3.5 untuk buku ini!
Untuk informasi, buku ini sudah mendekam sangat... lama dilemari rumah. Buku punya ibu dari jaman saya SD, kali ya. Pas beliau baca pun saya masih ingat. Sempat mikir, buku apa yang dibaca dengan sampul jadul itu. Pasti ngebosenin.
Pas SMA, baru tau kalo Pramoedya ini penulis yang terkenal karya-karyanya. Beli lah buku Larasati (karena sinopsis Gadis Pantai bikin saya pas SMA merasa gimana... gitu baca cerita yang juga ibu saya baca 🤣 berasa kayak mau baca Marga T. aja). Tapi baru beberapa halaman udah super duper bosan! Ya gimana, kebiasa baca teenlit, tetiba baca buku yang bahasa berbicaranya aja bukan bahasa gaul sehari-hari.
Sekarang, gara-gara denger Bumi Manusia lagi di film-in, langsung greget mau baca karya-karyanya Pramoedya ini. Takut keburu film tayang, udah males baca. Dimulai lah dari yang ada di rumah.
Buku ini bercerita tentang si Gadis Pantai yang dinikahkan dengan Bendoro Bupati Blora di saat ia berumur 15 tahun. Gadis Pantai yang terbiasa bekerja keras membantu bapak dan emaknya di Kampung Nelayan, mau tidak mau harus belajar menjadi Mas Nganten (istri Bendoro) di rumah berdinding tinggi, di kota, jauh dari kampung halamannya. Tangannya yang biasa kasar, tubuhnya yang biasa lincah, serta mulutnya yang biasa berteriak diredam oleh sosok suami yang penuh wibawa dan kuasa di rumah itu. Kerjanya sekarang dilayani, mulutnya terbungkam, hanya mampu menjawab “Sahaya, Bendoro.”
Pemikiran dia yang super polos menimbulkan banyak pertanyaan-pertanyaan yang sederhana tapi mengena. Alur dari mulai si polos tidak tahu apa-apa sampai dia mengetahui semua kenyataan pahit yang akan dihadapinya, benar-benar saya pelototi dan nikmati dengan baik.
Salah satu dialog yang mengena dihati, pembicaraan antara Gadis Pantai dengan Bujang atau si mBok,
“Apakah di kota suami-istri tidak pernah bicara?”
“Ah, Mas Nganten, di kota, barangkali di semua kota-dunia kepunyaan lelaki. Barangkali di kampung nelayan tidak. Di kota perempuan berada dalam dunia yang dipunyai lelaki, Mas Nganten.”
“Lantas apa yang dipunyai perempuan kota?”
“Tak punya apa-apa, Mas Nganten kecuali...”
“Ya?”
“Kewajiban menjaga setiap milik lelaki.”
“Lantas milik perempuan itu sendiri apa?”
“Tidak ada, Mas Nganten. Dia sendiri hak-milik lelaki.”
Saya sampai sedih karena setelah dapet penjelasan itu, dia bertanya-tanya apa bedanya dia dengan meja, kursi, dan segala perabotan dirumah milik Bendoro.
Banyak sekali hal-hal yang baru saya ketahui tentang kehidupan jaman itu. Bagaimana rakyat biasa tanpa kekuasaan benar-benar seperti budak yang menghamba pada priyayi berkuasa yang turun temurun hidup di kota. Mereka bisa diperlakukan semena-mena dan mereka tidak merasa aneh dengan hal itu, karena mereka hanyalah Sahaya.
“Dia bilang, kita ini tak sempat apa-apa. Kaya tidak, cukup tidak, surga tidak, mati pun cuma dapat neraka. Habis segala-galanya tak sampai.”
Tapi selain itu saya juga tertarik dengan Kampung Nelayan. Bapak si Gadis Pantai yang tidak tertarik dengan uang, karena katanya uang tidak laku di kampung mereka. Betapa sederhana dan nikmatnya hidup seperti itu. Mencari nafkah memang untuk makan. Untuk bertahan hidup. Tidak seperti kita yang sekarang mencari uang untuk punya rumah besar, punya mobil mewah, menikah megah, investasi berlimpah, hanya untuk menyelamatkan entah ego, eksistensi, atau kenyamanan yang bisa tiba-tiba direnggut kalau tidak dipersiapkan (tapi kan beda jaman juga ya huft).
“Disini tak ada rumah terkunci pintunya, siang ataupun malam. Disini pintu bukanlah dibuat untuk menolak manusia, tapi menahan angin.”
👆salah satu perbedaan rumah di Kota nya Bendoro dan di Kampung Nelayan
Terakhir, saya sangat sedih di bagian akhir buku. Gadis Pantai yang bertahun-tahun diam dibalik bangunan tinggi sampai berani mengatakan Bendoronya iblis. Saya enggak aneh, sih. Ada ya manusia sekejam itu? Pantas saja buku ini dikecam sebelumnya. Membuka bobroknya sifat manusia sampai saya berpikir, kok bisa? Kenapa? Ugh greget dan gemas karena kesal! Duileee... walaupun diawal baca buku sempet mau nyerah karena bahasanya yang bikin pusing dan ngantuk 🤣 tapi gak nyesel karena teteup keukeuh mau lanjutin sampai habis.
Top markotop! 👍🏻👍🏻 jempol tangan sama 👍🏻👍🏻 jempol kaki