Jump to ratings and reviews
Rate this book

Bulan Kertas

Rate this book
“Mereka bilang aku cantik hanya untuk merayu. Tapi, aku tahu kau tidak bermaksud begitu, makanya aku senang.”

“Sepertinya kau sedang memujiku,” kataku, kembali tersipu.

“Kau beda dengan anak lainnya!”

***

Rafa memang berbeda dengan remaja lainnya, yang membuatnya tersisih dan nyaris tak punya teman. Begitu pun Naya, gadis itu seolah hidup di dunianya sendiri dan kerap menutup diri. Keduanya memiliki kesamaan—sama-sama berbeda dengan orang kebanyakan—sesuatu yang membuat Rafa berpikir bisa membuat mereka terus bersama dan tak terpisahkan.

Ketika Rafa mengetahui lebih banyak lagi tentang Naya—mengenai bulan serupa kertas, mimpi-mimpi dunia lain, ketakutan-ketakutan yang tak beralasan, dan tentang perasaan gadis itu padanya, Rafa mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada gadis itu.

Puluhan purnama Rafa menyeret-nyeret kisah cintanya dengan Naya. Sejak di bangku SMA hingga perguruan tinggi. Dari kota kecil Suekoen hingga ke Banda, dan berakhir di dataran tinggi Takengon. Semakin ingin ia menguak misteri yang menyelubungi Naya, semakin gadis itu menjauh dan tak teraih….

224 pages, Paperback

First published October 30, 2017

5 people are currently reading
57 people want to read

About the author

Arafat Nur

21 books80 followers
ARAFAT NUR adalah penulis penting Indonesia yang riwayat kehidupannya sendiri mirip kisah fiksi. Dia tumbuh dan besar di tengah gejolak politik, perang (konflik) panjang yang melanda Aceh yang menyebabkannya beberapa kali hampir terbunuh. Tahun 1999, saat kecamuk perang meningkat, Arafat yang masih remaja diculik sebuah kelompok yang mencurigainya sebagai mata-mata karena menulis puisi dan cerpen. Dua orang meringkus ke tengah hutan, dan di pinggir sebuah sungai dia hendak dibunuh. Jika saja tidak ada pertolongan dari organisasi kemanusiaan yang mengetahui hal itu, mungkin dia tidak sempat menulis novel dan namanya tidak pernah dikenal orang.

Tidak lama setelah terbebas dari penculikan, rumahnya dibakar habis berserta seluruh isinya, menyebabkan dia, ayah, ibu, dan empat adiknya tidak punya lagi tempat tinggal. Ayahnya yang sejak lama jatuh sakit, mengasingkan diri ke kampung asalnya di Ulee Gle. Sedangkan ibunya meninggal dunia dalam keadaan sakit dan kelelahan akibat menghindari perang yang tak ada habisnya. Dalam situasi kacau seperti itu, Arafat bertahan menamatkan SMA, lalu bekerja serabutan untuk menghidupi dirinya sendiri. Beberapa kali dia pernah terperangkap dalam perang terbuka yang hampir membunuhnya. Pada peristiwa lain, dia diancam komandan militer di tengah enam ratusan prajurit bersenjata lengkap akibat tulisannya yang muncul di surat, dan di lain waktu dia dipukuli oknum polisi yang lagi mabuk di Pajak Impres Lhokseumawe.

Seusai perang, tidak lama setelah pemberontak berjabat tangan dengan pemerintah, dalam kehidupan tidak menentu, miskin, dan kurang makan, dia bersikeras menyelesaikan novel Lampuki (Serambi, 2011) yang tiga tahun kemudian selesai. Novel itu memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010, lalu meraih Khatulistiwa Literary Award 2011. Terbitnya Lampuki menyulut kemarahan pihak tertentu yang menghujat dan mencaci-makinya, mereka melempari rumahnya dengan batu, dan beberapa kali peneror sempat mendobrak pintu rumahnya. Namun, Arafat berhasil melarikan diri sampai kemudian penjahat yang hendak memukulnya itu tidak muncul lagi.

Empat tahun berselang, novelnya Burung Terbang di Kelam Malam (Bentang, 2014) terbit, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul A Bird Flies in the Dark of Night. Berselang setahun, dia menerbitkan novel Tempat Paling Sunyi (Gramedia, 2015) yang semakin melonjakkan namanya sebagai novelis penting di Tanah Air. Tahun 2016, Arafat kembali memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta melalui novel Tanah Surga Merah (Gramedia, 2017) yang mendapatkan tanggapan baik dari pembaca, termasuk mereka yang sebelumnya tidak menyukai karya-karyanya. Novel terbarunya, Bayang Suram Pelangi direncanakan langsung terbit dalam edisi bahasa Inggris di Amerika.

Pembaca dapat berintereaksi langsung dengannya melaui twetter di @arafat_nur.
Kunjunganilah lampukinovel.blogspot.com/

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (20%)
4 stars
8 (26%)
3 stars
13 (43%)
2 stars
2 (6%)
1 star
1 (3%)
Displaying 1 - 11 of 11 reviews
Profile Image for Rima.
23 reviews1 follower
June 1, 2023
Cerita yang mengalir datar, kesunyian seorang perempuan bernama Naya dapat terasa dapat juga tidak, entah penyakit atau apapun yang diderita perempuan itu terkesan mengambang dan terbilang kurang di jelaskan secara kompleks, namun dapat dimengerti. Entahlah susah juga menjelaskannya. Namun sejauh ini cerita Arafat selalu mengandung tanah kelahirannya, Aceh yang di tuliskan dengan baik sehingga pembaca kurang lebih dapat melihat Aceh itu sendiri.
Profile Image for Rina Suryakusuma.
Author 17 books111 followers
October 10, 2019
Buku pertama dari Arafat Nur yang saya baca
Saya kurang bisa relate dengan tokoh utama prianya, Rafa, maupun tokoh utama wanitanya, Naya

Apa sesungguhnya masalah Naya kecuali saat penulis mengungkapkan bahwa gadis itu memiliki masalah kejiwaan, juga kurang dibahas
Tapi gaya bahasanya mengalir
Overall, nice to read
Profile Image for elin.
40 reviews
May 13, 2023
Sungguh cerita ini membuatku berpikir keras, tentang makna dan ketulusannya. Sungguh baiknya Rafa yang mencintai Naya dan di sampingnya terus menerus. Memang tidak secara langsung, Naya selalu tercatat di kehidupan Rafa. Ending yang bikin gak bisa berkata-kata, masih mempertanyakan alasannya.
Profile Image for Nina Savitri.
88 reviews2 followers
December 24, 2019
sejak awal cerita aku merasakan bagaimana sepinya hati dan hidup tokoh utama, tapi dibanding novel arafat yang lain, maka novel ini yang termasuk lambat panas.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,358 reviews43 followers
March 13, 2021
Bisa dibilang ini bacaan young adult dengan kearifan lokal Aceh, terutama daerah kota kecil.

Dengan kata "Aceh" bukan hanya kita harus bersiap dengan tidak ada acara jalan-jalan ke mal atau tontonan ala-ala yang viral zaman now, tapi juga dengan budaya serta konflik militer dan politiknya. Dengan semua trauma bagi masyarakatnya.
Profile Image for ASHa.
9 reviews
May 24, 2022
aku kiraa happyyy end😣😣 padahal dari covernya aja udah ketebak tuh sad end, tapi akunya aja yang ga sadaaaarrr😵😵😿🥀 hug Rafa🫂🤍
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Muhamad Umar.
8 reviews
March 12, 2021
Menurut saya, Arafat Nur kurang cocok nulis tema remaja yang nyerempet teenlit seperti ini.
Profile Image for Doddy Rakhmat.
Author 4 books4 followers
January 6, 2018
Gaya bercerita yang mengalir tapi kejutan-kejutan yang diberikan bahkan pada bagian akhir cerita kurang memberikan kesan mendalam. Bisa dibilang kurang dieksekusi maksimal.
Displaying 1 - 11 of 11 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.