. Anak itu masih kecil tapi terpaksa merasakan berbagai ketakutan karena bangsanya yang dianggap musuh oleh sebagian besar orang pribumi.
Abis baca buku ini langsung pengen meluk Janshen saya, Sungguh kasihan anak sekecil dia sudah mendapat cobaan begitu berat. Sama seperti buku lainnya, Risa lagi lagi mampu mengoyak perasaan pembaca ketika baca buku ini.
Pertanyaan yang selalu mengganjal saya, kenapa Janshen giginya ompong dan kenapa suka warna pink akhirnya dijelaskan sejelas jelasnya disini.. Wajib kamu koleksi kalau kamu penggemar DANUR series.. Sangat berharap, masing masing anak Belanda ini dibuatkan filmnya biar masyarakat tau bagaimana perjuangan hidup mereka dulu yang sangat berat.. Ditunggu buku Samantha nya ya Teh Risa!!
Suka sekali dengan cover pink nya dan gambaran sosok Janshen yang tertawa lebar hingga kelihatan gigi ompongnya, hihi. Membaca buku ini bisa membuat kita merasakan dua sisi berseberangan dari mata seorang Jantje a.k.a Janshen kecil yang imut. Menjadi kaum Netherland di Indonesia saat keadaan sedang memanas akibat datangnya pasukan Jepang, dan menjadi masyarakat Indonesia yang dijajah dan menyaksikan bagaimana kaum Netherland ditangkap -bahkan dibunuh- oleh para Nippon, tentara Jepang.
ceritanya menarik. saya harap saya dapat bertatap muka dengan sosok janshen dan saya harap sosok janshen dapat berteman baik dengan cly saya. apakah sosok janshen ada takut dengan siluman? saya sempat khawatir, karena banyak seperti janshen yang saya ajak berkomunikasi tetapi mereka malah menghilang karena takut dengan leopard saya. saya pernah mencoba untuk menaruh caroline di sebuah keris hanya saya ia tak mau berpisah dengan raga saya.
Tak pikir bakal yang kayak cerita hantu gitu, ternyata ceritanya tentang kehidupan sebelum janshen meninggal. Dan berasa banget deg degan nya, kepo banget yang bakal terjadi lanjutannya. Dan disini juga diceritain tentang gimana janshen bisa meninggal. Habis baca ini gue jadi penasaran sama series peter cs yang lain 🥰🥰
I read this book a long time ago, maybe around 2018. At that time, I finished it in just one day after buying it. For me, the book felt more sad than scary. Risa didn’t really tell horror stories, but rather the background of her ghost friends. It was very touching and heartbreaking to read. Unfortunately, the book is now lost.
Risa berhasil banget buat para pembaca terbawa suasana pas baca buku-nya. Risa berhasil, berhasil banget buat menuliskan kalimat yang menyayat hati. Seneng juga, akhirnya selesai baca buku Janshen . #REVIEWGAJELAS
Bahasanya sangat ringan dengan plot yang tidak terlalu rumit. Meskipun demikian tetap bisa membawa pembaca terbawa emosi dalam setiap alur yang diceritakan. Bahasa yang mudah dipahami dan menghibur sekali. Sangat cocok untuk selingan bacaan berat.
Ya Allah sedih bgt bgt bgt baca ini, nangis banget akutu baca kisahnya Janshen 😭 Makin mau ending, malah makin sesek banget rasanya. Jahat banget orang-orang itu :')
Anna, yaampun dia perempuan yang kuat banget :') Pantes Janshen sesayang itu sama Anna. Dan Janshen, kamu lucuuuu bgt!
Anak bungsu yg harus ditinggalkan oleh semua anggota keluarganya kecuali kakak ke 2 yg hrs menjadi sosok ibu bagi janshen. Bahkan mereka dipisahkan oleh nippon dan tdk bs bertemu kembali meski di beda alam. Janshen meninggal di tembak nippon saat sang kakak menyuruhnya untuk lari.
This entire review has been hidden because of spoilers.
The book is written very neatly, aku sampe bisa bayangin sosok janshen itu gimanaa. but there are some struglle, kayak nama-nama tokoh yang banyak jadi susah diinget-ingett. tapi aku tetep sukaaa, love this book
namanya Jantje Heinrich Janshen. si ompong yang ngegemesin. baca buku ini campur aduk,,ada lucu dan sedihnya. Janshen,,anak sekecil dan selucu kamu sudah punya masalah begitu berat. peluk Janshen...