“Mereka bilang aku cantik hanya untuk merayu. Tapi, aku tahu kau tidak bermaksud begitu, makanya aku senang.”
“Sepertinya kau sedang memujiku,” kataku, kembali tersipu.
“Kau beda dengan anak lainnya!”
***
Rafa memang berbeda dengan remaja lainnya, yang membuatnya tersisih dan nyaris tak punya teman. Begitu pun Naya, gadis itu seolah hidup di dunianya sendiri dan kerap menutup diri. Keduanya memiliki kesamaan—sama-sama berbeda dengan orang kebanyakan—sesuatu yang membuat Rafa berpikir bisa membuat mereka terus bersama dan tak terpisahkan.
Ketika Rafa mengetahui lebih banyak lagi tentang Naya—mengenai bulan serupa kertas, mimpi-mimpi dunia lain, ketakutan-ketakutan yang tak beralasan, dan tentang perasaan gadis itu padanya, Rafa mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada gadis itu.
Puluhan purnama Rafa menyeret-nyeret kisah cintanya dengan Naya. Sejak di bangku SMA hingga perguruan tinggi. Dari kota kecil Suekoen hingga ke Banda, dan berakhir di dataran tinggi Takengon. Semakin ingin ia menguak misteri yang menyelubungi Naya, semakin gadis itu menjauh dan tak teraih….
ARAFAT NUR adalah penulis penting Indonesia yang riwayat kehidupannya sendiri mirip kisah fiksi. Dia tumbuh dan besar di tengah gejolak politik, perang (konflik) panjang yang melanda Aceh yang menyebabkannya beberapa kali hampir terbunuh. Tahun 1999, saat kecamuk perang meningkat, Arafat yang masih remaja diculik sebuah kelompok yang mencurigainya sebagai mata-mata karena menulis puisi dan cerpen. Dua orang meringkus ke tengah hutan, dan di pinggir sebuah sungai dia hendak dibunuh. Jika saja tidak ada pertolongan dari organisasi kemanusiaan yang mengetahui hal itu, mungkin dia tidak sempat menulis novel dan namanya tidak pernah dikenal orang.
Tidak lama setelah terbebas dari penculikan, rumahnya dibakar habis berserta seluruh isinya, menyebabkan dia, ayah, ibu, dan empat adiknya tidak punya lagi tempat tinggal. Ayahnya yang sejak lama jatuh sakit, mengasingkan diri ke kampung asalnya di Ulee Gle. Sedangkan ibunya meninggal dunia dalam keadaan sakit dan kelelahan akibat menghindari perang yang tak ada habisnya. Dalam situasi kacau seperti itu, Arafat bertahan menamatkan SMA, lalu bekerja serabutan untuk menghidupi dirinya sendiri. Beberapa kali dia pernah terperangkap dalam perang terbuka yang hampir membunuhnya. Pada peristiwa lain, dia diancam komandan militer di tengah enam ratusan prajurit bersenjata lengkap akibat tulisannya yang muncul di surat, dan di lain waktu dia dipukuli oknum polisi yang lagi mabuk di Pajak Impres Lhokseumawe.
Seusai perang, tidak lama setelah pemberontak berjabat tangan dengan pemerintah, dalam kehidupan tidak menentu, miskin, dan kurang makan, dia bersikeras menyelesaikan novel Lampuki (Serambi, 2011) yang tiga tahun kemudian selesai. Novel itu memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010, lalu meraih Khatulistiwa Literary Award 2011. Terbitnya Lampuki menyulut kemarahan pihak tertentu yang menghujat dan mencaci-makinya, mereka melempari rumahnya dengan batu, dan beberapa kali peneror sempat mendobrak pintu rumahnya. Namun, Arafat berhasil melarikan diri sampai kemudian penjahat yang hendak memukulnya itu tidak muncul lagi.
Empat tahun berselang, novelnya Burung Terbang di Kelam Malam (Bentang, 2014) terbit, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul A Bird Flies in the Dark of Night. Berselang setahun, dia menerbitkan novel Tempat Paling Sunyi (Gramedia, 2015) yang semakin melonjakkan namanya sebagai novelis penting di Tanah Air. Tahun 2016, Arafat kembali memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta melalui novel Tanah Surga Merah (Gramedia, 2017) yang mendapatkan tanggapan baik dari pembaca, termasuk mereka yang sebelumnya tidak menyukai karya-karyanya. Novel terbarunya, Bayang Suram Pelangi direncanakan langsung terbit dalam edisi bahasa Inggris di Amerika.
Pembaca dapat berintereaksi langsung dengannya melaui twetter di @arafat_nur. Kunjunganilah lampukinovel.blogspot.com/
Cerita yang mengalir datar, kesunyian seorang perempuan bernama Naya dapat terasa dapat juga tidak, entah penyakit atau apapun yang diderita perempuan itu terkesan mengambang dan terbilang kurang di jelaskan secara kompleks, namun dapat dimengerti. Entahlah susah juga menjelaskannya. Namun sejauh ini cerita Arafat selalu mengandung tanah kelahirannya, Aceh yang di tuliskan dengan baik sehingga pembaca kurang lebih dapat melihat Aceh itu sendiri.
Buku pertama dari Arafat Nur yang saya baca Saya kurang bisa relate dengan tokoh utama prianya, Rafa, maupun tokoh utama wanitanya, Naya
Apa sesungguhnya masalah Naya kecuali saat penulis mengungkapkan bahwa gadis itu memiliki masalah kejiwaan, juga kurang dibahas Tapi gaya bahasanya mengalir Overall, nice to read
Sungguh cerita ini membuatku berpikir keras, tentang makna dan ketulusannya. Sungguh baiknya Rafa yang mencintai Naya dan di sampingnya terus menerus. Memang tidak secara langsung, Naya selalu tercatat di kehidupan Rafa. Ending yang bikin gak bisa berkata-kata, masih mempertanyakan alasannya.
sejak awal cerita aku merasakan bagaimana sepinya hati dan hidup tokoh utama, tapi dibanding novel arafat yang lain, maka novel ini yang termasuk lambat panas.
Bisa dibilang ini bacaan young adult dengan kearifan lokal Aceh, terutama daerah kota kecil.
Dengan kata "Aceh" bukan hanya kita harus bersiap dengan tidak ada acara jalan-jalan ke mal atau tontonan ala-ala yang viral zaman now, tapi juga dengan budaya serta konflik militer dan politiknya. Dengan semua trauma bagi masyarakatnya.
Gaya bercerita yang mengalir tapi kejutan-kejutan yang diberikan bahkan pada bagian akhir cerita kurang memberikan kesan mendalam. Bisa dibilang kurang dieksekusi maksimal.