“Pembukaan novel yang membuat haru ini akan langsung membuat pembaca terikat. Kisah memperjuangkan impian yang memikat.” (Eva Sri Rahayu, novelis dan blogger.)
Mimi Tarmiyah memang sok cantik. Sejak kecil dia ingin menjadi artis. Alasannya cukup sederhana; ingin terkenal, memiliki banyak uang, hidup mewah, serta memiliki seabrek fan yang memuja-mujanya. Kini, usia Mimi sudah mendekati tujuh belas tahun. Ini waktu yang tepat untuk mewujudkan mimpi, menjadi artis. Seperti artis idolanya, Titin Tuminah Hona.
Valdo melihat kesempatan saat melihat ambisi Mimi. Bersama Brian, ia memberi kesempatan Mimi untuk mengejar impiannya di Jakarta. Mimi bersedia ikut, mengabaikan nasihat ibunya; kekasihnya, Engkos; dan sahabat-sahabatnya.
Mimi si gadis desa harus mengakui kerasnya perjuangan di ibu kota. Menghadapi kegagalan dua kali, Mimi jadi ragu. Apakah ia akan melupakan mimpinya dan kembali ke desa, atau tetap bertahan karena impian harus diperjuangkan? *** “Jangan pernah ingin jadi orang lain. Siapa pun bisa terkenal dengan kelebihan yang dimilikinya.”
Lulusan S1 Akuntansi yang hobi photography. Bekerja sebagai desainer kemeja pria dan perhiasan di sebuah Art Gallery, relawan di Museum Anak Kolong Tangga. Suka menulis sejak SMA, tetapi benar-benar mulai belajar menulis ketika bergabung di grup Kelas Online Bimbingan Menulis Novel dan Saung Axara Emas, akhir 2013. Alasan menulis, sarana refreshing dan ingin memiliki novel sendiri yang diterbitkan penerbit mayor. Prestasinya dalam dunia kepenulisan, pernah menjadi pemenang lomba Menulis Novel Remaja ‘Seberapa Indonesiakah Dirimu’ oleh Penerbit Tiga Serangkai. Cerpen-cerpennya banyak dimuat media lokal dan nasional. Saat ini, fokus menulis novel remaja dan buku anak disamping sebagai freelance editor.
“Hidup ini bukan hanya tentang mendapatkan apa yang kita inginkan, Neng Mimi. Tapi juga tentang menghargai apa yang kita miliki.” (Hal. 249)
Dream, If… merupakan novel yang hal yang dekat dengan masyarakat Indonesia. Lokalitasnya terasa kuat, bukan sekadar karena latarnya di sebuah desa terpencil dan bahasa Sunda yang digunakan para tokohnya. Mengejar impian adalah sesuatu yang sangat sering dibahas oleh penulis dalam negeri, tidak sedikit pula yang mengambil tema yang seragam dengan novel ini. Namun, Dream, If… tidak akan memberikan pembaca alur seperti kebanyakan novel lain, yaitu keinginan gadis desa menjadi artis terkenal, berjuang di Ibu kota, mendapat rintangan, bertemu keajaiban, lalu impiannya terwujud.
Sejak awal, tokoh utamanya digambarkan sebagai sosok yang sok cantik, sok penting, dan tidak pandai mengukur dirinya sendiri. Keinginannya yang begitu kuat untuk menjadi Titin Tuminah Hona membuatnya mengabaikan nasihat orang-orang yang penting dalam hidupnya dan tetap melangkah maju. Rintangan yang membatasi langkahnya datang silih berganti. Keluguannya justru membuatnya tidak pantang menyerah. Namun, saat merasakan sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak seharusnya, si tokoh utama justru sadar dengan lekas, itu bukan cara yang benar untuk jadi artis seperti Titin, idolanya.
Sedikit hal yang sebetulnya sepele, tetapi sangat menggelitik adalah saat Nyi Saonah, ibu Mimi, melaporkan bahwa anaknya telah diculik pada Pak Lurah. Dengan kepala dingin, Pak Lurah menyimpulkan bahwa Mimi sebetulnya tidak diculik, tetapi pergi atas keinginannya sendiri. Lalu, Pak Lurah lantas meminta Nyi Saonah mengorek informasi tentang Mimi pada teman-temannya di sekolah. Pak Lurah berkata, “Anak sekarang, memang ada yang mau menyimpan rahasia?” Jleb! Kata-kata ini menyentil sekali, kan?
Perkembangan karakter utamanya sangat tampak seiring dengan jalan cerita. Mimi yang lahir dan besar di desa terkagum-kagum saat melihat gedung-gedung besar dan tinggi di Jakarta membuat karakternya sebagai gadis desa semakin kuat. Latar desa Baranangsiang yang disajikan dalam cerita menunjukkan jika penulisnya melakukan riset dengan baik, tidak membuatnya menjadi sekadar tempelan.
Kekurangan dari novel ini terletak pada penulisannya yang masih belum tepat pada beberapa bagian. Banyak sekali sapaan semisal Amah, Abah, dan lainnya yang seharusnya huruf awalnya ditulis dengan huruf kapital, tetapi masih ditulis dengan huruf kecil. Lalu pada halaman 68 tertulis “Sedetik kemudian cowok bertubuh tegap dari mobil.” Kalimat ini terdengar janggal karena kurang kata muncul atau keluar. Lalu pada halaman 171 tertulis, “Gorden bernada senada dengan bed cover melatari.” Kata bernada senada di kalimat ini sedikit janggal, mungkin bisa diganti dengan berwarna senada. Lalu munculnya sosok malaikat pada akhir cerita atau yang menurut istilah penulisan ialah External Force. Bukan hanya satu sosok, tetapi ada dua sosok malaikat sekaligus meski salah satunya pernah disinggung di awal cerita. Memang, fungsi keduanya berbeda karena sosok yang pertama hadir tiba-tiba untuk membantu tokoh utama menyadari kesalahannya dan berubah lalu tokoh kedua adalah orang yang kelak membantu tokoh utaman menemukan impiannya yang lain. Ini sebetulnya tidak mengganggu, tetapi kemunculan keduanya terasa sangat kebetulan—meski salah satu sudah disinggung di awal, tetapi tetap saja terasa terlalu tiba-tiba.
“Cobalah untuk selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki, dari kesehatan, kecantikan, dan dan bahkan napas yang kita hirup. Lihatlah ke bawah, begitu banyak orang yang memiliki kekurangan. Jangan terlalu sering melihat ke atas, sebab itu bisa menjadi pemicu keserakahan dan kesombongan, lalu pada akhirnya kita lupa pada Sang Pencipta. Kalau sudah begitu, bisa-bisa Tuhan marah, kan?” (hal. 250)
Impian memang sesuatu yang dimiliki setiap orang. Siapapun pasti memiliki keinginan yang ingin sekali diwujudkan. Keinginan yang akan membuat seseorang itu merasa utuh dan lengkap. Merasa cukup dan bahagia. Begitu pula Mimi. Impian gadis desa ini adalah ingin menjadi artis. Tidak dipungkiri, menjadi artis seolah jalan termudah untuk mendapatkan segalanya. Uang dan popularitas akan mudah didapatkan. Dan, dengan dua hal itu, seseorang seolah bisa mendapatkan apa saja yang ia inginkan. Inilah tema yang diangkat dalam novel ini. Mirisnya, untuk mewujudkan mimpi menjadi seorang bintang, beberapa orang just ru memilih hal instan. Alternatif tercepat untuk mewujudkannya selalu menjadi pilihan nomor satu, tanpa memperhatikan unsur kemanan dalam pilihan itu. Menurut saya pribadi, penulis sedang mencoba memperkenalkan atau memaparkan sisi gelap dunia entertainment di Indonesia. Banyak sekali artis yang bisa meroket dengan cepat tanpa diketahui prosesnya dengan pasti. Tak urung, tak sedikit pula yang jatuh menjadi korban penipuan. Untuk itu, saya sangat mengapresiasi buku ini. Dream If menjadi semacam reminder bagi kita semua bahwa jika ingin mendapatkan sesuatu kita harus berusaha dulu. Poin terbaik dalam buku ini adalah bagi saya penulis tidak kehilangan identitasnya. Dengan menyelipkan beberapa bahasa Sunda ke dalam buku ini, penulis telah bersikap mengindonesiakan diri dan menunjukkan betapa ia bangga terlahir sebagai orang Sunda. Memang, setting juga mempengaruhi hal ini. Tapi, dalam penentuan setting setiap cerita, buat saya pribadi dapat sedikit menggambarkan sosok penulisnya seperti apa. Karena sebagian besar tempat yang dikunjungi, kegiatan sehari-hari, dan plot tulisan juga didasarkan pada mindset dan kebiasaan penulisnya. Kekurangan dalam novel ini hanya terletak pada beberapa kalimat yang terasa rancu atau mungkin tidak lengkap. Untuk EYD sudah bagus. Juga, ending dan anti klimaks plus penyelesaiannya saya kurang sreg. Entahlah. Memang bagus, dalam buku ini penulis mencoba memperkenalkan dunia penulisan pada pembacanya hanya saja ketika dikaitkan dengan kasus Mimi saya jadi kurang suka. Terlalu mainstream.
Novel remaja yang nggak melulu bahas tentang percintaan, ada sih romansanya tapi nggak begitu kental, selalu saja ada gesekan antara engkos, pacar mimi dan badot, mantan pacar mimi. Meskipun kedua pria memiliki niat baik untuk menolong mimi, tapi tidak dapat dipungkiri jika mereka selalu beradu argumen.
Seluruhnya novel ini bercerita tentang meraih impian yang tak semanis harapan dan bercerita tentang keluarga, khususnya keluarga Mimi.
Menurut saya, ini novel teenlit yang sangat timpang dengan yang lainnya. Jika kebanyakan teenlit isinya terasa cengeng dengan pembahasan seputar cinta yang gitu-gitu aja, novel ini justru menebar pesan moral di setiap babnya. Banyak sekali, tergantung kejelian kita memaknai cara penulis bertutur. Misal, pentingnya mendengarkan nasihat orangtua. Terlebih dengan kemunculan Pak Jaka dan petuahnya di bagian akhir, semacam penegasan bahwa di tengah kehidupan yang semakin liar, masih ada segelintir orang berhati malaikat.