Buku ini dikatakan sebagai salah satu dari tiga catatan singkat tentang ilmu pedang di awal zaman Edo yang pengaruhnya begitu besar karena sudah mencapai tataran jalan hidup, tak sebatas ilmu bela diri belaka. Dua lainnya adalah The Unfettered Mind karya Takuan Soho, seorang pendeta Zen, dan The Book of Five Rings, karya Miyamoto Musashi. Ketiga buku ini sudah diterjemahkan dan diterbitkan oleh GPU dan menariknya, karena hanya Miyamoto Musashi yang dikenal di Indonesia, baik buku Yagyu Munenori maupun Takuan Soho pun diberi embel-embel "Musashi" pada judul versi terjemahannya. Hahaha. Nice marketing effort.
Namun, meskipun pada judul buku ini Yagyu dilabeli sebagai pesaing utama Musashi, kedua tokoh ini tidak pernah bertemu sama sekali selama mereka hidup. Reputasi mereka memang sama-sama besar di era yang sama. Musashi dalam buku ini disebut sebagai salah satu penyebab murid-murid Yagyu Munenori lari dari perguruan pedangnya. Dan Musashi sendiri dikatakan sangat menginginkan posisi seperti yang dimiliki Yagyu Munenori: pelatih pedang keshogunan, tapi tak pernah mendapatkan kesempatan itu.
Sedangkan Munenori dan Takuan Soho digambarkan pernah bertemu dan menjalani hubungan pertemanan. Pada beberapa kesempatan, Takuan Soho sempat mengkritik beberapa kelemahan Munenori, seperti ketika Munenori dianggap memamerkan pengetahuannya tentang Noh. Munenori mendengarkan serta memperhatikan kritikan itu.
***
Mungkin rasa penasaranku waktu notice buku ini di deretan buku rak perpus kota nyaris kaya rasa penasaran Ieyasu Tokugawa terhadap teknik Tanpa Pedang atau Shinkage Ryu yang dimiliki Yagyu Sekishusai. Haha. Jadi meski topik ini sangat asing buatku, buku ini langsung kusambar dari rak dan kubaca saat itu juga sampai habis di Perpustakaan Kota Malang.
Ieyasu diceritakan mengundang Sekishusai ke vilanya di Takagamine. Pada masa itu, Yagyu Sekishusai Muneyoshi dipandang sebagai salah seorang ahli pedang terbaik di Jepang dan konon memiliki teknik paling sempurna: mengalahkan orang bersenjata tanpa menggunakan senjata apa pun. Ieyasu bertanya soal prinsip Shinkage Ryu secara mendetail. Sekishusai dan anaknya, Munenori, mendemonstrasikan teknik yang dimaksud secara singkat. Ieyasu sendiri terkesan dengan penjelasan Yagyu, tapi masih belum merasa yakin dengan peragaan yang diperlihatkan.
Ia lalu mengambil pedang kayu dan meminta bertanding dengan Sekishusai. Sekishusai merebut gagang pedang Ieyasu, lalu mengalahkan Ieyasu dengan hantaman tinjunya. Mereka bertanding dua kali dan Ieyasu kalah di semua pertandingan. Akhirnya Ieyasu mengakui kekalahannya dan membuat perjanjian guru/murid dengan Sekishusai. Salah satu isi perjanjiannya adalah dia takkan mengabaikan hubungannya dengan Sekishusai. Saat Ieyasu meminta Sekishusai untuk menjadi guru pedang pribadinya, Sekishusai enggan karena merasa sudah tua, dan malah mengajukan anak lelaki bungsunya, Yagyu Munenori.
***
Yang kutangkap, aliran ilmu pedang ini memiliki filosofi bahwa kemenangan tak berarti harus membunuh musuh atau mengalahkan musuh dalam pertarungan. Tidak diserang lawan meskipun diri sendiri tidak mempunyai pedang itu juga berarti kemenangan. Bisa menghindari pertarungan dan pertumpahan darah itu juga kemenangan. Dikatakan bahwa jika musuh tak ingin pedangnya diambil maka ya jangan berusaha keras untuk mengambilnya. Kalau lawan fokus pada keinginan agar pedangnya tidak diambil, dia akan lupa fokus tujuannya untuk menyerang lawan. Akhirnya saat bertarung, ia akan berusaha melindungi pedangnya dan mungkin tidak akan menebas kita.
Namun, inti dari seni Tanpa Pedang bukan mengambil pedang lawan, tapi mampu menggunakan peralatan secara bebas. Saat tak punya pedang dan ingin memiliki pedang lawan agar bisa menggunakannya, benda apa pun yang bisa dipegang tangan harus bisa digunakan. Bahkan jika yang ada di tangan cuma kipas pun, dengan itu kita harus bisa menaklukkan pedang lawan.
Lalu aliran ini menekankan bahwa bela diri bukanlah untuk mengalahkan musuh apalagi membunuh musuh. Bela diri fungsi aslinya adalah membunuh kejahatan pada diri musuh. Dan musuh itu sendiri baru boleh dibunuh jika kejahatannya sudah sangat tinggi sampai membahayakan begitu banyak orang lain. Jika membunuh satu orang berarti menyelamatkan puluhan ribu orang, maka hal itu tak apa dilakukan. Jadi jangan bertarung apalagi sampai membunuh kalau nggak perlu. Filosofi inilah yang kemudian menarik hati anak Ieyasu, Hidetada. Padahal, disebutkan bahwa Hidetada itu anak yang pemalas. Ia juga belajar seni berpedang dari guru lain, akan tetapi gurunya itu memiliki gaya bertarung yang kejam dan dia sendiri membanggakan dirinya sebagai orang kejam. Namun, karena kedalaman filosofi aliran pedang ini, juga kelihaian Yagyu Munenori dalam menyikapi muridnya inilah, akhirnya Hidetada jadi menunjukkan antusiasme yang lebih untuk belajar ilmu pedang.
Karier Yagyu Munenori terus meningkat, sampai akhirnya tanah leluhurnya yang tadinya dirampas oleh klan Toyotomi (Keshogunan sebelum Tokugawa) pada zaman ayahnya karena tuduhan menyembunyikan tanah demi menghindari pajak, dikembalikan lagi kepada keluarganya. Bahkan luas tanahnya pun ditambahi.
***
Yagyu Munenori menjadi guru bagi anak Hidetada, Iemitsu. Hubungan antara Iemitsu dan Yagyu ini menurutku menarik sekali. Iemitsu adalah orang yang sangat antusias dalam belajar. Sayangnya, dia begitu disibukkan dengan urusan politik dan kenegaraan sehingga waktu belajar pedangnya lebih kurang dari yang ia inginkan. Iemitsu sendiri oleh penerjemah digambarkan sebagai orang yang susah didekati, kepribadiannya rumit. Jadi bisa dibayangkan betapa kuat Yagyu Munenori bisa mendampingi orang ini sebagai penasihat dan guru dalam waktu yang sangat lama. Iemitsu ini bisa dibilang sangat tergantung pada sang guru.
Agak lucu dan nyebelin sebenarnya, dalam buku ini digambarkan Iemitsu semacam nggak bisa melepaskan Yagyu dan terus mendesak kalau-kalau sang guru masih menyimpan ilmu rahasia yang tidak diwariskan padanya. Bahkan setelah akhirnya ia diresmikan oleh Munenori sebagai pewaris resmi ilmu Shinkage Ryu, diberi sertifikat dan diberi pedang yang ditempa oleh pembuat pedang legendaris, Masamune, sebelum akhirnya Yagyu mengundurkan diri dan menyepi karena usia tua, Iemitsu tetap membuat ulah. Ia malah mengirimkan surat bernada ancaman pada sang guru. Penyebabnya sama, dia curiga kalau Yagyu Munenori masih menyembunyikan ilmunya. Ya Allah! Bahasa Jawanya, "ndlodhok!". Bagian ini beneran bikin aku mbatin, "Ojo sampe aku jadi jenis murid kayak si Iemitsu!" Hahaha!
Namun, setelah cerita mereka dijabarkan lebih panjang, aku malah jadi agak terenyuh dengan hubungan keduanya. Memang Iemitsu digambarkan seolah tidak membiarkan Yagyu bisa menikmati masa pensiunnya dengan benar-benar tenang. Sewaktu-waktu dia bisa saja muncul di tempat sang guru menyepi. Atau memerintahkan bawahannya untuk menjemput Yagyu Munenori kembali ke istana. Saat sang guru sakit Iemitsu digambarkan sangat khawatir sehingga langsung datang ke tempat peristirahatan sang guru dan mendatangkan dokter ternama. Munenori seumur hidupnya dikisahkan tidak pernah sakit lebih dari tiga hari. Jadi ketika akhirnya dia mengalami sakit berkepanjangan, dia sadar bahwa waktunya di dunia ini sudah hampir selesai. Pada saat itu pun Iemitsu tetap saja berusaha mengorek apakah sang guru masih memiliki ilmu pedang yang belum diajarkan kepadanya. Astaga!
Setelah yakin bahwa gurunya tak punya ilmu rahasia apa pun lagi, barulah ia menanyakan apa yang keinginan terakhir dari sang guru. Yagyu Munenori meminta agar Iemitsu mendirikan monumen penghormatan bagi ayahnya, Sekishusai, dan minta agar kedua anaknya dilindungi oleh keshogunan Tokugawa. Iemitsu langsung mengabulkan permintaan itu. Dan diceritakan bertahun-tahun kemudian setelah sang guru wafat, jika menghadapi permasalahan yang rumit, Iemitsu terus saja berkata, "Seandainya Yagyu Munenori masih ada, aku pasti bisa mendiskusikan hal ini padanya."
Hiks. Kepingin nangis pas baca bagian ini.
***
Buku yang sangat menarik. Jujur saja pengetahuanku soal sejarah Jepang masih sangat minim. Jadi kebanyakan informasi di dalam buku ini benar-benar info yang sangat baru buatku. Ini jenis buku yang buatku secara pribadi tampaknya harus dibaca berulang kali agar lebih paham dengan esensinya. Namun, bertambahnya pengetahuan meski sedikit pun perlu disyukuri, kan. Jadi review ini kubuat untuk mencatat apa saja yang kuingat dan buatku menarik dari buku ini, untuk saat ini. Biar nggak lupa gitu. Karena aku terkesan sekali waktu baca buku ini. Sayang kalau info yang membuatku terkesan itu nantinya kulupakan begitu saja. Di lain waktu kalau aku sudah membacanya ulang dan memperbarui atau mengoreksi pemahamanku soal buku ini, reviewnya bisa saja kuralat lagi.
BERSAMBUNG